Share

Bab 4

Penulis: Alita novel
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-01 14:40:23

Tiara menggeleng. Dia berlutut lalu mengumpulkan semua bukti yang berserakan. Dadanya berdebar penuh ketakutan. ‘Bagaimana kalau Anggrek juga percaya wanita di foto ini adalah aku?’ batinnya bergejolak.

Dia tidak mau jika anak sulungnya ikut membenci Tiara tanpa mengkonfirmasi dulu kebenarannya. Seperti yang dilakukan Rian. Tubuhnya kaku saat Anggrek ikut berjongkok. Mengambil salah satu foto dan memperhatikannya dengan seksama. Tiara terlalu takut untuk menatap anaknya. Dia masih berada di posisi semula. Saat Anggrek berdiri, Tiara juga berdiri. Keheningan yang aneh melingkupi kamar. Wanita itu tidak berani bicara. Ia menghela nafas berulang kali. Mengumpulkan kekuatan agar bisa menjelaskan semuanya pada si sulung.

“Ibu bisa jelaskan sayang.” Tangannya mengusap bahu Anggrek.

Anggrek masih diam. Dia justru memperhatikan tangan Tiara. Rasanya dia ingin pergi saat ini juga, tetapi Tiara terus menguatkan hatinya agar bisa menjelaskan kesalahpahaman ini pada Anggrek. Tiara juga takut jika Anggrek percaya dengan foto itu, dia akan mengadu pada kedua mertuanya. Masalah ini akan jadi semakin rumit.

“Wanita di foto ini bukan Ibu.” Anggrek memegang tangan kanan Tiara lalu menyandingkannya dengan foto itu.

“Eh.” Tiara hanya bisa mengerjap bingung. Cepat sekali Anggrek tahu jika wanita di foto itu bukan dirinya. Padahal Tiara juga sudah melakukan hal yang sama sebelumnya. Mengamati salah satu foto dengan detail untuk mencari letak perbedaannya.

Anggrek menuntun Tiara agar duduk di tepi tempat tidur. Ia memperlihatkan foto itu lagi pada sang ibu. Foto yang berbeda dengan foto lain yang dilihat Tiara tadi. “Lihat Bu. Wanita di foto ini tidak punya tanda lahir di tangan kanannya. Tepat sebelum siku.”

Pandangan Tiara beralih pada tangannya sendiri. Dia memang punya tanda lahir berwarna merah seukuran koin besar yang bentuknya abstrak. Sedangkan wanita di foto itu tidak mempunyai tanda lahir yang sama. Tangan kanannya terlihat memeluk pria dalam foto sehingga Anggrek dan Tiara bisa melihat perbedaannya dengan jelas.

“Terima kasih sudah percaya pada Ibu, sayang.” Tiara memeluk Anggrek erat. Dia tidak bisa lagi menahan semua gejolak hati dari si sulung.

“Ibu yang sabar ya. Kalau ada masalah, Ibu bisa curhat sama aku.” Anggrek membalas pelukan ibunya. Untuk anak berumur dua belas tahun, sikap Anggrek memang sangat dewasa. Tiara melepas pelukannya.

“Insya allah. Anggrek juga harus cerita semua suka duka Anggrek pada Ibu,” ujar Tiara tidak ingin mematahkan perhatian yang Anggrek berikan untuknya.

“Apa karena foto ini Ayah berubah Bu?” tanya Anggrek pelan. Gadis remaja itu memberikan foto yang ia pegang pada Tiara.

Tiara segera memasukan semua foto ke amplop yang sama. Meletakannya sejenak di tempat tidur. Ia menggenggam erat tangan Anggrek. “Ibu tidak tahu, tetapi apapun yang terjadi Ibu harap Tiara terus berdoa untuk Ayah agar dia bisa percaya pada Ibu. Doakan juga Ayah kembali ke jalan yang benar.”

