Dua minggu telah berlalu sejak meninggalnya tuan William Walker. Tampuk kepemimpinan masih kosong. Rapat direksi telah digelar seminggu yang lalu akan tetapi hasil rapat yang dihadiri juga oleh pengacara keluarga dan Nyonya Averie serta James tetap dirahasiakan.
Pagi ini tepat pukul 09.00 waktu setempat. Weston Corp menjadi heboh. Sang CEO baru telah datang. “Mr Jonathan?”Roger, staff purchasing menerima telepon dari salah satu temannya di front office lantai 1. “Dia sudah datang?” “Apakah yang tadi bertemu denganku di lift?”Si cantik Elora menutup mulutnya terkejut. “Kukira tadi aku bertemu model baru untuk iklan kita. Sumpah!Dia sangat tampan!” Jika Elora berani bersumpah dengan apa yang telah dilihatnya, berarti kenyataannya adalah melebihi yang dibayangkan. Sangat tampan bisa jadi luar biasa tampan. “Ooh, kenapa aku tidak datang terlambat saja tadi,”seru Emelia. “Seberapa tampan mr Jonathan?Bagaimana dengan Axel?”tanya Ainsley menyebut salah satu model terbaru yang membintangi iklan salah satu produk alat kebugaran tubuh yang diproduksi Weston Corp. Mereka mulai bergosip. “Axel tampan tapi ini luar biasa tampan,”seru satu-satunya saksi mata, Elora. “Benarkah?” “Dia…”Elora menghentikan kalimatnya, ia menutup mata sembari tersenyum lebar, “Dia salah satu tipeku.” Teman-temannya mulai mencecar dengan berbagai pertanyaan, sementara di ruangan lain di lantai yang sama. “CEO baru telah datang, aku harus menghadiri rapat 5 menit lagi,”seru Paula sembari masuk ke ruangannya, membawa agenda serta ponselnya, Paula keluar sedikit tergesa. “Apakah akan butuh waktu lama?Aku butuh tanda tangan untuk validasi barang keluar,”Abigail beranjak berdiri mengikuti. “Tidak, tidak akan lama, aku akan segera kembali,”ujar Paula segera keluar dari ruangan divisi umum. “Apakah kalian tahu siapa CEO baru kita?”tanya Cali pada kedua teman seruangannya. Abigail menggeleng. Emily mengangkat bahu ”Aku penasaran sekali, kudengar waktu mengambil minum di pantry tadi, mr Jonathan yang akan jadi CEO baru kita.”ucap Cali antusias. “Kamu pernah bertemu dengannya?”tanya Abigail. Cali menggeleng. Tuan William memang jarang memperbolehkan keluarganya untuk datang ke Gedung Weston Corp. Alasannya adalah untuk mempertahankan profesionalisme kerja. Hanya satu dua orang terdekat saja yang mengetahui seluk beluk keluarga tuan William, termasuk Paula. “Mrs paula pernah bercerita kalau tuan William pernah menikah dua kali, istri pertamanya meninggal karena sakit saat Joseph berusia dua tahun, setahun kemudian tuan William menikahi teman dekatnya,dia Nyonya Averie. Kudengar dia teman kuliah saat mereka berkuliah di Inggris.”Cali melanjutkan cerita. “Dari pernikahan pertama tuan William punya tiga anak, James, pamela dan Joseph, sedangkan dengan Nyonya Averie ada dua yaitu Jonathan dan Kai.” Pembicaraan mengenai keluarga Tuan William menjadi trending topic di setiap divisi. Sebelum hari ini, mereka menduga duga siapa yang akan menjadi calon CEO selanjutnya. Harapan di setiap divisi, pemimpin mendatang tidak kalah mumpuni menjalankan perusahaan yang sudah menjadi ladang penghasilan bagi mereka. “Kuharap pengganti Tuan William tidak jauh beda dengannya. Entah siapapun itu,”komentar Emily “Kau benar Emily,”ujar Abigail. Emily melanjutkan pekerjaannya menginput data di system stok barang. Sejam kemudian terdengar panggilan telepon terdengar di samping komputernya. “Dengan Emily, divisi umum,”ucapnya saat gagang telepon