Tersisa lima belas menit lagi bagi Emily untuk menyelesaikan penataan ruang rapat untuk tim pemasaran. Emily memastikan lagi semua meja telah terisi dengan beberapa alat tulis dan botol air mineral. Memeriksa panel kontrol proyektor untuk menyesuaikan dengan layar. Emily juga menambah pengharum ruangan sesuai permintaan Caleb.
Dari arah belakang terdengar suara pintu terbuka. “Kurang lima belas menit lagi Cal. Biarkan aku bekerja dengan tenang,”ujar Emity tanpa menoleh. Siapa lagi manusia usil di perusahaan ini yang ketagihan untuk mengganggunya. Tak ada jawaban. Tumben. Emily menoleh. Dan demi Tuhan!Ada jelmaan dewa Apollo, melewatinya dengan tubuh berbalut jas dan kemeja berkerah. Rambutnya cokelat emas, matanya sempat menatap Emily beberapa detik sebelum mengarahkan pandangan ke meja paling ujung ruangan. Seumur hidupnya, Emily tidak pernah menemukan mata abu abu seindah itu. Dengan gugup, Emily berusaha mengembalikan kesadaran, ia mengamati kertas yang diberikan Caleb padanya. Ada sepuluh peserta rapat. Ia cukup mengenal nama-nama staf yang tertera di kertas itu. Tapi mengapa ia tidak menemukan nama pria yang baru saja melewatinya dengan tatapan dingin itu. Apakah pria itu salah ruangan? “Maaf, apakah anda tidak salah ruangan?ini ruang alpaca untuk divisi pemasaran, sebentar lagi rapat akan segera dimulai.” Pria itu melirik jam tangannya. Ia tampak gusar tidak menemukan tim rapat di dalam ruangan. Ia tidak mempedulikan pertanyaan Emily. Tiba tiba Emily sadar akan sesuatu. Pimpinan rapat adalah Mr Jonathan Walker. Ya Tuhan, dia CEO baru itu!serunya dalam hati. Emily bergegas menyelesaikan pekerjaannya. Tepat lima menit sebelum waktu rapat dimulai, para staff divisi pemasaran mulai berdatangan. Suasana ruangan berubah canggung dan hening tatkala mereka menyadari CEO baru hadir dalam rapat lebih dulu. “Terima kasih, Em,”bisik Caleb sebelum Emily meninggalkan ruangan. Ia sempat akan berpamitan pergi saat dilihatnya CEO baru itu juga tengah menatapnya, seperti pandangan tak sabar untuk segera mengusirnya. “Aku pergi dulu, Caleb,”bisiknya diam-diam. Emily adalah karyawan yang sangat berhati hati dengan pekerjaannya. Ia tekun dan tidak suka jika pekerjaannya salah, karena itu ia rela bekerja lebih keras dibanding karyawan lainnya. Ia rela berkutat di depan komputer hanya untuk memastikan data yang akan diserahkan ke atasannya sudah lengkap dan benar. Mungkin karena itu mrs Paula menyukainya. Di samping wanita tua itu memang baik hati dan mengayomi bawahannya, ia juga tidak pelit pujian. Ia akan memberikan reward terhadap anak buahnya yang memang berprestasi. Seperti Emily, ia mendorong Emily untuk meneruskan kuliahnya yang sempat terhenti. “Sayang jika kamu tidak meneruskan kuliahmu, Em. Aku ingat kamu pernah belajar desain interior semasa kuliah dulu. Belajarlah hal ini, kamu bisa ambil jurusan bisnis manajemen, ”ucap Paula waktu itu. “Tiga tahun lagi aku pensiun, aku berharap engkau yang menjadi penggantiku kelak.” “Itu tidak mungkin, mrs. Masih ada Cali dan Abigail yang lebih lama dariku.” “Kuantitas bekerja tidak bisa dibandingkan dengan kualitas bekerja Em,”Paula menegaskan. “Aku sayang mereka berdua dan aku tahu mereka berdua tidak berambisi menggantikanku. Pikiran mereka sudah terbagi. Aku pernah ngobral dengan keduanya. Kurasa, dari pembicaraan kami, mereka lebih memilih keluarga jika harus mengorbankan waktu untuk pekerjaan.”Paula tersenyum memandang Emily yang duduk di depan mejanya. “Peluangmu masih