“Kenapa Ayah dan Ibu tidak berpisah saja? Aku akan membantu Ibu menjaga adik-adik setelah kita keluar dari rumah ini. Aku juga bisa berjualan seperti temanku untuk membantu Ibu,” usul Anggrek membuat Tiara terhenyak. Anggrek sudah berpikir sampai kesana. Si sulung tidak mengerti seandainya mereka merealisasikan hal itu, Rian akan mengambil hak asuh Anggrek dan kedua adiknya dari Tiara,

“Karena Ibu berharap Ayah bisa berubah. Dulu Ibu tidak tahu alasan sikap Ayah berubah pada kita. Setelah Ibu mengetahuinya, Ibu bisa mencari solusi untuk masalah kita. Jangan pikirkan masalah orang dewasa. Ibu sedang mencari pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah. Jadi kamu tidak perlu berpikir untuk membantu Ibu mencari uang.”

“Tapi Bu.”

“Sudah ya. Anggrek naik ke atas sekarang. Kasihan Lily dan Nana tidak ada yang menjaga. Ibu akan lanjut membersihkan kamar ini.” Pinta Tiara memutus percakapan mereka. Anggrek hanya mengangguk lalu keluar dari kamar.

Setelah Anggrek keluar, Tiara menjajarkan foto USG dan foto-foto tidak senonoh dengan wajah dirinya di tempat tidur. Memotretnya satu per satu dengan perasaan jijik. Ia menahan semuanya agar mendapat bukti. Lalu Tiara merapikan semuanya dan memasukan kedua map itu ke laci.

“Aku pastikan kamu akan menyesal karena lebih percaya dengan foto ini tanpa bertanya padaku dulu Mas.” Tiara menatap laci yang tertutup lalu merapikan seprai yang sedikit berantakan. Dia memastikan tidak ada jejak dirinya dan Anggrek di kamar ini.

***

Waktu bergulir cepat. Tanpa terasa siang sudah berganti malam. Jarum jam menunjuk angka sembilan. Tiara memastikan ketiga putrinya sudah tidur lalu turun ke bawah. Wanita itu masuk ke kamar utama. Suasana sepi menyambutnya. Tidak ada barang Rian yang tersisa di kamar ini. Pria itu sudah memindahkan semuanya ke kamar tamu.

Tiara duduk di tepi tempat tidur. Mengambil ponsel yang ia temukan di kamar tamu. Membuka galeri untuk melihat foto USG Dina yang ia ambil tadi. Sekali lagi, dunia Tiara terasa hancur berkeping-keping. Lebur menjadi serpihan kecil. Tidak ada lagi yang bisa ia pertahankan dalam rumah tangga ini. Tiara kembali menangis. Meratapi nasib pernikahannya yang sudah di ujung tanduk. Dia teringat dengan pesan ibunya sebelum menikah.

“Jangan gampang berpikir untuk bercerai jika rumah tangga kalian terasa hambar Nduk. Selama Rian tidak selingkuh, melakukan KDRT dan masih memberi nafkah, maka pertahankan rumah tanggamu. Namun jika Rian melanggar salah satu dari tiga penyebab itu, carilah bukti yang akurat. Agar kamu tidak bernasib sama seperti mantan istri Pakdemu.”

Mengingat nasihat ibunya membuat Tiara jadi terbayang wajah teduh sang Ibu. Keluarga Tiara memang bukan orang berada seperti keluarga Rian. Ayahnya adalah seorang guru honorer yang hanya dibayar enam ratus ribu setiap bulan. Selain itu, ayahnya mengelola sepetak kebun. Sedangkan ibunya berprofesi sebagai buruh di salah satu laundry milik tetangga.

Saat Rian melamarnya di usia sembilan tahun, pria itu berjanji untuk memenuhi kebutuhan keluarga Tiara. Siap memberikan bantuan apapun yang terjadi. Tiara cukup menjadi ibu rumah tangga agar bisa menjaga anak-anak di rumah. Sesuai janjinya, Rian terus membantu keluarganya jika mengalami kesusahan. Meski hubungan mereka sudah renggang sejak empat tahun lalu. Namun ketergantungan Tiara pada Rian, membuat pria itu lebih mudah mengikatnya agar tidak bisa pergi begitu saja.

