Home / Rumah Tangga / Air Mata di Hari Persandingan / Chapter 6. Di rumah sakit

Share

Chapter 6. Di rumah sakit

Author: Al Kahfi
last update Last Updated: 2025-01-31 09:49:22

"Ingat pesan Papa, Ai, nggak usah takut sama crocodile cap biawak macam Bram ini," ucap Umar lalu melihat sekilas kepada Bram.

"Ini sebenarnya yang anak Papa, Bram apa Aisyah sih? Kenapa merasa jadi anak tiri begini?" kata Bramantyo merasa tak terima dengan ucapan sang papa yang selalu saja menjelekkan dirinya.

"Diem kamu. Benerin dulu kelakuanmu, baru boleh mengajukan keberatan!" hardik sang Papa.

Aisyah tersenyum, sungguh sebenarnya ia merasa sangat berdosa karena telah menertawakan suaminya sendiri. Sementara Bram hanya diam.

Setelah kedua orang tuanya pergin, Bramantyo dan juga Aisyah pun kembali masuk ke dalam apartemen mereka.

"Mas, boleh aku lihat luka di lenganmu?" tanya Aisyah yang kini ikut duduk di samping Bramantyo.

"Nggak usah sok perhatian, kamu pasti bahagia banget, kan, karena sekarang Papa ada di pihakmu?" ucap Bramantyo dengan tatapan tak suka, namun Aisyah hanya menggeleng.

"Halah, nggak usah ngelak, percuma aku nggak akan percaya!" kata Bramantyo bertambah kesal.

"Boleh aku tau cerita nya, Mas, siapa yang sudah melukai lenganmu ini?" Aisyah membuka perban yang membalut tangan sang suami. Ia tak peduli dengan tatapan tajam suka dari Bramantyo untuk dirinya.

"Kamu ini ya, orang ngomong apa kamu jawabnya apa? Dan untuk apa kamu tau, pasti ujung-ujungnya kamu bakalan menertawakanku! " Bram kesal tapi ia tidak menolak saat Aisyah membersihkan lukanya yang masih sedikit basah.

"Kenapa su'udzon terus sih, Mas sama istri sendiri? Aku istrimu lho, bukan istri tetangga!" Dengan telaten dan penuh kehati-hatian Aisyah merawat luka Bramantyo.

"Karena aku nggak cinta sama kamu Aisyah Anidia. Kenapa maksa banget sih buat jadi istri aku? Kamu sudah tau kan jika aku ini sudah menjalin hubungan dengan Soffi cukup lama, lalu apa alasanmu menerima begitu saja pernikahan paksa ini?" Bramantyo berkata tanpa rasa bersalah sedikitpun kepada Aisyah.

Aisyah mendongak, menghentikan aktivitas tangannya sejenak, lalu berkata,

"Aku hanya sedang menjalankan lakonku sebagai seorang hamba, Mas. Tidak ada maksud lain, untuk apa aku menggugat Tuhan, nyatanya walaupun tangisku berubah darah, ketetapan Allah itu mutlak.

Jadi pilihannya ya Ikhlas, saat kita ikhlas maka apa yang sebelumnya kita benci akan menjadi sumber kebahagiaan untuk kita, nggak usah capek-capeklah buang-buang energi dengan segala macam alibi kita, nyatanya kita hanyalah hamba yang jauh dari kata sempurna, jauh, Mas, mendekati saja tidak.

Lalu apa yang kita sombongkan, dan untuk perasaanmu terhadapku, aku percaya filosofi batu dan air." Aisyah menyudahi tatapan matanya kepada Bramantyo dan kembali fokus pada luka sang suami.

"Iya, aku batu kamu airnya," ucap Bram ketus, lalu beranjak masuk kekamarnya.

"Mas kamu nggak lapar? Kita belum makan siang lho!" kata Aisyah yang memilih menyudahi rasa penasarannya terhadap luka di lengan Bramantyo.

"Gofood aja!" jawab Bram singkat, lalu pria bertubuh kekar itu pun duduk di atas ranjangnya.

Aisyah mengangguk, lalu membuka laman media sosialnya, tak lama kemudian pesanan pun datang.

Beberapa menit kemudian, makanan itu pun sudah habis tak bersisa di atas meja makan, saat Aisyah hendak mengemasi beberapa piring kotor di atas meja tersebut,

"Kok tanganku gatel-gatel gini sih?" Keluh Bram seraya melihat pada lukanya yang sudah diganti dengan perban yang baru oleh Aisyah.

