Rachel membuka matanya saat sinar matahari masuk ke celah jendela. Dia menolehkan kepalanya dan cukup terkejut kalau dia bisa tidur nyenyak tanpa mimpi buruk dan rasa cemas yang biasa dia rasakan. Sudah beberapa minggu sejak Nathan pergi bertugas dan Rachel tinggal di rumah Tantenya, dia tidak tidur dengan nyenyak dan bahkan semalaman tidak bisa tidur. Tetapi, sekarang dia bisa tidur dengan lelap tanpa perasaan gelisah lagi.
Wanita itu menyadari sesuatu yang sedang dia genggam dengan cukup kuat. Wanita itu menundukkan pandangannya dan langsung melihat genggaman tangan Nathan. Pria itu dengan setia menggenggam tangannya semalaman, bahkan dia tidur dengan posisi duduk di kursi yang ada di samping brankar dan menyandarkan kepalanya ke brankar.
Tidak bisa dipungkiri, kalau Rachel terharu dengan apa yang dilakukan Nathan. Tetapi, rasa kecewa dan sakitnya terlalu dalam, sampai dia terus menepis perasaan itu. Rachel tidak mau berharap lagi pada Nathan karena sudah berkali-kali mendapat kekecewaan dari pria itu.
Rachel menarik napas pelan, menatap wajah Nathan yang tertidur di sampingnya. Wajah pria itu tampak lelah, kantung matanya terlihat jelas, dan nafasnya teratur dalam tidurnya. Jemarinya masih erat menggenggam tangannya, seolah tidak ingin melepaskan.
Untuk sesaat, hatinya terasa hangat.
Tapi kemudian, rasa sakit itu kembali menyeruak, mengingatkannya pada semua luka yang pernah ia rasakan.
Rachel menatap langit-langit kamar, pikirannya dipenuhi oleh pertanyaan yang sama, Apakah Nathan benar-benar akan berubah?
Ia ingin percaya.
Tapi, bagaimana jika ini hanya sesaat? Bagaimana jika Nathan kembali mengutamakan pekerjaannya dan meninggalkannya lagi? Rasa trauma yang membuat Rachel tidak bisa mempercayainya, Dia ketakutan, takut rasa kesepian dan overthingking yang terus mengusiknya setiap saat. Dia takut kembali sesak napas saat sendirian, dia takut gerdnya kambuh dan tidak ada siapapun yang bisa membantunya.
Padahal, Rachel masih sangat mencintai suaminya. Tapi, keadaan tidak bisa membuat mereka tetap bersama.
Rachel menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan emosi yang berkecamuk di dadanya. Matanya menelusuri wajah Nathan sekali lagi, pria yang dulu menjadi dunianya, tempatnya bersandar. Tapi sekarang, ia tidak yakin apakah ia masih bisa menggantungkan harapan pada pria yang sama.
Ia ingin mempercayai Nathan, ingin meyakini kata-katanya. Tapi luka di hatinya terlalu dalam. Rasa takut itu nyata, takut dikecewakan lagi, takut ditinggalkan lagi.
Rachel menutup matanya sejenak, mencoba menenangkan pikirannya. Ia tahu, jika terus seperti ini, ia hanya akan menyakiti dirinya sendiri.
Dia harus membuat keputusan.
Tetap bertahan dan mencoba percaya lagi? Atau menyerah sebelum kembali terluka?
Rachel tidak sadar, jemarinya sedikit bergerak, mencoba melepaskan genggaman tangan Nathan. Namun, saat ia melakukannya, Nathan menggenggam lebih erat seolah sadar meski masih dalam tidurnya.
Rachel terdiam.
Hatinya berperang antara keinginan untuk tetap menjaga jarak atau memberi pria itu kesempatan sekali lagi.
“Hel? Kamu sudah bangun?” tanya Nathan bangun dari posisinya sambil mengusap tengkuknya yang terasa sakit dan berat.
“Ya,” jawab Rachel yang dengan cepat menarik tangannya dari genggaman Nathan.
“Apa kamu butuh sesuatu? Mau minum atau sarapan buah, kamu biasa sarapan buah atau sayur, kan?” tanya Nathan.
Rachel menghela napas pelan, menatap Nathan sekilas sebelum kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Aku tidak butuh apa-apa," jawabnya datar.
