Share

Bab 2

Penulis: Alita novel
last update Terakhir Diperbarui: 2024-09-29 22:09:13

Mata Tiara membulat. Ia tidak menyangka Rian akan mengatakan hal itu. Setelah selama ini sang suami bersikap acuh pada anak mereka. Tiara berkata, “Hak asuh anak di bawah umur pasti jatuh pada pihak ibu. Aku yang akan memenangkan hak asuh setelah kita berpisah.”

Bibir Rian sedikit terangkat. Tersenyum sinis menatap istri yang dulu sangat ia cintai. Rian melipat tangannya di dada. Bersandar ke pintu yang sudah diketuk anak-anak mereka. Terus memanggil Tiara.

“Ibu buka pintunya. Aku takut,” kata anak keduanya.

“Ibuuuu,” teriak si bungsu.

Tiara merangsek maju hendak membuka pintu. Rian menahan tangannya. Pria itu mendorong Tiara hingga terjepit diantara dinding dan tubuhnya. Tangan Rian mencengkram bahu Tiara hingga membuat sang istri meringis kesakitan. Namun Rian tidak melepaskannya. Dia menatap tajam Tiara.

“Aku juga bisa mendapat hak asuh anak-anak karena bekerja dan punya penghasilan besar. Tidak seperti kau yang hanya ibu rumah tangga. Jika kita berpisah dengan membawa anak-anak pergi, memang apa yang akan kau lakukan untuk memenuhi kebutuhan mereka? Kau sama sekali tidak punya uang Tiara. Orang tuamu juga tidak akan bisa membantu. Karena aku yang memberi uang jika keluargamu sedang kesulitan” Rian mengusap pipi Tiara lembut dengan senyum sinisnya. Perlahan tangan besar Rian mencengkram dagu Tiara erat.

“Pengadilan pasti mengabulkan gugatanku agar memenangkan hak asuh anak. Karena mereka memikirkan siapa orang tua yang punya banyak uang,” bisik Rian menakutkan.

Tubuh Tiara bergetar. Dia tidak memikirkan hal itu. Padahal Tiara sudah kerap melihat berita artis wanita yang kehilangan hak asuh anak mereka karena masalah uang. Rian melepas cengkramannya hingga tubuh Tiara luluh ke lantai. Pandangan Tiara kosong, pikirannya terasa buntu.

‘Apa yang harus kulakukan Ya Allah?’ batin Tiara menjerit pilu. Dia tidak mau dimadu. Keputusannya untuk berpisah murni karena Rian sudah berselingkuh hingga membawa wanita itu ke rumah ini.

Saat pengajuan gugatan cerai, Tiara akan menulis perselingkuhan Rian sebagai penyebab perpisahan mereka. Dengan begitu hak asuh anak akan jatuh ke tangannya. Tiara sama sekali tidak memikirkan tentang kondisinya yang tidak punya uang. Dia hanya ingin secepatnya berpisah dari Rian. Tinggal dengan ketiga anaknya lalu mencari pekerjaan. Suara dari kamar kembali menyadarkannya bahwa ada anak-anak disana.

“Cepat buat keputusan. Kau akan pergi tanpa membawa anak-anak atau menerima Dina sebagai adik madumu?” Tangan Rian terulur. Dia menunggu jawaban istrinya.

Tiara masih terdiam. Dia menatap uluran tangan sang suami. ‘Tidak ada pilihan lain. Aku harus bertahan sembari mencari cara mendapat uang dari rumah agar bisa berpisah dari Mas Rian.’

Setelah hatinya mantap, Tiara menggapai tangan Rian lalu berdiri. Pandangan suami istri itu bertemu. Ada berbagai rasa yang berkelindan dalam kepala mereka. Namun tidak ada rasa cinta sama sekali untuk satu sama lain. Hanya ada rasa sakit, cemburu dan marah. Bercampur menjadi satu.

“Baiklah aku terima kalau kau ingin menikah lagi dengan Dina, tetapi aku tidak mau tinggal satu atap dengannya.” Tiara melepas pegangan tangan mereka.

“Kau tidak perlu mengajukan syarat seperti itu. Cukup turuti perintahku untuk menerima Dina sebagai adik madumu.” Rian berdecih kesal.

