Share

Bab 2

Penulis: Ratu Tiana
last update Terakhir Diperbarui: 2023-12-26 19:59:37

Nia terkikik sendirian sambil mengingat bagaimana ekspresi kedua pasang selingkuhan itu ia permalukan dan bagaimana ekspresi kedua orang itu ketika ia memilih membuka aib mereka di depan orang banyak.

Sekali lagi Nia terbahak-bahak ketika membayangkan kedua orang itu pasti mendapatkan masalah setelah ia membongkar keburukan mereka.

Setidaknya Nia berpikir jika ia tidak akan hancur sendirian. Ada dua orang lain juga yang akan ikut hancur bersamanya.

"Itu akibatnya karena sudah mengkhianati aku. Ha-ha!"

Sekali lagi Nia meneguk vodka langsung dari botolnya, sementara sloky yang ada di depannya ia abaikan begitu saja.

Suara hentakan yang dimainkan seorang DJ terkenal membuat Nia larut dalam kebahagiaan dan juga kesedihan. Di tempat ini ia melampiaskan kekesalan, kekecewaan, dan juga rasa gundah atas pengkhianatan yang dilakukan oleh dua orang terdekatnya.

Nia bangkit dari duduknya, berjalan menuju lantai dansa dan bergabung dengan orang-orang yang meliukkan tubuh mereka dengan bahagia.

Nia berteriak, menari, dan berpesta riang melupakan kesakitan yang di rasakannya.

Aksi Nia tidak pernah luput dari perhatian seseorang yang sedari tadi memperhatikan Nia sejak awal perempuan dewasa itu masuk ke dalam kelab. .

"Kamu kenal perempuan itu, Bro?" tanya seseorang di sampingnya.

Dia menoleh seraya menggelengkan kepalanya. Dia memang tidak mengenal wanita itu, tapi tadi ia melihatnya di kantor. Wanita itu adalah wanita yang sama yang mempermalukan kedua pegawai di kantornya dan membongkar kebusukan yang dilakukan oleh salah seorang oknum karyawannya.

"Dia seperti wanita patah hati. Kamu, tidak tertarik sama dia, Bro?" tanya temannya lagi penasaran.

"Tidak. Aku ada istri di rumah."

"Ya ampun, Bro, istrimu sudah sakit-sakitan. Kamu sebagai pria dewasa tidak mungkin bisa menahan diri untuk tidak menyalurkan hasratmu ke perempuan." Temannya itu berceloteh seraya menggeleng menatap pria itu miris.

"Aku pria setia. Aku akan tetap setia pada istriku."

Pria itu, namanya Bima Sanjaya, berusia 38 tahun dan masih terlihat tampan serta gagah. Orang tidak akan mengira jika Bima,--sapaan akrabnya-- sudah berusia sekian dan memiliki tiga orang putra.

Sekali lagi Bima menatap perempuan yang berada di kantornya tadi. Pria dewasa itu menelan ludahnya melihat tubuh molek perempuan itu.

Sesuatu yang tidak seharusnya berdiri kini mulai menggeliat bangun meminta untuk di bebaskan. Bima tidak kuat jika terus-terusan berada di sini. Pria itu bangkit dari duduknya dan berjalan pergi meninggalkan temannya.

"Mau ke mana, Bro?" Temannya bertanya tapi tidak dihiraukan oleh Bima lagi. Sementara Juan yang memanggil Bima tadi mendengkus melihat sikap temannya itu yang terlalu setia pada istri yang sudah tak sedap di pandang.

Juan Jendral Hariez, pria bule keturunan jerman dan menetap di Indonesia sudah lebih dari dua puluh tahun itu mengalihkan tatapannya pada Nia yang masih menari liar di dance floor. Juan tersenyum dan bangkit dari duduknya menghampiri Nia. Kali ini Juan memiliki firasat bagus tentang perempuan ini dan temannya.

Juan, pria lajang berusia 32 tahun dan berbeda usia 5 tahun dengan Bima, adalah pria yang suka melanglang buana dari perempuan satu ke perempuan lainnya.

