Zidan masih berada di post satpam bermain catur bersama dengan seorang satpam penjaga rumahnya. Bahkan Dirga juga berada di sana, padahal malam sudah semakin larut tapi masih belum tidur. Tapi tiba-tiba saja matanya melihat sebuah mobil yang berhenti di depannya pintu gerbang. "Bos, apa itu maling?" tanya satpam tersebut. "Maling?" Zidan pun bingung. "Apa iya maling pakai mobil BM*?" timpal Dirga. Tak lama berselang pengemudi mobil itupun turun dan ternyata itu adalah orang yang sangat dibenci oleh Zidan dan keluarganya. "Itu David?" tanya Dirga memastikan. "Untuk apa dia datang ke sini?!" Zidan sudah sangat geram. Jangankan untuk melihat wajahnya mendengar namanya disebutkan pun sudah membuat emosi Zidan mendidih dengan mudahnya. Lihat saja Zidan langsung saja menghampirinya. David kini berdiri di depan pintu gerbang dan Zidan pun membuka pintu gerbang. Keadaan David sangat berantakan, persis seperti perasaannya yang kini juga sangat berantakan. Akan tetapi
"Ya ampun, David. Apa yang terjadi pada mu?" Hera terkejut melihat keadaan anaknya yang babak belur saat dibawa pulang ke rumah. "Kamu kenapa?" tanya Hera sambil mengikuti langkah kaki sang anak yang kini duduk di sofa ruang tamu. Tapi David tidak berbicara padahal ibunya terlihat sangat khawatir padanya. "Kamu minum?" Hera pun mengibas-ngibaskan tangannya karena tak suka mencium aroma alkohol. Huuuufff.... David menarik napas berat sambil memijat pelipisnya. Tak lama kemudian Hera pun memanggil Adel untuk mengobati David. Adel mengompres wajahnya dengan perlahan. "David, sebenarnya apa yang terjadi? Jangan buat Mama khawatir!" omel Hera. "Tidak ada yang harus dikhawatirkan, Ma. David bukan anak kecil lagi," jawab David. "Atau jangan-jangan kamu masih berusaha untuk menemui Ayunda!" tebak Hera. David pun memilih untuk tidak menjawab karena dia tahu ibunya tidak akan suka dengan apa yang dia lakukan. Tapi melihat raut wajah anaknya Hera yakin apa yang dikatakan
Tidak ada yang memperdulikan keberadaan David. Semuanya tidak menganggap adanya David di sana. Ayunda tampak hanya fokus pada baby Ken. Meskipun terasa sangat diasingkan akan tetapi tidak membuat David menyerah untuk terus berada di sana. Dia tahu kehadirannya tidak diharapkan, akan tetapi dia juga ingin tahu seperti apa keadaan anaknya, sambil berdoa semoga anaknya segera pulih kembali. "Bagaimana, Dok keadaan anak saya?" tanya David saat melihat dokter yang baru selesai memeriksa keadaan anaknya. "Tidak, dia bukan siapa-siapa," sela Ayunda dengan cepat. Sang dokter merasa bingung mendengar ucapan Ayunda. "Sebenarnya anak saya sakit apa, Dok?" tanya Ayunda, yang tak ingin perduli pada David. Apa lagi untuk memikirkan perasaan David, rasanya itu sangat tidak perlu. "Kami merasa bayi Anda harus melakukan pemeriksaan lanjutan, untuk memastikan apakah dugaan kami benar atau tidak," jawab sang dokter. "Baiklah, Dok," saya tunggu setelah pemeriksaan selanjutnya.