Nathan mengusap tengkuknya lagi, merasa canggung dengan jarak yang masih terasa begitu nyata di antara mereka. Ia ingin mengatakan sesuatu, ingin meyakinkan Rachel bahwa kali ini ia benar-benar akan berubah. Tapi ia tahu, kata-kata saja tidak akan cukup.
"Aku tahu aku banyak salah," ujar Nathan akhirnya. "Tapi aku ingin memperbaikinya, Hel. Aku ingin jadi seseorang yang bisa kamu andalkan."
Rachel tetap diam. Hatinya masih berdebat, masih menimbang-nimbang.
"Setidaknya, biarkan aku merawatmu sampai kamu benar-benar sehat," lanjut Nathan, suaranya lebih lembut. "Setelah itu, jika kamu masih ingin aku pergi, aku akan menurut."
Rachel menoleh, menatap Nathan dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"Kamu serius?" tanyanya akhirnya.
Nathan mengangguk, matanya tidak lepas dari Rachel. "Setelah kamu keluar dari rumah sakit. Kita akan bicara dan semua keputusan, ada di tanganmu,” ucap Nathan menatap Rachel dengan tatapan berkaca-kaca.
Untuk pertama kalinya, Rachel melihat kesungguhan itu di mata Nathan. Tapi apakah itu cukup?
Entah kenapa, hatinya ikut sakit mendengar dan melihat sorot mata Nathan. Rachel segera menundukkan kepalanya untuk bisa mengendalikan perasaannya sendiri.
“Aku akan ambilkan air hangat untukmu dan mengupas buah, tunggu sebentar,” ucapnya.
Nathan bangkit dari kursinya, berjalan menuju meja kecil di sudut ruangan untuk menuangkan air hangat ke dalam gelas. Rachel masih duduk di ranjangnya, menatap kosong ke arah selimut yang menutupi kakinya. Hatinya berdebar tidak karuan, bukan karena sakit, tapi karena perasaan yang selama ini ia coba abaikan.
Nathan kembali dengan segelas air hangat dan sepiring buah yang telah dikupas. Ia meletakkan semuanya di meja kecil di samping tempat tidur Rachel, lalu duduk kembali di kursinya.
"Minumlah, ini akan membuatmu merasa lebih baik," ujarnya pelan.
Rachel mengambil gelas itu tanpa banyak bicara. Ia menyesap air hangat tersebut perlahan, mencoba menenangkan pikirannya.
Nathan mengamati Rachel dalam diam. Wanita itu tampak rapuh, lebih kurus dari terakhir kali ia melihatnya sebelum berangkat bertugas. Nathan ingin melakukan sesuatu, ingin menghapus semua rasa sakit yang ia sebabkan. Tapi ia tahu, tidak ada cara instan untuk itu.
"Hel," panggil Nathan lembut.
Rachel tidak langsung menjawab, tapi akhirnya menoleh.
"Apa?" tanyanya singkat.
Nathan terdiam beberapa saat, ragu sejenak sebelum akhirnya berkata, "Um... bukan apa-apa. Kita bahas nanti saja. Sebaiknya sekarang kamu sarapan buah. Um... apa lambungmu masih terasa sakit atau mual?” tanya Nathan khawatir.
Rachel menatap Nathan beberapa detik sebelum akhirnya menggeleng pelan. "Tidak terlalu," jawabnya singkat.
Nathan mengangguk, meski hatinya masih dipenuhi kegelisahan. Ia tahu Rachel sedang menjaga jarak, dan meskipun itu menyakitkan, ia tidak bisa menyalahkannya. Semua ini adalah akibat dari keputusannya sendiri di masa lalu.
Rachel mengambil potongan apel dari piring dan menggigitnya pelan. Rasanya manis, tapi entah kenapa terasa hambar di mulutnya. Bukan karena buahnya, tapi karena pikirannya yang penuh dengan berbagai emosi yang bertabrakan.
Nathan memperhatikan setiap gerakannya, memastikan bahwa Rachel benar-benar makan. "Kalau merasa tidak enak badan, bilang saja. Aku bisa minta dokter untuk—"
"Aku baik-baik saja," potong Rachel, suaranya terdengar datar namun tegas.
Nathan menutup mulutnya, memilih untuk tidak membantah. Ia hanya ingin memastikan Rachel nyaman, tapi ia juga tidak ingin membuatnya semakin tertekan.