terbuka lebar di perusahaan ini. Percayalah, di Western Corp, siapapun pemimpinnya, pasti akan bertumbuh dengan baik.” Emily merenungi kalimat Paula. Sampai hari ini pun, dia masih menjadikan obrolan singkat dengan Paula itu menjadi motivasinya untuk meningkatkan kinerja pekerjaannya. “Aku punya pengumuman penting.”Paula berdiri di depan pintu ruang kerjanya saat Emily baru saja masuk ke ruangan. Ia menatap satu persatu anak buahnya. “Sabtu ini akan ada pesta penyambutan presdir baru kita.” Ketiganya terdiam, menunggu ucapan Paula selanjutnya. “Jika sebelum-sebelumnya aku yang mewakili divisi umum untuk hadir, saat ini aku meminta salah satu dari kalian untuk datang.” Ketiganya saling memandang. Paula sebenarnya tidak berharap banyak kepada Emily, karena ia tahu Emily tidak suka menghadiri acara seperti itu dan pasti akan menolaknya. “Kukira engkau tidak lupa aku sudah mengajukan cuti Jumat ini, aku harus menghadiri ulang tahun keponakanku tersayang,”Abigail merajuk, mengingatkan Paula. “Aku juga tidak bisa hadir, ma’am, aku harus menjemput ibuku di bandara. Beliau datang untuk mengunjungi cucu-cucunya,”Cali memberi alasan. “Aku tahu, kalian sudah pernah ngobrol denganku masalah itu, tapi undangan ini mendadak, dan aku juga harus menghadiri pentas seni sekolah anak semata wayangku,”keluh Paula. Cali dan Abigail hampir bersamaan menoleh ke arah Emily. “Harapan kami hanya padamu, Em.” Emily terdiam sesaat. Ketiga wanita baik itu telah banyak mentolerir dan mengorbankan waktunya saat Emily enggan datang di acara pertemuan kantor yang memang jarang diadakan di akhir pekan. Dan ia tidak boleh egois. “Baiklah, aku yang akan hadir.”Emily berucap. Paula tersenyum lega. “Baiklah kalau begitu, masalah terselesaikan.”Ia bertepuk tangan sekali. “Jangan lupa berdandan, Em. Aku yakin kamu akan mengalahkan kecantikan Elora jika sedikit saja kamu mau berdandan,”puji Paula yang diamini Cali dan Abigail. Elora wanita tercantik di kantor pusat Weston Corp, Elora mantan model yang direkrut bukan hanya karena awalnya sebagai model iklan salah satu produk keluaran Weston Corp, akan tetapi Elora ternyata juga lulusan universitas unggulan di Philadelphia. Dan ternyata ia juga mumpuni bekerja di bidang keuangan. Emily hanya tersenyum samar. Ia tidak biasa berdandan, dalam keseharian, ia hanya menggunakan pemoles bibir warna natural. Ia tidak suka tampil menonjol. Ia menjadi pribadi yang berbeda semenjak perceraiannya dengan Oliver. Emily tidak lagi ceria dan percaya diri. Dan benar saja, saat menghadiri pesta Sabtu malam ini, ia tampak aneh di antara undangan yang lain, khususnya di kalangan perempuan. Ia mengenakan kemeja kerja harian dipadukan dengan rok A line sementara wanita lainnya bersaing memakai gaun terbaik mereka. Seperti biasa Emily memasang wajah acuh tak acuh, bentuk pertahanan diri dari rasa ketidak percayaan dirinya. “Hai, Em,”sapa Caleb dari arah belakang. Emily menoleh, mungkin hanya Caleb satu-satunya pekerja Weston Corp yang mau ngobrol dengannya. “Hai Cal,”Emily tersenyum tipis. “Acara akan segera dimulai. Kamu sudah pernah bertemu dengan Mr. Jonathan waktu itu kan?”Caleb mengingatkan saat Emily menyiapkan ruang rapat untuknya. “Ya, ya. Aku pernah bertemu dengannya.” “Sebenarnya tuan Jonathan menolak diadakan acara penyambutan seperti ini, tapi yah, demi direksi lain yang setengah memaksanya akhirnya dia bersedia datang.”Tanpa disuruh Caleb menjelaskan. “Menurutmu, apakah acara akan berlangsung sampai malam?”tanya