Tidak mempercayai pernikahan dan tidak mempercayai yang namanya cinta. Bukan karena ia pernah terluka oleh perempuan, tapi lebih karena ia sendiri sering melihat dan mendengar tentang kandasnya sebuah hubungan baik pacaran, pertunangan, atau pernikahan dari orang-orang sekitar.

______

Suasana gelap menyambut Bima ketika pintu rumah sudah terbuka. Mata tajamnya masih dapat melihat sekitar melalui cahaya yang datang dari luar ruangan atau kamar lain.

Bima menaiki tangga menuju lantai dua di mana kamar sang istri berada. Setelah tiba di lantai dua, Bima membuka pintu kamar dan tertegun melihat sosok wanita kurus masih duduk dengan tenang di tempat tidurnya.

"Kenapa belum tidur?" tanyanya melangkah masuk. Ditariknya sebuah kursi kecil untuk ia duduki di samping tempat tidur istrinya.

Hera--istri Bima-- menyambut kedatangannya dengan senyum seperti biasa.

"Aku nunggu kamu, Mas."

"Untuk membahas soal itu lagi?" Bima mendengkus untuk yang kesekian kalinya dengan pembahasan mereka.

"Mas, izinkan aku berbakti sama mas. Aku sebagai istri sudah tidak berguna lagi. Aku mohon mas untuk menuruti permintaanku kali ini," ujar Hera penuh permohonan.

"Aku menolaknya, Hera. Aku sudah katakan kalau aku tidak berniat untuk menikah lagi," tolak Bima.

"Demi kamu dan anak kita, Mas. Menikahlah agar istri barumu bisa merawat kamu dan ketiga putra kita. Mereka masih butuh sosok ibu yang akan membimbing mereka. Aku mohon, Mas."

Hera masih keukuh untuk terus membujuk agar Bima menikah lagi. Dirinya di vonis terkena penyakit diabetes dan komplikasi oleh dokter sejak beberapa tahun yang lalu. Kakinya pun sudah tidak bisa berjalan normal. Tubuhnya yang dulu terawat kini kurus kering dan tidak menyisakan lemak. Rambut pendeknya semakin tak terawat seperti saat ia masih sehat.

Hera sudah sering sekali memohon pada Bima untuk menikah lagi agar kebutuhannya terpenuhi.

Tapi, seperti biasa, Bima akan menolak saran Hera.

"Tapi--"

"Mas, aku mohon untuk sekali ini dengarkan aku. Ini bukan hanya tentang kamu dan anak-anak saja. Tapi, juga seluruh keluarga kita," sela Hera. "Aku mau kamu melanjutkan keturunan kamu, Mas. Sedangkan aku sudah tidak bisa mengabulkanmya lagi." Hera menatap Bima sedih.

Bima menatap istrinya tajam. Meski sudah mendapat izin bukan berarti ia langsung menyetujuinya. Bima tidak ingin menyakiti Hera.

"Aku tidak akan--"

"Aku tahu kamu pria setia, Mas. Aku juga tahu kamu tidak ingin menyakiti aku." Tangan kurus Hera menarik tangan suaminya dan menggenggamnya erat. "Aku juga pasti akan merasa cemburu dan sakit hati kalau melihat kamu dan istri barumu. Aku tidak mengingkari soal itu." Hera tersenyum seraya menghela napas. Sementara air matanya terus mengalir dan membasahi tangan yang terkait tersebut.

"Tapi, aku akan terus merasa tertekan jika memikirkan keadaanmu setiap hari seperti apa. Aku mohon mas mengerti dengan keinginanku." Di tatapnya lekat mata sang suami yang juga membalas tatapannya. "Cari istri yang kamu inginkan. Tapi, aku minta satu hal sama mas," ujar Hera pada Bima.

"Hera, kamu tahu 'kan kalau aku tidak--"

"Jangan lupakan aku dan anak-anakmu kalau sudah punya istri baru. Tetap rawat mereka seperti sebelum kamu punya istri kedua."

