Share

Bab 87

Penulis: Ipak Munthe
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-13 23:57:27
Tidak ada yang memperdulikan keberadaan David.

Semuanya tidak menganggap adanya David di sana.

Ayunda tampak hanya fokus pada baby Ken.

Meskipun terasa sangat diasingkan akan tetapi tidak membuat David menyerah untuk terus berada di sana.

Dia tahu kehadirannya tidak diharapkan, akan tetapi dia juga ingin tahu seperti apa keadaan anaknya, sambil berdoa semoga anaknya segera pulih kembali.

"Bagaimana, Dok keadaan anak saya?" tanya David saat melihat dokter yang baru selesai memeriksa keadaan anaknya.

"Tidak, dia bukan siapa-siapa," sela Ayunda dengan cepat.

Sang dokter merasa bingung mendengar ucapan Ayunda.

"Sebenarnya anak saya sakit apa, Dok?" tanya Ayunda, yang tak ingin perduli pada David.

Apa lagi untuk memikirkan perasaan David, rasanya itu sangat tidak perlu.

"Kami merasa bayi Anda harus melakukan pemeriksaan lanjutan, untuk memastikan apakah dugaan kami benar atau tidak," jawab sang dokter.

"Baiklah, Dok," saya tunggu setelah pemeriksaan selanjutnya.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Faidhotur Rosyadi
lanjut Thor makin seru David makin merana
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 88

    Dokter pun telah mengetahui hasil pemeriksaan lanjutan untuk baby Ken, dia pun kembali meminta Ayunda untuk menemuinya. Tentunya itu bukan masalah, dengan perasaan tegang dia pun kembali masuk keruangan dokter. Tentu saja David masih saja mengikutinya, rasanya sangat menjengkelkan. Akan terjadi saat ini anaknya yang lebih penting hingga dia memilih untuk diam saja. "Bagaimana, Dok?" tanya Ayunda dengan suara pelan. Dia sangat berharap Kenzie tidak kenapa-kenapa. "Apakah putra anda lahir secara prematur?" tanya sang dokter terlebih dahulu. "Iya, Dok," jawab Ayunda membenarkan. "Bayi ibu mengalami Anemia, salah satunya penyebabnya adalah bayi yang terlahir prematur." Terang sang dokter secara singkat. Ayunda merasa lemas, sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja. Hingga membuatnya sedikit kebingungan, dia terlalu takut terjadi hal buruk pada sang anak. "Kami harap anak anda segera mendapatkan donor darah, kebetulan stok darah golongan AB di rumah sakit sedang koson

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-14
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 89

    "David," Hera pun membangunkan putranya yang tidur di kursi tepat di depan pintu kamar rawat baby Ken. Semalaman David tidur di sana, meskipun sempat diusir oleh Zidan dan Ayunda namun kembali lagi setelah beberapa saat kemudian. Dia ingin menjaga anaknya meskipun hanya dari kejauhan. Jadi pengemis. Itulah yang kini terjadi, akan tetapi David pun tidak menyalahkan Ayunda. Dia tahu, dia lah yang bersalah hingga Ayunda begitu dingin padanya. "Mama," katanya setelah membuka mata. "Kamu pulang dulu, lihat diri mu," kata Hera. Rambut David sudah cukup panjang untuk seorang laki-laki, berantakan, serta rahangnya yang biasanya selalu mulus kini terlihat mulai ditumbuhi bulu. Keadaan anaknya sangat berantakan persis seperti perasaannya. Hera benar-benar tidak mengerti mengapa bisa semuanya seperti ini. Setelah itu dia pun perlahan mulai mengetuk pintu kamar rawat baby Ken. "Selamat pagi cucu Oma," sapanya dengan senyuman ramah. Untuk kehadiran Hera tidak dipermasalah

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-15
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 90

    "Kamu pulang aja, istirahat dulu di rumah. Muka kamu pucat sekali," ucap Wina. "Yunda bisa istirahat di sini, Ma." "Kamu istirahat di rumah aja, soalnya kalau di sini istirahat kamu nggak akan sempurna. Nanti Papa juga menyusul ke sini kok," kata Wina lagi. Dia tahu putrinya sangat kelelahan, sehingga memintanya untuk beristirahat di rumah sebentar. Untuk hari ini dia juga menjaga cucunya yang tampan itu. "Ya udah, Ma. Yunda pulang dulu ya, sekalian Yunda mau menghubungi Yusuf untuk minta ijin," Ayunda pun menyetujui saran sang Mama. Apa lagi jarak antara rumah sakit dan tempat tinggal mereka tidak begitu jauh, hanya memerlukan waktu sekitar 5 menit saja. "Ini kunci mobil Mama." Ayunda pulang ke rumah dengan mengendarai mobil sang Mama. Namun, ketika sampai di rumah dia mendapati seorang wanita tengah berbicara dengan suara tinggi pada pembantunya. Wanita itu terlihat kesal karena mencari seseorang tapi belum juga diijinkan untuk bertemu. "Kamu cuma babu di sini,