“Aku tidak ingin anak-anak merasa bingung jika Dina tinggal bersama kita. Kalian pasti bermesraan di depan kami tanpa tahu tempat. Mereka sudah besar untuk bertanya kenapa kau menempel dengan wanita lain.”

“Cukup jelaskan jika sekarang mereka punya dua Ibu,” bantah Rian tidak mau kalah. Tiara balas tersenyum sinis.

“Kau memintaku untuk merahasikan pernikahan keduamu dari Ayah dan Ibu, tetapi ingin memberi tahu anak-anak. Apa kau waras Mas?” tanya Tiara sarkas. Rian melotot tajam mendengar hinaan sang istri.

“Anak-anak sangat dekat dengan Kakung dan Uti mereka. Namanya anak kecil tidak akan bisa menahan mulut untuk bercerita kalau kau sudah membawa wanita lain ke rumah ini. Apalagi dengan jelas mengatakan bahwa anak-anak punya ibu baru. Mereka pasti akan menceritakannya pada Ayah dan Ibu.” Tiara merasa di atas angin. Dia harus segera bernegosiasi agar bisa membukakan pintu untuk anak-anak.

“Baiklah. Aku tidak jadi membawa Dina tinggal di rumah ini.” Rian memberikan kunci kamar pada Tiara. Dengan cepat wanita itu membuka pintu lalu memeluk anak kedua dan ketiganya.

“Maafkan Ibu ya.” Tiara membawa kedua anaknya masuk ke kamar si sulung. Sedangkan Rian turun ke bawah.

Setelah berhasil menenangkan anak-anaknya lalu salat dhuhur bersama, Tiara duduk di tepi ranjang. Menatap kedua anaknya yang tengah tidur pulas. Sebentar lagi dia harus pergi untuk menjemput si sulung. Namun pikiran yang sedang rumit membuat tubuh Tiara sangat lemas.

“Aku tidak boleh lemah meski dipoligami. Apa yang harus kulakukan?” Tiara memijat keningnya bingung.

Pikirannya terasa buntu. Tiara tidak tahu harus melakukan apa untuk mencari kerja. Mengingat kembali kemesraan Rian dan Dina tadi membuat hatinya sakit. Jika terus begini, Tiara takut jika dia jadi gila. Hal itu akan berpengaruh pada anak-anak.

Lalu, bagaimana jika anak-anak tahu tentang pernikahan Rian dan Dina? Mereka pasti akan semakin sedih. Tanpa sadar air matanya kembali mengalir. Tiara menekuk lutut. Menyembunyikan wajahnya disana. Dia menggigit bibir, menahan isak tangis agar tidak terdengar anak-anak.

“Keluar sekarang Ra. Ada yang mau aku bicarakan denganmu.” Suara Rian terdengar dari luar kamar. Tiara mendongak. Dia menghapus air matanya lalu turun dari tempat tidur. Berjalan untuk membuka pintu.

“Ada apa?” tanya Tiara tak acuh.

“Siapkan surat perjanjian yang harus kita tanda tangani. Asal kau tidak memberitahu orang tuaku tentang Dina.” Rian bersedekap. Wajahnya sangat serius. Mata Rian yang berbentuk almond menatapnya tajam. Tiba-tiba sebuah ide terlintas.

“Baik. Akan aku kirim lewat WA. Tolong urus dengan notaris jadi aku tinggal menandatanganinya.”

“Bagus. Aku harap kau menepati semua yang tertulis dalam surat perjanjian kita. Jika tidak aku yang akan menceraikanmu dan mengambil hak asuh anak-anak.” Ancam Rian dengan nada tajam. Tiara hanya tersenyum sinis.

“Tenang saja. Aku tidak akan memberi tahu Ayah dan Ibu. Namun jangan salahkan aku jika mereka tahu dari orang lain. Kalau sudah selesai, aku pamit mau menjemput Anggrek di sekolah,” kata Tiara menyebut nama anak sulungnya.

