Home / Rumah Tangga / Air Mata di Hari Persandingan / Chapter 5. Peringatan untuk Bramantyo

Share

Chapter 5. Peringatan untuk Bramantyo

Author: Al Kahfi
last update Last Updated: 2025-01-12 13:33:12

Melihat wanita itu hanya diam meskipun dengan wajah merah padam menahan amarah, Aisyah pun kembali berucap,

“Anda tau tempat yang paling disukai sayton? Yaitu kamar mandi dan segala macam teman-temanya, dan di tempat itulah kalian membicarakan tentang asmara terlarang kalian ini, sungguh sangat rendah sekali tempat kalian di muka bumi, apalagi di akhirat nanti, innalillahi,” ucap Aisyah lagi. 

"Jaga bicaramu wanita perebut kekasih orang!”

"Dan jaga attitude-mu wanita penggoda suami orang!”

Wanita itu tidak peduli, lalu mendorong tubuh Aisyah hingga wanita berhijab itu hampir saja jatuh. 

"Bram, Bram, keluarlah, ini aku Soffi datang, bukankah kamu sudah berjanji untuk bertemu denganku siang ini? Bram!” Soffi terus saja memanggil nama Bramantyo dengan berteriak. 

Aisyah tersenyum tipis, dia melihat tak ada pergerakan dari dalam kamar sang suami. 

"Apa perlu saya panggilkan pihak keamanan apartemen ini untuk membantu Anda keluar, Nona?” 

"Bram!" teriak Soffi dengan langkah setengah berlari, namun langkah kakinya terhenti saat melihat Bramantyo keluar hanya dengan mengenakan boxer dengan panjang di atas lutut bahkan tanpa atasan yang sukses menampilkan otot otot sixpack milik pria itu. 

"Kamu sedang bicara sama siapa sih, Ai? Kenapa berisik sekali, aku capek mau istirahat!" ucapnya dengan mata yang belum terbuka sempurna. Jalannya pun masih sedikit sempoyongan. 

Aisyah tersenyum simpul mendengar ucapan sang suami yang diyakini nyawanya belum terkumpul seratus persen, hingga kalimatnya sedikit ngelantur itu. 

"Kamu dengar sendiri,kan? Aku tidak sedang berbohong, suamiku capek, mau tidur,jadi silakan anda keluar, masih gak percaya juga? Apa butuh bukti tanda perhelatan akbar yang kami gelar semalam di atas ranjang, iya?” ucap Aisyah yang kini sudah kembali berdiri. 

"Dasar wanita sialan, kamu akan merasakan apa yang aku rasakan hari ini!” kata Soffi masih tak terima, jika Bramantyo ternyata tak menghiraukannya karena Aisyah. 

"Seharusnya Anda sadar, bahwa ini adalah buah dari benih yang Anda semai, tidak usah membenarkan kesalahan Anda dengan hasil yang tidak sesuai dengan rencana kalian, karena percuma, kamu hanya akan merasakan lelah tanpa adanya hadiah, apalagi pengakuan."

Soffi berlalu tanpa mengucapkan kalimat apapun lagi kepada Aisyah, sementara Aisyah bergegas masuk ke dalam kamar, di sana kini Bram sudah kembali terlelap.

"Sepertinya Mas Bram benar-benar kelelahan, biar aku telepon Papa agar Mas Bram bisa istirahat saja hari ini,” ucap Aisyah, kemudian wanita dengan ukuran tubuh setinggi dada Bramantyo itu pun maraih benda pipih miliknya yang tergeletak di atas nakas. 

"Assalamu'alaikum, Pa, ini Aisyah.”

"Iya Ai, ada apa menghubungi, Papa? Bram-nya mana, apa dia pulang ke rumah tadi malam?"

Aisyah terdiam,"Rupanya Papa yang memerintahkan Mas Bram pulang ke rumah malam tadi, pantas saja, tapi luka di lengannya itu, siapa yang sudah melakukannya?" kata Aisyah biingung di dalam hati. 