Emily “Kukira begitu,”Caleb tersenyum menggoda. “Kenapa?Kamu ada kencan dengan seseorang?” Emily tidak menjawab. Ia mengambil gelas minuman yang ditawarkan oleh pelayan yang berjalan berkeliling ruangan. “Aku penasaran dengan kehidupanmu, Em. Kamu begitu tertutup.”Caleb mengamati Emily dengan seksama. “Tidak perlu. Hidupku biasa -biasa saja, Cal.”Kenyataannya lebih menyedihkan lagi, tambah Emily dalam hati. Dari kejauhan, di tengah ruangan terdengar suara Master Ceremony memperkenalkan diri dan mulai membuka acara. Caleb mengalihkan pandangan ke pusat acara. Pidato awal dibuka dengan perwakilan direksi hingga akhirnya acara puncak yaitu perkenalan CEO baru Weston Corp. Para undangan yang semula tidak peduli dan sibuk mengobrol dengan rekan kerjanya menjadi terhipnotis khususnya kaum hawa saat Jonathan berjalan kearah panggung. Lelaki itu mengenakan kemeja warna biru tua, semakin mempertegas postur tubuhnya yang tegap dan maskulin. Rambut cokelat keemasannya dibiarkan berantakan, seakan sengaja untuk menggoda kaum hawa yang mulai panas dingin menatapnya. Emily teringat kisah nabi Yusuf yang berjalan di antara wanita wanita yang tanpa sengaja mengiris jarinya karena meilhat ketampanan nabi Yusuf. Mungkin keadaannya sama seperti malam ini. Para undangan wanita tak berkedip menatap Jonathan, pun saat ia mulai mengenalkan dirinya. “Aku senang bisa berdiri malam ini, menjadi wakil dan penerus ayahku untuk memimpin Weston Corporation. Kuharap kerjasama kalian dan jangan segan memberi masukan untukku demi kemajuan perusahaan kita. Terima kasih.” Hadirin bertepuk tangan dengan pidato singkat dari CEO baru. “Apakah boleh memberi pertanyaan, sir?”Master ceremony maju mendekat. “Silahkan,”jawab Jonathan tersenyum tipis. MC acara membuka sebuah kertas, di tangannya tampak setumpuk kertas telah menunggu untuk dibaca. “Sepertinya ini semua dari para wanita, sir,”ucapnya setengah menahan tawa. “Dan rata-rata pertanyaannya sama.”MC acara tampak memasukkan semua kertas ke dalam saku jasnya. “Apakah anda sudah menikah, sir?” Ruangan pesta riuh dengan tawa. Jonathan tersenyum. “Belum,”jawabnya singkat. “Itu saja?” “Satu lagi, sir. Apa kriteria wanita idamanmu?” Jonathan tersenyum lagi, kali ini tersenyum geli dengan pertanyaan sang MC. “Sederhana saja, wanita yang tidak menyusahkanku,”jawabnya absurd, diselingi senyum , Jonathan seperti tidak ingin memberikan jawaban lainnya”Baiklah terima kasih dengan kehadiran kalian semua, nikmati pestanya. Selamat malam.”Jonathan turun dari atas panggung setelah berbicara dan memberikan mic nya kepada panitia pesta. Ia berjalan menuju ruangan lain yang berpintu dan sesaat kemudian menghilang di balik pintu. Lelaki yang minim senyum dan sedikit bicara. Emily bersyukur tidak usah berlama lama di acara pesta itu. Ia merasa menjadi manusia tak kasat mata. Ada tapi tidak tampak oleh yang lain, jadi ia memutuskan untuk pergi dari pesta. Setidaknya beberapa tamu undangan tahu jika ia sudah mewakili divisinya untuk datang di acara penyambutan CEO baru. Setelah pamit dengan Caleb dan membuat alasan yang masuk akal, ia segera meninggalkan ruangan dan menuju pintu lift. Emily merasa lega mendapati koridor menuju lift tampak sepi, hanya ada satu dua pria pelayan pesta yang sibuk dengan nampan di tangannya. Suasana tampak tenang, Emily hampir menutup pintu lift saat terdengar suara bass memintanya untuk tetap membuka pintu lift. “Tunggu,” Emily menekan sebuah tombol untuk menahan pintu lift agar tidak