Tiara hanya tersenyum. Ternyata Rian tidak berani membuktikan semua tuduhan Dina padanya. Mulai dari tuduhan Dina kalau dia sudah mengadu pada ibu mertua sampai tuduhan Dina tentang foto-foto tidak senonoh dengan wajahnya.
“Walau tanpa dirimu, aku akan membuktikannya sendiri Mas.” Tiara keluar dari kamar sambil menyimpan semua foto yang Rian kirim ke G****e Drive lalu membalas pesan Rian.
[Kalian memang pengecut karena tidak mau membuktikan semua tuduhan Dina padaku. Oh iya, selamat untuk pernikahan kalian yang akan datang. Aku akan membuktikan jika aku bukan barang bekas. Walau Dina itu barang baru, tetap saja murahan. Mana ada wanita berkelas yang menjadi pacar suami orang? Kalian berdua adalah pasangan yang cocok. Pengecut dan murahan.]
Tiara memasukan ponselnya ke saku. Dia harus menjaga Nana yang bermain sendiri di ruang tengah. Pekerjaan rumah sudah selesai. Tiara duduk di sofa membuat bab baru untuk novel online. Sembari mengawasi Nana yang bermain boneka barbie. TV yang menyala tidak membuat konsentrasi Tiara terganggu.
Uang di dompet tinggal seratus ribu. Sejak kemarin Rian belum memberi uang lagi padahal pria itu sudah gajian. Justru pulang membawa wanita lain. Tiara harus memutar otak karena uang itu hanya cukup untuk dua atau tiga hari ke depan.
Meski sudah menekuni profesi sebagai penulis online sembari mengikuti kelas menulis, Tiara tidak bisa langsung mendapat gaji karena menunggu bab yang terkunci terbuka. Gajian akan dicairkan bulan depan setelah memenuhi saldo yang cukup. Dia meletakan ponsel setelah mengetik bab baru untuk novelnya.
“Bagaimana caraku mendapat uang untuk kebutuhan anak-anak?” gumam Tiara pusing.
Dering ponselnya membuat Tiara menoleh. Ada pesan masuk dari ibu mertuanya. Tiara mengambil ponsel itu lalu membuka pesannya.
[Ibu ada rejeki dari penjualan tanah Nduk. Separuhnya Ibu kirim ke rekeningmu, separuhnya sudah Ibu transfer ke rekening Riska.]
Mata Tiara membulat tidak percaya. Dia memang dekat dengan mertuanya. Ibu Rian juga kerap mengirim uang untuk Tiara dan Riska, adik iparnya, jika mendapat rejeki. Ia membuka aplikasi e-banking. Membaca nominal yang dikirim ibu mertuanya.
“Lima puluh juta.” Tiara tidak percaya. Ibu Rian tidak pernah mengirim uang sebanyak ini. Tangannya gemetar, masih menatap tidak percaya layar ponsel.
“Ibu kita pergi sekarang?” Nana bertanya dengan suara cadelnya. Gadis kecil itu berdiri di depan ibunya.
Tiara melihat jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Waktunya menjemput Anggrek di sekolah. “Iya sebentar sayang. Ibu ambil jaketnya Nana dulu.”
Dia beranjak dari sofa, masuk ke kamar. Sebelum mengambil jaketnya dan Nana, Tiara membalas pesan ibu mertuanya.
[Ya Allah banyak banget Bu.]
[Tidak masalah Nduk. Namanya juga untuk mantu dan cucu-cucu Ibu. Ibu yakin kamu bisa menggunakan uang itu dengan baik. Maaf Ibu belum bisa datang minggu depan. Ada banyak orang yang punya hajatan, jadi Ibu harus rewang.]
[Iya Bu.Terima kasih banyak.]
Ia masih menatap saldo di rekening. Lima puluh juta adalah nominal yang sangat besar untuknya. Tiara berjanji akan menggunakan uang itu dengan baik. Dia tidak perlu lagi mengemis pada Rian.
