Home / Rumah Tangga / Air Mata di Hari Persandingan / Chapter 10. Aku istrimu, tapi kamu melupakannya!

Share

Chapter 10. Aku istrimu, tapi kamu melupakannya!

Author: Al Kahfi
last update Last Updated: 2025-02-03 10:30:42

"Kita lihat saja, siapa yang akhirnya menjadi pemenang di antara kita berdua, Nona, aku atau kamu? Aku dengan dosaku, dan kamu dengan kebodohanmu!"

Aisyah menutup layar ponselnya, sudah tak berniat lagi untuk membalas hujatan dari Soffi melalui pesan singkatnya itu.

Malam begitu sunyi, denting jam yang biasanya akan kalah dengan hiruk pikuk bahkan hanya sekedar suara bisikan saja, akan tetapi kali ini, Aisyah bisa mendengar dengan jelas suara detik dan menit itu terus melaju meninggalkan sang waktu.

"Mas, cepat pulang!" ucapnya dengan suara lirih dan bibir yang bergetar.

Sementara itu di tempat berbeda,

"Gak nginep di sini? Ini udah hampir pagi lho, Bram, istri kontrakmu itu juga pasti udah ngorok daritadi!" Soffi terus merayu Bramantyo yang terus saja berjalan ke luar kamarnya.

"Sebenarnya iya, tapi, aku udah bilang kalau akan pulang meskipun larut, udah ya, cukup untuk malam ini. B
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 11. Di hotel

    "Pacar kamu, Mas!" Sungguh, bibir dan hati Aisyah tidaklah bisa diajak untuk saling satu rasa kali ini. Bibirnya tersenyum, tapi hatinya menangis, tangis yang tak ingin dia tampakan di depan siapa pun, terutama wanita yang bergelar pacar gelap suaminya itu. Bram menoleh, tatapannya datar namun tersirat sebuah kekhawatiran di dalamnya. "Hanya ingin mengingatkan, malaikat yang ada di bahu kanan dan kirimu gak pernah libur!" Setelah berucap demikian, Aisyah memilih untuk melanjutkan langkah kakinya seorang diri. Menoleh sekilas , dan rupanya Bram tak memedulikan langkahnya itu. "Aku berdoa, karma itu tidak pernah berlaku untuk dirimu, Mas. Tuhan, tolong panjangkan rasa sabarku agar lebih ikhlas dalam membenarkan jalan suamiku yang keliru melalui tuntunanmu, bukan dengan ego dan amarahku," kata Ais

    Last Updated : 2025-02-04
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 12. Rencana Soffi

    "Kamu?" Soffi memelototkan matanya, wanita itu tetap memaksa untuk duduk di samping Bram, namun, Leo tak tinggal diam. "Apa Anda ingin posisi Anda di kantor digantikan dengan orang lain? Baiklah!" Tut! Panggilan suara di ponsel Leo pun berdering. "Oke!" kata Soffi yang akhirnya harus duduk di samping Leo. Wajah wanita itu tampak tak suka dengan rahang mengejang. Sementara Bram tengah fokus pada layar laptopnya. "Le, coba lihat perubahan data pada bulan lalu!" kata Bram seraya memperlihatkan layar laptopnya kepada Leo yang duduk di sampingnya. "Mas, ponselmu bergetar!" kata Aisyah memberitahu suaminya yang tengah sibuk itu.

    Last Updated : 2025-02-05
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 13. Kembali ke desa

    Kecewa adalah saat kamu merasa kehilangan, meskipun kamu tidak memilikinya sejak awal. Kata-kata itu sepertinya mampu untuk mewakili perasaan Aisyah saat ini. Dia belum memiliki tubuh ataupun perasaan Bramantyo, namun dia kecewa karena yang dia perjuangan nyatanya malah selalu mengkhianati dirinya lagi dan lagi. Langkah kaki itu melangkah dengan gontai. Hijab dan dress syari berwarna moca yang ia padupadankan dengan sepatu kets berwarna hitam itu semakin membuat langkahnya terasa ringan meskipun masih saja ada yang mengganjal dalam benak dan juga pikirannya. "Sekali lagi, maafkan aku, Mas!" Ia seka bulir bening sebelum akhirnya ia masuk ke dalam angkutan online yang sudah lebih dulu dia pesan saat di dalam hotel tadi, penerbangan malam pun di pilih Aisyah untuk segera tiba di kampung halaman kedua orang tuanya. Sementara itu, di kamar hotelnya. "Aisyah!" Bram langsung masuk ke dalam kamar, namun tak ada siapa pun yang dia temui di sini. Pria itu pun kemudian berjalan men