menutup. Emily tertegun saat sosok pria itu sudah masuk ke dalam lift. Tuan Jonathan, sang Bintang pesta. Kenapa dia tidak menunggu pesta sampai selesai?Tidak sopan sekali. “Terima kasih.”ucapnya saat Emily telah menekan tombol dan pintu segera menutup. Jonathan melirik kearah angka satu di tombol lift yang disentuh Emily dan ia diam tak bergerak, tampaknya Jonathan memiliki tujuan yang sama dengan Emily. Pulang. Keduanya tak bersuara. Emily menatap pergerakan angka di atas pintu lift. Saat angka bergerak di angka tiga, tiba tiba lift berhenti mendadak dan suasana menjadi gelap. “Damn!”seru Jonathan tertahan. Emily meraba tasnya, mencoba mencari handphone. dan menyalakan lampu senter untuk mencari tombol berbentuk bel. “Halo, ada petugas di luar?Kami terjebak di dalam lift,”seru Emily mencoba untuk tidak panik. Ia pernah mengalami hal serupa dan belajar untuk tetap tenang di kondisi seperti ini. Tak terdengar suara jawaban, hanya suara di belakangnya yang terdengar panik. Emily menoleh. Ia terpaku di tempat saat melihat Jonathan terduduk lemas di lantai lift, pria itu tampak sangat ketakutan, dari mulutnya keluar suara desisan seperti orang yang kehabisan nafas. Jonathan mencoba membuka kancing atas kemejanya. Emily segera tersadar dengan apa yang terjadi. Pria itu tampaknya phobia dengan kegelapan. “Sir, are you okay?” Jonathan tak menjawab, ia tampak berusaha setengah mati untuk bernafas. Emily bersimpuh di depannya, sangat kuatir. “Sir, lift akan segera menyala kembali,” “Aku tidak bisa bernafas,”ucap Jonathan tersengal sengal. Emily meyakinkan diri untuk tetap tenang. Ia pernah menolong salah satu temannya dengan gejala yang sama. “Sir, bolehkah kupegang tanganmu?”tanya Emily. Jonathan tidak menjawab, ia seperti tidak sadar dengan sekelilingnya. Ia bergerak-gerak gelisah dan sesekali mengumpat dengan keluhan yang sama. “aku tidak bisa bernafas.” Emily segera memegang tangan pria itu. Tangannya gemetar dan berkeringat dingin. “Sir, aku di sini, aku tidak akan meninggalkanmu, tarik nafas panjang.” “Aku tidak bisa bernafas,”ucap Jonathan berulang-ulang. Dengan satu tangan Emily menekan tombol senter di handphonenya. Ruangan sedikit bercahaya. “Look at me, sir!”perintah Emily, ia mencoba membuat Jonathan fokus dengan dirinya dan mengalihkan perhatian Jonathan dari ketakutannya. “Lihat aku, semua akan baik baik saja, kamu tidak sendirian dan aku akan membantumu, okay?sekarang ambil nafas panjang,”Emily sedikit meremas telapak tangan pria itu untuk mengalihkan perhatian Jonathan kepadanya. Dan pada akhirnya Jonathan seperti tersadar, ia mengerjapkan matanya sesaat. “Tarik nafas panjang, sir,”Pinta Emily lagi.”Dan keluarkan perlahan. Ikuti aku,”Emily memberi contoh. Sepertinya Jonathan mulai tenang. Ia mengikuti apa yang dilakukan Emily. “Bagus, sir. Kita mulai lagi. Ambil nafas panjang, keluarkan perlahan.” Jonathan mengikuti aba-aba Emily. Dan mereka melakukan hal yang sama beberapa kali. Dengan satu tangan Emily mencoba membuat panggilan darurat di handphone nya gagal, tidak ada sinyal. “Aku akan meminta bantuan dari telepon lift,”Emily hendak bergerak menjauh saat tangan Jonathan meremas tangannya erat. “Jangan tinggalkan aku, please.”suaranya terdengar memelas. “Sebentar saja, aku hanya akan melangkah satu jengkal, okay?”Emily mencoba menenangkan. Jonathan terdiam tidak segera melepaskan genggaman tangannya. Tapi perlahan ia mulai melonggarkan tangannya. “Kuletakkan senter handphoneku di dekat anda, sir.” Setelah