Suara di dapur terdengar nyaring karena Tiara tengah memasak untuk makan siangnya dan anak-anak. Sang suami yang bernama Rian, tengah dinas ke kantor pusat yang ada di Jakarta. Meninggalkan Tiara bersama tiga anak mereka yang masih kecil. Sudah satu minggu berlalu sejak Rian pergi. Suaminya tidak pernah menelepon. Hanya membalas pesan jika Tiara yang mengirim pesan lebih dulu.
Suara bel yang berbunyi nyaring membuat Tiara segera mematikan kompor. Kebetulan masakannya sudah matang. Tinggal menyajikan di meja makan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Dia berjalan melewati kedua anaknya yang tengah bermain di ruang tengah. Sedang si sulung masih berada di sekolah.
Rambut panjangnya yang dikuncir asal ke belakang sedikit berantakan. Tiara mencuci tangan lalu mengusapnya asal pada daster yang sudah lusuh. Ia berjalan menuju pintu depan. “Tunggu sebentar.”
Pintu perlahan terbuka menampilkan Rian yang sudah pulang. Senyum Tiara mengembang, hendak menyalami tangan suaminya. Namun tubuhnya membeku saat ia melihat wanita lain tengah bergelayut manja di lengan suamianya. Dada tiara berdegup kencang. Batinnya terus bertanya siapa wanita itu. Tangannya yang gemetar memegang pintu.
“Ayo masuk dulu.” Rian berjalan bersama wanita itu melewati Tiara yang masih terpaku dibalik pintu.
“Bawa anak-anak masuk kamar. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Perintah Rian santai.
Tiara ingin berteriak sekarang juga. Kenapa suaminya bisa dengan mudah membawa wanita lain masuk ke rumah mereka. Namun saat ingat tentang anak-anak, Tiara berusaha meredam amarahnya.
“Astaghfirullah.” Bibir Tiara bergetar mengucap kalimat istighfar. Dia tidak ingin terlihat marah di depan anak-anaknya. Ibu dari tiga anak itu tidak ingin anak-anak melihatnya pertengkaran orang tua mereka. Perlahan dia menutup pintu, berjalan menuju ruang tengah dimana Rian dan wanita itu duduk.
“Buatkan teh manis untuk kami setelah membawa anak-anak ke kamar,” ucap Rian santai. Mata Tiara tidak lepas dari wanita yang masih bergelayut manja di lengan suaminya.
Dia memperhatikan wanita cantik dengan mekap tebal. Rambut ikalnya menjuntai di bahu. Gaun yang ia pakai sebatas paha, memperlihatkan kaki indahnya. Belum lagi tubuh wanita itu sangat seksi. Tanpa sadar Tiara membandingkan penampilannya dengan wanita itu.
Badannya kurus kering karena kelelahan mengurus rumah besar dan tiga anak yang masih kecil. Kulitnya tidak semulus dulu. Apalagi bagian perut yang sudah melar setelah hamil dan melahirkan tiga kali. Banyak bintik di wajahnya yang menutupi sedikit kecantikan di masa muda.
“Kamu dengar atau nggak sih Ra?” bentak Rian marah melihat Tiara yang masih berdiri di tempatnya.
“Siapa wanita itu Mas?” bisik Tiara menahan tangis. Ia sakit hati melihat Rian terang-terangan bermesraan dengan wanita lain di rumah ini.
“Jangan banyak tanya. Aku akan memberi tahumu nanti.” Rian menoleh pada wanita itu lagi.
Tiara terpaksa menuruti perintah Rian karena tidak ingin membuat anak-anaknya takut. Setelah membawa kedua anaknya di kamar si sulung yang ada di lantai dua, Tiara turun lagi ke bawah. Dia masuk ke dapur yang merangkap sebagai ruang makan. Menyiapkan teh hangat yang diminta Rian.
Dengan tangan gemetar Tiara menahan amarahnya. Dia bisa menebak jika wanita itu ada hubungan dengan suaminya. Namun kenapa Rian harus membawanya pulang ke rumah ini setelah empat tahun ini Rian bersikap acuh?
“Astaghfirullah. Jangan bilang kalau wanita itu adalah selingkuhan Mas Rian.” Tiara meremas dasternya gugup. Tidak pernah terlintas dalam benaknya jika Rian akan berselingkuh. Meski hubungan mereka sangat hambar.
