Home / Romansa / Beautiful Sin / 1. Antagonis dari Dendam

Share

Beautiful Sin
Beautiful Sin
Author: JasAlice

1. Antagonis dari Dendam

Author: JasAlice
last update Last Updated: 2022-08-22 15:50:47

“Aku sudah berkeluarga dan memiliki seorang putra berusia dua tahun.”

“Seharusnya kita tidak berakhir di ranjang apartemenku, Emine.”

Suara lelah, cukup frustrasi dengan meremat rambut hitam sebagai bentuk pelampiasan.

Manik coklat itu memerhatikan tubuh tegap dan atletisnya dari cermin, memantulkan diri dengan pakaian yang sudah tidak rapi lagi. Tidak ada lagi tubuh tanpa helai dan peluh yang menempel, menjadi bukti betapa ia bergairah meniduri perempuan selain istrinya.

Ia mengembuskan napas berat, menyadari kesalahan karena tidak terbiasa minum dan berakhir membawa sekretarisnya sebagai partner ranjang.

“Tuan Sener. Kita melakukannya secara sadar dan aku tidak mempermasalahkannya.”

“Ini juga bukan masa suburku.”

Penjelasan dengan nada ringan itu membuat Can—Yavuz Can Sener—menoleh ke arah ranjang. Ia mendapati sorot teduh dari manik Emine—Sekretaris baru—Can, mengisi kekosongan posisi lama, baru dua minggu terakhir.

Bahkan, bibir keduanya sudah lancang berciuman di hari ketiga Emine bekerja. Perempuan itu yang memantik, memulai semua kenakalan tidak terduga pada Can. Jika kecupan di bibir itu bukanlah keinginan Can. Kali ini, ia mengakui keberengsekannya dan mengaburkan kemantapan hati, berakhir mengkhianati Akira untuk kali pertama.

Karena pengaruh alkohol itu tidak lah seratus persen membuatnya melupakan status dan peran.

Emine duduk dengan nyaman dan masih memegang ujung selimut, menutupi tubuhnya tanpa helai satu pun.

Can mendengkus pelan.

Kemudian, tubuh tinggi itu berjalan mendekati ranjang dan menatap lurus Emine. “Berpikirlah, jika aku sudah menidurimu, Emine. Kenapa raut wajahmu berbanding terbalik denganku?”

Senyum tipis itu menghadirkan tanya dalam benak pria Turki itu. Pun, ia berani memberikan kedipan nakal pada Can, beralih menyandarkan punggung polosnya di kepala ranjang. “Anda adalah atasanku di perusahaan dan telah berstatus sebagai suami juga Ayah untuk satu putra kandung Anda.”

“Tapi, bagaimana jika Anda melihatku dari sisi lain, Tuan Sener? Malam ini kita sudah mengubah status tersebut menjadi partner ranjang, bukan?”

Sorot manik coklat dan hazel Emine tertaut.

Perempuan Turki dengan kulit tubuh putihnya, kian selaras memancarkan binaran di balik manik tersebut. Tidak ada raut sedih dan frustrasi seperti yang dirasakan Can malam ini.

“Aku sudah menyerahkan keperawananku untuk seorang pria beristri. Bukankah itu hal yang sangat menyenangkan? Atau Anda tidak tertarik dengan tubuhku, Tuan?”

Can menggeram dalam hati.

Ia membuang pandangan saat tatapan yang ia kira begitu polos di awal pertemuan. Nyatanya, perempuan semampai dengan rambut coklat terurai panjang itu mampu memberikan tatapan berbeda.

Tubuh Can berdesir.

Gairahnya memuncak saat ingatan beberapa waktu lalu terasa panas di kamar miliknya.

Emine dan dirinya melebur dan berakhir kepuasan di diri masing-masing.

“Tenanglah, Tuan. Aku tidak akan menuntut Anda terlalu jauh.”

Can terkesiap.

