Caden yang gugup menyahut, "Oh, oke."Caden buru-buru mengikuti Naomi masuk ke kamar. Di dalam kamar terdapat meja kecil. Naomi menyajikan makanan dia atas meja, lalu memanggil Caden, "Sini, makan dulu."Caden terkejut. Dia terlihat seperti anak kecil yang berbuat salah. Caden mengamati ekspresi Naomi dan menghampirinya dengan hati-hati.Naomi sangat sedih saat melihat gerak-gerik Caden yang hati-hati. Dia ingin menghibur Caden, tetapi tidak tahu harus mengatakan apa. Akhirnya, Naomi hanya terdiam.Naomi memberikan sendok kepada Caden, lalu Caden segera mengambil sendoknya. Naomi tidak berbicara dan Caden juga tidak berani bersuara.Setelah selesai makan, Caden berebutan untuk membereskan meja. Naomi juga tidak menghalanginya. Dia pergi ke kamar mandi sebentar, lalu merapikan kasur sesudah keluar.Kasur tunggal ini berukuran 1,2 meter. Caden baru menyuruh bawahannya membeli kasur ini tadi pagi. Selimutnya juga baru.Caden yang sudah selesai membereskan meja berdiri di samping sambil me
Caden dan Naomi saling berpelukan. Mereka sama sekali tidak berbicara. Tidak ada yang mengungkit masalah hari ini atau masa depan ....Keesokan harinya, Naomi bangun pagi-pagi. Begitu membuka mata, dia melihat Caden sedang memandanginya. Naomi tidak bicara. Dia langsung menyingkap selimut dan turun dari kasur untuk melihat Braden.Caden juga segera bangun dan bertanya, "Mau panggil dokter, nggak?""Nggak usah dulu," sahut Naomi."Apa hari ini Braden sudah bisa dipindahkan ke rumah sakit lain?" tanya Caden."Nanti lihat kondisinya dulu," jawab Naomi."Aku suruh orang siapkan sarapan untukmu," ujar Caden."Oke," kata Naomi.Naomi mulai memeriksa kondisi Braden. Caden mengamati Naomi sejenak, lalu mengernyit. Dia tidak mengganggu Naomi lagi dan keluar dari kamar.Naomi menanggapi semua ucapan Caden, tetapi sikap dan kondisi Naomi tetap membuat Caden merasa gugup. Caden berdiri di depan kamar sambil menelepon untuk mengurus sarapan Naomi.Pagi harinya, Tony tiba-tiba muncul. Ini adalah per
Rayden mengernyit. Ekspresinya tidak ada bedanya dengan Caden. Di antara semua anak-anak, Rayden paling mirip Caden. Terutama tatapan dan gerak-geriknya, sama persis dengan Caden.Rayden berucap, "Aku dengar Mama Tiara bilang sekarang Mama sangat bimbang menghadapimu. Mama menyukaimu, tapi masalah Braden membuatnya takut.""Sekarang kamu memang harus meyakinkan Mama supaya Mama tahu kamu memang memperhatikan Braden, Hayden, dan Jayden. Jadi, Mama percaya ke depannya kamu bisa melindungi mereka sama seperti melindungiku. Selain itu, kamu juga harus tunjukkan kemampuanmu," lanjut Rayden.Rayden meneruskan, "Aku tahu Papa nggak peduli dengan Keluarga Pangestu. Tapi, kalau Braden, Hayden, dan Jayden bisa masuk silsilah Keluarga Pangestu, itu berarti status mereka sama denganku. Kamu harus menunjukkan ketulusanmu."Rayden menambahkan, "Lagi pula, selama ini Mama memang pusing memikirkan masalah kartu keluarga mereka bertiga. Setelah masuk ke silsilah Keluarga Pangestu, mereka bertiga akan m
