Home / Romansa / BENIH PRESDIR LUMPUH / Bab 5 Geng Trio FAM Alliance

Share

Bab 5 Geng Trio FAM Alliance

Author: Simbaradiffa
last update Last Updated: 2024-06-22 16:38:35

Sintia yang dipanggil Adel dengan sebutan Sitong segera menggelengkan kepalanya. Dia ingin mengelak membela dirinya tetapi tatapan Maya membuat Sintia kembali menundukkan kepalanya.

Maya adalah orang yang sengaja menggunakan kakinya saat Sintia akan melewati bangku Fiona agar Sintia menumpahkan minuman tersebut ke baju Fiona.

"Adel, apa aku tadi tidak salah dengar, kamu menyebut namanya Sitong? Astaga, nama macam apa itu! Haha..." ejek Fiona sambil tertawa.

Maya ikut tertawa puas mendengar perkataan Fiona, tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Kamu tidak salah dengar, Fiona," jawab Adel.

Mereka bertiga menertawakannya, di saat Sintia memilih untuk pergi dari hadapan ketiga orang itu, Fiona memegangi tangannya.

"Mau kemana kamu, Sitong? Enak aja, mau pergi tanpa bertanggung jawab! Lihat ini, baju seragamku kotor dan baju ini dibuat khusus dari Italia," Fiona berbicara dengan nada suara yang terdengar bangga dan angkuh.

"Maaf! Aku akan membersihkan seragammu, apa kamu membawa baju seragam lain?" jawabnya.

"Untuk apa aku membawa seragam cadangan? Ini hari pertama aku masuk ke sekolah baru, tapi kau sudah mengotori bajuku!” Fiona mendengus sambil menarik tangannya dari genggaman Sintia dengan kasar.

Sintia merasa terpojok, tak tahu harus berbuat apa. Tatapan sinis dari Maya dan Adel membuatnya semakin gugup.

"Sudahlah, Sitong. Kamu benar-benar ceroboh. Kamu harus bertanggung jawab atas ini!" kata Maya.

"Aku akan membersihkannya sekarang juga," Sintia berusaha untuk bertanggung jawab.

"Bagaimana caranya? Kita sedang di sekolah, dan di sini tidak ada mesin cuci," Fiona berucap dengan nada tinggi.

"Aku bisa mencoba membersihkannya di kamar mandi. Aku punya tisu basah di tas," Sintia menjawab dengan pelan, dia tidak sepenuhnya yakin.

Fiona memutar matanya, tapi akhirnya dia menyetujui, "Baiklah, tapi jika tidak bisa bersih, kamu harus mengganti baju ini! Mengerti?"

Sintia mengangguk cepat. Mereka berempat segera menuju kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, Fiona melepaskan seragamnya, memberikannya pada Sintia. Sehingga hanya menyisakan baju hitam yang dipakainya sebagai dalam kedua.

Sintia terus berusaha membersihkan seragam Fiona, air matanya jatuh tanpa disadari. Perlahan, dia mulai menghapus noda itu, berharap bisa menghilang.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, Sintia akhirnya menyadari bahwa noda di seragam Fiona tidak sepenuhnya bisa hilang. Dengan tangan gemetar, dia keluar dari kamar mandi dan mendapati Fiona, Maya, dan Adel masih menunggunya dengan kedua tangan mereka yang melipat di dada.

"Aku... aku tidak bisa membersihkannya sepenuhnya," kata Sintia pelan, suaranya hampir hilang ditelan rasa takut dan malu.

Fiona mendengus kesal. "Kalau begitu, kita tukar saja. Kamu pakai seragam kotor ini, dan aku pakai seragam mu,”

Sintia tertegun. "Tapi... tapi itu tidak adil. Aku akan kotor sepanjang hari."

"Itu bukan urusanku!” Fiona menyeringai. "Jika kamu tidak mau, aku bisa pastikan kamu mendapat masalah lebih besar lagi."

Sintia tahu dia tidak punya pilihan. Dengan tangan gemetar, dia mulai membuka seragamnya dan menyerahkannya kepada Fiona.