terangkat. “Hai cantik,”suara bass terdengar di seberang telepon. Caleb, salah satu staff divisi pemasaran. “Ada perlu apa, Cal?”tanya Emily datar. “Aku perlu ruangan rapat untuk kamis depan, Em,”jelas Caleb. “Jadwal untuk hari Kamis sudah penuh,”ucap Emily sembari mengecek jadwal pemakaian ruang pertemuan di komputernya. “Ayolah Emily, ini memang mendadak, carikan aku ruang pertemuan lainnya,”pinta Caleb. Emily menggerakkan mouse komputer, mengklik beberapa jadwal untuk minggu ini dan minggu mendatang. “Ada tapi bukan ruangan kesukaanmu.” “Ouh , kamu begitu perhatian sampai ruangan kesukaanku saja kamu hapal,”Caleb terkekeh di seberang telepon “Bagaimana?”tanya Emily tak sabar. “Ruang apa?” “Alpaka.” “Oh tidak, jangan yang itu, terlalu kecil Em.” “Tidak ada lagi, Cal.” Caleb terdiam sesaat. “Oke jadwalkan Kamis depan, tambahkan beberapa pengharum ruangan. Ruangan itu sungguh sempit dan bau, Emily.” “Oke oke. Sudah kutulis permintaanmu,”Emily mengetikkan sesuatu di keyboard komputernya. “Ada lagi?” “Sepotong cinta darimu sudah lebih dari cukup Emily.” Emily menutup telepon tanpa mengatakan apapun. Sementara di seberang Caleb terkekeh. Pukul tujuh lebih saat Emily tiba di rumah. Saat membuka pintu, tampak Eden bersiap untuk berangkat kerja. Eden bekerja di sebuah hotel Bintang empat sebagai housekeeper. Wajah Eden masam saat melihat Emily. Sejak kembalinya Emily ke rumah dan mengetahui kandasnya pernikahan Emily, Eden menjadi tidak respek pada kakak semata wayangnya itu. Eden merasa orang tuanya telah menghabiskan banyak biaya untuk membiayai Emily di awal-awal kuliah tapi kenyataannya malah Emily membuat keputusan bodoh dengan berhenti kuliah. Dan malangnya, saat giliran Eden harus masuk kuliah, tak ada uang tersisa karena Robert Patterson jatuh sakit dan membutuhkan biaya tidak sedikit. “Giliranmu memasak, ibu sedang tidak enak badan,”ujar Eden mendengus kesal sembari menyambar tasnya. “Oke,”jawab Emily sembari masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian. Saat keluar, Eden tidak tampak lagi di dalam rumah. Emily beranjak ke dapur. Malam ini gilirannya untuk memasak. Ia menguncir rambutnya menjadi satu sebelum memulai memasak. Menu malam ini adalah makanan kesukaan ibunya. “Maafkan ibu Em, harusnya pulang kerja kamu bisa segera beristirahat tanpa harus bersusah payah seperti ini.”Tiba-tiba Nyonya Aldera muncul di samping Emily. Emily tersenyum. “Memasak seperti ini tidak membutuhkan waktu lama, ibu. Dan aku tidak capek sama sekali.” Emily meletakkan brokoli kukus ke dalam piring. “Dimana ayah?Sudah waktunya makan malam,”Emily mengajak ibunya duduk di meja makan. “Ayahmu sudah tidur sejak sore tadi. Biarkan dia istirahat. Aku akan menghangatkan makanan jika dia bangun nanti.” Emily dan Nyonya Aldera duduk berdampingan dan menyantap makanan. “Bagaimana kabar ibu hari ini?”tanya Emily saat telah menyelesaikan makan malamnya. “Baik, jangan mengkhawatirkan ibu,”kata Nyonya Aldera tersenyum. “Kamu yang harusnya menjaga kesehatan, luangkan waktu untuk berlibur, sayang.” Emily tersenyum saat ibunya mengelus kepalanya, ia berusaha menahan tangis. Rasa penyesalan masih tersisa hingga saat ini. “Aku hanya ingin ibu sehat dan bahagia,”ujar Emily. “Ibu bahagia. Ibu sehat dan Ibu juga bangga memiliki kamu dan Eden.” Nyonya Aldera mengelus tangan Emily perlahan. “Kamu gadis yang baik, Em. Ibu yakin suatu saat kamu akan mendapat suami yang jauh lebih baik dari