Tiara mengusap air matanya. Dia mengetikan pencarian untuk mencari pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah. Tanpa sengaja Tiara melihat sebuah iklan kelas menulis. Syarat bergabung hanya membayar seratus ribu rupiah dan seratus ribu untuk membeli buku jika sudah lulus kelas.

Tiara menyimpan nomor WA lalu menghubungi orang yang sudah mengiklankan. Bertanya beberapa hal. Dia mantap bergabung dengan kelas menulis online. Pekerjaan ini bisa ia lakukan dari rumah sembari mengurus rumah dan anak-anak. Rian tidak akan curiga. Tiara juga sudah punya pengalaman menulis karena dia bergabung dengan klub jurnalis saat sekolah.

“Apa aku harus meminjam uang pada Ibu untuk mendaftar?” tanya Tiara bingung. Dalam keheningan kamar wanita itu menghela nafas berat.

‘Mungkin aku memang harus meminjam uang pada Ibu. Mudah-mudahan beliau punya.’ Batin Tiara nelangsa memikirkan harus meminjam uang pada ibunya sendiri.

Sekali lagi, Tiara membaca keterangan yang tertulis serta testimony pada peserta. Ada beberapa orang yang mengaku bisa mendapat uang jutaan rupiah dalam waktu singkat. Ada juga yang perlu proses karena hanya mendapat seratus hingga lima ratus ribu per bulan.

“Apa aku bisa sukses dengan cara menulis?” gumam Tiara dalam keheningan kamar. Tiara tidak punya ide lagi.

Dia berbaring di tempat tidur. Melihat jarum jam yang terus bergerak. Tiara mendengar derap langkah Rian yang cepat. Pintu yang terbuka dan tertutup berdebam keras. Wanita itu bangkit. Tiara teringat dengan ponsel yang ia temukan di kamar tamu masih tergeletak di atas laci. Dia segera mengambil ponsel itu lalu berjalan membuka lemari. “Dimana aku harus menyembunyikan ponsel ini?”

Tiara memindai seisi lemari. Hingga matanya melihat kota beukuran sedang berisi album pernikahan. Dengan cepat Tiara mengambil kotak itu lalu menyembunyikan ponsel disana. Baru saja ia menutup lemari, pintu kamar terbuka dengan suara keras. Rian masuk ke kamar utama dengan wajah marah.

“Apa tadi kau masuk ke kamarku?” tanya Rian dengan nada menyeramkan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 5

    Tiara menggeleng. Dia menyembunyikan getar tangannya dibalik punggung. “Tidak. Bagaimana aku bisa masuk jika kamar selalu kau kunci?”“Jangan bohong. Tadi pagi aku meninggalkan ponsel di kamar. Karena terburu-buru aku tidak sempat mengambilnya dan lupa mengunci pintu. Siapa lagi yang akan mengambil ponsel itu selain kamu.”“Kalau tidak percaya periksa saja kamar ini. Geledah semuanya.” Tantang Tiara seolah tidak ada ponsel Rian yang ia sembunyikan.Rian mendengkus kesal. Berjalan ke tempat tidur. Meraba setiap inci seprai. Memeriksa bantal dan guling. Membuka semua laci lalu kembali ke hadapan Tiara. “Minggir.”Pria itu membuka lemari kanan. Memeriksa semua pakain Tiara yang tergantung. Lalu memeriksa pintu kiri. Mengeluarkan semua pakaian Tiara yang sudah terlipat rapi. Tiara hanya bisa menghela nafas. Mengambil semua pakaiannya lalu meletakan di tempat tidur. Saat berbalik, Tiara melihat Rian jongkok. Tubuh suaminya seperti mematung dengan pandangan tertuju pada kotak berisi foto pe

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-02
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 6