Tiara memakai jaketnya lalu mengambil jaket kecil Nana. Memakaikannya ke tubuh putrinya dan pergi ke sekolah. Di perjalanan pulang, pandangannya awas melihat ke sekitar. Meski Rian membatalkan rencana mereka pergi ke toko service ponsel, Tiara tetap mencari toko service terdekat. Dia harus mencari alternatif untuk membuktikan tentang foto tidak senonoh dengan wajahnya. Matanya tertuju ke toko service yang berjarak satu kilometer dari sekolah anak-anak. Di plan toko tertera jasa Pakar Telematika.
‘Mungkin aku bisa kesana besok.’
Kilas balik perubahan sikap Rian selama empat tahun hingga pertengkaran mereka kemarin terngiang di kepalanya. Cacian sang suami terdengar lagi di telinga. Hatinya sangat sakit mendapat tuduhan sebagai wanita murahan yang sudah berselingkuh. Dia tidak menyangka akan mendapat ujian seberat ini.
“Aku janji akan membuktikan kalau aku tidak bersalah. Aku akan membalas fitnah kalian,” gumam Tiara yang terbang terbawa hembusan angin.
***
Keesokan harinya, usai menjemput Anggrek dari sekolah Tiara mengajak ketiga putrinya jalan-jalan ke mall untuk memberi peralatan sekolah. Setelah itu mereka pergi ke toko service yang dilihat Tiara kemarin.
“Loh. Inikan tokonya guruku Bu.” Anggrek menunjuk toko di depannya.
“Punya siapa Kak?”
“Pak Haris. Wali kelasku saat kelas empat. Guruku yang seumuruan sama Om Heri. Masih muda dan ganteng.” Penjelasan Anggrek membuat Tiara mengingat sosok guru yang dimaksud.
“Pak Haris itu hebat banget Bu. Beliau cerita waktu kuliah lama karena ambil dua jurusan di dua kampus yang berbeda. Pertama jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar lalu setelah lulus Pak Haris kuliah lagi di jurusan Rekayasa Perangkat Lunak. Selain mengajar di sekolah, beliau juga membuka toko ini bersama istrinya.” Cerita Anggrek dengan binar mata kagum.
Anggrek sering bercerita tentang beberapa gurunya pada Tiara. Salah satunya adalah Haris. Mereka juga beberapa kali bertemu di sekolah saat Anggrek masih duduk di kelas empat.
Mereka masuk ke toko yang disambut satpam. Suasana toko terasa sejuk dengan AC yang menyala. Toko ini dilengkapi dengan sofa memanjang yang menempel di dinding. Serta meja jika ada pengunjung yang membeli minuman dingin di kulkas.
“Kak Anggrek tolong jaga adik-adiknya di sofa. Ibu mau menyervice ponsel dulu.”
“Iya Bu.”
Tiara berjalan ke konter. Menjelaskan maksud kedatangannya. Customer service mengambil gagang telepon. Bicara dengan seseorang. Tiara mendengar nama Haris disebut. CS itu mengangguk lalu meletakan gagang telepon.
“Ini nomor antrian anda. Silahkan naik ke lantai dua.” CS itu menangkupkan kedua tangan di dada.
“Baik. Terima kasih Mbak.” Tiara bangkit dari kursi. Memberi tanda pada ketiga putrinya akan naik ke lantai dua.
Sesampainya disana, suasana di lantai dua tidak berbeda dengan lantai satu. Ada dua orang yang menunggu dengan membawa amplop. Dada Tiara kembali berdebar. Dia mengeluarkan amplop berisi foto yang diberikan Rian. Saat nomor antriannya dipanggil, Tiara masuk ke ruangan Pakar Telematika. Matanya membulat saat bertatapan dengan Haris.
“Bu Tiara,” sapa Haris kaget.
“Selamat siang Pak Haris. Tadi Anggrek cerita kalau anda pemilik toko ini.” Tiara menyalami Haris.
