Tubuh Waldi langsung menegang, seolah-olah ada orang yang mencabut tulang belakangnya.Kemudian, dia mengeluarkan raungan yang sangat keras. "Nathan, beraninya kamu membunuh putraku. Semuanya, cepat bunuh dia. Apa pun yang terjadi, kalian harus menghabisinya hari ini!"Waldi yang sekarang ini sudah seperti orang gila. Dia merasa dirinya seakan berada di jurang kehancuran.Namun setelah mendengar perintahnya, anak buah Hessen semuanya tidak bergerak.Sebaliknya!Sekitar dua puluh anak buah Hessen yang masih tersisa itu langsung memegang tangan bocah itu. Semuanya mundur dengan gemetar dan bukannya maju.Mereka berusaha mundur sejauh mungkin dari Nathan karena aksi Nathan telah menghancurkan keberanian mereka.Saat melihat adegan itu, Waldi langsung menggeram."Kalian ... kalian sekumpulan orang nggak berguna. Dasar pengecut! Aku perintahkan kalian untuk maju! Kalian dengar itu?"Sayangnya, percuma saja.Tidak peduli seberapa emosinya penguasa Hessen itu.Anak buahnya tidak bergerak sama
Bahir memperhatikan wanita tua yang tergeletak di tanah dengan mata terbelalak. Sepertinya rekannya ini sudah tidak tertolong lagi.Dia tampak marah besar. Dia menendang kursi di belakangnya dan berdiri di depan Nathan.Nathan berkata dengan suara berat, "Minggir! Kalau nggak, kamu juga akan mati."Bahir merasa terhina dan berkata dengan marah, "Anak muda, beraninya kamu meremehkan kekuatanku?""Tahukah kamu aku ini tetua dari Sekte Bimala? Aku sarankan sebaiknya kamu segera meletakkan pisaumu dan menyerah.""Kalau nggak, walau kamu membunuh Waldi dan putranya, kamu juga akan terus diburu oleh sekteku."Waldi sangat gembira dan berkata, "Benar, Nathan. Kalau kamu berani menyentuhku, kamu akan diburu oleh Sekte Bimala-nya Bahir.""Huh! Kamu mungkin masih belum tahu, tapi Sekte Bimala selalu mendukung Beluno kita dari belakang."Nathan menggelengkan kepalanya dan berkata dengan nada meremehkan. "Sekte Bimala? Apa sehebat itu? Tapi maaf, aku belum pernah dengar nama sekte-sekte dalam duni
Wajah Bahir tiba-tiba berubah menjadi ganas. Dia berbalik dan menampar Waldi hingga membuatnya terpental."Minggir! Waldi, kamu bajingan. Apa kamu tahu dirimu sudah membuat kesalahan? Seharusnya kamu ikut berlutut dan memohon ampun denganku di sini."Bahir tampak sedikit histeris saat ini, seolah-olah dia telah melihat hantu.Waldi menutupi wajahnya yang bengkak. Pikirannya mendadak kosong.Ikut berlutut dan memohon ampun bersamanya?Apa yang telah terjadi sebenarnya?Mengapa dia tidak mengerti sama sekali?Tepat di saat ini, ada sekelompok orang berpakaian hitam, yang jumlahnya sekitar dua hingga tiga ratus itu bergegas masuk secara bersamaan.Dalam sekejap, semua orang di Hessen dikalahkan.Pria bersetelan hitam di tengah langsung berdiri di samping. Kedua orang itu melangkah masuk.Orang yang berada di belakang memasang ekspresi terkejut. Orang itu tidak lain adalah Arjun, penguasa Gluton.Yang di depan adalah seorang lelaki tua yang memegang tongkat. Dia mengenakan pakaian tradisio
"Bisakah kamu bantu aku memohon belas kasihan pada Nathan agar dia mengampuni nyawaku?"Bima berkata dengan nada dingin, "Awalnya, mengingat pengaruh Sekte Bimala di wilayah selatan, aku memang bisa memberi muka padamu.""Tapi maaf. Kamu benar-benar nggak beruntung. Lantaran orang yang kamu singgung bukanlah aku, melainkan tuanku.""Kamu kira dirimu sanggup menerima kehormatan ini, sekalipun kamu diberi gelar sebagai tetua Sekte Bimala?"Wajah Bahir tampak pucat pasi. Dia kemudian berkata sambil tersenyum sedih, "Aku nggak pantas menerimanya. Aku benar-benar nggak pantas menerimanya.""Semua ini karena aku nggak beruntung. Ini sudah termasuk nasibku."Waldi menggertakkan giginya dan berkata, "Bahir, siapa Nathan sebenarnya? Jangan hanya berpura-pura menjadi korban. Bisakah kamu menjelaskannya? Memangnya dia Raja Langit?""Lantaran Tuan Bima sudah angkat bicara, aku akan beri tahu kamu. Waldi, kamu itu benar-benar seperti katak dalam tempurung," ucap Bahir."Pria itu memang bukan Raja L
