Share

77. Makan Malam(3)

Author: Kafkaika
last update Huling Na-update: 2025-03-07 17:14:39
“Ma?” Devran menyahut seolah meminta mamanya itu tidak perlu lagi banyak bicara.

“Kapan kita makannya?” tanya Devran lagi membuka piring. Daripada nanti malah runyam, lebih baik cepat makan malam lalu dia bisa membawa pulang Nayra.

Ini semua gara-gara gadis bodoh itu. Sudah tahu seperti apa mamanya masih juga mendesak makan malam ke butik mamanya.

Nayra tidak mau disangka menantu yang hanya bisa membuat jarak antara mertua dan suaminya itu. Tapi kali ini jadinya dia harus menelan pil pahit karena sekali lagi harus merasa disudutkan oleh sang mama mertua.

Sungguh hatinya pedih. Wanita itu selalu memperlakukan dirinya yang merupakan istri putranya dengan seenak hatinya, sebaliknya malah menyayangi sepenuh hati mantan kekasih anaknya itu. Bahkan dia sangat mencemaskannya.

“Damayanti ini sangat berjasa di karir mama. Tanpa dia butik dan rancangan baju mama tidak dikenal banyak orang. Jadi, kalau mama memintanya tinggal di butik itu juga karena rasa terima kasih mama.” Tamara tak behen
Kafkaika

Selamat membaca... 💕💕💕

| 7
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (3)
goodnovel comment avatar
sarita99
Mak Lampir emang Tamara ini
goodnovel comment avatar
anggrek
ihhh, gemes sm nayra, udh g usah ketemu lg sm tamaraaa
goodnovel comment avatar
vpi
Ternyata devran lebih perhatian sma nayra dripada damay bagus…jgn terprovokasi sma ocehan mamamu devran kamu kan yg lebih tau gimna nayra selama ini,selain sifat polosnya
Tignan lahat ng Komento

Kaugnay na kabanata

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   78. Merana

    Devran hanya diam sepanjang jalan setelah memutuskan untuk undur diri dari makan malam yang sungguh tak nyaman lagi itu.Apalagi dia mendengar Nayra menemui Ananda.Kesal karena gadis itu tadi mengaku menemui sahabatnya dan tidak mengatakan kalau sudah menemui Ananda.Padahal Devran sudah sangat jelas mengancamnya kemarin. Masih bisa juga dia membohonginya?Sejak kapan dia pandai berbohong?Ada apa dia dengan Ananda?Benar-benar minta dihukum!“Mas?” panggil Nayra yang serba salah. Antara takut, cemas dan tidak ingin Devran salah paham.Melihat Devran bergeming, Nayra tidak menganggunya dulu. Dia masih menyetir. Dia akan menunggu mereka sampai di apartemen dulu baru nanti mereka akan bicara.Nayra akan menjelaskan tentang pertemuannya dengan Ananda dan mengapa dia tidak memberitahukan

    Huling Na-update : 2025-03-08
  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   79. Merana(2)

    “Oh, apa?”Nayra lagi-lagi terkejut Aulia membahas hal itu. Temannya ini memang sangat jeli sekali pada sebuah permasalahan. Padahal dia belum juga menceritakannya.Aulia pasti menebaknya karena kemarin Nayra menyampaikan Devran sama sekali tidak menceritakan tentang Dokter Ananda adalah sepupunya. Bisa saja dia menganggap Devran tidak suka dia lebih dekat dengan Ananda.“Masa hanya karena hal itu dia marah, Nay? Aku jadi heran deh, suamimu itu anak kecil atau gimana?”Aulia sama sekali belum bertemu dengan Devran. Dia hanya menyimpulkan bagaimana Devran dari sedikit hal yang dia ketahui.“B-bukan, Ul. Aku hanya tidak enak saja tidak memberitahunya kalau kami bertemu di sebuah kafe.” Nayra akhirnya mencuplik sedikit tentang masalahnya.“Ya sudah. Kalau dia tidak bertanya atau mengusiknya, jangan dipermasalahkan. Santa