Ia mengerjap, tidak sadar dengan gerakan Emine yang sangat cepat. Perempuan itu sudah berdiri di hadapannya, memberikan tatapan sensual.

Jemari tangan kanan itu membelai sisi wajahnya. Bahkan, Emine terlihat tidak begitu peduli untuk melilit selimut menutupi tubuhnya. “Aku tidak membutuhkan uang ataupun tempat tinggal,” bisiknya, mengecup sudut bibir Can sedikit berjinjit.

Sial!

Tubuh atletisnya merespons sangat cepat, meskipun sekadar kecupan ringan.

Emine menarik sudut bibirnya, menatap nakal Can dengan merapatkan tubuhnya, sedikit menggesek tubuh depan keduanya. “Aku hanya membutuhkan sentuhan Anda, Tuan. Karena pria pertama yang berhasil memikatku adalah Anda, Tuan Sener.”

Can tertegun.

Napasnya tercekat bersama debaran kuat yang ia rasakan ketika menilik lebih lekat manik hazel Emine. Perempuan yang tidak lebih dari dagunya terus memberikan tatapan intens, tersenyum sensual dengan geliat nakalnya. “Aku ... sudah merasa lebih dari cukup, jika mendapatkan perhatianmu saja sebagai pria spesial di hidupku, Can,” bisik Emine, membekukan tubuh Can.

“Sekalipun kau sudah memiliki istri dan anak,” tandasnya membiarkan tangannya turun di kedua sisi tubuh, membiarkan Can menegang dengan tubuh polos Emine.

Selimut itu sudah teronggok di kaki Emine.

“Jadi, apakah kau menyetujui penawaranku, Sayang?”

Napas Can naik turun. Tapi ia mengetatkan rahang, menyorot tajam perempuan yang dua tahun lebih muda darinya, berani menantang pria sepertinya. “Kau ... yakin dan bersedia menerima risiko apa pun?”

Emine menarik sudut bibirnya. “Aku menerima semua risiko, kecuali dirimu yang menjauh dariku,” desis Emine meraih tengkuk Can, mengusap dan mendekatkan dengan wajahnya.

“Kau ....”

“Hanya perlu mencicipi tubuhku tanpa memikirkan keadaan keluargamu. Di saat itu, kau akan mengetahui betapa aku tidak akan mengusik rumah tanggamu, Tuan.”

“Jadi, nikmati malam hari ini dan berikan pesan pada istrimu mengenai ketidakhadiranmu di rumah.”

Hasrat Can meledak seiring belaian dan ciuman menggebu Emine.

Can tidak menerima kedua tangannya terabaikan begitu saja. Pandangannya sudah membeku melihat dua bagian dengan puncak menegang saat selimut tersebut teronggok.

Ia dan Emine sudah mencecap malam pertama mereka. Bahkan, Emine memberikan penawaran yang tidak akan merugikan Can, kecuali kesetiaannya.

Pria itu terdiam sesaat ketika bibir Emine memagutnya sangat lembut. Ia bisa melihat kelopak mata perempuan itu terpejam, menikmati tekstur bibir Can.

Namun, ia menilik lebih jauh jika malam ini bukahlah kesalahan fatal, melainkan ada debaran yang entah kenapa mengusiknya untuk dua bagian; Emine memanggil dirinya dengan sebutan Can. Juga, Emine mampu menggetarkan perasaan Can dengan belaian dan kecupan.

Malam ini, ia menjadi pria berengsek yang tidak akan pernah termaafkan oleh istrinya. Menyentuh perempuan lain dengan keadaan sadar dan hasrat yang jauh membumbung tinggi dibandingkan Akira; istri Can.

Emine tersenyum puas saat Can kembali mendorong pelan tubuhnya, lalu merebahkannya dan mengurung Emine dengan tubuh atletis Can, begitupula tatapan penuh hasrat. “Aku yang membukanya atau aku biarkan kau melakukannya? Sekaligus merayuku dengan tubuh sempurnamu beberapa waktu lalu, Can?” bisik Emine tersenyum nakal, tidak peduli hanya dirinya yang sudah melepas semua satu helai pakaian.