Jonathan tampak benar-benar tenang, Emily mulai bergerak menuju tombol bel di dinding lift. Ia menekan tiga kali dan mulai berbicara. “Halo, apakah ada orang di luar?Kami terjebak di dalam lift.” Emily mengulang beberapa kali saat di menit selanjutnya terdengar jawaban. “Halo, ada orang di dalam lift?Tunggu sebentar, kami akan segera mengeluarkan kalian.” Evakuasi penyelamatan berlangsung selama satu jam. Sepanjang waktu itu, Emily duduk di samping Jonathan yang sudah mulai tenang. Untungnya, Emily selalu membawa botol minuman di dalam tas. Jonathan hampir menghabiskan setengah botol tanpa suara, ia tidak lagi kesulitan bernafas. Emily menawarkan tissue kepada Jonathan untuk menyeka keringatnya yang membasahi wajah. Tubuh Jonathan juga basah oleh keringat. “Terima kasih,”ujar Jonathan sesaat sebelum pintu lift dibuka paksa oleh tehnisi Gedung. “Anda harus ke rumah sakit, sir,”pinta Emily saat keduanya benar-benar telah berada di luar lift. “Anda baik-baik saja, sir?”Beberapa petugas keamanan tampak berkerumun dengan panik. Sang CEO terjebak di dalam lift, bagaimana nasib mereka selanjutnya jika amarah CEO tak terbendung dan memerintahkan pemecatan semua petugas keamanan. “Aku baik baik saja,”Jonathan berbicara sesaat dengan sopirnya yang dengan sigap segera mengawal Jonathan keluar gedung. Sebelum pergi Jonathan menatap kea rah Emily. “Terima kasih.”ucapnya tersenyum tulus sebelum berlalu pergi. Emily menghela nafas panjang. Lega. Drama malam ini benar-benar menguras tenaga. Ia memimpikan segera sampai di rumah dan segera beristirahat.Setelah kejadian terjebak lift sabtu malam, tampaknya semua baik-baik saja. Emily memperhatikan semua petugas keamanan tetap bertugas seperti biasa. Tak ada berita menghebohkan seperti pemecatan atau apapun. Semua tenang terkendali seakan tidak pernah ada insiden lift macet. Hingga dua pekan berlalu, saat di Jumat sore menjelang usai jam kantor, sebuah telepon dari sekretaris CEO meminta Emily untuk menghadap sang bos. “Aku?apakah beliau tidak memberitahumu tentang apa?”tanya Emily kuatir. Dua minggu ini ia melakukan pekerjaannya dengan baik, tak ada complain dari divisi lain. “Tidak ada nona Emily, tuan Jonathan hanya memintamu untuk datang ke ruangannya sekarang,”Ernetta, sekretaris CEO menjawab singkat. “Baiklah, aku segera kesana.” Emily melangkah bergegas ke lantai 12, letak ruangan CEO berada. Dia hanya dua kali berkesempatan mengunjungi lantai 12 yang memang dkhususkan hanya untuk kantor CEO dan sekretarisnya. Ruangan itu begitu megah dan mewah. Di meja sekretaris, Ernetta
Sudah hampir sebulan ini, Jonathan sering meminta bantuan Emily untuk menemaninya menghabiskan waktu luang di akhir pekan. Entah sudah berapa puluh alasan yang diberikan Jonathan hingga Emily tak bisa menolaknya. Hanya untuk sekedar jalan di taman kota, menemaninya berbelanja pakaian atau menikmati sunset di Pantai. Sebuah pesan pendek masuk di layar ponsel Emily. Dari Jonathan. “Aku jenuh, temani aku ke café malam ini” Emily melirik jam tangan di pergelangan tangan kanannya. Pukul 18.00. Harusnya satu jam yang lalu waktu kantor telah berakhir. Tapi ia harus lembur menyelesaikan laporan stok asset untuk persiapan audit akhir tahun. Emily mengetik pesan balasan “Aku harus lembur” Sesaat kemudian Jonathan mengetikkan sesuatu. “Siapa saja yang lembur di ruanganmu?” Meski satu divisi, tapi job desk pekerjaan Emily berbeda dengan Cali dan Abigail, jadi malam ini ia hanya sendiri. “Aku sendirian.” Tak ada jawaban. Emily merasa Jonathan memaklumi kesibukannya dan takkan tega menggan