    Tiara menutup matanya. Air mata mengalir dari sela-sela jari. Dia tidak bisa lagi menahan tangis yang menyesakan dada. Masih terdengar suara Rian di kamar yang bicara dengan lembut untuk Dina. Berbeda saat pria itu bicara dengan Tiara dan anak-anak mereka. Datar dan dingin. Seolah mereka adalah orang asing untuk Rian.“Kamu pengertian sekali sayang. Padahal Ibu pernah berkata buruk padamu, tetapi kamu masih memikirkan kesehatan Ibu. Kamu benar. Aku harus memikirkan cara yang tepat agar tidak membuat penyakit jantung Ibu semakin buruk. Beliau pasti sangat terkejut kalau aku memberi tahu Tiara sudah selingkuh dengan pria lain.” Rian kembali bicara tentang ibunya.Ibu mertua Tiara divonis mengidap penyakit jantung lima tahun lalu. Seluruh keluarga kompak menjaganya agar penyakit ibunya Rian tidak kambuh. Termasuk tidak memberi tahu berita buruk yang terjadi. Karena itulah Rian selalu berpura-pura mesra dihadapan orang tuanya. Agar ibu mertua Tiara tidak curiga ada masalah di rumah tangga

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-21
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 7

    Tiara hanya tersenyum. Ternyata Rian tidak berani membuktikan semua tuduhan Dina padanya. Mulai dari tuduhan Dina kalau dia sudah mengadu pada ibu mertua sampai tuduhan Dina tentang foto-foto tidak senonoh dengan wajahnya.“Walau tanpa dirimu, aku akan membuktikannya sendiri Mas.” Tiara keluar dari kamar sambil menyimpan semua foto yang Rian kirim ke G****e Drive lalu membalas pesan Rian.[Kalian memang pengecut karena tidak mau membuktikan semua tuduhan Dina padaku. Oh iya, selamat untuk pernikahan kalian yang akan datang. Aku akan membuktikan jika aku bukan barang bekas. Walau Dina itu barang baru, tetap saja murahan. Mana ada wanita berkelas yang menjadi pacar suami orang? Kalian berdua adalah pasangan yang cocok. Pengecut dan murahan.]Tiara memasukan ponselnya ke saku. Dia harus menjaga Nana yang bermain sendiri di ruang tengah. Pekerjaan rumah sudah selesai. Tiara duduk di sofa membuat bab baru untuk novel online. Sembari mengawasi Nana yang bermain boneka barbie. TV yang menyala

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-01
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 8

    “Alhamdulillah,” seru Tiara senang.“Saya bisa memberi pernyataan lisan tentang kepalsuan foto ini.” Haris memberikan ponsel dan foto yang yang sudah dicetak. Menjadi satu dengan foto yang dibawa Tiara. Pria itu tidak bertanya banyak hal. Hanya menjalankan pekerjaannya secara professional. Meski pekerjaan utamanya adalah guru.“Terima kasih banyak Pak. Berapa biaya yang harus saya bayar?”“Anda bisa membayar pada kasir yang berjaga di lantai satu. Saya sudah mengirim jasa konsultasi anda padanya,” jawab Haris ramah.Tiara diam. Dia ingat dengan ponsel rahasia Rian yang ia bawa di tas. Wanita itu mengambil ponsel Rian lalu memberikannya pada Haris. “Tolong buka kata sandi ponsel ini. Biayanya bisa digabung dengan jasa pemeriksaan foto.”Mata Haris terbelalak begitu layar ponsel menyala. Namun pria itu tidak bertanya apapun. Dia bisa membuka kode sandi ponsel dengan mudah lalu memberikannya lagi pada Tiara. “Sudah terbuka.”“Terima kasih Pak. Saya permisi dulu.”“Sama-sama Bu.”Hatinya s

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-02
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 9