Aisyah menjeda aktivitasnya, lalu mendekat kepada Bram,

"Sakit nggak, Mas? Kita ke rumah sakit aja ya? Aku takut lukamu kenapa-kenapa!" ucap Aisyah dengan wajah panik.

"Gak usah ke rumah sakit juga kali, Ay, ini hanya luka kecil, aku udah biasa, tapi ...?" kata Bramantyo yang kembali merasakan gatal pada lukanya tersebut. Wajah pria itu pun mulai memerah.

Aisyah memberanikan diri untuk memeriksa suhu tubuh Bramantyo.

"Udah dibilang aku gak apa-apa, ngeyel sih!" kata Bramantyo lalu menyingkirkan telapak tangan Aisyah dari dahinya.

"Tapi detak jantungmu kenceng banget, Mas." Aisyah semakin panik, akhirnya tanpa menunggu persetujuan Bramantyo yang kekeuh menolak untuk dibawa ke rumah sakit, Aisyah pun berhasil meyakinkan dan membawa suaminya tersebut.

Dan di sinilah mereka saat ini berada.

"Dokter Sindi lagi, huh!" keluh Bramantyo saat membaca papan nama yang terpampang di depan pintu ruangan dokter itu.

"Ada apa, Mas? Kenapa wajahmu terlihat lesu begitu?" Aisyah yang memang selalu memperhatikan raut wajah suaminya itu pun merasa aneh dengan perubahan wajah Bram.

"Gak ada dokter yang lain aja apa, Ai? Aku males banget kalau harus dengerin ocehannya Tante Sindi!"

Mendengar jawaban sang suami, Aisyah pun mengerti, "Ya bagus dong, Mas, ditangani sama tante Mas Bram sendiri," kata Aisyah menimpali.

"Bagus apanya? Kamu belum tahu aja, Tante Sindi itu orangnya kayak apa!"

Aisyah tersenyum, ia akan kembali berkata, namun,

"Bram!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 7. Di mana urat malunya?

    Aisyah terdiam, tubuhnya membeku dengan bibir mengatup, meskipun rasa sakit di dalam hatinya itu sungguh begitu payah u untuk dia lerai, namun dia harus tetap tenang dalam air mata yang menggenang di dalam perasaan dan juga hatinya. "Soffi?" Bramantyo segera berdiri, namun tidak melangkah dan hanya diam di tempat. "Bram, tadi pagi aku ke apartemenmu lho, tapi istri kontrakmu ini menghalangi jalanku," kata Soffi menunjuk Aisyah dengan tatapan sinis penuh kebenciannya. "Ikut aku!"Bramantyo menarik tangan Soffi pelan. "Apa sih, Bram? Kenapa main tarik-tarik kayak gini? lepasin, sakit!" rintih Soffi yang terus mengusapi pergelangan tangannya. "Kita akan bicara, tapi bukan sekarang dan bukan di sini juga, orang-orang papaku selalu mengawasi gerak-gerikku, aku nggak mau kamu jadi sasaran kemarahan Papa.Untuk hari-hari ke depan jangan dulu menghubungi apalagi menemuiku, interaksi kita cukup di k

    Last Updated : 2025-02-01
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 8. Luka tak berdarah

    Mendengar ucapan itu, Soffi pun meradang, ia kepal tangannya, lalu mendekat, "Heh, aku gak bicara sama kamu ya, jadi ucapanmu itu gak dibutuhkan di sini, lebih baik diam!" kata Soffi dengan nafas angup-angip naik-turun. "Kamu memang tidak sedang berbicara denganku, Nona. Akan tetapi, tolong jangan pura-pura lupa ingatan ataupun amnesia jika saya ini adalah istri dari pria yang dengan tidak tahu malunya Anda cintai dan ingini!" kata Aisyah telak. Soffi terdiam, matanya membelalak dengan bibir membisu, ia akan kembali bicara, namun, "Mas, apa sudah paripurna hasilnya?" kata Aisyah. Namun, tak ada jawaban ataupun pergerakan dari suaminya, hingga wanita bertubuh mungil itu pun memilih pergi pergi meninggalkan suami bersama gundiknya tersebut. "Bram, jangan tinggalin aku!" Bramantyo berhenti sejenak, tubuhnya mematung tanpa menoleh. "Aku harus menyusul istriku, Soffi, maaf!" katanya, lalu kembali mengayunkan langkah kakinya, bergegas. "Tapi aku kangen Bram, ayolah, aku

    Last Updated : 2025-02-01
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 9. Menyerah?