Bima tertegun dengan tekad bulat Hera yang terus meminta untuknya menikah lagi dan mencari istri kedua. Bima bingung apa yang akan ia putuskan. Pikirannya terus mendiktorin agar ia tidak mengkhianati pernikahan mereka.

Bima menghela napas berat seraya menatap istrinya yang terus berusaha agar mengikuti sarannya.

"Aku akan mencari wanita yang bisa menjadi istri keduaku," tandas Bima tegas.

Hera tersenyum lebar menatap haru suaminya yang menuruti keinginannya. Meski ada rasa sakit yang pelan-pelan menyusup ke dalam relung hatinya, namun Hera tetap berusaha untuk kuat demi suami dan juga ketiga putranya.

Bab terkait

  • Bukan Istri Kedua   Bab 3

    Nia membuka kelopak matanya ketika mendengar suara berisik dari para anak tetangganya yang berteriak di depan rumah atau sekitar rumahnya. Gadis itu menguap lebar dan menatap sekeliling kamar yang ia tahu ini adalah kamarnya sendiri. Nia menarik jam weker yang berada di atas nakas dan melihat sudah pukul sembilan pagi. Samar-samar Nia ingat jika ada seorang pria yang mengantarnya pulang entah dengan cara apa pria itu bisa tahu alamat rumahnya, Nia tidak tahu. Nia mengerut keningnya karena melupakan wajah pria yang mengantarnya pulang. Matanya memindai tubuhnya sendiri dan menghela napas lega karena ia masih berpakaian utuh. Nia turun dari tempat tidur tak sengaja matanya menatap dinding kamar yang penuh dengan foto Ramon dan dirinya. Ada juga beberapa fotonya dan juga Sarah. Nia mendengkus sambil menunjuk foto-foto tersebut dengan jari tengahnya. "Awas kalian berdua tunggu pembalasan dariku," gumamnya sebelum memutuskan unjuk masuk ke dalam kamar mandi. Dua jam kemudian. Nia b

    Terakhir Diperbarui : 2023-12-26
  • Bukan Istri Kedua   Bab 4

    Nia menatap ketiga pria di hadapannya dengan tatapan melas berharap pria-pria dengan wajah sangar tersebut untuk luluh pada wajah melasnya."Enggak ada tunda menunda lagi, Mbak Nia. Jatuh tempo sudah lewat tiga hari yang lalu dan kami minta mbak Nia buat melunasi cicilan bulan ini, hari ini juga," ujar seorang pria menatap Nia tegas."Yah, bagaimana ini? Aku enggak punya uang bulan ini. Aku hanya punya uang lima juta. Aku bayar seperempatnya dulu, ya?" pinta Nia menatap melas ketiga anak buah rentenir tersebut. "Enggak bisa, Mbak Nia. Cicilannya dua puluh juta. Kalau mbak Nia kasih hanya lima juta, itu enggak akan cukup," tolak pria itu tegas. Nia menggigit bibirnya menatap para pria itu cemas. Pasalnya ia tidak memiliki uang lagi. Mau mengambil uang di toko emasnya? Huh, lebih baik ia di pukul dari pada harus mengambil modal untuk tokonya.Ini semua gara-gara Ramon! Gara-gara pria pengkhianat itu ingin memasuki kantor dan menyogok Sarah agar menerima pria bodoh itu bekerja, ia har

    Terakhir Diperbarui : 2023-12-26
  • Bukan Istri Kedua   Bab 5

    Nia memarkirkan kendaraannya di parkiran mobil yang tersedia. Nia kemudian beralih menatap pemuda yang duduk di sampingnya. "Kamu mau ikut saya turun atau tunggu di mobil aja? Ah, apa kamu mau pulang aja?" tanya Nia pada sosok pemuda yang tidak banyak bicara sejak tadi. Pemuda itu menatap sekeliling dan menggeleng pelan. "Gue ikut lo aja, Tante. Pengap gue kalau nunggu lo di mobil." Pemuda itu berbicara dengan sangat tidak sopan menurut Nia. "Apalagi mobil lo enggak ada AC-nya. Ini apartemen tempat lo tinggal?" tanya pemuda itu pada Nia.Nia kesal mendengar nada bicara anak SMA yang tidak ada sopan santunnya. Kesal, Nia dengan gemas memcubit lengan pemuda itu seraya melotot."Sopan kamu bicara dengan yang lebih tua. Pakai 'Aku-kakak' bukan 'Lo-gue." "Ish, sakit, Tante. Oke-oke, gue maksudnya aku ngalah!" teriak pemuda itu ketika Nia semakin mengencangkan cubitannya. "Nah, gitu dong. Harus sopan sama yang lebih dewasa dari kamu," ucap Nia. Setelah itu ia keluar dari mobil diikuti o