“Sitong, apa ketiakmu bau?” tanya Fiona.

Maya dan Adel dengan keras tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Fiona.

Sintia hanya bisa menundukkan kepalanya, merasa sangat terhina, tanpa berbicara sepatah katapun. Dia berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di matanya.

Dengan hati yang berat, Sintia berjalan menjauh, merasakan tatapan dan tawa sinis mereka di belakangnya.

Fiona dengan cepat mengenakan seragam Sintia yang bersih.

Setelah Sintia pergi dengan langkah gontai dan hati yang hancur, Maya dan Adel saling bertukar pandang. Maya memberikan tatapan penuh makna kepada Adel, menunjukkan bahwa Fiona memang layak menjadi bagian dari geng mereka, "Trio FAM Alliance."

"Dia cocok, kan?" bisik Maya kepada Adel dengan nada setengah senyum.

Adel mengangguk setuju. "Dia memang sempurna untuk menggantikan Fianka. Sudah lama kita tidak menemukan seseorang yang punya sikap dan keberanian seperti itu."

Fiona, yang masih sibuk merapikan seragam Sintia yang kini dia kenakan, mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar. "Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya dengan nada penuh percaya diri.

Adel melangkah mendekat. "Kami pikir, kamu punya semua yang diperlukan untuk bergabung dengan kami, Trio FAM Alliance. Apa kamu tertarik?"

Fiona mengangkat alisnya, berpikir sejenak. "Jadi, kalian memiliki geng, dan ingin aku bergabung dengan geng kalian? Apa keuntungannya bagiku?"

Maya tersenyum lebar. "Keuntungannya? Kamu akan mendapatkan kepopuleran dan teman yang setia, kekuatan. Tidak ada yang akan berani mengganggumu. Dan tentu saja, kita akan bersenang-senang bersama, mengendalikan sekolah ini."

Fiona tersenyum, tampak puas dengan penawaran itu. "Baiklah, aku tertarik. Apa yang harus aku lakukan untuk resmi bergabung?"

Adel dan Maya saling pandang, lalu Adel menjawab, "Kamu baru saja menunjukkan keberanian dan sikap yang kita cari. Mulai sekarang, kamu adalah bagian dari Trio FAM Alliance.”

“Aku sangat senang bisa bergabung dengan kalian, tapi apa artinya FAM?” Fiona terlihat penasaran dengan tiga huruf tersebut.

“Sebelumnya, nama geng ini dibuat bersama dengan Fianka, tapi kedua orang tuanya telah jatuh miskin, sehingga dia meninggalkan sekolah ini! Dan nama FAM adalah singkatan nama depan kita bertiga, Fianka, Adel, dan Maya, tetapi sekarang nama Fianka telah menjadi nama Fiona, lebih segalanya dibandingkan gadis itu.” Maya dengan panjang lebar menjelaskan nama geng tersebut.

“Apa kau keberatan, Fiona?” tanya Adel.

“Tentu saja tidak!” Fiona merangkul kedua temannya itu dan keluar dari kamar dalam kamar mandi.

Adel dan Maya tersenyum penuh kemenangan. Dengan kehadiran Fiona, mereka merasa geng mereka akan menjadi lebih kuat dan berpengaruh di sekolah.

****

Sepulang sekolah, Fiona dengan penuh semangat mengajak Maya dan Adel menuju sebuah mal besar di pusat kota. Mereka bertiga menuju pintu masuk utama dengan langkah percaya diri, menikmati pandangan iri dari orang-orang di sekitar mereka.

"Kalian berdua bisa memilih apa yang kalian inginkan, aku akan mentraktir kalian sebagai perayaan bergabungnya aku dengan geng Trio FAM Alliance," ucap Fiona dengan senyum cerah.

"Ahh... Terima kasih, Fiona," ucap Adel dan Maya bersamaan dengan nada yang terdengar manja.

"Let's go!" Fiona menarik tangan Adel dan Maya, menuju ke dalam mal dengan semangat.

