Home / Fantasi / Belahan Jiwa / 1). Hera Aquinsha

Share

Belahan Jiwa
Belahan Jiwa
Author: Intan

1). Hera Aquinsha

Author: Intan
last update Last Updated: 2021-04-01 13:11:11

Angin berhembus cukup kencang hingga membuat rambut panjangnya yang tertiup angin sedikit berterbangan.

Gadis itu, Hera Aquinsha berdiri menghadap kearah sungai sambil memejamkan kedua mata, menikmati suara gemericik air sungai dan angin yang menerbangkan dedaunan hingga ranting kecil diatas pohon yang berjatuhan.

Kedua kaki telanjangnya melangkah secara perlahan, hingga merasakan dinginnya air sungai Dewarabiru.

Hera lalu berjongkok, memasukkan ujung jemari tangannya kedalam air dan tersenyum tipis begitu merasakan rasa dingin yang terasa nyaman di kulitnya.

Derap langkah kaki yang terdengar dibelakang tubuhnya, tak membuat gadis itu beranjak. Hera tetap diam, merasakan dunia melalui bayangan gelap imajinasi dalam angannya.

"Nona Hera, kita harus segera kembali ke Goldenmoon .... "

"Aku ingin mandi."

Dua orang pelayan wanita yang menemani Hera, sontak langsung saling berpandangan.

Beberapa pengawal yang hendak membawa Hera kembali juga turut melakukan hal yang sama, lalu menatap kearah Hera lagi dengan raut wajah cemas mereka.

Bukannya bersikap tidak sopan karena tidak segera menyanggupi keinginan tuan putri mereka, namun keadaan Hera yang buta membuat Anastasya dan Jesselyn tentu harus berpikir dua kali untuk menuruti perintah tuan putri mereka itu.

Keduanya khawatir, Hera bisa saja terjatuh atau terpeleset ketika berendam di sungai yang penuh dengan bebatuan besar disana.

"Nona Hera .... "

"Sekali saja. Sebelum fajar, aku berjanji akan ikut pulang bersama kalian."

Anastasya dan Jesselyn menarik napas sejenak, tidak tega ketika melihat Hera yang sudah menampilkan raut wajah memelasnya seperti saat ini.

Kedua pelayan wanita itu akhirnya mengangguk pasrah lalu meminta para pengawal pria untuk beranjak pergi dan memberi mereka waktu pribadi.

Anastasya dan Jesselyn segera membantu Hera dengan memegang kedua lengan gadis itu, menuntunnya melangkah masuk kedalam air sungai dengan hati-hati.

Setelah merasa kedalaman air sungai aman untuk berendam, Hera segera di dudukkan hingga sebagian tubuhnya terendam dibalik bebatuan besar. 

Ana dan Jessy langsung menarik kain melintang untuk menutupi tubuh tuan putri mereka.

"Airnya sangat segar." Hera tersenyum, merasakan otot-otot di tubuhnya yang secara perlahan terasa lebih rileks.

Jessy dan Ana turut merasa bahagia kala mendapati senyum manis yang tersungging dari bibir tuan putri mereka itu.

"Kami senang melihat nona Hera bahagia."

"Bisakah kalian ceritakan padaku, apakah sungai disini sangat indah?"

Hera mulai membasuh lengannya sendiri dengan satu tangan dan sesekali tetap dibantu oleh kedua pelayan pribadinya itu.

Ana dan Jessy adalah pelayan yang mengurus Hera sejak gadis itu masih berusia belia, ketiganya beranjak dewasa bersama dan telah menganggap satu-sama lain sebagai saudara.

"Sangat cantik nona, ada begitu banyak pohon rindang yang hijau di tepi sepanjang sungai, ada banyak tanaman bunga dan burung-burung yang berterbangan di atas langit. Air terjun yang berada tepat dibelakang punggung nona juga berkilau ketika terkena sinar matahari."

"Lalu, apakah kalian melihat ada bunga teratai di dekat sini?"

Salah seorang pelayan mulai mengedarkan pandangan, lalu mengulas senyum lebar begitu menemukan tanaman yang tuan putri mereka maksud.