Rian masih berdiri mematung di depannya. Tanpa mempedulikan sang suami, Tiara menutup pintu. Dia mengambil ponsel lalu mengetikan sejumlah syarat untuk Rian. Baru setelah itu dia memakai sweeter dan masker untuk menjemput anak sulungnya di sekolah. Tiara keluar dari kamar lalu turun ke lantai satu. Dia tidak melihat lagi keberadaan Rian dan Dina. Wanita itu segera pergi ke garasi. Rupanya mobil Rian sudah tidak ada disana.

“Kapan mereka pergi?” gumam Tiara heran.

Tiara mengeluarkan motor dari garasi lalu melaju di tengah jalan yang ramai dengan lalu lalang kendaraan. Hanya butuh waktu sepuluh menit hingga Tiara tiba di depan sekolah. Anak-anak kelas enam pulang setelah dhuhur karena harus mengikuti pelajaran tambahan menjelang ujian kelulusan. Meski sekarang sudah tidak ada Ujian Nasional lagi seperti saat Tiara masih sekolah dulu.

Ia menatap satu per satu siswa berseragam merah putih yang keluar dari gerbang. Tiara melambai begitu melihat keberadaan Anggrek. Putri kecilnya yang sudah beranjak remaja tingginya hampir sama dengan Tiara. Dengan rambut panjang yang diikat kuda, berkibar tertiup angin. Anggrek berlari menghampiri ibunya.

“Ibu,” sapa Anggrek riang. Anak itu menyalami tangan ibunya. Wajah Anggrek sangat mirip dengan Tiara saat masih kecil. Sedangkan perawakannya yang jangkung di usia dua belas tahun sangat mirip dengan Rian.

“Hai sayang. Bagaimana sekolahmu hari ini?” Tiara berusaha menyunggingkan senyum untuk si sulung. Tangannya mengangkat kacamata tanpa lensa yang bertengger di hidung. Kacamata yang selalu ia pakai jika naik motor.

“Alhamdulillah aku dapat nilai bagus Bu.” Anggrek memasang helm yang diberikan Tiara. Gadis kecil itu baru menyadari bahwa mata ibunya bengkak.

“Ibu menangis?” Anggrek yang peka segera bertanya. Tiara menggeleng. Walau tidak bisa menyembunyikan mata sembapnya, tetapi Tiara tidak ingin memberi tahu Anggrek sekarang.

“Nggak sayang. Hanya kelilipan. Ayo naik. Ibu takut adik-adikmu akan terbangun jika kita terlalu lama.”

“Iya Bu.”

***

Saat Tiara dan Anggrek sampai di rumah, Rian sudah duduk di ruang tengah. Wajah pria itu merah padam. Nafasnya cepat seolah Rian menahan amarahnya. Melihat kedatangan Tiara, Rian mendongak. Matanya menatap tajam dengan tangan yang terkepal erat di paha.

“Kamu naik dulu ya sayang. Ada yang mau Ibu bicarakan dengan Ayah.” Tiara mendorong tubuh anaknya agar naik ke lantai dua.

Setelah Anggrek tidak terlihat lagi, Rian berjalan dengan langkah lebar. Tangannya terayun, menampar Tiara hingga tubuh istrinyta terhuyung ke belakang. Rian mencengkram bahu Tiara erat.

“Bukankah sudah kubilang jangan mengadu pada Ayah dan Ibu hah? Karena kamu, Ibu menelepon Dina dan memaki-makinya.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
bertahanlah dg semua kelemahanmu tiara. tamparan dan cacian akan jadi santapanmu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 3

    Tiara membeku. Kejadian yang berlalu sangat cepat membuat Tiara tidak bisa berpikir. Tiba-tiba Rian menamparnya lalu menuduh sudah mengadu pada ibu mertuanya. Tiara tidak senekat itu karena mengetahui kondisi kesehatan ibu mertuanya. Karena Tiara juga sudah menganggap ibu Rian sebagai ibu kandungnya sendiri.“Aku tidak pernah mengadu pada Ibu kalau kau akan menikah dengan Dina.” Tiara menatap Rian marah. Dia tidak gentar sama sekali dengan kemarahan sang suami.“Jangan bohong. Dina sampai stres karena makian Ibu. Selain itu, kamu juga tidak memikirkan kondisi Ibu saat memberi tahu hubunganku dan Dina.” Rian mencengkram bahu Tiara semakin erat. Wanita itu berusaha menahan erangan sakitnya.Dia memilih bertahan menerima perlakuan buruk ini, untuk mendapat bukti kekerasan fisik yang sudah dilakukan sang suami. Meski hatinya terasa sangat sakit, Tiara berusaha tegar. Matanya balas menatap tajam. “Aku berkata jujur. Kalau kau tidak percaya periksa saja ponselku. Buka semuanya. Mulai dari W