“Silahkan duduk.” Haris mengulurkan tangannya ke kursi.
Tiara duduk lalu memberikan amplop berisi foto tidak senonoh dengan editan wajahnya. “Maaf jika saya membuat anda kaget. Saya mengira Pakar Telematika yang dimaksud adalah orang lain.”
“Saya sendiri yang menangani klien yang ingin memastikan kebenaran tentang foto atau video. Kebetulan hari ini saya hanya mengajar kelas satu. Jadi bisa pulang jam sepuluh pagi. Ada yang bisa saya bantu Bu?”
“Sebelumnya saya ingin bertanya, apakah Pak Haris pernah menerima permintaan untuk menyelidiki foto-foto ini?” Tiara menyerahkan ponselnya.
Wajah Haris tetap tenang saat melihat Tiara di layar ponsel itu. Haris menggeleng. “Tidak pernah. Saya adalah satu-satunya Pakar Telematikan di toko ini.”
“Apakaha ada Pakar Telematika lain di kota kita selain anda?”
“Setahu saya tidak ada Bu. Kenapa?”
Dia menceritakan secara singkat tentang masalah rumah tangga mereka dan percakapannya dengan Rian tadi malam. “Saya bukan wanita di foto itu. Karena itulah saya ingin membuktikan jika saya sudah dijebak.”
Tiara menahan getar tangannya. Rasa marah, kecewa, sedih berbaur jadi satu mengingat perlakukan Rian selama ini.
“Baiklah. Saya akan membantu. Apakah anda punya foto atau video lain? Selain foto yang anda bawa.”
“Saya punya foto-foto yang lain. Sebentar Pak.” Tiara mengirim foto-foto yang ia potret dari foto yang dimilki Rian. Haris mengangguk setelah menerima file yang terkirim.
Tiara memperhatikan beberapa alat di meja. Tiara tidak tahu apa yang dilakukan Haris. Pria itu terus mengamati wajahnya lalu membandingkan dengan foto di ponsel yang ia pegang.
Suasana hening melingkupi ruangan ini. Hanya suara printer yang tengah mencetak kertas yang terdengar. Tiga puluh menit menunggu, Haris mengangguk lalu menandai foto-foto yang telah ia cetak dengan spidol.
“Wanita di foto ini memang bukan anda,” kata Haris yakin.
“Alhamdulillah,” seru Tiara senang.“Saya bisa memberi pernyataan lisan tentang kepalsuan foto ini.” Haris memberikan ponsel dan foto yang yang sudah dicetak. Menjadi satu dengan foto yang dibawa Tiara. Pria itu tidak bertanya banyak hal. Hanya menjalankan pekerjaannya secara professional. Meski pekerjaan utamanya adalah guru.“Terima kasih banyak Pak. Berapa biaya yang harus saya bayar?”“Anda bisa membayar pada kasir yang berjaga di lantai satu. Saya sudah mengirim jasa konsultasi anda padanya,” jawab Haris ramah.Tiara diam. Dia ingat dengan ponsel rahasia Rian yang ia bawa di tas. Wanita itu mengambil ponsel Rian lalu memberikannya pada Haris. “Tolong buka kata sandi ponsel ini. Biayanya bisa digabung dengan jasa pemeriksaan foto.”Mata Haris terbelalak begitu layar ponsel menyala. Namun pria itu tidak bertanya apapun. Dia bisa membuka kode sandi ponsel dengan mudah lalu memberikannya lagi pada Tiara. “Sudah terbuka.”“Terima kasih Pak. Saya permisi dulu.”“Sama-sama Bu.”Hatinya s