Oliver.” “Tidak bu, Hidupku berantakan karena salah membuat pilihan. Tidak akan ada lagi Oliver Oliver yang lain. Bagiku saat ini, melihat kalian sehat sudah cukup membuatku Bahagia.” Nyonya Aldera tidak mendebat lagi. Luka hati Emily belum sembuh. Ia masih berdiri di atas kubangan kesedihan dan belum mampu menjauh. Hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka seperti itu.Tersisa lima belas menit lagi bagi Emily untuk menyelesaikan penataan ruang rapat untuk tim pemasaran. Emily memastikan lagi semua meja telah terisi dengan beberapa alat tulis dan botol air mineral. Memeriksa panel kontrol proyektor untuk menyesuaikan dengan layar. Emily juga menambah pengharum ruangan sesuai permintaan Caleb. Dari arah belakang terdengar suara pintu terbuka. “Kurang lima belas menit lagi Cal. Biarkan aku bekerja dengan tenang,”ujar Emity tanpa menoleh. Siapa lagi manusia usil di perusahaan ini yang ketagihan untuk mengganggunya. Tak ada jawaban. Tumben. Emily menoleh. Dan demi Tuhan!Ada jelmaan dewa Apollo, melewatinya dengan tubuh berbalut jas dan kemeja berkerah. Rambutnya cokelat emas, matanya sempat menatap Emily beberapa detik sebelum mengarahkan pandangan ke meja paling ujung ruangan. Seumur hidupnya, Emily tidak pernah menemukan mata abu abu seindah itu. Dengan gugup, Emily berusaha mengembalikan kesadaran, ia mengamati kertas yang diberikan Caleb padan
Setelah kejadian terjebak lift sabtu malam, tampaknya semua baik-baik saja. Emily memperhatikan semua petugas keamanan tetap bertugas seperti biasa. Tak ada berita menghebohkan seperti pemecatan atau apapun. Semua tenang terkendali seakan tidak pernah ada insiden lift macet. Hingga dua pekan berlalu, saat di Jumat sore menjelang usai jam kantor, sebuah telepon dari sekretaris CEO meminta Emily untuk menghadap sang bos. “Aku?apakah beliau tidak memberitahumu tentang apa?”tanya Emily kuatir. Dua minggu ini ia melakukan pekerjaannya dengan baik, tak ada complain dari divisi lain. “Tidak ada nona Emily, tuan Jonathan hanya memintamu untuk datang ke ruangannya sekarang,”Ernetta, sekretaris CEO menjawab singkat. “Baiklah, aku segera kesana.” Emily melangkah bergegas ke lantai 12, letak ruangan CEO berada. Dia hanya dua kali berkesempatan mengunjungi lantai 12 yang memang dkhususkan hanya untuk kantor CEO dan sekretarisnya. Ruangan itu begitu megah dan mewah. Di meja sekretaris, Ern
Sudah hampir sebulan ini, Jonathan sering meminta bantuan Emily untuk menemaninya menghabiskan waktu luang di akhir pekan. Entah sudah berapa puluh alasan yang diberikan Jonathan hingga Emily tak bisa menolaknya. Hanya untuk sekedar jalan di taman kota, menemaninya berbelanja pakaian atau menikmati sunset di Pantai. Sebuah pesan pendek masuk di layar ponsel Emily. Dari Jonathan. “Aku jenuh, temani aku ke café malam ini” Emily melirik jam tangan di pergelangan tangan kanannya. Pukul 18.00. Harusnya satu jam yang lalu waktu kantor telah berakhir. Tapi ia harus lembur menyelesaikan laporan stok asset untuk persiapan audit akhir tahun. Emily mengetik pesan balasan “Aku harus lembur” Sesaat kemudian Jonathan mengetikkan sesuatu. “Siapa saja yang lembur di ruanganmu?” Meski satu divisi, tapi job desk pekerjaan Emily berbeda dengan Cali dan Abigail, jadi malam ini ia hanya sendiri. “Aku sendirian.” Tak ada jawaban. Emily merasa Jonathan memaklumi kesibukannya dan takkan tega m