Can menarik sudut bibirnya, menilik lekat manik hazel tersebut. “Kau adalah seorang perawan. Sayangnya, sikapmu begitu menarik perhatianku malam ini.”

“Tentu. Aku melakukan hal ini secara mendadak, tapi aku memanfaatkannya sangat tepat,” balasnya memperlihatkan kelicikan.

Can mengartikan begitu berbeda karena suara itu terkesan ringan dan menggemaskan di telinganya.

“Mulai detik ini, kau bisa memanggil namaku di saat kita hanya berdua.”

Semringah itu terpatri di paras cantik Emine. “Baik, Tuan Yavuz Can Sener,” bisiknya.

Bibir keduanya kembali berpagut mesra, lebih liar dan menanggalkan semua sifat naif, kecuali hasrat Can yang terpantik jauh lebih besar bersama Emine.

Sentuhan Can membuat tubuh Emine mendamba. Ia tidak peduli saat desahanannya terdengar menjijikkan, sedangkan Can kian bersemangat menjalankan tangan bebasnya menyentuh tiap lekuk tubuh dan bagian menggoda Emine.

Bahkan, pria itu seolah tuli mendapati panggilan telepon istrinya yang berada di atas nakas sisi ranjang.

Emine tersenyum miring saat suara itu terdengar jelas di telinganya.

**

Related chapters

  • Beautiful Sin   2. Nyaman dan Berakhir Suka

    Emine mengenggam erat ponsel Can.Ia mengirim pesan atas persetujuan Can sekitar lima belas menit lalu. Emine puas saat Can menuruti permintaannya, berdalih tidak bisa pulang untuk pekerjaan yang banyak dan rasa lelah menyita waktu nyaris seharian. Termasuk saat ia dan Can pergi mengunjungi kolega setelah perjalanan bisnis.Rutinitas Emine beberapa minggu terakhir. Hari ini menjadi kali pertama ia berhasil memikat atasannya.“Kau tidak tidur? Jam sudah terlalu larut untuk sekadar tetap membuka mata. Kau bisa terlambat bekerja nanti pagi.”Perempuan berjubah mandi putih itu berbalik. Ia tersenyum kecil, mendapati Can sudah mengganti pakaian dengan kaus lengan pendek, selaras dengan celana yang dipakainya.Ia tengah berjalan mendekati Emine sambil menggosok rambut dengan handuk kecil di tangan. “Apa pesanku sudah dibalas istriku?”Pertanyaan itu mengusik perasaan Emine.Ia tanpa sadar menipiskan senyum, tapi segera memperlihatkan kembali dengan rasa senang. “Dia percaya karena telah men

    Last Updated : 2022-08-22
  • Beautiful Sin   3. Perasaan Gelisah

    “Papa ....”Can tersenyum lebar, merentangkan kedua tangan dengan berjongkok, mensejajarkan agar lebih mudah membalas dekapan anak lelaki berusia dua tahun tersebut. “Kau tampak menggemaskan, Nak.”Anak lelaki itu tertawa, menggeliat geli saat kecupan di pipinya berulang kali dilakukan Can.“Baiklah.”“Sekarang ganti cium Papa, Nak.”Can mengulum senyum setelah mengurai pelukan. Pipi kanan ia condongkan agar mendapatkan atensi dari putranya; Reyhan Hasad Sener.Dua kecupan ringan dan bersuara itu menghangatkan perasaan Can. “Sudah?”Pria tampan itu mengangguk, lalu mengecup lama kening Reyhan.Seorang perempuan berbalut gaun sebatas lutut mendekati dua Ayah dan anak tersebut. Ia melipat kedua tangan di dada, menatap kesal sekaligus tajam pada Can yang menyadari keberadaannya. “Kau izin secara mendadak. Bagaimana bisa aku tidur tanpa kehadiranmu, Sayang?”“Mama sedih pagi ini, Papa.”Reyhan berucap layaknya anak seusia dua tahun yang sudah lumayan cerdas. Bahkan, raut Reyhan memperliha

