Share

Tuduhan

Author: Catatan_Sajak
last update Last Updated: 2025-04-28 10:00:05

Lagi-lagi Mas Afnan ingkar janji. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, tetapi Mas Afnan belum juga pulang. Ya Rabb! Kerisauanku sungguh menjadi kenyataan. Mas Afnan mengecewakanku lagi.

Namun, kali ini aku tak akan tinggal diam dan mengalah begitu saja. Berhubung waktu Maghrib sebentar lagi tiba, aku memutuskan akan melaksanakan Shalat Maghrib di Masjid. Sekalian saja aku menyusul langsung Mas Afnan ke sana. Aku ingin tahu, alasan apa lagi yang akan dia katakan padaku kali ini sebagai pembelaan.

“Eh, Saf. Tumben shalat Maghrib di Masjid!” tegur Nilam yang tiba-tiba muncul di sampingku dan membuatku terkejut bukan main. Haish, gadis itu. Kebiasaan kalau datang selalu mendadak. Untung aku tidak punya riwayat penyakit jantung.

Eh, tapi kenapa Nilam juga ikut shalat di Masjid? Bukannya tak boleh, hanya saja ‘kan jarak antara rumahnya ke Masjid ini lumayan jauh. Rajin sekali dia. Atau ada sesuatu ya? Ah, entahlah. Kenapa juga aku pusing

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Bukan Pernikahan impian   Kesempatan

    “Apa dia perempuan yang Mas cintai? Perempuan yang selama ini Mas tunggu untuk dinikahi?”Mas Afnan terlihat kaget dengan perkataanku barusan. Mungkin dia kaget karena aku tahu soal fakta itu.“Tolong jawab, Mas!” desakku.Mas Afnan malah meraup wajah kasar. Dia menatapku dengan tak biasa. “Kenapa kamu seperti ini, Safa? Kita hanya menikah secara kontrak.”Hatiku mencelos. Kenapa Mas Afnan baru mau membuka suara hanya untuk mengingatkan fakta itu? Aku benar-benar tak habis fikir. Mataku terpejam singkat menahan gemuruh yang semakin bergejolak dalam dada. Sepasang tanganku mengepal.“Mas tahu kita hanya nikah kontrak, lalu apa arti dari semua sikap baik kamu selama ini, Mas? Cuma sandiwara? Mas sengaja melakukan itu untuk mempermainkan perasaan aku?” cecarku lagi mengeluarkan semua emosi yang terpendam selama ini.Aku semakin geram karena Mas Afnan tak menjawab apa-apa. Baiklah! Jika benar Mas A

    Last Updated : 2025-04-28
  • Bukan Pernikahan impian   Patah Lagi

    “Tolong, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya.”Aku tercengang. Aku tidak sedang berkhayal atau semacamnya, ‘kan? Lelaki yang sejak hari pertama setelah akad dilangsungkan sampai kemarin malam terang-terangan menolakku, malam ini justru meminta kesempatan padaku atas pernikahan ini? Apa dia sedang kerasukan jin lagi?Apapun itu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mudah luluh dengan semua perbuatan baiknya. Itu hanya menipu. Setelah ini, Mas Afnan pasti akan melakukan sesuatu yang membuatku patah hati lagi.Aku tersenyum hambar, lalu menggeleng samar. Kali ini sandiwaramu tidak akan mempan. Apalagi, membuatku luluh. Tidak akan lagi aku tertipu sama sikap manis kamu.“Maaf, aku nggak bisa.” Setelah berucap demikian, aku langsung melengos pergi melewatinya. Sebelum benar-benar masuk ke dalam, aku kembali memutar tubuh saat mencapai depan pintu untuk menghadap Mas Afnan lagi. “Aku tunggu surat perc

    Last Updated : 2025-04-29
  • Bukan Pernikahan impian   Rahasia yang terkuak

    ‘Safa maafkan aku. Sepertinya malam ini aku tidak pulang lagi. Jangan lupa kunci pintu! Dan jangan tidur terlalu malam.’Aku tersenyum miris membaca pesan yang dikirimkan Mas Afnan beberapa menit lalu. Terulang lagi. Sungguh, aku sama sekali tak mengerti dengan jalan fikiran Mas Afnan. Sudah kuduga dari awal. Ia memang tak serius mau memperbaiki hubungan kami. Toh, dia juga belum bisa menjaga jarak dari perempuan itu.Mataku terpejam disertai butir-butir air mata yang mengalir. Segala fikiran negatif mulai bersarang di otakku memikirkan apa saja yang tengah mereka lakukan berdua sampai malam begini. Ya Allah ... Ya Allah ... sesakit inikah resiko yang kuambil karena mencintai lelaki yang tak mencintai aku?Mungkin, sekarang adalah waktunya. Aku juga lelah karena menjadi satu-satunya yang berharap dalam pernikahan ini. Sudah saatnya semua berakhir.Menghela nafas pelan, aku bangkit dari sofa, mengunci pintu lantas beranjak menuju kamar. Besok p