    Last Updated : 2025-02-05
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 14. Badai

    Jangan menggenggam apa yang tidak dapat sesuatu yang btidak dapat kau raih! Benda pipih itu terjatuh bersama tubuh mungil Aisyah. Setiap kali kesedihan itu datang, maka tak ada yang bisa ia cegah pada deraian telaga nelangsa yabg dengan setia selalu ada. Ada di saat suka dan bahagia, meskipun dalam arti dan makna yang berbeda. "Kenapa selalu begini, Mas? Kenapa ketakutanku selalu saja menjadi kenyataan?" Aisyah menangis pilu tanpa suara, dadanya yang sesak itu semakin membuat luka batinnya semakin menganga. Sedangkan pertanyaan demi pertanyaan kedua orang tuanya tadi pun belum bisa ia beri jawabannya, lalu sekarang, muncul kenyataan sebagai jawaban tanpa harus diungkapkan. Lama dia pandangi wajah teduh suaminya tersebut. Ugh! Bramantyo melenguh merenggangkan otot-otot tangannya, menggeliat sebentar lalu beranjak pelan dari tidurnya. "Aisyah!" kata Bram lalu mencari keberadaan istrinya tersebut. "Ya Tuhan, kenapa tidur di lantai sih?" Bramantyo pun turun dari ran

    Last Updated : 2025-02-06
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 15. Ancaman Soffi

    Sementara itu di apartemen, "Soffi!" Cukup satu kali panggilan itu digaungkan oleh Bramantyo, "Apa, Sayangku? Kenapa galak banget sih?" kata Soffi dengan suara yang dibuat-buat agar terdengar seksi di telinga Bramantyo. "Apa maksud kalimat ancaman yang kamu kirimkan ke ponselku, Soff? Kamu tahu, istriku sudah membacanya?" "Lalu? Dia nangis, terus minta cerai? Ya bagus dong, Bram, itu artinya kamu gak usah susah-susah lagi minta izin poligami sama istri udikmu itu, iya, kan? Harusnya kamu itu berterima kasih sama aku, bukan malah marah-marah gak jelas kayak gini!" kata Soffi dengan satu tangannya memukul dada bidang Bram pelan. Bram meraih tangan itu lalu berkata, "Kamu keterlaluan, Soff, aku muak!" Soffi tercengang, bola matanya membulat, hatinya terasa panas dengan mata yang memerah menahan amarah. "Apa kamu bilang? Setelah menolak permintaanku, lalu sekarang kamu bilang muak? Baik, sekarang coba kamu buka laman media sosialmu, Bram!" "Media sosialku? Untuk apa?

    Last Updated : 2025-02-07
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 16. Pilihan Bram

    "Pergi!" "Tapi, Pa?" kata Bram tak mengerti dengan kata yang bermakna pengusiran dari papanya itu. "Pa, jangan begitu, Bram tidak sepenuhnya bersalah dalam hal ini!" Helena ikut angkat bicara kali ini. "Pergi, temui Aisyah!" kata Usman yang membuat tak hanya Bram, namun juga Helena bernafas lega mendengarnya. Tanpa menunggu lama, Bram pun segera bergegas menuju kediaman Aisyah. Beberapa menit kemudian, Bram mematung diam di depan pintu, dia memilih menyembunyikan dirinya di sana. "Jadi, di mana saat ini Nak Bram, Ai? Apa kalian bertengkar?" Umar, ayah Aisyah duduk di samping tubuh putrinya itu. "Apa benar semua itu, Nak, itu benar suamimu?" Tak juga mendapatkan jawaban dari bibir Aisyah, Umar berkali-kali memasatkan pendengaran dan penglihatannya pada layar ponsel Aisyah. "Apa kamu sudah tau sebelum pernikahan itu akhirnya dilaksanakan, Nak?" tanya Umar lagi. Aisyah hanya menangis menanggapi pertanyaan ayahnya. Bibir wanita bertubuh mungil dengan dua lesung

    Last Updated : 2025-02-08
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 17. Berpisah