Mereka mengunjungi butik-butik mewah, mencoba berbagai pakaian, sepatu, dan aksesori. Suasana penuh tawa dan kebahagiaan terasa di antara mereka. Setelah berbelanja cukup banyak, mereka menuju ke lantai atas untuk makan siang di restoran mewah.

Saat Fiona sedang asyik berbincang dengan Maya dan Adel, dia tidak sengaja menabrak seorang pria yang sedang berjalan dari arah berlawanan. Barang-barang belanjaannya jatuh berserakan di lantai.

"Ah, maaf!" ucap Fiona, sedikit kesal tapi berusaha tetap tenang.

Pria itu membantu mengumpulkan barang-barang Fiona. "Tidak apa-apa," katanya sambil menyerahkan tas belanjaan Fiona.

Saat Fiona melihat wajahnya, dia tertegun sejenak. Pria itu sangat tampan, dengan mata yang tajam. Dia mengenakan seragam sekolah yang sama dengan mereka. Pria itu pergi begitu saja dari hadapan Fiona tanpa bicara apa pun lagi.

Fiona menoleh pada Maya dan Adel dengan penasaran. "Siapa dia?" bisiknya.

Adel tersenyum tipis lalu menjawab, "Itu Alvaro Kristian, dia ketua OSIS di sekolah kita dan dia mantan kekasih Fianka. Semenjak kepergian Fianka, Alvaro terlihat dingin pada siapa pun."

Fiona menatap punggungnya yang menjauh dengan mata berbinar. "Menarik," gumamnya pelan, tersirat rasa penasaran yang mendalam di dalamnya.

****

Jam tujuh malam, Fiona baru kembali ke kediaman Stefanus Thene dengan beberapa belanjaannya. Tatapan tajam dari seseorang menyambut kedatangannya.

"Dari mana saja kamu, Fiona!" William terlihat seperti seorang ayah yang sedang menunggu kedatangan putrinya dan bersiap untuk memarahinya.

"Tentu saja menghabiskan uangmu," jawab Fiona sambil menunjukkan beberapa belanjaannya.

Fiona menoleh ke samping kanan, melihat beberapa pembantu yang berdiri tak jauh darinya.

"Kalian kenapa diam saja! Ambil ini dan bawa ke kamarku. Aku harus memanjakan suamiku terlebih dahulu," ucap Fiona dengan penuh percaya diri sambil berjalan mendekati William.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Noor Sukabumi
fiona2 sikap mu barbar tapi goblokmu dipiara belom kerasa j yah ditendang sama temen satu genk gara2 km jatuh miskin ,jg terlalu sombong Fiona inget kalau sampe identitasmu kebongkar bkl kena bully km sama maya dan adel
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • BENIH PRESDIR LUMPUH   Bab 6 Menggoda

    Fiona berdiri tepat di hadapan William yang melihatnya dengan tatapan datar. Fiona menundukkan setengah badannya agar sejajar dengan William yang duduk di kursi roda, sambil memainkan dasi merah yang dipakainya."Apakah kamu marah padaku?" tanyanya dengan suara lembut.Hening, tak ada jawaban yang keluar dari mulut William. Dia hanya diam memperhatikan gerak gerik Fiona.Dengan sentuhan lembut, Fiona meraba jas hitam William lalu merubah tangannya menjadi menunjuk tepat di arah detak jantung William.“William, apa kamu masih ingat perkataanku kemarin? Jika lupa, aku akan ingatkan sekali lagi, bahwa kau tidak punya hak untuk melarang apapun yang aku lakukan karena aku tidak suka dilarang, termasuk oleh suamiku sendiri. Apalagi pernikahan kita-" Fiona belum menyelesaikan ucapannya, William telah memotong pembicaraannya."Kau tidak perlu membahasnya lagi! Aku sama sekali tidak tertarik dengan urusanmu," potong William dengan suara dingin, matanya menatap kosong ke arah lain.Fiona terdia

