Share

Bab 6

Penulis: Alita novel
last update Terakhir Diperbarui: 2024-10-21 15:26:01

Tiara menutup matanya. Air mata mengalir dari sela-sela jari. Dia tidak bisa lagi menahan tangis yang menyesakan dada. Masih terdengar suara Rian di kamar yang bicara dengan lembut untuk Dina. Berbeda saat pria itu bicara dengan Tiara dan anak-anak mereka. Datar dan dingin. Seolah mereka adalah orang asing untuk Rian.

“Kamu pengertian sekali sayang. Padahal Ibu pernah berkata buruk padamu, tetapi kamu masih memikirkan kesehatan Ibu. Kamu benar. Aku harus memikirkan cara yang tepat agar tidak membuat penyakit jantung Ibu semakin buruk. Beliau pasti sangat terkejut kalau aku memberi tahu Tiara sudah selingkuh dengan pria lain.” Rian kembali bicara tentang ibunya.

Ibu mertua Tiara divonis mengidap penyakit jantung lima tahun lalu. Seluruh keluarga kompak menjaganya agar penyakit ibunya Rian tidak kambuh. Termasuk tidak memberi tahu berita buruk yang terjadi. Karena itulah Rian selalu berpura-pura mesra dihadapan orang tuanya. Agar ibu mertua Tiara tidak curiga ada masalah di rumah tangga anak sulungnya.

“Oh begitu,” bisik Tiara mengusap air matanya. Di titik ini Tiara akhirnya sadar tidak ada lagi cinta yang tersisa untuknya. Selama ini Rian bertahan karena permintaan Dina dan untuk menjaga perasaan ibunya. Bukan karena ada anak-anak diantara mereka.

Dia merasa bodoh karena sempat memohon pada Rian untuk membatalkan rencana pernikahannya dan Dina. Disaat Rian dibutakan cinta hingga percaya pada apapun yang Dina katakan. Sudah cukup untuknya bertahan. Tiara harus membuktikan kalau dia tidak bersalah.

“Maaf aku tidak bisa menemukan ponsel rahasiaku. Sepertinya tertinggal di tempat lain. Tidak mungkin Tiara yang mengambil karena foto USG dan fotonya masih tersimpan di laci. Besok aku bawakan saat pergi ke apartemen. Kamu tidak perlu khawatir. Kita bisa minta video USG saat periksa lagi bulan depan.” Rian tertawa bahagia. Tawa yang menyayat luka semakin dalam di hati Tiara. 

“Kamu tenang saja. Tiara tidak pernah bertanya lagi tentang gajiku. Aku bisa memotong uang belanjanya untuk menambah tabungan kita. Untuk sementara tabungan itu kita gunakan untuk membeli rumah dulu. Kalau tabunganku sudah terkumpul lagi, aku akan membelikanmu perhiasan mewah.”

Mendengar perkataan Rian membuat Tiara ingin pergi sekarang juga. Namun harga dirinya seketika terusik. Dia tidak bisa berpikir jernih, kemarin Tiara berusaha menahan diri. Entah kenapa sekarang dia tidak bisa melakukannya. Tiara membuka pintu yang ternyata tidak dikunci.

Rian yang sedang bersandar di tempat tidur, terlonjak kaget. Ponsel pria itu sampai terlepas dari genggamannya. Tiara menghampiri sang suami dengan langkah cepat. “Aku sudah mendengar semuanya. Kamu bilang aku selingkuh. Mana buktinya? Jadi karena tuduhan tidak berdasar itu sikapmu berubah empat tahun lalu.”

Tiba-tiba saja wanita itu mendapat keberanian. Dia tidak terima harga dirinya terinjak karena dituduh selingkuh. Padahal selama ini Tiara setia mendampingi sang suami meski sifat Rian sudah berubah. Ia tutup rapat masalah rumah tangga mereka dari siapapun. Namun Rian sudah menuduhnya selingkuh hanya karena beberapa lembar foto.