    Huling Na-update : 2025-03-08
  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   80. Menjenguk

    “Nay, kau dari mana saja?” Aulia terburu menghampir Nayra yang masih menggandeng keponakannya.“Ini Delia minta pipis. Dia nyari kamu tadi tapi kamunya masih asyik pilih-pilih baju. Jadi aku anterin saja,” tukas Nayra melihat temannya itu.Heran, hal apa yang membuatnya seolah ada yang hendak di sampaikannya?“Ada ap, Ul?”“Kamu tidak lihat di GC kelas kita, ada kabar Dokter Ananda digebukin orang. Sekarang katanya di rawat di Rumah Sakit!”“Oh, apa?”Nayra sampai menutup mulutnya. Sedih saja kalau Ananda yang baik padanya kini terkena musibah.Nayra dengan tergesa mengambil ponselnya. Hendak menghubungi Ananda. Tapi dia juga penasaran berita yang di share di grup chat kelas mereka. Jadinya jemarinya mengusap grup chat kelasnya dan mendapati beberapa video rek

    Huling Na-update : 2025-03-09
  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   81. Hanya Pelayan

    “Kami tidak seperti itu, Tante! Saya bertemu Dokter Devran juga sebagai sepupu!”“Cih! Sepupu katamu? Sepupu Ananda itu Devran bukan kamu. Siapa kamu sok jadi sepupu? Pernikahan siri juga!”Deg!Nayra tampak sekali tertampar dengan ucapan Rosa yang tak ada bedanya dengan Tamara. Mereka dengan kompak sekali menolak mengakui dirinya.“Tidak sudi ya keluarga kami menerima gadis hina tak jelas sepertimu. Keluar dan jangan muncul di hadapanku lagi!” Rosa dengan marah mengusir Nayra.Nayra yang terhina itu hanya menganguk dan berbalik badan untuk pergi dari hadapan Rosa. Perasaannya begitu meradang diusir dan dimaki-maki seperti itu.Namun baru beberapa langkah, dia menabrak tubuh seorang pria.“Mas Devran?”Nayra mendongakan kepalanya dan mendapati Devran sudah berdiri di depannya.Pria itu menatap sang tante. Mendengar sendiri istrinya dimaki-maki dan sekarang melihatnya berkaca-kaca, Devran jadi kesal dan tidak terima.Kesal karena gadis ini tambeng sekali. Sudah tahu berkali-kali mendapa

    Huling Na-update : 2025-03-09
  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   82. Seperti Binatang Piaraan

    Meja makan sudah penuh makanan saat Nayra hendak memasak. Apa pria itu sudah memesan makanan?Masih punya pikiran juga Devran memesankan makanan setelah semalam sudah menghajarnya hingga begitu lelah.Pagi ini, tubuh Nayra masih lemas. Jadi merasa senang kalau Devran tak memintanya memasak.“Duduklah, aku sudah menyiapkan banyak makanan untukmu!” Devran menarikan kursi untuk Nayra.“Terima kasih, Mas!” ujar Nayra dan duduk di kursi itu.Sikapnya yang masih perhatian itu membuat Nayra frustasi. Terkadang dingin, terkadang perhatian, terkadang begini, terkadang begitu. ‘Aaah. Tidak tahulah!’ Nayra bermonolog dalam hatinya.“Tumben Mas pesan makanan?”“Aku tidak pesan!”“Siapa yang masak?” Nayra heran.“Memangnya kau lihat orang lain di rumah ini?” Devran protes Nayra sama sekali tidak menyangka kalau dirinyalah yang memasak semua makanan ini.“Oh. Mas Devran bisa masak?” Nayra terkejut dan baru tahu kalau sebenarnya pria ini bisa masak beberapa jenis masakan.“Jangan heran begitu, ha