    Terakhir Diperbarui : 2024-09-30
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 4

    Tiara menggeleng. Dia berlutut lalu mengumpulkan semua bukti yang berserakan. Dadanya berdebar penuh ketakutan. ‘Bagaimana kalau Anggrek juga percaya wanita di foto ini adalah aku?’ batinnya bergejolak.Dia tidak mau jika anak sulungnya ikut membenci Tiara tanpa mengkonfirmasi dulu kebenarannya. Seperti yang dilakukan Rian. Tubuhnya kaku saat Anggrek ikut berjongkok. Mengambil salah satu foto dan memperhatikannya dengan seksama. Tiara terlalu takut untuk menatap anaknya. Dia masih berada di posisi semula. Saat Anggrek berdiri, Tiara juga berdiri. Keheningan yang aneh melingkupi kamar. Wanita itu tidak berani bicara. Ia menghela nafas berulang kali. Mengumpulkan kekuatan agar bisa menjelaskan semuanya pada si sulung.“Ibu bisa jelaskan sayang.” Tangannya mengusap bahu Anggrek.Anggrek masih diam. Dia justru memperhatikan tangan Tiara. Rasanya dia ingin pergi saat ini juga, tetapi Tiara terus menguatkan hatinya agar bisa menjelaskan kesalahpahaman ini pada Anggrek. Tiara juga takut jika

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-01
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 5

    Tiara menggeleng. Dia menyembunyikan getar tangannya dibalik punggung. “Tidak. Bagaimana aku bisa masuk jika kamar selalu kau kunci?”“Jangan bohong. Tadi pagi aku meninggalkan ponsel di kamar. Karena terburu-buru aku tidak sempat mengambilnya dan lupa mengunci pintu. Siapa lagi yang akan mengambil ponsel itu selain kamu.”“Kalau tidak percaya periksa saja kamar ini. Geledah semuanya.” Tantang Tiara seolah tidak ada ponsel Rian yang ia sembunyikan.Rian mendengkus kesal. Berjalan ke tempat tidur. Meraba setiap inci seprai. Memeriksa bantal dan guling. Membuka semua laci lalu kembali ke hadapan Tiara. “Minggir.”Pria itu membuka lemari kanan. Memeriksa semua pakain Tiara yang tergantung. Lalu memeriksa pintu kiri. Mengeluarkan semua pakaian Tiara yang sudah terlipat rapi. Tiara hanya bisa menghela nafas. Mengambil semua pakaiannya lalu meletakan di tempat tidur. Saat berbalik, Tiara melihat Rian jongkok. Tubuh suaminya seperti mematung dengan pandangan tertuju pada kotak berisi foto pe

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-02
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 6

    Tiara menutup matanya. Air mata mengalir dari sela-sela jari. Dia tidak bisa lagi menahan tangis yang menyesakan dada. Masih terdengar suara Rian di kamar yang bicara dengan lembut untuk Dina. Berbeda saat pria itu bicara dengan Tiara dan anak-anak mereka. Datar dan dingin. Seolah mereka adalah orang asing untuk Rian.“Kamu pengertian sekali sayang. Padahal Ibu pernah berkata buruk padamu, tetapi kamu masih memikirkan kesehatan Ibu. Kamu benar. Aku harus memikirkan cara yang tepat agar tidak membuat penyakit jantung Ibu semakin buruk. Beliau pasti sangat terkejut kalau aku memberi tahu Tiara sudah selingkuh dengan pria lain.” Rian kembali bicara tentang ibunya.Ibu mertua Tiara divonis mengidap penyakit jantung lima tahun lalu. Seluruh keluarga kompak menjaganya agar penyakit ibunya Rian tidak kambuh. Termasuk tidak memberi tahu berita buruk yang terjadi. Karena itulah Rian selalu berpura-pura mesra dihadapan orang tuanya. Agar ibu mertua Tiara tidak curiga ada masalah di rumah tangga

