Drrrrtt…Nathan melihat nama yang muncul di layar ponselnya adalah Pak Edwin, atasannya di maskapai tempatnya bekerja. “Halo, Pak.”“Nathan. Apa maksudmu dengan mengajukan pengunduran diri mendadak seperti ini? Kamu tau kan aturan di maskapai, tidak bisa mundur begitu saja,” ucap Edwin terdengar sangat marah di sana. “Maafkan saya, Pak. Tapi, saya tidak ada pilihan lain,” ucap Nathan menghela napasnya. “Sebenarnya apa yang terjadi? Sebelumnya kamu meninggalkan bandara begitu saja, padahal sudah mau take off. Jangan meninggalkan tanggung jawab begitu saja!” tegur Edwin penuh kekesalan. Nathan sadar, dia sudah tidak bertanggung jawab. Baik pada istrinya, maupun ke pekerjaannya. Tapi, situasinya saat ini memang sedang tidak baik-baik saja. Nathan menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya sebelum menjawab. “Saya tahu, Pak. Saya tahu ini tidak profesional, dan saya minta maaf. Tapi saya benar-benar tidak bisa melanjutkan pekerjaan ini sekarang.”Di seberang telepon, Edwin
“Makanlah, aku buatkan nasi goreng kesukaanmu,” ucap Nathan meletakan nasi goreng buatannya di atas meja tepat di hadapan Rachel. Wanita itu melihat ke piring nasi goreng, kemudian melihat ke arah Nathan yang masih berdiri dengan senyuman menawannya, celemek masih menempel di tubuh kekarnya. “Ada apa?” tanya Nathan karena Rachel hanya diam memperhatikan tanpa mengatakan apa pun. “Um... tidak. Hanya saja, entah kapan terakhir kali aku menikmati nasi goreng buatanmu,” jawab Rachel di sana. Nathan tersenyum kikuk. “Aku juga tidak ingat.” Rachel tidak mengatakan apa pun lagi selain mengambil sendok dan mulai menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. “Bagaimana? Rasanya masih sama, kan? enak?” tanya Nathan yang masih memperhatikan Rachel di depannya.Rachel mengunyah pelan, merasakan setiap bumbu yang melebur di lidahnya. Kemudian, tanpa sadar, ia tersenyum tipis. “Iya, masih sama. Masih seenak dulu.”Nathan menghela nap
“Hel, kamu sudah siap? Kita pergi ke dokter sekarang,” ajak Nathan. “Nathan, jadwalku tidak hari ini,” jawab Rachel yang sedang merapikan pakaiannya. “Tapi aku ingin tahu kondisimu,” ucap Nathan. Rachel menghela napasnya di sana. “Aku baik-baik saja, Nathan. Percayalah,” ucap Rachel. Nathan masih terus memperhatikan Rachel di depannya. “Apa kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku?” tanya Nathan. “Menyembunyikan apa? Kamu jangan berlebihan, aku tidak menyembunyikan apa pun darimu,” jawab Rachel walau terlihat panik dan salah tingkah. “Aku sangat mengenalmu, Rachel.” Dan saat itu, Rachel hanya diam sambil memalingkan wajahmu. “Kamu yang biasanya tidak begitu peduli padaku, tidak ingin tahu apa yang terjadi dan apa yang aku lakukan. Tiba-tiba bersikap seperti ini,” ucap Rachel. “Ini cukup mengejutkan dan membuat canggung, Nathan. Aku tidak bisa mengatakan semua hal yang sudah aku pendam selama ini.” Nathan m
