Bara memutuskan untuk tidak membangunkan Bayu, dan dia membiarkan Bayu terus tidur. Dia sendiri berusaha untuk mengingat kembali apa yang terjadi waktu semalam, dan dia berharap bahwa dia bisa mengingat sesuatu yang penting.Sementara itu, Bayu masih tertidur, tidak sadar bahwa Bara sudah terbangun dan memandangnya dengan lembut. Bayu masih memeluk Bara dengan lembut, dan dia masih memiliki senyum lembut di wajahnya.Bara memandang Bayu dengan lebih teliti, dan dia merasa bahwa dia merasa pernah bertemu Bayu sebelumnya dengan waktu yang cukup lama. Dia ingin mengingat, namun entah bagaimana ia bisa lupa. Tetapi dia ingin membuat Bayu merasa aman tanpa tersakiti. Bara tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu, tapi dia tahu bahwa dia merasa memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Bayu.Tanpa mempedulikan lagi, Bara memutuskan untuk bangun dari tempat tidur dan melakukan beberapa kegiatan untuk membuat dirinya menjadi lebih nyaman. Dia berjalan ke dapur untuk membuat sarapan, dan dia j
Bara memandang Bayu dengan kebingungan dan penasaran. "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan," kata Bara dengan suara yang sedikit ragu.Bayu memandang Bara dengan mata yang penuh ketenangan. "Aku akan selalu ada di sampingmu, Bara. Apa pun yang terjadi, aku akan membantumu," kata Bayu dengan suara yang lembut.Bara tersenyum dan memandang Bayu dengan mata yang penuh rasa harapan. "Terima kasih, Bayu. Aku sangat beruntung memiliki kamu sebagai asisten sekaligus teman," kata Bara dengan suara yang lembut.Tiba-tiba, telepon di meja kerja Bara berdering lagi. Bara mengangkat telepon dan menjawab. "Halo?""Aku sudah mengirimkan alamat dan waktu pertemuan ke kamu melalui SMS. Tolong jangan lupa untuk datang," suara di seberang telepon mengatakan sebelum menutup telepon.Bara memandang Bayu dengan kebingungan dan penasaran. "Aku harus pergi ke pertemuan itu," kata Bara dengan suara yang sedikit ragu.Bayu memandang Bara dengan rasa cemas. "Aku akan pergi bersamamu, Bara. Aku tidak ingi
Bayu mencoba untuk mengendalikan perasaannya dan memutuskan untuk bergabung dengan tamu-tamu lain yang sedang menari. Dia berharap bahwa dengan bergabung dengan kerumunan, dia bisa melupakan perasaan cemburunya.Namun, saat dia menari, matanya selalu kembali ke Bara dan Sapphire yang masih dansa bersama. Bayu bisa melihat bahwa Bara terlihat tidak nyaman, tapi Sapphire tampaknya sangat menikmati momen itu.Bayu merasa sedikit lega melihat bahwa Bara tidak terlalu menikmati dansa itu, tapi dia masih merasa cemburu karena Sapphire terlihat sangat dekat dengan Bara.Saat lagu dansa berakhir, Bara dan Sapphire berpisah dan Sapphire memandang Bayu dengan senyum yang seakan mengejek. "Hai, Bayu! Kamu tidak ingin dansa bersama aku?" tanya Sapphire dengan nada yang sedikit menggoda.Bayu merasa sedikit terkejut dengan pertanyaan Sapphire, tapi dia mencoba untuk tetap tenang. "Aku... aku tidak tahu, Sapphire. Aku tidak terlalu pandai menari," jawab Bayu dengan nada yang sedikit ragu.Sapphire
Baru hanya bisa pura-pura tersenyum. Padahal saat di bar tadi, Sapphire tiba-tiba berbicara dengan nada yang sedikit keras. "Kamu juga tahu, Bayu, aku sudah tahu siapa kamu sebenarnya," kata Sapphire dengan mata yang sedikit mencorong.Bayu memandang Sapphire dengan mata yang sedikit terkejut. "Apa yang kamu maksud, Sapphire?" tanya Bayu dengan nada yang santai, tapi sedikit ragu.Sapphire tersenyum dengan nada yang sedikit menakutkan. "Apa kamu lupa? Aku tahu kamu adalah Liyana, Bayu. Aku tahu kamu telah menyamar sebagai Bayu untuk mengawasi aku dan Bara," kata Sapphire dengan nada yang sedikit keras.Bayu memandang Sapphire dengan mata yang sedikit tajam. Dia tidak menyangka bahwa Sapphire yang sudah tahu akan tentang identitasnya yang sebenarnya. Menggunakan itu sebagai ancaman bagi dirinya.Sapphire melanjutkan, "Aku ingin memberitahu kamu, Liyana, bahwa aku tidak ingin kamu ikut campur dalam hidupku dan Bara. Jika kamu tidak mau aku ikut campur dalam hidupmu, maka kamu harus dia
Bayu (Liyana) merasa sedikit terharu dengan kata-kata Bara. Dia tidak menyangka bahwa Bara akan begitu peduli dengan dirinya."Aku... aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, Bara," kata Bayu (Liyana) dengan nada yang sedikit ragu.Bara tersenyum dan memandang Bayu (Liyana) dengan mata yang sedikit hangat. "Kamu tidak perlu mengatakan apa-apa, Bayu. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku ada di sini untuk kamu," kata Bara dengan nada yang santai.Bayu (Liyana) merasa sedikit lega dengan kata-kata Bara. Dia merasa bahwa dia tidak sendirian dan bahwa Bara akan selalu ada di sampingnya.Tapi, Bayu (Liyana) juga merasa sedikit khawatir. Dia tidak ingin Bara terlibat dalam konflik dengan Sapphire, dan dia tidak ingin Bara mengetahui tentang ancaman Sapphire terhadapnya."Aku... aku harus pergi sekarang, Bara," kata Bayu (Liyana) dengan nada yang sedikit ragu.Bara memandang Bayu (Liyana) dengan mata yang sedikit penasaran. "Apa yang terjadi, Bayu? Kamu tidak ingin berbicara denganku lagi?"
