Share

Bab 59

Author: Ipak Munthe
last update Last Updated: 2025-02-26 03:14:46

"Sepertinya pekerjaan kotor itu telah mendarah daging dalam diri wanita ini," gumamnya.

Dia pun tersenyum miring sambil memikirkan pekerjaan kotor Ayunda.

Rasanya tidak mungkin jika seorang wanita bersama dengan seorang pria tak melakukan hal tersebut.

Uang?

Itulah sebabnya, meskipun demikian cara kotor akan dia halalkan!

"Apa kabar?" sapa David.

Ayunda yang sudah berbalik badan pun seketika kembali memutar badannya.

Matanya melihat wajah David.

Dia tidak menyangka jika David ada di hadapannya.

Tapi apa tujuan pria ini, khusus menemuinya ataupun mungkin melihatnya tanpa sengaja.

Dari mana David tahu tempat tinggalnya sekarang?

Dan apa alasannya berada di hadapannya?

"Ada yang bisa saya bantu, Tuan David?" tanya Ayunda.

Sepertinya Ayunda sangat malas untuk bertemu apa lagi berbicara dengan David.

Tapi saat ini orang itu ada di hadapannya dan dia tak mau jika nanti pria ini mempermalukan dirinya.

"Ternyata kau tidak ada bedanya dengan wanita-wanita yang ada
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Nisa Nadzira
nunggu besook hhh
goodnovel comment avatar
Khairul Khairul
aku pengen di sambung kisah nya gio dan intat y Thor,,,aku tunggu di buku ini
goodnovel comment avatar
Eka Vesa Longa
Ayunda berhal bahagia kk Thor , biarkan dia bahagia bersama anak nya saja ...daripada David yg terus menghina nya ..
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 60

    Kemarin adalah hari libur, sedangkan hari ini pekerjaan kembali dimulai. Ayunda masih begitu bersemangat untuk bekerja, apa lagi dia baru mendapatkan pekerjaan. Sayangnya hari ini Tere tidak bisa menjemputnya karena sedang tidak enak badan, Ayunda pun terpaksa naik ojol. Tapi sebelum memesan ternyata Yusuf menghubunginya dan mengatakan mereka bisa berangkat ke kantor bersama-sama. Ayunda pun setuju apa lagi mengingat anaknya yang masih bayi. Dia kasihan pada anaknya jika terkena panas dan abu. Usia bayinya masih dua bulan, untuk bayi tentunya sangat rentan terhadap cuaca, apa lagi sempat dirawat di rumah sakit. Ayunda tak mau sampai terulang kembali, dia ingin anaknya sehat dan perkembangannya yang sesuai dengan usianya. "Hay," kata Yusuf yang kini tiba dan menyapa Ayunda dari mobilnya setelah menurutnya kaca jendela mobil. "Selamat pagi, Pak Bos," balas Ayunda yang juga sudah menunggu di depan kosan sambil menggendong anaknya. "Ayo berangkat." Ayunda pun segera

    Last Updated : 2025-02-26
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 61

    Duaarrr! Suara petir seakan menggema di sana dengan tiba-tiba, ucapan Ayunda yang seakan mengguncangkan dunia David dengan begitu mudahnya. Sampai dia terdiam larut dalam kebingungan. "Mana janji mu untuk bertanggungjawab setelah malam itu? Mana janji mu menikahi aku? Sampai akhirnya aku tahu aku hamil anak mu! Dan, saat itu aku pun tahu kamu telah dijodohkan dengan pilihan Ibumu. Lalu bagaimana dengan aku?" lanjutnya lagi. Apa lagi yang ingin didengar oleh David? Semua pertanyaan akan dijawab oleh Ayunda tanpa ragu. Agar David tahu penderitanya berawal dari tanggungjawab David terhadapnya hanya kebohongan saja. "Apa maksudmu?" tanya David dengan rasa bingung. Dia masih belum mengerti mengapa bisa Ayunda berkata demikian. "Jika kau tidak mencintaiku saat itu, kenapa kau menyatakan cinta padaku? Kau memainkan perasaan ku seakan-akan akulah wanita yang paling kau cintai. Tapi apa? Nyatanya aku hanya sebatas cadangan mu saja!" Sepertinya David tidak bisa berkata-kat

    Last Updated : 2025-02-27
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 62