"Ai, apa kamu masih di situ, kenapa nggak jawab pertanyaan Papa, apa Bram nggak pulang semalam?" 

"Mas Bram pulang kok, Pa, dan sekarang kami sedang ada di apartemennya-nya Mas Bram."

"Apartemen? Kenapa nggak pulang ke rumah Papa saja? Mana Bram? Anak itu memang selalu saja gegabah, apa tidak bisa bicara dulu sama orang tua sebelum bertindak?” kata ayah mertua Aisyah kesal. 

"Mas Bram sedang tidur, Pa, sepertinya Mas Bram  kelelahan, Pa."

"Kelelahan apa maksudmu Ai?”

Aisyah terdiam, rupanya ucapan yang dia lontarkan kepada Soffi tadi masih terngiang-ngiang hingga saat ini dan berakhir keceplosan ketika ia sedang berbicara dengan mertuanya. 

"Bukan seperti itu, Pa, maksud Aisyah, Mas Bram pulang ke rumah dengan tangan terluka, Pa." Aisyah coba untuk mengalihkan pertanyaan papa mertuanya itu. 

"Ya sudah, pulang dari kantor Papa sama Mama akan ke tempat kalian!"

"Terima kasih, Pa!"

Aisyah sedikit tenang kini, setidaknya ada papa mertua yang mulutnya tak setajam sembilu, bagaikan ibu mertua dan suaminya itu. 

Aisyah membereskan semua pakaiannya dan juga pakaian Bramantyo untuk ia masukan kedalam walk in closet yang ada di apartemen Bramantyo ini. 

"Kamu masak apa Ai? Aku lapar nih."

Aisyah bergegas mendekati sang suami yang sudah segar setelah mandi siang ini. 

"Adanya ini, Mas." Aisyah menunjukan layar ponsel yang menampakan telur dan sosis dalam lemari pendinginnya. 

"Ya sudah, kita makan di luar saja, cepatlah ganti pakaian dan hijabmu itu, jangan terlalu lama, aku bukan pengangguran dengan segudang waktu."

Aisyah segera bergegas, namun sedetik kemudian dia berhenti lalu menoleh kepada sang suami. 

"Apa lagi?" Bram tampak semakin kesal. 

“Bukannya ganti baju, malah diam kayak patung pancoran saja. Apa?” kata Bramantyo lagi. 

"Aku lupa bilang sama kamu, Mas."

"Kalau ngomong itu langsung ke intinya saja nggak usah pake mukadimah juga kal,i Ai, kayak mau minta surat cerai saja kamu!”

"Astaghfirullah, perumpamaan mu kenapa horror banget sih Mas, nggak ada kalimat yang lain apa?" ucap Aisyah dengan wajah terkinja tak percaya. 

"Ya udah buruan ganti, tunggu apalagi?” 

"Papa sama Mama akan ke sini sepulang dari kantor Mas."

Bram segera menutup laptopnya. 

"Pasti kamu ngomong macem-macem sama Papa, kan? Sudah aku duga, mana buktinya kamu bilang tidak akan mengadukan apapun tentang rumah tangga kita ini? Tong kosong nyaring bunyinya, nyatanya kamu nggak tahan, kan?"

"Aku bilang sama Papa, jika kamu pulang dengan tangan terluka, hanya itu, Mas, tidak ada lainnya lagi, apalagi tentang si ulat bulu sekretarismu itu, aku sama sekali tidak menyinggung nya barang secuilpun!”

"Ulat bulu, maksud mu Soffi, kapan dia menemuimu, kenapa tidak memberitahuku?"

"Sebegitu antusiasnya dirimu, Mas, bahkan saat aku belum menyebut namanya pun kamu sudah langsung menebak bahwa itu adalah dia, girangnya seperti kucing melihat ikan asin bakar!" 

Aisyah kesal melihat ekspresi Bram yang langsung bersemangat manakala mendengar ia menyinggung tentang wanita selingkuhannya itu. 