"Ada tanaman teratai di danau sebelah kiri sungai Nona. Meskipun letaknya memang agak jauh dari jangkauan kita."

Hera kembali mengulas senyum tipis.

"Nona Hera, jika kami boleh tahu. Kenapa anda bisa sangat menyukai bunga teratai? Apakah ada hal yang membuat Nona sampai sangat menyukainya?"

Hera memejamkan matanya sekali lagi, mencoba membayangkan seperti apa bentuk bunga teratai yang mengapung diatas air.

"Alpha Elios pernah berkata padaku, bahwa teratai memiliki ciri khas yang berbeda dari jenis bunga lainnya. Meski lingkungan tempat hidupnya kotor dan biasanya berbau tak sedap tapi bunga teratai berusaha menutupinya dengan bentuk daunnya yang lebar, dan mahkota yang indah agar orang yang melihatnya terpukau dan hanya fokus pada keindahannya saja, tanpa peduli dengan lingkungan kumuh dimana tempat teratai itu hidup. Semakin kotor lingkungan tempat bunga teratai itu hidup, maka semakin tinggi kualitas bunga yang tumbuh. Secara tidak langsung, teratai mengajarkan kita untuk menjadikan hinaan dan respon negatif orang lain tentang kita, sebagai motivasi dan alasan untuk pantang menyerah dalam menggapai mimpi. Jangan menjadikan cemo'oh mereka sebagai beban hingga membuat kita minder dan putus asa."

Alpha Elios adalah pemimpin Goldenmoonpack, sekaligus kakak kandung dari Hera.

Setelah kematian kedua orangtua mereka yakni Alpha Eros dan Luna Quin, Hera adalah tanggung jawab Alpha Elios sebagai satu-satunya keluarga Hera yang masih tersisa.

"Alpha Elios juga berkata, Teratai adalah aku. Aku berbeda dari orang-orang yang berada disekitarku. Aku terlahir dengan keadaan buta, tapi aku masih tetap bisa bersinar dengan hati lembut dan kecantikan yang kumiliki. Berkat teratai, aku merasa termotivasi untuk terus menjalani hidup penuh dengan rasa syukur meski terlahir dengan keadaan buta seperti ini."

Ana dan Jesselyn tersenyum. Merasa tersentuh dengan apa yang barusaja Hera ungkapkan.

"Bukankah kakakku itu terlalu berlebihan? Hanya untuk menghiburku, dia bahkan sering menyanjung dan berkata padaku bahwa aku cantik seperti dewi. Bahkan katanya aku memiliki hati yang suci," kata Hera sambil terkekeh pelan. Teringat akan momen-momen indah yang dulu ia lalui bersama Alpha Elios saat mereka masih kecil.

Kini, karena Alpha Elios telah menjadi seorang Alpha. Intensitas kebersamaan mereka jadi jauh lebih singkat karena kakaknya adalah seorang pemimpin sebuah pack ternama.

Hera tidak mungkin terus menjadi prioritas utama.

Hera tidak ingin jadi egois. Gadis itu paham bahwa dirinya tidak bisa terus bergantung pada kakaknya itu.

Menyadari raut wajah Hera yang tampak terlihat sedikit muram secara tiba-tiba, membuat Jessy menyenggol pelan bahu Anastasya yang langsung diangguki tanda mengerti oleh gadis pelayan itu.

"Nona Hera, Apakah anda sangat menginginkan bunga teratai itu? Kami bisa mengambilkannya jika nona mau?"

Bunga teratai terlihat mengapung, di danau yang letaknya tepat berada di seberang sungai. Meski danau itu terlihat lebih kecil dari sungai yang mereka tempati saat ini, tapi kedalamannya jelas jauh lebih dalam hingga membuat Jessy dan Ana sedikit meringis tak yakin.

Hera sepertinya menyadari kegamangan dari kedua pelayan pribadinya itu.

Meski tidak pernah bisa melihat wujud dan bentuk dari bunga teratai, gadis itu tahu dengan benar bunga teratai tidak mudah dijangkau oleh manusia biasa seperti mereka.

Hera menggelengkan kepala. Tidak ingin mengorbankan nyawa salah satu dari pelayan dan pengawalnya hanya demi mengambilkannya sebuah bunga.

