Jakun Daren bergerak dengan liar. Dia langsung menjerit aneh dan menarik pakaian Emilia dengan kuat.Seketika, sepotong besar rok Emilia robek, memperlihatkan dadanya yang seputih susu."Jangan! Lepaskan aku!"Saat ini, Emilia sudah hampir pingsan dan mulai menangis sambil berteriak histeris.Tindakan Daren barusan sudah hampir menghancurkan pertahanan dirinya.Menyadari dirinya akan dipermalukan lagi, dia tidak bisa bertahan lagi.Daren merasa tenggorokannya seperti terbakar. "Teriaklah, teriaklah sekuatnya. Makin kamu berteriak, makin membangkitkan gairahku untuk bersenang-senang denganmu!"Para preman Hessen yang sedang menonton, bahkan orang-orang tua seperti Bahir yang duduk di kursi utama, juga sangat tertarik dan berteriak dengan penuh semangat."Tuan Muda hebat. Ayo, tunjukkan keperkasaanmu.""Mari kita perjelas dulu. Setelah Tuan Muda selesai bermain, giliran Tuan Waldi. Selanjutnya, giliran tiga master hebat. Setelah itu, baru giliranku ....""Hari ini saudara-saudara Hessen
Setiap kata itu diucapkan Waldi sambil menggertakkan giginya.Pria yang datang bukanlah orang lain, tetapi Nathan.Ekspresi dingin di wajahnya belum pernah terlihat sebelumnya.Dengan lambaian tangan kanannya, kapak yang direbutnya dalam pertarungan barusan itu meluncur melewati sekelompok master Hessen.Dalam sekejap dan tanpa disadari, kapak itu pun tepat menancap pada lengan Daren.Diikuti dengan lengkingan suara, lengan kanan Daren langsung terpotong dan darah pun mengucur keluar.Ada beberapa tetes darah yang juga jatuh mengenai wajah pucat Emilia. Wanita itu menyaksikan adegan di hadapannya dengan penuh keterkejutan dan ketidakpercayaan."Tanganku, tanganku .... Argh! Ayah, tolong aku. Cepat bunuh dia. Bunuh bajingan ini!"Daren yang kehilangan satu lengannya, tidak lagi peduli dengan perilakunya yang tidak senonoh. Sebaliknya, dia menutupi lengan kanannya yang kosong sambil berguling-guling di genangan darah.Kondisinya sungguh menyedihkan."Nathan, aku akan membunuhmu. Aku akan
Tubuh Waldi langsung menegang, seolah-olah ada orang yang mencabut tulang belakangnya.Kemudian, dia mengeluarkan raungan yang sangat keras. "Nathan, beraninya kamu membunuh putraku. Semuanya, cepat bunuh dia. Apa pun yang terjadi, kalian harus menghabisinya hari ini!"Waldi yang sekarang ini sudah seperti orang gila. Dia merasa dirinya seakan berada di jurang kehancuran.Namun setelah mendengar perintahnya, anak buah Hessen semuanya tidak bergerak.Sebaliknya!Sekitar dua puluh anak buah Hessen yang masih tersisa itu langsung memegang tangan bocah itu. Semuanya mundur dengan gemetar dan bukannya maju.Mereka berusaha mundur sejauh mungkin dari Nathan karena aksi Nathan telah menghancurkan keberanian mereka.Saat melihat adegan itu, Waldi langsung menggeram."Kalian ... kalian sekumpulan orang nggak berguna. Dasar pengecut! Aku perintahkan kalian untuk maju! Kalian dengar itu?"Sayangnya, percuma saja.Tidak peduli seberapa emosinya penguasa Hessen itu.Anak buahnya tidak bergerak sama