    Last Updated : 2022-08-22
  • Beautiful Sin   4. Menyembunyikan Kebohongan

    Minggu siang ini Can memutuskan kembali ke ruang kerja di sisi kamar. Pria itu meraih MacBook di atas sofa kamar, lalu meraih ponsel di atas meja yang sejak tadi ia abaikan. Can hanya berniat sekilas melirik layar ponsel. Harus terpaku saat ada nomor asing tertera di sana dan terlihat ada foto yang dikirim. Segera jemari ramping itu membuka isi pesan dan tertegun, merasakan gejolak hasrat tubuhnya terbakar melihat dua pose Emine. Perempuan yang memperlihatkan senyum nakal. Tidak segan menaikkan arah kamera, mengambil senyuman nakal dengan satu tangan secara asal menahan selimut agar tidak turun. Sepertinya pose itu diambil Emine saat Can membersihkan tubuh dan bergegas ingin pulang. Tentu sebelum hasratnya tidak bisa tertahankan untuk mencecap perempuan yang ia ambil keperawanannya. Tubuh Can berdesir. Napasnya berembus tidak beraturan dan pikirannya kembali pada malam panas mereka. Can terbuai dan ada satu titik di mana ia cukup kaget juga senang menjadi pria pertama untuk Emine

    Last Updated : 2022-08-22
  • Beautiful Sin   5. Debaran Berbeda

    “Aku merindukan sentuhanmu, Can.”Oksigen di dalam mobil menjadi terkuras hitungan detik. Ia begitu sulit menelan saliva saat suara di seberang sana berucap rindu, begitupula suara yang terkesan manis di dengar Can.Ia membetulkan letak AirPods, meskipun tidak ada yang salah.Can berusaha untuk fokus mengemudikan mobil. Ia dalam perjalanan pulang dari rumah orangtuanya sendirian dan ikut makan malam di sana.“Sayang? Kau baik-baik saja di sana? Atau aku menganggumu? Aku bisa menutup panggilan—““—tidak.”“Hanya saja aku belum terbiasa mendengarkan kalimat mesramu.”Can mengakui dengan sangat polos.Bahkan, ia bisa merasakan kedua pipi bersih tanpa bulu halus di sekitar rahang, terasa memanas. Pria itu salah tingkah dan semakin merasa kalah saat tawa di seberang sana mengusik dirinya.“Emine. Aku tidak ingin berada di posisi seperti ini. Bagaimanapun aku adalah atasanmu yang harus kau hormati.”Can mengeluarkan statusnya di perusahaan yang juga menjadi tempat Emine mencari pekerjaan se

    Last Updated : 2022-08-22
  • Beautiful Sin   6. Rayuan untuk Selingkuh

    Entah kenapa pagi ini terasa berbeda saat Can datang ke perusahaan. Kemudian, pria itu disambut manis oleh Emine yang berdiri di depan meja kerjanya, menyapa Can yang membalas singkat dan segera masuk ke ruangan. Sebenarnya perasaan pria itu semakin tidak keruan hanya dalam satu malam. Bersikap normal dan menganggap semuanya menjadi hal lalu sangat sulit bagi pria itu. Bahkan, pekerjaan yang ia selesaikan dan interaksi Akira padanya cukup mengabur. Pikiran pria keturunan Turki itu dipenuhi oleh satu nama; Emine. “Selamat pagi Tuan Sener.” Can mendongak. Belum sampai satu menit ia duduk di kursi kebesaran, lalu mengingat dan memahami perasaan yang menyusup aneh. Perempuan yang memenuhi pikirannya masuk dengan senyum manis, membawa satu bekal, sesuai keinginannya. Emine meletakkan tas yang sudah terisi bekal sarapan pagi bersama peralatannya. “Aku sudah membuatkan sarapan pagi untukmu, Can.” Manik coklat itu bersitatap cukup lama dengan Emine. Ia merasa tidak asing dengan senyum