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-15
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 91

    Ayunda sedang istirahat di rumah, sedangkan putranya kini berada di rumah sakit bersama dengan Wina dan juga Dirga. Wina terlihat begitu menyayangi cucunya, meskipun sebenarnya mereka merasa sedikit kesal sebab wajah cucu mereka begitu mirip dengan David. "Wajahnya terlihat sangat mirip David ya, Pa," kata Wina. "Iya, kenapa juga harus mirip dengan David? Papa juga sedikit kesal untuk itu, seperti tidak terima," jawab Dirga. "Iya. Tapi, dia sangat menggemaskan," ucap Wina lagi. Dirga pun mengangguk membenarkan. "Pa, Ken lagi tidur, Mama juga rasanya lapar. Mama mau ke supermarket yang ada di depan dulu ya, mau beli camilan ada yang mau nitip sesuatu?" tanya Wina. "Enggak, cepat kembali ya, Ma," ucap Dirga. "Iya." Wina pun segera pergi ke supermarket yang letaknya bersebelahan dengan rumah sakit, dia tak ingin terlalu lama meninggalkan cucunya. Karena Dirga tidak berani menggendong bayi saat sedang sakit seperti ini. Namun, sesaat setelah selesai membeli beberapa

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-16
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 92

    Wina kembali ke ruang rawat sang cucu, dia pun menceritakan apa yang barusan terjadi padanya. "Pa, tadi Mama hampir ketabrak mobil," kata Wina sembari duduk di sofa bersebelahan dengan sang suami. Dirga yang tengah memainkan ponselnya pun segera melihat wajah istrinya. "Mama, baik-baik saja kan?" tanyanya dengan perasaan was-was. Dirga pun memperhatikan kondisi istrinya dia terlihat sangat khawatir. "Mama nggak papa, tapi ada yang aneh," ucap Wina lagi. "Apa?" tanya Dirga dengan serius menatap wajah sang istri. "Ceritanya lebay, ini seperti direncakan," ucapnya. "Direncanakan bagaimana?" tanya Dirga yang kian semakin penasaran dengan maksud sang istri. "Mama hampir ketabrak, tapi anehnya malah David yang menolong Mama," ucapnya dengan sinis. "David menolong, Mama?" "Iya, dia yang akhirnya kecelakaan." "Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?" "Papa, kok jadi bertanya tentang dia?" Wina tampak kesal karena Dirga malah mempertanyakan tentang David. "Dia kan suda

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-16
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 93

    Lisa menangis sambil terus berjalan, dia tak menyangka jika hidupnya akan menjadi seperti ini. Setelah semua yang terjadi dia pikir akan membuat hidupnya lebih baik, sayangnya tidak. Justru semuanya hanya sebatas mimpi semata. Kini dia dicampakkan begitu saja bagaimana sampah yang dibuang dengan mudahnya. Miris bukan? Namun, ada lagi hal yang mengejutkan dirinya, beberapa polisi mulai berjalan ke arahnya. Ada apa dengan dirinya hingga dihampiri oleh polisi? "Anda harus ikut ke kantor!" ucap salah satu dari mereka. "Salah saya apa, Pak?" tanya Lisa yang sepertinya tidak menyadari kesalahannya. Mungkin dia pikir menabrak seseorang dengan sengaja bukan satu kejahatan yang harus dipertanggungjawabkan. "Anda pelaku tabrak lari!" Lisa pun pun tersadar setelah tahu apa yang barusan dia lakukan adalah perbuatan kriminal. Lalu siapa yang akan menolongnya? Tidak ada, dia sendiri, bahkan Erwin pun tidak mungkin mau menolongnya. Hubungan mereka berakhir dengan cara ya

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-17
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 94