Rachel menatap pria itu sekilas. Ada yang berbeda, kali ini Nathan tidak banyak berbicara, tidak menuntut apa pun dan tidak juga memaksa Rachel. Entah apa yang terjadi dengan pria itu, Rachel ingin mengabaikannya, tapi itu cukup mengganggu pikirannya.
Rachel meletakkan garpu yang dipegangnya, lalu menarik napas pelan. "Nathan..." panggilnya, suaranya lebih lembut dari sebelumnya.
Nathan langsung menoleh, matanya penuh harapan. "Ya?"
Rachel menggigit bibirnya sejenak, lalu menatap Nathan dengan serius. "Kalau aku memilih untuk tidak kembali... kamu benar-benar akan pergi?" tanyanya pelan.
Nathan terdiam. Pertanyaan itu seperti pukulan telak di dadanya. Tapi setelah beberapa detik, ia menarik napas dalam dan mengangguk pelan.
"Ya," jawabnya dengan suara berat. "Aku akan menepati janjiku. Jika itu yang kamu inginkan, aku akan pergi. Tapi, setelah kita bicara."
Rachel menatapnya lama. Entah kenapa, jawaban itu justru membuat dadanya terasa sesak.
“Bicara apa? apa yang mau kamu bicarakan denganku?” tanya Rachel. “Kenapa kamu tidak mengatakannya sekarang saja?”
“Sekarang, aku ingin merawatmu dan memastikan kamu baik-baik saja. Jadi, kita bicara lagi setelah kamu keluar dari rumah sakit,” ucapnya.
Rachel masih diam di sana sebelum akhirnya menjawab dengan anggukan kepala. “Baiklah,” jawab Rachel.
Saat itu, pihak rumah sakit datang mengantar sarapan dan Nathan mengambilkannya.
“Kebetulan sudah datang. Sarapan dulu, ya,” ucap Nathan. “Biar aku suapin.”
“Aku bisa sendiri, Nathan,” tolak Rachel.
“Aku masih suami kamu, Hel. Jadi, biarkan aku yang melakukannya. Aku ingin menyuapimu,” ujar Nathan tak terbantahkan dan akhirnya Rachel hanya diam saja tanpa ada penolakan lagi.
Nathan mengambil sendok, menyendokkan bubur hangat ke dalamnya, lalu meniupnya perlahan sebelum menyodorkannya ke mulut Rachel.
Rachel menatapnya sejenak, ada keraguan di hatinya, tapi ia tetap membuka mulut dan menerima suapan pertama. Rasanya tidak terlalu buruk, tapi bukan karena buburnya. Ada perasaan hangat yang muncul di dadanya melihat perhatian Nathan kali ini. Dan tidak bisa dipungkiri, kalau momen seperti ini sangat dirindukan oleh Rachel selama ini.
Nathan tersenyum kecil, melanjutkan menyuapinya dengan sabar. “Pelan-pelan saja. Jangan sampai tersedak,” ujarnya lembut.
Rachel hanya mengangguk kecil.
Kehangatan ini terasa asing baginya, berbeda dari sebelumnya. Nathan yang dulu tidak seperti ini. Ia sering mengutamakan pekerjaannya, sering menghilang dan tidak ada saat Rachel membutuhkannya. Tapi yang sekarang, Nathan ada di sini, menatapnya penuh perhatian, memperlakukannya seakan dirinya adalah hal yang paling berharga di dunia.
Mungkinkah Nathan benar-benar berubah?
Rachel menepis pikirannya sendiri. Tidak. Ia tidak bisa begitu saja percaya lagi. Ia harus tetap berhati-hati.
Tapi, entah mengapa, setiap suapan yang Nathan berikan, perlahan meruntuhkan tembok yang sudah ia bangun selama ini.
“Enak?” tanya Nathan.
“Lumayan,” jawab Rachel.
Nathan tersenyum di sana dan tiba-tiba saja mengusap lembut kepala Rachel membuat wanita itu terkejut.
“Jangan sampai sakit lagi. Cepatlah sehat. Kamu tahu, melihatmu sakit, hatiku rasanya seperti sedang dicabik-cabik,” ucap Nathan menahan rasa sesak di dadanya. Dia terus teringat rekaman cctv bagaimana Rachel merasa hancur dan harus berjuang seorang diri melawan rasa sakitnya.
“Jangan sakit, Hel. Aku akan berikan semua yang kamu inginkan, asalkan kamu tidak sakit,” ucap Nathan dengan sorot mata memerah menahan tangisnya.