“Maaf kamar mandinya ada dimana ya?” Suara wanita itu terdengar ringan di telinganya. Tiara segera mengusap air mata lalu menoleh.
Mereka bertatapan secara langsung. Tangannya menunjuk ke kanan. Lidahnya terlalu kelu untuk menjawab. Wanita itu tersenyum lalu berkata, “Terima kasih.”
Tiara berpegangan ke meja. Ia duduk di kursi. Kakinya seperti tidak menapak tanah. Perasaan bingung, sedih, marah bercampur satu. “Kenapa aku merasa kisahku hari ini seperti novel online yang selalu kubaca?”
Helaan nafasnya terdengar berat. Tiara mengepalkan tangannya. “Aku tidak boleh lemah seperti ini.” Setelah berkata seperti itu, Tiara membawa nampan berisi dua gelas teh hangat ke ruang tamu.
Rian sibuk bermain ponsel. Dia menoleh sekilas lalu kembali fokus pada ponselnya. Berbeda saat wanita itu yang datang, Rian tersenyum manis lalu membuka lengannya. Mereka kembali berperlukan seperti tadi. Tidak mempedulikan Tiara sama sekali. Seolah Tiara adalah sosok yang kasat mata.
Tiara mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa lagi berdiam diri seperti ini. Rian harus menjelaskan siapa wanita itu. Selingkuhan atau istri mudanya? Tidak mungkin hubungan mereka seromantis ini jika dia hanya kerabat Rian.
“Siapa dia Mas? Kenapa kamu membawanya ke rumah kita?”
Rian tidak merespon pertanyaan Tiara. Dia masih fokus bicara pada Dina hingga wanita itu menepuk lengan Rian lalu berkata,”Istrimu bertanya Mas.”
Baru setelah itu Rian menoleh. Dengan wajah datar Rian berkata, “Oh ya, kalian belum berkenalan. Aku lupa kalau kau juga ada disini.”
Seperti ada pisau tajam yang menikam hati Tiara. Setega itu Rian bicara seolah dirinya tidak berarti. Tiara berusaha menahan tangis. Dia menghela nafas pelan agar air mata yang masih menggenang tidak turun ke pipi.
“Perkenalkan namanya Dina. Aku akan menikahinya agar bisa mendapat anak laki-laki. Kau juga tidak akan terlalu lelah melayaniku lagi.”
Kepala Tiara seperti berputar. Dunianya terasa runtuh. Dia ingin pingsan saat ini juga. Tiara juga ingin meyakini bahwa semua ini hanya mimpi. Tangannya terus mencubit paha yang terasa sakit. Nyatanya semua yang Tiara alami bukanlah mimpi semata. Tangis Tiara tidak terbendung lagi. Pria itu terang-terangan memperkenalkan selingkuhannya. Bahkan Rian dengan berani berkata pada Tiara bahwa dia akan menikah lagi.
“Apa Ayah dan Ibu sudah tahu?” Tiara meremas kedua tangannya. Takut jika mertua yang sudah ia anggap sebagai orang tua sendiri berada di pihak anak mereka. Biasanya mertua akan membela anak mereka dan menyalahkan menantu.
Ekspresi Rian berubah saat Tiara menyinggung orang tuanya. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan Tiara. Rian melirik Dina yang sudah berwajah keruh. Pandangan Rian beralih pada Tiara lagi. “Ayah dan Ibu tidak perlu tahu. Kau harus merahasiakan pernikahanku dan Dina.”
“Kenapa? Kalau orang tuamu tidak setuju, maka kau harus membujuknya maka aku akan setuju kau menikah lagi.” Tiara memanfaatkan kesempatan ini agar Rian membatalkan niatnya.
Sebagai seorang wanita Tiara tidak ingin dimadu. Dia tidak sekuat itu melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain. Apalagi harus berbagi hati dan raga. Bagi Tiara, biarlah hubungan mereka masih hambar. Tiara akan berusaha membuat Rian jatuh cinta lagi padanya. Asal sang suami membatalkan pernikahannya dengan Dina.