"Sepertinya aku butuh waktu sendiri. Bisakah kalian meninggalkanku? Setelah itu bawakan aku baju ganti."

Ana dan Jessy sontak langsung menolak dengan tegas, "Tidak bisa nona Hera. Bagaimana jika nanti terjadi sesuatu hal yang .... "

"Aku tidak akan hanyut. Aku berjanji jika terjadi sesuatu padaku aku akan berteriak dan memanggil nama kalian dengan suara lantang."

Ana dan Jessy saling berpandangan, lalu menatap Hera dengan raut wajah cemas.

Namun usiran halus dari tuan putri mereka terpaksa membuat Ana dan Jessy mau tak mau harus pergi keluar dari dalam air dan meninggalkan sungai.

Hera tersenyum tipis, menyandarkan punggungnya pada batu besar dibelakang punggungnya dan mulai memejamkan kedua mata.

Gadis itu mencoba membayangkan pemandangan indah melalui bayangan imajinasinya. 

Sejak kecil, Hera tidak bisa melihat dunia menggunakan kedua matanya.

Terlahir dalam keadaan buta membuat Hera hanya bisa melihat kegelapan. Hanya ada kekosongan yang nyata.

Namun karena hidupnya dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangi dan melindunginya, Hera cukup merasa bahagia meskipun seumur hidup dia akan terus berada di dalam kegelapan.

Tidak ada yang mengenal siapa Hera Aquinsha.

Tidak ada yang tahu bahwa Goldenmoonpack memiliki seorang tuan putri yang sangat cantik namun buta.

Hera menyembunyikan identitasnya sejak dirinya masih kecil.

Hanya Alpha Elios dan orang-orang tertentu di Goldenmoonpack yang mengenal sosok Hera.

Hera membuka kedua matanya ketika merasakan sapuan lembut pada sisi wajahnya secara tiba-tiba.

Gelombang air yang bergerak cukup membuat gadis itu terkejut. Hera menoleh kearah kanan, dimana ia yakin akan kehadiran seseorang disebelahnya.

"Siapa?"

"Teratai."

Bisikan itu sontak membuat Hera merasakan jantungnya berdegup cepat, sebelah tangannya terulur untuk meraih bunga teratai yang menyentuh sebelah pipinya itu.

Gadis itu terdiam dengan tatapan kosong, wajahnya begitu menyiratkan rasa gugup dan takut, "Apakah kamu orang jahat? Dimana Ana, Jessy, dan para pengawal yang menjagaku?"

Tidak ada jawaban.

Hanya ada suara keciprak air yang membuat Hera semakin merasa gelisah.

Namun sengatan di daun telinga kirinya membuat Hera memekik dan bergerak mundur secara sadar.

"D-dimana para pengawalku?"

"Tidur."

"A-apa?"

Hera tergagap.

Tubuhnya mendadak jadi lemas dan semakin bergerak mundur kebelakang. Namun tarikan pada pinggangnya hingga ketika tubuh depannya menghantam tubuh keras nan kokoh seorang pria, reflek membuat Hera menahan napas dan ingin berteriak sebelum mulutnya terbungkam oleh sebuah ciuman.

Hera memejamkan kedua matanya erat.

Dadanya berdentum hebat.

Sengatan yang ia rasakan ketika sentuhan tubuh mereka menghantarkan sebuah percikan membuat Hera tidak bisa berkutik.

Hera hanya bisa mencengkram apapun yang bisa dijangkaunya.

"Mine." Bisikan di samping telinganya itu, membuat Hera merasakan penasaran yang mendalam ketika mendengar suara bass yang dalam milik seseorang.

Terdengar begitu dingin dan juga serak.

Hera yakin sosok itu adalah seorang pria.

"Nona!"

"Nona Hera!"

Ana dan Jessy mengguncang tubuh Hera dengan panik.

Tampak begitu cemas karena Hera tertidur di dalam sungai namun dengan kening berkerut, seakan sedang mengalami mimpi buruk.

"Nona Hera, kami mohon sadarlah!"