    "Mikirin apa?" Aisyah tersadar dari lamunannya, ternyata ucapannya tadi hanya mampu dia ucapkan di dalam hatinya saja. Menggenggam luka yang tak berdarah, namun sanggup membuat jiwanya melara payah. Malam semakin larut, tak ada lagi suara apa pun yang akhirnya semakin membuat kesunyian dan kesedihan Aisyah semakin menggunung. "Ponselku!" ucapnya, lalu wanita dengan piyama merah muda itu lekas meraih ponsel yang masih ada di dalam tas punggungnya tadi. "Pesan? Ini nomor siapa?" kata Aisyah saat melihat sebuah pesan berikut gambar di layar ponselnya. Brak! Benda pipih itu pun jatuh meluruh ke lantai bersamaan dengan tubuh pemiliknya. "Ternyata dugaanku benar, Robb. Apa yang harus hamba lakukan?" katanya dengan dada yang

    Last Updated : 2025-02-02
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 10. Aku istrimu, tapi kamu melupakannya!

    "Kita lihat saja, siapa yang akhirnya menjadi pemenang di antara kita berdua, Nona, aku atau kamu? Aku dengan dosaku, dan kamu dengan kebodohanmu!" Aisyah menutup layar ponselnya, sudah tak berniat lagi untuk membalas hujatan dari Soffi melalui pesan singkatnya itu. Malam begitu sunyi, denting jam yang biasanya akan kalah dengan hiruk pikuk bahkan hanya sekedar suara bisikan saja, akan tetapi kali ini, Aisyah bisa mendengar dengan jelas suara detik dan menit itu terus melaju meninggalkan sang waktu. "Mas, cepat pulang!" ucapnya dengan suara lirih dan bibir yang bergetar. Sementara itu di tempat berbeda, "Gak nginep di sini? Ini udah hampir pagi lho, Bram, istri kontrakmu itu juga pasti udah ngorok daritadi!" Soffi terus merayu Bramantyo yang terus saja berjalan ke luar kamarnya. "Sebenarnya iya, tapi, aku udah bilang kalau akan pulang meskipun larut, udah ya, cukup untuk malam ini. B

    Last Updated : 2025-02-03
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 11. Di hotel

    "Pacar kamu, Mas!" Sungguh, bibir dan hati Aisyah tidaklah bisa diajak untuk saling satu rasa kali ini. Bibirnya tersenyum, tapi hatinya menangis, tangis yang tak ingin dia tampakan di depan siapa pun, terutama wanita yang bergelar pacar gelap suaminya itu. Bram menoleh, tatapannya datar namun tersirat sebuah kekhawatiran di dalamnya. "Hanya ingin mengingatkan, malaikat yang ada di bahu kanan dan kirimu gak pernah libur!" Setelah berucap demikian, Aisyah memilih untuk melanjutkan langkah kakinya seorang diri. Menoleh sekilas , dan rupanya Bram tak memedulikan langkahnya itu. "Aku berdoa, karma itu tidak pernah berlaku untuk dirimu, Mas. Tuhan, tolong panjangkan rasa sabarku agar lebih ikhlas dalam membenarkan jalan suamiku yang keliru melalui tuntunanmu, bukan dengan ego dan amarahku," kata Ais

    Last Updated : 2025-02-04
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 12. Rencana Soffi

    "Kamu?" Soffi memelototkan matanya, wanita itu tetap memaksa untuk duduk di samping Bram, namun, Leo tak tinggal diam. "Apa Anda ingin posisi Anda di kantor digantikan dengan orang lain? Baiklah!" Tut! Panggilan suara di ponsel Leo pun berdering. "Oke!" kata Soffi yang akhirnya harus duduk di samping Leo. Wajah wanita itu tampak tak suka dengan rahang mengejang. Sementara Bram tengah fokus pada layar laptopnya. "Le, coba lihat perubahan data pada bulan lalu!" kata Bram seraya memperlihatkan layar laptopnya kepada Leo yang duduk di sampingnya. "Mas, ponselmu bergetar!" kata Aisyah memberitahu suaminya yang tengah sibuk itu.