    Air mata Ayunda tidak bisa berhenti menetes padahal dia sudah berusaha untuk menghentikannya. Bahkan berulangkali tangannya menyeka air matanya. "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Yusuf yang justru khawatir dengan keadaan Ayunda. "Iya," kata jawab Ayunda. Meskipun sebenarnya dia masih terlalu sakit dengan apa yang dilakukan oleh David padanya. Membuat Yusuf pun kembali menepikan mobilnya, akan tetapi kini mereka sudah sangat jauh dari tempat sebelumnya dimana bertemu dengan David. Yusuf merasa tidak mungkin melanjutkan perjalanan menuju kantor dengan keadaan Ayunda saat ini. Sebenarnya Yusuf tahu jika keadaan Ayunda sedang tidak baik-baik saja, namun dia hanya ingin memastikan. Tapi sepertinya Ayunda memilih untuk tidak mengatakan bahwa dia masih terlalu terluka. Bagaimana mungkin Ayunda tidak apa-apa setelah kejadian tadi, jika memang baik-baik saja tentunya tidak akan menangis seperti ini. Jelas terlihat dia sangat sulit untuk menghentikan air matanya yang terus sa

    Last Updated : 2025-02-27
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 63

    Semetara ditempat lain David masih belum bisa melupakan semua yang dikatakan oleh Ayunda. Semua ucapan Ayunda seakan menjadi teror yang mengerikan dalam hidupnya. Selama ini belum ada yang membuatnya menjadi seperti ini. Apa yang dia dengar seperti bom yang meledak diwaktu yang telah ditentukan. Tidak pernah terbayangkan hari ini akan seperti ini, sebuah kenyataan yang membuatmu tidak bisa berkata-kata. Terdiam sambil mendengarkan semua ucapan Ayunda. Tidak seperti biasa yang dengan lantang bicara tanpa perduli pada perasaan Ayunda. Ada apa? Ada kenyataan yang lebih mengerikan! Semuanya benar-benar diluar akal sehatnya. Ternyata David sudah memiliki seorang anak? Lalu bagaimana dengan Ayunda yang selama ini dia jadikan sebagai pembantu di rumahnya? Keadaan Ayunda sedang hamil. Ternyata semuanya sangat mengerikan sekali. "Anak haram yang kau hina itu adalah anak mu sendiri!" Begitulah ucapan Ayunda sebelumnya. Ucapan yang diulang oleh Ayunda karena ucapan David

    Last Updated : 2025-02-27
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 64

    Ayunda sudah menunggu di salah satu rumah sakit ternama, dia duduk sambil memangku putranya. David datang atau tidak Ayunda tak memaksa, hanya saja ini kesempatan pertama dan terakhir kalinya dia membuktikan apa yang dia katakan tentang anaknya. Jadi, terserah pada David. Namun, seandainya David tidak datang artinya tidak ada yang namanya kesempatan kedua. Jangan lagi berharap agar Ayunda bisa bermurah hati untuk menuruti keinginan David ketika ingin bukti. Diakui sebagai anak atau tidak, tidak menjadi masalah untuk Ayunda. Dia hanya ingin ketentraman hidup, tanpa David untuk selamanya. Ternyata tak lama kemudian David pun datang, melihat Ayunda yang duduk di kursi tunggu sambil memangku putranya. Mata David tertuju pada wajah bayi mungil di pangkuan Ayunda. Kemiripan mereka terlihat jelas dan akan diperkuat dengan hasil tes DNA. Justru orang-orang yang mungkin lebih percaya pada ucapan Ayunda dari pada hasil tes DNA yang jika mengatakan tidak benar. Wajah dan ma

    Last Updated : 2025-03-01
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 65

    "Om pulang ya," pamit Yusuf setelah sejak tadi bermain dengan baby Ken. "Hati-hati di jalan, Om," balas Ayunda yang menirukan suara anak kecil sambil menggendong bayinya. Kemudian Yusuf pun masuk ke dalam mobilnya lalu pergi. Sesaat setelah mobil Yusuf melaju David pun turun dari mobilnya dan segera menghampiri Ayunda yang hendak masuk kembali. Akan tetapi langkah kakinya terhenti karena ada David. "Hay," sapa Tere yang juga baru sampai di kost Ayunda. "Masuk yuk," kata Ayunda pada Tere. Dia sepertinya mengabaikan David yang padahal jelas berdiri tak jauh darinya. Karena baginya David hanya angin lalu, bagaimana dulu David memperlakukan nya begitu pula rasa bencinya. Semetara Tere belum menyadari ternyata yang ada di sana adalah ayah biologis dari anak Ayunda. Namun, tak lama kemudian David pun memanggilnya kembali. "Yunda," panggilnya. Kali ini bukan hanya langkah kaki Ayunda yang berhenti melangkah, tapi juga langkah kaki Tere. Namun, Ayunda tidak bersuara

    Last Updated : 2025-03-01
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 66