Dokter pun telah mengetahui hasil pemeriksaan lanjutan untuk baby Ken, dia pun kembali meminta Ayunda untuk menemuinya. Tentunya itu bukan masalah, dengan perasaan tegang dia pun kembali masuk keruangan dokter. Tentu saja David masih saja mengikutinya, rasanya sangat menjengkelkan. Akan terjadi saat ini anaknya yang lebih penting hingga dia memilih untuk diam saja. "Bagaimana, Dok?" tanya Ayunda dengan suara pelan. Dia sangat berharap Kenzie tidak kenapa-kenapa. "Apakah putra anda lahir secara prematur?" tanya sang dokter terlebih dahulu. "Iya, Dok," jawab Ayunda membenarkan. "Bayi ibu mengalami Anemia, salah satunya penyebabnya adalah bayi yang terlahir prematur." Terang sang dokter secara singkat. Ayunda merasa lemas, sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja. Hingga membuatnya sedikit kebingungan, dia terlalu takut terjadi hal buruk pada sang anak. "Kami harap anak anda segera mendapatkan donor darah, kebetulan stok darah golongan AB di rumah sakit sedang koson
"David," Hera pun membangunkan putranya yang tidur di kursi tepat di depan pintu kamar rawat baby Ken. Semalaman David tidur di sana, meskipun sempat diusir oleh Zidan dan Ayunda namun kembali lagi setelah beberapa saat kemudian. Dia ingin menjaga anaknya meskipun hanya dari kejauhan. Jadi pengemis. Itulah yang kini terjadi, akan tetapi David pun tidak menyalahkan Ayunda. Dia tahu, dia lah yang bersalah hingga Ayunda begitu dingin padanya. "Mama," katanya setelah membuka mata. "Kamu pulang dulu, lihat diri mu," kata Hera. Rambut David sudah cukup panjang untuk seorang laki-laki, berantakan, serta rahangnya yang biasanya selalu mulus kini terlihat mulai ditumbuhi bulu. Keadaan anaknya sangat berantakan persis seperti perasaannya. Hera benar-benar tidak mengerti mengapa bisa semuanya seperti ini. Setelah itu dia pun perlahan mulai mengetuk pintu kamar rawat baby Ken. "Selamat pagi cucu Oma," sapanya dengan senyuman ramah. Untuk kehadiran Hera tidak dipermasalah
"Kamu pulang aja, istirahat dulu di rumah. Muka kamu pucat sekali," ucap Wina. "Yunda bisa istirahat di sini, Ma." "Kamu istirahat di rumah aja, soalnya kalau di sini istirahat kamu nggak akan sempurna. Nanti Papa juga menyusul ke sini kok," kata Wina lagi. Dia tahu putrinya sangat kelelahan, sehingga memintanya untuk beristirahat di rumah sebentar. Untuk hari ini dia juga menjaga cucunya yang tampan itu. "Ya udah, Ma. Yunda pulang dulu ya, sekalian Yunda mau menghubungi Yusuf untuk minta ijin," Ayunda pun menyetujui saran sang Mama. Apa lagi jarak antara rumah sakit dan tempat tinggal mereka tidak begitu jauh, hanya memerlukan waktu sekitar 5 menit saja. "Ini kunci mobil Mama." Ayunda pulang ke rumah dengan mengendarai mobil sang Mama. Namun, ketika sampai di rumah dia mendapati seorang wanita tengah berbicara dengan suara tinggi pada pembantunya. Wanita itu terlihat kesal karena mencari seseorang tapi belum juga diijinkan untuk bertemu. "Kamu cuma babu di sini,
Ayunda sedang istirahat di rumah, sedangkan putranya kini berada di rumah sakit bersama dengan Wina dan juga Dirga. Wina terlihat begitu menyayangi cucunya, meskipun sebenarnya mereka merasa sedikit kesal sebab wajah cucu mereka begitu mirip dengan David. "Wajahnya terlihat sangat mirip David ya, Pa," kata Wina. "Iya, kenapa juga harus mirip dengan David? Papa juga sedikit kesal untuk itu, seperti tidak terima," jawab Dirga. "Iya. Tapi, dia sangat menggemaskan," ucap Wina lagi. Dirga pun mengangguk membenarkan. "Pa, Ken lagi tidur, Mama juga rasanya lapar. Mama mau ke supermarket yang ada di depan dulu ya, mau beli camilan ada yang mau nitip sesuatu?" tanya Wina. "Enggak, cepat kembali ya, Ma," ucap Dirga. "Iya." Wina pun segera pergi ke supermarket yang letaknya bersebelahan dengan rumah sakit, dia tak ingin terlalu lama meninggalkan cucunya. Karena Dirga tidak berani menggendong bayi saat sedang sakit seperti ini. Namun, sesaat setelah selesai membeli beberapa