    Huling Na-update : 2025-03-09
  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   83. Rio Dipecat

    “Di mana ini, Mas?”Nayra menoleh ke kanan dan ke kiri mencari tahu sebenarnya ini tempat apa?Mereka duduk di bantal kantong kacang di lantai, sembari melihat pemandangan kota Jakarta dari Jendela kaca besar di ruangan itu. Seorang pelayan datang menyuguhkan minuman dan camilan untuk mereka.“Mas tidak ke kantor, kah?” tanya Nayra sembari menyeruput minuman di gelas.Yang ditanya sibuk dengan ponselnya.Nayra mengerucutkan bibirnya.Kalau tidak niat mengajaknya keluar, tidak perlu juga melakukannya.Lihatlah, Devran tak lepas dari ponselnya. Itu ponsel baru lagi. Entah sudah ke berapa kali dia membanting ponselnya. Mentang-mentang bisa membeli lusinan ponsel setiap hari!“Ada apa?” Devran baru melirik Nayra yang cemberut itu.“Aku sejak tadi tanya, lho!”“Pertanyaanmu enggak penting juga, toh?”Nayra kembali sebal. Membiarkan pria itu masih memeriksa ponselnya.Entah apa saja yang dilakukan dengan ponselnya. Seberapa banyak pesan yang masuk dan butuh untuk dijawabnya.Jadi penasaran

    Huling Na-update : 2025-03-10
  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   84. Rio Dipecat(2)

    “Apa? Kau dipecat?!” Tamara sangat terkejut melihat Rio datang dan melapor atas pemecatan dirinya oleh Devran.“Benar Nyonya, Pak Devran sudah merekrut beberapa sekretaris barunya, juga asistennya. Jadi mulai hari ini saya dipecat!”“Devran keterlaluan! Apa-apa tanpa meminta pertimbanganku dulu,” tukas Tamara kesal.Apa tidak bisa putranya itu meminta pertimbangannya dulu mengingat yang memilih Rio adalah dirinya? Benar-benar anak itu!“Nyonya, saya menagih janji Nyonya. Semua ini karena saya menuruti perintah Nyonya.” Rio masih butuh pekerjaan, karenanya mengingatkan hal itu pada Tamara.“Tunggulah kabar dariku. Aku harus menemui anak bandel itu sekarang!” Tamara mengambil tasnya dan bergegas hendak ke kantor perusahaan.Damayanti yang sebenarnya ada di ruangan yang sama sejak Rio datang, ikut bangkit. “Ma, aku antar?”“Oh, ayo!” Tamara tak mau banyak berpikir. Inginnya cepat sampai kantor dan memarahi anaknya itu.“Coba telpon Devran dulu, Ma. Barangkali tidak sedang ada di kantor!”

    Huling Na-update : 2025-03-10
  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   85. Rio Dipecat(3)

    “Tarik kembali, Rio!” titah Tamara pada Devran. “Aku tidak akan mejilat ludahku sendiri. Lagi pula sudah ada penggantinya yang juga sudah bekerja per hari ini!” Devran secara tidak langsung menolaknya. “Aku melakukannya demi kebaikanmu, Devran!” Tamara meninggikan suaranya karena Devran tak mengindahkan perintahnya.“Bukan. Itu untuk kebaikan mama sendiri.” Masih dengan santai Devran menyahuti kemarahan sang mama.Tamara kesal dan frustasi. Lalu dia baru ingat sesuatu. Kemudian dia merogoh tasnya mengambil ponsel untuk menunjukan foto-foto yang diambil Rio saat Nayra bersama Ananda. Devran tidak suka penghianatan, jadi foto-foto itu pasti membuatnya berubah pikiran. “Lihat ini baik-baik, Dev! Ini salah satu alasan mengapa Rio aku minta mengawasi gerak-gerikmu dan Nayra. Gadis itu tidak bisa dipercaya!” Tamara mencoba membuka mata putranya itu agar bisa melihat bagaimana seorang Nayra di matanya. Devran mengernyitkan dahinya menatap foto itu. Mereka memang pernah menyinggung hal