    Last Updated : 2025-02-05
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 13. Kembali ke desa

    Kecewa adalah saat kamu merasa kehilangan, meskipun kamu tidak memilikinya sejak awal. Kata-kata itu sepertinya mampu untuk mewakili perasaan Aisyah saat ini. Dia belum memiliki tubuh ataupun perasaan Bramantyo, namun dia kecewa karena yang dia perjuangan nyatanya malah selalu mengkhianati dirinya lagi dan lagi. Langkah kaki itu melangkah dengan gontai. Hijab dan dress syari berwarna moca yang ia padupadankan dengan sepatu kets berwarna hitam itu semakin membuat langkahnya terasa ringan meskipun masih saja ada yang mengganjal dalam benak dan juga pikirannya. "Sekali lagi, maafkan aku, Mas!" Ia seka bulir bening sebelum akhirnya ia masuk ke dalam angkutan online yang sudah lebih dulu dia pesan saat di dalam hotel tadi, penerbangan malam pun di pilih Aisyah untuk segera tiba di kampung halaman kedua orang tuanya. Sementara itu, di kamar hotelnya. "Aisyah!" Bram langsung masuk ke dalam kamar, namun tak ada siapa pun yang dia temui di sini. Pria itu pun kemudian berjalan men

    Last Updated : 2025-02-05
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 14. Badai

    Jangan menggenggam apa yang tidak dapat sesuatu yang btidak dapat kau raih! Benda pipih itu terjatuh bersama tubuh mungil Aisyah. Setiap kali kesedihan itu datang, maka tak ada yang bisa ia cegah pada deraian telaga nelangsa yabg dengan setia selalu ada. Ada di saat suka dan bahagia, meskipun dalam arti dan makna yang berbeda. "Kenapa selalu begini, Mas? Kenapa ketakutanku selalu saja menjadi kenyataan?" Aisyah menangis pilu tanpa suara, dadanya yang sesak itu semakin membuat luka batinnya semakin menganga. Sedangkan pertanyaan demi pertanyaan kedua orang tuanya tadi pun belum bisa ia beri jawabannya, lalu sekarang, muncul kenyataan sebagai jawaban tanpa harus diungkapkan. Lama dia pandangi wajah teduh suaminya tersebut. Ugh! Bramantyo melenguh merenggangkan otot-otot tangannya, menggeliat sebentar lalu beranjak pelan dari tidurnya. "Aisyah!" kata Bram lalu mencari keberadaan istrinya tersebut. "Ya Tuhan, kenapa tidur di lantai sih?" Bramantyo pun turun dari ran

    Last Updated : 2025-02-06

Latest chapter

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 33. Kekejaman Adrian 1

    Malam kembali menyapa dengan semua misteri yang kadang tak pernah terpecahkan hingga hari berubah nama menjadi esok, kemarin bahkan esoknya lagi dan lagi. Berganti dengan kisah yang pasti berbeda. "Ai, kenapa belum tidur juga? Besok Mas harus berangkat pagi lho!" ucap Bramantyo berseloroh. Dilihatnya wajah sang istri yang selalu saja meneduhkan itu dengan penuh rasa cinta. "Nungguin kamu, Mas!" Pipi Aisyah bersemu merah saat berucap seperti itu. Dan tentu saja ada makna lain yang tersirat dalam ucapan Aisyah yang ditangkap oleh Bram. "Nungguin Mas? Emangnya apa yang ditungguin, hem?" Bramantyo mendekat, ia tanggalkan kaos oblong berwarna hitam yang dikenakannya tadi, hingga kini yang tersisa hanya selembar boxer press body berwarna hitam di tubuh atletisnya. Aisyah diam, "Aku sudah salah bicara, kan Mas Bram

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 32. Selebar Daun Kelor

    Beberapa menit sebelumnya. Kalian tentu tahu dengan perumpamaan dunia tak selebar daun kelor, bukan? Baiklah, mari kita buktikan, apakah ungkapan itu berlaku atau mungkin sebaliknya! Seorang pria berbadan tegap dengan dada dan bahu yang bidang berjalan keluar dari kamar hotelnya. Sebuah kacamata hitam tanpak gagah bertengger di hidung bangirnya, ia singsingkan sedikit lengan jasnya untuk melihat waktu pada jarum jam di pergelangan tangannya. Drett! Langkahnya tak terburu-buru saat tiba-tiba ponselnya bergetar. "Saya akan tiba 15 menit dari sekarang!" ucapnya mengakhiri panggilan suara di ponselnya, dan kini benda pintar itu pun sudah kembali ia masukkan ke dalam saku jasnya. Pria itu pun masuk ke dalam kendaraannya, lalu sesuai dengan perkiraan, 15 menit kemudian

