"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Adi panik saat dokter yang memeriksa istrinya sudah keluar.
Dokter tersebut menghela napas dan menatap serius Adi. "Pak, istrinya sedang hamil muda. Jangan biarkan dia banyak pikiran dan kelelahan," jelas sang dokter. "Tapi, dia gak apa-apa 'kan sekarang, Dok?" "Iya, tiba-tiba banyak yang dia pikirkan dan membuat perutnya keram, terlebih dia belum makan siang." Adi sedikit menghela napas lega. Tadi, saat istrinya pingsan, ia langsung membawa istrinya ke rumah sakit tanpa memperdulikan istri barunya yang bertanya dan mau ikut dengannya. "Baik, Dok. Apa dia diperbolehkan pulang sekarang?" tanya Adi. Dokter tersebut mengangguk. "Tunggu sore ya, Pak, baru bisa pulang." "Baik, Dok. Terimakasih," Dokter mengangguk dan pamit pergi. Adi langsung memasuki ruangan untuk menemui istrinya itu. Terlihat Hafizah sedang melamun dan ia makin merasa bersalah. "De,," Adi memegang lengan istrinya dan duduk di kursi samping brankar. Hafizah yang tadinya melamun dengan cepat mengubah raut wajahnya seperti biasanya. Ia menoleh ke arah suaminya dan tersenyum manis. "Anak kita baikkan, Mas?" suara lembut Hafizah yang begitu sakit didengar. Padahal biasanya Adi menyukai suara lembut istrinya itu. Adi menggerakkan tangannya memegang perut rata Hafizah. "Anak kita baik, Sayang. Kamu jangan terlalu banyak pikiran, ya?" Hafizah tersenyum kecut mendengar perkataan suaminya. "Kamu sendiri yang membuatku banyak pikiran, Mas. Jangan lawak deh." Adi menunduk sedih. "Maafkan Mas, De. Entah kenapa bisa warga kampung berpikiran Mas apa-apain Lia. Padahal malam itu Mas cuma meluk, itu pun karena Mas liat dia sebagai kamu," jujurnya. Hafizah hanya bisa tersenyum getir. Suaminya itu mencintai dirinya, bahkan saat sakit saja suaminya itu melihat orang sebagai dirinya. Kalau seperti ini, siapa yang bisa disalahkan? "Gak apa-apa, Mas. Mungkin emang takdir Fizah di madu," Hafizah mencoba ikhlas walau sakit. "De," Adi menatap Hafizah lekat. Ia tahu kalau istrinya itu paling tidak suka diduakan apalagi sampai poligami. Hafizah menatap sayu Adi dan ia memaksakan senyum manisnya. "Fizah wanita seterong, Mas." candanya. "Strong, De," Hafizah terkekeh. "Iya, itu maksud Fizah." Hati Adi selalu menghangat kalau sudah melihat tawa dari istri tercintanya itu. Ia membelai lembut pipi sang istri. "Jangan, Mas." Hafizah menepis lembut tangan Adi yang sedang membelai pipinya itu. Adu terkejut karena baru pertama kali ini sang istri melarangnya untuk menyentuh wanita itu. "Kenapa, De? Mas cuma pegang." Hafizah mendengus kesal. "Kamu ini, Mas. Biasanya kalau udah pegang gitu pasti mau lebih. Ini di rumah sakit lho...." sewot nya. Adi terkekeh. Benar, ia kalau sudah pegang kulit istrinya dengan lembut, maka ia akan meminta lebih pada istrinya itu. Pakaian istrinya memang tertutup, tapi ia tetap tergoda. "Apa salahnya bermain di sini? Apa aku perlu memindahkanmu ke ruang VVIP agar kita bebas ngapain aja dan ranjangnya lebih besar," celetuk Adi menggoda. "Ishh... Jangan lebay deh!" tegur Hafizah kesal. "Haha, bercanda, Sayang. Bagaimana aku memintanya di rumah