Share

Bab 143

Author: Levin Sergio
"Bukannya aku ingin mengomelimu, tapi kamu sudah membesar-besarkan masalah nggak penting. Dia hanya tokoh kecil. Apa perlu aku yang turun tangan?"

Liam mendengus dingin. "Satya, kalau ingin mewarisi Grup Suteja sepenuhnya, aku harus menyingkirkan Regina dulu."

"Awalnya, asal aku membunuh Regina dan dengan bantuanmu, aku bisa dengan mudah mengambil alih Grup Suteja."

"Tapi Nathan muncul di tengah jalan dan merusak rencanaku. Kalau nggak balas dendam, kelak bagaimana aku bisa mempertahankan harga diriku lagi?"

Master Satya mengangguk dan berkata, "Baiklah, aku juga agak penasaran dengan bocah bernama Nathan ini."

"Bisa-bisanya dia menetralisasi racun buatanku. Kemampuannya lebih hebat dari Bayu, si pecundang tua itu. Aku juga ingin bertemu dengannya."

Liam tampak percaya diri dan berkata sambil tersenyum dingin, "Adik sepupuku terus-terusan melindunginya. Aku kesulitan untuk menyentuh bocah itu."

"Tapi begitu Waldi, si bajingan tua berhati hitam itu mengambil tindakan, bocah itu pasti ak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 144

    "Bawa pergi!"Begitu perintah itu dilontarkan!Dua anak buah segera maju, lalu menangkap Emilia, dan mencoba menyeretnya pergi.Ken sangat marah dan berkata, "Lepaskan! Siapa kalian? Beraninya kalian menyentuh anggota Keluarga Sebastian?"Tamara juga marah. "Coba saja kalian berani. Asal kalian tahu, putriku ini tunangannya putra sulung Keluarga Halim. Kamu yakin kamu berani menyentuhnya?"Pria yang memimpin itu memasang ekspresi datar. Ada aura membunuh yang keluar dari tubuhnya."Memangnya kenapa kalau aku menyentuh Keluarga Sebastian kalian? Di Beluno ini, jangankan keluarga kecil seperti Keluarga Sebastian kalian, bahkan orang-orang dari keluarga bangsawan pun sudah banyak yang tewas di tanganku.""Kalau nggak mau mati, enyahlah dari sini. Kalau nggak, aku juga nggak keberatan membunuh kalian sekarang."Temperamen dingin dan suram itu membuat anggota Keluarga Sebastian ketakutan setengah mati.Ken masih tidak percaya dan berkata dengan marah, "Kamu kira aku bakal takut? Ayo, bertin

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 145

    Tentu saja dia tahu orang seperti apa Waldi itu.Namun permasalahannya sekarang, dia masih berutang ratusan miliar pada Waldi. Jadi, dia tidak punya hak untuk menantang penguasa bawah tanah Hessen itu."Bibi, jangan khawatir. Aku akan mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini. Waldi, si bajingan tua ini, berani menyentuh Emilia. Aku pasti akan membuatnya membayar harga mahal!"Meski Edward takut, putra sulung Keluarga Halim masih mempertahankan nada sombong, seolah-olah dia tidak menganggap serius Waldi sama sekali.Tamara tersenyum dan berkata, "Sudah kuduga. Edward, asal kamu mengambil tindakan, meski Waldi si bajingan tua itu penguasa bawah tanah Hessen, dia juga harus melepaskan Emilia dengan patuh."Edward kembali meyakinkannya. "Bibi, kamu tenang saja. Waldi masih harus memberi muka kepada Keluarga Halim kami."Begitu panggilan telepon berakhir.Wajah Edward langsung berubah cemas, bagaikan semut di wajan panas. Sikap sombongnya barusan lenyap dalam seketika."Waldi, Emilia it

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 146

    Saat ini, Nathan berada di Rumah Sakit Perdana.Arjun menelepon dan berkata, "Tuan Nathan, ada sesuatu yang ingin saya laporkan pada Anda.""Kak Arjun, katakanlah. Ada masalah apa?" kata Nathan.Arjun berkata dengan suara yang dalam, "Begini, orang-orangku melihat Emilia, CEO Grup Sebastian, dibawa pergi oleh anak buahnya Waldi di proyek Gluton.""Kapan hal ini terjadi?"Suara Nathan tiba-tiba berubah dingin."Baru saja. Emilia sepertinya dibawa ke Hessen. Saya rasa Waldi, si bajingan itu mungkin akan menggunakan Emilia untuk menghadapi Anda, Tuan Nathan," jawab Arjun dengan cepat.Nathan berkata dengan nada serius, "Kalau begitu, aku akan menghabisi nyawanya!"Arjun sangat ketakutan hingga tubuhnya gemetar. Dia buru-buru berkata, "Tuan Nathan, apa Anda ingin mengambil tindakan? Saya akan mengumpulkan anak buah dan mengikuti Anda ke Hessen.""Nggak perlu, aku bisa ke sana sendirian. Aku mau lihat apa yang akan dilakukan Waldi," ucap Nathan dengan datar.Arjun berkata dengan nada putus