    Terakhir Diperbarui : 2023-12-26
  • Bukan Istri Kedua   Bab 6

    Nia makan dengan lahap dan tidak memedulikan lagi keberadaan bocah bernama Arga itu. Nia bahkan sampai melupakan keberadaan anak itu. Pikirannya hanya fokus pada makanan di hadapannya. Rasa pedas membakar lidah membuat Nia harus menahannya dengan keringat bercucuran serta air kental yang mengalir keluar dari hidungnya. Beruntung penjual bakso dan mie ayam menyediakan tisu sehingga membuat Nia bisa bebas melap ingusnya. Ieuh! Arga, pemuda 16 tahun itu sampai berjengit jijik melihat cara makan Nia yang mirip setan jahat. "Ck, ck. Patah hati bisa buat orang stres ternyata. Heran gue. Kalau tahu sakitnya patah hati kenapa coba-coba buat jatuh cinta," ujar Arga, sambil menatap Nia prihatin. Sejak tadi wanita dewasa di hadapannya hanya fokus menyantap bakso saja tanpa memerhatikan sekeliling. Arga tidak mengerti dengan jalan pikiran manusia. Sudah tahu risiko jatuh cinta itu sakit kalau sedang patah hati, masih saja ada manusia yang tetap keukuh ingin tetap jatuh cinta. Katanya jatuh

    Terakhir Diperbarui : 2024-02-04
  • Bukan Istri Kedua   Bab 7

    Bima Sanjaya melangkah masuk ke dalam kamar Hera sambil membawa sarapan untuk wanita itu. Pria berusia 37 tahun itu menatap istrinya yang tengah duduk di tempat tidur dengan novel sebagai teman bacaannya. Pria itu berdeham guna menyadarkan Hera akan kehadirannya hingga perempuan dengan tubuh yang teramat kurus itu menoleh dan tersenyum padanya. "Selamat pagi, Mas. Maaf, aku terlalu asyik membaca buku," katanya tersenyum manis. "Tidak masalah." Bima meletakkan nampan berisi sarapan pagi di atas meja samping tempat tidur sang istri. "Sarapan untukmu," katanya datar. Melihat makanan yang di buat khusus untuknya membuat Hera tersenyum."Mas, bagaimana dengan keinginanku? Bisa kamu menurutinya?" Bima menghela napas berat karena lagi dan lagi Hera membahas hal yang sama dengannya. Hal yang sulit untuk ia lakukan. "Kamu tahu aku tidak akan bisa melakukan itu, Hera," gumam Bima menatap tajam istrinya. "Mas." Hera memasang ekspersi melas yang membuat dirinya tampak semakin tidak be

    Terakhir Diperbarui : 2024-02-04
  • Bukan Istri Kedua   Bab 8

    Keputusan yang di ambil Bima untuk menikahi seorang perempuan tidak terlalu di kenal akhirnya di ambil. Meskipun ia harus meminta anak buahnya untuk mencari detail tentang kehidupan perempuan yang ia incar. Di sinilah akhirnya Bima berada. Duduk dengan tenang di dalam ruang kerjanya. Matanya menatap lekat wajah perempuan yang saat ini tengah menampilkan ekspresi shock. Bagaimana tidak shock jika di lamar oleh laki-laki yang bahkan belum terlalu di kenal. "Jadi, bagaimana?" tanya Bima ulang. Bima berharap perempuan satu ini akan menganggukkan kepalanya. Namun, yang ia dapatkan justru gelengan tegas dari perempuan ini. "Jadi, kamu menolak?" Bima tersenyum miring seraya bangkit dari duduknya. Bima berjalan pelan mengitari mejanya dan berdiri di depannya. Bokong seksi Bima bersandar pada ujung meja dengan mata menatap tajam Nia yang terlihat pucat. "Maaf, Pak, dua orang menikah di dasari oleh cinta atau perjodohan yang di lakukan kedua pihak keluarga." Nia menjeda kalimatnya sebent