    "Jadi, yang hampir menabrak Mama itu adalah Lisa?" Wina pun semakin dibuat syok. Bagaimana tidak, dirinya telah begitu yakin David adalah pelakunya, tapi ternyata orang lain. Orang yang tak pernah dia sangka akan melakukan hal tersebut. Lagipula kenapa bisa Lisa melakukan hal tersebut, setahunya Ayunda begitu akrab dengan Lisa. "Tadi pagi Lisa datang ke rumah, Ma. Dia marah-marah karena alasan yang menurut Yunda nggak jelas," kata Ayunda lagi. "Tapi, Mama udah terlanjur menuduh David yang merencanakan semuanya, ternyata David yang nolongin Mama," ucap Wina lagi dengan perasaan malu. "Mama, di tolongin David?" "Iya. Tadi kakinya sampai diperban gitu." "Ada-ada saja," gerutu Ayunda. Saat itu ponselnya kembali berbunyi dan masih dari orang yang sama. Ayunda pun langsung menjawabnya dan berkata. "Aku tidak bisa melakukan apapun, silahkan hubungi langsung orang yang telah kau tabrak!" Setelah mengatakan itu Ayunda pun memutuskan panggilan sepihak. Sepertinya Ayund

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-17
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 95

    Akhirnya setelah beberapa hari berada di rumah sakit baby Ken sudah diijinkan untuk dibawa pulang ke rumah. Tentunya Ayunda merasa sangat lega, berharap setelah ini anaknya tak akan sakit lagi. Apa lagi sampai dirawat di rumah sakit, bayi sekecil itu harus merasakan perawatan yang cukup serius. Rasanya sangat memprihatikan. Saat Ayunda sedang sibuk memandikan anaknya tiba-tiba saja seorang pembantu mengatakan bahwa ada David dan ibunya datang. "Non, ada Tuan David dan ibunya di depan, saya bingung. Mau disuruh masuk atau bagaimana," kata pembantu tersebut karena mengetahui hubungan antara kedua keluarga ini tidak baik-baik saja. Namun, tiba-tiba saja Wina menyela pembicaraan saat Ayunda akan berbicara. "Suruh saja mereka masuk," kata Wina. "Baik, Bu." Ayunda pun menatap wajah sang ibu penuh tanya. Dia bingung kenapa bisa mengijinkan David dan Mamanya masuk. Biasa Wina akan sangat murka meskipun hanya mendengar nama David disebutkan. Jika hanya Hera tidak masala

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-18

Bab terbaru

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 122

    Ayunda duduk di balkon kamarnya sambil melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin yang dipasang langsung oleh Rika sebagai tanda hubungannya dan Yusuf sudah sangat serius. Cincin tersebut terlihat sangat cantik dan juga begitu pas di jari-jari Ayunda. Hanya saja semuanya hanya pura-pura, Ayunda juga tidak tahu sampai kapan dia bisa membuka hatinya untuk pria. Jatuh cinta dan bahagia. Namun, untuk sekarang ini tidak terpikirkan untuk jatuh cinta lagi pada lelaki manapun. Traumanya masih begitu dalam hingga sulit untuk bisa sembuh kembali. Huuuufff. Ayunda pun menarik napas panjang sambil menikmati udara malam yang cukup dingin, rintik hujan membasahi bumi seakan tahu bahwa Ayunda tengah berada di dalam kesunyian malam. Hingga saat itu terbesit di pikirannya untuk melakukan sesuatu. Dia pun memotret cincin di jarinya dan mengirimkan di aplikasi berwarna hijau. Siapun bisa melihatnya, tapi tujuannya adalah David. Dia sangat berharap David melihatnya.

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 121

    "Hey, kamu!" terdengar suara Zidan membuat Ayunda dan Tere pun menoleh. Tentu saja yang dia panggil adalah Tere. Tapi Ayunda yang kesal saat mendengarnya. "Kak Zidan, manggil siapa? Kami punya nama!" sinisnya Tapi Zidan tidak perduli dengan ucapan sang adik yang dia ingin temui adalah Tere. "Kenapa kau belum menyetrika pakaian ku?!" tanyanya. Tere pun merasa bingung mendengar ucapan Zidan, karena sebelumnya sudah mengerjakan apa yang diminta oleh pria yang tak lain suaminya itu. Seorang suami yang benar-benar tidak dia inginkan. Pernikahan tanpa cinta dan perkenalan lebih dalam, keduanya benar-benar asing. Namun, mengapa Zidan mengatakan belum menyetrika pakaian yang dia minta? Jelas-jelas Tere sudah melakukannya. "Kamu mendengar saya bicara atau tidak?!" tanya Zidan lagi karena Tere masih diam saja. "Maaf, Kak. Tapi, tadi Tere udah ngerjain kok. Sekarang bajunya ada di atas ranjang," jawab Tere. "Udah kamu bilang? Udah apanya?!" "Kak Zidan, apa sih? Biasan