Bahir memperhatikan wanita tua yang tergeletak di tanah dengan mata terbelalak. Sepertinya rekannya ini sudah tidak tertolong lagi.Dia tampak marah besar. Dia menendang kursi di belakangnya dan berdiri di depan Nathan.Nathan berkata dengan suara berat, "Minggir! Kalau nggak, kamu juga akan mati."Bahir merasa terhina dan berkata dengan marah, "Anak muda, beraninya kamu meremehkan kekuatanku?""Tahukah kamu aku ini tetua dari Sekte Bimala? Aku sarankan sebaiknya kamu segera meletakkan pisaumu dan menyerah.""Kalau nggak, walau kamu membunuh Waldi dan putranya, kamu juga akan terus diburu oleh sekteku."Waldi sangat gembira dan berkata, "Benar, Nathan. Kalau kamu berani menyentuhku, kamu akan diburu oleh Sekte Bimala-nya Bahir.""Huh! Kamu mungkin masih belum tahu, tapi Sekte Bimala selalu mendukung Beluno kita dari belakang."Nathan menggelengkan kepalanya dan berkata dengan nada meremehkan. "Sekte Bimala? Apa sehebat itu? Tapi maaf, aku belum pernah dengar nama sekte-sekte dalam duni
Wajah Bahir tiba-tiba berubah menjadi ganas. Dia berbalik dan menampar Waldi hingga membuatnya terpental."Minggir! Waldi, kamu bajingan. Apa kamu tahu dirimu sudah membuat kesalahan? Seharusnya kamu ikut berlutut dan memohon ampun denganku di sini."Bahir tampak sedikit histeris saat ini, seolah-olah dia telah melihat hantu.Waldi menutupi wajahnya yang bengkak. Pikirannya mendadak kosong.Ikut berlutut dan memohon ampun bersamanya?Apa yang telah terjadi sebenarnya?Mengapa dia tidak mengerti sama sekali?Tepat di saat ini, ada sekelompok orang berpakaian hitam, yang jumlahnya sekitar dua hingga tiga ratus itu bergegas masuk secara bersamaan.Dalam sekejap, semua orang di Hessen dikalahkan.Pria bersetelan hitam di tengah langsung berdiri di samping. Kedua orang itu melangkah masuk.Orang yang berada di belakang memasang ekspresi terkejut. Orang itu tidak lain adalah Arjun, penguasa Gluton.Yang di depan adalah seorang lelaki tua yang memegang tongkat. Dia mengenakan pakaian tradisio
"Bisakah kamu bantu aku memohon belas kasihan pada Nathan agar dia mengampuni nyawaku?"Bima berkata dengan nada dingin, "Awalnya, mengingat pengaruh Sekte Bimala di wilayah selatan, aku memang bisa memberi muka padamu.""Tapi maaf. Kamu benar-benar nggak beruntung. Lantaran orang yang kamu singgung bukanlah aku, melainkan tuanku.""Kamu kira dirimu sanggup menerima kehormatan ini, sekalipun kamu diberi gelar sebagai tetua Sekte Bimala?"Wajah Bahir tampak pucat pasi. Dia kemudian berkata sambil tersenyum sedih, "Aku nggak pantas menerimanya. Aku benar-benar nggak pantas menerimanya.""Semua ini karena aku nggak beruntung. Ini sudah termasuk nasibku."Waldi menggertakkan giginya dan berkata, "Bahir, siapa Nathan sebenarnya? Jangan hanya berpura-pura menjadi korban. Bisakah kamu menjelaskannya? Memangnya dia Raja Langit?""Lantaran Tuan Bima sudah angkat bicara, aku akan beri tahu kamu. Waldi, kamu itu benar-benar seperti katak dalam tempurung," ucap Bahir."Pria itu memang bukan Raja L
Terdengar suara benturan keras.Bahir tiba-tiba melompat dan memukul atas kepala Waldi dengan telapak tangannya."Bahir, kamu, kamu, kamu ...."Dengan darah mengucur dari mulut dan hidungnya, tangan Waldi terus-terusan menunjuk Bahir. Terakhir, sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya sudah ambruk ke tanah.Tatapan Bahir tampak membeku. "Kalau kamu berani menyentuh orang yang berkuasa, kamu ditakdirkan mati.""Kita sudah menyinggung putra Keluarga Anggoro. Nyawa kita sudah nggak terselamatkan lagi. Kamu pergilah dulu. Aku akan segera menyusulmu."Arjun yang berdiri di belakang menyaksikan pemandangan itu sambil menahan napas. Dia tampak ketakutan sekali.Tanpa perlu bertindak ataupun dipaksa secara fisik, hanya mengandalkan status Nathan, seorang master bela diri seperti Bahir dan Waldi langsung didesak sampai mati.Sebenarnya, seberapa hebat identitas asli Tuan Nathan hingga bisa membuat semua orang ketakutan seperti itu?"Tuan Bima, setelah aku mati, merepotkanmu dan juga Tu