Terdengar suara benturan keras.Bahir tiba-tiba melompat dan memukul atas kepala Waldi dengan telapak tangannya."Bahir, kamu, kamu, kamu ...."Dengan darah mengucur dari mulut dan hidungnya, tangan Waldi terus-terusan menunjuk Bahir. Terakhir, sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya sudah ambruk ke tanah.Tatapan Bahir tampak membeku. "Kalau kamu berani menyentuh orang yang berkuasa, kamu ditakdirkan mati.""Kita sudah menyinggung putra Keluarga Anggoro. Nyawa kita sudah nggak terselamatkan lagi. Kamu pergilah dulu. Aku akan segera menyusulmu."Arjun yang berdiri di belakang menyaksikan pemandangan itu sambil menahan napas. Dia tampak ketakutan sekali.Tanpa perlu bertindak ataupun dipaksa secara fisik, hanya mengandalkan status Nathan, seorang master bela diri seperti Bahir dan Waldi langsung didesak sampai mati.Sebenarnya, seberapa hebat identitas asli Tuan Nathan hingga bisa membuat semua orang ketakutan seperti itu?"Tuan Bima, setelah aku mati, merepotkanmu dan juga Tu
Nathan hanya tersenyum sinis, tetapi tidak mengatakan apa pun.Tiara mengira Nathan hanya menyombongkan diri.Untuk memusnahkan seluruh Hessen bukanlah masalah sepele. Setidaknya, Tiara sendiri tidak pernah berani membayangkannya.Tepat di saat ini, dia menerima telepon dari Regina.Hal pertama yang diucapkan orang di ujung telepon sana. "Tiara, masalah besar telah terjadi. Apa Dokter Nathan ada di sampingmu?"Tiara refleks menjawab, "Ya, masalah besar apa?"Regina berkata dengan nada yang serius, "Kalau begitu, tolong tanyakan pada Dokter Nathan, apa dia yang membuat Hessen dan Waldi menghilang dari muka bumi?"Jderr!Kepala Tiara terasa berdengung, seolah-olah ada petir yang menggelegar.Dia bahkan tidak peduli dengan Regina di ujung telepon sana. Tatapannya kosong. Dia memandang Nathan sambil tergagap, "Ka ... kamu sungguh menyingkirkan Waldi dan seluruh pasukan bawah tanah Hessen?""Nathan, bagaimana kamu melakukannya?"Sebelum Nathan menjawab, pintu bangsal telah dibuka secara pak
Saat ini, Edward langsung berteriak dingin, "Nathan, aku memperlakukanmu sebagai saudara demi Emilia. Tapi aku nggak sangka kamu akan membuat Emilia terluka parah seperti ini.""Aku peringatkan kamu, jauhi Emilia secepatnya. Kalau nggak, aku nggak sungkan-sungkan lagi."Edward yang sekarang ini berlagak seperti pria yang baik.Seakan-akan demi Emilia, dia bahkan rela mempertaruhkan nyawanya."Tuan Edward, kamu sudah berani muncul sekarang? Saat Emilia mendapat masalah, kamu bahkan bersembunyi. Kamu lebih parah daripada seorang pengecut," ucap Nathan sambil mencibir."Sekarang setelah aku menyelamatkannya, kamu malah berani omong kosong di sini. Apa kamu nggak merasa malu?"Edward mendengus dingin. Dia kemudian membela diri. "Siapa bilang aku nggak membantu Emilia saat dia mendapat masalah?""Apa kamu kira Arjun dari Gluton dan juga Tuan Bima, orang paling kaya di kota kita akan mengambil tindakan tanpa alasan?"Tamara menatap Nathan dan mengejeknya, "Sekarang kamu nggak bisa membantah