    Last Updated : 2024-08-13
  • BENIH PRESDIR LUMPUH   Bab 7 Balapan Liar

    "Satu ... dua ... tiga!" Teriakan itu menggema di malam yang tenang, disambut dengan deru mesin yang meraung keras. Mobil-mobil melaju dengan cepat, meninggalkan jejak debu dan asap di jalanan aspal yang gelap. Seorang pria tampan berada di depan kemudi, memacu mobilnya dengan penuh percaya diri, matanya fokus pada jalan di depan. Cahaya lampu jalanan dan sorot lampu mobil-mobil lainnya memantulkan bayangan wajahnya yang tegang namun penuh determinasi. Di pinggir lintasan, Fiona baru saja tiba di lokasi. Dia memandang pemandangan di depannya dengan tenang, matanya menyapu kerumunan orang yang bersorak-sorai menyemangati para pembalap. Di sampingnya, Maya dan Adel berdiri dengan antusias, mengikuti setiap gerakan mobil-mobil yang berpacu di lintasan. "Wow, lihat dia! Mobilnya benar-benar melaju kencang," seru Maya, matanya berbinar penuh semangat. "Siapa orang yang di dalamnya itu? Dia begitu lihai," tanya Adel dengan nada penasaran, sambil menunjuk ke arah mobil yang mem

    Last Updated : 2024-08-14
  • BENIH PRESDIR LUMPUH   Bab 8 Memeluk Tubuhnya

    William hanya bisa melihat istrinya yang sedang berjongkok seperti anak kecil yang kehilangan induknya melalui CCTV yang terpasang di dalam lift dan terhubung dengan ponselnya. Sebelumnya, saat William baru selesai mengerjakan beberapa dokumen pekerjaannya. Dia mendapati banyak panggilan yang tak terjawab dari nomor dengan nama F, hanya satu huruf singkat dan itu adalah nomor ponsel Fiona. William mengabaikan teleponnya, baru saja dia menyimpan ponselnya kembali ke atas meja, seorang pembantu memberitahu bahwa Fiona terjebak di dalam lift. Sampai beberapa saat pintu lift berhasil dibuka, tetapi Fiona masih berjongkok dengan pikirannya. William mencoba mendekati Fiona dengan kursi rodanya. “Apa kau akan terus berjongkok disini?” ucap William, tetapi tidak ada respon darinya. “Ehmmm...” William berdehem cukup keras, Fiona masih saja tak bergeming. Dengan ragu-ragu, William menarik beberapa helai rambut Fiona cukup kencang lalu berpura-pura seolah-olah dia tidak melakukannya.

    Last Updated : 2024-08-14
  • BENIH PRESDIR LUMPUH   Bab 9 Ciuman Pertamaku

    Setelah kejadian tadi pagi, seseorang datang ke dalam kelas Fiona dan memberitahunya untuk ke ruang guru.Dengan perasaan kesal, Fiona menuju ruang guru sesuai dengan panggilan yang diterimanya.Di ruang guru, seorang guru BK yang bernama Pak Herman sudah menunggu kedatangan Fiona."Fiona, kamu tahu mengapa kamu dipanggil ke sini?" tanya Pak Herman dengan nada tegas.Fiona mengangguk perlahan. "Iya, Pak."Pak Herman menatapnya tajam. "Jika kamu tahu, kenapa harus ada percekcokan, bahkan sampai bertengkar dan membuat tangan Juwita terluka?"Fiona terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan Pak Herman. “Tapi, Pak, itu bukan kesalahan saya.”“Kamu ini, masih saja membantah. Jangan mentang-mentang keluargamu orang berada sehingga bisa membantah aturan sekolah. Apalagi dengan membawa begitu banyak alat make-up seperti ini. Kamu datang ke sekolah untuk belajar atau pamer kecantikanmu? Membawa alat-alat make-up seperti itu,

    Last Updated : 2024-08-16
  • BENIH PRESDIR LUMPUH   Bab 10 Sudah Tidak Perawan lagi

