Beranda / Rumah Tangga / BUKAN MENANTU KAMPUNGAN / Bab 6. Mas Farhan Kemana?

Share

Bab 6. Mas Farhan Kemana?

Penulis: Jielmom
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-02 10:00:27

Ibu mertuaku berteriak di luar rumah memanggil sambil mengetuk-ngetuk pintu rumahku. Kumatikan kompor agar tidak gosong, lalu kubukakan pintu ruang tamu. “Ada apa Bu?”

“Hehe, ibu ganggu kamu?”

“Gak sih, aku juga dah selesai masak.”

“Oh, lagi masak apa?”

“Aku masak rendang–.”

“Pantas harumnya sampai ke depan rumah.” Ibu mertuaku langsung masuk ke dalam rumah, langsung menuju dapur.

“Sepertinya, enak nih. Ibu mau nyicip yah.” Tanpa jawaban dariku, ibu mertua langsung mengambil piring, membuka rice cooker dan menyendok nasinya. Mengambil rendang yang belum sempat aku pindahkan ke dalam piring saji.

“Masakan kamu cukup enak loh Alea, tolong bungkuskan juga untuk Ratih ya, supaya dia juga bisa coba,” perintahnya sambil menunjuk rendang yang masih di dalam wajan.

Tak kuhiraukan ucapannya, aku duduk di hadapannya langsung mempertanyakan apa maksud kedatangannya, “Ada apa ibu kemari?”

“Ibu dengar, Farhan akan membawa kamu ke dokter untuk promil yah?” tanyanya sambil mengambil kembali nasi yang ada di rice cooker.

“Iya Bu, nanti sore setelah pulang dari tempat kerja. Memangnya kenapa Bu?”

Ibu mertuaku berhenti sejenak dari makannya, memandang lekat padaku. “Alea, apa kamu yakin ingin hamil dalam waktu dekat?” tanyanya.

“Kita sudah 2 tahun menikah Bu. Aku rasa sudah cukup untuk mempunyai momongan,” ucapku tidak mengerti. Bukankah setiap orang yang menikah menginginkan anak? Bahkan diluaran sana ada yang menyebutnya pejuang garis dua.

“Maksud ibu, kalian memang baru menikah 2 tahun, tapi belum mapan. Rumah saja masih kontrak, mobil masih nyicil. Sedangkan Farhan masih menanggung Ratih untuk kuliah. Dia baru semester 5. Apa tidak tunggu sebentar saja untuk mempunyai momongan? Minimal Ratih selesai kuliah dan bekerja. Toh dananya akan kalian pakai juga bukan buat anak kalian? Merawat bayi itu berat loh, harus siap mental dan finansial juga,” bebernya panjang lebar.

Sepertinya, ucapannya masuk akal. Memang biaya hidup sekarang memang mahal. Belum lagi biaya pendidikan, walau sekolah negeri banyak yang gratis, tapi jika ingin sekolah dengan metode yang lain, harus mengeluarkan kocek yang cukup dalam.

“Insyaallah Bu, kalau niat kita baik, pasti Allah juga akan memberikan rezekinya pada kita,” ucapku.

“Ibu tahu, tapi jika semua bisa diperhitungkan, setidaknya kita bisa siap sedia. Jangan sampai Farhan harus banting tulang memenuhi kebutuhan keluarga karena ketambahan anggota keluarga baru.”

Apa aku yang salah tangkap kalau ibu mertuaku tidak ingin aku hamil? Disaat orang-orang gencar child free, ternyata ibu mertuaku mengusungnya secara terbuka. Lagi pula, jika mereka bukan menjadi tanggung jawab mas Farhan, aku rasa pendapatan mas Farhan cukup untuk keluarga kecil. Apalagi tentu aku tidak akan berdiam diri jika mas Farhan kekurangan bukan?

“Bukannya setiap anak yang lahir itu bawa rezekinya masing-masing, Bu?”

“Iya, kalo di kampung. Ini kan di kota, Jakarta pula. Biaya hidup mahal, belum kalau ada anak. Ya sudah, ibu cuma mau bilang itu saja. Oh yah, ibu minta plastik, buat nyicipin Ratih rendangnya kamu.”

Aku mengambilkan kantong plastik transparan dan menyerahkannya kepada ibu mertuaku.