    Huling Na-update : 2025-03-10

Pinakabagong kabanata

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   154. Pertemuan

    "Kita langsung ke rumah sakit saja, Ki. Tidak enak kalau tidak menengok neneknya Devran." "Baik, Bu. Pak Yas akan mengantar kita ke rumah sakit," ujar Kiki yang kemudian diangguki Yas yang menyupiri mereka. Seminggu ini sudah banyak merenung dan menyadari, bahwa apa yang terjadi di masa lalunya tidak seharusnya membuatnya menutup diri.Dia punya tanggung jawab sebagai orang tua Nayra. Menemui besannya di Jakarta dan menjelaskan sedikit miss komunikasi.Mungkin selama ini mereka sudah diberitahu bahwa orang tua Nayra sudah meninggal. Tapi Farah harus menyampaikan kebenarannya.Bagaimanapun Nayra sudah menjadi bagian dari keluarga orang lain, Farah juga ingin secara semestinya menitipkan sang putri agar bisa diterima dengan baik oleh keluarga Devran.Dengan begitu, Farah berharap keluarga Devran bisa memperlakukan Nayra dengan baik. Tak mau saja Farah mendengar putrinya disisihkan di keluarga orang kaya seperti Devran.“Di sini, Bu Farah,” ujar Kiki menunjukan pintu ruang rawat in

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   153. menyusul ke Jakarta(2)

    “Sialan pria itu? Mau apalagi masih menemui Nayra?” Devran menggerutu di sepanjang jalan.Setelah memastikan sudah tidak ada yang menghawatirkan pada kesehatan Renata, Devran pamit mau menjemput Nayra di bandara.Alana juga tidak keberatan apalagi Nayra datang bersama orangtuanya. Tidak enak saja pada besannya itu.Dengan cepat dia sampai di Bandara. Saat hendak keluar mobil, Devran menghela napas panjang menenangkan dirinya.Terkadang dia suka konyol kalau sudah cemburu.Jadi mending memikirkan apa yang akan dilakukannya untuk menyudahi kekurangajaran sepupunya itu yang masih juga berharap pada wanita yang sudah menjadi istrinya itu.“Nay, belum selesai urusannya?” Devran membuat dua orang yang masih mengobrol itu terkejut.Tadinya Devran ingin membiarkan mereka masih mengobrol, namun karena Ananda seolah mendesak dan masih ingin mempengaruhi Nayra, Devran tidak tahan.“Mas Devran?” Nayra bangkit dan menoleh ke arah di mana tadi Farah dan Kiki menunggunya namun sudah tak nampak la

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   152. Menyusul ke Jakarta

    “Emir, kenapa kau cepat sekali pergi. Lihatlah, keponakanmu itu kembali dan mengacaukan hidup putra dan cucumu!”Renata menangisi nasib keluarganya setelah mendengar kabar bahwa perusahaannya kembali diambil alih oleh keponakannya.Foto mendiang suaminya di elus-elusnya lalu dipeluknya sambil menangis.“Ma?” suara Alana membuat Renata teralihkan.“Tidak ada yang berubah kecuali sahamku yang berkurang dan kita juga tidak memerlukan banyak uang lagi. Alana akan ikut mama ke Edinburgh. Kita nikmati hari-hari di sana dengan tenang.”Mendengar hal itu Renata malah menampar pipi putranya itu.“Kau hanya memikirkan dirimu sendiri Alana! Kau tidak memikirkan nasib Devran. Dia juga punya hak untuk menikmati kejayaan perusahaan yang dibesarkan kakeknya,” ujarnya dengan kesal.Alana hanya menunduk dan tak berhak marah atas tamparan mamanya itu. Mungkin Renata kecewa dan tidak mau melihat usaha suaminya sia-sia.Sebenarnya Alana ingin menyampaikan pada Renata bahwa Devran tetaplah menjadi seora

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   151.