Rachel cukup bingung dengan perkataan dan sorot mata Nathan. Padahal Rachel hanya sakit anemia dan asam lambung naik saat ini. Tapi, respon Nathan seakan mengetahui kondisi Rachel yang lain.
Rachel mengerutkan keningnya, menatap Nathan dengan bingung. "Nathan... kenapa kamu bilang begitu?" tanyanya pelan.
Nathan terdiam sejenak, menyadari bahwa dirinya hampir kehilangan kendali atas emosinya. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Karena aku nggak mau kamu merasa sendirian lagi," jawabnya akhirnya. "Aku tahu aku pernah gagal, pernah mengecewakanmu... dan aku nggak bisa memutar balik waktu. Tapi yang bisa kulakukan sekarang adalah memastikan kamu nggak perlu melalui semua ini sendirian lagi."
Rachel masih menatap Nathan dengan sorot mata penuh keraguan. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada sesuatu yang mulai melembut, sesuatu yang selama ini ia coba abaikan.
"Jangan berpikir terlalu banyak, Hel," lanjut Nathan dengan suara lebih lembut. "Yang penting sekarang, kamu fokus sembuh dulu, ya?"
Rachel menunduk, menggigit bibirnya sendiri. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Ada banyak hal yang ingin ia pastikan. Tapi untuk saat ini, mungkin Nathan benar—ia harus sembuh dulu.
"Baiklah," ucap Rachel akhirnya.
Nathan tersenyum kecil dan kembali menyuapinya. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah tetap di sini, merawat Rachel, dan berharap bahwa suatu hari, Rachel akan memberinya kesempatan sekali lagi padanya.
***
“Gimana keadaan istri saya, Dok?” tanya Nathan pada Dokter yang melakukan pemeriksaan Rachel.“Untuk mualnya sudah tidak ada, hanya saja anemianya masih belum stabil. Pasien harus banyak-banyak istirahat dan makan yang banyak. Semoga rasa mual dan gerdnya tidak kambuh lagi. Saya sudah meresepkan beberapa obat dan antibiotiknya,” jelas Dokter di sana.Nathan mengangguk paham, matanya sesekali melirik ke arah Rachel yang tengah duduk di ranjang, mendengarkan percakapan mereka dengan ekspresi datar."Jadi, kapan Rachel bisa pulang, Dok?" tanya Nathan lagi.Dokter melihat catatan medis Rachel sebelum menjawab, "Jika kondisi anemianya membaik dalam satu atau dua hari ke depan, dia bisa pulang. Tapi tetap harus menjaga pola makan dan istirahat, jangan sampai kelelahan."Nathan menghela napas lega, lalu menatap Rachel penuh perhatian. "Dengar itu, Hel? Kamu harus makan lebih banyak dan jangan membantah kalau aku merawatmu nanti."Rachel hanya mendesah pelan, tidak ingin berdebat.Dokter ters
“Kamu sudah siap?” tanya Nathan menatap Rachel yang sudah bersiap dan terlihat lebih segar dibanding sebelumnya. “Ya, aku sudah siap,” jawab Rachel. “Hel, kita pulang ke rumah kita, ya?” ajak Nathan dan Rachel masih diam di sana. “Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian,” tambah Nathan seakan ingin meyakinkan Rachel. “Kumohon, pulang bersamaku ke rumah kita.” Rachel merasa tidak punya pilihan lain, dia pun lelah berdebat dengan Nathan akhir-akhir ini. Pria itu terus saja memaksanya, sampai Rachel tidak bisa mengatakan apapun. “Ya, baiklah,” jawab Rachel akhirnya. Saat itu pun, seulas senyuman terbit di bibir Nathan. “Kalian sudah siap?” tanya Laela yang kembali masuk ke dalam ruangan Rachel. “Sudah, Tante.” Nathan yang menjawab di sana. “Baiklah, Tante bawa tasnya,” ucap Laela pergi lebih dulu. Nathan mengulurkan tangannya ke arah Rachel. “Mau aku gendong?” tawarnya menggoda istrinya. “