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 147

    Waldi tersenyum dan berkata, "Bahir, lihat kata-katamu itu. Sekalipun kami hanya mengundangmu datang dan mengambil alih kendali sebentar, kamu tetap akan menerima apa yang seharusnya kamu dapatkan."Meski mulut Waldi berkata demikian, hatinya tetap saja merasa tidak rela.Para senior dari sekte bela diri ini memang sangat hebat, tetapi mereka semua merupakan orang-orang yang sombong.Mereka selalu meminta bayaran tinggi, bagai lintah darat.Namun setelah dipikir-pikir lagi, tatapan mata Waldi langsung berubah dingin.Kini dunia bawah tanah Beluno mengatakan Waldi, sang penguasa Hessen, merupakan lelaki tua yang tidak berguna. Sedangkan putranya sendiri, Daren, juga pecundang yang tidak becus.Pasangan ayah dan anak itu sama-sama ditindas dan dipukul oleh bocah yang tidak dikenal. Hal itu merupakan aib besar bagi mereka sebagai penguasa Hessen.Begitu mendengar rumor itu, Waldi sangat marah hingga mengatupkan giginya erat-erat.Bocah bernama Nathan itu harus mati. Dengan begitu, dia bar

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 148

    Emilia menarik napas dalam-dalam dan menenangkan diri."Tuan Waldi, meski kamu penguasa Hessen, kamu juga nggak boleh sembarangan memukul orang. Aku yakin Edward pasti akan menegakkan keadilan untukku nanti."Masalah sudah sampai di tahap ini, Emilia tidak percaya Waldi masih tidak akan memberi muka pada Keluarga Halim.Siapa sangka, Waldi berkata dengan nada menghina, "Edward? Bocah itu masih berutang ratusan miliar padaku. Kamu ingin dia menegakkan keadilan untukmu? Haha. Bahkan saat bertemu denganku, bocah itu masih harus berlutut."Orang-orang dari Hessen juga tertawa terbahak-bahak saat ini."Putra sulung Keluarga Halim bukanlah apa-apa. Dia hanya pecundang yang punya penampilan luar yang kuat.""Kamu begitu cantik dan juga CEO berbakat. Sayang sekali kamu mengikutinya. Lebih baik kamu ikut aku saja daripada Edward, si pecundang nggak punya masa depan itu. Aku jamin Keluarga Sebastian kalian pasti akan makmur!""Nona Emilia, aku terus terang padamu saja. Edward itu hanyalah sampah

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 149

    "Kamu mau telepon atau nggak?" teriak Waldi.Emilia menggigit mulutnya yang penuh darah. Wajahnya kini pucat pasi, tetapi dia tetap menggelengkan kepalanya dengan lemah, "Nggak. Aku nggak akan membiarkan Nathan mempertaruhkan nyawanya. Menyerah sajalah!"Waldi tampak marah dan berteriak keras, "Pukul lagi! Pukul sampai dia patuh!"Cambuk itu kembali menghantam punggung Emilia dengan keras bagai hujan badai.Tak butuh waktu lama, tubuh Emilia sudah berlumuran darah. Bahkan, ada kulit di bagian punggungnya yang terkoyak. Dia menjerit kesakitan dan kemudian tak sadarkan diri.Pria tua berambut putih yang duduk di sebelah Waldi, yang juga dikenal sebagai Bahir, itu tersenyum aneh dan berkata, "Wanita ini keras kepala sekali.""Orang seperti ini, sekalipun kamu memukulnya, juga nggak akan mematahkan tekadnya sepenuhnya. Aku punya rencana yang bisa membuatnya menyerah.""Bahir, apa kamu punya taktik yang lebih bagus?" tanya Waldi.Dia juga ingin mengubah metodenya, karena jika dia terus memu