“Aku ingin bercerai,”suara Oliver memecah heningnya malam saat Emily bersiap tidur. Emily tertegun. Merasa ada yang salah dengan pendengarannya barusan. “Kau bilang apa?”“Aku ingin bercerai, Em,”tegas Oliver. Kali ini suaranya tak lagi terbata.Emily bangkit dan berjalan di sisi lain tempat tidur, mendekati Oliver yang duduk di tepi ranjang.“Apa maksudmu?”Oliver mendongak, menatap Emily dengan perasaan bercampur aduk. “Ibu memintaku bercerai. Dan aku mendukung keputusannya.”“Kita yang menikah, kenapa ibumu juga ikut campur?”Emily menahan suaranya yang hampir berteriak.“Orang tuaku ingin mempunyai keturunan, dan kamu tidak bisa memberikannya.”“Aku?”tanya Emily tak percaya dengan kalimat yang diucapkan Oliver barusan. “Koreksi kalimatmu, Oliver. Yang benar adalah kita tidak bisa memberikan keturunan.”Emily memberikan penekanan pada setiap kalimatnya. Tidak sekali ini ia mendengar Nyonya Edith, ibu Oli
Bab II Pulang Dua bulan telah berlalu. Emily mengira jika waktu akan menyembuhkan rasa sedihnya. Tapi itu hanya teori belaka. Ia semakin terpuruk. Ia tidak konsentrasi bekerja. Sering melamun dan menangis tanpa sebab. Beberapa kali ia melakukan kesalahan hingga dengan berat hati dan merasa tahu diri, Emily memilih berhenti bekerja. Dengan tabungan tersisa beberapa dolar ia hanya bisa bertahan sebulan saja. Akhirnya ia memilih pulang. “Sayang, apa yang terjadi?”Nyonya Aldera, ibu Emily terkejut menerima kedatangan Emily malam itu. Wanita tua itu memeluk putri sulungnya dan tanpa kata Emily kembali menangis. “Ayo, masuklah.”Nyonya Aldera paham akan situasi Emily dan menahan diri untuk tidak bertanya sampai Emily kembali tenang. Robert Patterson, ayah Emily, yang masuk dari arah belakang rumah tampak khawatir melihat Emily yang kini duduk di kursi dapur. “Sayang, ada apa?Apa kamu baik-baik saja?” Nyonya Aldera memberi isyarat pada suaminya untuk berhenti bicara. Emily memeluk ayahnya
Upacara pemakaman Tuan William Walker, pendiri sekaligus CEO Weston Corp, telah berakhir hampir satu jam yang lalu. Perwakilan tiap divisi yang diundang menghadiri upacara pemakaman, secara rombongan mulai berdatangan di kantor pusat Weston Corp, begitu pula dengan Paula Meyer, Wanita itu masuk di ruangannya dengan mata sembab. Kepergian mendadak presdir dari Weston Corp itu memang menyisakan kesedihan yang mendalam bagi seluruh karyawan di Weston Corp “Aku tak menyangka tuan William sudah pergi. Padahal kemarin lusa aku masih sempat ngobrol dengannya,”ujarnya dengan mata berkaca-kaca. “Dia orang yang sangat baik.”Paula duduk di kursi Emily, bawahannya yang sedari tadi berdiri memperhatikan. ‘’Nyonya Averie sangat terpukul,”ucap Paula parau. Paula tengah membicarakan istri kedua tuan William. Cali dan Abigail, yang duduk di kursinya masing-masing hanya menatap sendu. Tuan William memang orang yang baik, sebagai pemimpin, dia juga dikenal dengan sifatnya yang ramah dan bijaksana. P
Dua minggu telah berlalu sejak meninggalnya tuan William Walker. Tampuk kepemimpinan masih kosong. Rapat direksi telah digelar seminggu yang lalu akan tetapi hasil rapat yang dihadiri juga oleh pengacara keluarga dan Nyonya Averie serta James tetap dirahasiakan. Pagi ini tepat pukul 09.00 waktu setempat. Weston Corp menjadi heboh. Sang CEO baru telah datang. “Mr Jonathan?”Roger, staff purchasing menerima telepon dari salah satu temannya di front office lantai 1. “Dia sudah datang?” “Apakah yang tadi bertemu denganku di lift?”Si cantik Elora menutup mulutnya terkejut. “Kukira tadi aku bertemu model baru untuk iklan kita. Sumpah!Dia sangat tampan!” Jika Elora berani bersumpah dengan apa yang telah dilihatnya, berarti kenyataannya adalah melebihi yang dibayangkan. Sangat tampan bisa jadi luar biasa tampan. “Ooh, kenapa aku tidak datang terlambat saja tadi,”seru Emelia. “Seberapa tampan mr Jonathan?Bagaimana dengan Axel?”tanya Ainsley menyebut salah satu model terbaru yang membi