Aku terbelalak melihat ibu tidak hanya mengambil dua potong rendang tapi beberapa potong lagi. “Bu, Alea masak buat mas Farhan juga loh,” protesku.

“Iya, ibu ngerti. Ya udah ibu pulang dulu, yah!” ucapnya sambil bergegas keluar rumah.

Aku hanya melongo, kuhitung potongan rendang yang hanya tinggal sisa lima potong. “Ya ampun Bu, teganya nyisain cuma segini.”

Ingin rasanya menangis. Masak rendang itu cukup lama. Aku menghabiskan waktu lebih dari 2 jam cuma untuk memasak rendang. Untuk buat lagi, aku sudah tidak berselera. Akhirnya, aku makan satu, nanti malam aku makan satu juga dan 3 potong untuk mas Farhan.

Kutunggu mas Farhan di jam 6. Satu jam sebelumnya, aku sudah mandi, berdandan dan bersiap untuk ke dokter kandungan sesuai dengan janji mas Farhan. Sekitar jam 6an, mas Farhan seharusnya sudah tiba dari kantor. Jadi aku membuka pintu rumah lebar-lebar, siapa tahu mas Farhan sudah pulang.

Kutunggu, lewat sepuluh menit, mas Farhan belum juga pulang. Lewat dua puluh menit, kutelepon, tapi teleponnya tidak diangkat. Kukirim pesan menanyakan kapan dia akan pulang, tapi baru centang satu. Padahal tadi mas Farhan masih online sekitar jam 6-an, tapi setelah ditelepon dan dikirimi pesan, masih belum ada balasan.

“Apa ada masalah di kantor? Tapi kok gak seperti biasanya mas Farhan tidak ngabarin,” batinku. Aku sedikit was-was dengan tidak ada kabarnya dari mas Farhan.

Menit demi menit berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku sudah mondar-mandir tidak tenang karena teleponku tidak dijawab, pesan tidak dibalas. Bahkan rendang yang aku buat pun sudah tidak berselera lagi untuk aku makan. Aku menyalakan televisi untuk mengusir rasa bosan, tapi yang aku lihat hanya seputar iklan dan iklan, akhirnya aku mematikannya.

Tak terasa, waktu sudah jam 8 malam. Akhirnya aku mengganti bajuku dengan baju tidur. Kubersihkan makeup yang menempel dan bersiap untuk tidur. Rasa gelisah di dada ini masih saja belum tenang. Aku tidak mempunyai nomor kontak teman-teman mas Farhan, jadi aku tidak bisa menanyakan mas Farhan kepada mereka.

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Mataku sudah mulai mengantuk, tapi mas Farhan belum juga pulang. “Aku harus hubungi siapa?” Rasa cemas ini tidak juga kunjung hilang.

Kalau sudah begini, rasanya ingin sekali membeli motor agar bisa ke kantor mas Farhan untuk menanyakan keadaan mas Farhan apakah baik-baik saja, atau kecelakaan? “Sebaiknya aku nabung untuk membeli motor.”

Dengan perasaan gelisah, aku memutuskan untuk tidur. Besok pagi-pagi, aku akan mencarinya ke kantor mas Farhan, karena aku berpikir, jika terjadi apa-apa dengan mas Farhan, pasti seseorang akan meneleponku.

Rasanya baru sekejap saja aku tertidur, mas Farhan pulang dari kantor. Kulihat jam sudah hampir menunjukkan pukul dua belas malam. Mas Farhan memegang kunci juga, jadi dia bisa masuk. Aku terbangun ketika aku mendengar suara air dari dalam kamar mandi ruang tidur ini. Ternyata, mas Farhan masuk ke kamar mandi dan mandi.

“Mas, baru pulang?” tanyaku ketika mas Farhan baru saja selesai mandi.

Mas Farhan dengan rambut basah dan hanya dengan tertutup handuk, tersenyum. “Maaf ya Sayang, aku bangunin kamu?”

“Mas dari mana saja sih? Aku nungguin mas dari sore, katanya mau ke dokter, malah baru pulang sekarang!” Ada rasa kesal, marah, tapi khawatir juga dengan mas Farhan yang tidak memberikan kabar kepadaku, tapi mas Farhan hanya tersenyum padaku dan sambil mengambil baju dari lemari, dia menaruhnya dekatku.