Nathan hanya tersenyum sinis, tetapi tidak mengatakan apa pun.Tiara mengira Nathan hanya menyombongkan diri.Untuk memusnahkan seluruh Hessen bukanlah masalah sepele. Setidaknya, Tiara sendiri tidak pernah berani membayangkannya.Tepat di saat ini, dia menerima telepon dari Regina.Hal pertama yang diucapkan orang di ujung telepon sana. "Tiara, masalah besar telah terjadi. Apa Dokter Nathan ada di sampingmu?"Tiara refleks menjawab, "Ya, masalah besar apa?"Regina berkata dengan nada yang serius, "Kalau begitu, tolong tanyakan pada Dokter Nathan, apa dia yang membuat Hessen dan Waldi menghilang dari muka bumi?"Jderr!Kepala Tiara terasa berdengung, seolah-olah ada petir yang menggelegar.Dia bahkan tidak peduli dengan Regina di ujung telepon sana. Tatapannya kosong. Dia memandang Nathan sambil tergagap, "Ka ... kamu sungguh menyingkirkan Waldi dan seluruh pasukan bawah tanah Hessen?""Nathan, bagaimana kamu melakukannya?"Sebelum Nathan menjawab, pintu bangsal telah dibuka secara pak
Rumah Sakit Perdana.Begitu Nathan masuk ke dalam ruangannya, Tiara bergegas menghampiri dan berkata dengan ekspresi aneh, "Nathan, mantanmu dan keluarganya berada di rumah sakit kita."Nathan terkejut dan bertanya, "Apa terjadi sesuatu pada mereka?"Tiara cemberut dan berkata, "Sepertinya kamu masih punya perasaan terhadap Emilia. Kamu masih peduli padanya, 'kan?""Bukan seperti yang kamu bayangkan. Aku hanya merasa aneh," ucap Nathan tak berdaya.Tiara mendengus dan berkata, "Emilia baik-baik saja, tapi ibunya, si wanita tua galak itu, dan juga adik laki-lakinya, Ken, hampir dipukul sampai mati.""Aku lihat kondisi Emilia tampak kacau, wajahnya juga pucat, dan kebingungan. Bukankah kalian berdua kenal? Lebih baik kamu pergi lihat sendiri saja."Nathan tersenyum dan berkata, "Lantas, kenapa kamu barusan sepertinya nggak ingin aku pergi melihatnya?"Tiara membusungkan dadanya dan berkata dengan arogan, "Memang benar. Aku nggak ingin kamu terjerat dengan Emilia lagi.""Tapi bagaimanapun
Edward berkata dengan ekspresi tidak senang, "Aku tahu semua yang Ayah katakan. Tapi masalahnya, aku nggak membeli mahkota ini dengan harga 40 miliar."Thomas mengerutkan kening. "Apa kamu bilang?"Jelas-jelas dia pergi ke acara lelang Grup Valentino dan langsung menekan situasi tersebut secara terang-terangan.Apa Roland berani tidak menunjukkan rasa hormat pada Keluarga Halim?Edward berkata sambil memasang ekspresi serba salah, "Sebenarnya, aku sudah bisa mendapatkan mahkota berlian itu dengan harga 40 miliar.""Tapi tiba-tiba ada bajingan yang muncul dan menantangku sampai akhir. Alhasil, harganya naik menjadi 200 miliar lebih. Jadi aku, aku ...."Tanpa menunggu Edward selesai berbicara.Wajah Thomas tiba-tiba berubah pucat. Dia menunjuk putranya dengan jari gemetar. "Apa yang kamu katakan? Kamu menghabiskan lebih dari 200 miliar lagi?""Anak durhaka! Bukankah aku sudah memperingatkanmu kalau harganya nggak boleh melebihi 100 miliar? Kamu ... kamu ingin menghancurkan kondisi keuang