“Jangan coba-coba melawan. Kalau aku bilang jangan cerita pada orang tuaku, kau harus menurut. Ingat Tiara. Statusmu adalah istri. Kau harus patuh dan menuruti semua perintahku. Seharusnya kau tahu hal itu karena rutin ikut kajian.” Sikap egois Rian kembali. Dia tidak ingin dilawan.
“Lalu, apa aku harus menuruti permintaanmu untuk dimadu? Alasanmu terlalu aneh Mas. Saat kita masih pacaran, kau sendiri yang mengatakan bahwa tidak perlu punya anak sepasang, laki-laki dan perempuan. Apapun jenis kelaminnya harus kita syukuri karena sudah diberi keturunan. Sekarang kau bilang ingin poligami hanya karena ingin punya anak laki-laki?” Nafas Tiara terengah. Baru kali ini dia melawan Rian setelah selama ini hanya diam. Mereka hanya berdebat saat Rian mulai berubah. Setelah itu, Tiara selalu mengalah.
“Memang itu alasannya. Saat kau hamil dua kali, tidak masalah bagiku punya dua anak perempuan. Namun saat kau hamil untuk yang ketiga kalinya, aku ingin punya anak laki-laki seperti teman-temanku.”
“Kau tidak pernah mengatakannya? Kita masih muda. Aku bisa melepas KB lalu program hamil agar bisa punya anak laki-laki.” Mata Tiara menatap Rian penuh luka. Perlahan pandanganya beralih pada tangan Rian yang sudah bersembunyi dibalik punggung.
Tiara memperhatikan ekspresi Rian yang bingung. Dia tidak bisa membalas perkataan Tiara. Rian menghela nafas berat lalu berkata, “Kau pasti tidak mau jika aku minta program hamil lagi. Mengurus tiga anak saja sudah membuatmu mengeluh. Apalagi kalau harus hamil lalu mengurus satu bayi lagi.”
“Itu karena kau berubah. Aku mengeluh empat tahun lalu karena kau tidak memberi perhatian lagi pada anak-anak. Setelah kita bertengkar hebat, aku tidak pernah mengeluh. Lagipula kau tidak mengatakan keinginanmu setelah si bungsu lahir. Jika kau mengatakan ingin program punya anak laki-laki aku tidak akan memakai KB.”
“Kau hanya terlalu manja. Dulu Ibu juga bisa mengurus rumah besar dan dua anaknya sendiri. Harusnya kau bisa mencontoh Ibu.”
“Jangan bandingkan aku dengan Ibu. Ayahmu adalah suami yang baik dan pengertian. Awalnya kau juga seperti itu. Namun sikapmu berubah empat tahun lalu. Selama ini aku selalu bertanya apa salahku sampai membuat sikapmu berubah Mas. Dulu aku minta jawaban agar bisa memperbaiki diri. Katakan kalau aku adalah salah padamu. Jangan berubah sampai bersikap acuh pada anak-anak kita.”
Bagi Tiara, tidak masalah jika Rian mengabaikannya dan anak-anak. Asal tidak selingkuh, melakukan KDRT atau pelit pada anak istri. Nyatanya selama ini Rian tetap memberikan nafkah yang besar untuk Tiara. Kecuali asisten rumah tangga atau baby sitter karena Rian tidak ingin anak-anaknya diasuh orang lain. Dulu Rian berjanji akan membantunya dalam urusan rumah dan anak karena suami istri harus saling melengkapi. Setelah sikap Rian berubah, dia tidak mau memberi asisten rumah tangga karena ingin Tiara melayaninya sendiri.
“Lebih baik kita berpisah. Aku tidak ingin dimadu,” kata itu meluncur juga dari bibir Tiara.
“Tidak boleh. Aku tidak ingin berpisah denganmu. Kau harus setuju agar aku tidak terus pacaran dengan Dina. Anggap saja kau menghalalkan hubungan kami.”
“Keputusanku sudah bulat. Hari ini juga aku akan pergi bersama anak-anak. Setelah keluar, aku akan menjemput si sulung di sekolah.” Tiara berdiri. Keputusannya untuk berpisah dengan Rian sudah mantap.
Saat Tiara hendak naik ke lantai dua, Rian sudah lebih dulu berlari naik ke atas. Tiara dapat mendengar suara pintu yang terkunci. Perasaannya jadi tidak enak. Tiara segera berlari menyusul Rian. Disana sang suami berdiri di depan kamar anak sulung mereka.