Hera tersentak, bangun dengan keringat yang membasahi kening.

Gadis itu lalu mengangkat kedua tangannya kesamping, menggapai udara dan segera meremas kuat lengan Jesselyn yang dirasakannya.

Posisi mereka masih berendam didalam air sungai yang semula dingin namun kini entah sejak kapan telah berubah menjadi terasa hangat.

"Nona, apakah anda baik-baik saja, anda terlihat sangat pucat? Kita harus segera keluar dari dalam air."

Hera mengangguk.

Merasa tubuhnya mendadak lemas dan masih timbul rasa takut. Ana dan Jessy segera membantu Hera berdiri dan membelitkan kain untuk menutupi tubuh tuan putri mereka.

Menuntunnya keluar dari dalam air sungai dan membantunya untuk segera berganti pakaian. Beberapa pengawal segera datang dan bergegas menggiring Hera menuju kereta kuda yang telah siap sedia.

Hera termenung di sepanjang perjalanan pulang, masih dengan sebuah bunga teratai yang berada didalam genggaman tangannya.

Gadis itu menoleh kearah Jessy yang sedang duduk menemaninya didalam kereta kuda, tanpa Anastasya yang sudah menghilang entah pergi kemana. 

Kereta mulai berjalan pelan untuk membawanya kembali menuju Goldenmoonpack.

"Jessy, apakah aku tadi benar-benar tertidur di sungai itu?"

"Benar Nona, Anda bahkan mengigau hingga membuat kami semua khawatir. Maaf karena saya dan Ana mungkin pergi terlalu lama, kami mencarikan baju ganti di sekitar pemukiman warga desa."

Hera kembali terdiam dengan pikiran menerawang.

Sekali lagi dia mengusap bunga teratai dalam genggaman tangannya itu.

"Apa nona yang mengambil bunga teratai itu sendiri?" tanya Jesselyn begitu penasaran sekaligus khawatir.

Mengingat letak bunga teratai itu cukup jauh dari jangkauan manusia. Sungguh Jessy sangat tidak percaya jika Hera yang mengambilnya sendiri.

Namun, tidak ada orang lain lagi selain mereka di sungai Dewarabiru.

Jessy sempat menanyakannya pada beberapa pengawal namun tidak ada yang mengetahui perihal bunga teratai yang Hera dapatkan.

Hera sendiri terlihat enggan menjawabnya, dan memilih melongokan kepala keluar jendela kereta kuda dan menjulurkan satu tangannya untuk merasakan sapuan angin sore.

Mengabaikan rasa penasarannya, Jessy hanya memandangi Hera.

"Jesselyn, apakah matahari sore sudah tenggelam?"

Jessy ikut melongokan kepalanya keluar jendela, melihat kearah langit seraya tersenyum.

"Warna merah dilangit terlihat begitu indah nona. Coba pejamkan kedua mata anda dan bayangkan cahaya matahari tenggelam dengan diiringi suara nyanyian burung-burung yang berterbangan diatas langit, angin berhembus menerpa wajah anda dan .... "

Namun begitu Hera mulai memejamkan kedua matanya, dia hanya bisa melihat siluet tubuh basah seorang pria dengan punggung kokoh yang tampak berdiri membelakanginya.

Hera tanpa sadar meremas bunga teratai ditangannya sendiri dengan raut wajah cemas sebelum gadis itu jatuh pingsan di dalam kereta kuda.

"Nona Hera!"

Comments (3)
goodnovel comment avatar
kostomahsabira
wahh sepertinya aku mulai tertarik dengan genre novel seperti ini.
goodnovel comment avatar
1901010109
allolooooo
goodnovel comment avatar
Kikiw
penggunaan bahasanya enak, suka
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Belahan Jiwa   2). Sosok Misterius

    Jesselyn berdiri di belakang tubuh Alpha Elios dengan kepala tertunduk dalam.Mengamati Alpha Goldenmoonpack itu yang tengah duduk di sisi ranjang Hera sambil menggenggam erat satu tangan adiknya dengan cemas.Ana yang baru saja tiba di Goldenmoonpack, tampak menatap khawatir Hera yang sedang terbaring lemah diatas ranjang kamar.