saja?" Hafizah menatap lekat suaminya. "Bukankah pengantin baru tidak boleh dipisah dulu? Malam ini dan beberapa hari ke depan, kamu tidur bersama istri muda mu, Mas." Adi menggeleng. "Dia istri muda namun tidak muda," pungkasnya yang membuat Hafizah bingung. "Ha? Gimana maksudnya?" "Umurnya lebih tua darimu," Hafizah yang mendengar itu terdiam dan detik berikutnya ia tertawa lepas. "Mas? Ternyata benar kaya orang, haha..." tawanya. "Apa?" heran Adi yang melihat istrinya tertawa. "Kata orang, kalau laki-laki selingkuh atau poligami istrinya, pasti nyari yang lebih bawah standarnya di banding istri pertamanya, haha." tawa yang seperti tidak ada beban, namun Adi tahu kalau istrinya tengah berdamai dengan keadaan dan menerima semuanya dengan ikhlas. "Jadi, Fizah harus manggil dia apa? Mbak? Kan dia lebih tua dari Fizah. Atau nama saja? Nanti Fizah dibilang gak sopan sama yang lebih tua," lanjut Hafizah berceloteh riang. "Suka-suka kamu aja, De. Bahkan kalau kamu mau Mas ceraikan dia, Mas lakuin sekarang." Hafizah berhenti tertawa dan menggeleng. "Jangan, Mas. Dia tidak memiliki siapa-siapa 'kan di kota?" Adi mengangkat bahunya acuh. "Mas tidak tau dan tidak mau tau. Mas hanya ingin kenyamanan kamu dan calon anak kita. Untuk itu, Mas harus menceraikannya, bukan?" Hafizah tersenyum hangat. Ia memegang tangan suaminya dengan sayang. "Sebenarnya sakit. Tapi, aku juga kasihan dengannya karena pasti ini pertama kalinya dia ke kota, 'kan?" "Mas mana tau. Dia itu wanita licik, De. Jangan kasihan." peringat Adi, berpirasat yang tidak-tidak tentang Lia. "Dia tidak licik. Tapi, dia melakukan itu karena menyukaimu, Mas." menjadi guru, membuat Hafizah sedikit bisa menilai karakter seseorang. Karena sejatinya, murid akan merasa nyaman jika gurunya asik dan bisa menilai keadaan. Untuk itu, sangat penting seorang guru belajar psikologi untuk bisa memahami setiap karakter murid. Model pembelajaran seperti apa yang membuat murid tertarik dan tidak mudah bosen. Pasalnya, setiap orang beda-beda cara menangkap pelajaran. Ada yang sambil bermain, ada yang perlu melakukan hal kecil sambil belajar, misalnya seperti coret-coret kertas namun murid tetap memperhatikan pelajaran. "Mas tidak menyukainya," ujar Adi. Hafizah menghela napas panjang. "Terus gimana dong? Kita apain istri keduamu itu?" "Bagaimana kalau kita jual dan kita mendapat uang yang banyak?" usul Adi absurd. "Terus uangnya kita belikan mainan banyak-banyak buat calon anak kita?" timpal Hafizah ikut-ikutan. Adi mengangguk semangat dan mereka berdua sama-sama tertawa. Mereka memang sering bercanda seperti ini. Untuk itu, Hafizah yang seorang humoris begitu serasi dengan Adi yang bisa menyeimbangi dirinya. "Ada-ada saja kamu, De." Adi geleng-geleng kepala sambil terus tertawa. Hafizah terkekeh, kalau sudah bercanda dengan suaminya. Jiwa julid nya kadang keluar dan melupakan kalau ia wanita wanita muslimah. Banyak yang berhijab dan taat, tapi untuk urusan gibah dan julid, masih terdepan. Hafizah tidak munafik, ia juga seperti itu, walaupun ia tau bahwa gubah itu dosa, tapi baginya mengasikkan, mau bagaimana lagi? Hehe. *** Sore