Nathan memperhatikan Rachel yang terlelap di atas ranjang tanpa kata. Setelah tenang, Rachel bilang ingin tidur, dan ternyata tidak butuh waktu lama wanita itu pun terlelap di atas ranjang. “Sebenarnya, apa yang dia alami selama ini? Dia tidak hanya merasa kesepian? Apa dia takut akan sesuatu?” batin Nathan masih berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada. Melihat respon Rachel saat masuk ke dalam kamarnya tadi, seperti ada hal yang mengusiknya dan membuatnya ketakutan. Entah apa itu, tapi itu cukup mengganggunya. “Sebenarnya kenapa? apa yang membuatmu ketakutan setiap saat sampai tidak tidur? Berapa banyak hal yang kamu rahasiakan di belakangku?” batin Nathan hanya bisa menghela napas panjang.Nathan akhirnya menghela napas panjang, lalu berjalan pelan mendekati tempat tidur. Ia menatap wajah Rachel yang terlelap, namun bahkan dalam tidurnya, ekspresi wanita itu tetap tampak gelisah.Nathan duduk di tepi tempat tidur, menatap lekat wajah istrinya. Ad
Rachel menatap Nathan yang terduduk di lantai dengan kepala tertunduk, bahunya bergetar hebat. Suaminya menangis.Bukan sekadar kecewa, bukan sekadar marah—tapi hancur.Rachel menggigit bibirnya, hatinya sakit melihatnya seperti ini. Ia ingin mendekat, tapi kakinya terasa berat. Selama ini, ia berpikir bahwa dengan menahan semuanya sendiri, ia bisa melindungi Nathan dari beban tambahan. Tapi ternyata, keputusan itu malah menyakiti mereka berdua.Dengan tangan gemetar, Rachel berlutut di hadapan Nathan. “Nathan...” panggilnya lirih.Nathan tidak menjawab, hanya menyembunyikan wajahnya di antara kedua tangan.Rachel menarik napas dalam, lalu menyentuh bahu Nathan dengan ragu. “Aku tidak pernah bermaksud tidak mempercayaimu. Aku hanya... takut.”Nathan mengangkat kepalanya perlahan, matanya merah dan basah. “Takut? Takut apa, Hel?” suaranya serak.Rachel mengusap air matanya sendiri. “Takut kalau aku membebanimu. Takut kalau kamu akan melihatku sebagai istri yang lemah, yang menyusahkan.
Drrrrtt…Nathan melihat nama yang muncul di layar ponselnya adalah Pak Edwin, atasannya di maskapai tempatnya bekerja. “Halo, Pak.”“Nathan. Apa maksudmu dengan mengajukan pengunduran diri mendadak seperti ini? Kamu tau kan aturan di maskapai, tidak bisa mundur begitu saja,” ucap Edwin terdengar sangat marah di sana. “Maafkan saya, Pak. Tapi, saya tidak ada pilihan lain,” ucap Nathan menghela napasnya. “Sebenarnya apa yang terjadi? Sebelumnya kamu meninggalkan bandara begitu saja, padahal sudah mau take off. Jangan meninggalkan tanggung jawab begitu saja!” tegur Edwin penuh kekesalan. Nathan sadar, dia sudah tidak bertanggung jawab. Baik pada istrinya, maupun ke pekerjaannya. Tapi, situasinya saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Nathan menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya sebelum menjawab. “Saya tahu, Pak. Saya tahu ini tidak profesional, dan saya minta maaf. Tapi saya benar-benar tidak bisa melanjutkan pekerjaan ini sekarang.”Di seberang telepon, Edwin
“Makanlah, aku buatkan nasi goreng kesukaanmu,” ucap Nathan meletakan nasi goreng buatannya di atas meja tepat di hadapan Rachel. Wanita itu melihat ke piring nasi goreng, kemudian melihat ke arah Nathan yang masih berdiri dengan senyuman menawannya, celemek masih menempel di tubuh kekarnya. “Ada apa?” tanya Nathan karena Rachel hanya diam memperhatikan tanpa mengatakan apa pun. “Um... tidak. Hanya saja, entah kapan terakhir kali aku menikmati nasi goreng buatanmu,” jawab Rachel di sana. Nathan tersenyum kikuk. “Aku juga tidak ingat.” Rachel tidak mengatakan apa pun lagi selain mengambil sendok dan mulai menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. “Bagaimana? Rasanya masih sama, kan? enak?” tanya Nathan yang masih memperhatikan Rachel di depannya.Rachel mengunyah pelan, merasakan setiap bumbu yang melebur di lidahnya. Kemudian, tanpa sadar, ia tersenyum tipis. “Iya, masih sama. Masih seenak dulu.”Nathan menghela nap