    Last Updated : 2021-04-01
  • Belahan Jiwa   3). Raja Dari Segala Raja

    Zeus duduk dikursi kebesarannya dengan jubah hitam besar yang membalut punggung kokohnya. Pria iblis itu menatap tajam kearah depan, tepatnya pada beberapa kawanan makhluk yang tengah bersujud dibawah singgasananya. Zeus masih diam, sudah lebih dari satu setengah jam dan membiarkan seorang raja Vampir hingga beberapa makhluk lain memohon ampun karena telah melakukan satu kesalahan besar.

    Last Updated : 2021-04-01
  • Belahan Jiwa   4). Terlahir Buta

    Alexa terdiam dalam nuansa sarapan yang terasa mencekam. Semua orang sedang sibuk mengisi perut mereka masing-masing, tanpa ada suara dan hanya terdengar suara dentingan alat makan saja. Namun yang mengusik Alexa bukan karena suasana di meja ruang makan, yang berisi Beta, Gamma, Delta hingga para pejabat penting packhouse istana lainnya. Melainkan ketidakberadaan Hera diantara banyaknya anggota keluarga packhouse istana. Hera yang seharusnya duduk diantara mereka, malah tidak muncul bahkan sejak semalam. Dentingan suara alat makan milik Alpha Elios yang telah diletakkan di atas piringnya terdengar. Alexa mendongak, mengamati Alpha Goldenmoonpack itu yang ternyata sudah selesai makan, kemudian beranjak berdiri dan pergi begitu saja, diikuti oleh semua orang dimeja makan. Alexa cepat-cepat menghabiskan minumannya d

    Last Updated : 2021-04-01
  • Belahan Jiwa   5). Mine

    Pesta pernikahan Alpha Elios dan Luna Alexa berlangsung dengan begitu hikmat. Hera turut merasa senang meski hanya bisa mendengarkan melalui balkon kamarnya. Semua orang penting dari kerajaan lain, bahkan beberapa Raja vampir turut serta menghadiri acara sakral tersebut. Namun begitu di penghujung acara, semua orang tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan Zeus bersama dengan tangan kanannya, Enrico. "King Demon Zeus." Semua orang, secara serempak langsung menunduk hormat, tak menyangka bahwa seorang penguasa tertinggi seperti Zeusdatang berkunjung ke Goldenmoon pack dengan kedua kakinya sendiri. Bahkan Alpha Elios yang baru saja selesai melakukan ritual pernikahan bersama pasangannya, terlihat begitu sangat terkejut ketika mendapati sosok Zeus yang benar-benar nyata dihadapan mereka. "Yang Mulia. Merupakan suatu keh

    Last Updated : 2021-04-01
  • Belahan Jiwa   6). Mate

    Ana bergerak gelisah di dalam kereta kuda, berulang kali tampak melirik kearah luar jendela hingga membuat Hera yang sedang duduk disebelahnya merasa terusik dengan gerakan resah pelayan setianya itu. Hera lalu meraba-raba, menyentuh lengan atas Anastasya dan menanyakan kegelisahan pelayan yang ditunjuk untuk menemaninya selama tinggal di Istana kegelapan. "Ana, kau kenapa?" Ana terkejut. Memaksakan senyuman lalu balas menyentuh tangan Hera. "Saya hanya sedikit merasa cemas Nona Hera. Karena sebentar lagi kita akan tinggal di Istana kegelapan," gumam pelayan itu pelan, bahkan nyaris tak terdengar. Ana diam-diam meringis merasa bersalah karena telah berbohong. Namun, dia tidak punya pilihan lain selain harus melakukan kebohongan itu. Karena tidak mungkin dirinya menceritakan masalah pribadinya pada Hera bukan? &nb

    Last Updated : 2021-04-01
  • Belahan Jiwa   7). Kastil Istana Darken

    Hera duduk dengan tenang dikursinya sambil menikmati daging kelinci yang telah tersaji di atas meja makan besar. Ada begitu banyak variasi olahan daging kelici hingga membuat Hera bingung harus mengambil yang mana terlebih dahulu. Aroma dari masing-masing masakan berbahan utama daging kelinci itu sangat menggoda hidungnya. Alhasil Hera mencobanya satu persatu. Meski tidak bisa melihat, Hera biasa menggunakan indra penciumannya dan menggunakan kedua tangannya sendiri untuk makan