    Last Updated : 2022-12-15
  • Beautiful Sin   7. Merasa Cemburu

    Rapat internal siang ini telah usai. Emine sibuk membereskan berkas Can di posisi pria itu duduk. Karena Can berada di luar ruangan, berbicara beberapa hal ringan dengan lelaki yang menjabat sebagai General Manajer tersebut. “Terimakasih atas undangan Anda, Tuan. Dengan senang hati saya akan datang menghadiri pesta pernikahan putri Anda.” Can tersenyum kecil. Ia sudah menganggap lelaki tiga tahun lebih tua dari Ayahnya adalah orangtuanya juga. Can diajarkan untuk beradaptasi dan menyelaraskan apa yang sudah diminta orangtuanya. Bahkan, ketika ia tidak mengingat apa pun, hatinya selalu saja menyukai pertemuan dengan banyak orang dari beberapa kalangan berbeda. “Sungguh suatu kehormatan jika Anda datang, Tuan.” “Sebenarnya saya ingin mengadakan pesta di Ankara. Hanya saja, calon suami putri saya memang meminta kami untuk menyiapkan di sana. Mengingat Ibu dari calon menantu saya sedang sakit dan berada di kursi roda.” Can mengucapkan turut kesedihannya dan berdoa agar wanita itu se

    Last Updated : 2022-12-15
  • Beautiful Sin   8. Jatuh Cinta

    Emine memelotot sempurna dengan tubuh menegang, mendapati kali pertama Fuat mencium pipi Emine. Bahkan, tangan kanan pria itu menahan tengkuknya agar menempelkan bibir ranum Emine semakin lekat. Wajah Emine memerah dan merambat hingga ke leher jenjang, menatap tajam Fuat dan bersiap memberontak. Namun, gerakan itu terhenti seiring rasa kaget Emine. “Jangan terlihat kaku atau menyerangku, Ayse. Di belakangmu ada Tuan Sener,” bisik Fuat. “Dia berdiri di halaman depan lobi,” lanjut pria itu tepat di sisi wajah Emine, tanpa mengubah posisi sebelum menyelesaikan kalimat. Perempuan itu menatap Fuat dengan pupil melebar, memberikan kode dan pria itu ikut membalas dalam sorot mata. “Maaf, tapi dari ucapanmu beberapa menit lalu. Maka, kau harus membuat cinta pertamamu cemburu.” Emine terkejut. Sorot mata Fuat menyampaikan sikap tegas. Bahkan, Emine menegang saat kedua bahunya di pegang erat Fuat, menunjukkan dirinya yang memang sangat dekat dengan seorang pria. “Ingat. Jika dia bertanya,

    Last Updated : 2022-12-15
  • Beautiful Sin   9. Ayo, Kita Bercinta Lagi

    “Apa sekarang kau bisa mengakui rasa cemburumu, Sayang?” Can membuang pandangan, meskipun debaran dalam dadanya tidak keruan. Ia merasa ingin marah, membenci Emine yang tidak berucap jujur sejak awal. Bahkan, ia pun baru sadar jika terlalu membenci keadaan di mana pria asing tadi menyentuh Emine. “Seharusnya kau menyadari tentang keinginanmu, Emine,” tekan Can, berusaha meredam gairah saat jemari lentik itu membuat pola abstrak dan membelai sekilas dada bidang Can. “Jika kau sudah menyukaiku dan menerima risiko apa pun dari hubungan kita. Kau hanya bisa menerima sentuhan dari satu pria, yaitu aku.” “Kau masih bisa memiliki pilihan lain untuk mendorong atau menampar mantan kekasihmu itu,” tekan Can. Dua tubuh kembali melebur. Can benar-benar menikmati sentuhan Emine dan bagaimana mereka menciptakan desahan juga gairah yang sama memuncak. Di antara rasa yang berkecamuk di dalam dadanya. Can menikmati permainan Emine dan juga dua hasrat yang bergejolak sama. “Kenapa kau tidak me