    “Assalamualaikum Nduk,” sapa ibu mertuanya yang bernama Bu Mirna.“Eh. Assalamualaikum Ayah, Ibu.” Tiara menyalami mertuanya.“Waalaikumsalam.”Mereka masuk ke rumah. Tiara mengunci pintunya lagi. Meski heran dengan kedatangan mertuanya yang mendadak, Tiara tetap bersikap tenang. Apalagi Bu Mirna baru mengirim pesan kalau dia baru bisa datang minggu depan karena harus rewang di rumah tetangga.“Bangunkan Rian Nduk. Ayah ingin berangkat salat di masjid dengannya. Kami naik dulu buat menata barang di kamar.”“Iya Yah.”Setelah memastikan mertuanya naik ke lantai dua, Tiara masuk ke kamar Rian. Dia memperhatikan Rian yang masih terlelap. Kilas balik kejadian beberapa tahun lalu seperti film yang terputar di kepalanya.Setelah Rian memperingatinya untuk tidak memberi tahu masalah mereka pada Pak Joko dan Bu Mirna, wanita itu memilih diam. Dua hari kemudian mertuanya datang ke rumah. Sikap Rian berubah seperti semula. Perhatian dan penyayang. Anak-anak sangat senang karena sikap ayah mereka

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-04
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 10

    “Iya Bu,” jawab Tiara. Ia merasa heran karena ibu mertuanya terdengar membenci Dina saat membicarakan nama wanita itu.“Kenapa Rian bisa berubah Nduk? Apa yang sudah wanita itu lakukan hingga mempengaruhi Rian?” tanya Bu Mirna penasaran.Tiara menunjukkan foto dengan wajahnya dan pria asing. Dengan suara lirih, Dina menceritakan temuannya tentang foto-foto ini lalu membawanya ke pakar telematika. Tidak lupa wanita itu juga menunjukkan bukti yang diberikan Haris jika foto itu sudah diedit. Tiara bukan wanita yang ada dalam foto.“Dasar bodoh. Bisa-bisanya Rian lebih percaya dengan wanita itu tanpa menanyakannya lebih dulu padamu,” geram Bu Mirna tidak habis pikir.“Padahal dulu Rian sudah menuruti permintaan Ibu untuk menjauhi Dina. Kenapa sekarang dia lebih percaya dengan wanita itu.” Bu Mirna mengusap wajahnya kesal. Pandangannya tertuju pada tembok.“Mungkin Mas Rian memang tidak bisa melupakan Dina, Bu. Dia menikahiku hanya sebatas pelarian. Saat mantan pacarnya memberikan bukti pal

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-05
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 11

    Tiara segera pergi saat Dina berbalik. Dia tidak tahu apa minuman yang ingin diberikan Dina pada mertuanya, tetapi ia punya firasat buruk jika minuman itu mengandung racun. Wanita itu duduk disamping Bu Mirna lalu berbisik, “Aku melihat Dina memasukan sesuatu ke botol air Bu. Sepertinya ada yang aneh.” “Wanita itu memang gila. Kamu jangan minum air yang Dina berikan Nduk,” bisik Bu Mirna. Tidak lama kemudian Dina datang. Ia meletakan empat botol air di meja. “Maaf kalau saya mengganggu. Sebagai permintaan maaf, saya hanya bisa memberikan botol air.” “Tidak perlu. Kita langsung bicara pada intinya. Apa yang hendak kalian lakukan dengan pria ini?” sela Pak Joko menunjuk pria misterius yang duduk di bawah. “Setidaknya berterima kasihlah pada Dina, Yah,” ujar Rian tidak terima pacarnya diabaikan. Rian seperti buta karena cinta hingga terus membela Dina. “Jangan bertele-tele. Apa yang sedang kalian rencanakan?” Pak Joko tidak peduli dengan keluhan Rian. Tiara tersenyum sinis menatap

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-06
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 12