    "Ayolah, Yunda. Kita tinggal bareng aja soalnya aku juga kesepian kalau di rumah sendiri terus," pinta Tere. Sejak tadi Tere terus saja membujuknya untuk tinggal bersama di apartemennya dengan alasan dirinya kesepian di rumahnya. Ya mungkin itu benar tapi Ayunda yang masih merasa ragu. Untuk sesaat Ayunda pun mencoba untuk mengimbangi ajakan sahabatnya. Dia merasa tidak enak hati jika tinggal di rumah Tere. Dia merasa hanya menjadi beban saja. "Ayunda, ayolah. Lagian kalau tinggal di tempat aku, selain aku punya teman, Ken juga punya ruangan yang lebih luas, bukannya gimana, tapi kamu sayangkan sama dia?" "Tapi aku nggak mau jadi beban kamu." "Nggak sama sekali. Justru kamu bisa bantu aku, aku sendiri nggak punya temen, keluarga juga nggak punya." Tere pun tertunduk karena kenyataan memang tidak tahu siapa keluarga kandungannya. "Kamu maukan jadi keluarga aku?" pinta Tere penuh haru. Karena dia merasa Ayunda begitu baik, sehingga Ayunda bisa menganggapnya seperti sa

    Last Updated : 2025-03-02
  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 67

    Yusuf pun menggelengkan kepalanya karena sang Mama. Kemudian dia pun tersenyum malu pada Ayunda sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Kamu jahat banget sih, orang tua sendiri kok dibohongi," omel Ayunda. "Aku dijodohkan dengan gadis jelek, cerewet dan yang parahnya sedikit gila," ucap Yusuf sambil mengingat wajah wanita tersebut. "Kamu kok bisa ngomong gitu? Aku nggak nyaka sih," kata Ayunda. "Gimana nggak kesal, pas pertemuan pertama aja aku udah dipukul pakai sapu. Gimana coba nasib aku sampai akhirnya menikah dengan dia? Sengsara seumur hidup," keluh Yusuf. "Ahahaha," Ayunda pun tertawa kecil mendengar keluhan Yusuf. Belum lagi raut wajahnya yang tampak sangat menyedihkan. "Kamu tega banget sih ngetawain aku terus." "Abisnya gimana ya." Saat itu ponsel Ayunda pun berdering dan dia pun menjawabnya. "Halo," jawab Ayunda. Tak ada suara dari seberang sana, padahal beberapa kali Ayunda bersuara. "Halo!" Kata Ayunda lagi untuk yang kesekian kalinya, kemudian pang

    Last Updated : 2025-03-02

Latest chapter

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 122

    Ayunda duduk di balkon kamarnya sambil melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin yang dipasang langsung oleh Rika sebagai tanda hubungannya dan Yusuf sudah sangat serius. Cincin tersebut terlihat sangat cantik dan juga begitu pas di jari-jari Ayunda. Hanya saja semuanya hanya pura-pura, Ayunda juga tidak tahu sampai kapan dia bisa membuka hatinya untuk pria. Jatuh cinta dan bahagia. Namun, untuk sekarang ini tidak terpikirkan untuk jatuh cinta lagi pada lelaki manapun. Traumanya masih begitu dalam hingga sulit untuk bisa sembuh kembali. Huuuufff. Ayunda pun menarik napas panjang sambil menikmati udara malam yang cukup dingin, rintik hujan membasahi bumi seakan tahu bahwa Ayunda tengah berada di dalam kesunyian malam. Hingga saat itu terbesit di pikirannya untuk melakukan sesuatu. Dia pun memotret cincin di jarinya dan mengirimkan di aplikasi berwarna hijau. Siapun bisa melihatnya, tapi tujuannya adalah David. Dia sangat berharap David melihatnya.

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 121

    "Hey, kamu!" terdengar suara Zidan membuat Ayunda dan Tere pun menoleh. Tentu saja yang dia panggil adalah Tere. Tapi Ayunda yang kesal saat mendengarnya. "Kak Zidan, manggil siapa? Kami punya nama!" sinisnya Tapi Zidan tidak perduli dengan ucapan sang adik yang dia ingin temui adalah Tere. "Kenapa kau belum menyetrika pakaian ku?!" tanyanya. Tere pun merasa bingung mendengar ucapan Zidan, karena sebelumnya sudah mengerjakan apa yang diminta oleh pria yang tak lain suaminya itu. Seorang suami yang benar-benar tidak dia inginkan. Pernikahan tanpa cinta dan perkenalan lebih dalam, keduanya benar-benar asing. Namun, mengapa Zidan mengatakan belum menyetrika pakaian yang dia minta? Jelas-jelas Tere sudah melakukannya. "Kamu mendengar saya bicara atau tidak?!" tanya Zidan lagi karena Tere masih diam saja. "Maaf, Kak. Tapi, tadi Tere udah ngerjain kok. Sekarang bajunya ada di atas ranjang," jawab Tere. "Udah kamu bilang? Udah apanya?!" "Kak Zidan, apa sih? Biasan