    Last Updated : 2025-04-29
  • Bukan Pernikahan impian   Insiden Memalukan

    Entah sudah keberapa kali aku menguap karena menahan kantuk, dalam menyimak persidangan atas kasus yang dialami oleh Paman dari sahabatku, Nilam. Kalau bukan karena kasihan, tentu sudah sejak tadi aku meninggalkan ruangan ini. Tak betah sekali rasanya. Belum lagi, telinga yang terasa panas mendengar adu debat yang dilakukan kuasa hukum tersangka dengan kuasa hukum penuntut.“Masih lama nggak sih selesainya, Nil?” tanyaku dengan mata berair karena efek menahan kantuk ini. “Aku udah nggak kuat, aku keluar duluan aja ya.”Aku sudah bangun dari kursi dan hendak pergi, tetapi urung saat Nilam memegang tanganku. “Yah, Saf. Bentar dulu,” cegahnya dengan tatapan memelas. Tatapan yang membuatku merasa tak tega meninggalkannya.Aku menghela nafas pelan. Baiklah! Aku akan bersabar menunggu sebentar lagi. Selang beberapa menit kemudian, pandanganku spontan menoleh ke arah Nilam begitu hasil sidang diputuskan. Dia mendesah panjang dengan tatapan penuh kekecewaan karena kasus yang dialami pamannya

    Last Updated : 2025-04-10
  • Bukan Pernikahan impian   Kembali Bertemu

    Dengan langkah-langkah yang lebar, aku keluar dari TPA tempat mengajar dan langsung mengambil sepeda yang terparkir di halaman. Jantungku bergejolak cepat, hampir mengimbangi kayuhan pada laju sepeda yang kunaiki kini menuju Puskesmas.Sepanjang perjalanan itu fikiranku amat kacau, membayangkan akan kondisi Nenek setelah mendapat kabar bahwa beliau baru saja jatuh dari kamar mandi. Semoga ia baik-baik saja, tak terbayang sehancur apa aku nanti kalau Nenek sampai kenapa-napa.Begitu sampai di Puskesmas, aku langsung melangkah masuk ke dalam dan mempertanyakan keberadaan Nenek pada Resepsionis yang berjaga.“Terima kasih, Sus.” Aku langsung berlari menuju kamar yang Suster itu katakan dan terenyak diam saat melihat Nenek yang terbaring di brankar. Senyum di wajahnya yang sudah mengkeriput itu muncul melihatku datang.“Nenek!” Aku langsung berlari menghampiri Nenek dan menangis di sana. “Nenek nggak kenapa-napa, kan?”Nenek tersenyum, lalu menggeleng. Satu tangannya terjulur mengusap pun

    Last Updated : 2025-04-10
  • Bukan Pernikahan impian   Tidak Asing

    Hal yang kutakutkan kini menjadi kenyataan. TPA tempatku biasa mengajar akan mengadakan pengajian rutin yang dilakukan di Masjid Al-Ikhsan.“Tenang, Saf. Pasti Afnannya udah pulang, kok. Nggak mungkin seharian ada di Masjid, kan?” Nilam berusaha menenangkanku yang sedang kalut. “Percaya sama aku.”Aku menatapnya sejenak, lalu mengangguk. Semoga lelaki itu memang sudah pergi dan aku tidak akan menanggung malu untuk yang kedua kali.Namun, sayang beribu sayang. Harapan tidak kunjung menjadi nyata. Afnan, lelaki itu justru yang bertugas mengatur keberlangsungan acara bersama pihak DKM yang lain.Aku menghela nafas panjang. Ingin rasanya kabur detik ini juga. Namun, hal itu tak mungkin kulakukan karena akulah yang bertugas menjadi pembawa acara dalam pengajian kali ini.Tenang, Safa. Dia pasti nggak ingat sama kamu. Berulang kali aku menarik dan menghembuskan nafas secara pelan. Aku tidak boleh terlihat panik. Ustadzah Gina sudah memberikan amanah tugas dalam acara kali ini. Aku tidak bol