    “Tidak mungkin Bu. Untuk apa Dina memberikan guna-guna,” bantah Tiara tidak percaya.“Ibu sudah mengira jika kamu tidak bisa percaya begitu saja. Namun ini kenyataannya Nduk. Lima belas tahun lalu Dina pernah membuat Rian kabur dari rumah karena kami tidak setuju dengan hubungan mereka. Ibu mencari tahu siapa Dina. Orang tuanya bekerja di sawah milik dukun.”“Hanya itu Bu?” tanya Tiara skeptis.“Setelah kami cari tahu, orang tua Dina juga suka berhutang. Banyak rentenir dan orang bank yang menunggu di depan rumah. Ibu tidak ingin Dina menikah dengan Rian karena takut wanita itu hanya memaanfaatkan kekayaan kami. Sehari setelah kami menolak hubungan mereka, Rian kabur dari rumah. Kami membiarkan untuk memberi pelajaran bahwa tidak semua keinginan anak harus dituruti,Meski begitu, Ayah tetap meminta bantuan pada saudara yang menjadi polisi untuk melacak keberadaan Rian. Belum sempat kami melakukan pencarian, dia pulang ke rumah. Minta maaf dan memohon restu untuk hubungan mereka. Ibu t

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-12

Bab terbaru

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 94

    Tiara mengkerutkan kening heran. Mertuanya sudah tahu? Matanya mengerjap bingung. Wanita itu tidak tahu harus merespon bagaimana. “Ehm. Ibu tahu darimana?” tanya Tiara gugup bercampur malu.“Dari ibumu. Kemarin malam sebelum tidur beliau telepon bertanya apa kamu sudah bicara tentangy keputuasnmu setelah mendengar nasihat bapakmu. Ibumu juga menceritakan semuanya,” kata Bu Mirna menghentikan kegiatannya.Wanita paruh baya itu menatap sang menantu dalam. Penuh kasih sayang dan kelembutan. Setelah semua makanan tersaji di atas meja dan bekal untuk anak-anak siap, Bu Mirna meraih tangan Tiara dalam genggamannya.“Baik kamu berpisah dari Rian atau tidak, Ibu tetap menganggap kamu sebagai menantu dan anak Ibu sendiri. Namun dengan kamu memberi maaf pada Rian, entah kenapa membuat Ibu merasa sangat senang sekali. Karena kamu sudah mulai menghilangkan segala beban kebencian di hatimu,” kata Bu Mirna panjang kali lebar.Tiara mengangguk dengan air mata haru yang menggenang di pelupuk matanya.

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 93

    Dada Rian berdetak semakin kencang. Mulutnya terbuka lebar dengan mata menganga. Dia masih menatap tidak percaya perkataan Tiara tadi. Sang istri setuju untuk mengikuti saran bapaknya? Rasanya Rian ingin berteriak kesenangan saat ini juga. Namun tubuhnya seperti kaku dan tidak bisa digerakan sama sekali. Seolah ia sudah berubah menjadi patung.“Kamu baik-baik saja Mas?” tanya Tiara khawatir melihat respon sang suami yang seperti ini. Wanita itu melambaikan tangan di depan Rian berulang kali.Rian menggeleng lalu mengangguk. Pria itu menepuk pipinya berulang kali agar bisa meyakinkan diri kalau semua yang terjadi di depannya memang nyata. Akhirnya Rian bisa bergerak. Dengan gerakan sangat cepat hingga hampir tidak tertangkap mata, Rian mendekap erat tubuh sang istri. Membawa Tiara dalam pelukannya yang hangat.“Terima kasih banyak sayang. Terima kasih banyak untuk kesempatan keduanya,” kata Rian terharu. Dia tidak bisa lagi membendung air matanya yang berdesakan ingin keluar. Rian mera

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 91

    Rian turun dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Dia menunaikan salat tahajud saat Tiara tengah sibuk mengetik novel dengan menggunakan ponselnya. Pria itu sama sekali tidak berniat mengganggu kesibukan sang istri. Dia justru mengambil kitab suci lalu mengaji dengan suara pelan.Meskipun sedang menjalankan kegiatan masing-masing, bukan berarti Rian dan Tiara lupa akan keberadaan satu sama lain. Mereka tetap sadar tengah berada di ruangan yang sama. Hingga tidak terasa adzan subuh berkumandang dari masjid terdekat."Aku pergi ke masjid dulu Ra," kata Rian bangkit lalu memasukan kitab suci ke rak lemari paling atas."Iya Mas," jawab Tiara sangat pelan yang hampir serupa dengan bisikan. Walaupun begitu Rian masih bisa tetap mendengar suara sang istri.Rian melangkah keluar. Membuka dan menutup pintu dengan suara perlajan. Meskipun bunyi derit pintunya tetap terdengar. Setelah sosok sang suami hilang dibalik pintu, Tiara menghela nafas lega. Dari luar terdenga