"Heh, aku bukan kucing ya, dan dia bukan ikan asin!” kata Bramantyo menolak ucapan Aisyah. 

"Belain terus, kamu rela meninggalkan yang halal, demi yang haram, Mas, teruskanlah! 

Iya, dia ke sini tadi pagi, tapi kamunya tidur, tentu aku tidak mengizinkannya untuk masuk ke kamar kita, apalagi mengganggu istirahatmu!"

Tit, tit, tit! 

Bram segera menarik Aisyah agar tidur di pangkuannya kini. 

"Akan aku bayar mahal jika kamu berhasil memerankan sandiwara kita kali ini dengan sempurna, Ai, sekarang pejamkan matamu, pura-pura tidur saja!” kata Bramantyo memberi perintah kepada Aisyah. 

"Aku tidak mau dibayar dengan uang ya, jangan ingkar janji!”

"Laki-laki yang dipegang adalah janjinya!” cakap Bramantyo berusaha meyakinkan Aisyah. 

"Bram, Aisyah, di mana kalian?" Suara seorang perempuan terdengar  semakin  dekat. 

"Mama, Papa, maaf Aisyah ketiduran di sini. Mas kenapa kamu nggak bangunin aku?” Aisyah bangun, lalu membenahi hijabnya yang sedikit berantakan dan hal itu pun diikuti pula oleh Bramantyo. 

"Mas tau kamu baru saja terlelap, mana tega membangunkanmu, Ai?” Mereka kini menjadi perhatian kedua mama dan papa Bramantyo. 

"Handphonemu mana, Bram, kenapa Papa hubungi nggak ada respon dari semalam?" ucap sang ayah. 

"Handphone Bram hilang, Pa," jawab Bramantyo bicara jujur.

"Di mana, kapan?" 

"Tadi malam di Cafe, Pa, maaf!" kata Bramantyo dengan kepala tertunduk. Sesekali ia melihat kepada Aisyah yang ternyata juga tengah menoleh kepada dirinya. 

"Kamu dugem, Bram? Terus Aisyah kamu tinggal di rumah di malam pertama kalian? Benar itu, Ai?" ucap sang ayah menatap bergantian kedua anak dan menantunya itu. 

"Kenapa harus sedini ini peran sandiwaraku dimainkan? Lalu aku harus jawab apa? Sedangkan Mas Bram sendiri sudah mengakui awal perbuatannya itu terhadap papa," bathin Aisyah dalam diamnya. 

"Ai, Papa tanya, dan kamu jangan coba-coba melindungi sontoloyo ini ya," ucap l sang papa dengan pandangan mata jengah kepada Bramantyo. 

"Pa?" Kini giliran sang mama yang protes atas ucapan suaminya tersebut. 

"Mama juga, stop membela Bram, dia harus bisa bertanggung jawab, sekarang dia adalah kepala keluarga, bukan anak manja yang bisa semaunya sendiri, dia pikir menikah itu cuma urusan ranjang saja apa? Kayak ABG baru disunat saja, lihat lintingan tembakau langsung ileran!"

"Papa perumpamaannya kenapa sadis banget sih, Pa? Bram mana pernah ngisep tembakau?” kata Bramantyo tak terima dengan perumpamaan yang diucapkan papanya. 

"Itu karena otakmu yang sudah nggak beres, Bram, sebenarnya masih banyak perumpamaan yang lebih sadis lagi yang akan Papa ungkapkan di sini. 

Inget, orang-orang kepercayaan Papa,24 jam mengawasi kamu secara bergantian, jadi percuma jika kamu ingin mengelabui Papa!” 

“Aisyah!” kata sang mertua, yang kini berganti tatap kepada menantunya itu. 

Aisyah mendongak, menunggu kalimat dari bibir Papa mertuanya tersebut. 