    Terakhir Diperbarui : 2024-10-21
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 7

    Tiara hanya tersenyum. Ternyata Rian tidak berani membuktikan semua tuduhan Dina padanya. Mulai dari tuduhan Dina kalau dia sudah mengadu pada ibu mertua sampai tuduhan Dina tentang foto-foto tidak senonoh dengan wajahnya.“Walau tanpa dirimu, aku akan membuktikannya sendiri Mas.” Tiara keluar dari kamar sambil menyimpan semua foto yang Rian kirim ke G****e Drive lalu membalas pesan Rian.[Kalian memang pengecut karena tidak mau membuktikan semua tuduhan Dina padaku. Oh iya, selamat untuk pernikahan kalian yang akan datang. Aku akan membuktikan jika aku bukan barang bekas. Walau Dina itu barang baru, tetap saja murahan. Mana ada wanita berkelas yang menjadi pacar suami orang? Kalian berdua adalah pasangan yang cocok. Pengecut dan murahan.]Tiara memasukan ponselnya ke saku. Dia harus menjaga Nana yang bermain sendiri di ruang tengah. Pekerjaan rumah sudah selesai. Tiara duduk di sofa membuat bab baru untuk novel online. Sembari mengawasi Nana yang bermain boneka barbie. TV yang menyala

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-01
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 8

    “Alhamdulillah,” seru Tiara senang.“Saya bisa memberi pernyataan lisan tentang kepalsuan foto ini.” Haris memberikan ponsel dan foto yang yang sudah dicetak. Menjadi satu dengan foto yang dibawa Tiara. Pria itu tidak bertanya banyak hal. Hanya menjalankan pekerjaannya secara professional. Meski pekerjaan utamanya adalah guru.“Terima kasih banyak Pak. Berapa biaya yang harus saya bayar?”“Anda bisa membayar pada kasir yang berjaga di lantai satu. Saya sudah mengirim jasa konsultasi anda padanya,” jawab Haris ramah.Tiara diam. Dia ingat dengan ponsel rahasia Rian yang ia bawa di tas. Wanita itu mengambil ponsel Rian lalu memberikannya pada Haris. “Tolong buka kata sandi ponsel ini. Biayanya bisa digabung dengan jasa pemeriksaan foto.”Mata Haris terbelalak begitu layar ponsel menyala. Namun pria itu tidak bertanya apapun. Dia bisa membuka kode sandi ponsel dengan mudah lalu memberikannya lagi pada Tiara. “Sudah terbuka.”“Terima kasih Pak. Saya permisi dulu.”“Sama-sama Bu.”Hatinya s

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-02
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 9

    “Assalamualaikum Nduk,” sapa ibu mertuanya yang bernama Bu Mirna.“Eh. Assalamualaikum Ayah, Ibu.” Tiara menyalami mertuanya.“Waalaikumsalam.”Mereka masuk ke rumah. Tiara mengunci pintunya lagi. Meski heran dengan kedatangan mertuanya yang mendadak, Tiara tetap bersikap tenang. Apalagi Bu Mirna baru mengirim pesan kalau dia baru bisa datang minggu depan karena harus rewang di rumah tetangga.“Bangunkan Rian Nduk. Ayah ingin berangkat salat di masjid dengannya. Kami naik dulu buat menata barang di kamar.”“Iya Yah.”Setelah memastikan mertuanya naik ke lantai dua, Tiara masuk ke kamar Rian. Dia memperhatikan Rian yang masih terlelap. Kilas balik kejadian beberapa tahun lalu seperti film yang terputar di kepalanya.Setelah Rian memperingatinya untuk tidak memberi tahu masalah mereka pada Pak Joko dan Bu Mirna, wanita itu memilih diam. Dua hari kemudian mertuanya datang ke rumah. Sikap Rian berubah seperti semula. Perhatian dan penyayang. Anak-anak sangat senang karena sikap ayah mereka

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-04
  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 10