Pagi ini waktu terasa berjalan lambat. Emily duduk di samping ibunya, di ruang tunggu Harlem Hospital Center. Sang ayah, Robert Patterson harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami sesak nafas. Emily mengirim pesan kepada Paula Meyer jika dirinya tidak masuk kerja. Dan Paula mengijinkan. Nyonya Aldera menghapus air mata yang menggenang di sudut mata. Emily mempererat genggaman tangannya. “Ayah akan baik-baik saja.” “Kuharap begitu, Em. Penyakit ginjal ayahmu sudah kronis. Dokter bilang ini sudah stadium akhir. “ Emily mengangguk. “Tapi kita tidak boleh menyerah,bu.” “Tidak akan pernah. Aku akan berjuang bersamanya.” Emily memeluk bahu ibunya. Mencium sisi wajah Aldera. Berusaha memberikan kekuatan. “Ibu tidak sendiri. Aku dan Eden akan berjuang demi ayah.” Aldera tersenyum samar. Menatap lalu lalang pengunjung rumah sakit yang berseliweran di sepanjang koridor. Saat menjelang sore hari sebuah pesan pendek muncul di ponsel Emily. Dari Jonathan. “Kudengar ayahmu ada
Jonathan menyalakan fitur navigasi canggih di samping kemudi saat telah berada di dalam mobil. Mereka berkendara selama setengah jam saat Jonathan memarkir mobil di sebuah kawasan perbukitan. Dari tempat mereka berhenti, tampak pemandangan cantik lampu-lampu kota berada di bawah mereka. “Ayo,”ajak Jonathan sembari membuka pintu mobil. Emily menurut tanpa kata. “Kubantu duduk,”ucapnya kepada Emily. Jonathan meraih pinggang Emily, membantu wanita itu duduk di atas kap mobil. Ia menyusul duduk di samping Emily. Lama keduanya saling diam. Menikmati keindahan lampu kota. Emily berpaling ke arah Jonathan. “Terima kasih.” Jonathan menatap Emily. Ia tahu wanita itu tengah menyembunyikan perasaannya. Entah itu sedih atau marah. Jonathan merapat ke tubuh Emily. . Lengan kokohnya meraih kepala Emily, merengkuhnya dalam dekapan. “Aku tak pernah mengalami situasi seperti ini, jadi maaf aku tak bisa melakukan hal lain untuk menghiburmu.” Emily melingkarkan lengan di pinggang Jonathan
Caroline menepati ucapannya. Dua undangan tiba di meja sekretaris Jonathan siang itu. “Excuse me, sir. Ada undangan untukmu.” Jonathan menerima undangan itu dan membaca sekilas. Acara pernikahan Oliver dan Caroline Sabtu pekan ini. “Terima kasih,Ernette.” Wanita tua itu mengangguk dan berlalu pergi meninggalkan ruangan sang CEO. Jonathan berfikir sesaat sebelum meraih ponselnya dan mengirim gambar undangan itu kepada Emily. Beberapa menit kemudian muncul pesan balasan dari Emily. “Aku tidak perlu datang.” Jonathan mengetikkan sesuatu. “Tunjukkan padanya kamu baik-baik saja. Jangan biarkan mereka senang.” “Aku tidak perlu membuktikan apapun pada mereka.” “Kamu yakin?” Tak ada balasan dari Emily. Jonathan merasa tidak perlu memaksa Emily lagi. Keputusan Emily pasti telah dipertimbangkan dengan baik. Jonathan melanjutkan pekerjaannya kembali saat setengah jam kemudian muncul pesan dari Emily. “Menurutmu, apakah aku harus datang?” Jonathan tersenyum. Ia menge
Satu jam lagi acara pernikahan akan dimulai. Oliver dan keluarganya telah menyewa sebuah ruangan mewah di sebuah hotel bintang lima. Undangan terbatas di kalangan tertentu. Hanya rekan bisnis dan teman terdekat. Sementara di apartemen Jonathan, di salah satu kamar telah tertata rapi gaun-gaun malam koleksi terbaik musim ini. Jonathan telah mempersiapkan semuanya. Ia telah menyewa tim Make up artist terbaik yang diketahuinya dari salah satu rekan bisnis pemilik perusahaan kosmetik. Emily membeku di tempatnya berdiri saat beberapa orang berpakaian seragam mulai berdatangan di apartemen Jonathan. Mereka dengan sigap memperkenalkan diri dan memberitahu Emily untuk bersiap di kamar yang telah disediakan. “Tidakkah menurutmu ini sangat berlebihan?”gerutunya ke arah Jonathan sebelum menghilang dari balik pintu kamar. Jonathan mengenakan tuxedo hitam yang melekat erat di tubuhnya. Tuxedo shaw lapel yang dipadukan kemeja hitam bahan mengkilap. Memperlihatkan postur tubuh tegapnya. Seben