“Maaf ya Dek, hari ini batal ke dokter kandungannya,” ucap mas Farhan lirih.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • BUKAN MENANTU KAMPUNGAN   Bab 7. Daging Rendang

    “Maaf ya, Sayang. Mas tadinya sudah bersiap-siap mau pulang. Tiba-tiba saja mas harus lembur. Mas gak sempet ngabarin kamu karena ini atasan bos langsung yang perintah. Mau gak mau, ponsel mas silent supaya tidak ada yang mengganggu. Niatnya, mas ingin selesaikan pekerjaan secepatnya dan ngabarin kamu, tapi ponsel mas habis batrenya dan waktu pulang, ban mobil mas ketusuk paku di jalan, jadi harus cari-cari tambal ban. Kamu sendiri tahu bukan, jalanan di kota Jakarta ini gak benar? Ada aja orang yang sengaja naruh paku hanya untuk bisa mendapatkan uang? Alhasil, mas harus ngeluarin 500 ribu buat benerin ban mobil mas,” keluh mas Farhan. “Memang yah, hari sial tidak ada di kalender,” lanjutnya.“Aku sampai khawatir mas ada apa-apa. Mana mas gak biasanya pulang larut seperti ini ….”Mas Farhan tersenyum, mendatangiku dan mengecup keningku. “Maaf ya, Sayang.”“Mas sudah makan?” tanyaku.“Sudah. Mas sudah kenyang. Tadi mas makan waktu nungguin tambal

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-02
  • BUKAN MENANTU KAMPUNGAN   Bab 8. Budget Sepuluh Ribu

    “Sepuluh ribu? Astaghfirullah!” Aku tidak habis pikir bagaimana bisa harga bahan pokok yang lagi naik-naiknya ini ibu mertuaku gak tahu? Apalagi dengan menu rendang daging sapi.“Maaf Bu, kalau budgetnya per dus sepuluh ribu, gak masuk. Daging sapi saja perkilo sudah diatas seratus ribu. Belum nasi dan menu sampingan,” jawabku.“Yah pokoknya kamu atur saja. Uangnya nanti ibu berikan pada saat pulang dari pasar.”Hm, dengan modal 200 ribu, ibu mertuaku ingin mendapatkan nasi kotak dengan daging rendang. Ingin sekali mengerjai ibu mertua, tapi kalau menyangkut orang lain aku merasa kasihan juga. “Baiklah,” jawabku. Besok aku buatkan saja menu sesuai dengan budget saja, aku tersenyum.Jam 10, biasanya ibu mertuaku pulang dari pasar dan mampir ke tempatku. Hari ini aku sengaja tidak masak, karena aku harus berhemat. Aku tidak mau masakanku dibawa ibu dengan alasan untuk dicicipi Ratih juga.“Alea!!” teriak ibu yang sudah ada di depa

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-03
  • BUKAN MENANTU KAMPUNGAN   Bab 9. Keputusan Pindah Rumah

    “Apa? Hanya karena itu?”“Banyak hal, Dek. Itu salah satunya. Lainnya, karena di rumah ibu kita tidak perlu bayar kontrakan. Duitnya bisa kita tabung untuk membeli rumah. Dek, tunggu sampai 3 tahun ya? Mas janji, mas akan belikan rumah untuk kita tinggali. Ditambah 3 tahun cicilan mobil juga lunas. Jadi kita bisa ambil KPR. Doakan saja mas ya?” “Aku harus mempertimbangkannya, mas,” ucapku sambil memandang keluar jendela. Tinggal dengan mertua tidak akan sebebas di rumah sendiri, walau itu rumah kontrakan.Diam-diam, tangan mas Farhan meraih tanganku dan menggenggamnya. “Sayang, ibuku adalah ibumu juga. Jadi anggap saja ibuku adalah ibumu yah.”Aku hanya terdiam. Kalau sudah diputuskan, aku bisa apa? Sepertinya aku harus membicarakan ini dengan Evan.“Dek? Dek? Kamu melamun? Kita sudah sampai. Lihat restoran sepi begini, apa yang bisa diharapkan?” ejek mas Farhan.Ingin aku membantah ucapan mas Farhan, tapi rasanya percuma. Sebai

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-03
  • BUKAN MENANTU KAMPUNGAN   Bab 10. Jalan Yang Salah