    Last Updated : 2021-04-01
  • Belahan Jiwa   8). Binatang Peliharaan Raja

    Suara tirai yang dibuka, mengusik tidur Hera. Gadis itu langsung mengambil posisi duduk dengan nyaman di atas ranjang ketika merasakan seseorang yang berada di dalam kamarnya. Bukan Zeus, melainkan aroma tidak asing yang telah menemaninya sejak Hera masih kecil. "Anastasya, kau kah itu?" Anastasya tersenyum lembut saat mendengar Hera yang menyadari keberadaannya.

    Last Updated : 2021-04-01
  • Belahan Jiwa   9). Amarah Zeus

    Zeus terbang diatas awan dengan sepasang sayap besarnya yang berwarna gelap.Pria iblis itu lalu turun dan segera mendaratkan sepasang kakinya di tepi lautan yang membentang luas.Tanpa dipanggil, seekor mermaid perempuan muncul dari dalam air dan tersenyum lebar ketika melihat Zeus berkunjung ke lautan tengah malam.Emerald berenang mendekat hingga tubuhnya terdampar ditepian laut.Gadis bersurai coklat itu kemudian berdiri lalu menunduk hormat dihadapan Zeus dengan tubuh manusianya."Apa yang membuat Yang Mulia penguasa kegelapan sampai jauh-jauh datang kemari? Apakah anda ingin mendapatkan pelayanan dari saya lagi, Yang Mulia Zeus?"Zeus menatap Emerald dengan tatapan mata nyalang menghunus tajam."Dimana Rajamu?""Apa yang Anda inginkan?""Aku ingin membunuhnya."Kepala Emerald tertunduk gugup.Aura hit

    Last Updated : 2021-04-01

Latest chapter

  • Belahan Jiwa   Extra Part 2

    Seera membuka satu matanya, memastikan Hera benar-benar telah keluar dari dalam kamar meninggalkannya sendirian. Setelah yakin jika kondisi sudah aman, gadis kecil itu segera melompat turun dan berlari ke arah pintu. Sebelumnya Seera sudah mengambil gunting untuk memangkas bagian bawah rok gaun yang dikenakannya hingga sebatas lutut, membuat gaun panjang yang Seera kenakan menjadi gaun pendek agar memudahkan gadis itu bergerak nantinya. Tidak ada waktu untuk berganti baju, karena kesempatan untuk kabur seperti saat ini adalah hal yang paling langka Seera dapatkan. Seera kemudian berjalan mengendap-endap menuju kearah belakang Istana Kastil. Masuk kedalam kandang kuda menghampiri salah satu kuda pony berbulu putih kesayangannya. Delmon, salah seorang penjaga kudalanjut usia yang melihat kedatangan Seera segera berjalan mendekati tuan putri Istana Darken itu dengan tubuh sedikit membungkuk sopan. "Princess Seera, apa yang ingin and

  • Belahan Jiwa   Extra Part 1

    Seera Aquinsha terlihat sedang berdiri di pembatas balkon, menatap kearah halaman samping Istana Darken dengan kedua tangan menopang dagu. Gadis kecil itu terlihat sedang dalam kondisi suasana hati yang buruk, terbukti dari bibir cembetut dan wajah ditekuknya. Tak lama kemudian, muncul sosok Marrine yang sedari tadi dibuat panik mencari-cari keberadaan Seera, dan langsung tersenyum lega begitu kedua netranya berhasil menemukan tuan putri dari Istana kegelapan itu. Marrine segera mendekat dan berdiri tepat di sebelah gadis kecil yang mengenakan gaun berwarna biru muda itu, ikut memperhatikan apa yang sedari tadi tampak menyita perhatian Seera. "Princess Seera, apa yang sedang anda lakukan disini, kita harus kembali melanjutkan latihan tata krama anda sekarang juga." "Aku bosan." "Tapi Princess, jika Queen Hera tahu nanti anda akan kena marah." Seera terlihat menghela napas kesal, sekali lagi kedua matanya kembali

  • Belahan Jiwa   69). Akhir Yang Bahagia?