Thanksgiving merupakan hari bahagia bagi sebuah keluarga untuk bisa merayakan tradisi dan berkumpul bersama. Tapi tidak dengan Jonathan, undangan yang diterimanya dari James siang itu benar-benar membuatnya sakit kepala. Keluarga besar William Walker akan merayakan Thanksgiving dan mengundang hampir seluruh keluarga dekat. “Aku mohon luangkan waktumu untuk datang, Nathan,”ucap James di seberang telepon. “Kita ini keluarga. Apapun yang terjadi. Apapun masalahmu dengan Pamela dan Jacob, kuharap tidak membuat kita terpisah sebagai keluarga.” Jonathan menghela nafas panjang. Satu hal yang paling dibencinya adalah berada di rumahnya dan mengenang berbagai kenangan buruk masa kecilnya. “Entahlah, James, Aku banyak kerjaan.” “Meskipun di hari libur?” Jonathan memaki dalam hati. Alasan yang buruk sekali. “Kau bisa mengundang temanmu juga, Nath,”bujuk James lagi. “Atau kekasihmu,”James sedikit menyelidik. Jonathan tidak bersuara. Ia tidak ingin berbagi kehidupan pribadi dengan s
Aldera tampak mondar mandir di depan ruang operasi. Ia terlihat cemas. Emily mengalami gegar otak parah. Eden duduk sembari tak henti-hentinya menangis. Lukanya telah diobati oleh perawat sejam yang lalu. Hanya luka lecet. Sementara Simon pingsan setelah telepon terakhirnya. Ia terluka di wajah akibat pecahan kaca. Di tempat lain, Mateo tengah menjalani operasi karena luka tembak di dada.. Jonathan duduk bersandar dengan wajah tak terbaca. Sesaat tampak marah sesaat berubah cemas. Ia meremas rambut dengan kesal. Kai duduk di sampingnya dengan kaku. Ia pernah hampir mencelakai Emily dan menyadari kini Emily terluka parah membuat hatinya sedih. Operasi berlangsung hampir 4 jam. Mateo berhasil melalui operasi dengan lancar. Baginya ini bukan pertama kali. Sementara Emily masih dalam masa kritis setelah operasi usai. “Selamatkan istriku, dokter.”Jonathan berujar dengan menahan emosi. “Kami lakukan yang terbaik, Mr Jonathan.”Dokter Liam adalah dokter bedah rekan sejawat dari Jame
Beberapa hari ini Emily disibukkan dengan persiapan Eden memasuki bangku kuliah. Mulai pemilihan jurusan hingga pendaftaran. Mateo dengan sigap selalu membantunya meski hal-hal remeh mulai mengambil formulir pendaftaran hingga mencarikan pensil untuknya. Emily merasa tidak enak hati, tapi lama kelamaan ia menjadi terbiasa. Di samping karena Mateo memang pria yang irit bicara, ia juga sangat sopan. Jonathan sangat ahli memilih orang yang bisa diandalkan. Jonathan masih dengan kesibukan setiap Sabtu sore hingga Minggu malam menemani Kai, entah hiking atau sekedar bersepeda santai di area Manhattan waterfront greenway.Jumat malam ini Emily berencana menginap di rumah orang tuanya karena Jonathan ijin lebih awal menemani Kai melihat proyek resort di Oak beach yang sudah hampir selesai. Emily menjemput Eden di kampusnya sekalian menuju rumah. Keduanya berbincang seru di kursi pengemudi sementara Mateo duduk di sebelah Simon. 15 menit jalan raya yang mereka lalui tampak tenang saat dari