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 150

    Jakun Daren bergerak dengan liar. Dia langsung menjerit aneh dan menarik pakaian Emilia dengan kuat.Seketika, sepotong besar rok Emilia robek, memperlihatkan dadanya yang seputih susu."Jangan! Lepaskan aku!"Saat ini, Emilia sudah hampir pingsan dan mulai menangis sambil berteriak histeris.Tindakan Daren barusan sudah hampir menghancurkan pertahanan dirinya.Menyadari dirinya akan dipermalukan lagi, dia tidak bisa bertahan lagi.Daren merasa tenggorokannya seperti terbakar. "Teriaklah, teriaklah sekuatnya. Makin kamu berteriak, makin membangkitkan gairahku untuk bersenang-senang denganmu!"Para preman Hessen yang sedang menonton, bahkan orang-orang tua seperti Bahir yang duduk di kursi utama, juga sangat tertarik dan berteriak dengan penuh semangat."Tuan Muda hebat. Ayo, tunjukkan keperkasaanmu.""Mari kita perjelas dulu. Setelah Tuan Muda selesai bermain, giliran Tuan Waldi. Selanjutnya, giliran tiga master hebat. Setelah itu, baru giliranku ....""Hari ini saudara-saudara Hessen

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 151

    Setiap kata itu diucapkan Waldi sambil menggertakkan giginya.Pria yang datang bukanlah orang lain, tetapi Nathan.Ekspresi dingin di wajahnya belum pernah terlihat sebelumnya.Dengan lambaian tangan kanannya, kapak yang direbutnya dalam pertarungan barusan itu meluncur melewati sekelompok master Hessen.Dalam sekejap dan tanpa disadari, kapak itu pun tepat menancap pada lengan Daren.Diikuti dengan lengkingan suara, lengan kanan Daren langsung terpotong dan darah pun mengucur keluar.Ada beberapa tetes darah yang juga jatuh mengenai wajah pucat Emilia. Wanita itu menyaksikan adegan di hadapannya dengan penuh keterkejutan dan ketidakpercayaan."Tanganku, tanganku .... Argh! Ayah, tolong aku. Cepat bunuh dia. Bunuh bajingan ini!"Daren yang kehilangan satu lengannya, tidak lagi peduli dengan perilakunya yang tidak senonoh. Sebaliknya, dia menutupi lengan kanannya yang kosong sambil berguling-guling di genangan darah.Kondisinya sungguh menyedihkan."Nathan, aku akan membunuhmu. Aku akan

Latest chapter

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 224

    Rumah Sakit Perdana.Begitu Nathan masuk ke dalam ruangannya, Tiara bergegas menghampiri dan berkata dengan ekspresi aneh, "Nathan, mantanmu dan keluarganya berada di rumah sakit kita."Nathan terkejut dan bertanya, "Apa terjadi sesuatu pada mereka?"Tiara cemberut dan berkata, "Sepertinya kamu masih punya perasaan terhadap Emilia. Kamu masih peduli padanya, 'kan?""Bukan seperti yang kamu bayangkan. Aku hanya merasa aneh," ucap Nathan tak berdaya.Tiara mendengus dan berkata, "Emilia baik-baik saja, tapi ibunya, si wanita tua galak itu, dan juga adik laki-lakinya, Ken, hampir dipukul sampai mati.""Aku lihat kondisi Emilia tampak kacau, wajahnya juga pucat, dan kebingungan. Bukankah kalian berdua kenal? Lebih baik kamu pergi lihat sendiri saja."Nathan tersenyum dan berkata, "Lantas, kenapa kamu barusan sepertinya nggak ingin aku pergi melihatnya?"Tiara membusungkan dadanya dan berkata dengan arogan, "Memang benar. Aku nggak ingin kamu terjerat dengan Emilia lagi.""Tapi bagaimanapun

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 223

    Edward berkata dengan ekspresi tidak senang, "Aku tahu semua yang Ayah katakan. Tapi masalahnya, aku nggak membeli mahkota ini dengan harga 40 miliar."Thomas mengerutkan kening. "Apa kamu bilang?"Jelas-jelas dia pergi ke acara lelang Grup Valentino dan langsung menekan situasi tersebut secara terang-terangan.Apa Roland berani tidak menunjukkan rasa hormat pada Keluarga Halim?Edward berkata sambil memasang ekspresi serba salah, "Sebenarnya, aku sudah bisa mendapatkan mahkota berlian itu dengan harga 40 miliar.""Tapi tiba-tiba ada bajingan yang muncul dan menantangku sampai akhir. Alhasil, harganya naik menjadi 200 miliar lebih. Jadi aku, aku ...."Tanpa menunggu Edward selesai berbicara.Wajah Thomas tiba-tiba berubah pucat. Dia menunjuk putranya dengan jari gemetar. "Apa yang kamu katakan? Kamu menghabiskan lebih dari 200 miliar lagi?""Anak durhaka! Bukankah aku sudah memperingatkanmu kalau harganya nggak boleh melebihi 100 miliar? Kamu ... kamu ingin menghancurkan kondisi keuang