Tony langsung menyampaikan kabar ini. Dia memberi tahu semua anggota keluarga bahwa Caden berniat memasukkan ketiga anak Naomi ke silsilah keluarga agar mempunyai status yang sama dengan Rayden. Sesuai dugaan, semua anggota Keluarga Pangestu marah-marah."Atas dasar apa anak-anak liar yang nggak punya hubungan darah dengan Keluarga Pangestu masuk ke silsilah keluarga? Aku nggak setuju!""Aku juga nggak setuju! Nggak sembarangan orang bisa masuk ke silsilah Keluarga Pangestu! Memangnya mereka siapa? Apa mereka punya hubungan darah dengan Keluarga Pangestu?"Keluarga Pangestu cuma punya satu putra di setiap generasi. Tapi, Rayden tiba-tiba punya banyak saudara. Konyol sekali!""Ini pasti ide Naomi sialan itu! Sudah kuduga, dia berniat jahat dan ingin memperalat anak-anaknya untuk mendapatkan harta Keluarga Pangestu! Jangan harap dia bisa berhasil!""Asal-usul anak-anak itu nggak jelas! Jangan harap bisa masuk silsilah Keluarga Pangestu!"Semua anggota Keluarga Pangestu ingin memprotes. M
Braden tahu jelas meski Rayden pendiam dan penyakit mentalnya belum sepenuhnya sembuh, dia sangat teliti dan pintar. Rayden mampu menggantikan Braden untuk menjaga keluarga ini. Jadi, Braden tidak langsung menghibur Rayden yang terlihat sedih.Braden hanya berkata, "Aku nggak apa-apa. Jangan khawatir. Apa pelakunya sudah ditemukan?"Rayden menyahut seraya mengernyit, "Seharusnya pelaku itu punya dendam dengan Papa. Tujuannya itu membuat Mama dan Papa putus. Dia sengaja melukaimu untuk menghasut Mama."Braden mengerutkan dahi. Naomi segera berucap, "Braden, pelaku memang punya dendam dengan ayah kalian. Tapi, dia juga nggak ingin kamu terluka. Sebenarnya dia sangat memperhatikanmu, dia ...."Naomi memang merasa bimbang untuk melanjutkan hubungannya dengan Caden, tetapi dia tanpa sadar membela Caden. Naomi tidak ingin Braden membenci Caden karena masalah ini.Braden memahami Naomi. Dia menimpali, "Aku tahu ini bukan salahnya. Mama juga jangan salahkan dia karena masalah ini. Mama hanya p
Rayden langsung berseru, "Mama, aku juga dukung kalian bersama!"Jayden menimpali, "Aku ... aku juga."Hayden mengerutkan bibirnya. Caden belum mendapatkan 100 poin darinya, tetapi saat teringat kondisi Caden yang menyedihkan beberapa hari ini ....Hayden mengatupkan bibirnya, lalu berujar, "Aku juga dukung kalian bersama."Apa daya, Naomi menyukai Caden. Meskipun tidak rela, Hayden juga harus menahannya. Ibunya adalah yang terpenting.Naomi melihat keempat anak-anaknya. Jantungnya berdegup kencang. Dia memang menyukai Caden. Begitu mendapat dukungan dari keempat anaknya, Naomi memberanikan diri untuk membuat keputusan.Naomi berkata, "Aku mau bicara dengannya. Mana dia?"Rayden menyahut, "Papa pergi ke kediaman Keluarga Pangestu. Dia mau memasukkan Braden, Hayden, dan Jayden ke silsilah Keluarga Pangestu."Naomi kaget. Dia bertanya, "Dia mau memasukkan Braden, Hayden, dan Jayden ke silsilah Keluarga Pangestu?""Iya," jawab Rayden.Naomi bertanya lagi, "Kenapa dia tiba-tiba mau memasuk
Anggota Keluarga Pangestu mengundang bawahan para tokoh hebat itu untuk meluruskan masalah. Sekarang para tokoh hebat juga datang, kebetulan mereka bisa menekan Caden. Memangnya kenapa kalau Caden punya kekuasaan besar? Dia tidak boleh bertindak semena-mena.Anggota Keluarga Pangestu berharap para tokoh hebat bisa memberi pelajaran pada Caden. Tony sangat licik. Dia yang mengusulkan untuk memasukkan anak-anak Naomi ke silsilah Keluarga Pangestu, tetapi dia hanya duduk di kursi roda dan tidak berbicara.Anggota Keluarga Pangestu yang lain sangat emosional. Bagaimanapun, masalah ini berkaitan dengan keuntungan mereka masing-masing. Mereka memprotes secara bergantian."Aku sudah tua, tapi ini pertama kalinya aku mendengar orang yang nggak punya hubungan darah boleh masuk ke silsilah keluarga! Jangankan Keluarga Pangestu yang berkuasa, bahkan keluarga biasa juga nggak terima orang luar masuk ke silsilah keluarga mereka! Garis keturunan Keluarga Pangestu pasti jadi kacau!""Benar. Kalau ora