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 120

    Ting! Suara ponsel Ayunda dan ternyata Yusuf yang mengirimkan sebuah pesan. [Yunda, Mama ngotot pengen ketemu dengan Mama kamu, bisa tolongin aku nggak?] Yusuf. Ayunda pun tersenyum setelah membaca isi pesan yang dikirimkan oleh Yusuf padanya. Tentu saja ini adalah cara untuk membuat David menjauhinya. [Datang aja ke rumah, Mama di rumah juga] Yunda. Ayunda tersenyum bahagia karena merasa ide kali ini akan berjalan dengan baik. "Kenapa?" tanya David yang melihat Ayunda tersenyum sambil memegang ponselnya. "Apaan sih, mau tau banget urusan orang!" *** Yusuf dan Rika pun telah tiba di kediaman orang tua Ayunda. Mereka datang dengan membawa banyak buah tangan. Wina pun cukup terkejut melihat kehadiran Yusuf dan sang ibu yang tidak memberitahukan padanya sebelumnya. Akan tetapi Wina tentunya merasa bahagia atas kehadiran Yusuf dan ibunya. "Silahkan masuk," Wina pun mempersilahkan keduanya untuk masuk. "Terimakasih," balas Rika sambil berjalan masuk. "Ayo du

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 119

    Ayunda pun memasuki toko kosmetik. Dia langsung saja melihat beberapa make-up di sana. Kemudian dia pun menatap wajah David. "Mana bibirnya, aku mau nyobain yang warna ini," kata Ayunda. "Aku?" tanya David tak percaya. "Iyalah, siapa lagi?" "Tapi....." "Nggak mau?!" "Mau," David pun kembali menurut pada perintah Ayunda. Dia pun sedikit berjongkok dan Ayunda pun mulai memakai lipstik di bibirnya. Kacau! Gila! Aneh! Bukan lagi hal itu yang dipikirkan oleh David. Tapi rasanya begitu nyaman berdekatan dengan Ayunda seperti ini. Wajah Ayunda begitu dekat dengan dirinya, andai saja dia tidak memikirkan kemarahan Ayunda dia sudah melumat bibir itu. Meski sadar di tempat umum, tapi wanita ini benar-benar mudah membuatnya panas dingin. "Udah! Sana jauh-jauh!" ketus Ayunda. Saat itu Ken juga memegang hidung David, akhirnya David pun kembali menetralkan dirinya. "Mbak, kok dipakein ke suaminya?" ucap pramuniaga. "Ha?" Ayunda syok berat mendengar apa yang d

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 118

    Masa bodo, mau pemilik mall, pemilik kuburan sekalian, bodo! Batin Ayunda. Kemudian dia pun mencari toko selanjutnya yang akan dia masuki. Toko dalaman khusus wanita. Ayunda pun tersenyum sambil menoleh pada David. "Ayu masuk," kata Ayunda. David pun terdiam sejenak saat berdiri di depan toko, sepertinya dia sedang berpikir di tempatnya. "Kamu nggak mau?!" "Mau," jawab David yang benar-benar pasrah, meskipun dia tengah begitu kesulitan dalam mengangkat semua barang belanja milik Ayunda. "Ya ampun, cowoknya ganteng banget," bisik seorang pramuniaga pada seorang temannya. Sedangkan temannya mengangguk membenarkan. Apa lagi jika mereka tahu saat ini mereka sedang bertemu dengan pemilik mall tersebut, sudah pasti mereka akan semakin terkagum-kagum. Tapi tidak semua orang tahu, hanya sebagian orang saja yang mengetahuinya. "Ada yang bisa saya bantu, Mbak? Mas?" tanya sang pramuniaga. Ayunda tahu pramuniaga tersebut tertarik pada David, dan itu tidak masalah bagi