Namun, dia juga bukannya tidak mendapatkan apa-apa. Waldi sudah meninggal. Setidaknya, utang ratusan miliarnya pada Hessen juga tidak perlu dibayar lagi.Saat ini, Emilia yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit, memperlihatkan ekspresi kesakitan di wajahnya. Dia juga bergumam pelan.Tamara segera mendekatinya dan bertanya dengan khawatir, "Putriku, apa yang kamu katakan? Katakan pada Ibu."Emilia membuka mulutnya sedikit dan suaranya begitu pelan. "Selamatkan aku, bisakah kamu menyelamatkanku? Maafkan aku, Nathan .... Aku minta maaf!"Padahal, Emilia hanya mengigau. Namun begitu Tamara mendengarnya, dia tersenyum dan berkata kepada calon menantunya, "Edward, Emilia menyuruhmu menyelamatkannya. Dia bahkan memanggil namamu. Lihat, bahkan dalam mimpi pun dia juga masih memikirkanmu!"Hati Edward terasa hangat. Dia segera mendekatinya, lalu mengulurkan tangannya untuk memegang tangan Emilia dan berkata dengan penuh kasih sayang, "Jangan takut, Emilia. Aku ada di sini. Sekalipun langit
Salah satu pengawal bertanya dengan gemetar, "Tu ... Tuan Edward, apa yang harus kita lakukan?""Bocah itu menakutkan sekali. Dia bahkan menghancurkan dada Master Emir. Kalau dia mengejar kita, bukankah kita ... kita juga akan celaka?"Edward berteriak, "Sekelompok pengecut yang takut mati!""Lihat betapa pengecutnya kalian! Lebih baik Keluarga Halim memelihara anjing daripada kalian."Para pengawal itu marah, tetapi tidak berani mengatakan apa pun. Mereka hanya bisa diam-diam mencibir dalam hati.'Bukankah orang yang lebih takut mati itu Tuan Edward sendiri?'"Bawa aku untuk mengobati lukaku dulu. Setelah itu, baru pergi mencari ayahku."Tatapan mata Tuan Edward tampak begitu tajam. Dia mengatupkan giginya rapat-rapat. "Nathan, kamu tunggu saja. Pokoknya, salah satu dari kita pasti akan mati dan orang itu adalah kamu!"Di Rumah Sakit Perdana.Tamara menarik Emilia dan berbisik di telinganya, "Emilia, kesempatan Keluarga Sebastian kita sudah datang."Emilia bertanya dengan bingung, "Bu
Dua pengawal Keluarga Halim bergegas maju dan dengan susah payah memapahnya."Master Emir, kamu ...."Edward tercengang. Dia sama sekali tidak menyangka akan berakhir seperti ini.Sebelum kehilangan kesadarannya, Emir masih sempat berpesan dengan pasrah, "Tuan Edward, cepat kabur."Seakan-akan kehilangan penyelamatnya, putra sulung Keluarga Halim langsung mengaum histeris.Wajah Nathan tampak dingin. Dia tidak mengejarnya.Serangan lutut yang barusan dia luncurkan itu telah menghancurkan meridian Emir.Sekalipun bisa bertahan hidup, Emir juga hanya bisa menjadi orang yang tidak berguna.Butuh waktu lama bagi Edward untuk tersadar kembali. "Apa yang kalian lakukan di sana? Huh? Semuanya pecundang. Cepat bawa aku pergi!"Memandang para pengawal yang tertegun, Tuan Edward langsung meraung frustrasi.Para pengawalnya baru terhenyak dan bersiap membawanya kabur dari tempat ini.Nathan berkata dengan nada datar, "Kalau kalian nggak ingin mati, tinggalkan pecundang itu di sini."Para pengawal
Tindakan Nathan cepat dan tegas. Gerakannya juga sangat tajam.Seketika membuat Emilia, Tiara, dan yang lainnya tercengang.Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Nathan masih berani menyerang Edward. Padahal, dia ditemani oleh Master Emir hari ini.Yang lebih mengejutkan mereka lagi, bukankah Edward juga termasuk tuan muda terkenal di Beluno dan punya keterampilan bela diri yang cukup sempurna?Kenapa begitu jatuh di tangan Nathan, Edward malah seperti orang lemah dan justru dipukul secara habis-habisan? Sampai-sampai tidak bisa bangkit lagi hanya karena sentuhan ringan.Ada nyala api membara yang muncul di mata Emir."Nak, nyalinya besar juga.""Beraninya kamu menyerang orang di hadapanku. Jangan harap kamu bisa lolos hidup-hidup."Nathan melambaikan tangan ke arahnya. "Jangan omong kosong lagi. Cepatlah kalau kamu mau bertindak.""Selesai bertindak, aku masih harus memeriksa pasien lainnya."Kesabaran Master Emir seakan-akan diuji. Dia sudah hampir mengamuk. "Dasar bocah kurang aj