    Last Updated : 2022-12-15

Latest chapter

  • Beautiful Sin   15. Tamu Berbahaya

    “Bisakah kau membagi nomor ponsel atau di mana unitmu berada, Nona Cantik?” Emine bersemu. Ia tidak menduga datang sebagai sekretaris Can ke pesta salah satu rekan kerja orangtua pria itu, justru membuat Emine kebingungan menanggapi banyak pria yang mendekat. Pria di hadapannya adalah orang kelima setelah susah payah Emine menyingkirkan yang lain. Karena jika ia melirik lagi ke sebelah kanan, maka tatapannya sudah dapat bertumpu dengan satu pria di meja tidak jauh. Can sedang mengobrol dengan beberapa rekan bisnis seusia, tapi sesekali melempar tatapan tajam ke arah Emine. Perempuan itu menelan saliva susah payah. “Aku akan langsung pulang bersama Tuan Sener malam ini, Tuan. Maafkan aku. Permisi.” Ia ingin menyelamatkan diri sebelum Can akan memusuhi Emine atau lebih parahnya perempuan itu diposisi Akira. Emine tidak ingin ditinggalkan Can begitu saja dengan kemarahan yang emosional. “Akhirnya,” cetus Emine mengembuskan napas lega setelah berdiri di tempat sepi. Segera ia mengh

  • Beautiful Sin   14. Cinta yang Manis

    Tidak ada yang menarik saat Emine harus bertemu Can di unit apartemen. Bahkan, setelah pria itu mengajaknya dengan penerbangan yang sama hingga berakhir di penthouse di negara yang mereka singgahi. Can lebih banyak diam tanpa berniat membuka satu percakapan pun.Emosi pria itu sedang tersulut dengan suasana hati yang benar-benar buruk, tidak pantas Emine ambil kesempatan karena hanya memperparah keadaan.Namun, perasaan mencelos menatap punggung lebar duduk di sofa, membelakangi Emine sedang menuang kesekian kali wine ke dalam gelas. Pria itu sedang stres, mengalihkan pikiran waras dengan minuman yang ia harapkan bisa meredakan pusing berdenyut, menyadari jika ia sudah mulai tidak nyaman dengan status pernikahan.“Can! Hentikan! Kau hampir menghabiskan dua botol!” sentak Emine meraih botol kedua yang sudah setengah tandas.Sosok pria di hadapannya sedikit mengerang, terus meminta botol tersebut kembali ke tangannya. Tapi Emine tidak kuat lagi dan merasa asing dengan pria yang dulu jau

  • Beautiful Sin   13. Keputusan Berpisah

    Senyum semringah terlihat sempurna di paras wanita yang masih beberapa tahun lagi menyentuh awal lima puluh tahun, meskipun perawatan di tubuhnya akan selalu menunjang dan sangat pantas memadupadankan pakaian berkelas. “Apa yang sore ini sedang disiapkan keponakanku?” Akira berbalik, menatap bersemu Nyonya Erdem—Bibi Akira—yang datang tanpa diketahui Akira, masuk ke dalam kamar perempuan itu. Ia terlalu sibuk mempercantik kamar agar terkesan lebih romantis dan sensual untuk menyambut suami tercinta. “Aku hanya memberikan sensasi lain agar Can datang dan bisa menikmati kebersamaan kami yang sudah terasa lama tidak hidup layaknya pengantin lagi, Bibi.” Nyonya Erdem tertawa kecil melihat bibir mengerucut Akira. Ia bisa melihat kelopak mawar diberikan di atas tempat tidur, minuman di atas meja kecil sudut ruangan, lalu dengan segala aroma menggoda untuk menjalin pasangan suami istri lebih terasa hidup; bergairah. “Bagaimana dengan Reyhan? Apa tugasku untuk mengasuhnya hari ini selam