harinya, Hafizah dan Adi sudah pulang dari rumah sakit dan mereka langsung disambut oleh Bini dan Lia. "Bagaimana keadaan istri pertama mu, Mas?" tanya Lia tampak khawatir. "Salam dulu, elah..." sindir Hafizah. "Assalamu'alaikum," Adi mengucapkan salam. "Walaikumsalam." sahut mereka. "Gini 'kan enak. Udah ah, Bi, bantu Fizah ke kamar." pinta Hafizah pada pembantunya. "Sama Mas aja," ujar Adi yang masih setia menggandeng tangan Hafizah. Hafizah menggeleng. "Jangan ah, nanti kamu terkam aku lagi, rawwrrrr." ia terkikik. "Apa salahnya?" tanya Adi. "Gak boleh gitu, Mas. Ini jatah Lia, bukan? Kamu harus adil sebagai seorang suami," kata Hafizah bijak, walau sesak. Siapa yang rela suaminya tidur dengan wanita lain? Tidak ada. Lia menunduk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, ia juga kesal dengan Hafizah karena begitu dicintai oleh Adi. "Mas tidak menginginkan pernikahan ini. Jadi, kalau tidak adil ya wajar," tukas Adi yang membuat hati Lia sesak. "Ish! Jaga bicara mu, Mas. Kalau tidak bisa adil, untuk apa setuju menikahinya?" tanya Hafizah sambil melirik Lia yang hanya menunduk dari tadi. "Dipaksa." sahut Adi ketus. "Kamu mau Mas menceraikannya?" tawarnya pada sang istri tercinta. Lia lantas mengangkat kepalanya dan menggeleng kuat. "Aku tidak mau, Mas!" sentaknya. Lalu, ia beralih menatap kesal ke arah Hafizah. "Eh, kamu harus berbagi suami dong. Aku ikhlas jadi istri kedua, dan kamu sebagai istri pertama harus ikhlas juga dong di poligami!" lanjutnya memarahi Hafizah. Hafizah yang mendengar perkataan madunya itu tercengang. "Heh, lawak! Istri yang ikhlas itu istri penyabar. Sedangkan aku? Ya, sedikit sabar dan banyak tidak sabar..." celotehnya yang membuat Adi terkekeh. Hafizah dan Lia saling menatap sinis satu sama lain. Mereka terlihat seperti hendak berkelahi namun tidak menyerang karena mental masih bayi. "Sabar aja udah, Mbak..." celetuk Lia enteng. "Eh, jaga mulutmu. Apaan Mbak? Tuaan kamu dibanding aku, ya?!" protes Hafizah tak terima dipanggil 'Mbak' oleh madunya. "Ah sudahlah, anakku tidak ingin Bunda nya berdebat dengan mamak tirinya," Hafizah melirik sinis Lia dan berlalu begitu saja. "De..." "Jangan susul Fizah. Anaknya ngambek sama kamu!" teriak Hafizah saat suaminya itu hendak menyusul. Adi terdiam. Lia yang melihat itu lantas mengusap lengan kekar suaminya. "Udah, Mas. Istri pertama merajuk, masih ada istri kedua yang siap menerima mu," Adi menatap tajam Lia dan menghempaskan tangan Lia dari lengannya. "Apaan sih? Jangan pernah menyentuhku!" setelah mengatakan itu, Adi pergi dari hadapan Lia. "Gini amat nasib istri kedua yang dipaksakan pula," gumam Lia."Mas, ayo tidur." ajak Lia pada suaminya.Adi yang baru saja menyelesaikan sholat isya nya, menatap ke arah pintu yang di mana Lia tengah menunggunya. Mereka tidak sholat berjamaah karena Lia sedang halangan, hanya alasan. Dan Hafizah tidak ingin tidur bersama suaminya untuk sementara."Tidur sendiri-sendiri saja," jawab Adi."Kenapa? Ini malam pengantin kita, Mas."Adi menatap sinis Lia. "Pernikahan yang diinginkan? Tidak bukan? Lagian, halangan, 'kan?" ketusnya.Lia