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 222

    Ibu tirinya Edward tersenyum dingin dan berkata, "Nona Emilia memang hebat. Kamu bukan hanya berani menolak calon kepala Keluarga Halim secara terang-terangan.""Sekarang kamu juga berani mengabaikan perkataan kepala keluarga kami. Apa kamu pikir Keluarga Sebastian sekarang sanggup melawan Keluarga Halim?"Ekspresi Emilia sedikit berubah.Namun sebelum dia menjawab, Thomas sudah lebih dulu menampar wajah wanita cantik di sebelahnya."Tutup mulutmu. Sejak kapan wanita sepertimu boleh ikut campur dalam masalah keluarga? Minggir."Setelah melihat istrinya mundur, Thomas masih terus tersenyum ramah dan berkata, "Emilia, kamu dan Edward juga sudah lama berpacaran.""Mana ada pasangan yang nggak bertengkar? Tapi belum sampai tahap putus. Begini saja. Kamu kembali dan istirahat dulu. Nanti aku akan suruh Edward mengunjungimu dan minta maaf padamu."Emilia menggelengkan kepalanya. Dia sudah sangat muak dengan Edward."Maaf, Pak Thomas. Aku nggak bisa melakukannya. Sebaiknya akhiri sampai di si

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 221

    Nathan.Namun saat dia baru saja bersiap mengeluarkan ponselnya, tubuhnya langsung membeku.Jika dia meminta bantuan Nathan sat ini, bukankah itu sama dengan mengakui bahwa penilaiannya salah?Dia harus bagaimana menghadapi pria itu? Penilaiannya salah, harga dirinya hancur, dan reputasinya juga lenyap.Semua perkataan yang diucapkan Emilia saat itu berubah menjadi pisau tajam yang kembali mencabik-cabik dirinya sendiri.Melihat gerakannya, Edward menyeringai dan berkata, "Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Kamu ingin Nathan si pecundang itu menyelamatkanmu, 'kan?""Emilia, kamu bukan hanya berlagak sok suci, tapi kamu juga ingin berperan menjadi gadis jalang secara bersamaan?""Dulu kamulah yang mencampakkan Nathan dan mendekatiku. Sekarang kamu masih mau pergi memohon padanya? Kamu nggak merasa malu? Kamu sungguh bisa membuka mulut padanya?"Kata-kata Edward yang tajam itu langsung membuat wajah Emilia berubah pucat pasi.Edward tertawa. "Begini baru benar. Jangan khawatir, aku

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 220

    "Siapa yang berani pergi? Aku akan membunuhnya."Melihat tiga anggota Keluarga Sebastian hendak pergi, Edward menjadi gila.Dia langsung memerintahkan dua puluh pengawal Keluarga Halim masuk ke dalam dan mengepung tiga anggota Keluarga Sebastian itu.Tamara ketakutan hingga hampir kehilangan keseimbangan. Dia gemetar dan berkata, "Edward, apa yang ingin kamu lakukan? Dasar bajingan! Apa kamu ingin Emilia membencimu?"Ken mengangkat tangannya dan berkata dengan arogan, "Kita lihat saja siapa yang berani bertindak? Sialan! Keluarga Halim kalian hebat, tapi memangnya kamu bisa memaksa orang menikah denganmu?"Mata Edward memerah. Dia maju ke depan dan menampar wajah Ken.Plak! Plak! Plak!Tamparan demi tamparan itu membuat mulut dan hidung Ken menyemburkan darah. Dia menjerit dan bersiap untuk balik melawan Edward.Salah seorang pengawal Keluarga Halim mendengus dingin dan langsung menendang pinggang Ken.Sembari berteriak histeris, Ken langsung berguling-guling di tanah sambil memegangi