    Namun, pikiran Fiona seketika buyar setelah mendengar perkataan William.“Make-up yang dipakai olehmu sangat berantakan, terlihat jelek. Aku akan bantu menghapusnya,” ujar William sambil menggunakan tangan satunya lagi untuk menghapus lipstik di bibir Fiona hingga berantakan di sekitar bibirnya.“William, kenapa kamu menghapusnya?” seru Fiona, berusaha melepaskan tangannya yang digenggam erat oleh William.William tidak menghiraukan perkataan Fiona. “Dan, merah-merah di pipimu sangat buruk, seperti orang yang habis terkena pukulan. Aku akan menghapusnya lagi,” katanya sambil kembali menghapus blush on yang sengaja dipakai Fiona.“Ahh… William, jangan! Hentikan,” teriak Fiona mencoba menghentikan tangan William yang terus menghapus make-up-nya.“Selesai,” gumam William sambil melepaskan tangannya lalu menjauh dari hadapan Fiona yang setengah tubuhnya masih berada di atas meja.Fiona merengut kesal, wajahnya terlihat memerah. Matan

    Last Updated : 2024-08-17
  • BENIH PRESDIR LUMPUH   Bab 11 Merangkul Pundaknya

    William segera menekan tombol di samping ranjang yang akan terhubung ke lantai bawah untuk memanggil pembantunya. Tak butuh waktu lama, seorang pembantu wanita datang dan berdiri di depan William yang baru membuka pintu. Dia sedang menunggu perintah dari tuannya setelah beberapa saat yang lalu dipanggil, namun tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut William. Dengan wajah agak canggung, William berkata, "Bawakan roti bersayap untuknya." Pembantu itu mengernyit bingung, mencoba memikirkan permintaan tuannya yang tidak biasa itu. "Tuan, kita tidak memiliki roti bersayap. Tapi aku bisa membuatkan roti bersayap dengan potongan sayap ayam," jawabnya dengan ekspresi bingung namun berusaha membantu. William mendesah pelan, merasa kebingungan sendiri. Dia memutar otaknya, mencoba mencari cara untuk menjelaskan tanpa langsung menyebutkan kata-kata yang terasa memalukan baginya.

    Last Updated : 2024-08-19
  • BENIH PRESDIR LUMPUH   Bab 12 Saya Istrinya

    Dengan wajah merengut kesal, Fiona mencoba menghubungi William untuk menjemputnya pulang. Namun, pria itu sama sekali tidak mengangkat teleponnya dan bahkan ada beberapa kali panggilan yang di rijeknya.‘Punya suami terasa tidak punya. Dia tidak bisa diandalkan,’ gerutu Fiona di dalam hati tanpa sadar telah mengakui William sebagai suaminya. Dia melangkah menjauhi mobilnya untuk mencari kedua temannya.Ketika baru beberapa langkah, Fiona menghentikan langkahnya mengingat Adel dan Maya tidak membawa mobil, bahkan mereka baru saja pulang.Fiona menghela napasnya, melihat sekeliling parkiran mencoba melihat orang yang telah berani bermain-main dengannya, sampai matanya melihat Juwita dari jarak yang sedikit jauh darinya. Gadis itu sedang tertawa lepas bersama beberapa teman satu kelasnya, Fiona yang di landa kesal karena ban mobilnya yang bocor hendak berjalan menghampirinya. Namun, tak sengaja dia menabrak Alvaro yang hendak melewatinya sam

    Last Updated : 2024-08-20
  • BENIH PRESDIR LUMPUH   Bab 13 Kemarahan Fiona

    Langit mulai gelap dan suasana di sekitar kantor menjadi semakin sepi. Fiona duduk di sana, merasa seperti anak yang terbuang, tanpa ada tempat untuk pulang dan tanpa siapa pun yang peduli. Bahkan mobil taksi tidak ada satu pun yang lewat, membuat Fiona benar-benar tak berdaya. Dia terus menunggu di depan gedung kantornya. Matahari telah lama tenggelam, dan malam semakin larut. Fiona tidak tahu bahwa William telah pergi sejak siang untuk mengecek beberapa pekerjaannya di luar kantor setelah selesai rapat. Kantor mulai sepi, satu per satu lampu di dalam gedung padam, menandakan bahwa tempat itu sudah tutup. Fiona tetap berada di sana, berharap William akan keluar dan menemukannya. Namun, harapan itu ternyata tidak sesuai dengan harapannya. Tiba-tiba, satpam mendekati Fiona. Pria itu berhenti di depannya, memandang Fiona dengan ekspresi datar. “Nona, Tuan William sudah tidak ada di kantor. Dia telah pergi sejak siang tadi.”Fiona menatap satpam itu dengan kaget, matanya yang tadinya