“Ma, saat ini keluargaku adalah Rachel. Dia istriku dan aku punya tanggung jawab terhadapnya,” ucap Nathan.“Kamu juga jangan lupa, kalau Mama ini ibu kamu, Nathan. Setidaknya, tengoklah Mamamu saat kamu libur, pulang ke rumah,” ucap Amelia. “Tidak usah mengajak istrimu, cukup kamu saja yang datang ke rumah. Kamu tahu kan, Mama dan istrimu itu tidak cocok.”Rachel yang masih mendengarkan, berdiri di balik dinding. Dia belum pergi ke dapur, hanya mendengarkan ocehan mertuanya yang menyayat hati.“Jangan bicara seperti itu, Ma. Rachel tidak seperti yang mama pikirkan. Aku tidak menemui Mama karena memang Rachel sakit, dan aku selalu sibuk bekerja,” ucap Nathan di sana. “Hm... kamu selalu saja lebih condong ke istrimu dibanding mama,” ucap Amelia dengan helaan napasnya. “Padahal, Mama adalah orang yang sudah melahirkanmu, menyusuimu dan membesarkanmu hingga kamu sukses seperti sekarang. Istrimu hanya menikmati hasilnya, tapi kamu selalu lebih condong padanya,” keluh Amelia.Nath
“Rachel, kamu ngapain?” tanya Nathan saat melihat Rachel memasukkan beberapa pakaian ke keranjang. “Aku mau cuci pakaian kotor,” jawab Rachel tanpa menoleh. Nathan berjalan mendekati Rachel di sana. “Sini, biar aku aja yang kerjain,” ucap Nathan mengambil alih keranjang dari tangan Rachel. “Aku bisa sendiri, Nathan.” Rachel mencegahnya dengan cepat. Nathan menatap Rachel dengan lembut tetapi tetap mempertahankan genggamannya pada keranjang. “Aku tahu kamu bisa sendiri, Hel. Tapi kamu masih belum sepenuhnya pulih. Biar aku yang urus ini.”Rachel menghela napas, lalu menatap suaminya dengan ekspresi sedikit keras kepala. “Nathan, aku nggak mau cuma duduk diam dan merasa nggak berguna. Aku perlu melakukan sesuatu.”Nathan menatapnya dalam-dalam sebelum akhirnya mengangguk. “Oke, kita kompromi. Kamu tetap bisa mencuci, tapi aku bakal bantu. Setidaknya, biar lebih ringan buat kamu.”Rachel menimbang sejenak, lalu akhirnya menyerah dengan mengangguk kecil. “Baiklah.”Nathan tersenyum ti
“Mau jalan-jalan sebentar, sebelum pulang?” ajak Nathan saat mobil mereka mendekati alun-alun kota. “Ya, baiklah,” jawab Rachel membuat Nathan tersenyum. Nathan meminggirkan mobilnya dan memarkirkannya di pinggir jalan. Kemudian, mereka berdua pun menuruni mobil.Udara malam terasa sejuk, dengan lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di sekitar mereka. Suasana di alun-alun cukup ramai, tetapi tidak terlalu sesak, persis seperti yang Rachel inginkan.Nathan berjalan di samping Rachel, sesekali melirik ke arahnya. “Mau beli sesuatu? Mungkin camilan atau minuman hangat?” tanyanya.Rachel menggeleng. “Aku masih kenyang. Tapi, kita bisa duduk sebentar di bangku sana.”Nathan mengangguk, lalu menggandeng tangan Rachel secara alami. Rachel sempat terkejut, tetapi tidak menolaknya. Mereka berjalan menuju bangku kosong di dekat air mancur, menikmati pemandangan kota yang hidup di malam hari.“Kapan terakhir kali kita begini?” tanya Nathan tiba-tiba.Rachel berpikir
“Aku ada di mana?” gumam Rachel melihat sekeliling dengan perasaan tak menentu. Situasi di sekitarnya adalah bangunan tua yang sudah lusuh. Sampai langkahnya terhenti saat dia sadar di mana tempat itu. Jantungnya berdebar sangat cepat saat dia tahu ada di mana. Dia pun langsung membalikkan badannya, bergegas untuk pergi. Tetapi, sebelum dia keluar dari sana. Sosok pria muncul yang membuat Rachel semakin ketakutan di sana. “Rachel... kamu mau pergi ke mana?” ucapnya dengan seringai menakutkannya. “Tidak! Pergi!” teriak Rachel yang panik dan khawatir. Dia melemparkan semua benda di sekitarnya pada sosok yang bergerak semakin dekat. “Pergi... pergi!” teriaknya. “Rachel... Rachel...!” Rachel mendengar suara Nathan di sana, Wanita itu melihat sekeliling yang gelap, sampai tangannya ditarik oleh pria tadi. “Tidak!” teriak Rachel bangun dari posisinya. Ternyata dia bermimpi, tubuhnya sudah bermandikan k