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 31. Memulai hidup yang baru

    Aisyah tersenyum, sungguh suaminya benar-benar telah berubah kini, dia tidak hanya menjaga tubuh Aisyah dari segala macam marabahaya, akan tetapi menjaga hatinya juga. Menjaga hati dari retak dan luka, menjaga hati dari semua kecewa yang bisa saja kembali hadir dan singgah. Bramantyo benar-benar berubah, rasa sesalnya ia tebus dengan semua sikap dan cintanya yang tulus untuk Aisyah. "MashaAllah, Mas!" Bram tersenyum, lalu akhirnya mereka memilih menjauh, mencari desa lain untuk tempat tempat tinggal mereka. "Mas, itu desa apa? Kok serem sih?" Sebelumnya Aisyah tidak pernah menjadi pribadi yang penakut seperti ini, namun entah mengapa suasana desa di depannya itu sungguh begitu mencekam. "Mas lebih takut dengan iblis yang berwujud manusia ketimbang mereka dengan wujud sebenarnya, Ai. Karena apa? Karena melawan dan mengusir mereka tidak akan melukai perasaanmu, percaya sama Mas, ya!" ungkap Bram, ia gandeng satu tangan istrinya itu untuk kemudian ia bawa berteduh di sebuah

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 30. Membawamu pergi

    Seberat apa pun masalahmu, ingat semua ini pasti ada akhirnya! "Silakan pergi, tapi biarkan Papa tetap di sini! Kamu bisa saja menjadikan nama besar Papa sebagai modal kehidupanmu yang gak jelas itu, tinggalkan Papa tetap di sini!" Bramantyo tak menduga jika Adrian masih memiliki belas asih kepada papanya, meskipun dengan alasan yang sungguh menyakitkan, akan tetapi, siapa yang akan mengurus ayahnya, sementara Aisyah harus ikut serta bersama dia? "Gak, aku gak mau, siapa yang akan merawat Papa?" ucap Bram keberatan. "Ada Bibi, Tuan Muda, percaya, kan sama Bibi?" Bi Onah, asisten rumah tangga di keluarga Bramantyo itu tiba-tiba muncul dari arah dapur. "Bi Onah?" Bram berkata lirih dengan secercah harapan di wajahnya. "Tolong jagain Papa ya, Bi!" Langkah kaki terasa be

  • Air Mata di Hari Persandingan   29. Prahara

    "Adrian!" ungkap Aisyah menjelaskan tentang pertanyaan suaminya itu. Lupakah dia, ataukah dia tidak menyadarinya? Bram raih satu tangan wanita itu lalu ia bawa masuk ke dalam rumah besar ayahnya ini. "Kita ke kamar Papa dan Mama!" kata Bram lagi, mereka berjalan dengan cepat menuju kamar Usman Sastro Nugroho. Dan lagi, kejanggalan demi kejanggalan yang belum Aisyah temui titik terangnya. Karena Bramantyo selalu saja mengelak meskipun sudah tertangkap basah dan ketahuan. Akan tetapi Aisyah butuh jawaban pasti dari suaminya, meskipun belum juga dia dapatkan. "Pa, Papa!" Kriek! Bram buka pintu kamar ayahnya itu dengan pelan. "Astaghfirullah, Papa!" Bramantyo pun seketika menghambur memeluk tubuh ayahnya yang terkulai tak berdaya di atas ranjang seorang diri. "Mama mana, Pa?" tanya Bram saat kedua mata ayahnya itu pun terbuka. "Emm, emm!" Hanya itulah yang kini didengar oleh Bramantyo dari bibir ayahnya. Sungguh menyedihkan, saat dulu ayahnya adalah sosok bersahaj

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 28. Di mana mereka?