“Aku punya buktinya.” Rian menjawab santai. Bukannya merasa takut, pria itu justru tampak senang melihat kemarahan Tiara.

Rian menghamburkan foto-foto itu ke wajah Tiara. “Lihat baik-baik. Itu semua fotomu. Kamu mau mengelak lagi hah?”

Tiara berjongkok. Walau hatinya biasa saja melihat semua foto ini, tetapi Tiara pura-pura kaget agar Rian tidak curiga jika dialah yang mengambil ponsel rahasia pria itu. Tiara lalu bangkit dengan mengambil salah satu foto yang ditunjukkan Anggrek tadi.

“Aku sudah berbaik hati tidak menceraikanmu setelah tahu kamu selingkuh. Seharusnya kamu berterima kasih padaku dasar murahan.” Cacian Rian menusuk hati Tiara semakin dalam.

Tangannya terangkat hingga bunyi tamparan terdengar keras di kamar ini. Tiara ingin membalas cacian Rian lebih keras. Namun ia segera menghela nafas. ‘Aku harus bisa bertindak elegan. Balas Mas Rian dan Dina dengan cara cerdik. Bukan dengan cara bar-bar.’

“Kamu menamparku?” Rian menatap nyalang dengan tangan mengusap pipinya yang panas.

“Iya. Kamu menuduhku selingkuh dan mengataiku murahan tanpa membuktikan kebenaran foto ini,” bantah Tiara tidak terima.

“Aku sudah mencari kebenarannya dengan pergi ke pakar telematika. Seorang ahli mengatakan bahwa semua foto itu asli.”

“Siapa ahli yang kau temui. Dia pasti palsu karena tidak bisa membedakan foto editan dan foto asli.” Tiara tidak mau kalah. Dia memperlihatkan foto yang ia pegang ke hadapan Rian.

“Lihat baik-baik tangan wanita di foto ini lalu bandingkan dengan tanganku. Apakah ada yang berbeda?” tanya Tiara membuat Rian memperhatikan foto itu dan istrinya bergantian.

“Aku punya tanda lahir abstrak berwarna merah di atas siku. Sedangkan wanita di foto ini tidak punya. Seharusnya kamu bisa membedakannya dengan mudah karena kita sudah menikah tiga belas tahun.” Tiara melempar foto itu ke wajah Rian. Seperti yang Rian lakukan tadi.

“Ta—tapi,” ujar Rian bingung.

“Tidak mungkin. Pakar telematika yang kutemui tidak mungkin salah.”

“Kalau begitu kita buktikan besok. Kau tinggal pilih, kita buktikan pada adik iparmu atau minta rekomenadasinya untuk menghubungi ahli yang lain.”

“Kita akan bertemu dengan orang yang sama. Dia akan menjelaskannya padamu.”

“Tidak mau. Mungkin di toko service besok aku bisa menanyakan apa ada ahli yang lain. Jika tidak kita buktikan lain waktu. Aku sendiri yang akan mencari pakar telematika lain untuk membuktikan jika aku tidak bersalah.”

“Bagaimana jika kamu yang bersalah? Apa kamu bersedia mengakui kesalahanmu di depan keluarga kita?” tanya Rian menantang.

Detak jantung Tiara meningkat. Dia gugup. Tantangan Rian bisa merugikan untuknya. Namun melihat seringai mengejek di wajah sang suami, membuat keberanian Tiara kembali muncul.

“Aku tidak akan melakukannya karena aku tidak bersalah. Lalu apa yang akan kamu lakukan jika aku yang benar?” Tiara melipat tangannya di dada. Menantang balik.

“Apa kamu berani mengakui perselingkuhanmu dan Dina di depan Ayah dan Ibu? Sekalian minta restu akan menjadikannya istri kedua.”

“Kamu?” geram Rian marah.

“Jangan mengungkit hal itu lagi. Jika tidak aku akan menceraikanmu dan mengambil hak asuh anak-anak,” gertak Rian lagi.