    “Tidak apa, Mas. Pulang kampung saja ke Diraja. Di sini banyak lowongan pekerjaan kok.” Nayra malah mencandai Devran. Sampai mau mencarikannya lowongan pekerjaan segala.“Lowongan apa?”Ternyata gadis ini lebih bersemangat mencarikan lowongan pekerjaan untuknya daripada bersedih mendengarnya kemungkinan tidak akan jadi presdir lagi.“Kayaknya Pak RW baru meninggal dunia. Jadi ada tuh lowongan jadi Pak RW.”“Hah?!”Bahkan mengatakan itu Nayra sama sekali tidak terkekeh atau terdengar bercanda.Serius dia ingin dirinya jadi PK RW?“Kok Pak RW? Jauh amat Nay. Dari Presdir perusahaan terbesar di negara ini, ke Pak RW?”Nayra terkekeh. Tadi dia baru membayangkan Devran menjadi Pak RW di lingkungannya.“Sialan kamu!” Devran menggerutu tapi tidak kesal. Malah ikutan terkekeh mendapat saran dari Nayra agar menjadi RW saja.Lumayanlah melepaskan ketegangan seharian ini.“Mas Devran kangen tidak sama aku?” Nayra kembali bertanya.“Kangenlah, Sayang!”“Kangen apanya?”“Masa harus didetailkan be

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   150. Kenyataan Masa Lalu(3)

    “Papa juga tidak akan mengambil apa yang bukan menjadi haknya. Jadi jaga bicara Anda pada papa saya!”Devran pasang badan ketika pria itu mencecar Alana lah yang menyerobot perusahaan yang seharusnya menjadi haknya, bukannya dia yang malah dikata menyerobot.Ada anak muda yang menatapnya dengan keberanian penuh, bukannya marah, Ludwig justru tersenyum. “Aku bangga dengan sikapmu ini, Nak. Kau memang pantas membela papamu itu. Tapi kau tidak tahu banyak hal yang terjadi di masa lampau. Jadi jangan hanya menilai dari satu sisi saja.”“Mari kita duduk dan selesaikan bersama dengan kepala dingin, Paman.” Suara Devran menurun mengajak Ludwig agar bisa membahas semuanya dengan baik.“Kenapa memanggilku paman?”Ludwig sedikit terkajut mendengar Devran memanggilnya paman.Sepertinya dia lupa kalau Devran adalah putra sepupunya. Tidak salah juga kan kalau dia memanggilnya paman?“Maaf, maksudku—Tuan Ludwig.” Devran mengoreksi panggilannya melihat reaksi tidak suka pria itu saat dia memanggiln

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   149. Kenyataan Masa Lalu(2)

    “Sekarang kau percaya padaku, kan? Kalau Tamara itu tidak pernah tulus pada keluarga kita. Apapun yang dilakukannya karena memang ada tujuan di sebalik itu semua.”Renata tampak murka mendengar bahwa perusahaan yang selama ini dipertahankan oleh suaminya, kini diperebutkan lagi oleh keponakannya itu.“Sudah, mama tidak usah ikut memikirkannya.” Alana mencoba menenangkan Renata.“Bagaimana aku tidak ikut memikirkan? Aku tahu bagaimana kondisi perusahaan itu saat Dekka meninggal. Banyak investor mulai menarik sahamnya, mosi tidak percaya di mana-mana terhadap perusahaan ini, Emeraldo yang mempertahankan dengan susah payah, merubah nama Dekka group menjadi Emeraldo, hingga kembali bangkit dan berjaya seperti sekarang, lalu enak saja dia bilang kita merebutnya?” “Papa benar, Nek. Biar kita yang mengurusnya. Nenek istirahat saja.” Devran yang baru datang ikut menenangkan sang nenek.“Tapi, Dev. Nenek kesal sekali pada mamamu itu. Dia malah membela mantan suaminya itu demi mendapatkan se