“Selamat pagi,” sapa Nathan saat Rachel muncul di ruang makan dengan wajah yang lebih segar. “Gimana tidurmu?” Rachel menganggukkan kepalanya. “Ya, aku bisa tidur dengan baik,” jawab Rachel tersenyum. “Duduklah. Aku sudah buatkan sarapan untuk kita berdua,” ujar Nathan yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Rachel dan mengambil duduk di meja makan, bersama dengan Nathan.Nathan menyodorkan sepiring roti panggang dan telur orak-arik ke hadapan Rachel, lalu menuangkan segelas jus jeruk untuknya."Aku nggak tahu kamu sedang ingin sarapan apa pagi ini, jadi aku buat yang simpel aja," ujar Nathan dengan senyum kecil.Rachel menatap piringnya, lalu beralih menatap Nathan yang sudah mulai menyantap sarapannya. Perhatian kecil ini, cara Nathan selalu memastikan dirinya baik-baik saja, membuat hatinya terasa hangat."Terima kasih, Nathan," ucap Rachel pelan sebelum mulai mengambil sepotong roti panggang.Nathan menatapnya sekilas, lalu mengangkat bahu santai. "Aku akan se
“Minum dulu.” Nathan menyodorkan gelas berisi air mineral pada Rachel yang sudah mulai tenang bersandar di kepala ranjang. “Makasih, ya.” Rachel meneguknya cukup banyak. “Maaf, apa aku mengganggu tidurmu?” Nathan tidak langsung menjawab. Pria itu menatap istrinya dengan tatapan sendu. “Apa itu penting untuk ditanyakan?” tanya Nathan dan Rachel hanya diam di sana. “Aku tidak tahu harus bertanya bagaimana padamu. Kamu kenapa atau apa yang terjadi padamu.” Nathan menatap Rachel dengan sorot mata hangat penuh kesedihan. “Aku hanya ingin melihatmu bahagia, Hel.” “Aku kembali bermimpi buruk,” jawab Rachel. “Kamu nangis sesegukan loh, Hel. Kamu nangis sambil nyebut nama Mama. Apa kamu merindukan Mamamu?” tanya Nathan yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Rachel. “Mungkin aku butuh ketemu Dokter. Udah lama aku tidak mengunjungi Dokter,” ucap Rachel. “Kamu yakin tidak ada yang ingin kamu ceritain sama
Rachel masih menatap layar ponselnya yang berkedip di sana. Dia cukup ragu antara harus mengangkatnya atau tidak. Tetapi, hanya melihat namanya saja, sudah membuat jantung Rachel berdebar kencang dan kegelisahan langsung menyerangnya.Suara dering itu masih menggema di dalam kamar mandi yang hening. Layar ponsel berkedip, menampilkan nama yang sudah lama tidak muncul—Mama.Hanya satu kata, namun cukup untuk mengguncang dunia Rachel yang sedang berusaha ia tata kembali.Jari-jarinya gemetar. Ponsel itu nyaris terjatuh dari genggamannya. Nafasnya tercekat. Sekujur tubuhnya mendadak dingin, seperti disiram air es dari kepala hingga kaki.Kenapa sekarang? Setelah bertahun-tahun tanpa kabar, tanpa penjelasan, tanpa permintaan maaf…Rachel menatap pantulan wajahnya di cermin. Wajah yang pucat, mata yang masih sembab karena menangis, dan kini—dipenuhi kecemasan. Luka lama yang belum sepenuhnya sembuh, kini disayat lagi oleh satu panggilan tak terduga.Dering berhenti.Layar ponsel