Tidak seperti sebelumnya, Tiara tidak gentar sama sekali. Dia menerima perlakuan Rian karena tidak tahu apa salahnya. Sekarang setelah tahu penyebab Rian berubah karena hasutan Dina, Tiara merasa di atas angin. Dia yakin bisa mendapat hak asuh anak jika memberi tahu adik iparnya.

“Silahkan saja. Aku tidak takut. Sudah dua kali kamu mengancamku dengan kata cerai. Walau tidak tahu hukum pastinya, mungkin saja sudah jatuh talak Mas. Hati-hati dalam berucap atau kita akan benar-benar berpisah. Aku tunggu besok pagi untuk membuktikan tuduhanmu dan Dina padaku.” Tiara berbalik pergi. Puas mengatakan kekesalan hatinya pada sang suami.

***

Keesokan harinya, Tiara melakukan aktivitas seperti biasa. Menyiapkan sarapan, mengantar anak-anak ke sekolah lalu pulang lagi ke rumah. Sejak tadi pintu kamar Rian masih tertutup. Tiara tidak membangunkan Rian setelah dia tahu apa yang dilakukan sang suami di belakangnya.

Jarum jam terus berputar hingga menunjukkan pukul sembilan. Sesuai janjinya dan Rian kemarin, seharusnya hari ini mereka pergi ke toko service ponsel untuk membuktikan tuduhan Dina padanya. Namun Rian tidak mengirim pesan dimana alamat toko itu.

Dia memutuskan membuka kamar Rian. Kosong. Tidak ada siapapun disana. Tas kerja Rian juga tidak ada ditempatnya. Itu berarti Rian sudah berangkat kerja. Ia mengirim pesan pada Rian untuk memastikan dimana alamat toko itu.

[Kita jadi pergi ke toko service atau tidak?]

Tidak lama kemudian ada pesan masuk dari Rian. Matanya membulat saat melihat foto yang dikirim, membaca caption yang tertera dengan hati-hati.

[Apapun yang terjadi aku tidak akan percaya padamu. Tidak mungkin Dina berbohong. Untuk apa membuktikannya? Jangan hubungi aku dulu. Kami sibuk mempersiapkan pernikahan.]

Foto itu menunjukkan Dina bersama wanita berhijab memakai baju pengantin. Rian mengirim pesan lagi yang memperjelas tebakan Tiara.

[Lihatlah betapa cantiknya Dina saat memakai baju pengantin. Tidak sebanding denganmu saat kita menikah. Barang baru memang terlihat beda dengan barang bekas. Terlihat sangat berkelas.]

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 7

    Tiara hanya tersenyum. Ternyata Rian tidak berani membuktikan semua tuduhan Dina padanya. Mulai dari tuduhan Dina kalau dia sudah mengadu pada ibu mertua sampai tuduhan Dina tentang foto-foto tidak senonoh dengan wajahnya.“Walau tanpa dirimu, aku akan membuktikannya sendiri Mas.” Tiara keluar dari kamar sambil menyimpan semua foto yang Rian kirim ke G****e Drive lalu membalas pesan Rian.[Kalian memang pengecut karena tidak mau membuktikan semua tuduhan Dina padaku. Oh iya, selamat untuk pernikahan kalian yang akan datang. Aku akan membuktikan jika aku bukan barang bekas. Walau Dina itu barang baru, tetap saja murahan. Mana ada wanita berkelas yang menjadi pacar suami orang? Kalian berdua adalah pasangan yang cocok. Pengecut dan murahan.]Tiara memasukan ponselnya ke saku. Dia harus menjaga Nana yang bermain sendiri di ruang tengah. Pekerjaan rumah sudah selesai. Tiara duduk di sofa membuat bab baru untuk novel online. Sembari mengawasi Nana yang bermain boneka barbie. TV yang menyala

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-01
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 8