Anna duduk di meja rias di dalam kamarnya yang super luas dan mewah. Mematut diri di depan cermin. Kurang apa dirinya hingga Jonathan tak tertarik padanya?Ia bahkan harus rela memakai cara kotor dengan mencampur minuman pria itu dengan obat perangsang, itu pun tetap tak berhasil. Se cinta itukah Jonathan pada istrinya?Ia telah menyewa jasa detektif swasta untuk mencari informasi tentang pria itu. Selama di Manhattan, pria itu tak pernah memiliki hubungan special dengan wanita manapun, kecuali dengan Emily. Anna mengeraskan rahang. Wanita keparat itu harus lenyap jika itu satu-satunya jalan mendapatkan Jonathan. Ia terbiasa mendapat apa yang diinginkannya, jika tidak, seperti ada gatal yang mendera tubuh dan ia tak bisa menemukan titik untuk menggaruknya.Emily tengah mencari informasi tentang program studi di Universitas pilihan Eden saat tanpa sengaja di halaman pencarian muncul headline berita tentang perceraian Oliver dan Caroline.“Oliver, CEO Unity Corp menggugat cerai sang istr
Warning 21+ Seperti janjinya kepada Kai, hari Sabtu berikutnya Jonathan mengajak Kai menuju New York's Catskill Mountains. Tempat hiking dengan pesona alam yang memungkinkan keduanya untuk hiking dan kemah dari sabtu sore hingga Minggu. Meski tak banyak yang dibicarakan saat keduanya bersama tapi bagi Jonathan itu merupakan awal yang bagus karena Kai sudah mau ikut melakukan perjalanan alam dengannya. Jonathan berencana untuk melakukan hal serupa sebulan kemudian dengan tempat yang berbeda. Rabu malam waktu setempat. Jonathan menjamu salah satu klien di Manhatta, sebuah resto sekaligus pub. Di akhir pertemuan, Jonathan ikut mengantar rombongan ke pintu keluar saat dilihatnya Anna memasuki resto. Sepertinya nampak tak sengaja, padahal tanpa Jonathan sadari, Anna telah menyewa orang untuk mengikuti setiap gerak Jonathan untuk memastikan dirinya bisa berdua dengan lelaki itu. Dan sepertinya malam ini Jonathan tak bisa menolak permintaannya. "Hai, akhirnya aku berkesempatan mentra
Jonathan bergegas pulang setelah mendapat telepon dari Simon. Ia menghampiri Emily yang tidur berbaring di ranjang. “Sayang, kau tak apa-apa?”Jonathan tampak cemas. Emily bergerak duduk saat Jonathan berjalan mendekat dan memeluknya. “Aku tidak apa-apa,”jawab Emily singkat. Jonathan melepas pelukan dan meneliti wajah Emily. “Sebaiknya kita ke rumah sakit.” “Tidak Jonathan. Aku sungguh baik-baik saja.” Jonathan menghela nafas. “Aku benar-benar penasaran siapa orang brengsek yang berani mengganggumu?” Emily diam. Ia tampak merenung. Apakah ia harus mengatakan apa yang telah dilihatnya tadi? “Aku tidak yakin.” “Apa maksudmu?” Emily menatap Jonathan yang memandangnya penuh rasa penasaran. “Aku sempat membaca plat nomer mobil dan sekilas pengemudinya.” “Kau mengenalnya?”kejar Jonathan tak sabar. “Mobil SUV hitam, tapi mungkin aku salah mengenali…” “Siapa, Emily?” Emily diam. “Ayolah, sebutkan siapa,”desak Jonathan. “Aku melihat Kai.” “Kai?”ulang Jonathan terpe
Siang itu saat menjelang makan siang, Ernetta, sang sekretaris mengetuk pintu ruang kerja Jonathan. "Maaf Sir, ada kiriman makanan untuk anda. " Jonathan mengalihkan pandangan dari layar laptop. Ia memperhatikan wanita paruh baya yang tengah berdiri di ambang pintu sembari menyuruh beberapa orang masuk dengan paket makanan dengan jumlah tidak sedikit. Ernetta berjalan mendekat sembari menyerahkan sebuah kartu ucapan. Semoga sesuai seleramu. Anna Jonathan menghela nafas panjang. "Tolong bagikan ke karyawan kita, Ernetta. Aku sudah kenyang. " "Yes, Sir. " Tanpa berkomentar, Ernetta keluar dan kembali dengan beberapa Office Girl yang dengan sigap mengeluarkan tumpukan makanan. Jonathan mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan singkat. "Terima kasih atas makanannya. Kau seharusnya tidak perlu repot. " Tidak butuh lama, terdengar suara panggilan telepon dari Anna. Dengan enggan Jonathan menerimanya. "Apa kau suka makanannya? "Terdengar suara riang dari Anna