    Last Updated : 2025-04-10
  • Bukan Pernikahan impian   Janji Azzam

    “Tapi aku takut ....” Tatapanku tertunduk dalam-dalam. “Aku belum bisa bahagiain Nenek, Zam. Aku belum bisa buat dia bangga sama aku.” Setetes air mata di pelupuk mataku jatuh. Dadaku selalu terasa sesak jika mengingat kondisi Nenek yang akhir-akhir ini, kondisi kesehatannya semakin menurun.Siapa yang akan siap siaga memelukku ketika ada suara petir di malam hari nanti? Siapa yang akan mencium keningku saat mau berangkat mengajar? Siapa yang akan cerewet mengingatkanku sarapan bila terburu-buru pergi ke TPA?Tidak! Aku tak akan sanggup membayangkan hari-hariku tanpa nenek.“Hei, tenang.”Bukannya tenang, tangisku semakin tak bisa dihentikan. Aku menutup wajah dengan telapak tangan. Di tengah isakan itu, aku tertegun saat merasakan tubuhku yang ditarik pelan. Beberapa detik kemudian, dekapan hangat mulai kurasakan.“Ada aku di sini, kan? Semua pasti baik-baik saja.”Sesaat aku memang tersentuh atas perilaku Azzam, tetapi beberapa menit kemudian, aku langsung menarik diri dari dekapan

    Last Updated : 2025-04-10
  • Bukan Pernikahan impian   Hanya Omong Kosong

    Semua kebingungan di benakku akhirnya terpecahkan. Segala pertanyaan yang hinggap di kepala kini sudah terjawab. Sekarang apa yang harus kulakukan? Tidak ada. Semua sudah hancur sekarang. Segala angan dan harapan yang kupupuk bersamanya kini telah sirna tak berbekas.Hatiku sakit. Sakit sekali. Dia yang sangat kutunggu kehadirannya untuk mengucap akad, ternyata sudah mengucap akad atas nama gadis lain.Entah apa yang harus kujelaskan pada Nenek. Aku takut berita ini akan membuat kesehatan Nenek menurun lagi.“Safa!”Aku tertegun. Itu suara Nilam. Tetapi, kenapa dia ada di sini? “Kalau mau nangis, nangis aja, Saf! Aku tahu kamu lagi nggak baik-baik aja sekarang.” Suaranya bergetar dan serak. Dia pasti menangis juga. Duhai Allah, apa-apaan ini? Harusnya hari ini aku memberikan warna kebahagiaan pada mereka, tapi aku justru malah membuat mereka meneteskan air mata untukku.“Kamu sama siapa ke Jakarta, Nilam? Bukannya kamu ada tugas penting di desa?”“Aku nggak mungkin tenang, Safa. Apa

    Last Updated : 2025-04-10

Latest chapter

  • Bukan Pernikahan impian   Rahasia yang terkuak

    ‘Safa maafkan aku. Sepertinya malam ini aku tidak pulang lagi. Jangan lupa kunci pintu! Dan jangan tidur terlalu malam.’Aku tersenyum miris membaca pesan yang dikirimkan Mas Afnan beberapa menit lalu. Terulang lagi. Sungguh, aku sama sekali tak mengerti dengan jalan fikiran Mas Afnan. Sudah kuduga dari awal. Ia memang tak serius mau memperbaiki hubungan kami. Toh, dia juga belum bisa menjaga jarak dari perempuan itu.Mataku terpejam disertai butir-butir air mata yang mengalir. Segala fikiran negatif mulai bersarang di otakku memikirkan apa saja yang tengah mereka lakukan berdua sampai malam begini. Ya Allah ... Ya Allah ... sesakit inikah resiko yang kuambil karena mencintai lelaki yang tak mencintai aku?Mungkin, sekarang adalah waktunya. Aku juga lelah karena menjadi satu-satunya yang berharap dalam pernikahan ini. Sudah saatnya semua berakhir.Menghela nafas pelan, aku bangkit dari sofa, mengunci pintu lantas beranjak menuju kamar. Besok p

  • Bukan Pernikahan impian   Patah Lagi

    “Tolong, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya.”Aku tercengang. Aku tidak sedang berkhayal atau semacamnya, ‘kan? Lelaki yang sejak hari pertama setelah akad dilangsungkan sampai kemarin malam terang-terangan menolakku, malam ini justru meminta kesempatan padaku atas pernikahan ini? Apa dia sedang kerasukan jin lagi?Apapun itu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak mudah luluh dengan semua perbuatan baiknya. Itu hanya menipu. Setelah ini, Mas Afnan pasti akan melakukan sesuatu yang membuatku patah hati lagi.Aku tersenyum hambar, lalu menggeleng samar. Kali ini sandiwaramu tidak akan mempan. Apalagi, membuatku luluh. Tidak akan lagi aku tertipu sama sikap manis kamu.“Maaf, aku nggak bisa.” Setelah berucap demikian, aku langsung melengos pergi melewatinya. Sebelum benar-benar masuk ke dalam, aku kembali memutar tubuh saat mencapai depan pintu untuk menghadap Mas Afnan lagi. “Aku tunggu surat perc