“Assalamualaikum Nduk,” sapa ibu mertuanya yang bernama Bu Mirna.“Eh. Assalamualaikum Ayah, Ibu.” Tiara menyalami mertuanya.“Waalaikumsalam.”Mereka masuk ke rumah. Tiara mengunci pintunya lagi. Meski heran dengan kedatangan mertuanya yang mendadak, Tiara tetap bersikap tenang. Apalagi Bu Mirna baru mengirim pesan kalau dia baru bisa datang minggu depan karena harus rewang di rumah tetangga.“Bangunkan Rian Nduk. Ayah ingin berangkat salat di masjid dengannya. Kami naik dulu buat menata barang di kamar.”“Iya Yah.”Setelah memastikan mertuanya naik ke lantai dua, Tiara masuk ke kamar Rian. Dia memperhatikan Rian yang masih terlelap. Kilas balik kejadian beberapa tahun lalu seperti film yang terputar di kepalanya.Setelah Rian memperingatinya untuk tidak memberi tahu masalah mereka pada Pak Joko dan Bu Mirna, wanita itu memilih diam. Dua hari kemudian mertuanya datang ke rumah. Sikap Rian berubah seperti semula. Perhatian dan penyayang. Anak-anak sangat senang karena sikap ayah mereka
“Iya Bu,” jawab Tiara. Ia merasa heran karena ibu mertuanya terdengar membenci Dina saat membicarakan nama wanita itu.“Kenapa Rian bisa berubah Nduk? Apa yang sudah wanita itu lakukan hingga mempengaruhi Rian?” tanya Bu Mirna penasaran.Tiara menunjukkan foto dengan wajahnya dan pria asing. Dengan suara lirih, Dina menceritakan temuannya tentang foto-foto ini lalu membawanya ke pakar telematika. Tidak lupa wanita itu juga menunjukkan bukti yang diberikan Haris jika foto itu sudah diedit. Tiara bukan wanita yang ada dalam foto.“Dasar bodoh. Bisa-bisanya Rian lebih percaya dengan wanita itu tanpa menanyakannya lebih dulu padamu,” geram Bu Mirna tidak habis pikir.“Padahal dulu Rian sudah menuruti permintaan Ibu untuk menjauhi Dina. Kenapa sekarang dia lebih percaya dengan wanita itu.” Bu Mirna mengusap wajahnya kesal. Pandangannya tertuju pada tembok.“Mungkin Mas Rian memang tidak bisa melupakan Dina, Bu. Dia menikahiku hanya sebatas pelarian. Saat mantan pacarnya memberikan bukti pal
Tiara segera pergi saat Dina berbalik. Dia tidak tahu apa minuman yang ingin diberikan Dina pada mertuanya, tetapi ia punya firasat buruk jika minuman itu mengandung racun. Wanita itu duduk disamping Bu Mirna lalu berbisik, “Aku melihat Dina memasukan sesuatu ke botol air Bu. Sepertinya ada yang aneh.” “Wanita itu memang gila. Kamu jangan minum air yang Dina berikan Nduk,” bisik Bu Mirna. Tidak lama kemudian Dina datang. Ia meletakan empat botol air di meja. “Maaf kalau saya mengganggu. Sebagai permintaan maaf, saya hanya bisa memberikan botol air.” “Tidak perlu. Kita langsung bicara pada intinya. Apa yang hendak kalian lakukan dengan pria ini?” sela Pak Joko menunjuk pria misterius yang duduk di bawah. “Setidaknya berterima kasihlah pada Dina, Yah,” ujar Rian tidak terima pacarnya diabaikan. Rian seperti buta karena cinta hingga terus membela Dina. “Jangan bertele-tele. Apa yang sedang kalian rencanakan?” Pak Joko tidak peduli dengan keluhan Rian. Tiara tersenyum sinis menatap