Sudah hampir sebulan ini, Jonathan sering meminta bantuan Emily untuk menemaninya menghabiskan waktu luang di akhir pekan. Entah sudah berapa puluh alasan yang diberikan Jonathan hingga Emily tak bisa menolaknya. Hanya untuk sekedar jalan di taman kota, menemaninya berbelanja pakaian atau menikmati sunset di Pantai. Sebuah pesan pendek masuk di layar ponsel Emily. Dari Jonathan. “Aku jenuh, temani aku ke café malam ini” Emily melirik jam tangan di pergelangan tangan kanannya. Pukul 18.00. Harusnya satu jam yang lalu waktu kantor telah berakhir. Tapi ia harus lembur menyelesaikan laporan stok asset untuk persiapan audit akhir tahun. Emily mengetik pesan balasan “Aku harus lembur” Sesaat kemudian Jonathan mengetikkan sesuatu. “Siapa saja yang lembur di ruanganmu?” Meski satu divisi, tapi job desk pekerjaan Emily berbeda dengan Cali dan Abigail, jadi malam ini ia hanya sendiri. “Aku sendirian.” Tak ada jawaban. Emily merasa Jonathan memaklumi kesibukannya dan takkan tega menggan
Setelah kejadian terjebak lift sabtu malam, tampaknya semua baik-baik saja. Emily memperhatikan semua petugas keamanan tetap bertugas seperti biasa. Tak ada berita menghebohkan seperti pemecatan atau apapun. Semua tenang terkendali seakan tidak pernah ada insiden lift macet. Hingga dua pekan berlalu, saat di Jumat sore menjelang usai jam kantor, sebuah telepon dari sekretaris CEO meminta Emily untuk menghadap sang bos. “Aku?apakah beliau tidak memberitahumu tentang apa?”tanya Emily kuatir. Dua minggu ini ia melakukan pekerjaannya dengan baik, tak ada complain dari divisi lain. “Tidak ada nona Emily, tuan Jonathan hanya memintamu untuk datang ke ruangannya sekarang,”Ernetta, sekretaris CEO menjawab singkat. “Baiklah, aku segera kesana.” Emily melangkah bergegas ke lantai 12, letak ruangan CEO berada. Dia hanya dua kali berkesempatan mengunjungi lantai 12 yang memang dkhususkan hanya untuk kantor CEO dan sekretarisnya. Ruangan itu begitu megah dan mewah. Di meja sekretaris, Ernetta
Tersisa lima belas menit lagi bagi Emily untuk menyelesaikan penataan ruang rapat untuk tim pemasaran. Emily memastikan lagi semua meja telah terisi dengan beberapa alat tulis dan botol air mineral. Memeriksa panel kontrol proyektor untuk menyesuaikan dengan layar. Emily juga menambah pengharum ruangan sesuai permintaan Caleb. Dari arah belakang terdengar suara pintu terbuka. “Kurang lima belas menit lagi Cal. Biarkan aku bekerja dengan tenang,”ujar Emity tanpa menoleh. Siapa lagi manusia usil di perusahaan ini yang ketagihan untuk mengganggunya. Tak ada jawaban. Tumben. Emily menoleh. Dan demi Tuhan!Ada jelmaan dewa Apollo, melewatinya dengan tubuh berbalut jas dan kemeja berkerah. Rambutnya cokelat emas, matanya sempat menatap Emily beberapa detik sebelum mengarahkan pandangan ke meja paling ujung ruangan. Seumur hidupnya, Emily tidak pernah menemukan mata abu abu seindah itu. Dengan gugup, Emily berusaha mengembalikan kesadaran, ia mengamati kertas yang diberikan Caleb padanya.