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 120

    Ting! Suara ponsel Ayunda dan ternyata Yusuf yang mengirimkan sebuah pesan. [Yunda, Mama ngotot pengen ketemu dengan Mama kamu, bisa tolongin aku nggak?] Yusuf. Ayunda pun tersenyum setelah membaca isi pesan yang dikirimkan oleh Yusuf padanya. Tentu saja ini adalah cara untuk membuat David menjauhinya. [Datang aja ke rumah, Mama di rumah juga] Yunda. Ayunda tersenyum bahagia karena merasa ide kali ini akan berjalan dengan baik. "Kenapa?" tanya David yang melihat Ayunda tersenyum sambil memegang ponselnya. "Apaan sih, mau tau banget urusan orang!" *** Yusuf dan Rika pun telah tiba di kediaman orang tua Ayunda. Mereka datang dengan membawa banyak buah tangan. Wina pun cukup terkejut melihat kehadiran Yusuf dan sang ibu yang tidak memberitahukan padanya sebelumnya. Akan tetapi Wina tentunya merasa bahagia atas kehadiran Yusuf dan ibunya. "Silahkan masuk," Wina pun mempersilahkan keduanya untuk masuk. "Terimakasih," balas Rika sambil berjalan masuk. "Ayo du

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 119

    Ayunda pun memasuki toko kosmetik. Dia langsung saja melihat beberapa make-up di sana. Kemudian dia pun menatap wajah David. "Mana bibirnya, aku mau nyobain yang warna ini," kata Ayunda. "Aku?" tanya David tak percaya. "Iyalah, siapa lagi?" "Tapi....." "Nggak mau?!" "Mau," David pun kembali menurut pada perintah Ayunda. Dia pun sedikit berjongkok dan Ayunda pun mulai memakai lipstik di bibirnya. Kacau! Gila! Aneh! Bukan lagi hal itu yang dipikirkan oleh David. Tapi rasanya begitu nyaman berdekatan dengan Ayunda seperti ini. Wajah Ayunda begitu dekat dengan dirinya, andai saja dia tidak memikirkan kemarahan Ayunda dia sudah melumat bibir itu. Meski sadar di tempat umum, tapi wanita ini benar-benar mudah membuatnya panas dingin. "Udah! Sana jauh-jauh!" ketus Ayunda. Saat itu Ken juga memegang hidung David, akhirnya David pun kembali menetralkan dirinya. "Mbak, kok dipakein ke suaminya?" ucap pramuniaga. "Ha?" Ayunda syok berat mendengar apa yang d

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 118

    Masa bodo, mau pemilik mall, pemilik kuburan sekalian, bodo! Batin Ayunda. Kemudian dia pun mencari toko selanjutnya yang akan dia masuki. Toko dalaman khusus wanita. Ayunda pun tersenyum sambil menoleh pada David. "Ayu masuk," kata Ayunda. David pun terdiam sejenak saat berdiri di depan toko, sepertinya dia sedang berpikir di tempatnya. "Kamu nggak mau?!" "Mau," jawab David yang benar-benar pasrah, meskipun dia tengah begitu kesulitan dalam mengangkat semua barang belanja milik Ayunda. "Ya ampun, cowoknya ganteng banget," bisik seorang pramuniaga pada seorang temannya. Sedangkan temannya mengangguk membenarkan. Apa lagi jika mereka tahu saat ini mereka sedang bertemu dengan pemilik mall tersebut, sudah pasti mereka akan semakin terkagum-kagum. Tapi tidak semua orang tahu, hanya sebagian orang saja yang mengetahuinya. "Ada yang bisa saya bantu, Mbak? Mas?" tanya sang pramuniaga. Ayunda tahu pramuniaga tersebut tertarik pada David, dan itu tidak masalah bagi