“Tidak mungkin Bu. Untuk apa Dina memberikan guna-guna,” bantah Tiara tidak percaya.“Ibu sudah mengira jika kamu tidak bisa percaya begitu saja. Namun ini kenyataannya Nduk. Lima belas tahun lalu Dina pernah membuat Rian kabur dari rumah karena kami tidak setuju dengan hubungan mereka. Ibu mencari tahu siapa Dina. Orang tuanya bekerja di sawah milik dukun.”“Hanya itu Bu?” tanya Tiara skeptis.“Setelah kami cari tahu, orang tua Dina juga suka berhutang. Banyak rentenir dan orang bank yang menunggu di depan rumah. Ibu tidak ingin Dina menikah dengan Rian karena takut wanita itu hanya memaanfaatkan kekayaan kami. Sehari setelah kami menolak hubungan mereka, Rian kabur dari rumah. Kami membiarkan untuk memberi pelajaran bahwa tidak semua keinginan anak harus dituruti,Meski begitu, Ayah tetap meminta bantuan pada saudara yang menjadi polisi untuk melacak keberadaan Rian. Belum sempat kami melakukan pencarian, dia pulang ke rumah. Minta maaf dan memohon restu untuk hubungan mereka. Ibu t
Pandangan Tiara berkunang-kunang, kepalanya pusing, perlahan pandangannya gelap. Rian yang melihat Tiara pingsan hanya bisa terpaku. Dia tidak menyangka bisa menampar sang istri seperti tadi. Di belakang Rian, Dina tersenyum puas. Tidak ada belas kasihan di wajah bengisnya.“Ibu.” Teriakan Lily dan Nana membuat Rian mundur. Tubuhnya bergetar ketakutan. Begitu juga Dina yang tidak menyangka ada saksi yang melihat. Belum sempat Rian bereaksi, ia melihat Anggrek berlari keluar.“Tolooooong. Tolong Ibu saya,” teriak Anggrek membuat banyak warga datang ke rumah mereka.Dina berlari, sembunyi di kamar Rian. Sedangkan Rian segera menggotong tubuh Tiara. “Tolong saya Pak. Kita bawa Tiara ke Puskesmas sekarang.”Hatinya benar-benar cemas. Tidak pernah terbersit dalam pikiran Rian akan membuat Tiara celaka. Syukurlah Tiara sadar begitu mereka tiba di IGD. Jarak rumah ke Puskesmas yang cukup dekat membuat Tiara cepat tertolong. Wanita itu sudah sadar saat kepalanya diobati. Kain kasa menempel di
“Biar aku pesan taksi online Bu.” Suara Anggrek memecah keheningan yang dingin. Tiara menghela nafas.‘Seharusnya aku tidak minta tolong pada Mas Rian,’ batin wanita itu pilu.Anak-anak melihat kekejaman ayah mereka lagi. Hati Tiara semakin nelangsa. Pikirannya kalut. Badan Nana sangat panas, tetapi Rian tidak mau mengantar putrinya ke rumah sakit hanya karena ingin bulan madu dengan Dina. Tidak lama kemudian taksi yang dipesan Anggrek datang.“Itu mobilnya.”“Cepat banget Kak.”“Iya Bu. Untung ada sopir paling dekat yang mengambil pesanan kita.” Anggrek menggandeng tangan Lily. Mereka masuk ke kursi belakang.Tiara menyebut nama rumah sakit terdekat agar Nana segera ditangani. Saat mobil berhenti di lampu merah, Tiara melihat mobil Rian yang berhenti disampingnya. Wanita itu mengalihkan wajah saat mendengar Rian menyebut nama Dina di telepon.“Kak Anggrek tolong hubungi Tante Riska dan Uti. Ibu butuh bantuan mereka.”“Iya Bu.” Anggrek mengirim pesan pada tante dan utinya.Ia menghela
“Kami masih akan memantaunya. Kalau begitu kami permisi dulu.” Dokter dan suster keluar ruangan.Tiara berdiri disamping Nana. Mengusap rambut si bungsu. Wajah Nana pucat, badannya panas dan bibirnya membiru. Bagaimana mungkin tidak ada yang salah dengan Nana?‘Ya Allah tolong beri kesembuhan untuk putri hamba.’ Ia melangitkan doa.“Ayah kemana Bu?” tanya Tiara saat menoleh pada Bu Mirna yang duduk termenung.“Menemui seseorang Nduk. Kita akan pakai cara lain agar Nana sembuh.”“Cara lain? Menggunakan pengobatan tradisional?” Keningnya berkerut bingung.“Tidak Nduk. Kamu akan tahu nanti.”Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Pak Joko masuk dengan seorang pria tinggi berwajah bersih. Tiara pernah melihatnya di TV. Pria itu memakai peci dan celana Panjang berwarna putih. Ia ingat kalau pria itu adalah ustad terkenal yang biasanya melakukan proses ruqyah. Tiara tidak tahu apa yang terjadi. Setelah ustad itu mendoakan Nana, badan putrinya tidak panas lagi. Nana membuka mata.“Ibu.” Lirih s