“Hel, kamu sudah siap? Kita pergi ke dokter sekarang,” ajak Nathan. “Nathan, jadwalku tidak hari ini,” jawab Rachel yang sedang merapikan pakaiannya. “Tapi aku ingin tahu kondisimu,” ucap Nathan. Rachel menghela napasnya di sana. “Aku baik-baik saja, Nathan. Percayalah,” ucap Rachel. Nathan masih terus memperhatikan Rachel di depannya. “Apa kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Nathan. “Menyembunyikan apa? Kamu jangan berlebihan, aku tidak menyembunyikan apa pun darimu,” jawab Rachel walau terlihat panik dan salah tingkah. “Aku sangat mengenalmu, Rachel.” Dan saat itu, Rachel hanya diam sambil memalingkan wajahmu. “Kamu yang biasanya tidak begitu peduli padaku, tidak ingin tahu apa yang terjadi dan apa yang aku lakukan. Tiba-tiba bersikap seperti ini,” ucap Rachel. “Ini cukup mengejutkan dan membuat canggung, Nathan. Aku tidak bisa mengatakan semua hal yang sudah aku pendam selama ini.” Nathan m
“Ma, saat ini keluargaku adalah Rachel. Dia istriku dan aku punya tanggung jawab terhadapnya,” ucap Nathan.“Kamu juga jangan lupa, kalau Mama ini ibu kamu, Nathan. Setidaknya, tengoklah Mamamu saat kamu libur, pulang ke rumah,” ucap Amelia. “Tidak usah mengajak istrimu, cukup kamu saja yang datang ke rumah. Kamu tahu kan, Mama dan istrimu itu tidak cocok.”Rachel yang masih mendengarkan, berdiri di balik dinding. Dia belum pergi ke dapur, hanya mendengarkan ocehan mertuanya yang menyayat hati.“Jangan bicara seperti itu, Ma. Rachel tidak seperti yang mama pikirkan. Aku tidak menemui Mama karena memang Rachel sakit, dan aku selalu sibuk bekerja,” ucap Nathan di sana. “Hm... kamu selalu saja lebih condong ke istrimu dibanding mama,” ucap Amelia dengan helaan napasnya. “Padahal, Mama adalah orang yang sudah melahirkanmu, menyusuimu dan membesarkanmu hingga kamu sukses seperti sekarang. Istrimu hanya menikmati hasilnya, tapi kamu selalu lebih condong padanya,” keluh Amelia.Nath
Mata Nathan langsung membelalak. Rahangnya mengeras seketika.. “Apa?” suaranya rendah, hampir seperti bisikan marah yang tertahan.Rachel mengangguk lemah, air matanya kembali jatuh. “Dia bebas, Nath… Karena kejahatannya tidak besar. Saat aku mendengar nama itu dari Tante Laela, aku mencoba mengabaikannya, meyakinkan diriku kalau dia tidak akan melakukan hal seperti itu dulu. Aku tidak mungkin bertemu lagi dengannya, jadi aku masih aman. Tapi aku tetap ketakutan. Setiap malam aku mimpi buruk, aku merasa seperti dia ada di sekitarku, mengawasiku… Dan kamu, kamu selalu tidak ada di sampingku. Sampai aku merasa frustrasi sendiri,” gumam Rachel. “Aku paham, aku mengerti, kamu sedang bekerja. Kamu punya tanggung jawab di maskapai sebagai seorang pilot. Aku sadar, kamu tidak sepenuhnya milikku, tapi aku tetap ketakutan dan terlalu mengharapkanmu. Maafkan aku… “Nathan mengepalkan tangannya, mencoba menahan gejolak kemarahan yang semakin membara di dadanya. “Kenapa kamu tidak memberitahuku
“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Nathan. Saat ini, mereka berdua sudah duduk di kursi ruang tengah dekat televisi. “Aku sebenarnya takut untuk mengatakannya padamu. Aku takut kamu tidak akan mempercayaiku,” ujar Rachel menggigit bibir bawahnya. “Aku pasti akan mempercayaimu, Hel. Aku sangat percaya 100% padamu,” ujar Nathan dengan serius. Rachel pun menggigit bibirnya sambil menghela napas. “10 tahun yang lalu, saat aku duduk di bangku SMA. Orang tuaku bercerai, mereka memilih menikah lagi dan menitipkanku pada Tante Yeni, adik dari Mama. Aku dicampakkan oleh orang tuaku sendiri karena mereka lebih mementingkan keluarga baru mereka. Sedangkan hidup di rumah tante Yeni, aku menjadi pembantu di sana. Selain membersihkan rumah, memasak untuk mereka semua, aku juga harus melayani keluarga Tante Yang jumlahnya tidak sedikit. Selain dua anaknya, di sana ada adik dari suami tante Yeni yang tinggal di sana,” tutur Rachel dan saat itu Nathan melihat wajah Rachel pucat dan kedua t