“Silahkan kalau kau ingin pergi, tapi jangan bawa anak-anak. Kupastikan kau tidak bisa bertemu dengan anak-anak lagi, Tiara. Hak asuh mereka pasti jatuh padaku.”
Mata Tiara membulat. Ia tidak menyangka Rian akan mengatakan hal itu. Setelah selama ini sang suami bersikap acuh pada anak mereka. Tiara berkata, “Hak asuh anak di bawah umur pasti jatuh pada pihak ibu. Aku yang akan memenangkan hak asuh setelah kita berpisah.”Bibir Rian sedikit terangkat. Tersenyum sinis menatap istri yang dulu sangat ia cintai. Rian melipat tangannya di dada. Bersandar ke pintu yang sudah diketuk anak-anak mereka. Terus memanggil Tiara.“Ibu buka pintunya. Aku takut,” kata anak keduanya.“Ibuuuu,” teriak si bungsu.Tiara merangsek maju hendak membuka pintu. Rian menahan tangannya. Pria itu mendorong Tiara hingga terjepit diantara dinding dan tubuhnya. Tangan Rian mencengkram bahu Tiara hingga membuat sang istri meringis kesakitan. Namun Rian tidak melepaskannya. Dia menatap tajam Tiara.“Aku juga bisa mendapat hak asuh anak-anak karena bekerja dan punya penghasilan besar. Tidak seperti kau yang hanya ibu rumah tangga. Jika kita berpisah dengan membawa anak-anak pe
Tiara membeku. Kejadian yang berlalu sangat cepat membuat Tiara tidak bisa berpikir. Tiba-tiba Rian menamparnya lalu menuduh sudah mengadu pada ibu mertuanya. Tiara tidak senekat itu karena mengetahui kondisi kesehatan ibu mertuanya. Karena Tiara juga sudah menganggap ibu Rian sebagai ibu kandungnya sendiri.“Aku tidak pernah mengadu pada Ibu kalau kau akan menikah dengan Dina.” Tiara menatap Rian marah. Dia tidak gentar sama sekali dengan kemarahan sang suami.“Jangan bohong. Dina sampai stres karena makian Ibu. Selain itu, kamu juga tidak memikirkan kondisi Ibu saat memberi tahu hubunganku dan Dina.” Rian mencengkram bahu Tiara semakin erat. Wanita itu berusaha menahan erangan sakitnya.Dia memilih bertahan menerima perlakuan buruk ini, untuk mendapat bukti kekerasan fisik yang sudah dilakukan sang suami. Meski hatinya terasa sangat sakit, Tiara berusaha tegar. Matanya balas menatap tajam. “Aku berkata jujur. Kalau kau tidak percaya periksa saja ponselku. Buka semuanya. Mulai dari W
Tiara menggeleng. Dia berlutut lalu mengumpulkan semua bukti yang berserakan. Dadanya berdebar penuh ketakutan. ‘Bagaimana kalau Anggrek juga percaya wanita di foto ini adalah aku?’ batinnya bergejolak.Dia tidak mau jika anak sulungnya ikut membenci Tiara tanpa mengkonfirmasi dulu kebenarannya. Seperti yang dilakukan Rian. Tubuhnya kaku saat Anggrek ikut berjongkok. Mengambil salah satu foto dan memperhatikannya dengan seksama. Tiara terlalu takut untuk menatap anaknya. Dia masih berada di posisi semula. Saat Anggrek berdiri, Tiara juga berdiri. Keheningan yang aneh melingkupi kamar. Wanita itu tidak berani bicara. Ia menghela nafas berulang kali. Mengumpulkan kekuatan agar bisa menjelaskan semuanya pada si sulung.“Ibu bisa jelaskan sayang.” Tangannya mengusap bahu Anggrek.Anggrek masih diam. Dia justru memperhatikan tangan Tiara. Rasanya dia ingin pergi saat ini juga, tetapi Tiara terus menguatkan hatinya agar bisa menjelaskan kesalahpahaman ini pada Anggrek. Tiara juga takut jika