"Mulai sekarang, apapun yang suami kamu lakukan, jika itu bertentangan dengan kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang suami, jangan takut untuk menghubungi Papa, kamu istri sahnya bukan istri siri apalagi hanya sekedar wanita simpanan. Jangan mau harga dirimu diinjak-injak oleh wanita lain!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 6. Di rumah sakit

    "Ingat pesan Papa, Ai, nggak usah takut sama crocodile cap biawak macam Bram ini," ucap Umar lalu melihat sekilas kepada Bram. "Ini sebenarnya yang anak Papa, Bram apa Aisyah sih? Kenapa merasa jadi anak tiri begini?" kata Bramantyo merasa tak terima dengan ucapan sang papa yang selalu saja menjelekkan dirinya. "Diem kamu. Benerin dulu kelakuanmu, baru boleh mengajukan keberatan!" hardik sang Papa. Aisyah tersenyum, sungguh sebenarnya ia merasa sangat berdosa karena telah menertawakan suaminya sendiri. Sementara Bram hanya diam. Setelah kedua orang tuanya pergin, Bramantyo dan juga Aisyah pun kembali masuk ke dalam apartemen mereka. "Mas, boleh aku lihat luka di lenganmu?" tanya Aisyah yang kini ikut duduk di samping Bramantyo. "Nggak usah sok perhatian, kamu pasti bahagia banget, kan, karena sekarang Papa ada di pihakmu?" ucap Bramantyo dengan tatapan tak suka, namun Aisyah hanya menggeleng. "Halah, nggak usah ngelak, percuma aku nggak akan percaya!" kata Bramantyo

    Last Updated : 2025-01-31
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 7. Di mana urat malunya?

    Aisyah terdiam, tubuhnya membeku dengan bibir mengatup, meskipun rasa sakit di dalam hatinya itu sungguh begitu payah u untuk dia lerai, namun dia harus tetap tenang dalam air mata yang menggenang di dalam perasaan dan juga hatinya. "Soffi?" Bramantyo segera berdiri, namun tidak melangkah dan hanya diam di tempat. "Bram, tadi pagi aku ke apartemenmu lho, tapi istri kontrakmu ini menghalangi jalanku," kata Soffi menunjuk Aisyah dengan tatapan sinis penuh kebenciannya. "Ikut aku!"Bramantyo menarik tangan Soffi pelan. "Apa sih, Bram? Kenapa main tarik-tarik kayak gini? lepasin, sakit!" rintih Soffi yang terus mengusapi pergelangan tangannya. "Kita akan bicara, tapi bukan sekarang dan bukan di sini juga, orang-orang papaku selalu mengawasi gerak-gerikku, aku nggak mau kamu jadi sasaran kemarahan Papa.Untuk hari-hari ke depan jangan dulu menghubungi apalagi menemuiku, interaksi kita cukup di k

    Last Updated : 2025-02-01
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 8. Luka tak berdarah

    Mendengar ucapan itu, Soffi pun meradang, ia kepal tangannya, lalu mendekat, "Heh, aku gak bicara sama kamu ya, jadi ucapanmu itu gak dibutuhkan di sini, lebih baik diam!" kata Soffi dengan nafas angup-angip naik-turun. "Kamu memang tidak sedang berbicara denganku, Nona. Akan tetapi, tolong jangan pura-pura lupa ingatan ataupun amnesia jika saya ini adalah istri dari pria yang dengan tidak tahu malunya Anda cintai dan ingini!" kata Aisyah telak. Soffi terdiam, matanya membelalak dengan bibir membisu, ia akan kembali bicara, namun, "Mas, apa sudah paripurna hasilnya?" kata Aisyah. Namun, tak ada jawaban ataupun pergerakan dari suaminya, hingga wanita bertubuh mungil itu pun memilih pergi pergi meninggalkan suami bersama gundiknya tersebut. "Bram, jangan tinggalin aku!" Bramantyo berhenti sejenak, tubuhnya mematung tanpa menoleh. "Aku harus menyusul istriku, Soffi, maaf!" katanya, lalu kembali mengayunkan langkah kakinya, bergegas. "Tapi aku kangen Bram, ayolah, aku

    Last Updated : 2025-02-01
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 9. Menyerah?