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 90

    “Ba—bagaimana bisa? Siang ini saya tidak sengaja bertemu dengan Dina di dalam sebuah mobil mewah yang kemungkinan besar milik Bu Aurel. Saat mata kami tidak sengaja berpandangan, dia terus memanggil namaku,” ucap Tiara tidak percaya.Rian, Pak Joko dan Bu Mirna hanya diam mendengarkan. Mereka ingin mendengar balasan Ustad Aba dan Ustad Abi tentang masalah ini. Pasalahnya menurut Rian, dia juga yakin Dina tidak akan bisa melakukan apapun dibawah pengawasan Aurel yang akan balas dendam padanya.“Benar. Itu bisa saja terjadi. Seperti yang saya katakan tadi kalau Bu Dina bisa mengganggu anda karena rumah ini memang pernah diganggu. Namun untuk masalah dia tidak bisa kabur dari orang yang mengurungnya, saya rasa ada hal lain yang anda semua tidak tahu. Dan saya rasa anda semua memang tidak perlu tahu kenapa Bu Dina tidak bisa kabur dari sana. Lebih banyak tidak tahu akan lebih baik untuk kita,” jawab Ustad Abi berteka-teki.Entah kenapa Rian dan Tiara seketika punya pikiran yang sama. Jika

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 89

    Mata Tiara terbelalak tidak percaya mendengar perkataan ibu mertuanya. Dina juga bemain dukun sekarang. Tidak lagi hanya menjadi perantara orang tuanya. Itu berarti gangguan yang sempat ia alami tadi karena ulah Dina. Bagaimana bisa? Padahal Tiara ingat kalau sore ini dia baru melihat Dina di dalam mobil mewah.Layaknya seorang sandera yang tidak kabur. Namun di jaman modern seperti ini. Bisa saja Dina meminta lewat telepon atau pesan pada dukun itu untuk melakukan guna-guna pada Tiara dan keluarganya. Begitulah pikiran wanita itu.“Rian tadi juga mengalami kejadian aneh saat kami akan pergi ke rumah Rian dan Riska. Masa dia melihatg bapaknya Dina mengintip dari balik. Itukan tidak mungkin,” kata Bu Mirna lagi.“Oh begitu,” balas Tiara mengangguk dengan pandangan kosong.“Ibu tidak tahu apa yang terjadi. Sepertinya kamu mengalami hal yang buruk saat pulang lebih dulu tadi,” ujar Bu Mirna mengusap bahu sang menantu dengan sayang. Layaknya ibu kandung pada putrinya. Terlihat sekali keak

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 88

    Dua ustad yang datang bersama mereka itu mulai membersihkan rumah dengan bacaan ayat suci alquran. Di dalam mobl, Rian dan ketiiga putrinya menungu dengan harap-harap cemas. Pasalnya mereka bisa mendengar suara berisik dari dalam ruumah. Rian menggeleng karena dia paham kalau suaara itu berasal dari teras depan rumah mereka.Tidak lama kemudian dia melihat dua ustad itu masuk rumah bersama Pak Joko. Sedangkan Bu Mirna berjalan ke arah mobil, membuka pintu lalu duduk di kursi depan. Rian menaap sang iibu penasaran.“Bagaimana Bu? Apa proses pembersihannya sudah selesai?” tanya Rian penasaran dengan hasilnya.“Belum. Pak Ustad mengatakan kalau mereka baru membersihkan area teras karena disanalah tempat ukun Deri dan anak buahnya menebar guna-guna walaupun saat itu tidak berhasil. Setelahnya Ibu tidak begitu paham apa yang terjadi,” kata Bu Mirna menjelaskan.Rian mengangguk paham dengan penjelasan sang ibu. Entah kenapa perasaannya tidak nyaman. Dia ingin turun sekarang juga dan menghen