Wina kembali ke ruang rawat sang cucu, dia pun menceritakan apa yang barusan terjadi padanya. "Pa, tadi Mama hampir ketabrak mobil," kata Wina sembari duduk di sofa bersebelahan dengan sang suami. Dirga yang tengah memainkan ponselnya pun segera melihat wajah istrinya. "Mama, baik-baik saja kan?" tanyanya dengan perasaan was-was. Dirga pun memperhatikan kondisi istrinya dia terlihat sangat khawatir. "Mama nggak papa, tapi ada yang aneh," ucap Wina lagi. "Apa?" tanya Dirga dengan serius menatap wajah sang istri. "Ceritanya lebay, ini seperti direncakan," ucapnya. "Direncanakan bagaimana?" tanya Dirga yang kian semakin penasaran dengan maksud sang istri. "Mama hampir ketabrak, tapi anehnya malah David yang menolong Mama," ucapnya dengan sinis. "David menolong, Mama?" "Iya, dia yang akhirnya kecelakaan." "Lalu, bagaimana keadaannya sekarang?" "Papa, kok jadi bertanya tentang dia?" Wina tampak kesal karena Dirga malah mempertanyakan tentang David. "Dia kan suda
Pagi hari ini Hera akan menjenguk cucunya, dia sudah mempersiapkan banyak mainan untuk sang cucu sejak kemarin. Selama beberapa hari ini tidak bertemu membuatnya merasa rindu. Bagaimana pun juga Kenzie adalah cucunya.Dia memang kesal terhadap David, tapi tidak lantas membuatnya menjadi benci pada Kenzie. "Ini apa, Ma?" tanya David saat melihat ada banyak paperbag di atas meja makan. Biasanya di atas meja hanya untuk meletakkan makanan saja, namun sepertinya kali ini sedikit berbeda. "Mainan," jawab Hera kemudian kembali melanjutkan sarapannya. David pun ikut duduk di bangku lainnya untuk sarapan pagi bersama seperti biasanya. "Mainan untuk siapa, Ma?" tanyanya lagi. Hera pun menatapnya dengan tajam, mungkin Hera kesal pada pertanyaan sang anak. "Minum yang banyak, minumlah sepuasnya, sepuas hati mu!" sinis Hera yang menyinggung David. Tentunya Hera membahas tentang semalam dimana David di dipergokinya tengah minum-minum beralkohol. "Tentu saja untuk cucu ku! Per
Hera memasuki ruang pribadi sang anak, maksud Hera adalah mempertanyakan keberadaan Adel. Selama beberapa hari ini Adel tidak pulang ke rumah, bahkan saat dihubungi juga tidak bisa. Hera kecewa atas keputusan Adel dan David yang bercerai secara diam-diam. Akan tetapi Hera juga masih begitu mengkhawatirkan keadaan Adel. Baginya Adel bukanlah seorang menantu, ataupun mantan menantu. Tidak. Dia adalah anak perempuannya, dia bagian dari keluarga andaipun David bukan lagi suaminya dan itu akan berlanjut sampai kapanpun juga. Tapi apa yang didapati oleh Hera saat ini? Dia melihat wajah sang anak begitu kacau, dia duduk bersandar sambil menadahkan wajahnya pada langit-langit ruangan. Di atas meja ada banyak minuman. Kenapa anaknya jadi seperti ini? "David?" David pun tersadar ternyata Hera telah berdiri di hadapannya. Matanya tampak memerah, dengan tubuh yang sangat kacau. "Kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Hera tak habis pikir. "David cuman butuh istirahat,
Ayunda duduk di balkon kamarnya sambil melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin yang dipasang langsung oleh Rika sebagai tanda hubungannya dan Yusuf sudah sangat serius. Cincin tersebut terlihat sangat cantik dan juga begitu pas di jari-jari Ayunda. Hanya saja semuanya hanya pura-pura, Ayunda juga tidak tahu sampai kapan dia bisa membuka hatinya untuk pria. Jatuh cinta dan bahagia. Namun, untuk sekarang ini tidak terpikirkan untuk jatuh cinta lagi pada lelaki manapun. Traumanya masih begitu dalam hingga sulit untuk bisa sembuh kembali. Huuuufff. Ayunda pun menarik napas panjang sambil menikmati udara malam yang cukup dingin, rintik hujan membasahi bumi seakan tahu bahwa Ayunda tengah berada di dalam kesunyian malam. Hingga saat itu terbesit di pikirannya untuk melakukan sesuatu. Dia pun memotret cincin di jarinya dan mengirimkan di aplikasi berwarna hijau. Siapun bisa melihatnya, tapi tujuannya adalah David. Dia sangat berharap David melihatnya.