  • Bukan Pernikahan impian   Kesempatan

    “Apa dia perempuan yang Mas cintai? Perempuan yang selama ini Mas tunggu untuk dinikahi?”Mas Afnan terlihat kaget dengan perkataanku barusan. Mungkin dia kaget karena aku tahu soal fakta itu.“Tolong jawab, Mas!” desakku.Mas Afnan malah meraup wajah kasar. Dia menatapku dengan tak biasa. “Kenapa kamu seperti ini, Safa? Kita hanya menikah secara kontrak.”Hatiku mencelos. Kenapa Mas Afnan baru mau membuka suara hanya untuk mengingatkan fakta itu? Aku benar-benar tak habis fikir. Mataku terpejam singkat menahan gemuruh yang semakin bergejolak dalam dada. Sepasang tanganku mengepal.“Mas tahu kita hanya nikah kontrak, lalu apa arti dari semua sikap baik kamu selama ini, Mas? Cuma sandiwara? Mas sengaja melakukan itu untuk mempermainkan perasaan aku?” cecarku lagi mengeluarkan semua emosi yang terpendam selama ini.Aku semakin geram karena Mas Afnan tak menjawab apa-apa. Baiklah! Jika benar Mas A

  • Bukan Pernikahan impian   Tuduhan

    Lagi-lagi Mas Afnan ingkar janji. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore, tetapi Mas Afnan belum juga pulang. Ya Rabb! Kerisauanku sungguh menjadi kenyataan. Mas Afnan mengecewakanku lagi.Namun, kali ini aku tak akan tinggal diam dan mengalah begitu saja. Berhubung waktu Maghrib sebentar lagi tiba, aku memutuskan akan melaksanakan Shalat Maghrib di Masjid. Sekalian saja aku menyusul langsung Mas Afnan ke sana. Aku ingin tahu, alasan apa lagi yang akan dia katakan padaku kali ini sebagai pembelaan.“Eh, Saf. Tumben shalat Maghrib di Masjid!” tegur Nilam yang tiba-tiba muncul di sampingku dan membuatku terkejut bukan main. Haish, gadis itu. Kebiasaan kalau datang selalu mendadak. Untung aku tidak punya riwayat penyakit jantung.Eh, tapi kenapa Nilam juga ikut shalat di Masjid? Bukannya tak boleh, hanya saja ‘kan jarak antara rumahnya ke Masjid ini lumayan jauh. Rajin sekali dia. Atau ada sesuatu ya? Ah, entahlah. Kenapa juga aku pusing

  • Bukan Pernikahan impian   Perhatian

    “Kenapa itu sepedanya, Neng?” tanya Bapak itu lagi.Aku melirik Mas Afnan sekilas. “Bannya kempes, kurang angin,” jawabku disertai senyuman canggung.Kulihat suamiku itu menghela nafas pelan, kemudian menggelengkan kepala. “Langsung bawa saja ke belakang Masjid, di sana ada pompaannya,” ucap lelaki yang hari ini memakai koko putih itu.Aku mengangguk saja dan menuruti apa yang diperintahkan suamiku tadi. Namun, sesampainya di belakang Masjid, aku mulai kebingungan sendiri. Memang benar ada pompaan itu untuk mengisi angin, tapi masalahnya ... aku tidak tahu bagaimana cara menggunakan pompaan itu.Ditambah lagi, adzan Zuhur sudah berkumandang. Yasudahlah, sebaiknya sekarang aku shalat dulu, baru setelah itu kufikirkan bagaimana memompa ban sepedaku lagi.Langsung saja aku bergegas mengambil wudhu di toilet wanita dan bersiap menunaikan shalat Zuhur.Ternyata, yang menjadi Imam dalam shalat kami