    Reflek aku mengambil ponsel dari dalam tas dan menghubungi mas Farhan, untuk mengecek kebenarannya.“Halo Sayang, sudah sampai rumah?” tanya mas Farhan.“Mas Farhan ada dimana?”“Mas sedang ada di jalan menuju luar kota. Kenapa, Dek? Mas sedang nyetir nih.”“Mas pergi sama siapa?”Sesaat telepon diam sejenak. “Mas pergi sendiri, dek. Kenapa sih? Curiga sama mas, kalau mas macem-macem?”“Iya. Aku lihat mas ada di minimarket dan Erika disamping tempat duduk mas Farhan.”“Oh! Hahaha, itu yang bikin Kamu cemburu? Kalau soal Erika, dia ada disini, di samping mas. Dia nebeng sampai jalan Pangeran Anta karena rumahnya dekat sana. Mas karena ngelewatin jalan sana, mas kasih tumpangan. Nih orangnya, kamu ngomong sendiri.” Mas Farhan sepertinya memberikan ponselnya kepada Erika, lalu meloud speaker ponselnya.“Halo mbak Alea, aku Erika. Wah sayang ya kita gak sempat bertemu,” sapa Erika dengan ramahnya.

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-04
  • BUKAN MENANTU KAMPUNGAN   Bab 11. Kesempatan Emas

    Sampai larut malam, aku kembali tidak bisa tidur. Pikiranku tidak tenang karena suara wanita di akhir telepon mas Farhan. Inginnya, besok aku ke kantor mas Farhan untuk menanyakan kebenarannya apakah mas Farhan pergi tugas keluar kota? Sayangnya, kantor mas Farhan libur di hari Sabtu.Akhirnya aku cek di internet hotel-hotel yang gambarannya mirip dengan yang di foto oleh mas Farhan dan tara! Akhirnya ketemu. Hotel bintang 5, dengan rate kamar hampir satu juta, dengan fasilitas kolam renang, breakfast lengkap. Jarak dari tempatku hampir 2 jam lamanya. Jika aku pergi, tidak mungkin menggunakan ojol pasti cukup mahal. Sedangkan mobil, besok akan dipakai untuk operasional acara tunangan di restoran Homy Private Dining. “Besok pagi, sebelum ke restoran, aku akan telepon pihak hotel untuk menanyakan keberadaan mas Farhan.”Aku berupaya tenang supaya aku bisa tidur. Besok pagi aku harus fokus dan kerja. Jangan sampai masalah ini mengganggu pekerjaanku.

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-04
  • BUKAN MENANTU KAMPUNGAN   Bab 12. Kamar Yang Berbeda

    “Hahaha,” tawa mas Farhan. “Kamu lucu, Dek! Jelas-jelas kita video call. Kamu bisa lihat aku dengan siapa. Bahkan aku memvideokan semua sudut yang ada disini–.”“Lalu, suara siapa itu?” “Maaf, kemarin aku kepencet remot tv dan yang muncul suara sinetron.”“Benar?” tanyaku kepada mas Farhan yang masih kucurigai.“Justru mas telepon kamu, Sayang. Besok mas mau pulang, karena dari kantor, sudah dibooking sampai besok. Daripada mas sendirian disini. Mas mau jemput kamu, buat nginep di hotel ini. Mau kan? Kita honeymoon walau cuma sehari?”“Jemput?”“Ya, bukannya kamu juga udah selesai kerjanya?”“Sudah sih.”“Oke! Mas sekarang pulang yah, kamu siap-siap di rumah. Nanti mas jemput kamu.”“I, iya mas!” Jawabku.Kaget! Tiba-tiba saja pipiku merona merah karena diajak mas Farhan ke hotel di puncak. Belum pernah sekalipun mas Farhan mengajak aku pergi-pergi, karena waktu kerja yang berbeda. Mas Farhan

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-05
  • BUKAN MENANTU KAMPUNGAN   Bab 13. Diskusi Dengan Evan