"Hey, kamu!" terdengar suara Zidan membuat Ayunda dan Tere pun menoleh. Tentu saja yang dia panggil adalah Tere. Tapi Ayunda yang kesal saat mendengarnya. "Kak Zidan, manggil siapa? Kami punya nama!" sinisnya Tapi Zidan tidak perduli dengan ucapan sang adik yang dia ingin temui adalah Tere. "Kenapa kau belum menyetrika pakaian ku?!" tanyanya. Tere pun merasa bingung mendengar ucapan Zidan, karena sebelumnya sudah mengerjakan apa yang diminta oleh pria yang tak lain suaminya itu. Seorang suami yang benar-benar tidak dia inginkan. Pernikahan tanpa cinta dan perkenalan lebih dalam, keduanya benar-benar asing. Namun, mengapa Zidan mengatakan belum menyetrika pakaian yang dia minta? Jelas-jelas Tere sudah melakukannya. "Kamu mendengar saya bicara atau tidak?!" tanya Zidan lagi karena Tere masih diam saja. "Maaf, Kak. Tapi, tadi Tere udah ngerjain kok. Sekarang bajunya ada di atas ranjang," jawab Tere. "Udah kamu bilang? Udah apanya?!" "Kak Zidan, apa sih? Biasan
Ting! Suara ponsel Ayunda dan ternyata Yusuf yang mengirimkan sebuah pesan. [Yunda, Mama ngotot pengen ketemu dengan Mama kamu, bisa tolongin aku nggak?] Yusuf. Ayunda pun tersenyum setelah membaca isi pesan yang dikirimkan oleh Yusuf padanya. Tentu saja ini adalah cara untuk membuat David menjauhinya. [Datang aja ke rumah, Mama di rumah juga] Yunda. Ayunda tersenyum bahagia karena merasa ide kali ini akan berjalan dengan baik. "Kenapa?" tanya David yang melihat Ayunda tersenyum sambil memegang ponselnya. "Apaan sih, mau tau banget urusan orang!" *** Yusuf dan Rika pun telah tiba di kediaman orang tua Ayunda. Mereka datang dengan membawa banyak buah tangan. Wina pun cukup terkejut melihat kehadiran Yusuf dan sang ibu yang tidak memberitahukan padanya sebelumnya. Akan tetapi Wina tentunya merasa bahagia atas kehadiran Yusuf dan ibunya. "Silahkan masuk," Wina pun mempersilahkan keduanya untuk masuk. "Terimakasih," balas Rika sambil berjalan masuk. "Ayo du
Ayunda pun memasuki toko kosmetik. Dia langsung saja melihat beberapa make-up di sana. Kemudian dia pun menatap wajah David. "Mana bibirnya, aku mau nyobain yang warna ini," kata Ayunda. "Aku?" tanya David tak percaya. "Iyalah, siapa lagi?" "Tapi....." "Nggak mau?!" "Mau," David pun kembali menurut pada perintah Ayunda. Dia pun sedikit berjongkok dan Ayunda pun mulai memakai lipstik di bibirnya. Kacau! Gila! Aneh! Bukan lagi hal itu yang dipikirkan oleh David. Tapi rasanya begitu nyaman berdekatan dengan Ayunda seperti ini. Wajah Ayunda begitu dekat dengan dirinya, andai saja dia tidak memikirkan kemarahan Ayunda dia sudah melumat bibir itu. Meski sadar di tempat umum, tapi wanita ini benar-benar mudah membuatnya panas dingin. "Udah! Sana jauh-jauh!" ketus Ayunda. Saat itu Ken juga memegang hidung David, akhirnya David pun kembali menetralkan dirinya. "Mbak, kok dipakein ke suaminya?" ucap pramuniaga. "Ha?" Ayunda syok berat mendengar apa yang d