“Sandra? Nathan bahkan tidak pernah menceritakan tentang rekan kerjanya padaku, termasuk sosok wanita yang terlihat akrab tadi. Sebanyak apa, yang tidak aku ketahui dalam kehidupan Nathan?” batin Rachel. Saat ini Nathan dan Rachel sedang ada di dalam mobil untuk kembali ke kediaman mereka. Nathan cukup bingung dengan sikap Rachel yang tidak berbicara sama sekali, dia lebih memilih diam menatap keluar jendela mobil. “Hel... “ panggil Nathan memegang tangan Rachel hingga membuat wanita itu terkejut. “Eh- kenapa?” tanya Rachel melihat ke arah Nathan. “Ada apa? sejak tadi aku perhatiin, kamu diam terus,” tanya pria itu yang sepertinya tidak merasa bersalah dan tidak ingin menjelaskan apa pun tentang sosok Sandra. Rachel tersenyum di sana, “tidak apa-apa, aku hanya lelah,” jawab Rachel dengan jawaban singkat. Tetapi, hal itu jelas tidak memuaskan Nathan. “Kamu beneran tidak apa-apa? atau ada yang mengusik pikiranmu? Tany
“Ada apa?” tanya Nathan karena Rachel terlihat termenung menatap keluar jendela pesawat. “Um... tidak ada apa-apa,” jawab Rachel tersenyum ke arah Nathan berusaha menenangkan suaminya. “Aku tahu kamu tidak baik-baik saja. Katakan saja, ada apa? Kamu berat meninggalkan Bali?” tanya Nathan. “Um... kita sudah satu bulan di Bali, kan. Kamu perlu kerja dan kita harus kembali ke rutinitas seperti biasanya. Ya, dan aku harus bisa mengendalikan diriku tanpa kamu,” ujarnya menatap Nathan di depannya. “Kata siapa aku akan meninggalkanmu, Hel?” tanya Nathan membuat Rachel mengernyitkan dahinya. “Apa maksudmu?” tanya Rachel. “Aku tidak akan kembali bekerja. Aku akan temenin kamu untuk kontrol ke dokter dan melindungimu, sampai kamu merasa jauh lebih baik,” ucap Nathan. Rachel benar-benar terkejut mendengar penuturan Nathan barusan. “Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu, Nathan?” tanya Rachel.Nathan tersenyum
Setelah mandi dan mengenakan gaun elegan itu, Rachel berdiri di depan cermin. Ia mematut dirinya. Gaun itu pas sekali di tubuhnya, membingkai siluet rampingnya dengan begitu anggun.Rachel berdiri di depan cermin dengan jantung yang berdebar pelan. Gaun elegan pemberian Nathan kini membalut tubuhnya dengan anggun. Warnanya yang lembut berpadu sempurna dengan rona hangat kulitnya. Potongan gaun itu mempertegas siluet tubuhnya, sementara kilau halus pada permukaannya memantulkan cahaya dengan cara yang nyaris magis.Rambut Rachel ditata lembut, sebagian digerai, sebagian disanggul sederhana, memberi kesan manis sekaligus dewasa. Ia menyematkan anting mutiara kecil di telinganya, lalu meraih kalung yang dulu juga diberikan Nathan, mutiara putih yang menggantung anggun di leher jenjangnya.Rachel menarik napas panjang dan mematut dirinya sekali lagi. Ada kilau baru di matanya, seperti semangat yang baru menyala. Malam ini bukan malam biasa. Ini adalah momen yang sudah lama tidak mereka mi
Matahari belum terlalu tinggi saat Rachel dan Nathan bersiap di dermaga kecil, mengenakan perlengkapan menyelam yang telah dipersiapkan oleh pemandu wisata. Rachel terlihat gugup, tetapi antusiasme di matanya tidak bisa disembunyikan. Nathan memeriksa kembali maskernya dan memastikan tangan Rachel tetap dalam genggamannya.“Kamu siap?” tanya Nathan sambil tersenyum lembut.Rachel mengangguk. “Ya. Walau gugup, tapi aku nggak mau melewatkan kesempatan ini. Kalau ada kamu, aku berani.”“Good.”Mereka pun perlahan menuruni tangga kecil yang mengarah langsung ke laut. Air terasa sejuk saat menyentuh kulit mereka, dan dalam hitungan menit, mereka sudah benar-benar tenggelam di bawah permukaan laut dengan pemandu yang mengikuti dari belakang untuk berjaga.Begitu memasuki dunia bawah laut, semua keheningan daratan seakan lenyap. Suara hanya berupa gelembung-gelembung udara dan detak jantung yang terdengar di dalam kepala mereka. Rachel membuka matanya lebar-lebar saat melihat sekumpulan ikan