terdiam, sebenarnya sakit karena tidak dianggap oleh suami sendiri. Tapi, ia harus menerima perlakuan Adi, bukan? Pasalnya, ia yang menginginkan pernikahan itu walaupun ia bisa menolak. Namun jujur, ia jatuh cinta pada pandangan pertama saat melihat Adi. Dan untuk haid, itu hanya alasan semata agar pria itu tidak memandangnya terlalu buruk. "Setidaknya, kamu tidur denganku sebagai bentuk tanggungjawab suami pada istrinya," pungkas Lia.Mendengar perkataan Lia, Adi tertawa sinis. "Tanggungjawab apa? Tanggungjawab sebagai
"Biar aku bantu, Mas." Lia mendekati Adi yang tengah sibuk memasang dasi itu."Tidak perlu." tolak Adi ketus.Sebenarnya ia malas bersiap di kamar Lia. Tapi, ia terpaksa kesana karena istri pertamanya itu sedang tidak ingin melihat wajahnya dan tidak ingin dekat-dekat dengannya."Kamu kenapa sih? Aku hanya ingin berbakti pada suami. Apa itu salah?" tanya Lia menatap lekat Adi.Adi diam dan ikut menatap Lia. Lia memberikan senyum manisnya dan ia mengambil kesempatan itu untuk meraih dasi yang ada digenggaman suaminya."Aku ganti, ya?" tawarnya lembut.Adi masih diam. Ia tidak bersuara bahkan menggerakkan kepalanya menolak atau mengiyakan keinginan Lia.Lia tersenyum dan memasangkan dasi itu pada Adi dengan telaten. Adi melihat ke arah lain saat istri keduanya itu mulai memasangkan dasi. Andai itu Hafizah, ia pasti terus memandangi wajah Hafizah saat wanita itu memasangkannya dasi."Mas," Lia membuka suaranya, memanggil Adi."Hm?""Kenapa tadi malam kamu pindah?" tanya Lia, terdengar na
"Bu...""Bu..."Beberapa murid yang ada dikelas VIII itu memanggil Hafizah. Namun, Hafizah tidak menyahutnya dan tatapannya tampak kosong.Salah satu dari mereka berdiri dan menghampiri Hafizah yang duduk diam setelah memberikan tugas pada mereka."Ibu cantik?" tegur murid perempuan menyapa Hafizah."Eh?" kaget Hafizah karena tiba-tiba merasakan sentuhan ditangannya. Ia tersadar dari lamunannya dan menatap pada murid perempuan itu.Hafizah tersenyum ke arah muridnya. "Ada apa?" tanyanya."Bu, kami sudah selesai menjawab soal dan bell istirahat pun sudah berbunyi. Kenapa Ibu diam saja saat kami memanggilmu?" tanya muridnya itu.Hafizah nampak terkejut dan mengucapkan istighfar. "Astagfirullah, maafkan Ibu, Sayang. Sekarang kalian kumpulkan tugasnya dan beristirahatlah," titahnya, menatap seluruh muridnya.Semua murid kelas VIII itu pun berbondong-bondong membawa bukunya ke arah Hafizah dan mereka satu-persatu mencium punggung tangan Hafizah sebelum keluar."Astagfirullah, ada apa denga
Paginya, mereka sarapan dengan khidmat tanpa ada yang membuka suara. Hanya ada suara sendok dan piring yang saling bertabrakan.Hafizah melirik Lia yang makan seperti orang kesal itu. Ia tersenyum tipis karena paham kalau madunya itu tengah marah akibat tadi malam Adi tidur bersamanya."Maaf, aku mau egois karena anakku menginginkan ayahnya," batin Hafizah."Mas,"Adi yang baru selesai makan itu lantas melihat ke arah Hafizah. "Iya, Sayang?""Nanti jemput Fizah, ya? Kemungkinan Fizah pulangnya Isya,"Adi tersenyum lembut. "Tanpa kamu minta pun, Mas pasti akan jemput."Hafizah ikut tersenyum dan mengangguk. "Terimakasih, Mas,""Hei, kenapa berterimakasih? Mas ini suamimu, dan sudah kewajiban Mas meratukan mu," kata Adi yang membuat Lia panas.Ting!!Suara sendok yang menabrak piring begitu nyaring. Hafizah dan Adi menatap ke arah Lia yang tengah menunduk itu."Kewajiban? Kewajiban apa yang kamu bicarakan, Mas? Kamu itu suami yang tidak adil!" sentak Lia tiba-tiba. Ia menatap Adi dan Ha