    Rasa curigaku kembali muncul hanya gara-gara posisi kamar mandi di foto dan sekarang berbeda. “Apakah yang dapat aku lakukan untuk membuktikan rasa curigaku ini?” Aku memindai ruangan ini. Tangan mas Farhan aku taruh diatas kasur, sedangkan aku perlahan turun dari kasur, lalu aku mengambil baju kotor yang tadi dipakai mas Farhan apakah ada parfum seorang wanita, lalu kuhirup. “Aha! Parfum siapa nih mas?” gumamku.Tapi sebuah parfum belum dapat dikatakan bukti. Mataku kembali memindai ponsel mas Farhan yang tergeletak di nakas samping kasur. Lagi-lagi ponselnya di password, padahal kemarin, aku dan mas Farhan sempat bertengkar.“Apa aku yang terlalu cemburu? Hingga aku terlalu curiga?” Lagi-lagi aku mempertanyakan hatiku ini. “Baiklah, untuk sementara ini, aku akan menganggap kamu lolos mas! Sebaik-baiknya bangkai ditutupi, akan tercium baunya juga!” Aku naik kembali ke atas kasur dan menutup mata untuk segera tidur.***Minggu siang, aku dan

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-05
  • BUKAN MENANTU KAMPUNGAN   Bab 14. Arisannya Ibu Mertua

    Aku perhatikan kembali Ratih yang duduk dengan pria berumur itu, hingga tidak sadar aku dipanggil Evan berkali-kali.“Mbak! Mbak lihat apa sih?”“Eh! Aku lihat adiknya mas Farhan.”“Mana?” Evan mengikuti arah aku memandang Ratih. Ratih duduk dengan rok jeans pendek dan blouse putih, memakai high heels dan tas tangan yang cukup besar dengan merek bukan kaleng-kaleng. Dengan wajahnya yang di make up, membuat tampilan Ratih lebih dewasa daripada umurnya. Jika duduk dengan pria berumur di sampingnya, orang-orang akan menyangka kalau Ratih adalah istrinya. “Itu?” tanya Evan menunjuk dengan lirikan matanya. Aku hanya mengangguk. Aku foto dan aku buat videonya. Siapa tahu suatu saat nanti berguna.“Aku kan waktu nikahan kalian masih di Paris, jadi gak ngerti kalau mas Farhan punya adik. Yakin itu adiknya mbak? Kok mbak Alea yang kelihatan lebih muda dari adiknya itu,” sindir Evan.“Hush. Iya, itu adiknya m

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-06

Bab terbaru

  • BUKAN MENANTU KAMPUNGAN   Bab 116. Akhir Sebuah Kisah

    Aku duduk di ruanganku di restoran sambil menggulir layar ponsel. Berita tentang penangkapan Joko Supriono terus muncul di berbagai platform berita online. Ini menjadi pembicaraan hangat di media sosial, dan aku bisa membayangkan betapa kacaunya situasi di pihak Erika dan keluarganya saat ini. Evan baru saja kembali dari honeymoon-nya di Bali. Begitu masuk ke restoran, dia tampak lebih segar dengan senyum santainya yang khas. Aku melihatnya melangkah ke arahku sambil melepaskan kacamata hitam yang masih menggantung di wajahnya. "Hei, bos! Aku kembali," katanya dengan nada riang. "Kau merindukanku?" Aku tersenyum kecil dan mengangkat alis. "Kau hanya pergi seminggu, Evan." "Tapi tetap saja, restoran tanpa aku pasti terasa sepi, kan?" Dia tertawa, lalu menarik kursi di depanku. Namun, senyumnya sedikit memudar saat melihat aku masih sibuk menatap layar ponsel. "Kau kenapa sih? Dari tadi main ponsel terus," tany

  • BUKAN MENANTU KAMPUNGAN   Bab 115 Kisah Yang Berulang

    Aku menggeleng, mencoba tetap tenang. “Tunggu sebentar, Ratih. Maksudmu, Mas Calvin sudah tahu semua ini sejak awal?” Ratih menatapku dengan ekspresi datar, tapi aku bisa melihat ada sedikit ketegangan di sana. “Aku tidak tahu sejak kapan tepatnya. Tapi beberapa waktu lalu, suamimu menemui Mas Farhan dan menunjukkan bukti bahwa perusahaan yang dikelola mbak Erika sebenarnya mendapat suntikan dana dari seseorang yang mencurigakan. Mas Farhan tidak percaya pada awalnya, tapi setelah diselidiki lebih jauh, ternyata perusahaan Erika hampir bangkrut dan di saat itulah nama mas Joko muncul.” Aku menahan napas. “Jadi, Joko yang menyelamatkan perusahaan Erika?” Ratih mengangguk. “Iya. Dan Mbak tahu sendiri siapa mas Joko, bukan?” Tubuhku membeku. Joko bukan orang baik. Aku tahu itu. Tapi yang lebih mengejutkan adalah keterlibatan Mas Calvin dalam semua ini. Kenapa dia menyelidikinya? “Mbak Alea,” panggil Ratih pelan,