    “Alhamdulillah,” seru Tiara senang.“Saya bisa memberi pernyataan lisan tentang kepalsuan foto ini.” Haris memberikan ponsel dan foto yang yang sudah dicetak. Menjadi satu dengan foto yang dibawa Tiara. Pria itu tidak bertanya banyak hal. Hanya menjalankan pekerjaannya secara professional. Meski pekerjaan utamanya adalah guru.“Terima kasih banyak Pak. Berapa biaya yang harus saya bayar?”“Anda bisa membayar pada kasir yang berjaga di lantai satu. Saya sudah mengirim jasa konsultasi anda padanya,” jawab Haris ramah.Tiara diam. Dia ingat dengan ponsel rahasia Rian yang ia bawa di tas. Wanita itu mengambil ponsel Rian lalu memberikannya pada Haris. “Tolong buka kata sandi ponsel ini. Biayanya bisa digabung dengan jasa pemeriksaan foto.”Mata Haris terbelalak begitu layar ponsel menyala. Namun pria itu tidak bertanya apapun. Dia bisa membuka kode sandi ponsel dengan mudah lalu memberikannya lagi pada Tiara. “Sudah terbuka.”“Terima kasih Pak. Saya permisi dulu.”“Sama-sama Bu.”Hatinya s

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-02
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 9

    “Assalamualaikum Nduk,” sapa ibu mertuanya yang bernama Bu Mirna.“Eh. Assalamualaikum Ayah, Ibu.” Tiara menyalami mertuanya.“Waalaikumsalam.”Mereka masuk ke rumah. Tiara mengunci pintunya lagi. Meski heran dengan kedatangan mertuanya yang mendadak, Tiara tetap bersikap tenang. Apalagi Bu Mirna baru mengirim pesan kalau dia baru bisa datang minggu depan karena harus rewang di rumah tetangga.“Bangunkan Rian Nduk. Ayah ingin berangkat salat di masjid dengannya. Kami naik dulu buat menata barang di kamar.”“Iya Yah.”Setelah memastikan mertuanya naik ke lantai dua, Tiara masuk ke kamar Rian. Dia memperhatikan Rian yang masih terlelap. Kilas balik kejadian beberapa tahun lalu seperti film yang terputar di kepalanya.Setelah Rian memperingatinya untuk tidak memberi tahu masalah mereka pada Pak Joko dan Bu Mirna, wanita itu memilih diam. Dua hari kemudian mertuanya datang ke rumah. Sikap Rian berubah seperti semula. Perhatian dan penyayang. Anak-anak sangat senang karena sikap ayah mereka

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-04
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 10

    “Iya Bu,” jawab Tiara. Ia merasa heran karena ibu mertuanya terdengar membenci Dina saat membicarakan nama wanita itu.“Kenapa Rian bisa berubah Nduk? Apa yang sudah wanita itu lakukan hingga mempengaruhi Rian?” tanya Bu Mirna penasaran.Tiara menunjukkan foto dengan wajahnya dan pria asing. Dengan suara lirih, Dina menceritakan temuannya tentang foto-foto ini lalu membawanya ke pakar telematika. Tidak lupa wanita itu juga menunjukkan bukti yang diberikan Haris jika foto itu sudah diedit. Tiara bukan wanita yang ada dalam foto.“Dasar bodoh. Bisa-bisanya Rian lebih percaya dengan wanita itu tanpa menanyakannya lebih dulu padamu,” geram Bu Mirna tidak habis pikir.“Padahal dulu Rian sudah menuruti permintaan Ibu untuk menjauhi Dina. Kenapa sekarang dia lebih percaya dengan wanita itu.” Bu Mirna mengusap wajahnya kesal. Pandangannya tertuju pada tembok.“Mungkin Mas Rian memang tidak bisa melupakan Dina, Bu. Dia menikahiku hanya sebatas pelarian. Saat mantan pacarnya memberikan bukti pal

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-05
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 11