    "Bram, kembalilah, aku akan tetap menerimamu, meskipun yang akhirnya kau pilih bukanlah diriku, Bramantyo!" Soffi berteriak kencang saat tubuh jangkung itu terus melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Bram mantap dengan pilihan hatinya, "Kamulah bidadariku, Aisyah Anidia!" kata Bram sebelum masuk ke dalam kendaraannya. Drett! Ponsel pria itu berdering, "Leo!" ucapnya lirih sebelum menjawab panggilan suara dari asisten pribadinya itu. "Bapak ke kantor gak hari ini?" tanya Leo melalui panggilan suaranya terhadap Bram. "Iya, ini saya lagi di jalan, Le, ada apa?" kata Bram sedikit khawatir. Ucapan demi ucapan Soffi selalu terngiang dan bermain dengan apik di ingatannya. "Ada Tuan Alex di kantor, Pak, beliau ingin segera bertemu dengan Anda," kata Leo memberitahu. "Tuan Alex? ah, iya, katakan saja, saya sebentar lagi tiba di kantor!" Tut! Panggilan pun berakhir, Bram menambah kecepatan kendaraannya. Namun sebelum masuk ke area parkir perusahaan milik papanya ini, Bram

    Last Updated : 2025-02-09
  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 18. Dijenguk Istri

    Bram menoleh saat seseorang menyapa dirinya. Nemun tak ada ekspresi apa pun dari Bramantyo, pria itu bergeming tak berniat menjawab pertanyaan orang tersebut. Hati dan wajah pria itu sungguh amat sukar untuk berpura-pura. Seorang pria dengan jenggot panjang dan rambut gimbalnya yang sudah berwarna putih di semua sisinya datang menghampiri Bramantyo. "Alhamdulillah, akhirnya setelah sekian purnama aku sendirian dalam dinding sel ini, hari ini Tuhan mengabulkan salah satu dari sekian banyak doaku dengan mengirimkan manusia." Ucapan pria itu terjeda saat Bram tiba-tiba menatap tajam padanya. "Ya, manusia, meskipun dia itu tuna wicara atau bisu! Hahaha, bisu seperti dirimu, Anak Muda." Tawa pria itu tampak mengejek. Hal yang membuat darah Bramantyo mendidih mendengarnya. Namun, sulung dari dua bersaudara itu tetap pada posisinya, diam dan tak ingin peduli. "Rupanya selain bisu kamu juga tuli ya? Hahaha!" Lagi, pria itu tertawa terbahak. 'Aku tidak bisu dan juga tuli, Brama

    Last Updated : 2025-02-11

Latest chapter

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 33. Kekejaman Adrian 1

    Malam kembali menyapa dengan semua misteri yang kadang tak pernah terpecahkan hingga hari berubah nama menjadi esok, kemarin bahkan esoknya lagi dan lagi. Berganti dengan kisah yang pasti berbeda. "Ai, kenapa belum tidur juga? Besok Mas harus berangkat pagi lho!" ucap Bramantyo berseloroh. Dilihatnya wajah sang istri yang selalu saja meneduhkan itu dengan penuh rasa cinta. "Nungguin kamu, Mas!" Pipi Aisyah bersemu merah saat berucap seperti itu. Dan tentu saja ada makna lain yang tersirat dalam ucapan Aisyah yang ditangkap oleh Bram. "Nungguin Mas? Emangnya apa yang ditungguin, hem?" Bramantyo mendekat, ia tanggalkan kaos oblong berwarna hitam yang dikenakannya tadi, hingga kini yang tersisa hanya selembar boxer press body berwarna hitam di tubuh atletisnya. Aisyah diam, "Aku sudah salah bicara, kan Mas Bram

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 32. Selebar Daun Kelor

    Beberapa menit sebelumnya. Kalian tentu tahu dengan perumpamaan dunia tak selebar daun kelor, bukan? Baiklah, mari kita buktikan, apakah ungkapan itu berlaku atau mungkin sebaliknya! Seorang pria berbadan tegap dengan dada dan bahu yang bidang berjalan keluar dari kamar hotelnya. Sebuah kacamata hitam tanpak gagah bertengger di hidung bangirnya, ia singsingkan sedikit lengan jasnya untuk melihat waktu pada jarum jam di pergelangan tangannya. Drett! Langkahnya tak terburu-buru saat tiba-tiba ponselnya bergetar. "Saya akan tiba 15 menit dari sekarang!" ucapnya mengakhiri panggilan suara di ponselnya, dan kini benda pintar itu pun sudah kembali ia masukkan ke dalam saku jasnya. Pria itu pun masuk ke dalam kendaraannya, lalu sesuai dengan perkiraan, 15 menit kemudian