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 87

    Saat Rian tengah menghabiskan waktu dengan anak-anak dan keponakannya, Tiara merebahkan diri tidur di kasurnya. Dia sibuk mengetik bab novel baru di ponsel. Daripada sibuk tidak melakukan pekerjaan apapun. Tubuhnya juga lelah karena tadi sibuk melakukan video call dengan Bu Mirna untuk melihat perkembangan anak-anak dan suaminya.Sore harinya Tiara pamit pulang ke rumah. Lagi-lagi di jalan dia bertemu dengan mobil yang sama. Di dalamnya ada Dina yang duduk di kursi belakang. Kali ini wajah mereka berpandangan. Mata Dina membulat. Wanita itu beringsut maju. Menempelkan tubuhnya ke jendala.Tiara mengalihkan pandangan. Syukurlah lampu lalu lintas yang awalnya merah sudah berubah menjadi hijau. Tiara segera melajukan motornya pergi. Dia tidak mau bertemu lagi dengan Dina. Apalagi sampai bicara.“Tunggu dulu Tiara. Tunggu akuuuuu,” teriak Dina menggema di jalan yang ramai dengan lalu lalang kendaraan.Dari kaca spion Tiara melihat Dina yang berhasil keluar dari mobil tengah berlari mengej

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 86

    Rian berjalan mendekat. Dadanya berdegup kencang begitu ia berhasil melihat siapa orang yang tengah mengintipnya. Tubuh Rian terlonjak ke belakang saat melihat sosok yang tidak seharusnya berada disana. Bapak Dina.Perawakannya masih sama seperti dulu. Tubuh tinggi besar. Hanya saja matanya jadi dua kali lipat lebih besar. Tidak hanya sekedar sedang melotot. Belum lagi dengan wajah bapak Dina yang sangat pucat. Kulitnya seputih kapas.Tanpa sadar tubuh Rian bergetar ketakutan. Dia terus membaca surat-surat pendek yang ia hafal. Namun sosok bapak Dina masih membungkuk di sebrang pagar. Menatapnya tajam rengan bola mata yang melotot. Sabgat mengerikan.Langkahnya terus mundur menuju teras. Dia ingin masuk ke dalam rumah sekarang juga. Namun tubuh Rian terasa kaku. Tidak bisa digerakkan. Mulutnya terbuka. Hendak berteriak minta tolong pada kedua orang tuanya yang berada di dalam. Lagi-lagi Rian tidak bisa melakukannya karena mulutnya seperti terkunci."Apa yang sedang kamu lakukan Yan? K

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 85

    Nafas Rian kembali tercekat untuk yang kedua kalinya. Membaca synopsis novelnya saja sudah menyedihkan. Ceritanya tidak beda jauh dari buku pertama yang tadi ia baca. Tentang keluarga yang tercerai berai karena tokoh antagonis. Rian tidak sadar saat memilih buku tadi. Baginya dia hanya mengambil buku yang sampulnya menarik untuk dibaca.“Oke kita mulai baca buku pilihan Kak Lily. Jadi suatu hari ada keluarga pohon cemara yang berada di atas hamparan salju Gunung Fuji,” kata Rian memulai ceritanya.Dibalik pintu Bu Mirna dan Pak Joko masih setia mengintip. Apalagi Bu Mirna yang tidak lelah memegang ponsel agar Tiara bisa ikut melihat saat mereka sedang melakukan panggilkan video call. Tidak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Itu berarti dua jam berlalu sejak Rian membacakan semua buku cerita yang ia beli untuk kedua putrinya.Pak Joko dan Bu Mirna bergantian memegang ponsel agar Tiara bisa melihat semuanya. Setelah Tiara mengangkat tangan sebagai tanda b

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status