    Terakhir Diperbarui : 2024-02-04
  • Bukan Istri Kedua   Bab 1

    PART 1 Arrania atau kerap disapa sebagai Nia menghela napas untuk yang kesekian kalinya kala sambungan teleponnya tidak diangkat sama sekali oleh kekasihnya, Ramon. Sudah hampir tiga bulan belakangan ini Ramon jarang berkomunikasi dengannya. Padahal sebelumnya Ramon jarang atau tidak pernah mengabaikan dirinya seperti ini. Mereka menjalin hubungan sudah lebih dari tujuh tahun dan Ramon berjanji akan menikahinya ketika Ramon sukses. . Awalnya Nia tidak ingin curiga terhadap kekasih yang sudah lama ia pacari ini, namun belakangan ini ia merasakan perasaan tak nyaman yang menghantui dirinya. Nia bangkit berdiri dengan wajah dingin seperti biasa. perempuan dewasa itu belum mencapai pintu terkejut ketika tubuhnya ditabrak oleh remaja yang mengenakan seragam SMA di depannya. "Bisa jalan hati-hati biar enggak nabrak orang sembarangan?" ketus Nia."Sorry deh, Tan, gue enggak sengaja." Remaja lelaki itu mengibas tangannya dengan ekspresi santai seolah ia tidak merasa bersalah."Santai b

    Terakhir Diperbarui : 2023-12-26

Bab terbaru

  • Bukan Istri Kedua   Bab 8

    Keputusan yang di ambil Bima untuk menikahi seorang perempuan tidak terlalu di kenal akhirnya di ambil. Meskipun ia harus meminta anak buahnya untuk mencari detail tentang kehidupan perempuan yang ia incar. Di sinilah akhirnya Bima berada. Duduk dengan tenang di dalam ruang kerjanya. Matanya menatap lekat wajah perempuan yang saat ini tengah menampilkan ekspresi shock. Bagaimana tidak shock jika di lamar oleh laki-laki yang bahkan belum terlalu di kenal. "Jadi, bagaimana?" tanya Bima ulang. Bima berharap perempuan satu ini akan menganggukkan kepalanya. Namun, yang ia dapatkan justru gelengan tegas dari perempuan ini. "Jadi, kamu menolak?" Bima tersenyum miring seraya bangkit dari duduknya. Bima berjalan pelan mengitari mejanya dan berdiri di depannya. Bokong seksi Bima bersandar pada ujung meja dengan mata menatap tajam Nia yang terlihat pucat. "Maaf, Pak, dua orang menikah di dasari oleh cinta atau perjodohan yang di lakukan kedua pihak keluarga." Nia menjeda kalimatnya sebent

  • Bukan Istri Kedua   Bab 7

    Bima Sanjaya melangkah masuk ke dalam kamar Hera sambil membawa sarapan untuk wanita itu. Pria berusia 37 tahun itu menatap istrinya yang tengah duduk di tempat tidur dengan novel sebagai teman bacaannya. Pria itu berdeham guna menyadarkan Hera akan kehadirannya hingga perempuan dengan tubuh yang teramat kurus itu menoleh dan tersenyum padanya. "Selamat pagi, Mas. Maaf, aku terlalu asyik membaca buku," katanya tersenyum manis. "Tidak masalah." Bima meletakkan nampan berisi sarapan pagi di atas meja samping tempat tidur sang istri. "Sarapan untukmu," katanya datar. Melihat makanan yang di buat khusus untuknya membuat Hera tersenyum."Mas, bagaimana dengan keinginanku? Bisa kamu menurutinya?" Bima menghela napas berat karena lagi dan lagi Hera membahas hal yang sama dengannya. Hal yang sulit untuk ia lakukan. "Kamu tahu aku tidak akan bisa melakukan itu, Hera," gumam Bima menatap tajam istrinya. "Mas." Hera memasang ekspersi melas yang membuat dirinya tampak semakin tidak be