    Last Updated : 2024-09-08

Latest chapter

  • BENIH PRESDIR LUMPUH   Bab 87 Begitu Keras Menolak

    Dawson menarik tubuhnya menjauh dan segera berdiri sambil beranjak pergi dari ruangan itu tanpa berkata apapun, napasnya masih berat. Ia berjalan menuju sebuah ruangan. Tak lama kemudian, salah satu anak buahnya masuk.“Tuan, apa Anda yakin?” pria itu bertanya, suaranya terdengar ragu. Ia tak percaya bahwa tuannya ingin menikahi gadis yang baru saja di temuinya.“Apa kau tidak mendengar apa kataku Nick! Cepat, lakukan saja. Kau atur pernikahanku dengannya. Jangan sampai ada orang lain yang tahu tentang ini selain kau,” ucapnya dengan nada tegas. “Baik, Tuan.” ****Nessa duduk terdiam di atas ranjang, menggenggam erat handuk yang kembali melilit tubuhnya. Napasnya masih tak beraturan, dan jantungnya berdebar kencang.Air matanya menggenang. Ia benar-benar tak menyukai pria yang baru saja keluar dari ruangnya. “Aku harus membawa paman pergi dari sini,” gumam Nessa sambil memikirkan cara untuk melarikan diri. “Tapi, kemana mereka membawanya?” Nessa kembali bergumam. Beberapa menit b

  • BENIH PRESDIR LUMPUH   Bab 86 Berusaha Menciumnya

    Langkahnya semakin dekat.Tubuh Nessa menegang saat pria itu berhenti tepat di belakangnya. Ia bisa merasakan kehadirannya yang begitu mendominasi. Napasnya tercekat ketika jemari pria itu terulur, hendak menyentuh pundaknya.Tanpa berpikir panjang, Nessa meraih pot bunga kecil yang ada di dekatnya dan melemparkannya ke arah pria itu.Pria itu bereaksi dengan cepat. Ia memiringkan tubuhnya ke samping, menghindari pot bunga yang nyaris mengenainya. Pot itu jatuh ke lantai dengan suara pecahan yang tajam, menyisakan tanah yang berserakan.Nessa tidak menunggu lebih lama. Ia segera menjauh, mengambil jarak sejauh mungkin. Tubuhnya masih gemetar, tetapi tatapan matanya menunjukkan ketakutan yang begitu nyata.Pria itu tetap berdiri tegap, tidak terlihat marah atau terkejut. Bahkan, ada sedikit lengkungan di sudut bibirnya, seolah menikmati ketakutan Nessa."Apa yang ingin kau lakukan?" suara Nessa terdengar tegas namun ada ketakutan di dalamnya.Pria itu tidak segera menjawab. Matanya mem

  • BENIH PRESDIR LUMPUH   Bab 85 CANDU TUBUHMU [Ezra]

    Nessa Griselda mengerjap-ngerjapkan matanya yang baru saja terbebas dari kain hitam yang menutup wajahnya. Cahaya remang dari lampu di ruangan itu membuatnya menyipit, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan kondisi sekitar. Punggungnya terasa nyeri akibat lemparan kasar yang baru saja dialaminya. Di sebelahnya, seorang pria paruh baya terkulai dengan wajah sedikit berdarah di sudut bibirnya. "Tuan, maafkan saya. Saya tidak bermaksud mencuri uang Anda!" Suara pria itu gemetar, tangannya terikat, tubuhnya bergetar dengan tatapan penuh ketakutan.Nessa menoleh, menatap pria paruh baya itu—pamannya, satu-satunya keluarga yang ia miliki. Tubuh pria itu terguncang saat salah satu anak buah pria yang duduk di sofa menendangnya hingga ia tersungkur.“Ahh… Paman!” teriak Nessa.“Apa yang kalian lakukan—Emmm…” Nessa tidak dapat melanjutkan perkataannya. Salah satu anak buah pria itu segera membungkam mulutnya karena dianggap terlalu berisik.Nessa hanya bisa menangisi pamannya dengan mulu