"Argg....., "Prang!Prang!"Dia pasti pergi menjemput Hafizah! Arghh...!" Lia mengamuk di kamarnya sendiri saat melihat mobil Adi meninggalkan rumah.Semua barang di kamarnya ia lempar guna meluapkan kemarahan. Kamarnya sekarang terlihat seperti kapal pecah. Banyak barang yang berserakan.Dengan sorot kemarahan, Lia menatap ponselnya. Ia mengambil ponselnya itu dan menghubungi seseorang."Sial!!" umpat Lia, karena orang tersebut tidak mengangkat panggilan darinya."Percuma ngelakuin ini. Mas Adi benar-benar tidak ingin menyentuh ku."Ting..Lia bergegas membuka ponselnya saat mendengar suara pesan masuk.0899xx [Lia, bagaimana kabarmu? Sudah lama tidak bertemu setelah malam panjang yang kita lalui waktu itu, bukan? Aku berharap benihku tidak berkembang menjadi janin di rahimmu. Jika itu terjadi, aku tidak ingin bertanggungjawab, karena orang tuaku pasti tidak setuju aku menikahi wanita kampung sepertimu. Aku menghubungimu hari ini hanya karena ingin memastikan itu saja. Jika janin it
Setelah sholat subuh, Adi dan Hafizah pulang ke rumah mereka. Sedari tadi Adi terus tersenyum karena menginap di hotel malam ini membuatnya untung besar. Ia bisa merasakan kebahagiaan seperti dulu sebelum adanya orang ketiga di rumah tangga mereka."Mas kesambet apaan?" tanya Hafizah bingung."Kesambet cinta kamu, De," sahut Adi sambil menyetir itu."Apa sih, Mas? Serem tau gak kalau Mas senyum-senyum gitu," kata Hafizah yang sebenarnya ia tengah malu.Adi tidak menghiraukan perkataan Hafizah. Ia masih terus tersenyum disepanjang perjalanan pulang. "De, bagaimana kita sarapan diluar aja? Mas malas kalau sarapan di rumah,""Berarti kita pulang cuma buat ganti baju doang. Terus, kita berangkat kerja lagi?"Adi mengangguk mengiyakan. "Tapi, kamu diam di rumah aja. Pasti capek, 'kan? Lagian, pihak sekolah pasti kasih cuti untuk istirahat biasanya."Hafizah tersenyum dan mengangguk. "Iya, Mas. Kita emang cuti sehari kok,""Aku juga mau cuti," celetuk Adi dengan senyum lebarnya."Eh, kok gi
"Aaaaa Lia, lama gak ketemu..,"Lia tersenyum ke arah temannya itu dan mereka saling peluk guna melepas kerinduan."Bagaimana kabarmu?" tanya Raisa, teman Lia."Kurang baik," sahut Lia malas.Raisa merangkul temannya itu dan mengajak Lia berjalan-jalan di mall tersebut. "Kita belanja-belanja dulu, bagaimana?" tawarnya."Dasar! Bukannya hibur temannya, malah mau belanja-belanja." cibir Lia sedikit kesal.Raisa nyengir kuda. "Hehe, rindu belanja bareng," celetuknya.Lia memutar bola matanya malas, namun ia menurut pada temannya itu. Mereka menyusuri mall besar tersebut dan berbelanja.Diluar, Adi dan Hafizah masih berada di dalam mobil. Tiba-tiba Hafizah ragu untuk memasuki Mall."Mas, bagaimana kita pulang saja?" tawar Hafizah pada suaminya itu.Adi yang baru saja menutup pintu mobil itu, mengernyit heran. "Mas ajak kamu kesini untuk belanja. Bukan cuma mampir sebentar aja," pungkasnya."Iya, tapi perasaan Fizah kok kayak ragu gitu. Takut terjadi apa-apa, apalagi ada Lia disini," ah, e