    "Mikirin apa?" Aisyah tersadar dari lamunannya, ternyata ucapannya tadi hanya mampu dia ucapkan di dalam hatinya saja. Menggenggam luka yang tak berdarah, namun sanggup membuat jiwanya melara payah. Malam semakin larut, tak ada lagi suara apa pun yang akhirnya semakin membuat kesunyian dan kesedihan Aisyah semakin menggunung. "Ponselku!" ucapnya, lalu wanita dengan piyama merah muda itu lekas meraih ponsel yang masih ada di dalam tas punggungnya tadi. "Pesan? Ini nomor siapa?" kata Aisyah saat melihat sebuah pesan berikut gambar di layar ponselnya. Brak! Benda pipih itu pun jatuh meluruh ke lantai bersamaan dengan tubuh pemiliknya. "Ternyata dugaanku benar, Robb. Apa yang harus hamba lakukan?" katanya dengan dada yang

    Last Updated : 2025-02-02
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 10. Aku istrimu, tapi kamu melupakannya!

    "Kita lihat saja, siapa yang akhirnya menjadi pemenang di antara kita berdua, Nona, aku atau kamu? Aku dengan dosaku, dan kamu dengan kebodohanmu!" Aisyah menutup layar ponselnya, sudah tak berniat lagi untuk membalas hujatan dari Soffi melalui pesan singkatnya itu. Malam begitu sunyi, denting jam yang biasanya akan kalah dengan hiruk pikuk bahkan hanya sekedar suara bisikan saja, akan tetapi kali ini, Aisyah bisa mendengar dengan jelas suara detik dan menit itu terus melaju meninggalkan sang waktu. "Mas, cepat pulang!" ucapnya dengan suara lirih dan bibir yang bergetar. Sementara itu di tempat berbeda, "Gak nginep di sini? Ini udah hampir pagi lho, Bram, istri kontrakmu itu juga pasti udah ngorok daritadi!" Soffi terus merayu Bramantyo yang terus saja berjalan ke luar kamarnya. "Sebenarnya iya, tapi, aku udah bilang kalau akan pulang meskipun larut, udah ya, cukup untuk malam ini. B

    Last Updated : 2025-02-03
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 11. Di hotel

    "Pacar kamu, Mas!" Sungguh, bibir dan hati Aisyah tidaklah bisa diajak untuk saling satu rasa kali ini. Bibirnya tersenyum, tapi hatinya menangis, tangis yang tak ingin dia tampakan di depan siapa pun, terutama wanita yang bergelar pacar gelap suaminya itu. Bram menoleh, tatapannya datar namun tersirat sebuah kekhawatiran di dalamnya. "Hanya ingin mengingatkan, malaikat yang ada di bahu kanan dan kirimu gak pernah libur!" Setelah berucap demikian, Aisyah memilih untuk melanjutkan langkah kakinya seorang diri. Menoleh sekilas , dan rupanya Bram tak memedulikan langkahnya itu. "Aku berdoa, karma itu tidak pernah berlaku untuk dirimu, Mas. Tuhan, tolong panjangkan rasa sabarku agar lebih ikhlas dalam membenarkan jalan suamiku yang keliru melalui tuntunanmu, bukan dengan ego dan amarahku," kata Ais

    Last Updated : 2025-02-04
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 12. Rencana Soffi

    "Kamu?" Soffi memelototkan matanya, wanita itu tetap memaksa untuk duduk di samping Bram, namun, Leo tak tinggal diam. "Apa Anda ingin posisi Anda di kantor digantikan dengan orang lain? Baiklah!" Tut! Panggilan suara di ponsel Leo pun berdering. "Oke!" kata Soffi yang akhirnya harus duduk di samping Leo. Wajah wanita itu tampak tak suka dengan rahang mengejang. Sementara Bram tengah fokus pada layar laptopnya. "Le, coba lihat perubahan data pada bulan lalu!" kata Bram seraya memperlihatkan layar laptopnya kepada Leo yang duduk di sampingnya. "Mas, ponselmu bergetar!" kata Aisyah memberitahu suaminya yang tengah sibuk itu.