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   148. Kenyataan Masa Lalu

    “Dengar, Sayang. Sebenarnya perusahaan itu dulunya adalah perusahaan Tuan Dekka, ayah dari Ludwig. Dia saudara dari Tuan Emeraldo. Seharusnya setelah Tuan Dekka meninggal, perusahaan itu menjadi hak sepenuhnya Ludwig. Hanya saja Ludwig difitnah sudah membunuh Tuan Dekka, hingga dia dipenjara dan kehilangan hak warisnya. Otomatis perusahan itu diambil alih Tuan Emeraldo sebagai saudara laki-laki Tuan Dekka.”Devran mengernyitkan dahinya mendengar kata demi kata sang mama yang menjelaskan tentang siapa itu Ludwig.“Jadi, Ludwig itu sepupu papa?” Devran menyederhanakan informasi yang didengarnya.“Benar. Dia kembali untuk menuntut haknya.”Namun sejauh ini, Devran masih belum bisa menerima banyak hal. Mengapa justru sang mama lebih membela pria itu daripada papanya? “Oke, pria yang selama ini bersama mama itu adalah sepupu papa. Lantas, mengapa mama lebih membela pria itu?”Devra tadinya mau menambahi kenapa demi sepupu papanya itu mamanya sampai menikung semua aset yang ada di perusa

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   147. Masalah Perusahaan(2)

    “Ma, kenapa tidak ikut saja sih?” Nayra membujuk Farah .Nayra tahu sedikit hal bahwa sang mama masih belum mau pergi ke Jakarta. Dia punya kenangan yang menyedihkan di kota itu dan belum menyiapkan mentalnya untuk kembali ke kota itu. Farah baru merasa nyaman kembali ke Indonesia dengan tinggal di kota kelahirannya ini. jadi masih belum mau pergi-pergi dulu. “Nantilah mama akan datang ke Jakarta. Tapi tidak sekarang, Nay. Kau segera persiapkan diri untuk ikut suamimu ke Jakarta.”Farah tidak akan seterusnya menghindari kota itu. Tapi hanya perlu menyiapkan mentalnya saja. Bagaimanapun putrinya masih harus berkuliah dan juga menemani sang suami di Jakarta. Suatu saat dia pun harus datang mengunjungi mereka.Nayra menyiapkan barang-barang Devran karena harus segera ke Bandara, sedangkan sejak tadi Devran tak berhenti menghubungi banyak orang. Selesai menutup panggilan yang satu, balik menghubungi yang lain, bagitu berakhir disambung dapat panggilan lagi. Entah ada urusan segentin

  • Bukan Cinderella Dadakan Tuan Pewaris   146. Masalah Perusahaan

    “Ada apa, Ma?” Devran mengangkat panggilan dari Tamara dengan sedikit malas.Setelah beberapa hari ini Tamara tidak mengusiknya, tiba-tiba kali ini menghubunginya, Devran sepertinya harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan wanita ini kembali membuatnya harus bersabar.“Sedang apa kau di sana?” di kata pertama Tamara sudah terdengar kesal.“Aku bersama Nayra, Ma.” Devran jujur. Mamanya itu pasti sudah tahu. Ada pria yang akan selalu menuruti apapun keingintahuannya. “Cepat balik, perusahaan sedang membutuhkanmu.” Tamara mendesak.Baru beberapa hari yang lalu papanya mengatakan semua baik-baik saja. Lalu untuk apa mamanya malah mendesaknya balik ke Jakarta?Devran menghela napas lelah. Apa lagi yang diinginkan mamanya ini?“Aku masih ada urusan, Ma. ada proyek di Kota Diraja yang harus aku resmikan minggu depan. Aku akan datang setelah itu.”“Devran, aku bilang cepat balik dan jangan membantahku!” Tamara sampai meninggikan suaranya sebagai tanda bahwa ini sesuatu yang tak bisa di

Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status