    Tiara segera pergi saat Dina berbalik. Dia tidak tahu apa minuman yang ingin diberikan Dina pada mertuanya, tetapi ia punya firasat buruk jika minuman itu mengandung racun. Wanita itu duduk disamping Bu Mirna lalu berbisik, “Aku melihat Dina memasukan sesuatu ke botol air Bu. Sepertinya ada yang aneh.” “Wanita itu memang gila. Kamu jangan minum air yang Dina berikan Nduk,” bisik Bu Mirna. Tidak lama kemudian Dina datang. Ia meletakan empat botol air di meja. “Maaf kalau saya mengganggu. Sebagai permintaan maaf, saya hanya bisa memberikan botol air.” “Tidak perlu. Kita langsung bicara pada intinya. Apa yang hendak kalian lakukan dengan pria ini?” sela Pak Joko menunjuk pria misterius yang duduk di bawah. “Setidaknya berterima kasihlah pada Dina, Yah,” ujar Rian tidak terima pacarnya diabaikan. Rian seperti buta karena cinta hingga terus membela Dina. “Jangan bertele-tele. Apa yang sedang kalian rencanakan?” Pak Joko tidak peduli dengan keluhan Rian. Tiara tersenyum sinis menatap

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-06
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 12

    “Tidak mungkin Bu. Untuk apa Dina memberikan guna-guna,” bantah Tiara tidak percaya.“Ibu sudah mengira jika kamu tidak bisa percaya begitu saja. Namun ini kenyataannya Nduk. Lima belas tahun lalu Dina pernah membuat Rian kabur dari rumah karena kami tidak setuju dengan hubungan mereka. Ibu mencari tahu siapa Dina. Orang tuanya bekerja di sawah milik dukun.”“Hanya itu Bu?” tanya Tiara skeptis.“Setelah kami cari tahu, orang tua Dina juga suka berhutang. Banyak rentenir dan orang bank yang menunggu di depan rumah. Ibu tidak ingin Dina menikah dengan Rian karena takut wanita itu hanya memaanfaatkan kekayaan kami. Sehari setelah kami menolak hubungan mereka, Rian kabur dari rumah. Kami membiarkan untuk memberi pelajaran bahwa tidak semua keinginan anak harus dituruti,Meski begitu, Ayah tetap meminta bantuan pada saudara yang menjadi polisi untuk melacak keberadaan Rian. Belum sempat kami melakukan pencarian, dia pulang ke rumah. Minta maaf dan memohon restu untuk hubungan mereka. Ibu t

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-12
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 13

    Pandangan Tiara berkunang-kunang, kepalanya pusing, perlahan pandangannya gelap. Rian yang melihat Tiara pingsan hanya bisa terpaku. Dia tidak menyangka bisa menampar sang istri seperti tadi. Di belakang Rian, Dina tersenyum puas. Tidak ada belas kasihan di wajah bengisnya.“Ibu.” Teriakan Lily dan Nana membuat Rian mundur. Tubuhnya bergetar ketakutan. Begitu juga Dina yang tidak menyangka ada saksi yang melihat. Belum sempat Rian bereaksi, ia melihat Anggrek berlari keluar.“Tolooooong. Tolong Ibu saya,” teriak Anggrek membuat banyak warga datang ke rumah mereka.Dina berlari, sembunyi di kamar Rian. Sedangkan Rian segera menggotong tubuh Tiara. “Tolong saya Pak. Kita bawa Tiara ke Puskesmas sekarang.”Hatinya benar-benar cemas. Tidak pernah terbersit dalam pikiran Rian akan membuat Tiara celaka. Syukurlah Tiara sadar begitu mereka tiba di IGD. Jarak rumah ke Puskesmas yang cukup dekat membuat Tiara cepat tertolong. Wanita itu sudah sadar saat kepalanya diobati. Kain kasa menempel di

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-13
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 14