    Suasana canggung pun tercipta. Tentu saja, mereka bukanlah pasangan romantis sebelum kejadian itu akhirnya membawa Bramantyo mendekam di dalam penjara, mereka bukan dua sejoli yang memang sudah mendambakan indahnya hidup berumah tangga, mereka adalah pasangan dengan segala carut-marut yang tercipta, dengan segala konflik yang pelik yang harus mereka peluk dengan penuh rasa sakit di dalam hati, namun akhirnya yang mereka rawat dengan penuh kesabaran dan juga rasa ikhlas itu pun berbuah manis, semanis kata-kata dan sikap Bramantyo kepada Aisyah. "Kamu gak suka ya kalau Mas cium-cium kayak tadi?Mas memang segaktahudiri itu, Ai, maaf, harusnya Mas tahu keburukan itu bahkan belum seujung kukupun berbanding dengan secuil ucapan cinta dan sayangku untukmu, gak!" ujar Bram. Aisyah belai pipi sang suami yang kini sudah ditumbuhi bulu-bulu halus itu, "Alhamdulillah, terima kasih atas cinta dan sayangmu untukku, Mas, maaf harus membuatmu menjalani hari-hari yang menyakitkan di dalam sa .

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 27. Mas Bram!

    Beberapa jam sebelumnya. "Bram, udah dijemput?" Pak Hasan berjalan mendekati Bramantyo yang sudah siap untuk meninggalkan tempat terkutuk baginya ini. "Pulang sendiri, Pak!" jawab Bram, lalu akhirnya ikut duduk di samping Hasan. "Bram, boleh saya tanya sesuatu ke kamu?" "Tentang apa? Semua hal akan kuberitahu, selain tentang bidadari syurgaku!" "Aisyah?" kata Hasan yang membuat mata elang Bram menukik tajam menatap tak suka. Semua boleh menghinanya, tapi tidak dengan istrinya. Meskipun yang diucapkan oleh Hasan belum tentu seperti yang ia sangkakan, namun tetap saja dia marah dan tak suka. "Anda pikir?" kata Bram menunjukkan sisi dominan yang memang selalu dia tunjukan selama di dalam bilik tahanan ini. "Ya kali, wanita abal-abal sejenis nini kunti ataupun sundel bolong yang dengan butanya kamu jadikan bidadari, syurga lagi! Hahahha, cukup keledai yang jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya, jangan kamu juga ikut-ikutan!" ucap Hasan yang disertai suara t

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 26. Sayang?

    "Mas Bram, maafkan aku karena tak mampu melanjutkan amanah yang sudah kamu percayakan ini. Aku tidak memiliki kuasa di perusahaan Papa ini, Mas, maaf!" ucap Aisyah dengan suara lirih. Satu tangannya sibuk memasukkan benda-benda penting miliknya ke dalam tas, sementara satu tangan yang lainnya sibuk menyeka bulir bening yang terus saja mengalirm tanpa bisa dicegah dan juga dijeda. Mengalir seolah tak peduli dengan sejuta sesak dan sakit di dalam dada yang sibuk mencari perisainya sendiri-sendiri di dalam sepinya hati. Tak ada sakit yang seperih ini, saat dia menangis dan tangan yang dia harapkan nyatanya tidak akan pernah ada di dekatnya, dia jauh, bahkan terlalu jauh ustat bisa dia sentuh saat ini. Coba untuk membungkam semua asa yang selalu ada, meskipun terasa begitu susah dan seakan malah memberi harapan kosong dan hampa. Akan tetapi, semakin dia coba, mengapa

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 25. Silakan keluar, Aisyah!

    Malam semakin sunyi, dinginnya memeluk setiap hati dan jiwa yang kesepian dalam himpitan dan timbunan rasa lelah yang terus mengudara. Hanya suara desahan nafas yang teratur naik turun seirama dengan bunyi jarum jam yang terus menderu meninggalkan sang waktu. "Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh kesedihan, Pak Tua!" ucap Bram saat pria di sampingnya itu belum juga memejamkan kedua Indra penglihatannya. Tubuh pria itu sudah ia rebahkan di atas tikar lusuh yang sudah tidak bermotif lagi. Kepalanya ia sandarkan pada pergelangan tangannya yang mulai keriput dimakan usia. "Panggil aku Hasan, Bram!" Bramantyo menoleh, menciutkan pandangan matanya dengan alis mata tersentak bersama-sama. "Hasan?" ucap Bram dengan alis mengernyit heran. "Iya, Hasan, kenapa, apakah kamu pernah mendengar namaku ini sebelumnya?" Bram menggeleng, "Kenapa baru memberitahu setelah kita akan berpisah?" kata Bram. Pria dengan alis mata tebal itu pun menggeser duduknya agar lebih dekat.

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status