  • Bukan Pernikahan impian   Kerisauan

    Satu detik. Lima detik. Sepuluh detik. Tak ada apa-apa. Penasaran, aku kembali membuka mata. Dan alangkah terkejutnya aku karena Mas Afnan masih berada tepat di depanku dan menatapku dengan aneh.Hingga beberapa detik kemudian, Mas Afnan melepaskan tangannya dari tengkukku dan memalingkan wajah. Jeda seperkian detik, lelaki itu menghela nafas panjang. Sebenarnya Mas Afnan kenapa sih? Aku merasa dia sedang memikul beban berat. Berat sekali.Seandainya kamu mau membagi beban kamu itu sama aku, Mas. Aku mungkin tak akan secerdas itu sampai memberikan solusi. Namun, aku berjanji tak akan meninggalkan kamu dan akan mendukung apapun keputusan yang kamu buat.Tak lama kemudian, Mas Afnan langsung bangkit dari duduknya dan bergegas masuk ke kamar.Aku benar-benar bingung dengan sikapnya. Namun, satu hal yang kutangkap adalah, Mas Afnan sedang merasakan dilema berat. Ya itulah sedikit kesimpulan atas tatapannya yang kutangkap tadi....“Hari in

  • Bukan Pernikahan impian   Kekhawatiran Safa

    Karena waktu baru menunjukkan pukul sebelas siang, dengan terpaksa aku pulang ke rumahku sendiri. Eh, rumah Mas Afnan tepatnya.Huh, padahal aku berencana untuk tidur siang di rumah Nenek dan baru akan pulang nanti sore. Bosan sekali seharian di rumah, tanpa melakukan apa-apa. Atau aku buat kue saja. Nanti kue itu aku bagikan di TPA besok. Ya, sepertinya itu ide bagus.Cepat-cepat aku mengayuh sepeda menuju rumah. Sebelum adzan Zuhur berkumandang, aku harus sudah menyiapkan bahan-bahannya. Baru setelah shalat nanti, aku eksekusi semua bahan itu.Namun, betapa terkejutnya aku ketika baru melangkahkan kaki masuk ke rumah. Mataku membola sempurna melihat Mas Afnan yang ternyata sudah pulang. Kini, lelaki itu sedang fokus menatap ke layar laptopnya.Aku menelan ludah. Dengan gugup, aku kembali melanjutkan langkah.“As-assalamu’alaikum.”Mas Afnan tak menjawab. Ah, jangankan menjawab, sekedar melirikku saja tak dia lakukan. Bena

  • Bukan Pernikahan impian   Jarak

    Aku sama sekali tak mengerti apa maksudnya. Saat aku hendak pergi dari sisi kanan, Mas Afnan justru meletakkan tangan kirinya di samping tubuhku. Begitupun ketika aku hendak pergi dari sisi kiri.“Mas, kamu apa-apaan sih?” tanyaku yang mulai geram padanya.Mas Afnan hanya diam. Tatapan matanya menatapku dengan tatapan yang tak bisa dicerna. Bibirnya terkatup rapat.“Kenapa kamu mengatakan itu?” Barulah setelah sekian menit diam, Mas Afnan akhirnya buka suara.Aku mengerutkan kening. Mengatakan apa?“Apa kamu sadar apa akibat dari kebohongan kamu itu?” tanya Mas Afnan lagi. “Kamu bisa dipandang buruk, Safa!”Saat itulah, aku baru mengerti arah pembicaraannya ke mana. Aku tersenyum getir, lalu memberanikan diri membalas tatapannya. “Iya, aku sadar. Itu yang terbaik untuk kita. Dan juga ....” Aku menghela nafas pelan.“Itu juga akan mempermudah proses perceraian kita nanti

  • Bukan Pernikahan impian   Kebohongan Safa

    Aku mendengus kesal karena Nilam yang sudah ngotot membawaku ke puskesmas. Dan kekesalanku itu semakin menjadi-jadi karena Nilam juga mengabari soal aku yang mual-mual tadi pada Nenek dan juga Mas Afnan.Lalu setelah melaporkan keadaanku pada mereka berdua, gadis itu malah berpamitan pergi. Menyebalkan! Awas saja nanti.Binar bahagia di wajah Nenek langsung terbit saja saat aku berkata alasan aku dibawa ke Puskesmas ini. “Masyaa Allah, Safa. jangan-jangan kamu hamil, Nak,” ujarnya yang membuat aku tercengang.Hamil? Tidak mungkinlah! Aku dan Mas Afnan belum pernah bermalam bersama. Jangankan hal-hal ekstrim begitu. Sekedar berpelukan yang murni tulus dari hati pun tak pernah.Justru, kalau aku hamil, akan menjadi masalah besar. Mas Afnan bisa-bisa mengira aku selingkuh.Tetapi, bagaimana caranya ya aku menjelaskan pada Nenek? Nenek sudah terlanjur sangat bahagia begitu. Aku jadi tak tega dan merasa bersalah.Apa aku bilang

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status