  • Bukan Istri Kedua   Bab 6

    Nia makan dengan lahap dan tidak memedulikan lagi keberadaan bocah bernama Arga itu. Nia bahkan sampai melupakan keberadaan anak itu. Pikirannya hanya fokus pada makanan di hadapannya. Rasa pedas membakar lidah membuat Nia harus menahannya dengan keringat bercucuran serta air kental yang mengalir keluar dari hidungnya. Beruntung penjual bakso dan mie ayam menyediakan tisu sehingga membuat Nia bisa bebas melap ingusnya. Ieuh! Arga, pemuda 16 tahun itu sampai berjengit jijik melihat cara makan Nia yang mirip setan jahat. "Ck, ck. Patah hati bisa buat orang stres ternyata. Heran gue. Kalau tahu sakitnya patah hati kenapa coba-coba buat jatuh cinta," ujar Arga, sambil menatap Nia prihatin. Sejak tadi wanita dewasa di hadapannya hanya fokus menyantap bakso saja tanpa memerhatikan sekeliling. Arga tidak mengerti dengan jalan pikiran manusia. Sudah tahu risiko jatuh cinta itu sakit kalau sedang patah hati, masih saja ada manusia yang tetap keukuh ingin tetap jatuh cinta. Katanya jatuh

  • Bukan Istri Kedua   Bab 5

    Nia memarkirkan kendaraannya di parkiran mobil yang tersedia. Nia kemudian beralih menatap pemuda yang duduk di sampingnya. "Kamu mau ikut saya turun atau tunggu di mobil aja? Ah, apa kamu mau pulang aja?" tanya Nia pada sosok pemuda yang tidak banyak bicara sejak tadi. Pemuda itu menatap sekeliling dan menggeleng pelan. "Gue ikut lo aja, Tante. Pengap gue kalau nunggu lo di mobil." Pemuda itu berbicara dengan sangat tidak sopan menurut Nia. "Apalagi mobil lo enggak ada AC-nya. Ini apartemen tempat lo tinggal?" tanya pemuda itu pada Nia.Nia kesal mendengar nada bicara anak SMA yang tidak ada sopan santunnya. Kesal, Nia dengan gemas memcubit lengan pemuda itu seraya melotot."Sopan kamu bicara dengan yang lebih tua. Pakai 'Aku-kakak' bukan 'Lo-gue." "Ish, sakit, Tante. Oke-oke, gue maksudnya aku ngalah!" teriak pemuda itu ketika Nia semakin mengencangkan cubitannya. "Nah, gitu dong. Harus sopan sama yang lebih dewasa dari kamu," ucap Nia. Setelah itu ia keluar dari mobil diikuti o

  • Bukan Istri Kedua   Bab 4

    Nia menatap ketiga pria di hadapannya dengan tatapan melas berharap pria-pria dengan wajah sangar tersebut untuk luluh pada wajah melasnya."Enggak ada tunda menunda lagi, Mbak Nia. Jatuh tempo sudah lewat tiga hari yang lalu dan kami minta mbak Nia buat melunasi cicilan bulan ini, hari ini juga," ujar seorang pria menatap Nia tegas."Yah, bagaimana ini? Aku enggak punya uang bulan ini. Aku hanya punya uang lima juta. Aku bayar seperempatnya dulu, ya?" pinta Nia menatap melas ketiga anak buah rentenir tersebut. "Enggak bisa, Mbak Nia. Cicilannya dua puluh juta. Kalau mbak Nia kasih hanya lima juta, itu enggak akan cukup," tolak pria itu tegas. Nia menggigit bibirnya menatap para pria itu cemas. Pasalnya ia tidak memiliki uang lagi. Mau mengambil uang di toko emasnya? Huh, lebih baik ia di pukul dari pada harus mengambil modal untuk tokonya.Ini semua gara-gara Ramon! Gara-gara pria pengkhianat itu ingin memasuki kantor dan menyogok Sarah agar menerima pria bodoh itu bekerja, ia har