"Mas!" Lia mengejar Adi cepat dan langsung menahan lengan pria itu."Lepas, Lia!" sentak Adi menghempas kasar lengannya."Mas, aku mohon. Berlaku lah adil," mohon Lia memelas.Adi menarik napas panjang dan menatap Lia datar. "Sudah berapa kali aku katakan, Lia? Aku tidak akan tidur bersamamu!" sarkas nya."Kenapa? Kenapa, Mas? Jika aku meminta baik-baik kamu tidak menurutinya, maka aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan cintamu. Bahkan aku berani melukai Fizah dan calon anak kalian!" desis Lia dengan beraninya.Adi menatap marah Lia dan langsung mencengkram rahang wanita itu dengan kuat. "Berani kau sentuh Fizah sedikit pun, aku tidak akan segan melukaimu. Aku rela dicap buruk oleh semua orang karena membunuh istri keduaku demi istri pertamaku sendiri!"Lia menahan pergelangan Adi. Ia terdongak dan sedikit kesusahan bernapas. "S-sakit, Mas!" ujarnya terbata.Seakan tuli, Adi tidak mendengarkan rintihan Lia yang kesakitan. Ia semakin kuat mencengkram rahang Lia hingga turun k
"Sayang, ke rumah sakit, ya?" tawar Adi begitu perhatian."Siapa yang sakit, Mas?" balas Hafizah bertanya.Hafizah yang tengah melamun karena memikirkan mertuanya yang ada di rumah, dibuat bingung karena tiba-tiba suaminya itu mengajaknya ke rumah sakit."Kita ke psikiater,""Kamu gila, Mas? Kenapa? Banyak pikiran?" cecar Hafizah bertanya.Adi menggeleng, sebelah tangannya menggenggam lengan Hafizah dan sebelahnya menyetir."Kamu, sayang. Apa mental kamu baik-baik saja setelah pulang?" tanya Adi menatap istrinya itu khawatir.Hafizah menatap suaminya itu dan ia terkekeh. "Fizah tau maksud Mas baik. Tapi, percuma bawa Fizah ke psikiater, Mas. Mental Fizah udah di serang sedari kecil dan sekarang udah terbiasa. Aman kok," sahutnya lembut."Kamu yakin, sayang?""Yakin, Mas. Fizah bukan wanita lemah. Fizah wanita strong..." ucap Hafizah mengangkat tangannya memperlihatkan ototnya. Ia tertawa pelan karena seolah ia wanita terkuat di bumi dan mengalahkan wonder woman.Adi tersenyum. "Mana o
"Coba jelaskan kenapa kamu menikah lagi, Adi?" pinta Ibu Hafizah setelah mereka selesai makan.Adi menatap kedua mertuanya itu dan menceritakan kejadian sebenarnya dengan sejujur-jujurnya tanpa ada yang ditutupi.Kedua orang tua Hafizah menyimak dengan baik penjelasan dari Adi."Jadi, saat itu kamu mengira Lia itu Fizah?" tanya sang ibu."Iya, Bu. Adi benar-benar tidak menyadarinya sehingga memeluknya saat tidur." jelas Adi."Mungkin wanita itu sudah bisa menebak kalau dia hamil. Untuk itu, dia menjebak mu dengan mengambil kesempatan saat kamu tidur memeluknya." tebak sang ayah.Hafizah hanya diam tidak membuka suara. Bahkan ia hendak menjauh dari sana karena mendengar cerita suaminya ia merasa sesak.Adi menatap ayah mertuanya itu. "Adi kurang yakin kalau dia hamil, Yah. Pasalnya, saat kami menikah dia tengah halangan. Emang bisa setelah halangan langsung hamil?" bingungnya."Iya, itu bisa terjadi. Meskipun peluang hamil setelah haid biasanya lebih rendah, namun tidak mustahil. Beber