    “Iya Bu,” jawab Tiara. Ia merasa heran karena ibu mertuanya terdengar membenci Dina saat membicarakan nama wanita itu.“Kenapa Rian bisa berubah Nduk? Apa yang sudah wanita itu lakukan hingga mempengaruhi Rian?” tanya Bu Mirna penasaran.Tiara menunjukkan foto dengan wajahnya dan pria asing. Dengan suara lirih, Dina menceritakan temuannya tentang foto-foto ini lalu membawanya ke pakar telematika. Tidak lupa wanita itu juga menunjukkan bukti yang diberikan Haris jika foto itu sudah diedit. Tiara bukan wanita yang ada dalam foto.“Dasar bodoh. Bisa-bisanya Rian lebih percaya dengan wanita itu tanpa menanyakannya lebih dulu padamu,” geram Bu Mirna tidak habis pikir.“Padahal dulu Rian sudah menuruti permintaan Ibu untuk menjauhi Dina. Kenapa sekarang dia lebih percaya dengan wanita itu.” Bu Mirna mengusap wajahnya kesal. Pandangannya tertuju pada tembok.“Mungkin Mas Rian memang tidak bisa melupakan Dina, Bu. Dia menikahiku hanya sebatas pelarian. Saat mantan pacarnya memberikan bukti pal

    Terakhir Diperbarui : 2024-11-05

Bab terbaru

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 94

    Tiara mengkerutkan kening heran. Mertuanya sudah tahu? Matanya mengerjap bingung. Wanita itu tidak tahu harus merespon bagaimana. “Ehm. Ibu tahu darimana?” tanya Tiara gugup bercampur malu.“Dari ibumu. Kemarin malam sebelum tidur beliau telepon bertanya apa kamu sudah bicara tentangy keputuasnmu setelah mendengar nasihat bapakmu. Ibumu juga menceritakan semuanya,” kata Bu Mirna menghentikan kegiatannya.Wanita paruh baya itu menatap sang menantu dalam. Penuh kasih sayang dan kelembutan. Setelah semua makanan tersaji di atas meja dan bekal untuk anak-anak siap, Bu Mirna meraih tangan Tiara dalam genggamannya.“Baik kamu berpisah dari Rian atau tidak, Ibu tetap menganggap kamu sebagai menantu dan anak Ibu sendiri. Namun dengan kamu memberi maaf pada Rian, entah kenapa membuat Ibu merasa sangat senang sekali. Karena kamu sudah mulai menghilangkan segala beban kebencian di hatimu,” kata Bu Mirna panjang kali lebar.Tiara mengangguk dengan air mata haru yang menggenang di pelupuk matanya.

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 93

    Dada Rian berdetak semakin kencang. Mulutnya terbuka lebar dengan mata menganga. Dia masih menatap tidak percaya perkataan Tiara tadi. Sang istri setuju untuk mengikuti saran bapaknya? Rasanya Rian ingin berteriak kesenangan saat ini juga. Namun tubuhnya seperti kaku dan tidak bisa digerakan sama sekali. Seolah ia sudah berubah menjadi patung.“Kamu baik-baik saja Mas?” tanya Tiara khawatir melihat respon sang suami yang seperti ini. Wanita itu melambaikan tangan di depan Rian berulang kali.Rian menggeleng lalu mengangguk. Pria itu menepuk pipinya berulang kali agar bisa meyakinkan diri kalau semua yang terjadi di depannya memang nyata. Akhirnya Rian bisa bergerak. Dengan gerakan sangat cepat hingga hampir tidak tertangkap mata, Rian mendekap erat tubuh sang istri. Membawa Tiara dalam pelukannya yang hangat.“Terima kasih banyak sayang. Terima kasih banyak untuk kesempatan keduanya,” kata Rian terharu. Dia tidak bisa lagi membendung air matanya yang berdesakan ingin keluar. Rian mera