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 31. Memulai hidup yang baru

    Aisyah tersenyum, sungguh suaminya benar-benar telah berubah kini, dia tidak hanya menjaga tubuh Aisyah dari segala macam marabahaya, akan tetapi menjaga hatinya juga. Menjaga hati dari retak dan luka, menjaga hati dari semua kecewa yang bisa saja kembali hadir dan singgah. Bramantyo benar-benar berubah, rasa sesalnya ia tebus dengan semua sikap dan cintanya yang tulus untuk Aisyah. "MashaAllah, Mas!" Bram tersenyum, lalu akhirnya mereka memilih menjauh, mencari desa lain untuk tempat tempat tinggal mereka. "Mas, itu desa apa? Kok serem sih?" Sebelumnya Aisyah tidak pernah menjadi pribadi yang penakut seperti ini, namun entah mengapa suasana desa di depannya itu sungguh begitu mencekam. "Mas lebih takut dengan iblis yang berwujud manusia ketimbang mereka dengan wujud sebenarnya, Ai. Karena apa? Karena melawan dan mengusir mereka tidak akan melukai perasaanmu, percaya sama Mas, ya!" ungkap Bram, ia gandeng satu tangan istrinya itu untuk kemudian ia bawa berteduh di sebuah

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 30. Membawamu pergi

    Seberat apa pun masalahmu, ingat semua ini pasti ada akhirnya! "Silakan pergi, tapi biarkan Papa tetap di sini! Kamu bisa saja menjadikan nama besar Papa sebagai modal kehidupanmu yang gak jelas itu, tinggalkan Papa tetap di sini!" Bramantyo tak menduga jika Adrian masih memiliki belas asih kepada papanya, meskipun dengan alasan yang sungguh menyakitkan, akan tetapi, siapa yang akan mengurus ayahnya, sementara Aisyah harus ikut serta bersama dia? "Gak, aku gak mau, siapa yang akan merawat Papa?" ucap Bram keberatan. "Ada Bibi, Tuan Muda, percaya, kan sama Bibi?" Bi Onah, asisten rumah tangga di keluarga Bramantyo itu tiba-tiba muncul dari arah dapur. "Bi Onah?" Bram berkata lirih dengan secercah harapan di wajahnya. "Tolong jagain Papa ya, Bi!" Langkah kaki terasa be

  • Air Mata di Hari Persandingan   29. Prahara

    "Adrian!" ungkap Aisyah menjelaskan tentang pertanyaan suaminya itu. Lupakah dia, ataukah dia tidak menyadarinya? Bram raih satu tangan wanita itu lalu ia bawa masuk ke dalam rumah besar ayahnya ini. "Kita ke kamar Papa dan Mama!" kata Bram lagi, mereka berjalan dengan cepat menuju kamar Usman Sastro Nugroho. Dan lagi, kejanggalan demi kejanggalan yang belum Aisyah temui titik terangnya. Karena Bramantyo selalu saja mengelak meskipun sudah tertangkap basah dan ketahuan. Akan tetapi Aisyah butuh jawaban pasti dari suaminya, meskipun belum juga dia dapatkan. "Pa, Papa!" Kriek! Bram buka pintu kamar ayahnya itu dengan pelan. "Astaghfirullah, Papa!" Bramantyo pun seketika menghambur memeluk tubuh ayahnya yang terkulai tak berdaya di atas ranjang seorang diri. "Mama mana, Pa?" tanya Bram saat kedua mata ayahnya itu pun terbuka. "Emm, emm!" Hanya itulah yang kini didengar oleh Bramantyo dari bibir ayahnya. Sungguh menyedihkan, saat dulu ayahnya adalah sosok bersahaj

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 28. Di mana mereka?