"Bu, ayo kita keluar. Kita istirahat dan lanjut besok, ya?" bujuk sang Ayah pada istrinya itu.Sang ibu menatap putrinya kasihan, namun masih belum puas untuk berdebat dengan menantunya itu. Dengan kesal ia keluar dari kamar putrinya."Jaga dia, Adi." pinta sang ayah.Adi mengangguk pasti. "Terimakasih, Ayah," ucapnya sopan.Sang ayah mengangguk sekali dan mengajak yang lain keluar. Setelah mereka semua keluar, Adi merebahkan dirinya disamping sang istri dan memeluknya sayang."Begitu kuat dirimu, sayang. Sedari remaja sampai sekarang kamu tidak pernah melawan saat Ibu merendahkan mu,"Adi memperhatikan wajah cantik istrinya yang sedikit pucat itu. Dielus-elus nya perut istrinya itu lembut."Baik-baik anak Ayah,," harap Adi. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan istri dan calon anaknya sekarang. Mau cari dokter pun percuma karena memang di desa istrinya itu, dokter tidak melayani orang berobat lagi.Adi menarik selimut dan menutupi tubuh mereka berdua. Ia ikut memejamkan matanya dan
Seorang pria tengah merokok di balkon apartemennya. Asap rokok berhamburan di udara begitu banyak.Tin!Pria itu mengernyit heran karena mendengar bel apartemennya berbunyi. Ia pun mematikan rokoknya dan keluar dari kamarnya sendiri."Siapa yang bertamu sore-sore begini?" gumamnya, yang terus berjalan menuju pintu utama.CeklekPria itu menatap orang yang ada di depannya dari atas sampai bawah. Ia menaikkan sudut bibirnya kala perempuan yang sudah tidak ia temui selama sebulan itu."Woww, Lia, kau datang? Mari masuk, Baby..," ia merangkul Lia dengan senang hati membawa wanita itu masuk.Lia memutar bola matanya malas. Sebenarnya ia malas untuk menemui pria yang sudah merenggut kesuciannya itu. Tapi, karena ia merasa sunyi sendirian di rumah, ia memutuskan untuk menemui pria itu. Lagian, ia juga menghibur diri karena merasa kesal saat membaca pesan dari Adi yang ingin pergi dengan Hafizah selama dua hari."Kenapa kamu cemberut? Jika tidak ingin menemui ku, sebaiknya tidak usah." kata p
"Putra," Adi memanggil sekretarisnya itu.Putra yang tengah memperhatikan tablet itu menoleh pada atasannya itu. "Ada apa, Pak?""Bagaimana dengan jadwalku dua hari ke depan?"Putra yang baru saja memeriksa jadwal Adi pun langsung menjawab. "Dua hari ke depan jadwal anda aman, Pak. Tidak ada meeting dan pekerjaan di kantor bisa bapak kerjakan di rumah," jelasnya.Adi bernapas lega saat mendengar itu. Dua hari ia bisa menemani istrinya ke kampung. "Aku akan ke kampung istriku selama dua hari. Kamu urus kantor untuk sementara,"Putra menatap atasannya itu kasihan. "Bapak kesana pasti karena berita pagi tadi, 'kan? Saya minta maaf, Pak."Putra masih merasa bersalah atas menikahnya sang atasan."Tidak masalah, Put. Mungkin ini ujian dalam pernikahan kami," sahut Adi.Ya, setelah Adi pikirkan, mungkin orang ketiga lah untuk ujian rumah tangganya. Karena kalau soal perekonomian, ia dan sang istri sama-sama bekerja sehingga mereka tidak kekurangan harta. Tapi, kembali lagi pada yang di Atas.