Ibu tirinya Edward tersenyum dingin dan berkata, "Nona Emilia memang hebat. Kamu bukan hanya berani menolak calon kepala Keluarga Halim secara terang-terangan.""Sekarang kamu juga berani mengabaikan perkataan kepala keluarga kami. Apa kamu pikir Keluarga Sebastian sekarang sanggup melawan Keluarga Halim?"Ekspresi Emilia sedikit berubah.Namun sebelum dia menjawab, Thomas sudah lebih dulu menampar wajah wanita cantik di sebelahnya."Tutup mulutmu. Sejak kapan wanita sepertimu boleh ikut campur dalam masalah keluarga? Minggir."Setelah melihat istrinya mundur, Thomas masih terus tersenyum ramah dan berkata, "Emilia, kamu dan Edward juga sudah lama berpacaran.""Mana ada pasangan yang nggak bertengkar? Tapi belum sampai tahap putus. Begini saja. Kamu kembali dan istirahat dulu. Nanti aku akan suruh Edward mengunjungimu dan minta maaf padamu."Emilia menggelengkan kepalanya. Dia sudah sangat muak dengan Edward."Maaf, Pak Thomas. Aku nggak bisa melakukannya. Sebaiknya akhiri sampai di si
Nathan.Namun saat dia baru saja bersiap mengeluarkan ponselnya, tubuhnya langsung membeku.Jika dia meminta bantuan Nathan sat ini, bukankah itu sama dengan mengakui bahwa penilaiannya salah?Dia harus bagaimana menghadapi pria itu? Penilaiannya salah, harga dirinya hancur, dan reputasinya juga lenyap.Semua perkataan yang diucapkan Emilia saat itu berubah menjadi pisau tajam yang kembali mencabik-cabik dirinya sendiri.Melihat gerakannya, Edward menyeringai dan berkata, "Aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Kamu ingin Nathan si pecundang itu menyelamatkanmu, 'kan?""Emilia, kamu bukan hanya berlagak sok suci, tapi kamu juga ingin berperan menjadi gadis jalang secara bersamaan?""Dulu kamulah yang mencampakkan Nathan dan mendekatiku. Sekarang kamu masih mau pergi memohon padanya? Kamu nggak merasa malu? Kamu sungguh bisa membuka mulut padanya?"Kata-kata Edward yang tajam itu langsung membuat wajah Emilia berubah pucat pasi.Edward tertawa. "Begini baru benar. Jangan khawatir, aku
"Siapa yang berani pergi? Aku akan membunuhnya."Melihat tiga anggota Keluarga Sebastian hendak pergi, Edward menjadi gila.Dia langsung memerintahkan dua puluh pengawal Keluarga Halim masuk ke dalam dan mengepung tiga anggota Keluarga Sebastian itu.Tamara ketakutan hingga hampir kehilangan keseimbangan. Dia gemetar dan berkata, "Edward, apa yang ingin kamu lakukan? Dasar bajingan! Apa kamu ingin Emilia membencimu?"Ken mengangkat tangannya dan berkata dengan arogan, "Kita lihat saja siapa yang berani bertindak? Sialan! Keluarga Halim kalian hebat, tapi memangnya kamu bisa memaksa orang menikah denganmu?"Mata Edward memerah. Dia maju ke depan dan menampar wajah Ken.Plak! Plak! Plak!Tamparan demi tamparan itu membuat mulut dan hidung Ken menyemburkan darah. Dia menjerit dan bersiap untuk balik melawan Edward.Salah seorang pengawal Keluarga Halim mendengus dingin dan langsung menendang pinggang Ken.Sembari berteriak histeris, Ken langsung berguling-guling di tanah sambil memegangi
"Edward, aku sungguh nggak bisa menikah denganmu."Ekspresi putra sulung Keluarga Halim tiba-tiba berubah.Tanpa disadari, tangannya yang memegang mahkota juga bergetar.Tamara dan Ken juga panik."Emilia, omong kosong apa yang kamu bicarakan? Itu mahkota senilai 200 miliar. Apa kamu pikir hadiah lamaran yang mahal itu nggak berharga? Cepat ambil dulu!""Benar, Kak. Setidaknya kamu terima lamarannya dulu dan ambil mahkota itu. Kalau kamu memang nggak menyukainya, kamu masih bisa menolaknya nanti!"Emilia mengabaikan keserakahan dan rasa tidak tahu malu ibu dan adiknya.Sambil menatap Edward, dia berkata dengan nada serius, "Edward, aku rasa kita benar-benar nggak cocok untuk menikah sekarang."Jadi, aku minta maaf. Aku benar-benar nggak bisa menerima mahkota ini!"Putra sulung Keluarga Halim akhirnya sadar bahwa dirinya telah ditolak."Emilia, aku akan beri kamu satu kesempatan lagi. Pilih kata-kata yang tepat dan jawab aku dengan benar."Penghinaan, kemarahan, kegilaan, semua itu memb