  • BUKAN MENANTU KAMPUNGAN   Bab 114. Hilangnya Joko Supriono

    Aku menghela napas sebelum mengangkatnya."Ada apa?" tanyaku datar."Apa yang kamu lakukan kepada Erika, Alea?!" suara Farhan terdengar penuh amarah di seberang sana.Aku mengernyit. "Apa maksud Mas Farhan?""Erika masuk rumah sakit! Dia tiba-tiba stres dan pingsan! Dia bilang ini semua gara-gara kamu!"Aku menggeleng tak percaya. "Dengar, Mas. Aku bahkan tidak bertemu Erika hari ini. Kalau dia merasa bersalah atau tertekan, itu urusannya, bukan salahku.""Jangan pura-pura tidak tahu! Kamu selalu iri dengan kebahagiaan kami, kan?! Makanya kamu sengaja membuat kekacauan!"Aku tertawa sinis. "Kebahagiaan? Mas serius? Dari awal, aku tidak pernah peduli dengan hubungan kalian. Aku sudah lama melupakan semuanya. Jadi kalau Erika merasa bersalah atau takut rahasianya terbongkar, itu bukan urusanku!""Kamu keterlaluan, Alea!" bentaknya lagi.Aku mendengus. "Mas, aku sudah cukup lelah dengan drama kalian. Kalau

  • BUKAN MENANTU KAMPUNGAN   Bab 113. Gara-Gara Joko

    Setelah pertemuan tak terduga dengan Ibu Aminah, aku menghela napas panjang, mencoba mengabaikan semua yang baru saja terjadi. Aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal-hal yang tidak penting bagiku lagi. Fokus utamaku saat ini adalah restoran. Aku segera melanjutkan keperluanku di pasar, bertemu dengan beberapa supplier yang selama ini bekerja sama dengan restoranku. Karena Evan sedang cuti menikah, akulah yang harus memastikan semua bahan baku tetap tersedia dengan kualitas terbaik. “Bu Ningsih, seperti biasa, saya pesan ayam fillet dan daging sapi kualitas premium, ya. Kirim ke restoran sore ini.” Bu Ningsih, seorang pemasok daging yang sudah lama bekerja sama denganku, mengangguk sambil mencatat pesananku. “Siap, Mbak Alea. Stok lagi bagus, jadi tenang saja.” Aku melanjutkan ke lapak sayuran, memastikan semua bahan segar yang aku butuhkan tersedia. Setelah semua pesanan sudah diatur, aku mengec

  • BUKAN MENANTU KAMPUNGAN   Bab 112. Di Pasar

    Aku mengerutkan kening dan menatap karyawan yang berbisik padaku. “Tamu?” tanyaku, memastikan aku tidak salah dengar.Karyawan itu mengangguk. “Ya, seorang pria bernama Joko Supriono. Dia bilang ingin bertemu dengan Mbak Alea secara langsung.”Jantungku berdegup lebih cepat. Nama itu bukanlah nama yang ingin kudengar di malam spesial ini. Dengan perasaan waspada, aku melangkah ke arah pintu masuk restoran.Begitu aku keluar, di sana dia berdiri. Joko Supriono, pria paruh baya dengan perut buncit dan senyum yang selalu terasa menjijikkan di mataku. Dia mengenakan kemeja mewah yang sedikit terbuka di bagian atas, seolah ingin menunjukkan kepercayaan dirinya yang berlebihan.“Lama tidak bertemu, Alea,” ucapnya dengan nada yang terdengar akrab, seolah kami adalah teman lama.Aku mengatur napas dan berusaha tetap tenang. “Pak Joko, ada keperluan apa malam-malam begini?” tanyaku dengan nada datar.Dia terkekeh kecil, melirik ke sekelil