"Tapi yang kulakukan untukmu kali ini sudah cukup untuk membalas semua pengorbananmu."Nathan mengerutkan kening dan berkata, "Jadi sampai sekarang, kamu masih berpikir untuk perhitungan denganku? Kamu juga berusaha keras untuk memastikan bahwa kamu dan Grup Sebastian nggak berutang apa pun padaku lagi?"Emilia memalingkan wajahnya dan berkata dengan keras kepala, "Ya, aku nggak ingin berutang padamu."Nathan tersenyum sinis. "Kamu nggak berutang apa pun padaku. Minggirlah. Bukankah Tuan Edward sangat sombong? Bukankah dia ingin mengendalikanku? Aku akan beri dia kesempatan."Emilia tertegun sejenak. Kemudian, dia memarahi pria itu. "Nathan, kamu tahu apa yang kamu lakukan?""Mundur. Edward ditemani oleh master dari Keluarga Halim. Kalau kamu terus keras kepala seperti ini, percuma saja aku kompromi dengan Edward barusan."Nathan mendorong Emilia dan berkata dengan nada datar, "Pertama, aku sama sekali nggak butuh kamu membantuku berkompromi.""Kedua, Tuan Edward sedang pamer di wilaya
Emilia berkata dengan kaku, "Maaf, aku nggak butuh semua itu. Aku sudah bilang tadi malam, hubungan kita sudah berakhir."'Dasar wanita nggak tahu berterima kasih!'Edward diam-diam memaki Emilia dalam hatinya, tetapi wajahnya masih tetap tersenyum. "Aku tahu kamu masih marah.""Aku nggak minta kamu memaafkanku sekarang. Tapi Emilia, perasaanku padamu nggak pernah berubah. Aku akan datang ke kediaman Sebastian setiap hari untuk mengakui kesalahanku sampai kamu memaafkanku."Emilia berkata dengan nada jijik, "Edward, tahukah kamu pemikiranmu itu terlalu kekanak-kanakan?""Sudah kubilang, kamu nggak perlu mengakui kesalahanmu. Mulai sekarang, kita juga nggak perlu saling berhubungan lagi. Itu lebih baik daripada apa pun."Tamara juga ikut memarahi. "Edward, jangan ganggu putriku lagi. Bagaimanapun juga, kamu itu putra sulung Keluarga Halim. Jangan jadi orang yang nggak tahu malu."Wajah Edward tampak geram. Dia ingin menghampiri Tamara dan menghajar wanita tua itu.Namun, dia menarik nap
Thomas juga bukan orang yang bisa ditekan oleh Tiara dan juga Regina.Edward sangat senang dan berkata dengan nada datar, "Tiara, kamu pasti nggak sangka kalau aku akan mampu menekan Nathan dan memberinya pelajaran, 'kan?""Selama ini, kamu dan Regina, dua wanita paling cantik di Beluno, selalu bergaul dengan bocah itu.""Sebagai seorang kakak, entah sudah berapa kali aku memperingatkanmu. Tapi kalian keras kepala dan nggak mau dengar nasihatku.""Begini saja. Kamu panggil Nathan ke sini, lalu suruh dia berlutut dan jilat jari kakiku. Kalau aku puas, mungkin aku akan pertimbangkan untuk melepaskan nyawanya untuk sementara waktu."Melihat senyum puas Edward, Tiara merasa jijik dan juga ilfil."Edward, bagaimanapun juga, kamu termasuk tuan muda paling berbakat di Beluno dan berasal dari keluarga bangsawan.""Tapi selama ini, kamulah yang terus-terusan mencari masalah dengan Nathan. Lantaran nggak bisa mengalahkan Nathan, sekarang kamu minta para master keluargamu untuk datang membantumu.