    Last Updated : 2025-02-05
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 13. Kembali ke desa

    Kecewa adalah saat kamu merasa kehilangan, meskipun kamu tidak memilikinya sejak awal. Kata-kata itu sepertinya mampu untuk mewakili perasaan Aisyah saat ini. Dia belum memiliki tubuh ataupun perasaan Bramantyo, namun dia kecewa karena yang dia perjuangan nyatanya malah selalu mengkhianati dirinya lagi dan lagi. Langkah kaki itu melangkah dengan gontai. Hijab dan dress syari berwarna moca yang ia padupadankan dengan sepatu kets berwarna hitam itu semakin membuat langkahnya terasa ringan meskipun masih saja ada yang mengganjal dalam benak dan juga pikirannya. "Sekali lagi, maafkan aku, Mas!" Ia seka bulir bening sebelum akhirnya ia masuk ke dalam angkutan online yang sudah lebih dulu dia pesan saat di dalam hotel tadi, penerbangan malam pun di pilih Aisyah untuk segera tiba di kampung halaman kedua orang tuanya. Sementara itu, di kamar hotelnya. "Aisyah!" Bram langsung masuk ke dalam kamar, namun tak ada siapa pun yang dia temui di sini. Pria itu pun kemudian berjalan men

    Last Updated : 2025-02-05

Latest chapter

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 33. Kekejaman Adrian 1

    Malam kembali menyapa dengan semua misteri yang kadang tak pernah terpecahkan hingga hari berubah nama menjadi esok, kemarin bahkan esoknya lagi dan lagi. Berganti dengan kisah yang pasti berbeda. "Ai, kenapa belum tidur juga? Besok Mas harus berangkat pagi lho!" ucap Bramantyo berseloroh. Dilihatnya wajah sang istri yang selalu saja meneduhkan itu dengan penuh rasa cinta. "Nungguin kamu, Mas!" Pipi Aisyah bersemu merah saat berucap seperti itu. Dan tentu saja ada makna lain yang tersirat dalam ucapan Aisyah yang ditangkap oleh Bram. "Nungguin Mas? Emangnya apa yang ditungguin, hem?" Bramantyo mendekat, ia tanggalkan kaos oblong berwarna hitam yang dikenakannya tadi, hingga kini yang tersisa hanya selembar boxer press body berwarna hitam di tubuh atletisnya. Aisyah diam, "Aku sudah salah bicara, kan Mas Bram

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 32. Selebar Daun Kelor

    Beberapa menit sebelumnya. Kalian tentu tahu dengan perumpamaan dunia tak selebar daun kelor, bukan? Baiklah, mari kita buktikan, apakah ungkapan itu berlaku atau mungkin sebaliknya! Seorang pria berbadan tegap dengan dada dan bahu yang bidang berjalan keluar dari kamar hotelnya. Sebuah kacamata hitam tanpak gagah bertengger di hidung bangirnya, ia singsingkan sedikit lengan jasnya untuk melihat waktu pada jarum jam di pergelangan tangannya. Drett! Langkahnya tak terburu-buru saat tiba-tiba ponselnya bergetar. "Saya akan tiba 15 menit dari sekarang!" ucapnya mengakhiri panggilan suara di ponselnya, dan kini benda pintar itu pun sudah kembali ia masukkan ke dalam saku jasnya. Pria itu pun masuk ke dalam kendaraannya, lalu sesuai dengan perkiraan, 15 menit kemudian

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 31. Memulai hidup yang baru