    “Biar aku pesan taksi online Bu.” Suara Anggrek memecah keheningan yang dingin. Tiara menghela nafas.‘Seharusnya aku tidak minta tolong pada Mas Rian,’ batin wanita itu pilu.Anak-anak melihat kekejaman ayah mereka lagi. Hati Tiara semakin nelangsa. Pikirannya kalut. Badan Nana sangat panas, tetapi Rian tidak mau mengantar putrinya ke rumah sakit hanya karena ingin bulan madu dengan Dina. Tidak lama kemudian taksi yang dipesan Anggrek datang.“Itu mobilnya.”“Cepat banget Kak.”“Iya Bu. Untung ada sopir paling dekat yang mengambil pesanan kita.” Anggrek menggandeng tangan Lily. Mereka masuk ke kursi belakang.Tiara menyebut nama rumah sakit terdekat agar Nana segera ditangani. Saat mobil berhenti di lampu merah, Tiara melihat mobil Rian yang berhenti disampingnya. Wanita itu mengalihkan wajah saat mendengar Rian menyebut nama Dina di telepon.“Kak Anggrek tolong hubungi Tante Riska dan Uti. Ibu butuh bantuan mereka.”“Iya Bu.” Anggrek mengirim pesan pada tante dan utinya.Ia menghela

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-14

Bab terbaru

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 94

    Tiara mengkerutkan kening heran. Mertuanya sudah tahu? Matanya mengerjap bingung. Wanita itu tidak tahu harus merespon bagaimana. “Ehm. Ibu tahu darimana?” tanya Tiara gugup bercampur malu.“Dari ibumu. Kemarin malam sebelum tidur beliau telepon bertanya apa kamu sudah bicara tentangy keputuasnmu setelah mendengar nasihat bapakmu. Ibumu juga menceritakan semuanya,” kata Bu Mirna menghentikan kegiatannya.Wanita paruh baya itu menatap sang menantu dalam. Penuh kasih sayang dan kelembutan. Setelah semua makanan tersaji di atas meja dan bekal untuk anak-anak siap, Bu Mirna meraih tangan Tiara dalam genggamannya.“Baik kamu berpisah dari Rian atau tidak, Ibu tetap menganggap kamu sebagai menantu dan anak Ibu sendiri. Namun dengan kamu memberi maaf pada Rian, entah kenapa membuat Ibu merasa sangat senang sekali. Karena kamu sudah mulai menghilangkan segala beban kebencian di hatimu,” kata Bu Mirna panjang kali lebar.Tiara mengangguk dengan air mata haru yang menggenang di pelupuk matanya.

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 93

    Dada Rian berdetak semakin kencang. Mulutnya terbuka lebar dengan mata menganga. Dia masih menatap tidak percaya perkataan Tiara tadi. Sang istri setuju untuk mengikuti saran bapaknya? Rasanya Rian ingin berteriak kesenangan saat ini juga. Namun tubuhnya seperti kaku dan tidak bisa digerakan sama sekali. Seolah ia sudah berubah menjadi patung.“Kamu baik-baik saja Mas?” tanya Tiara khawatir melihat respon sang suami yang seperti ini. Wanita itu melambaikan tangan di depan Rian berulang kali.Rian menggeleng lalu mengangguk. Pria itu menepuk pipinya berulang kali agar bisa meyakinkan diri kalau semua yang terjadi di depannya memang nyata. Akhirnya Rian bisa bergerak. Dengan gerakan sangat cepat hingga hampir tidak tertangkap mata, Rian mendekap erat tubuh sang istri. Membawa Tiara dalam pelukannya yang hangat.“Terima kasih banyak sayang. Terima kasih banyak untuk kesempatan keduanya,” kata Rian terharu. Dia tidak bisa lagi membendung air matanya yang berdesakan ingin keluar. Rian mera

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 91

    Rian turun dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Dia menunaikan salat tahajud saat Tiara tengah sibuk mengetik novel dengan menggunakan ponselnya. Pria itu sama sekali tidak berniat mengganggu kesibukan sang istri. Dia justru mengambil kitab suci lalu mengaji dengan suara pelan.Meskipun sedang menjalankan kegiatan masing-masing, bukan berarti Rian dan Tiara lupa akan keberadaan satu sama lain. Mereka tetap sadar tengah berada di ruangan yang sama. Hingga tidak terasa adzan subuh berkumandang dari masjid terdekat."Aku pergi ke masjid dulu Ra," kata Rian bangkit lalu memasukan kitab suci ke rak lemari paling atas."Iya Mas," jawab Tiara sangat pelan yang hampir serupa dengan bisikan. Walaupun begitu Rian masih bisa tetap mendengar suara sang istri.Rian melangkah keluar. Membuka dan menutup pintu dengan suara perlajan. Meskipun bunyi derit pintunya tetap terdengar. Setelah sosok sang suami hilang dibalik pintu, Tiara menghela nafas lega. Dari luar terdenga