Tok! Tok! Tok! “Apa kamu akan terus mengurung diri sendiri seperti itu, Hel?” Nathan masih berusaha sabar dengan sikap Rachel yang terus menghindar. Semua keanehan yang terjadi pada istrinya itu, diluar kebiasaan. Dan itu memicu rasa penasaran nya semakin besar. “Rachel, bisa bicara? Jangan terus menghindar dan membuatku bingung karena tidak tau apa pun.” Nathan masih terus berusaha memanggil Rachel sambil mengetuk pintu kamar. Dibalik pintu, Rachel duduk bersandar ke daun pintu, dia sedang menangis tanpa suara. “Maaf, Nathan.” Rachel hanya bisa membatin dengan penuh rasa bersalah. Dia ingin bicara dan menceritakan semuanya pada Nathan. Tapi, dia masih takut dan tidak memiliki cukup keberanian untuk mengatakannya. Nathan menghela napas panjang, lalu menyandarkan keningnya ke pintu. Suaranya lebih lembut kali ini.“Hel… Aku nggak akan marah, jadi bisakah kamu berhenti menghindari seperti ini. Kita datang ke sini untuk berlibur dan menikmati momen bahagia bersama. Kalau kamu sepert
“Wah, indah banget pemandangannya,” gumam Rachel yang berdiri di bagian depan kapal feri dengan pemandangan laut yang indah. Angin berhembus menerpa tubuhnya. Dress putih dan rambutnya melambai-melambai karena hembusan angin. Nathan sedang fokus menyetir kapal feri itu sambil memperhatikan Rachel di sana.“Kamu suka?” tanya Nathan dengan senyum kecil di wajahnya, tangannya masih kokoh menggenggam kemudi kapal.Rachel menoleh dan mengangguk penuh antusias. “Suka banget! Lautnya jernih, anginnya sejuk... rasanya menenangkan.”Nathan tertawa kecil. “Aku tahu kamu pasti suka. Makanya aku bawa kamu ke sini.”Rachel kembali menatap laut yang membentang luas di hadapannya, matanya berbinar. “Kamu tahu, rasanya seperti... aku bisa melupakan semuanya untuk sesaat. Hanya ada angin, ombak, dan langit yang luas.”Nathan diam sejenak, lalu berjalan mendekati Rachel, membiarkan kapal melaju dengan tenang. “Kalau begitu, jadikan ini sebagai tempat untuk memulai sesuatu yang baru. Kita bisa
Nathan memperhatikan wajah Rachel yang sudah terlelap dengan tenang sambil menggenggam tangannya erat. Pria itu sudah mencaritau di internet gejala-gejala yang dialami Rachel. Menurut dari hasil pencariannya, Rachel mengalami depresi karena trauma mendalam, dan Nathan tidak tahu trauma seperti apa yang pernah dialami Rachel sampai membuatnya seperti ini. “Sebenarnya, sampai kapan kamu menyembunyikan semua hal dariku, Hel?” batin Nathan merapikan anak rambut yang jatuh ke pelipis wanita itu.Nathan menghela napas panjang, matanya masih terpaku pada wajah Rachel yang tertidur lelap. Ada sesuatu yang selalu disembunyikan istrinya—sesuatu yang cukup dalam hingga membuatnya terjebak dalam trauma yang tidak pernah ia ceritakan.Ia merasa tak berdaya. Selama ini, Nathan selalu berpikir bahwa cinta dan kesabaran cukup untuk menyembuhkan luka di antara mereka, tapi kenyataannya, ada bagian dari Rachel yang masih terkunci rapat, tak bisa ia jangkau.Jemarinya denga