Tiara menggeleng. Dia menyembunyikan getar tangannya dibalik punggung. “Tidak. Bagaimana aku bisa masuk jika kamar selalu kau kunci?”“Jangan bohong. Tadi pagi aku meninggalkan ponsel di kamar. Karena terburu-buru aku tidak sempat mengambilnya dan lupa mengunci pintu. Siapa lagi yang akan mengambil ponsel itu selain kamu.”“Kalau tidak percaya periksa saja kamar ini. Geledah semuanya.” Tantang Tiara seolah tidak ada ponsel Rian yang ia sembunyikan.Rian mendengkus kesal. Berjalan ke tempat tidur. Meraba setiap inci seprai. Memeriksa bantal dan guling. Membuka semua laci lalu kembali ke hadapan Tiara. “Minggir.”Pria itu membuka lemari kanan. Memeriksa semua pakain Tiara yang tergantung. Lalu memeriksa pintu kiri. Mengeluarkan semua pakaian Tiara yang sudah terlipat rapi. Tiara hanya bisa menghela nafas. Mengambil semua pakaiannya lalu meletakan di tempat tidur. Saat berbalik, Tiara melihat Rian jongkok. Tubuh suaminya seperti mematung dengan pandangan tertuju pada kotak berisi foto pe
Tiara menutup matanya. Air mata mengalir dari sela-sela jari. Dia tidak bisa lagi menahan tangis yang menyesakan dada. Masih terdengar suara Rian di kamar yang bicara dengan lembut untuk Dina. Berbeda saat pria itu bicara dengan Tiara dan anak-anak mereka. Datar dan dingin. Seolah mereka adalah orang asing untuk Rian.“Kamu pengertian sekali sayang. Padahal Ibu pernah berkata buruk padamu, tetapi kamu masih memikirkan kesehatan Ibu. Kamu benar. Aku harus memikirkan cara yang tepat agar tidak membuat penyakit jantung Ibu semakin buruk. Beliau pasti sangat terkejut kalau aku memberi tahu Tiara sudah selingkuh dengan pria lain.” Rian kembali bicara tentang ibunya.Ibu mertua Tiara divonis mengidap penyakit jantung lima tahun lalu. Seluruh keluarga kompak menjaganya agar penyakit ibunya Rian tidak kambuh. Termasuk tidak memberi tahu berita buruk yang terjadi. Karena itulah Rian selalu berpura-pura mesra dihadapan orang tuanya. Agar ibu mertua Tiara tidak curiga ada masalah di rumah tangga
Tiara hanya tersenyum. Ternyata Rian tidak berani membuktikan semua tuduhan Dina padanya. Mulai dari tuduhan Dina kalau dia sudah mengadu pada ibu mertua sampai tuduhan Dina tentang foto-foto tidak senonoh dengan wajahnya.“Walau tanpa dirimu, aku akan membuktikannya sendiri Mas.” Tiara keluar dari kamar sambil menyimpan semua foto yang Rian kirim ke G****e Drive lalu membalas pesan Rian.[Kalian memang pengecut karena tidak mau membuktikan semua tuduhan Dina padaku. Oh iya, selamat untuk pernikahan kalian yang akan datang. Aku akan membuktikan jika aku bukan barang bekas. Walau Dina itu barang baru, tetap saja murahan. Mana ada wanita berkelas yang menjadi pacar suami orang? Kalian berdua adalah pasangan yang cocok. Pengecut dan murahan.]Tiara memasukan ponselnya ke saku. Dia harus menjaga Nana yang bermain sendiri di ruang tengah. Pekerjaan rumah sudah selesai. Tiara duduk di sofa membuat bab baru untuk novel online. Sembari mengawasi Nana yang bermain boneka barbie. TV yang menyala