  • BUKAN MENANTU KAMPUNGAN   Bab 111. Lamaran Jadi Nikahan

    Semua orang masih larut dalam kebahagiaan setelah Nadine menerima lamaran Evan. Aku tersenyum puas melihat mereka saling menggenggam tangan dengan mata berbinar. Tapi, kejutan sesungguhnya baru akan dimulai.Aku melirik ke arah mas Calvin yang duduk di sebelahku sambil memangku Shasha. Dia mengangguk kecil, tanda bahwa semuanya sudah siap. Aku pun berdiri dan mengambil mikrofon.“Terima kasih untuk semua yang sudah datang dan menyaksikan lamaran Evan dan Nadine malam ini,” ujarku dengan suara mantap. “Tapi, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.”Semua mata kini tertuju padaku, termasuk Evan yang menatapku dengan alis berkerut. Aku menarik napas dan melanjutkan, “Setelah berdiskusi dengan keluarga Nadine dan Evan, kami memutuskan untuk mengubah acara malam ini… dari sekadar lamaran menjadi akad nikah.”Ruangan mendadak hening. Aku bisa melihat wajah Evan langsung menegang, matanya melebar karena terkejut. Sementara Nadine, meski tampak terkejut, ti

  • BUKAN MENANTU KAMPUNGAN   Bab 110. Lamaran

    Aku duduk merenung di dalam ruanganku sendiri. Bagaimana bisa Erika bersama dengan si Joko? Apa yang terjadi dengan mas Farhan? Kenapa sampai Erika mengancam untuk tidak memberitahukan kepada mas Farhan? Apakah itu artinya Erika ada main dengan si Joko? Lalu bagaimana nasib dengan Ratih? Ah… semakin dipikir membuatku semakin penasaran, tapi aku tidak ingin terlibat langsung dalam urusan rumah tangga mereka. Bukankah aku harus fokus dengan kehamilanku? Aku tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali. Rasanya menyakitkan jika aku harus mengalami keguguran lagi karena terlibat urusan dengan keluarga mas Farhan. “Ya! Masa bodoh dengan keluarga orang lain! Masih banyak hal yang aku harus pikirkan!” Aku mensugesti diri sendiri untuk tidak lagi terlibat dalam urusan orang lain. *** Beberapa hari berlalu, dan pikiranku tentang Erika serta si Joko perlahan mulai terkubur oleh kesibukan sehari-hari. Aku menyibukkan diri dengan pekerjaanku di re

  • BUKAN MENANTU KAMPUNGAN   Bab 109. Erika dan Joko Supriono

    Aku berdiri kaku, menatap Erika yang jelas sama terkejutnya denganku. Namun, tatapan Erika tetap dingin seperti biasanya. Wanita itu berdiri dengan perut besarnya, tetap angkuh seolah tidak ada yang perlu dijelaskan. Tapi yang membuatku jauh lebih terkejut adalah sosok pria yang berdiri di sampingnya. Joko Supriono. Pria yang selama ini ingin aku hindari... mimpi buruk di masa laluku. Mas Calvin melangkah setengah langkah ke depan, berdiri di depanku seolah menjadi pelindung. Aku bisa merasakan ketegangan di tubuhnya, apalagi saat si Joko menyunggingkan senyum licik yang sangat aku kenal. "Alea... lama tidak bertemu." Suaranya membuat bulu kudukku meremang. Aku menguatkan diri, menatap tajam tanpa menunjukkan sedikit pun rasa takut. "Kamu... kenapa ada di sini?" suaraku terdengar bergetar, tapi aku berusaha tetap tegar. Joko melirik Erika dengan senyum samar. "Aku

  • BUKAN MENANTU KAMPUNGAN   Bab 108. Membahas Lamaran

    "Mas, Evan minta kita bantu buat nyiapin lamarannya, kamu ada ide?" tanyaku sambil melirik mas Calvin yang fokus menyetir.Suamiku menoleh sekilas, bibirnya melengkung tipis."Evan minta bantuan kamu... atau kita?" godanya.Aku mendengus pelan, melipat tangan di dada pura-pura kesal."Ya jelas kita lah, Mas! Masa aku sendiri? Kamu kan jago soal beginian."Mas Calvin terkekeh, tapi aku tahu dia memang senang jika dilibatkan."Hmm..." gumamnya sambil mengetuk-ngetuk setir, seolah berpikir."Kita bisa buat acara kecil di restoran kamu. Gak usah mewah, yang penting intimate dan berkesan."Mataku langsung berbinar, ide itu terdengar sempurna."Kayaknya Nadine tipe yang gak suka hal-hal berlebihan, ya?"Mas Calvin mengangguk kecil."Iya... dan Evan pasti pengen suasana yang sederhana tapi bermakna."Aku tersenyum, membayangkan wajah Evan yang pasti akan gugup di hari lamarannya.

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status