Setelah Carlos menjadi tentara, semua rekan, pasukan, dan orang yang ditemuinya tahu dia cinta mati kepada seorang wanita, yaitu Wanda. Namun, sesudah Wanda dan Darman bersama, Carlos tidak pernah menghubungi Wanda lagi.Carlos benar-benar menepati janjinya. Dia memang menyukai Wanda, tetapi tidak ingin mengganggunya. Carlos hanya mengamati Wanda dari jauh. Jika Wanda bahagia, dia juga turut bahagia.Bahkan, Darman sangat menghormati saingannya ini. Setelah Darman dan Wanda meninggal, Carlos langsung pulang dan menjaga jasad Wanda sambil menangis untuk waktu yang lama. Sejak saat itu, Carlos menjadi penyokong Caden yang kuat.Sayangnya, kala itu situasi di perbatasan sangat genting sehingga Carlos tidak bisa menjaga Caden setiap saat. Jadi, dia tidak terlalu memahami masa kecil Caden.Selain itu, dulu jabatan Carlos tidak tinggi. Dia tidak punya kekuasaan besar seperti sekarang untuk melindungi Caden. Akan tetapi, keberadaan Carlos membuat banyak musuh takut.Terutama beberapa tahun in
Camila segera menjelaskan, “Kami berdua cuma teman saja. Belakangan ini karena masalah Leon, Dylan sudah banyak membantuku. Aku sungguh berterima kasih sama dia. Tadi dia dipukul sama Paman Kevin, kami sangat khawatir sama kondisi dia.”“Kata Pak Caden, Dylan nggak makan makanan pemberian dia dan Bibi. Jadi, dia suruh aku ke sini. Maksud Pak Caden, seharusnya Dylan bakal segan untuk menolak niat baikku. Aku datang dengan bawa anggur merah. Maksudku, aku ingin bujuk dia untuk makan sedikit. Alhasil, kami malah mengobrol, lalu … minum koleksi alkohol Kakek ….”“Kemudian, kamu dan Paman Kevin ke dalam. Aku lihat ada Bu Dahlia dan Bu Keiza juga. Aku takut mereka akan salah paham dan menyebar gosip nggak benar di luar sana, makanya aku memilih untuk bersembunyi.”Ketika melihat Lyana masih ragu dengan omongannya, Camila pun menegaskan, “Aku dan Dylan cuma teman saja. Kami nggak ada hubungan lain.”Pelayan datang dengan membawa mantel. Lyana pun membungkus tubuh Camila. “Emm, kamu nggak usah
Camila bertukar pandang dengan orang tua Dylan. Jantungnya berdetak kencang ….Inilah yang dinamakan canggung!Canggung sekali!Camila sudah tidak bisa bersembunyi lagi. Dia hanya ingin menggebuki Dylan saja. Hanya saja, sekarang orang tua Dylan sedang berada di tempat!Jelas sekali Dylan mengkhianati Camila demi melindungi pengawalnya! Tadi Dylan sengaja memberi tahu gosip Edward dan Levon demi mengusir orang tua mereka berdua, guna untuk mengkhianati Camila!Amarah di hati Camila seketika membeludak. Sebelum menuruni ranjang, dia menggertakkan giginya sembari mengentakkan kakinya. Dia diam-diam sedang meluapkan rasa penat di hatinya.Barang yang diletakkan di atas nakas pun ditendang Camila hingga jatuh! Suara keras terdengar. Kemudian, barang itu bergelinding ke kolong ranjang.Dylan tahu apa itu. Kedua matanya spontan terbelalak lebar!Saat ini, kepala Camila masih kliyengan. Dia sama sekali tidak tahu apa yang telah ditendangnya. Dia juga tidak peduli, diam-diam membelalaki Dylan