“Laut?” gumam Rachel saat dia dan Nathan sudah berada di bibir pantai setelah menikmati makan bersama. “Sudah lama kita tidak liburan ke tempat seperti ini,” gumam Rachel tersenyum melihat suasana pantai saat petang hari.Nathan mengangguk, memandang laut yang tenang dengan mata penuh nostalgia. Angin pantai berhembus lembut, membawa aroma air asin yang khas. Cahaya oranye keemasan dari matahari terbenam memantul di permukaan laut, menciptakan pemandangan yang begitu indah."Kamu masih ingat terakhir kali kita ke pantai bersama?" tanya Nathan tiba-tiba.Rachel mengerutkan kening, mencoba mengingat. "Hmm... Mungkin tiga tahun lalu?"Nathan tersenyum kecil. "Iya. Waktu itu kita ke Lombok, dan kamu sempat marah karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaan."Rachel terkekeh kecil. "Aku ingat. Aku kesal karena kamu malah sibuk dengan teleponmu sementara aku pengen menikmati liburan."Nathan menghela napas pelan. "Maaf, Hel. Aku dulu terlalu sibuk dengan duniaku sendiri. Se
“Apa semuanya sudah disiapkan?” tanya Nathan mendekati Rachel yang sedang menata pakaian ke dalam kopernya. “Ya, kurasa sudah semua,” jawabnya. *** Sesuai rencana, hari ini Nathan bersama Rachel akan pergi ke bali untuk honeymoon kedua mereka dan memperbaiki hubungan yang sebelumnya sempat renggang.Di bandara, Nathan menarik koper mereka sementara Rachel berjalan di sampingnya, sedikit gugup. Ia masih belum sepenuhnya percaya bahwa mereka benar-benar akan pergi berdua untuk waktu yang cukup lama.“Kamu yakin nggak ada yang ketinggalan?” tanya Nathan sambil melirik Rachel.Rachel mengangguk. “Sudah kuperiksa berkali-kali.”Nathan tersenyum. “Bagus. Karena setelah ini, kita akan menikmati liburan tanpa gangguan.”Rachel tertawa kecil. “Aku masih nggak percaya kamu berhasil membujukku secepat ini.”Nathan mendekat, berbisik di telinganya, “Aku hanya memanfaatkan kelemahanmu.”Rachel memutar matanya. “Aku nggak punya kelemahan.”Nathan terkekeh. “Oh, percaya
“Selamat pagi,” sapa Nathan saat Rachel muncul di ruang makan dengan wajah yang lebih segar. “Gimana tidurmu?” Rachel menganggukkan kepalanya. “Ya, aku bisa tidur dengan baik,” jawab Rachel tersenyum. “Duduklah. Aku sudah buatkan sarapan untuk kita berdua,” ujar Nathan yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Rachel dan mengambil duduk di meja makan, bersama dengan Nathan.Nathan menyodorkan sepiring roti panggang dan telur orak-arik ke hadapan Rachel, lalu menuangkan segelas jus jeruk untuknya."Aku nggak tahu kamu sedang ingin sarapan apa pagi ini, jadi aku buat yang simpel aja," ujar Nathan dengan senyum kecil.Rachel menatap piringnya, lalu beralih menatap Nathan yang sudah mulai menyantap sarapannya. Perhatian kecil ini, cara Nathan selalu memastikan dirinya baik-baik saja, membuat hatinya terasa hangat."Terima kasih, Nathan," ucap Rachel pelan sebelum mulai mengambil sepotong roti panggang.Nathan menatapnya sekilas, lalu mengangkat bahu santai. "Aku akan se
“Aku ada di mana?” gumam Rachel melihat sekeliling dengan perasaan tak menentu. Situasi di sekitarnya adalah bangunan tua yang sudah lusuh. Sampai langkahnya terhenti saat dia sadar di mana tempat itu. Jantungnya berdebar sangat cepat saat dia tahu ada di mana. Dia pun langsung membalikkan badannya, bergegas untuk pergi. Tetapi, sebelum dia keluar dari sana. Sosok pria muncul yang membuat Rachel semakin ketakutan di sana. “Rachel... kamu mau pergi ke mana?” ucapnya dengan seringai menakutkannya. “Tidak! Pergi!” teriak Rachel yang panik dan khawatir. Dia melemparkan semua benda di sekitarnya pada sosok yang bergerak semakin dekat. “Pergi... pergi!” teriaknya. “Rachel... Rachel...!” Rachel mendengar suara Nathan di sana, Wanita itu melihat sekeliling yang gelap, sampai tangannya ditarik oleh pria tadi. “Tidak!” teriak Rachel bangun dari posisinya. Ternyata dia bermimpi, tubuhnya sudah bermandikan k