Langit biru cerah membentang luas di atas kepala saat Nathan membuka pintu mobil sport berwarna hitam metalik yang mengilap. Angin laut semilir langsung menyapa kulit begitu Rachel melangkah keluar dari villa, gaun putih selututnya berkibar ringan mengikuti gerak langkahnya. Matanya membulat saat melihat kendaraan yang terparkir di depan halaman.“Wow... Kamu dapat mobil ini dari mana?” tanyanya, setengah tak percaya.Nathan tersenyum bangga, menyandarkan tangan di bodi mobil. “Disewa khusus buat hari ini. Kita mau ke Tanah Lot, kan? Aku pikir, kenapa nggak sekalian gaya dikit?”Rachel terkekeh, matanya berbinar penuh semangat. “Waw... kamu memang bisa menciptakan suasana yang romantis dan menyenangkan, ya?”“Tentu saja. Apa sih yang nggak buat istriku yang cantik,” balas Nathan dengan senyuman lebarnya.“Ck... gombal banget. Ah, kamu jadi sangat romantis karena kegiatan tadi malam, kan?” tuduh Rachel membuat Nathan terkekeh.“Ya, sebenarnya aku hanya ingin membuat istriku bahagia. Ta
Pagi itu, mentari belum sepenuhnya naik saat Nathan dan Rachel melangkah keluar dari mobil mereka, menginjak pasir yang masih basah oleh ombak semalam. Aroma laut langsung menyapa, bercampur dengan semilir angin dan suara camar yang beterbangan di atas perahu-perahu nelayan yang bersandar.Rachel menatap ke arah deretan perahu yang mulai menurunkan hasil tangkapan mereka. Matanya berbinar seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat dunia bawah laut dalam bentuk nyata. “Lihat, Nath! Ikan itu masih loncat-loncat!” serunya, menunjuk ember besar berisi ikan kerapu segar.Nathan tersenyum melihat antusiasme istrinya. “Kamu kayak anak kecil yang baru nemu mainan baru.”Rachel mencubit lengannya pelan. “Ini pertama kalinya aku langsung ke tempat nelayan, lho. Selama ini cuma lihat di pasar atau supermarket. Rasanya beda.”Mereka mulai berkeliling, menyapa para nelayan yang ramah dan menjajakan hasil tangkapannya. Udang, cumi-cumi, kakap merah, bahkan kerang laut tertata di atas meja ka
“Rachel...” Nathan mengelus lembut rahang Rachel di sana. “Bangun Sayang.” Mendengar itu, Rachel perlahan membuka matanya dan menatap Nathan di depannya. Senyuman manis terukir indah di bibir wanita itu. “Pagi, Nathan... “ sapa Rachel. “Bangun, yuk. Kita sarapan, aku sudah siapkan sarapan untuk kita,” ajak Nathan di sana. Rachel menganggukkan kepalanya, masih dengan senyumannya. Sejak dia mengatakan semuanya pada Nathan, semua beban hidupnya dan Nathan memilih untuk mempercayainya. Itu sudah sangat cukup untuk membantunya bangkit dan merasa lega.Nathan tersenyum hangat melihat ekspresi tenang di wajah Rachel, berbeda jauh dari malam-malam sebelumnya yang selalu diwarnai tangis dan mimpi buruk. Ia membungkuk sedikit, mengecup kening Rachel dengan penuh kasih.“Pagi ini kamu cantik banget, tahu nggak?” goda Nathan sambil membelai rambut Rachel yang sedikit kusut.Rachel tertawa kecil, suaranya pelan namun tulus. “Itu karena aku tidur ny