Dua minggu telah berlalu sejak meninggalnya tuan William Walker. Tampuk kepemimpinan masih kosong. Rapat direksi telah digelar seminggu yang lalu akan tetapi hasil rapat yang dihadiri juga oleh pengacara keluarga dan Nyonya Averie serta James tetap dirahasiakan. Pagi ini tepat pukul 09.00 waktu setempat. Weston Corp menjadi heboh. Sang CEO baru telah datang. “Mr Jonathan?”Roger, staff purchasing menerima telepon dari salah satu temannya di front office lantai 1. “Dia sudah datang?” “Apakah yang tadi bertemu denganku di lift?”Si cantik Elora menutup mulutnya terkejut. “Kukira tadi aku bertemu model baru untuk iklan kita. Sumpah!Dia sangat tampan!” Jika Elora berani bersumpah dengan apa yang telah dilihatnya, berarti kenyataannya adalah melebihi yang dibayangkan. Sangat tampan bisa jadi luar biasa tampan. “Ooh, kenapa aku tidak datang terlambat saja tadi,”seru Emelia. “Seberapa tampan mr Jonathan?Bagaimana dengan Axel?”tanya Ainsley menyebut salah satu model terbaru yang membi
Upacara pemakaman Tuan William Walker, pendiri sekaligus CEO Weston Corp, telah berakhir hampir satu jam yang lalu. Perwakilan tiap divisi yang diundang menghadiri upacara pemakaman, secara rombongan mulai berdatangan di kantor pusat Weston Corp, begitu pula dengan Paula Meyer, Wanita itu masuk di ruangannya dengan mata sembab. Kepergian mendadak presdir dari Weston Corp itu memang menyisakan kesedihan yang mendalam bagi seluruh karyawan di Weston Corp “Aku tak menyangka tuan William sudah pergi. Padahal kemarin lusa aku masih sempat ngobrol dengannya,”ujarnya dengan mata berkaca-kaca. “Dia orang yang sangat baik.”Paula duduk di kursi Emily, bawahannya yang sedari tadi berdiri memperhatikan. ‘’Nyonya Averie sangat terpukul,”ucap Paula parau. Paula tengah membicarakan istri kedua tuan William. Cali dan Abigail, yang duduk di kursinya masing-masing hanya menatap sendu. Tuan William memang orang yang baik, sebagai pemimpin, dia juga dikenal dengan sifatnya yang ramah dan bijaksana. P
Bab II Pulang Dua bulan telah berlalu. Emily mengira jika waktu akan menyembuhkan rasa sedihnya. Tapi itu hanya teori belaka. Ia semakin terpuruk. Ia tidak konsentrasi bekerja. Sering melamun dan menangis tanpa sebab. Beberapa kali ia melakukan kesalahan hingga dengan berat hati dan merasa tahu diri, Emily memilih berhenti bekerja. Dengan tabungan tersisa beberapa dolar ia hanya bisa bertahan sebulan saja. Akhirnya ia memilih pulang. “Sayang, apa yang terjadi?”Nyonya Aldera, ibu Emily terkejut menerima kedatangan Emily malam itu. Wanita tua itu memeluk putri sulungnya dan tanpa kata Emily kembali menangis. “Ayo, masuklah.”Nyonya Aldera paham akan situasi Emily dan menahan diri untuk tidak bertanya sampai Emily kembali tenang. Robert Patterson, ayah Emily, yang masuk dari arah belakang rumah tampak khawatir melihat Emily yang kini duduk di kursi dapur. “Sayang, ada apa?Apa kamu baik-baik saja?” Nyonya Aldera memberi isyarat pada suaminya untuk berhenti bicara. Emily memeluk ayahnya
“Aku ingin bercerai,”suara Oliver memecah heningnya malam saat Emily bersiap tidur. Emily tertegun. Merasa ada yang salah dengan pendengarannya barusan. “Kau bilang apa?”“Aku ingin bercerai, Em,”tegas Oliver. Kali ini suaranya tak lagi terbata.Emily bangkit dan berjalan di sisi lain tempat tidur, mendekati Oliver yang duduk di tepi ranjang.“Apa maksudmu?”Oliver mendongak, menatap Emily dengan perasaan bercampur aduk. “Ibu memintaku bercerai. Dan aku mendukung keputusannya.”“Kita yang menikah, kenapa ibumu juga ikut campur?”Emily menahan suaranya yang hampir berteriak.“Orang tuaku ingin mempunyai keturunan, dan kamu tidak bisa memberikannya.”“Aku?”tanya Emily tak percaya dengan kalimat yang diucapkan Oliver barusan. “Koreksi kalimatmu, Oliver. Yang benar adalah kita tidak bisa memberikan keturunan.”Emily memberikan penekanan pada setiap kalimatnya. Tidak sekali ini ia mendengar Nyonya Edith, ibu Oli