Kevin tidak sepenuhnya percaya. “Siapa yang ambilkan alkohol itu buat kamu?”“Aku sendiri!”“Bohong! Apa kamu masih bisa berdiri! Jujur, siapa orang di luar sana yang ambilkan buat kamu?” Kevin mencurigai pengawal.Dylan tidak ingin pengawal di luar sana terkena hukuman. Dia masih saja bersikeras berkata, “Aku ambil sendiri!”“Kalau begitu, coba kamu ambilkan sebotol lagi sekarang!”“Nggak … nggak ada lagi alkohol di sana.”“Ada lagi di tempat kakek buyutmu! Berdiri! Ambillah!”Dylan masih saja berbohong. “Aku nggak mau berdiri!”Apa Dylan bisa berdiri? Kalau dia berdiri, bukannya keberadaan Camila akan terbongkar?Raut wajah Kevin menjadi muram. “Kamu nggak mau berdiri, ‘kan? Oke! Kamu kira aku nggak punya cara untuk beri pelajaran kepadamu!”“Kalau kamu nggak berdiri, aku akan hukum semua pengawal di luar sana! Aku juga penasaran, kira-kira siapa yang mengabaikan ucapanku!”“Kamu ….” Dylan menggertakkan giginya.Hubungan di dalam Keluarga Hermanto sangat bagus. Majikan sangat sayang
Dylan kesakitan hingga matanya terbelalak lebar. Dia langsung menjerit, “Sakit!”Suasana di dalam aula hening dalam seketika. Amarah di hati Kevin sembari membara lagi.“Sakit kepalamu! Apa aku memukulmu! Kamu masih berjarak beberapa meter dariku! Apa kamu mau fitnah aku? Kalau aku nggak habisi kamu hari ini, aku akan panggil kamu sebagai ayahku!”Tangisan Lyana semakin kencang lagi. “Pukul! Pukul saja! Coba saja kalau kamu pukul dia! Aku akan cerai sama kamu. Huhuhu ….”Dahlia dan Keiza juga segera membujuk, “Kevin, kamu tenangkan dirimu. Sewaktu ayahmu masih hidup dulu, dia paling sayang sama cucunya. Semua alkohol itu memang koleksi kesayangan ayahmu, tapi alkohol itu juga bukan diminum oleh orang luar!”“Iya, dia pasti nggak bakal marah karena alkohol itu dihabiskan cucu kandungnya sendiri.”Namun, amarah di hati Dylan masih belum reda. “Dia masih belum menikah. Dia nggak pantas untuk minum alkohol itu! Semua itu bukan disimpan untuk dia, tapi untuk istrinya!”Semakin gaduh suasana
“Dari mana asal bau alkohol seberat ini? Kamu minum alkohol?” jerit Kevin begitu memasuki rumah.Camila bersembunyi di samping Dylan. Dia bahkan tidak berani bernapas sama sekali. Dahlia dan Keiza menutup hidung mereka. “Iya, bau sekali, pasti minumnya banyak.”Tiba-tiba Fakhri menyadari botol alkohol yang bergelinding di samping! Dia mengambil botol itu dan rasa syok seketika terlukis di wajahnya.“Astaga! Alkohol tahun 1935! Ini minuman koleksi kakekmu saat dia masih hidup. Dia bahkan nggak tega untuk meminumnya. Dylan malah meminumnya?”Omran juga menemukan beberapa botol kosong. Di bawah bantuan cahaya lilin, dia membaca, “Vodka Rosso Polo edisi terbaru, Han Emperor Maotai …. Astaga! Dylan, apa gara-gara kamu dipukul, kamu sampai nekat menghabiskan koleksi kakekmu?”Kedua mata Kevin terbelalak lebar ketika melihat botol kosong itu. Dia segera berlari ke depan altar ayahnya! Ternyata botol alkohol yang disimpan di balik papan sudah dihabiskan semuanya!Amarah di hati Kevin seketik
Ekspresi Kevin sangat masam. Sementara itu, para penjaga masih berjaga di luar aula leluhur. Mereka ketakutan saat melihat Kevin dan lainnya yang datang.Salah satu penjaga bergegas masuk ke aula leluhur untuk mengabari Camila. Kevin yang curiga langsung berteriak, "Berhenti!"Penjaga terdiam di tempat. Kevin menghampiri penjaga dan bertanya, "Kenapa kamu panik?"Penjaga gemetaran. Dia menunduk karena tidak berani melihat Kevin. Penjaga memanggil, "Pak Kevin."Tidak ada pintu belakang di aula leluhur, jadi Camila tidak bisa kabur. Tentu saja para penjaga panik.Kevin tidak mengizinkan siapa pun untuk melihat Dylan. Namun, mereka membiarkan Camila masuk. Itu berarti mereka melanggar perintah Kevin.Selain itu, mereka sudah berjanji kepada Camila untuk mengabarinya jika ada yang datang. Para penjaga merasa tidak berdaya.Kevin menyadari ada yang tidak beres. Dia membentak dengan ekspresi muram, "Cepat bilang! Apa yang dilakukan anak sialan itu di dalam aula leluhur?"Para penjaga tidak b