    Suasana canggung pun tercipta. Tentu saja, mereka bukanlah pasangan romantis sebelum kejadian itu akhirnya membawa Bramantyo mendekam di dalam penjara, mereka bukan dua sejoli yang memang sudah mendambakan indahnya hidup berumah tangga, mereka adalah pasangan dengan segala carut-marut yang tercipta, dengan segala konflik yang pelik yang harus mereka peluk dengan penuh rasa sakit di dalam hati, namun akhirnya yang mereka rawat dengan penuh kesabaran dan juga rasa ikhlas itu pun berbuah manis, semanis kata-kata dan sikap Bramantyo kepada Aisyah. "Kamu gak suka ya kalau Mas cium-cium kayak tadi?Mas memang segaktahudiri itu, Ai, maaf, harusnya Mas tahu keburukan itu bahkan belum seujung kukupun berbanding dengan secuil ucapan cinta dan sayangku untukmu, gak!" ujar Bram. Aisyah belai pipi sang suami yang kini sudah ditumbuhi bulu-bulu halus itu, "Alhamdulillah, terima kasih atas cinta dan sayangmu untukku, Mas, maaf harus membuatmu menjalani hari-hari yang menyakitkan di dalam sa .

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 27. Mas Bram!

    Beberapa jam sebelumnya. "Bram, udah dijemput?" Pak Hasan berjalan mendekati Bramantyo yang sudah siap untuk meninggalkan tempat terkutuk baginya ini. "Pulang sendiri, Pak!" jawab Bram, lalu akhirnya ikut duduk di samping Hasan. "Bram, boleh saya tanya sesuatu ke kamu?" "Tentang apa? Semua hal akan kuberitahu, selain tentang bidadari syurgaku!" "Aisyah?" kata Hasan yang membuat mata elang Bram menukik tajam menatap tak suka. Semua boleh menghinanya, tapi tidak dengan istrinya. Meskipun yang diucapkan oleh Hasan belum tentu seperti yang ia sangkakan, namun tetap saja dia marah dan tak suka. "Anda pikir?" kata Bram menunjukkan sisi dominan yang memang selalu dia tunjukan selama di dalam bilik tahanan ini. "Ya kali, wanita abal-abal sejenis nini kunti ataupun sundel bolong yang dengan butanya kamu jadikan bidadari, syurga lagi! Hahahha, cukup keledai yang jatuh ke dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya, jangan kamu juga ikut-ikutan!" ucap Hasan yang disertai suara t

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 26. Sayang?

    "Mas Bram, maafkan aku karena tak mampu melanjutkan amanah yang sudah kamu percayakan ini. Aku tidak memiliki kuasa di perusahaan Papa ini, Mas, maaf!" ucap Aisyah dengan suara lirih. Satu tangannya sibuk memasukkan benda-benda penting miliknya ke dalam tas, sementara satu tangan yang lainnya sibuk menyeka bulir bening yang terus saja mengalirm tanpa bisa dicegah dan juga dijeda. Mengalir seolah tak peduli dengan sejuta sesak dan sakit di dalam dada yang sibuk mencari perisainya sendiri-sendiri di dalam sepinya hati. Tak ada sakit yang seperih ini, saat dia menangis dan tangan yang dia harapkan nyatanya tidak akan pernah ada di dekatnya, dia jauh, bahkan terlalu jauh ustat bisa dia sentuh saat ini. Coba untuk membungkam semua asa yang selalu ada, meskipun terasa begitu susah dan seakan malah memberi harapan kosong dan hampa. Akan tetapi, semakin dia coba, mengapa

  • Air Mata di Hari Persandingan   Chapter 25. Silakan keluar, Aisyah!

    Malam semakin sunyi, dinginnya memeluk setiap hati dan jiwa yang kesepian dalam himpitan dan timbunan rasa lelah yang terus mengudara. Hanya suara desahan nafas yang teratur naik turun seirama dengan bunyi jarum jam yang terus menderu meninggalkan sang waktu. "Perpisahan adalah upacara menyambut hari-hari penuh kesedihan, Pak Tua!" ucap Bram saat pria di sampingnya itu belum juga memejamkan kedua Indra penglihatannya. Tubuh pria itu sudah ia rebahkan di atas tikar lusuh yang sudah tidak bermotif lagi. Kepalanya ia sandarkan pada pergelangan tangannya yang mulai keriput dimakan usia. "Panggil aku Hasan, Bram!" Bramantyo menoleh, menciutkan pandangan matanya dengan alis mata tersentak bersama-sama. "Hasan?" ucap Bram dengan alis mengernyit heran. "Iya, Hasan, kenapa, apakah kamu pernah mendengar namaku ini sebelumnya?" Bram menggeleng, "Kenapa baru memberitahu setelah kita akan berpisah?" kata Bram. Pria dengan alis mata tebal itu pun menggeser duduknya agar lebih dekat.

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status