  • BENIH PRESDIR LUMPUH   Bab 84 Kenangan yang Tertinggal

    Setelah insiden tragis yang merenggut nyawa Azalea, suasana di rumah Lauren menjadi begitu hening dan penuh duka. Aroma samar bunga melati yang dipasang di sudut ruangan memenuhi udara, membuat kesedihan semakin terasa mendalam. Lauren duduk di sofa dengan tatapan kosong, menggenggam foto Azalea di tangannya. Fiona yang duduk di sampingnya berusaha menenangkan sang ibu, tetapi hatinya sendiri dipenuhi kesedihan.William berdiri di dekat jendela, memperhatikan Fiona dan Lauren dalam keheningan. Ezra, yang masih terlalu kecil untuk memahami arti kehilangan, duduk di pangkuan Fiona dengan wajah polosnya. Sesekali ia menatap ibunya dan neneknya, seakan bertanya mengapa mereka begitu sedih.“Mama… kenapa nenek menangis?” tanya Ezra dengan suara lembut, membuat Fiona menggigit bibirnya, menahan tangis.Fiona mengusap kepala Ezra dan tersenyum lemah. “Karena nenek kehilangan seseorang yang sangat ia sayangi, sayang.”Ezra menatap Fiona dengan bingung. “Seperti saat aku kehilangan mainanku?”

  • BENIH PRESDIR LUMPUH   Bab 83 Menyelimuti Mereka

    Lauren yang masih terkejut dengan pengakuan Fiona menunjuk ke dalam rumah. "Dia ada di kamarnya."Tanpa membuang waktu, Fiona segera menarik tangan William dan membawanya masuk. Mereka berjalan dengan cepat melewati ruang tamu menuju kamar Ezra. Fiona merasa jantungnya berdebar kencang, dia ingin segera mempertemukan William dengan anaknya.Namun, ketika Fiona membuka pintu kamar Ezra, matanya langsung membesar. Ruangan itu kosong.Tidak ada Ezra di tempat tidur, tidak ada tanda-tanda kehadirannya. Selimut yang biasanya tersusun rapi kini berantakan, dan jendela kamar terbuka sedikit."Ezra?" Fiona memanggil panik.William yang berdiri di belakangnya merasa ada sesuatu yang janggal. Namun, sebelum dia bisa ikut mencari, tangannya terangkat dan menggenggam pergelangan tangan Fiona, menghentikan gerakannya."Fiona, apa maksudmu tadi?" William bertanya dengan nada tajam. "Bukankah pria yang bernama Ezra adalah kekasihmu? Lalu sekarang kau bilang dia anakku?"Fiona menutup matanya, berusa

  • BENIH PRESDIR LUMPUH   Bab 82 Membalas Ciuman Itu

    Fiona menutup matanya dan menyentuhkan bibirnya pada bibir William. Seketika William membalas ciuman itu semakin dalam. William merengkuh pinggang Fiona, mendekapnya erat seakan tak ingin melepaskannya lagi. Tangan pria itu meraba punggung Fiona, merasakan kehangatan tubuh istrinya yang begitu ia rindukan."Aku juga mencintaimu, William,” gumam Fiona di sela ciuman mereka. Pengakuan itu membuat William semakin kehilangan kendali. Ia menindihnya dengan penuh hasrat.Fiona yang semula masih menolak, kini tidak bisa menahan diri lagi. Dia membiarkan William menyentuhnya, membiarkan pria itu mengklaimnya kembali. Mereka larut dalam gairah, seakan ingin melupakan segala masalah yang ada di antara mereka. ****Di tempat lain, di sebuah kios es krim, Lauren duduk dengan gelisah. Ia sesekali melirik ke arah jam tangan, lalu melihat Ezra yang duduk di sampingnya dengan ekspresi bosan. Anak itu menggoyangkan kakinya dengan tidak sabar."Nenek, kenapa Ibu belum datang juga? Aku ingin pulang,"