Masa bodo, mau pemilik mall, pemilik kuburan sekalian, bodo! Batin Ayunda. Kemudian dia pun mencari toko selanjutnya yang akan dia masuki. Toko dalaman khusus wanita. Ayunda pun tersenyum sambil menoleh pada David. "Ayu masuk," kata Ayunda. David pun terdiam sejenak saat berdiri di depan toko, sepertinya dia sedang berpikir di tempatnya. "Kamu nggak mau?!" "Mau," jawab David yang benar-benar pasrah, meskipun dia tengah begitu kesulitan dalam mengangkat semua barang belanja milik Ayunda. "Ya ampun, cowoknya ganteng banget," bisik seorang pramuniaga pada seorang temannya. Sedangkan temannya mengangguk membenarkan. Apa lagi jika mereka tahu saat ini mereka sedang bertemu dengan pemilik mall tersebut, sudah pasti mereka akan semakin terkagum-kagum. Tapi tidak semua orang tahu, hanya sebagian orang saja yang mengetahuinya. "Ada yang bisa saya bantu, Mbak? Mas?" tanya sang pramuniaga. Ayunda tahu pramuniaga tersebut tertarik pada David, dan itu tidak masalah bagi
"Dia manusia atau apa sih? Aku curiga dia itu titisan jalangkung," gerutu Ayunda yang tak hentinya sambil membayangkan wajah David. "Kamu kok basah kuyup?" tanya Tere yang tak sengaja bertemu dengan Ayunda di ruang keluarga. Tepatnya ketika Ayunda tengah melintas. "Ini karena jailangkung," jawabnya penuh kekesalan. "Jailangkung?" "Hem......Dia datang dan pergi tanpa ijin, siapa lagi kalau bukan ayah Ken," ucap Ayunda. "Kayaknya dia serius pengen balikan sama kamu ya, buktinya tidak ada hentinya berusaha untuk mendekati mu," kata Tere lagi. "Enggak ya, aku nggak mau balikan sama dia. Dulu juga dia mati-matian berusaha untuk dapatkan cinta aku. Tapi apa? Dia malah menyakiti aku," Ayunda seakan tak bisa melupakan semua yang telah dia lewati. David, Erwin keduanya sama saja. Sama-sama jahat ketika sudah mendapatkan keinginannya. Lupa pernah berusaha mati-matian untuk mendapatkan Ayunda. "Kamu gimana? Kak Zidan nggak nyakitin kamu kan?" tanya Ayunda yang justru penasara
Hari ini adalah hari libur, sehingga Ayunda tidak berangkat bekerja. Akan tetapi dia juga tidak bermalas-malasan, dia menyirami tanaman miliknya yang begitu indah. Ada banyak bunga mawar di sana. Dia sangat hobi berkebun dan menikmati keindahannya adalah hal yang tak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata. Ayunda juga memperbaiki beberapa bagian yang kurang bagus, dia merawat dengan penuh perasaan. Bahkan selama dia pergi pun bunganya masih sangat indah, sebab Wina ikut merawatnya. Ayunda pun tersenyum sambil mencium sebuah bunga mawar, dia menghirup aroma yang sangat menenangkan diri. Hiburan tersendiri yang sangat membahagiakan untuknya. "Selamat pagi, Bunda," sapa David. Ayunda yang sedang tersenyum bahagia menikmati keindahan pagi ini seketika berubah kesal. Tentunya karena kehadiran David yang sangat tidak diinginkan. Tidak tahu kenapa David sangat suka datang ke rumahnya, apakah pria tersebut tidak punya rasa malu? Entahlah. Putus asa, tapi dia juga ingin