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 117

    "Dia manusia atau apa sih? Aku curiga dia itu titisan jalangkung," gerutu Ayunda yang tak hentinya sambil membayangkan wajah David. "Kamu kok basah kuyup?" tanya Tere yang tak sengaja bertemu dengan Ayunda di ruang keluarga. Tepatnya ketika Ayunda tengah melintas. "Ini karena jailangkung," jawabnya penuh kekesalan. "Jailangkung?" "Hem......Dia datang dan pergi tanpa ijin, siapa lagi kalau bukan ayah Ken," ucap Ayunda. "Kayaknya dia serius pengen balikan sama kamu ya, buktinya tidak ada hentinya berusaha untuk mendekati mu," kata Tere lagi. "Enggak ya, aku nggak mau balikan sama dia. Dulu juga dia mati-matian berusaha untuk dapatkan cinta aku. Tapi apa? Dia malah menyakiti aku," Ayunda seakan tak bisa melupakan semua yang telah dia lewati. David, Erwin keduanya sama saja. Sama-sama jahat ketika sudah mendapatkan keinginannya. Lupa pernah berusaha mati-matian untuk mendapatkan Ayunda. "Kamu gimana? Kak Zidan nggak nyakitin kamu kan?" tanya Ayunda yang justru penasara

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 116

    Hari ini adalah hari libur, sehingga Ayunda tidak berangkat bekerja. Akan tetapi dia juga tidak bermalas-malasan, dia menyirami tanaman miliknya yang begitu indah. Ada banyak bunga mawar di sana. Dia sangat hobi berkebun dan menikmati keindahannya adalah hal yang tak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata. Ayunda juga memperbaiki beberapa bagian yang kurang bagus, dia merawat dengan penuh perasaan. Bahkan selama dia pergi pun bunganya masih sangat indah, sebab Wina ikut merawatnya. Ayunda pun tersenyum sambil mencium sebuah bunga mawar, dia menghirup aroma yang sangat menenangkan diri. Hiburan tersendiri yang sangat membahagiakan untuknya. "Selamat pagi, Bunda," sapa David. Ayunda yang sedang tersenyum bahagia menikmati keindahan pagi ini seketika berubah kesal. Tentunya karena kehadiran David yang sangat tidak diinginkan. Tidak tahu kenapa David sangat suka datang ke rumahnya, apakah pria tersebut tidak punya rasa malu? Entahlah. Putus asa, tapi dia juga ingin

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 115

    Tere baru saja sampai di apartemennya tapi ternyata ada Erwin yang berdiri di sana. Tere tidak tahu apa tujuan sang Kakak menemuinya. Namun, dia berharap jika Erwin memberikan kabar tentang Mama mereka. Dengan langkah yang cepat Tere pun berjalan ke arah Erwin yang masih berdiri di depan pintu apartemennya. "Kak Erwin," katanya sambil tersenyum pada sang Kakak. "Aku mau bicara." Tere pun mengangguk cepat, kemudian dia pun membukakan pintu agar mereka bisa berbicara di dalam. Setelah Tere masuk Erwin juga ikut masuk. Mereka masih berada di dekat pintu yang terbuka lebar. "Kak, kabar Mama gimana?" tanya Tere tak sabar. "Mama koma, kamu mau bertemu dengan Mama?" tanya Erwin. "Iya, Kak," Tere pun mengangguk cepat karena dia juga sangat merindukan ibunya. "Kamu harus membuat Ayunda mau kembali pada ku!" ucap Erwin. Tere pun dibuat terkejut mendengar ucapan sang Kakak. Rasanya sangat tidak mungkin karena dulunya Erwin sudah sangat yakin menceraikan Ayunda. Bahk

  • Aku Bukan Wanita Nakal, Tuan Pewaris Terhormat!   Bab 114

    "Anak Bunda," seru Ayunda sambil menciumi seluruh wajah sang putra. Tidak bertemu sejak kemarin membuatnya menahan rindu yang begitu besar. Saat itu Ayunda memeluk sang anak dengan begitu erat. Berulangkali Ayunda mencium pipi mungil putranya, rasanya belum juga puas. "Yunda, apa benar Kakak kamu sudah menikah dengan Tere?" tanya Wina secara langsung. Dia sudah sangat penasaran hingga tak mampu lagi menahan rasa penasarannya. Saat itu Ayunda pun mulai menatap wajah sang Mama dengan serius. Artinya Zidan sudah menceritakan apa yang dia alami di desa. "Kak Zidan udah cerita?" tanya Ayunda kembali. "Iya, kemarin katanya dia menyusul kamu karena ingin melindungi kamu dari David. Tapi, ternyata sesampainya di sana terjadi insiden yang tak terduga, dia di paksa untuk menikah dengan Tere, pagi tadi Kakak mu pulang dengan wajah yang lelah dan Mama juga syok mendengarnya," terang Wina dengan panjang lebar. Wajah Wina juga penuh kekecewaan mengetahui bahwa anaknya menikah den

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status