  • Bukan Istri Kedua   Bab 3

    Nia membuka kelopak matanya ketika mendengar suara berisik dari para anak tetangganya yang berteriak di depan rumah atau sekitar rumahnya. Gadis itu menguap lebar dan menatap sekeliling kamar yang ia tahu ini adalah kamarnya sendiri. Nia menarik jam weker yang berada di atas nakas dan melihat sudah pukul sembilan pagi. Samar-samar Nia ingat jika ada seorang pria yang mengantarnya pulang entah dengan cara apa pria itu bisa tahu alamat rumahnya, Nia tidak tahu. Nia mengerut keningnya karena melupakan wajah pria yang mengantarnya pulang. Matanya memindai tubuhnya sendiri dan menghela napas lega karena ia masih berpakaian utuh. Nia turun dari tempat tidur tak sengaja matanya menatap dinding kamar yang penuh dengan foto Ramon dan dirinya. Ada juga beberapa fotonya dan juga Sarah. Nia mendengkus sambil menunjuk foto-foto tersebut dengan jari tengahnya. "Awas kalian berdua tunggu pembalasan dariku," gumamnya sebelum memutuskan unjuk masuk ke dalam kamar mandi. Dua jam kemudian. Nia b

  • Bukan Istri Kedua   Bab 2

    Nia terkikik sendirian sambil mengingat bagaimana ekspresi kedua pasang selingkuhan itu ia permalukan dan bagaimana ekspresi kedua orang itu ketika ia memilih membuka aib mereka di depan orang banyak. Sekali lagi Nia terbahak-bahak ketika membayangkan kedua orang itu pasti mendapatkan masalah setelah ia membongkar keburukan mereka.Setidaknya Nia berpikir jika ia tidak akan hancur sendirian. Ada dua orang lain juga yang akan ikut hancur bersamanya. "Itu akibatnya karena sudah mengkhianati aku. Ha-ha!" Sekali lagi Nia meneguk vodka langsung dari botolnya, sementara sloky yang ada di depannya ia abaikan begitu saja.Suara hentakan yang dimainkan seorang DJ terkenal membuat Nia larut dalam kebahagiaan dan juga kesedihan. Di tempat ini ia melampiaskan kekesalan, kekecewaan, dan juga rasa gundah atas pengkhianatan yang dilakukan oleh dua orang terdekatnya. Nia bangkit dari duduknya, berjalan menuju lantai dansa dan bergabung dengan orang-orang yang meliukkan tubuh mereka dengan bahagia.

  • Bukan Istri Kedua   Bab 1

    PART 1 Arrania atau kerap disapa sebagai Nia menghela napas untuk yang kesekian kalinya kala sambungan teleponnya tidak diangkat sama sekali oleh kekasihnya, Ramon. Sudah hampir tiga bulan belakangan ini Ramon jarang berkomunikasi dengannya. Padahal sebelumnya Ramon jarang atau tidak pernah mengabaikan dirinya seperti ini. Mereka menjalin hubungan sudah lebih dari tujuh tahun dan Ramon berjanji akan menikahinya ketika Ramon sukses. . Awalnya Nia tidak ingin curiga terhadap kekasih yang sudah lama ia pacari ini, namun belakangan ini ia merasakan perasaan tak nyaman yang menghantui dirinya. Nia bangkit berdiri dengan wajah dingin seperti biasa. perempuan dewasa itu belum mencapai pintu terkejut ketika tubuhnya ditabrak oleh remaja yang mengenakan seragam SMA di depannya. "Bisa jalan hati-hati biar enggak nabrak orang sembarangan?" ketus Nia."Sorry deh, Tan, gue enggak sengaja." Remaja lelaki itu mengibas tangannya dengan ekspresi santai seolah ia tidak merasa bersalah."Santai b

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status