  • Beautiful Sin   12. Kesayangan Ibu Mertua

    Seluruh pasang mata yang memerhatikan wanita berparas cantik, meskipun sudah melahirkan seorang anak berusia dewasa, tetap menarik atensi mereka dengan wajah kencang dan tidak melupakan status wanita tersebut.Mereka memberikan salam hormat dan dibalas sangat hangat oleh wanita yang tidak segan memberikan senyum lebih ramah.Pintu menjulang tinggi itu dibuka sedikit tergesa, lalu mendapati pria dengan nama belakang Sener sedang memeriksa beberapa laporan.Manik mata itu segera bersitatap ke arah pintu, terkesiap kaget dan menghentikan aktifitasnya. “Mama?”Can menghampiri Nyonya Sener, lalu meraih tangan kanan wanita itu untuk dikecup dan dibawa ke kening. Raut bingung sangat kentara di paras tampan karena tidak mengetahui kedatangan sang Mama. “Apa ada masalah, Ma? Kenapa datang secara tiba-tiba ke mari? Seharusnya aku bisa menjemput Mama jika ingin pergi ke perusahaan.”“Mama ingin memakimu.”Jawaban tegas, singkat dan sorot kentara itu membuat kening pria itu mengernyit. “Kenapa Ma

  • Beautiful Sin   11. Nyaman Bersama Perempuan Simpanan

    Pintu ditutup rapat dan tidak lupa dikunci cepat. “Astaga! Apa yang sempat kulihat beberapa waktu tadi?!” Susan histeris setelah bersusah payah membungkam mulutnya. Emine tertunduk malu. Ia tidak menyangka saat ciuman dari Can yang selalu disukainya, berniat membalasnya, justru berakhir memalukan. Fuat menyeringai puas melihat raut tersipu Emine. “Aku sudah bersusah payah membungkam mulut Susan, Ayse. Untung saja dia tidak berontak berlebihan,” timpal pria itu tersenyum jahil sambil melipat kedua tangan di dada. “Ah, aku jadi merindukan seorang perempuan bisa menghangatkan ranjangku. Bukankah setelah ciuman panas akan berakhir di sebuah ranjang? Ck! Fantasi liarku mulai memengaruhi pikiran dan milikku yang perlahan menegang.” “Berengsek!” Fuat tergelak mendengar teriakan dua perempuan yang memekik, menatap horor ucapan teman pria mereka. Kedua tangan Fuat terangkat untuk memberitahu jika pria itu hanya bercanda. “Tenanglah. Aku tidak semesum itu mengenai pikiran kotorku,” cengir

  • Beautiful Sin   10. Mantan Calon Mertua

    Can memasuki apartemen kecil Emine yang berada di level paling rendah. Biaya yang mungkin hanya bisa terjangkau bagi Emine dengan fasilitas yang menurutnya pasti sudah lebih dari cukup. “Kau ingin unit yang lebih besar dan lengkap?” Can berbalik dan melihat Emine masih berdiri tidak lebih dari satu meter. Perempuan itu membiarkan Can berkeliling, melihat keseluruhan tempat tinggal Emine. “Aku sudah merasa lebih dari cukup di sini.” “Tapi apartemen ini cukup jauh dari perusahaan,” timpal Can. Emine mengedik santai, membiarkan Can mendekatinya. “Tidak masalah. Asalkan aku bisa nyaman di tempat tersebut. Aku akan tetap tinggal,” jelas Emine dan membuat Can terdiam sesaat. “Kau ingin minum sesuatu?” tawar Emine ketika tidak ada respons dari Can. “Sebentar. Aku bisa memberikanmu tempat yang lebih nyaman dan akan membuatmu mengirit pengeluaran biaya transportasi ke perusahaan.” Emine mengerjap beberapa kali saat sorot Can begitu lurus menatapnya. “Bagaimana jika kau saja yang menemp