“Alhamdulillah,” seru Tiara senang.“Saya bisa memberi pernyataan lisan tentang kepalsuan foto ini.” Haris memberikan ponsel dan foto yang yang sudah dicetak. Menjadi satu dengan foto yang dibawa Tiara. Pria itu tidak bertanya banyak hal. Hanya menjalankan pekerjaannya secara professional. Meski pekerjaan utamanya adalah guru.“Terima kasih banyak Pak. Berapa biaya yang harus saya bayar?”“Anda bisa membayar pada kasir yang berjaga di lantai satu. Saya sudah mengirim jasa konsultasi anda padanya,” jawab Haris ramah.Tiara diam. Dia ingat dengan ponsel rahasia Rian yang ia bawa di tas. Wanita itu mengambil ponsel Rian lalu memberikannya pada Haris. “Tolong buka kata sandi ponsel ini. Biayanya bisa digabung dengan jasa pemeriksaan foto.”Mata Haris terbelalak begitu layar ponsel menyala. Namun pria itu tidak bertanya apapun. Dia bisa membuka kode sandi ponsel dengan mudah lalu memberikannya lagi pada Tiara. “Sudah terbuka.”“Terima kasih Pak. Saya permisi dulu.”“Sama-sama Bu.”Hatinya s
“Assalamualaikum Nduk,” sapa ibu mertuanya yang bernama Bu Mirna.“Eh. Assalamualaikum Ayah, Ibu.” Tiara menyalami mertuanya.“Waalaikumsalam.”Mereka masuk ke rumah. Tiara mengunci pintunya lagi. Meski heran dengan kedatangan mertuanya yang mendadak, Tiara tetap bersikap tenang. Apalagi Bu Mirna baru mengirim pesan kalau dia baru bisa datang minggu depan karena harus rewang di rumah tetangga.“Bangunkan Rian Nduk. Ayah ingin berangkat salat di masjid dengannya. Kami naik dulu buat menata barang di kamar.”“Iya Yah.”Setelah memastikan mertuanya naik ke lantai dua, Tiara masuk ke kamar Rian. Dia memperhatikan Rian yang masih terlelap. Kilas balik kejadian beberapa tahun lalu seperti film yang terputar di kepalanya.Setelah Rian memperingatinya untuk tidak memberi tahu masalah mereka pada Pak Joko dan Bu Mirna, wanita itu memilih diam. Dua hari kemudian mertuanya datang ke rumah. Sikap Rian berubah seperti semula. Perhatian dan penyayang. Anak-anak sangat senang karena sikap ayah mereka
Tiara mengkerutkan kening heran. Mertuanya sudah tahu? Matanya mengerjap bingung. Wanita itu tidak tahu harus merespon bagaimana. “Ehm. Ibu tahu darimana?” tanya Tiara gugup bercampur malu.“Dari ibumu. Kemarin malam sebelum tidur beliau telepon bertanya apa kamu sudah bicara tentangy keputuasnmu setelah mendengar nasihat bapakmu. Ibumu juga menceritakan semuanya,” kata Bu Mirna menghentikan kegiatannya.Wanita paruh baya itu menatap sang menantu dalam. Penuh kasih sayang dan kelembutan. Setelah semua makanan tersaji di atas meja dan bekal untuk anak-anak siap, Bu Mirna meraih tangan Tiara dalam genggamannya.“Baik kamu berpisah dari Rian atau tidak, Ibu tetap menganggap kamu sebagai menantu dan anak Ibu sendiri. Namun dengan kamu memberi maaf pada Rian, entah kenapa membuat Ibu merasa sangat senang sekali. Karena kamu sudah mulai menghilangkan segala beban kebencian di hatimu,” kata Bu Mirna panjang kali lebar.Tiara mengangguk dengan air mata haru yang menggenang di pelupuk matanya.