    1 TAHUN KEMUDIAN.Hera berlari kecil meninggalkan taman bunga dengan menenteng rok gaun panjangnya menggunakan kedua tangan. Terus mengabaikan teriakan Marrine yang masih terdengar beberapa kali dibelakang sana.Senyumnya tak pernah pudar begitu mendengar kabar bahwa Zeus telah kembali.Sementara tak jauh dari posisinya, terlihat Marrine yang tampak sudah berhenti berlari dengan napas terputus-putus, mengusap keringat di keningnya sendiri menggunakan punggung tangan.Di usianya yang sudah bisa dikatakan tua ini, wanita setengah baya itu sudah tidak bisa lagi berlarian menyusul Hera yang telah menjauh. Marrine hanya bisa mengawasi ratunya itu dari arah kejauhan, meringis ngeri ketika melihat Hera yang beberapa kali terlihat hampir terjatuh karena tak sengaja menginjak rok gaunnya sendiri.Hera bahkan sudah berlari menaiki ribuan anak tangga pelataran yang akan membawanya kearah kastil Istana Darken yang terlihat semak

  • Belahan Jiwa   68). Zeus Yang Malang

    "Bukan begitu caranya!" Zeus mendelik. Merasa kesal karena Hera berulang kali terus memarahinya bahkan membentaknya. Akhir-akhir ini, Hera menjadi melunjak dan berani bersikap sok di hadapan King Demon Zeus. Seperti saat ini contohnya, raut wajah wanita itu tetap terlihat biasa saja meski King Demon Zeus sudah menampilkan wajah garangnya, tapi seakan sudah kebal dengan tatapan seperti itu, Hera lalu melengos tidak peduli sambil membenarkan posisi tubuh Ares dengan benar diatas pangkuan iblis itu agar bayi kecil mereka merasa nyaman. Ares sudah tidak menangis setelah Hera selesai menyusuinya lagi. Bayi kecil laki-laki itu memang sangat rakus dan kini tengah mengulum satu ibu jari tangan kanannya bahkan terlihat pasrah-pasrah saja ketika tubuhnya dijadikan kelinci percobaan oleh kedua orangtua kandungnya itu. "Letakkan tangan kirimu dibawah kepala antara leher dan kepalanya. Jangan mengabaikannya Zeus, kalau sampai salah nanti kepala Ares bisa tengleng." "Tengleng?" King Demon Zeus

  • Belahan Jiwa   67). Zeus Takut Bayi

    "Hera?" Hera terkejut begitu ia terbangun dan langsung mendapati Alexa berada di dalam kamarnya. Wanita itu tampak mengamati sekeliling kamar, untuk memastikan bahwa dirinya benar-benar masih berada di dalam kamarnya di Istana Darken. "Luna Alexa, kau?" Alexa langsung menubruk tubuh Hera begitu saja, memeluknya. "Hera maafkan aku." Hera benar-benar terlihat masih tampak linglung. Nyawanya sepenuhnya belum terkumpul. Lalu ketika ia melihat kearah box bayi, Ares tiba-tiba sudah tidak berada di sana, membuat wanita itu panik. "Putraku! Dimana putraku Ares?" Alexa segera mengurai pelukan mereka dan menenangkan Hera. "Anastasya telah membawanya ke luar, sedang bermain bersama Abercio dan Alexandre." "Alexandre disini?" Alexa mengangguk."Aku sengaja membawanya kesini." Hera segera mengambil kedua tangan Alexa dan menatap tepat kedalam bola mata kakak ipar