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 90

    “Ba—bagaimana bisa? Siang ini saya tidak sengaja bertemu dengan Dina di dalam sebuah mobil mewah yang kemungkinan besar milik Bu Aurel. Saat mata kami tidak sengaja berpandangan, dia terus memanggil namaku,” ucap Tiara tidak percaya.Rian, Pak Joko dan Bu Mirna hanya diam mendengarkan. Mereka ingin mendengar balasan Ustad Aba dan Ustad Abi tentang masalah ini. Pasalahnya menurut Rian, dia juga yakin Dina tidak akan bisa melakukan apapun dibawah pengawasan Aurel yang akan balas dendam padanya.“Benar. Itu bisa saja terjadi. Seperti yang saya katakan tadi kalau Bu Dina bisa mengganggu anda karena rumah ini memang pernah diganggu. Namun untuk masalah dia tidak bisa kabur dari orang yang mengurungnya, saya rasa ada hal lain yang anda semua tidak tahu. Dan saya rasa anda semua memang tidak perlu tahu kenapa Bu Dina tidak bisa kabur dari sana. Lebih banyak tidak tahu akan lebih baik untuk kita,” jawab Ustad Abi berteka-teki.Entah kenapa Rian dan Tiara seketika punya pikiran yang sama. Jika

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 89

    Mata Tiara terbelalak tidak percaya mendengar perkataan ibu mertuanya. Dina juga bemain dukun sekarang. Tidak lagi hanya menjadi perantara orang tuanya. Itu berarti gangguan yang sempat ia alami tadi karena ulah Dina. Bagaimana bisa? Padahal Tiara ingat kalau sore ini dia baru melihat Dina di dalam mobil mewah.Layaknya seorang sandera yang tidak kabur. Namun di jaman modern seperti ini. Bisa saja Dina meminta lewat telepon atau pesan pada dukun itu untuk melakukan guna-guna pada Tiara dan keluarganya. Begitulah pikiran wanita itu.“Rian tadi juga mengalami kejadian aneh saat kami akan pergi ke rumah Rian dan Riska. Masa dia melihatg bapaknya Dina mengintip dari balik. Itukan tidak mungkin,” kata Bu Mirna lagi.“Oh begitu,” balas Tiara mengangguk dengan pandangan kosong.“Ibu tidak tahu apa yang terjadi. Sepertinya kamu mengalami hal yang buruk saat pulang lebih dulu tadi,” ujar Bu Mirna mengusap bahu sang menantu dengan sayang. Layaknya ibu kandung pada putrinya. Terlihat sekali keak

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 88

    Dua ustad yang datang bersama mereka itu mulai membersihkan rumah dengan bacaan ayat suci alquran. Di dalam mobl, Rian dan ketiiga putrinya menungu dengan harap-harap cemas. Pasalnya mereka bisa mendengar suara berisik dari dalam ruumah. Rian menggeleng karena dia paham kalau suaara itu berasal dari teras depan rumah mereka.Tidak lama kemudian dia melihat dua ustad itu masuk rumah bersama Pak Joko. Sedangkan Bu Mirna berjalan ke arah mobil, membuka pintu lalu duduk di kursi depan. Rian menaap sang iibu penasaran.“Bagaimana Bu? Apa proses pembersihannya sudah selesai?” tanya Rian penasaran dengan hasilnya.“Belum. Pak Ustad mengatakan kalau mereka baru membersihkan area teras karena disanalah tempat ukun Deri dan anak buahnya menebar guna-guna walaupun saat itu tidak berhasil. Setelahnya Ibu tidak begitu paham apa yang terjadi,” kata Bu Mirna menjelaskan.Rian mengangguk paham dengan penjelasan sang ibu. Entah kenapa perasaannya tidak nyaman. Dia ingin turun sekarang juga dan menghen