Tiara mengkerutkan kening heran. Mertuanya sudah tahu? Matanya mengerjap bingung. Wanita itu tidak tahu harus merespon bagaimana. “Ehm. Ibu tahu darimana?” tanya Tiara gugup bercampur malu.“Dari ibumu. Kemarin malam sebelum tidur beliau telepon bertanya apa kamu sudah bicara tentangy keputuasnmu setelah mendengar nasihat bapakmu. Ibumu juga menceritakan semuanya,” kata Bu Mirna menghentikan kegiatannya.Wanita paruh baya itu menatap sang menantu dalam. Penuh kasih sayang dan kelembutan. Setelah semua makanan tersaji di atas meja dan bekal untuk anak-anak siap, Bu Mirna meraih tangan Tiara dalam genggamannya.“Baik kamu berpisah dari Rian atau tidak, Ibu tetap menganggap kamu sebagai menantu dan anak Ibu sendiri. Namun dengan kamu memberi maaf pada Rian, entah kenapa membuat Ibu merasa sangat senang sekali. Karena kamu sudah mulai menghilangkan segala beban kebencian di hatimu,” kata Bu Mirna panjang kali lebar.Tiara mengangguk dengan air mata haru yang menggenang di pelupuk matanya.
Dada Rian berdetak semakin kencang. Mulutnya terbuka lebar dengan mata menganga. Dia masih menatap tidak percaya perkataan Tiara tadi. Sang istri setuju untuk mengikuti saran bapaknya? Rasanya Rian ingin berteriak kesenangan saat ini juga. Namun tubuhnya seperti kaku dan tidak bisa digerakan sama sekali. Seolah ia sudah berubah menjadi patung.“Kamu baik-baik saja Mas?” tanya Tiara khawatir melihat respon sang suami yang seperti ini. Wanita itu melambaikan tangan di depan Rian berulang kali.Rian menggeleng lalu mengangguk. Pria itu menepuk pipinya berulang kali agar bisa meyakinkan diri kalau semua yang terjadi di depannya memang nyata. Akhirnya Rian bisa bergerak. Dengan gerakan sangat cepat hingga hampir tidak tertangkap mata, Rian mendekap erat tubuh sang istri. Membawa Tiara dalam pelukannya yang hangat.“Terima kasih banyak sayang. Terima kasih banyak untuk kesempatan keduanya,” kata Rian terharu. Dia tidak bisa lagi membendung air matanya yang berdesakan ingin keluar. Rian mera
Rian turun dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Dia menunaikan salat tahajud saat Tiara tengah sibuk mengetik novel dengan menggunakan ponselnya. Pria itu sama sekali tidak berniat mengganggu kesibukan sang istri. Dia justru mengambil kitab suci lalu mengaji dengan suara pelan.Meskipun sedang menjalankan kegiatan masing-masing, bukan berarti Rian dan Tiara lupa akan keberadaan satu sama lain. Mereka tetap sadar tengah berada di ruangan yang sama. Hingga tidak terasa adzan subuh berkumandang dari masjid terdekat."Aku pergi ke masjid dulu Ra," kata Rian bangkit lalu memasukan kitab suci ke rak lemari paling atas."Iya Mas," jawab Tiara sangat pelan yang hampir serupa dengan bisikan. Walaupun begitu Rian masih bisa tetap mendengar suara sang istri.Rian melangkah keluar. Membuka dan menutup pintu dengan suara perlajan. Meskipun bunyi derit pintunya tetap terdengar. Setelah sosok sang suami hilang dibalik pintu, Tiara menghela nafas lega. Dari luar terdenga