  • Belahan Jiwa   66). Rindu Yang Menggebu

    "Saya benar-benar sangat terkejut ketika melihat anda tadi Yang Mulia Ratu."Ana sudah duduk dikursi sofa setelah tersadar dari pingsannya, wanita itu terus memperhatikan ratunya yang saat ini sudah menidurkan Pangeran Ares didalam box bayi seraya mengusap pelan puncak kepala bayi lelaki itu.Melihat Hera yang terus tersenyum mengamati Pangeran Ares, sungguh membuat Anastasya merasa terharu. Pasalnya baru kali ini Ana bisa melihat interaksi ratunya itu dengan anak kecil."Saya sudah mengirimkan pesan ke Goldenmoon pack tentang kembalinya anda Yang Mulia Ratu. Saya rasa Alpha Elios sedang merayakan kebangkitan anda kali ini."Hera kemudian segera duduk di single sofa tak jauh dari Anastasya berada."Apakah kakakku pergi ke Istana Darken ketika berita kematianku diumumkan, Ana?"Anastasya tampak terdiam."Ana, cepat ceritakan padaku apa yang sebenarnya sudah terjadi."

  • Belahan Jiwa   65). Bangkit Kembali

    "Kudengar, King Demon Zeus sedang menyibukkan diri didalam ruang kerjanya hari ini.""Benarkah? Menurutmu, apakah Yang Mulia menyesal setelah Lady Anastasya kemarin bicara begitu padanya?""Entahlah. Tapi aku salut dengan Lady Anastasya yang berani bicara seperti itu kemarin."Dua orang pelayan Istana Darken itu terlihat tengah asik bercengkrama setelah memastikan semua pekerjaan mereka telah selesai di kerjakan. Marrine yang merupakan seorang kepala pelayan di Istana Darken yang kebetulan baru saja tiba segera menegur kedua pelayan itu."Kalian berhentilan bergosip. Apakah kalian lupa bahkan tembok memiliki dua mata dan juga dua telinga."Kedua orang pelayan Istana Darken yang ketahuan sedang membicarakan King Demon Zeus itu langsung menunduk kaku, tidak berani menatap kearah Marrine.Salah satu dari kedua pelayan itu akhirnya berani membuka suara, meski dengan suara ya

  • Belahan Jiwa   64). Kesempatan Kedua

    Hari demi hari telah berlalu, keadaan Istana Darken kembali menjadi sepi mencekam. Ada kehidupan didalamnya namun semua makhluk disana seakan tak lagi memiliki gairah untuk terus melanjutkan hidup sejak kematian Hera di umumkan.Tidak ada upacara untuk hari kematian Hera seperti yang King Demon Zeus perintahkan. Tidak ada yang berani melihat bahkan hanya untuk sekedar mendekati peti mati yang menyimpan tubuh wanita itu.Semuanya berjalan seperti biasa. Seakan tidak pernah ada Hera di Istana kegelapan itu. King Demon Zeus hanya berkata, bahwa tubuh Hera telah dia kremasi dengan semestinya, tanpa menjelaskan secara rinci apa lagi yang Pria Iblis itu lakukan hingga beritanya seakan lenyap begitu saja.Tidak ada satu makhluk pun yang berani mengungkitnya, bahkan Alpha Elios dan segenap keluarga Goldenmoon pack tidak mendapatkan kabar baik.Hanya ada suara tangisan bayi kecil bernama Ares dan Abercio yang mampu membuat s

  • Belahan Jiwa   63). Mati

    Lengkingan suara tangis bayi lelaki itu terdengar bersamaan dengan kedua mata Hera yang telah terpejam rapat. Tubuh lemahnya tergelepar begitu saja keatas ranjang dengan wajah pucat penuh dengan bulir keringat. Ester dan Yasmin yang membantu Hera bersalin langsung saling berpandangan dengan raut wajah cemas mereka.Ester kemudian bergegas menyentuh urat nadi di satu lengan Hera, sementara Yasmin sudah menyerahkan bayi lelaki penuh darah itu pada Marrine untuk segera dibersihkan."Yasmin, bagaimana ini? Queen Hera kehilangan denyut nadinya." Yasmin segera mendekat, meraih apapun yang ia sebut sebagai obat untuk memberikan pertolongan pertama dengan beberapa ramuan yang dia punya. Membaui hidung Hera agar wanita itu segera tersadar dengan mengoleskannya sedikit di pelipis dan dan kedua telapak kaki ratunya yang terasa semakin dingin.BRAK!"Hera!"Alpha Elios masuk kedalam ruang bersalin itu beg

DMCA.com Protection Status