    Aisyah tersenyum, sungguh suaminya benar-benar telah berubah kini, dia tidak hanya menjaga tubuh Aisyah dari segala macam marabahaya, akan tetapi menjaga hatinya juga. Menjaga hati dari retak dan luka, menjaga hati dari semua kecewa yang bisa saja kembali hadir dan singgah. Bramantyo benar-benar berubah, rasa sesalnya ia tebus dengan semua sikap dan cintanya yang tulus untuk Aisyah. "MashaAllah, Mas!" Bram tersenyum, lalu akhirnya mereka memilih menjauh, mencari desa lain untuk tempat tempat tinggal mereka. "Mas, itu desa apa? Kok serem sih?" Sebelumnya Aisyah tidak pernah menjadi pribadi yang penakut seperti ini, namun entah mengapa suasana desa di depannya itu sungguh begitu mencekam. "Mas lebih takut dengan iblis yang berwujud manusia ketimbang mereka dengan wujud sebenarnya, Ai. Karena apa? Karena melawan dan mengusir mereka tidak akan melukai perasaanmu, percaya sama Mas, ya!" ungkap Bram, ia gandeng satu tangan istrinya itu untuk kemudian ia bawa berteduh di sebuah

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 30. Membawamu pergi

    Seberat apa pun masalahmu, ingat semua ini pasti ada akhirnya! "Silakan pergi, tapi biarkan Papa tetap di sini! Kamu bisa saja menjadikan nama besar Papa sebagai modal kehidupanmu yang gak jelas itu, tinggalkan Papa tetap di sini!" Bramantyo tak menduga jika Adrian masih memiliki belas asih kepada papanya, meskipun dengan alasan yang sungguh menyakitkan, akan tetapi, siapa yang akan mengurus ayahnya, sementara Aisyah harus ikut serta bersama dia? "Gak, aku gak mau, siapa yang akan merawat Papa?" ucap Bram keberatan. "Ada Bibi, Tuan Muda, percaya, kan sama Bibi?" Bi Onah, asisten rumah tangga di keluarga Bramantyo itu tiba-tiba muncul dari arah dapur. "Bi Onah?" Bram berkata lirih dengan secercah harapan di wajahnya. "Tolong jagain Papa ya, Bi!" Langkah kaki terasa be

  • Air Mata di Hari Persandingan   29. Prahara

    "Adrian!" ungkap Aisyah menjelaskan tentang pertanyaan suaminya itu. Lupakah dia, ataukah dia tidak menyadarinya? Bram raih satu tangan wanita itu lalu ia bawa masuk ke dalam rumah besar ayahnya ini. "Kita ke kamar Papa dan Mama!" kata Bram lagi, mereka berjalan dengan cepat menuju kamar Usman Sastro Nugroho. Dan lagi, kejanggalan demi kejanggalan yang belum Aisyah temui titik terangnya. Karena Bramantyo selalu saja mengelak meskipun sudah tertangkap basah dan ketahuan. Akan tetapi Aisyah butuh jawaban pasti dari suaminya, meskipun belum juga dia dapatkan. "Pa, Papa!" Kriek! Bram buka pintu kamar ayahnya itu dengan pelan. "Astaghfirullah, Papa!" Bramantyo pun seketika menghambur memeluk tubuh ayahnya yang terkulai tak berdaya di atas ranjang seorang diri. "Mama mana, Pa?" tanya Bram saat kedua mata ayahnya itu pun terbuka. "Emm, emm!" Hanya itulah yang kini didengar oleh Bramantyo dari bibir ayahnya. Sungguh menyedihkan, saat dulu ayahnya adalah sosok bersahaj

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 28. Di mana mereka?

    Suasana canggung pun tercipta. Tentu saja, mereka bukanlah pasangan romantis sebelum kejadian itu akhirnya membawa Bramantyo mendekam di dalam penjara, mereka bukan dua sejoli yang memang sudah mendambakan indahnya hidup berumah tangga, mereka adalah pasangan dengan segala carut-marut yang tercipta, dengan segala konflik yang pelik yang harus mereka peluk dengan penuh rasa sakit di dalam hati, namun akhirnya yang mereka rawat dengan penuh kesabaran dan juga rasa ikhlas itu pun berbuah manis, semanis kata-kata dan sikap Bramantyo kepada Aisyah. "Kamu gak suka ya kalau Mas cium-cium kayak tadi?Mas memang segaktahudiri itu, Ai, maaf, harusnya Mas tahu keburukan itu bahkan belum seujung kukupun berbanding dengan secuil ucapan cinta dan sayangku untukmu, gak!" ujar Bram. Aisyah belai pipi sang suami yang kini sudah ditumbuhi bulu-bulu halus itu, "Alhamdulillah, terima kasih atas cinta dan sayangmu untukku, Mas, maaf harus membuatmu menjalani hari-hari yang menyakitkan di dalam sa .