Dada Rian berdetak semakin kencang. Mulutnya terbuka lebar dengan mata menganga. Dia masih menatap tidak percaya perkataan Tiara tadi. Sang istri setuju untuk mengikuti saran bapaknya? Rasanya Rian ingin berteriak kesenangan saat ini juga. Namun tubuhnya seperti kaku dan tidak bisa digerakan sama sekali. Seolah ia sudah berubah menjadi patung.“Kamu baik-baik saja Mas?” tanya Tiara khawatir melihat respon sang suami yang seperti ini. Wanita itu melambaikan tangan di depan Rian berulang kali.Rian menggeleng lalu mengangguk. Pria itu menepuk pipinya berulang kali agar bisa meyakinkan diri kalau semua yang terjadi di depannya memang nyata. Akhirnya Rian bisa bergerak. Dengan gerakan sangat cepat hingga hampir tidak tertangkap mata, Rian mendekap erat tubuh sang istri. Membawa Tiara dalam pelukannya yang hangat.“Terima kasih banyak sayang. Terima kasih banyak untuk kesempatan keduanya,” kata Rian terharu. Dia tidak bisa lagi membendung air matanya yang berdesakan ingin keluar. Rian mera
Rian turun dari tempat tidur lalu masuk ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Dia menunaikan salat tahajud saat Tiara tengah sibuk mengetik novel dengan menggunakan ponselnya. Pria itu sama sekali tidak berniat mengganggu kesibukan sang istri. Dia justru mengambil kitab suci lalu mengaji dengan suara pelan.Meskipun sedang menjalankan kegiatan masing-masing, bukan berarti Rian dan Tiara lupa akan keberadaan satu sama lain. Mereka tetap sadar tengah berada di ruangan yang sama. Hingga tidak terasa adzan subuh berkumandang dari masjid terdekat."Aku pergi ke masjid dulu Ra," kata Rian bangkit lalu memasukan kitab suci ke rak lemari paling atas."Iya Mas," jawab Tiara sangat pelan yang hampir serupa dengan bisikan. Walaupun begitu Rian masih bisa tetap mendengar suara sang istri.Rian melangkah keluar. Membuka dan menutup pintu dengan suara perlajan. Meskipun bunyi derit pintunya tetap terdengar. Setelah sosok sang suami hilang dibalik pintu, Tiara menghela nafas lega. Dari luar terdenga
“Ba—bagaimana bisa? Siang ini saya tidak sengaja bertemu dengan Dina di dalam sebuah mobil mewah yang kemungkinan besar milik Bu Aurel. Saat mata kami tidak sengaja berpandangan, dia terus memanggil namaku,” ucap Tiara tidak percaya.Rian, Pak Joko dan Bu Mirna hanya diam mendengarkan. Mereka ingin mendengar balasan Ustad Aba dan Ustad Abi tentang masalah ini. Pasalahnya menurut Rian, dia juga yakin Dina tidak akan bisa melakukan apapun dibawah pengawasan Aurel yang akan balas dendam padanya.“Benar. Itu bisa saja terjadi. Seperti yang saya katakan tadi kalau Bu Dina bisa mengganggu anda karena rumah ini memang pernah diganggu. Namun untuk masalah dia tidak bisa kabur dari orang yang mengurungnya, saya rasa ada hal lain yang anda semua tidak tahu. Dan saya rasa anda semua memang tidak perlu tahu kenapa Bu Dina tidak bisa kabur dari sana. Lebih banyak tidak tahu akan lebih baik untuk kita,” jawab Ustad Abi berteka-teki.Entah kenapa Rian dan Tiara seketika punya pikiran yang sama. Jika
Mata Tiara terbelalak tidak percaya mendengar perkataan ibu mertuanya. Dina juga bemain dukun sekarang. Tidak lagi hanya menjadi perantara orang tuanya. Itu berarti gangguan yang sempat ia alami tadi karena ulah Dina. Bagaimana bisa? Padahal Tiara ingat kalau sore ini dia baru melihat Dina di dalam mobil mewah.Layaknya seorang sandera yang tidak kabur. Namun di jaman modern seperti ini. Bisa saja Dina meminta lewat telepon atau pesan pada dukun itu untuk melakukan guna-guna pada Tiara dan keluarganya. Begitulah pikiran wanita itu.“Rian tadi juga mengalami kejadian aneh saat kami akan pergi ke rumah Rian dan Riska. Masa dia melihatg bapaknya Dina mengintip dari balik. Itukan tidak mungkin,” kata Bu Mirna lagi.“Oh begitu,” balas Tiara mengangguk dengan pandangan kosong.“Ibu tidak tahu apa yang terjadi. Sepertinya kamu mengalami hal yang buruk saat pulang lebih dulu tadi,” ujar Bu Mirna mengusap bahu sang menantu dengan sayang. Layaknya ibu kandung pada putrinya. Terlihat sekali keak