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 87

    Saat Rian tengah menghabiskan waktu dengan anak-anak dan keponakannya, Tiara merebahkan diri tidur di kasurnya. Dia sibuk mengetik bab novel baru di ponsel. Daripada sibuk tidak melakukan pekerjaan apapun. Tubuhnya juga lelah karena tadi sibuk melakukan video call dengan Bu Mirna untuk melihat perkembangan anak-anak dan suaminya.Sore harinya Tiara pamit pulang ke rumah. Lagi-lagi di jalan dia bertemu dengan mobil yang sama. Di dalamnya ada Dina yang duduk di kursi belakang. Kali ini wajah mereka berpandangan. Mata Dina membulat. Wanita itu beringsut maju. Menempelkan tubuhnya ke jendala.Tiara mengalihkan pandangan. Syukurlah lampu lalu lintas yang awalnya merah sudah berubah menjadi hijau. Tiara segera melajukan motornya pergi. Dia tidak mau bertemu lagi dengan Dina. Apalagi sampai bicara.“Tunggu dulu Tiara. Tunggu akuuuuu,” teriak Dina menggema di jalan yang ramai dengan lalu lalang kendaraan.Dari kaca spion Tiara melihat Dina yang berhasil keluar dari mobil tengah berlari mengej

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 86

    Rian berjalan mendekat. Dadanya berdegup kencang begitu ia berhasil melihat siapa orang yang tengah mengintipnya. Tubuh Rian terlonjak ke belakang saat melihat sosok yang tidak seharusnya berada disana. Bapak Dina.Perawakannya masih sama seperti dulu. Tubuh tinggi besar. Hanya saja matanya jadi dua kali lipat lebih besar. Tidak hanya sekedar sedang melotot. Belum lagi dengan wajah bapak Dina yang sangat pucat. Kulitnya seputih kapas.Tanpa sadar tubuh Rian bergetar ketakutan. Dia terus membaca surat-surat pendek yang ia hafal. Namun sosok bapak Dina masih membungkuk di sebrang pagar. Menatapnya tajam rengan bola mata yang melotot. Sabgat mengerikan.Langkahnya terus mundur menuju teras. Dia ingin masuk ke dalam rumah sekarang juga. Namun tubuh Rian terasa kaku. Tidak bisa digerakkan. Mulutnya terbuka. Hendak berteriak minta tolong pada kedua orang tuanya yang berada di dalam. Lagi-lagi Rian tidak bisa melakukannya karena mulutnya seperti terkunci."Apa yang sedang kamu lakukan Yan? K

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 85

    Nafas Rian kembali tercekat untuk yang kedua kalinya. Membaca synopsis novelnya saja sudah menyedihkan. Ceritanya tidak beda jauh dari buku pertama yang tadi ia baca. Tentang keluarga yang tercerai berai karena tokoh antagonis. Rian tidak sadar saat memilih buku tadi. Baginya dia hanya mengambil buku yang sampulnya menarik untuk dibaca.“Oke kita mulai baca buku pilihan Kak Lily. Jadi suatu hari ada keluarga pohon cemara yang berada di atas hamparan salju Gunung Fuji,” kata Rian memulai ceritanya.Dibalik pintu Bu Mirna dan Pak Joko masih setia mengintip. Apalagi Bu Mirna yang tidak lelah memegang ponsel agar Tiara bisa ikut melihat saat mereka sedang melakukan panggilkan video call. Tidak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Itu berarti dua jam berlalu sejak Rian membacakan semua buku cerita yang ia beli untuk kedua putrinya.Pak Joko dan Bu Mirna bergantian memegang ponsel agar Tiara bisa melihat semuanya. Setelah Tiara mengangkat tangan sebagai tanda b

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status