“Ba—bagaimana bisa? Siang ini saya tidak sengaja bertemu dengan Dina di dalam sebuah mobil mewah yang kemungkinan besar milik Bu Aurel. Saat mata kami tidak sengaja berpandangan, dia terus memanggil namaku,” ucap Tiara tidak percaya.Rian, Pak Joko dan Bu Mirna hanya diam mendengarkan. Mereka ingin mendengar balasan Ustad Aba dan Ustad Abi tentang masalah ini. Pasalahnya menurut Rian, dia juga yakin Dina tidak akan bisa melakukan apapun dibawah pengawasan Aurel yang akan balas dendam padanya.“Benar. Itu bisa saja terjadi. Seperti yang saya katakan tadi kalau Bu Dina bisa mengganggu anda karena rumah ini memang pernah diganggu. Namun untuk masalah dia tidak bisa kabur dari orang yang mengurungnya, saya rasa ada hal lain yang anda semua tidak tahu. Dan saya rasa anda semua memang tidak perlu tahu kenapa Bu Dina tidak bisa kabur dari sana. Lebih banyak tidak tahu akan lebih baik untuk kita,” jawab Ustad Abi berteka-teki.Entah kenapa Rian dan Tiara seketika punya pikiran yang sama. Jika
Mata Tiara terbelalak tidak percaya mendengar perkataan ibu mertuanya. Dina juga bemain dukun sekarang. Tidak lagi hanya menjadi perantara orang tuanya. Itu berarti gangguan yang sempat ia alami tadi karena ulah Dina. Bagaimana bisa? Padahal Tiara ingat kalau sore ini dia baru melihat Dina di dalam mobil mewah.Layaknya seorang sandera yang tidak kabur. Namun di jaman modern seperti ini. Bisa saja Dina meminta lewat telepon atau pesan pada dukun itu untuk melakukan guna-guna pada Tiara dan keluarganya. Begitulah pikiran wanita itu.“Rian tadi juga mengalami kejadian aneh saat kami akan pergi ke rumah Rian dan Riska. Masa dia melihatg bapaknya Dina mengintip dari balik. Itukan tidak mungkin,” kata Bu Mirna lagi.“Oh begitu,” balas Tiara mengangguk dengan pandangan kosong.“Ibu tidak tahu apa yang terjadi. Sepertinya kamu mengalami hal yang buruk saat pulang lebih dulu tadi,” ujar Bu Mirna mengusap bahu sang menantu dengan sayang. Layaknya ibu kandung pada putrinya. Terlihat sekali keak
Dua ustad yang datang bersama mereka itu mulai membersihkan rumah dengan bacaan ayat suci alquran. Di dalam mobl, Rian dan ketiiga putrinya menungu dengan harap-harap cemas. Pasalnya mereka bisa mendengar suara berisik dari dalam ruumah. Rian menggeleng karena dia paham kalau suaara itu berasal dari teras depan rumah mereka.Tidak lama kemudian dia melihat dua ustad itu masuk rumah bersama Pak Joko. Sedangkan Bu Mirna berjalan ke arah mobil, membuka pintu lalu duduk di kursi depan. Rian menaap sang iibu penasaran.“Bagaimana Bu? Apa proses pembersihannya sudah selesai?” tanya Rian penasaran dengan hasilnya.“Belum. Pak Ustad mengatakan kalau mereka baru membersihkan area teras karena disanalah tempat ukun Deri dan anak buahnya menebar guna-guna walaupun saat itu tidak berhasil. Setelahnya Ibu tidak begitu paham apa yang terjadi,” kata Bu Mirna menjelaskan.Rian mengangguk paham dengan penjelasan sang ibu. Entah kenapa perasaannya tidak nyaman. Dia ingin turun sekarang juga dan menghen