Dua ustad yang datang bersama mereka itu mulai membersihkan rumah dengan bacaan ayat suci alquran. Di dalam mobl, Rian dan ketiiga putrinya menungu dengan harap-harap cemas. Pasalnya mereka bisa mendengar suara berisik dari dalam ruumah. Rian menggeleng karena dia paham kalau suaara itu berasal dari teras depan rumah mereka.Tidak lama kemudian dia melihat dua ustad itu masuk rumah bersama Pak Joko. Sedangkan Bu Mirna berjalan ke arah mobil, membuka pintu lalu duduk di kursi depan. Rian menaap sang iibu penasaran.“Bagaimana Bu? Apa proses pembersihannya sudah selesai?” tanya Rian penasaran dengan hasilnya.“Belum. Pak Ustad mengatakan kalau mereka baru membersihkan area teras karena disanalah tempat ukun Deri dan anak buahnya menebar guna-guna walaupun saat itu tidak berhasil. Setelahnya Ibu tidak begitu paham apa yang terjadi,” kata Bu Mirna menjelaskan.Rian mengangguk paham dengan penjelasan sang ibu. Entah kenapa perasaannya tidak nyaman. Dia ingin turun sekarang juga dan menghen
Saat Rian tengah menghabiskan waktu dengan anak-anak dan keponakannya, Tiara merebahkan diri tidur di kasurnya. Dia sibuk mengetik bab novel baru di ponsel. Daripada sibuk tidak melakukan pekerjaan apapun. Tubuhnya juga lelah karena tadi sibuk melakukan video call dengan Bu Mirna untuk melihat perkembangan anak-anak dan suaminya.Sore harinya Tiara pamit pulang ke rumah. Lagi-lagi di jalan dia bertemu dengan mobil yang sama. Di dalamnya ada Dina yang duduk di kursi belakang. Kali ini wajah mereka berpandangan. Mata Dina membulat. Wanita itu beringsut maju. Menempelkan tubuhnya ke jendala.Tiara mengalihkan pandangan. Syukurlah lampu lalu lintas yang awalnya merah sudah berubah menjadi hijau. Tiara segera melajukan motornya pergi. Dia tidak mau bertemu lagi dengan Dina. Apalagi sampai bicara.“Tunggu dulu Tiara. Tunggu akuuuuu,” teriak Dina menggema di jalan yang ramai dengan lalu lalang kendaraan.Dari kaca spion Tiara melihat Dina yang berhasil keluar dari mobil tengah berlari mengej
Rian berjalan mendekat. Dadanya berdegup kencang begitu ia berhasil melihat siapa orang yang tengah mengintipnya. Tubuh Rian terlonjak ke belakang saat melihat sosok yang tidak seharusnya berada disana. Bapak Dina.Perawakannya masih sama seperti dulu. Tubuh tinggi besar. Hanya saja matanya jadi dua kali lipat lebih besar. Tidak hanya sekedar sedang melotot. Belum lagi dengan wajah bapak Dina yang sangat pucat. Kulitnya seputih kapas.Tanpa sadar tubuh Rian bergetar ketakutan. Dia terus membaca surat-surat pendek yang ia hafal. Namun sosok bapak Dina masih membungkuk di sebrang pagar. Menatapnya tajam rengan bola mata yang melotot. Sabgat mengerikan.Langkahnya terus mundur menuju teras. Dia ingin masuk ke dalam rumah sekarang juga. Namun tubuh Rian terasa kaku. Tidak bisa digerakkan. Mulutnya terbuka. Hendak berteriak minta tolong pada kedua orang tuanya yang berada di dalam. Lagi-lagi Rian tidak bisa melakukannya karena mulutnya seperti terkunci."Apa yang sedang kamu lakukan Yan? K
Nafas Rian kembali tercekat untuk yang kedua kalinya. Membaca synopsis novelnya saja sudah menyedihkan. Ceritanya tidak beda jauh dari buku pertama yang tadi ia baca. Tentang keluarga yang tercerai berai karena tokoh antagonis. Rian tidak sadar saat memilih buku tadi. Baginya dia hanya mengambil buku yang sampulnya menarik untuk dibaca.“Oke kita mulai baca buku pilihan Kak Lily. Jadi suatu hari ada keluarga pohon cemara yang berada di atas hamparan salju Gunung Fuji,” kata Rian memulai ceritanya.Dibalik pintu Bu Mirna dan Pak Joko masih setia mengintip. Apalagi Bu Mirna yang tidak lelah memegang ponsel agar Tiara bisa ikut melihat saat mereka sedang melakukan panggilkan video call. Tidak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Itu berarti dua jam berlalu sejak Rian membacakan semua buku cerita yang ia beli untuk kedua putrinya.Pak Joko dan Bu Mirna bergantian memegang ponsel agar Tiara bisa melihat semuanya. Setelah Tiara mengangkat tangan sebagai tanda b