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 91

    Rian turun dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Dia menunaikan salat tahajud saat Tiara tengah sibuk mengetik novel dengan menggunakan ponselnya. Pria itu sama sekali tidak berniat mengganggu kesibukan sang istri. Dia justru mengambil kitab suci lalu mengaji dengan suara pelan.Meskipun sedang menjalankan kegiatan masing-masing, bukan berarti Rian dan Tiara lupa akan keberadaan satu sama lain. Mereka tetap sadar tengah berada di ruangan yang sama. Hingga tidak terasa adzan subuh berkumandang dari masjid terdekat."Aku pergi ke masjid dulu Ra," kata Rian bangkit lalu memasukan kitab suci ke rak lemari paling atas."Iya Mas," jawab Tiara sangat pelan yang hampir serupa dengan bisikan. Walaupun begitu Rian masih bisa tetap mendengar suara sang istri.Rian melangkah keluar. Membuka dan menutup pintu dengan suara perlajan. Meskipun bunyi derit pintunya tetap terdengar. Setelah sosok sang suami hilang dibalik pintu, Tiara menghela nafas lega. Dari luar terdenga

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 90

    “Ba—bagaimana bisa? Siang ini saya tidak sengaja bertemu dengan Dina di dalam sebuah mobil mewah yang kemungkinan besar milik Bu Aurel. Saat mata kami tidak sengaja berpandangan, dia terus memanggil namaku,” ucap Tiara tidak percaya.Rian, Pak Joko dan Bu Mirna hanya diam mendengarkan. Mereka ingin mendengar balasan Ustad Aba dan Ustad Abi tentang masalah ini. Pasalahnya menurut Rian, dia juga yakin Dina tidak akan bisa melakukan apapun dibawah pengawasan Aurel yang akan balas dendam padanya.“Benar. Itu bisa saja terjadi. Seperti yang saya katakan tadi kalau Bu Dina bisa mengganggu anda karena rumah ini memang pernah diganggu. Namun untuk masalah dia tidak bisa kabur dari orang yang mengurungnya, saya rasa ada hal lain yang anda semua tidak tahu. Dan saya rasa anda semua memang tidak perlu tahu kenapa Bu Dina tidak bisa kabur dari sana. Lebih banyak tidak tahu akan lebih baik untuk kita,” jawab Ustad Abi berteka-teki.Entah kenapa Rian dan Tiara seketika punya pikiran yang sama. Jika

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 89

    Mata Tiara terbelalak tidak percaya mendengar perkataan ibu mertuanya. Dina juga bemain dukun sekarang. Tidak lagi hanya menjadi perantara orang tuanya. Itu berarti gangguan yang sempat ia alami tadi karena ulah Dina. Bagaimana bisa? Padahal Tiara ingat kalau sore ini dia baru melihat Dina di dalam mobil mewah.Layaknya seorang sandera yang tidak kabur. Namun di jaman modern seperti ini. Bisa saja Dina meminta lewat telepon atau pesan pada dukun itu untuk melakukan guna-guna pada Tiara dan keluarganya. Begitulah pikiran wanita itu.“Rian tadi juga mengalami kejadian aneh saat kami akan pergi ke rumah Rian dan Riska. Masa dia melihatg bapaknya Dina mengintip dari balik. Itukan tidak mungkin,” kata Bu Mirna lagi.“Oh begitu,” balas Tiara mengangguk dengan pandangan kosong.“Ibu tidak tahu apa yang terjadi. Sepertinya kamu mengalami hal yang buruk saat pulang lebih dulu tadi,” ujar Bu Mirna mengusap bahu sang menantu dengan sayang. Layaknya ibu kandung pada putrinya. Terlihat sekali keak

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 88

    Dua ustad yang datang bersama mereka itu mulai membersihkan rumah dengan bacaan ayat suci alquran. Di dalam mobl, Rian dan ketiiga putrinya menungu dengan harap-harap cemas. Pasalnya mereka bisa mendengar suara berisik dari dalam ruumah. Rian menggeleng karena dia paham kalau suaara itu berasal dari teras depan rumah mereka.Tidak lama kemudian dia melihat dua ustad itu masuk rumah bersama Pak Joko. Sedangkan Bu Mirna berjalan ke arah mobil, membuka pintu lalu duduk di kursi depan. Rian menaap sang iibu penasaran.“Bagaimana Bu? Apa proses pembersihannya sudah selesai?” tanya Rian penasaran dengan hasilnya.“Belum. Pak Ustad mengatakan kalau mereka baru membersihkan area teras karena disanalah tempat ukun Deri dan anak buahnya menebar guna-guna walaupun saat itu tidak berhasil. Setelahnya Ibu tidak begitu paham apa yang terjadi,” kata Bu Mirna menjelaskan.Rian mengangguk paham dengan penjelasan sang ibu. Entah kenapa perasaannya tidak nyaman. Dia ingin turun sekarang juga dan menghen