Saat Rian tengah menghabiskan waktu dengan anak-anak dan keponakannya, Tiara merebahkan diri tidur di kasurnya. Dia sibuk mengetik bab novel baru di ponsel. Daripada sibuk tidak melakukan pekerjaan apapun. Tubuhnya juga lelah karena tadi sibuk melakukan video call dengan Bu Mirna untuk melihat perkembangan anak-anak dan suaminya.Sore harinya Tiara pamit pulang ke rumah. Lagi-lagi di jalan dia bertemu dengan mobil yang sama. Di dalamnya ada Dina yang duduk di kursi belakang. Kali ini wajah mereka berpandangan. Mata Dina membulat. Wanita itu beringsut maju. Menempelkan tubuhnya ke jendala.Tiara mengalihkan pandangan. Syukurlah lampu lalu lintas yang awalnya merah sudah berubah menjadi hijau. Tiara segera melajukan motornya pergi. Dia tidak mau bertemu lagi dengan Dina. Apalagi sampai bicara.“Tunggu dulu Tiara. Tunggu akuuuuu,” teriak Dina menggema di jalan yang ramai dengan lalu lalang kendaraan.Dari kaca spion Tiara melihat Dina yang berhasil keluar dari mobil tengah berlari mengej
Rian berjalan mendekat. Dadanya berdegup kencang begitu ia berhasil melihat siapa orang yang tengah mengintipnya. Tubuh Rian terlonjak ke belakang saat melihat sosok yang tidak seharusnya berada disana. Bapak Dina.Perawakannya masih sama seperti dulu. Tubuh tinggi besar. Hanya saja matanya jadi dua kali lipat lebih besar. Tidak hanya sekedar sedang melotot. Belum lagi dengan wajah bapak Dina yang sangat pucat. Kulitnya seputih kapas.Tanpa sadar tubuh Rian bergetar ketakutan. Dia terus membaca surat-surat pendek yang ia hafal. Namun sosok bapak Dina masih membungkuk di sebrang pagar. Menatapnya tajam rengan bola mata yang melotot. Sabgat mengerikan.Langkahnya terus mundur menuju teras. Dia ingin masuk ke dalam rumah sekarang juga. Namun tubuh Rian terasa kaku. Tidak bisa digerakkan. Mulutnya terbuka. Hendak berteriak minta tolong pada kedua orang tuanya yang berada di dalam. Lagi-lagi Rian tidak bisa melakukannya karena mulutnya seperti terkunci."Apa yang sedang kamu lakukan Yan? K
Nafas Rian kembali tercekat untuk yang kedua kalinya. Membaca synopsis novelnya saja sudah menyedihkan. Ceritanya tidak beda jauh dari buku pertama yang tadi ia baca. Tentang keluarga yang tercerai berai karena tokoh antagonis. Rian tidak sadar saat memilih buku tadi. Baginya dia hanya mengambil buku yang sampulnya menarik untuk dibaca.“Oke kita mulai baca buku pilihan Kak Lily. Jadi suatu hari ada keluarga pohon cemara yang berada di atas hamparan salju Gunung Fuji,” kata Rian memulai ceritanya.Dibalik pintu Bu Mirna dan Pak Joko masih setia mengintip. Apalagi Bu Mirna yang tidak lelah memegang ponsel agar Tiara bisa ikut melihat saat mereka sedang melakukan panggilkan video call. Tidak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Itu berarti dua jam berlalu sejak Rian membacakan semua buku cerita yang ia beli untuk kedua putrinya.Pak Joko dan Bu Mirna bergantian memegang ponsel agar Tiara bisa melihat semuanya. Setelah Tiara mengangkat tangan sebagai tanda b