  • Beautiful Sin   9. Ayo, Kita Bercinta Lagi

    “Apa sekarang kau bisa mengakui rasa cemburumu, Sayang?” Can membuang pandangan, meskipun debaran dalam dadanya tidak keruan. Ia merasa ingin marah, membenci Emine yang tidak berucap jujur sejak awal. Bahkan, ia pun baru sadar jika terlalu membenci keadaan di mana pria asing tadi menyentuh Emine. “Seharusnya kau menyadari tentang keinginanmu, Emine,” tekan Can, berusaha meredam gairah saat jemari lentik itu membuat pola abstrak dan membelai sekilas dada bidang Can. “Jika kau sudah menyukaiku dan menerima risiko apa pun dari hubungan kita. Kau hanya bisa menerima sentuhan dari satu pria, yaitu aku.” “Kau masih bisa memiliki pilihan lain untuk mendorong atau menampar mantan kekasihmu itu,” tekan Can. Dua tubuh kembali melebur. Can benar-benar menikmati sentuhan Emine dan bagaimana mereka menciptakan desahan juga gairah yang sama memuncak. Di antara rasa yang berkecamuk di dalam dadanya. Can menikmati permainan Emine dan juga dua hasrat yang bergejolak sama. “Kenapa kau tidak me

  • Beautiful Sin   8. Jatuh Cinta

    Emine memelotot sempurna dengan tubuh menegang, mendapati kali pertama Fuat mencium pipi Emine. Bahkan, tangan kanan pria itu menahan tengkuknya agar menempelkan bibir ranum Emine semakin lekat. Wajah Emine memerah dan merambat hingga ke leher jenjang, menatap tajam Fuat dan bersiap memberontak. Namun, gerakan itu terhenti seiring rasa kaget Emine. “Jangan terlihat kaku atau menyerangku, Ayse. Di belakangmu ada Tuan Sener,” bisik Fuat. “Dia berdiri di halaman depan lobi,” lanjut pria itu tepat di sisi wajah Emine, tanpa mengubah posisi sebelum menyelesaikan kalimat. Perempuan itu menatap Fuat dengan pupil melebar, memberikan kode dan pria itu ikut membalas dalam sorot mata. “Maaf, tapi dari ucapanmu beberapa menit lalu. Maka, kau harus membuat cinta pertamamu cemburu.” Emine terkejut. Sorot mata Fuat menyampaikan sikap tegas. Bahkan, Emine menegang saat kedua bahunya di pegang erat Fuat, menunjukkan dirinya yang memang sangat dekat dengan seorang pria. “Ingat. Jika dia bertanya,

  • Beautiful Sin   7. Merasa Cemburu

    Rapat internal siang ini telah usai. Emine sibuk membereskan berkas Can di posisi pria itu duduk. Karena Can berada di luar ruangan, berbicara beberapa hal ringan dengan lelaki yang menjabat sebagai General Manajer tersebut. “Terimakasih atas undangan Anda, Tuan. Dengan senang hati saya akan datang menghadiri pesta pernikahan putri Anda.” Can tersenyum kecil. Ia sudah menganggap lelaki tiga tahun lebih tua dari Ayahnya adalah orangtuanya juga. Can diajarkan untuk beradaptasi dan menyelaraskan apa yang sudah diminta orangtuanya. Bahkan, ketika ia tidak mengingat apa pun, hatinya selalu saja menyukai pertemuan dengan banyak orang dari beberapa kalangan berbeda. “Sungguh suatu kehormatan jika Anda datang, Tuan.” “Sebenarnya saya ingin mengadakan pesta di Ankara. Hanya saja, calon suami putri saya memang meminta kami untuk menyiapkan di sana. Mengingat Ibu dari calon menantu saya sedang sakit dan berada di kursi roda.” Can mengucapkan turut kesedihannya dan berdoa agar wanita itu se

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status