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 219

    "Edward, aku sungguh nggak bisa menikah denganmu."Ekspresi putra sulung Keluarga Halim tiba-tiba berubah.Tanpa disadari, tangannya yang memegang mahkota juga bergetar.Tamara dan Ken juga panik."Emilia, omong kosong apa yang kamu bicarakan? Itu mahkota senilai 200 miliar. Apa kamu pikir hadiah lamaran yang mahal itu nggak berharga? Cepat ambil dulu!""Benar, Kak. Setidaknya kamu terima lamarannya dulu dan ambil mahkota itu. Kalau kamu memang nggak menyukainya, kamu masih bisa menolaknya nanti!"Emilia mengabaikan keserakahan dan rasa tidak tahu malu ibu dan adiknya.Sambil menatap Edward, dia berkata dengan nada serius, "Edward, aku rasa kita benar-benar nggak cocok untuk menikah sekarang."Jadi, aku minta maaf. Aku benar-benar nggak bisa menerima mahkota ini!"Putra sulung Keluarga Halim akhirnya sadar bahwa dirinya telah ditolak."Emilia, aku akan beri kamu satu kesempatan lagi. Pilih kata-kata yang tepat dan jawab aku dengan benar."Penghinaan, kemarahan, kegilaan, semua itu memb

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 218

    Nathan tentunya tidak tahu tentang percakapan antara Roland dengan Monika.Sekalipun tahu, dia mungkin juga tidak akan peduli."Begitu cepat keluar? Dokter Nathan, apa Nona Monika nggak mengajakmu berkencan?"Regina memperlihatkan tatapan ambigu. Dia terus mengedipkan matanya pada Nathan.Nathan merasa kepalanya berdenyut. "Aku nggak punya waktu."Regina berkata dengan nada tidak senang, "Jadi, gadis bernama Monika itu benar-benar mengajakmu, Dokter Nathan? Huh! Dia masih terlalu muda untuk bersaing denganku dalam mendapatkan pria."Tiara bertanya dengan penuh minat, "Nathan, Monika itu primadona Grup Valentino dan kecantikannya cukup populer di kalangan sosial kelas atas Beluno. Bahkan, banyak kepala keluarga bangsawan yang ingin menikahinya.""Kenapa kamu menolaknya?"Nathan mengangkat bahu dan berkata, "Aku nggak tertarik dengannya. Apalagi, kami juga nggak kenal, jadi aku menolaknya.""Kamu menolaknya dengan tegas, tapi kalau hal ini sempat ketahuan sama Liam, Julian, dan para play

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 217

    Lelang terus berlangsung hingga larut malam.Banyak tamu yang masih belum puas.Bahkan, setelah meninggalkan acara lelang, mereka masih mengenang dua pertarungan seru yang terjadi barusan.Apalagi, semua kejadian itu berhubungan dengan pria bernama Nathan itu.Liam menghibur Edward. "Tuan Edward, berpikirlah positif. Bagaimanapun juga, mahkota berlian sudah menjadi milikmu.""Meski Nathan itu menyebalkan, pada akhirnya dia tetap dikalahkan olehmu, 'kan? Dia bahkan nggak berani bersaing denganmu."Senyum Edward tampak canggung.Apa Nathan, si bajingan itu, benar-benar dikalahkan oleh dirinya?Edward tidak merasa begitu.Bajingan itu jelas-jelas mencelakainya. Dia benar-benar keji.Meski Edward sadar dengan semua itu, dia masih harus memaksakan senyuman saat menghadapi Liam dan yang lainnya. Dia harus bersikap seakan dirinya baik-baik saja.Nyatanya, hatinya sudah hancur berkeping-keping dan hampir berdarah.Julian mendengus dingin. "Bocah ini cukup sombong.""Dia bukan hanya menyinggung

  • Bangkit dari Abu: Kembalinya Nathan   Bab 216

    Edward merasa dadanya sudah hampir meledak karena emosi.Dia tidak menyangka Nathan akan memberikan pembalasan yang begitu kejam.Edward berteriak sambil menunjuk ruang VIP nomor satu, "Nathan, kalau kamu hebat, keluarlah dan tantang aku. Kita duel satu lawan satu."Bajingan ini keterlaluan.Semua orang memberi hormat pada Keluarga Halim. Dia malah sengaja merusak rencananya.Apalagi, dia juga terus mengincarnya tanpa henti. Yang jelas menunjukkan bahwa dia menganggap Keluarga Halim bukanlah apa-apa.Nathan tidak tergerak dan hanya tersenyum sinis. "Tuan Edward nggak menginginkan mahkota berlian lagi?""Atau Tuan Edward bersedia mengakui kekalahan dan memilih menjadi seorang pengecut?"Nathan sedang memprovokasinya!Beraninya Nathan memprovokasinya!Ekspresi wajah Edward langsung berubah.Tuan Edward berteriak keras, "200 miliar. Aku pasti menemanimu bermain sampai akhir malam ini."Dia sekarang sudah berada dalam situasi sulit, tetapi masih terus menawar sampai akhir.Karena mahkota b

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status