"Mas suka gayamu, De." puji Adi sambil menggenggam tangan Hafizah."Jadi selama ini gak suka?" tanya Hafizah menatap suaminya yang sedang menyetir itu.Adi menggeleng pelan. "Bukan begitu,"Hafizah terkekeh melihat wajah suaminya yang panik. "Iya, Mas. Fizah ngerti kok,"Drrrtt... Drrrtt...Hafizah membuka tasnya saat mendengar ponselnya berdering."Siapa, sayang?" tanya Adi."Mas," panggil Hafizah lirih."Siapa?" tanya Adi khawatir, karena nada bicara istrinya berbeda."Ibu,"Adi menatap istrinya itu dan mengangguk sekali sebagai pertanda agar istrinya tenang. "Angkat dan loudspeaker." titahnya.Hafizah menurut, ia mengangkat panggilan telepon dari ibunya dan menyalakan loudspeaker teleponnya."Assalamu'alaikum, Bu,""Walaikumsalam, Fizah.""Ada apa, Bu?" tanya Hafizah takut-takut."Ibu mau penjelasan darimu dan Adi tentang berita pagi ini, Fizah," sahut sang Ibu masih dengan suara tenangnya.Hafizah menatap suaminya itu. Adi yang paham, lantas membuka suara. "Berita kalau Adi memili
"Mas!" Lia mengejar Adi cepat dan langsung menahan lengan pria itu."Lepas, Lia!" sentak Adi menghempas kasar lengannya."Mas, aku mohon. Berlaku lah adil," mohon Lia memelas.Adi menarik napas panjang dan menatap Lia datar. "Sudah berapa kali aku katakan, Lia? Aku tidak akan tidur bersamamu!" sarkas nya."Kenapa? Kenapa, Mas? Jika aku meminta baik-baik kamu tidak menurutinya, maka aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan cintamu. Bahkan aku berani melukai Fizah dan calon anak kalian!" desis Lia dengan beraninya.Adi menatap marah Lia dan langsung mencengkram rahang wanita itu dengan kuat. "Berani kau sentuh Fizah sedikit pun, aku tidak akan segan melukaimu. Aku rela dicap buruk oleh semua orang karena membunuh istri keduaku demi istri pertamaku sendiri!"Lia menahan pergelangan Adi. Ia terdongak dan sedikit kesusahan bernapas. "S-sakit, Mas!" ujarnya terbata.Seakan tuli, Adi tidak mendengarkan rintihan Lia yang kesakitan. Ia semakin kuat mencengkram rahang Lia hingga turun k
"Aaaaa Lia, lama gak ketemu..,"Lia tersenyum ke arah temannya itu dan mereka saling peluk guna melepas kerinduan."Bagaimana kabarmu?" tanya Raisa, teman Lia."Kurang baik," sahut Lia malas.Raisa merangkul temannya itu dan mengajak Lia berjalan-jalan di mall tersebut. "Kita belanja-belanja dulu, bagaimana?" tawarnya."Dasar! Bukannya hibur temannya, malah mau belanja-belanja." cibir Lia sedikit kesal.Raisa nyengir kuda. "Hehe, rindu belanja bareng," celetuknya.Lia memutar bola matanya malas, namun ia menurut pada temannya itu. Mereka menyusuri mall besar tersebut dan berbelanja.Diluar, Adi dan Hafizah masih berada di dalam mobil. Tiba-tiba Hafizah ragu untuk memasuki Mall."Mas, bagaimana kita pulang saja?" tawar Hafizah pada suaminya itu.Adi yang baru saja menutup pintu mobil itu, mengernyit heran. "Mas ajak kamu kesini untuk belanja. Bukan cuma mampir sebentar aja," pungkasnya."Iya, tapi perasaan Fizah kok kayak ragu gitu. Takut terjadi apa-apa, apalagi ada Lia disini," ah, e
Setelah sholat subuh, Adi dan Hafizah pulang ke rumah mereka. Sedari tadi Adi terus tersenyum karena menginap di hotel malam ini membuatnya untung besar. Ia bisa merasakan kebahagiaan seperti dulu sebelum adanya orang ketiga di rumah tangga mereka."Mas kesambet apaan?" tanya Hafizah bingung."Kesambet cinta kamu, De," sahut Adi sambil menyetir itu."Apa sih, Mas? Serem tau gak kalau Mas senyum-senyum gitu," kata Hafizah yang sebenarnya ia tengah malu.Adi tidak menghiraukan perkataan Hafizah. Ia masih terus tersenyum disepanjang perjalanan pulang. "De, bagaimana kita sarapan diluar aja? Mas malas kalau sarapan di rumah,""Berarti kita pulang cuma buat ganti baju doang. Terus, kita berangkat kerja lagi?"Adi mengangguk mengiyakan. "Tapi, kamu diam di rumah aja. Pasti capek, 'kan? Lagian, pihak sekolah pasti kasih cuti untuk istirahat biasanya."Hafizah tersenyum dan mengangguk. "Iya, Mas. Kita emang cuti sehari kok,""Aku juga mau cuti," celetuk Adi dengan senyum lebarnya."Eh, kok gi