Nathan tentunya tidak tahu tentang percakapan antara Roland dengan Monika.Sekalipun tahu, dia mungkin juga tidak akan peduli."Begitu cepat keluar? Dokter Nathan, apa Nona Monika nggak mengajakmu berkencan?"Regina memperlihatkan tatapan ambigu. Dia terus mengedipkan matanya pada Nathan.Nathan merasa kepalanya berdenyut. "Aku nggak punya waktu."Regina berkata dengan nada tidak senang, "Jadi, gadis bernama Monika itu benar-benar mengajakmu, Dokter Nathan? Huh! Dia masih terlalu muda untuk bersaing denganku dalam mendapatkan pria."Tiara bertanya dengan penuh minat, "Nathan, Monika itu primadona Grup Valentino dan kecantikannya cukup populer di kalangan sosial kelas atas Beluno. Bahkan, banyak kepala keluarga bangsawan yang ingin menikahinya.""Kenapa kamu menolaknya?"Nathan mengangkat bahu dan berkata, "Aku nggak tertarik dengannya. Apalagi, kami juga nggak kenal, jadi aku menolaknya.""Kamu menolaknya dengan tegas, tapi kalau hal ini sempat ketahuan sama Liam, Julian, dan para play
Lelang terus berlangsung hingga larut malam.Banyak tamu yang masih belum puas.Bahkan, setelah meninggalkan acara lelang, mereka masih mengenang dua pertarungan seru yang terjadi barusan.Apalagi, semua kejadian itu berhubungan dengan pria bernama Nathan itu.Liam menghibur Edward. "Tuan Edward, berpikirlah positif. Bagaimanapun juga, mahkota berlian sudah menjadi milikmu.""Meski Nathan itu menyebalkan, pada akhirnya dia tetap dikalahkan olehmu, 'kan? Dia bahkan nggak berani bersaing denganmu."Senyum Edward tampak canggung.Apa Nathan, si bajingan itu, benar-benar dikalahkan oleh dirinya?Edward tidak merasa begitu.Bajingan itu jelas-jelas mencelakainya. Dia benar-benar keji.Meski Edward sadar dengan semua itu, dia masih harus memaksakan senyuman saat menghadapi Liam dan yang lainnya. Dia harus bersikap seakan dirinya baik-baik saja.Nyatanya, hatinya sudah hancur berkeping-keping dan hampir berdarah.Julian mendengus dingin. "Bocah ini cukup sombong.""Dia bukan hanya menyinggung
Edward merasa dadanya sudah hampir meledak karena emosi.Dia tidak menyangka Nathan akan memberikan pembalasan yang begitu kejam.Edward berteriak sambil menunjuk ruang VIP nomor satu, "Nathan, kalau kamu hebat, keluarlah dan tantang aku. Kita duel satu lawan satu."Bajingan ini keterlaluan.Semua orang memberi hormat pada Keluarga Halim. Dia malah sengaja merusak rencananya.Apalagi, dia juga terus mengincarnya tanpa henti. Yang jelas menunjukkan bahwa dia menganggap Keluarga Halim bukanlah apa-apa.Nathan tidak tergerak dan hanya tersenyum sinis. "Tuan Edward nggak menginginkan mahkota berlian lagi?""Atau Tuan Edward bersedia mengakui kekalahan dan memilih menjadi seorang pengecut?"Nathan sedang memprovokasinya!Beraninya Nathan memprovokasinya!Ekspresi wajah Edward langsung berubah.Tuan Edward berteriak keras, "200 miliar. Aku pasti menemanimu bermain sampai akhir malam ini."Dia sekarang sudah berada dalam situasi sulit, tetapi masih terus menawar sampai akhir.Karena mahkota b