Anna Johnson adalah pemilik Anna & Co. Di usia 26 tahun, wanita itu sukses meluncurkan merk kosmetik dengan label namanya sekaligus menguatkan posisinya sebagai mantan model sekaligus pemenang kontes kecantikan terkemuka di Amerika yang mampu bertahan di hiruk pikuknya dunia kecantikan internasional. Meski sebenarnya pencapaiannya saat ini tidak terlepas dari nama besar kedua orang tuanya yang juga merupakan pengusaha sukses di dunia kecantikan. Saat ini Anna tengah duduk di kursi kantornya yang berada di lantai 5 sebuah gedung perkantoran di tengah kota New York. Ia mengamati profil sosok pria di laptopnya. Sesaat ia tampak tak puas dengan tampilan kecil di layar. Ia memperbesar foto itu. Jonathan Walker. Hanya dengan melihat foto itu, ia harus menelan ludah berkali-kali. Tipe pria idamannya. Tegas, tampan dan pintar berbisnis. Minggu lalu keduanya bertemu dalam pertemuan bisnis yang menurutnya sangat singkat. Anna betah berlama-lama duduk di depan pria itu sembari menatap Jonatha
Warning 21+ Emily memejamkan mata, ia mengatur nafas setelah percintaan yang hebat beberapa saat yang lalu. Selimut yang menutupi tubuhnya hanya bertahan 5 menit karena Jonathan kembali menarik selimut itu. “Kau tak perlu ini, Sayang.” Emily menoleh, menghadiahi suaminya senyum manis. “Biarkan aku istirahat sebentar.” Ia membiarkan Jonathan memeluknya. “Bolehkah aku bertanya tentang sesuatu?”tanya Emily sesaat kemudian. “Apa, Sayang?”Jonathan mengusap puting payudara Emily dengan gerakan halus membuat Emily mengerang. “Hentikan, Jonathan,”bisiknya menggeliat geli diiringi tawa tertahan. “Aku tak bisa. Kau terlalu indah, Emily.” Emily membuka mata, menarik selimut menutupi bagian atas tubuhnya. “Aku serius ingin bertanya.” Jonathan berbaring miring. Menumpukan satu tangan untuk menyangga kepalanya. Ia memperhatikan Emily, menunggu wanita itu memberikan pertanyaan. “Siapa kekasih yang paling berkesan dalam hidupmu?”Emily menoleh, menilik wajah Jonathan. “Kamu.”Jo
Warning 21+ Mohon bijak dalam membaca Malam itu Emily bersikeras untuk memasak dan makan di apartemen sementara Jonathan sibuk dengan laptopnya. Ia tengah mencari situs travel perjalanan wisata. “Sayang, bagaimana menurutmu tentang Maldives?”tanyanya ke arah dapur. “Asia, kan?”Emily balik bertanya. “Aku ingin berlibur kesana, apa kau keberatan?” “Baiklah.” Dan hari berikutnya, keduanya melakukan perjalanan menuju Maldives. Jonathan telah memesan sebuah resort di Fari Islands, Patina Maldives. Maldives merupakan negara kepulauan yang terdiri dari kumpulan atol (pulau koral yang mengelilingi sebuah laguna) di samudera Hindia. Untuk bisa menuju Fari islands, mereka harus menyeberang menggunakan yacht dari Male International Airport sekitar 50 menit. Emily mempererat pelukannya di lengan Jonathan saat berada di kapal. “Apa kau masih takut dengan air, Sayang?” “Tidak saat bersamamu,”ucap Emily. “Kau akan berada di dekatku, kan?” “Selalu.”Jonathan mencium kening Emil