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 27. Mas Bram!

    Beberapa jam sebelumnya. "Bram, udah dijemput?" Pak Hasan berjalan mendekati Bramantyo yang sudah siap untuk meninggalkan tempat terkutuk baginya ini. "Pulang sendiri, Pak!" jawab Bram, lalu akhirnya ikut duduk di samping Hasan. "Bram, boleh saya tanya sesuatu ke kamu?" "Tentang apa? Semua hal akan kuberitahu, selain tentang bidadari syurgaku!" "Aisyah?" kata Hasan yang membuat mata elang Bram menukik tajam menatap tak suka. Semua boleh menghinanya, tapi tidak dengan istrinya. Meskipun yang diucapkan oleh Hasan belum tentu seperti yang ia sangkakan, namun tetap saja dia marah dan tak suka. "Anda pikir?" kata Bram menunjukkan sisi dominan yang memang selalu dia tunjukan selama di dalam bilik tahanan ini. "Ya kali, wanita abal-abal sejenis nini kunti ataupun sundel bolong yang dengan butanya kamu jadikan bidadari, syurga lagi! Hahahha, cukup keledai yang jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya, jangan kamu juga ikut-ikutan!" ucap Hasan yang disertai suara t

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 26. Sayang?

    "Mas Bram, maafkan aku karena tak mampu melanjutkan amanah yang sudah kamu percayakan ini. Aku tidak memiliki kuasa di perusahaan Papa ini, Mas, maaf!" ucap Aisyah dengan suara lirih. Satu tangannya sibuk memasukkan benda-benda penting miliknya ke dalam tas, sementara satu tangan yang lainnya sibuk menyeka bulir bening yang terus saja mengalirm tanpa bisa dicegah dan juga dijeda. Mengalir seolah tak peduli dengan sejuta sesak dan sakit di dalam dada yang sibuk mencari perisainya sendiri-sendiri di dalam sepinya hati. Tak ada sakit yang seperih ini, saat dia menangis dan tangan yang dia harapkan nyatanya tidak akan pernah ada di dekatnya, dia jauh, bahkan terlalu jauh ustat bisa dia sentuh saat ini. Coba untuk membungkam semua asa yang selalu ada, meskipun terasa begitu susah dan seakan malah memberi harapan kosong dan hampa. Akan tetapi, semakin dia coba, mengapa

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 25. Silakan keluar, Aisyah!

    Malam semakin sunyi, dinginnya memeluk setiap hati dan jiwa yang kesepian dalam himpitan dan timbunan rasa lelah yang terus mengudara. Hanya suara desahan nafas yang teratur naik turun seirama dengan bunyi jarum jam yang terus menderu meninggalkan sang waktu. "Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh kesedihan, Pak Tua!" ucap Bram saat pria di sampingnya itu belum juga memejamkan kedua Indra penglihatannya. Tubuh pria itu sudah ia rebahkan di atas tikar lusuh yang sudah tidak bermotif lagi. Kepalanya ia sandarkan pada pergelangan tangannya yang mulai keriput dimakan usia. "Panggil aku Hasan, Bram!" Bramantyo menoleh, menciutkan pandangan matanya dengan alis mata tersentak bersama-sama. "Hasan?" ucap Bram dengan alis mengernyit heran. "Iya, Hasan, kenapa, apakah kamu pernah mendengar namaku ini sebelumnya?" Bram menggeleng, "Kenapa baru memberitahu setelah kita akan berpisah?" kata Bram. Pria dengan alis mata tebal itu pun menggeser duduknya agar lebih dekat.

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status