  • BENIH PRESDIR LUMPUH   Bab 81 Melepas Rindu

    Ciuman itu begitu menuntut, seolah William ingin menyalurkan semua emosi yang telah lama ia pendam. Rindu yang bertahun-tahun tertahan, kemarahan karena kepergian Fiona, dan cinta yang tak pernah benar-benar hilang—semuanya meledak dalam satu ciuman yang membius.Fiona mulai kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Jemarinya yang awalnya ingin mendorong William kini justru mencengkeram kemeja pria itu, gemetar di antara genggamannya. Namun, saat pikirannya mulai hanyut dalam perasaan yang bercampur aduk, kesadarannya kembali.Dengan sekuat tenaga, Fiona memukul dada William, memaksa pria itu untuk melepaskan ciumannya."Jangan!" serunya dengan napas memburu.William akhirnya melepaskan Fiona, tetapi tangannya tetap menahan pinggang wanita itu, seakan tidak rela berpisah. Mata mereka bertemu dalam keheningan yang mendebarkan."Dasar mesum," bisik Fiona, matanya berkaca-kaca.William tersenyum miring, jari-jarinya menyentuh bibirnya sendiri, merasakan jejak ciuman mereka. "Benarkah?" t

  • BENIH PRESDIR LUMPUH   Bab 80 Ciuman Yang Kasar

    Setelah lama saling melepas rindu dengan ibunya, Fiona kini berdiri di depan jendela kamar, menatap ke luar dengan pandangan kosong. Kata-kata ibunya masih terngiang di telinganya."Ada banyak orang yang terus mencarimu."Fiona menggigit kuku ibu jarinya, kebiasaan lamanya saat merasa cemas. Dalam hatinya, muncul pertanyaan yang selama ini ia hindari."Apakah William mencariku?"Pikiran itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Bagaimana jika William benar-benar mencarinya? Bagaimana jika dia tahu tentang Ezra? Apakah William akan mencoba mengambil Ezra darinya?Fiona menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran itu. Namun, jauh di dalam hatinya, Fiona tidak bisa menutupi rasa rindunya pada pria itu.Keesok harinya Fiona dan ibunya, Lauren, memutuskan untuk menghabiskan hari dengan berjalan-jalan ke mal. Setelah bertahun-tahun tidak bertemu, Lauren ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan putrinya dan cucunya, Ezra. Sementara itu, di tempat lain, William akhirnya tiba di

  • BENIH PRESDIR LUMPUH   Bab 79 Menggigit Bibirnya

    Limat tahun kemudian di bandara Italia, Fiona turun dari pesawat dengan seorang anak laki-laki berusia sekitar empat tahun di sampingnya. Wajahnya berseri-seri saat dia menggandeng tangan anaknya, Ezra. Meski sudah menjadi seorang ibu, Fiona masih tampak muda dan cantik, seolah waktu tidak mengubahnya sedikit pun. Bahkan, jika dilihat sekilas, orang mungkin akan mengira Ezra adalah adiknya, bukan anaknya.Fiona dan Ezra berjalan dengan langkah ringan menuju area kedatangan. Perjalanan Fiona ke Italia adalah untuk menemui ibunya, Lauren, yang sudah lama tidak ditemuinya. Fiona merasa sedikit gugup, tapi juga bahagia. Dia ingin memperkenalkan Ezra kepada neneknya dan berharap ibunya bisa menerima mereka dengan hangat, setelah bertahun-tahun tanpa kabar.Saat mereka berjalan di trotoar dekat rumah ibunya, Fiona tiba-tiba melihat sosok Lauren yang baru saja pulang dari suatu tempat, ibunya terlihat sudah mulai menua. Dengan cepat, dia berlutut di samping Ezra dan tersenyum lembut. “Sayan

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status