Dylan ingin menunjukkan tekadnya. Mungkin juga dia ingin memprovokasi Kevin dan Catherine. Dylan mengeluarkan ponsel, lalu menambahkan deskripsi di akunnya.[ Aku nggak akan menikah selamanya! Orang yang menikah bodoh! ]Setelah selesai, Dylan memamerkannya kepada Camila. Sementara itu, pandangan Camila agak kabur. Sesudah beberapa saat, dia baru bisa melihat dengan jelas. Camila mengacungkan jempol kepada Dylan dan memuji, "Kamu hebat!"Dylan bertanya, "Kamu mau tulis, nggak?"Camila masih bisa berpikir rasional. Dia menyahut, "Nggak mau. Aku ini artis, jadi aku harus memikirkan citraku. Tapi, aku pasti nggak akan menikah lagi. Aku sudah membuat keputusan.""Kalau salah satu dari kita menikah, itu berarti dia bodoh!" balas Dylan."Oke," sahut Camila.....Camila dan Dylan bersenang-senang di aula leluhur. Di sisi lain, Lyana yang berada di ruang tamu terus menangis. Dylan terluka parah dan tidak makan seharian.Selain itu, sekarang sudah malam. Namun, Kevin masih tidak mengizinkan Dyl
Camila ragu-ragu sejenak sebelum menghampiri papan nama kakek Dylan. Dia memberi hormat kepada kakek Dylan, lalu berkata, "Kakek, jangan salahkan aku, ya. Cucumu yang suruh aku ambil, aku cuma bantu dia. Kalau kamu marah, buat perhitungan dengan cucumu. Jangan cari aku."Selesai bicara, Camila baru berani bertindak. Dia mengambil 2 botol vodka dan 2 gelas. Setelah kembali ke sisi Dylan, Camila baru berani melihat vodkanya.Tangan Camila bergetar. Dia berseru, "Sialan! Vodka ini sangat mahal!"Camila melihat vodka, lalu memandang Dylan dan bertanya, "Kamu yakin mau minum ini?"Harga sebotol vodka ini setara dengan sebuah vila. Dylan menyahut dengan santai, "Tentu saja, cepat buka."Camila menelan ludah. Dia meletakkan botol vodka di samping, lalu mengambil makanan. Dia tidak melupakan tugasnya hari ini. Camila berucap, "Nggak bagus kalau kita minum vodka saat perut kosong. Kita makan dulu."Ketika mengambil makanan, Camila teringat dengan batu permata itu. Dia berujar, "Oh, iya. Ada uru
Camila menyahut, "Aku datang melihatmu."Dylan mengeluh, "Seharusnya kamu bilang dulu sebelum datang."Camila tertawa, lalu menimpali, "Kenapa? Apa kamu mau berdandan dulu?"Dylan mengatupkan bibirnya. Dia sudah terbiasa sok ganteng. Sekarang kondisinya sangat menyedihkan, jadi Dylan tidak ingin bertemu siapa pun. Apalagi bertemu wanita cantik.Camila memiringkan kepalanya dan melihat Dylan sambil menyipitkan matanya. Dylan merasa canggung dilihat Camila. Dia bertanya seraya mengernyit, "Kamu lihat apa?"Camila menilai, "Rambutmu acak-acakan, bajumu kotor dan robek, wajahmu juga dinodai abu. Dylan, penampilanmu sangat buruk!"Apalagi dibandingkan dengan penampilan Camila yang menawan, Dylan tampak seperti pengemis. Dylan memelotot. Dia sangat mementingkan penampilannya, bisa-bisanya Camila mengkritiknya!Dylan berpikir sejenak, lalu berujar, "Dipukul ayahku bukan hal yang memalukan. Hampir semua orang pernah dipukul waktu kecil!""Orang lain dipukul waktu kecil. Kamu sudah berusia 30 t