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 87

    Saat Rian tengah menghabiskan waktu dengan anak-anak dan keponakannya, Tiara merebahkan diri tidur di kasurnya. Dia sibuk mengetik bab novel baru di ponsel. Daripada sibuk tidak melakukan pekerjaan apapun. Tubuhnya juga lelah karena tadi sibuk melakukan video call dengan Bu Mirna untuk melihat perkembangan anak-anak dan suaminya.Sore harinya Tiara pamit pulang ke rumah. Lagi-lagi di jalan dia bertemu dengan mobil yang sama. Di dalamnya ada Dina yang duduk di kursi belakang. Kali ini wajah mereka berpandangan. Mata Dina membulat. Wanita itu beringsut maju. Menempelkan tubuhnya ke jendala.Tiara mengalihkan pandangan. Syukurlah lampu lalu lintas yang awalnya merah sudah berubah menjadi hijau. Tiara segera melajukan motornya pergi. Dia tidak mau bertemu lagi dengan Dina. Apalagi sampai bicara.“Tunggu dulu Tiara. Tunggu akuuuuu,” teriak Dina menggema di jalan yang ramai dengan lalu lalang kendaraan.Dari kaca spion Tiara melihat Dina yang berhasil keluar dari mobil tengah berlari mengej

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 86

    Rian berjalan mendekat. Dadanya berdegup kencang begitu ia berhasil melihat siapa orang yang tengah mengintipnya. Tubuh Rian terlonjak ke belakang saat melihat sosok yang tidak seharusnya berada disana. Bapak Dina.Perawakannya masih sama seperti dulu. Tubuh tinggi besar. Hanya saja matanya jadi dua kali lipat lebih besar. Tidak hanya sekedar sedang melotot. Belum lagi dengan wajah bapak Dina yang sangat pucat. Kulitnya seputih kapas.Tanpa sadar tubuh Rian bergetar ketakutan. Dia terus membaca surat-surat pendek yang ia hafal. Namun sosok bapak Dina masih membungkuk di sebrang pagar. Menatapnya tajam rengan bola mata yang melotot. Sabgat mengerikan.Langkahnya terus mundur menuju teras. Dia ingin masuk ke dalam rumah sekarang juga. Namun tubuh Rian terasa kaku. Tidak bisa digerakkan. Mulutnya terbuka. Hendak berteriak minta tolong pada kedua orang tuanya yang berada di dalam. Lagi-lagi Rian tidak bisa melakukannya karena mulutnya seperti terkunci."Apa yang sedang kamu lakukan Yan? K

  • Bertahan Atau Dimadu?   Bab 85

    Nafas Rian kembali tercekat untuk yang kedua kalinya. Membaca synopsis novelnya saja sudah menyedihkan. Ceritanya tidak beda jauh dari buku pertama yang tadi ia baca. Tentang keluarga yang tercerai berai karena tokoh antagonis. Rian tidak sadar saat memilih buku tadi. Baginya dia hanya mengambil buku yang sampulnya menarik untuk dibaca.“Oke kita mulai baca buku pilihan Kak Lily. Jadi suatu hari ada keluarga pohon cemara yang berada di atas hamparan salju Gunung Fuji,” kata Rian memulai ceritanya.Dibalik pintu Bu Mirna dan Pak Joko masih setia mengintip. Apalagi Bu Mirna yang tidak lelah memegang ponsel agar Tiara bisa ikut melihat saat mereka sedang melakukan panggilkan video call. Tidak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Itu berarti dua jam berlalu sejak Rian membacakan semua buku cerita yang ia beli untuk kedua putrinya.Pak Joko dan Bu Mirna bergantian memegang ponsel agar Tiara bisa melihat semuanya. Setelah Tiara mengangkat tangan sebagai tanda b

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status