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 117

    "Dia manusia atau apa sih? Aku curiga dia itu titisan jalangkung," gerutu Ayunda yang tak hentinya sambil membayangkan wajah David. "Kamu kok basah kuyup?" tanya Tere yang tak sengaja bertemu dengan Ayunda di ruang keluarga. Tepatnya ketika Ayunda tengah melintas. "Ini karena jailangkung," jawabnya penuh kekesalan. "Jailangkung?" "Hem......Dia datang dan pergi tanpa ijin, siapa lagi kalau bukan ayah Ken," ucap Ayunda. "Kayaknya dia serius pengen balikan sama kamu ya, buktinya tidak ada hentinya berusaha untuk mendekati mu," kata Tere lagi. "Enggak ya, aku nggak mau balikan sama dia. Dulu juga dia mati-matian berusaha untuk dapatkan cinta aku. Tapi apa? Dia malah menyakiti aku," Ayunda seakan tak bisa melupakan semua yang telah dia lewati. David, Erwin keduanya sama saja. Sama-sama jahat ketika sudah mendapatkan keinginannya. Lupa pernah berusaha mati-matian untuk mendapatkan Ayunda. "Kamu gimana? Kak Zidan nggak nyakitin kamu kan?" tanya Ayunda yang justru penasara

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 116

    Hari ini adalah hari libur, sehingga Ayunda tidak berangkat bekerja. Akan tetapi dia juga tidak bermalas-malasan, dia menyirami tanaman miliknya yang begitu indah. Ada banyak bunga mawar di sana. Dia sangat hobi berkebun dan menikmati keindahannya adalah hal yang tak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata. Ayunda juga memperbaiki beberapa bagian yang kurang bagus, dia merawat dengan penuh perasaan. Bahkan selama dia pergi pun bunganya masih sangat indah, sebab Wina ikut merawatnya. Ayunda pun tersenyum sambil mencium sebuah bunga mawar, dia menghirup aroma yang sangat menenangkan diri. Hiburan tersendiri yang sangat membahagiakan untuknya. "Selamat pagi, Bunda," sapa David. Ayunda yang sedang tersenyum bahagia menikmati keindahan pagi ini seketika berubah kesal. Tentunya karena kehadiran David yang sangat tidak diinginkan. Tidak tahu kenapa David sangat suka datang ke rumahnya, apakah pria tersebut tidak punya rasa malu? Entahlah. Putus asa, tapi dia juga ingin

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 115

    Tere baru saja sampai di apartemennya tapi ternyata ada Erwin yang berdiri di sana. Tere tidak tahu apa tujuan sang Kakak menemuinya. Namun, dia berharap jika Erwin memberikan kabar tentang Mama mereka. Dengan langkah yang cepat Tere pun berjalan ke arah Erwin yang masih berdiri di depan pintu apartemennya. "Kak Erwin," katanya sambil tersenyum pada sang Kakak. "Aku mau bicara." Tere pun mengangguk cepat, kemudian dia pun membukakan pintu agar mereka bisa berbicara di dalam. Setelah Tere masuk Erwin juga ikut masuk. Mereka masih berada di dekat pintu yang terbuka lebar. "Kak, kabar Mama gimana?" tanya Tere tak sabar. "Mama koma, kamu mau bertemu dengan Mama?" tanya Erwin. "Iya, Kak," Tere pun mengangguk cepat karena dia juga sangat merindukan ibunya. "Kamu harus membuat Ayunda mau kembali pada ku!" ucap Erwin. Tere pun dibuat terkejut mendengar ucapan sang Kakak. Rasanya sangat tidak mungkin karena dulunya Erwin sudah sangat yakin menceraikan Ayunda. Bahk

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 114

    "Anak Bunda," seru Ayunda sambil menciumi seluruh wajah sang putra. Tidak bertemu sejak kemarin membuatnya menahan rindu yang begitu besar. Saat itu Ayunda memeluk sang anak dengan begitu erat. Berulangkali Ayunda mencium pipi mungil putranya, rasanya belum juga puas. "Yunda, apa benar Kakak kamu sudah menikah dengan Tere?" tanya Wina secara langsung. Dia sudah sangat penasaran hingga tak mampu lagi menahan rasa penasarannya. Saat itu Ayunda pun mulai menatap wajah sang Mama dengan serius. Artinya Zidan sudah menceritakan apa yang dia alami di desa. "Kak Zidan udah cerita?" tanya Ayunda kembali. "Iya, kemarin katanya dia menyusul kamu karena ingin melindungi kamu dari David. Tapi, ternyata sesampainya di sana terjadi insiden yang tak terduga, dia di paksa untuk menikah dengan Tere, pagi tadi Kakak mu pulang dengan wajah yang lelah dan Mama juga syok mendengarnya," terang Wina dengan panjang lebar. Wajah Wina juga penuh kekecewaan mengetahui bahwa anaknya menikah den

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status