"Emilia, aku datang menjengukmu, juga Bibi, dan Ken.""Tadi malam aku memang agak impulsif. Aku juga kehilangan akal sehat. Bisakah kamu memaafkanku?"Begitu Edward sampai, dia langsung memperlihatkan sikap rendah hati, seolah-olah dia itu pria yang berperilaku baik dan berhati hangat.Tamara mendengus dingin. "Maaf, kami nggak menerima permintaan maafmu. Keluarlah dari sini."Edward sama sekali tidak peduli. Dia sudah menebak bahwa Tamara akan bersikap seperti itu.Pria itu melihat sekeliling dan mendapati Emilia tidak ada di sana, jadi dia langsung bertanya, "Di mana Emilia? Dia pergi ke mana?"Tamara tersenyum sinis. "Ke mana dia pergi? Tentu saja menjauh dari pria berengsek sepertimu.""Edward, lebih baik kamu menyerah saja. Nggak ada seorang pun anggota Keluarga Sebastian yang bisa memaafkan kelakuanmu tadi malam.""Asal kamu tahu saja, Emilia sudah balikan sama Nathan. Sekarang, mereka berdua mungkin lagi bermesraan."Wajah Edward tiba-tiba berubah muram. Tatapannya seolah ingin
"Kebetulan kakekku punya buku kedokteran yang nggak begitu dia pahami, jadi dia ingin kamu membantunya."Nathan tersenyum dan berkata, "Nggak masalah. Asal ada waktu, aku pasti akan pergi mengunjungi Pak Willy."Ada dua lesung pipit yang muncul di wajah cantik perawat itu. Dia pun melangkah pergi dengan gembira.Emilia yang berdiri di samping menyaksikan pemandangan ini dengan tatapan tidak senang."Nathan, perawat kecil ini dari Keluarga Setiawan, keluarga terpandang di Beluno, 'kan?" tanya Emilia.Nathan tidak tahu terlalu banyak tentang latar belakang Keluarga Setiawan, keluarganya Adel, jadi pria itu pun menjawab, "Aku kurang tahu."Emilia tersenyum pahit dan berkata, "Nggak perlu pura-pura lagi. Tatapan matanya yang penuh kekaguman itu sudah begitu jelas. Dia sepertinya tergila-gila padamu.""Haha. Sejak berpisah denganku, hubungan asmaramu cukup mulus juga. Sebelumnya ada Nona Regina, kemudian Nona Tiara dari Keluarga Wijaya.""Sekarang bertambah satu Adel lagi. Nathan, sepertiny
Rumah Sakit Perdana.Begitu Nathan masuk ke dalam ruangannya, Tiara bergegas menghampiri dan berkata dengan ekspresi aneh, "Nathan, mantanmu dan keluarganya berada di rumah sakit kita."Nathan terkejut dan bertanya, "Apa terjadi sesuatu pada mereka?"Tiara cemberut dan berkata, "Sepertinya kamu masih punya perasaan terhadap Emilia. Kamu masih peduli padanya, 'kan?""Bukan seperti yang kamu bayangkan. Aku hanya merasa aneh," ucap Nathan tak berdaya.Tiara mendengus dan berkata, "Emilia baik-baik saja, tapi ibunya, si wanita tua galak itu, dan juga adik laki-lakinya, Ken, hampir dipukul sampai mati.""Aku lihat kondisi Emilia tampak kacau, wajahnya juga pucat, dan kebingungan. Bukankah kalian berdua kenal? Lebih baik kamu pergi lihat sendiri saja."Nathan tersenyum dan berkata, "Lantas, kenapa kamu barusan sepertinya nggak ingin aku pergi melihatnya?"Tiara membusungkan dadanya dan berkata dengan arogan, "Memang benar. Aku nggak ingin kamu terjerat dengan Emilia lagi.""Tapi bagaimanapun