Bayu tersenyum dan memandang ke arah Ryven. "Hai, Ryven," kata Bayu dengan nada yang lembut.Ryven tersenyum dan memandang ke arah Bayu. "Hai, Bayu. Aku senang bisa bertemu dengan kamu lagi," kata Ryven dengan nada yang santai.Bayu memandang ke arah Ryven dan merasa sedikit bersemangat. Dia tidak bisa tidak memikirkan tentang betapa senangnya dia bisa bertemu dengan Ryven lagi."Aku juga senang bisa bertemu dengan kamu lagi, Ryven," kata Bayu dengan nada yang lembut.Ryven tersenyum dan memandang ke arah Bayu. "Aku ingin berbicara dengan kamu tentang sesuatu, Bayu. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Bara," kata Ryven dengan nada yang serius.Bayu memandang ke arah Ryven dan merasa sedikit terkejut. Dia tidak menyangka bahwa Ryven akan bertanya tentang hal itu.Ryven memandang ke arah Bayu dengan mata yang sedikit tajam. "Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Bara, Bayu. Apakah kamu sudah mulai merasa nyaman dengan peranmu sebagai "Bayu"?"
Bara memandang ke arah "nenek Liyana" dengan mata yang sedikit terheran-heran. Dia tidak bisa mempercayai apa yang sedang terjadi. "Nenek Liyana" yang seharusnya berusia lanjut, sekarang berperilaku seperti seorang wanita muda yang sedang jatuh cinta.Bara mulai merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan "nenek Liyana" ini. Dia mulai merasa bahwa "nenek Liyana" ini mungkin bukanlah Liyana yang sebenarnya.Tiba-tiba, Bara teringat akan sesuatu. Dia teringat akan cara "nenek Liyana" memasak, yang mirip dengan cara Liyana memasak. Dia juga teringat akan cara "nenek Liyana" berbicara, yang mirip dengan cara Liyana berbicara. Kini ia bingung.Bara memandang ke arah "nenek Liyana" dengan mata yang penuh dengan keraguan. "Siapa kamu, sebenarnya?" tanya Bara dengan nada yang santai."Nenek Liyana" tersenyum dan memandang ke arah Bara dengan mata yang sangat tajam. "Aku adalah istrimu Liyana, tentu saja," kata "nenek Liyana" dengan nada yang lembut dan menggoda.Tapi, Bara tidak percaya
Liyana (Bayu) memandang ke arah Ryven dan tersenyum lembut. Dia merasa sedikit lega karena Ryven tidak meminta dia untuk membuat keputusan sekarang. Namun, dia juga merasa sedikit bingung karena Ryven tampaknya memiliki perasaan yang lebih dalam terhadapnya."Baiklah, Ryven," kata Liyana (Bayu) dengan nada yang lembut. "Aku akan memikirkan tentang hal itu."Ryven tersenyum dan memandang ke arah Liyana (Bayu) dengan mata yang sangat tulus dan serius. "Aku senang kamu mau memikirkannya, Bayu," kata Ryven dengan nada yang santai. "Aku akan menunggu jawabanmu."Liyana (Bayu) merasa sedikit tidak nyaman dengan situasi ini. Dia tidak tahu bagaimana harus merespons perasaan Ryven, dan dia juga tidak ingin menyakiti perasaan Bara cintanya. Namun, dia juga tidak ingin membiarkan Ryven memiliki harapan yang salah tentang perasaannya."Aku harus pergi sekarang, Ryven," kata Liyana (Bayu) dengan nada yang lembut. "Aku memiliki beberapa hal yang harus aku lakukan.""Mau pulang sekarang?" tanya Ryv
Bayu menatap orang di hadapannya dengan napas memburu. Sosok itu—seseorang yang seharusnya tidak ada lagi di dunia ini—tersenyum miring, seolah menikmati keterkejutannya.“Kau... siapa sebenarnya?” suara Bayu bergetar. Ia berusaha mempertahankan ketenangannya, tapi dadanya terasa sesak.Orang itu melangkah maju, cahaya redup lampu jalan menyinari wajahnya yang familiar, tapi ada sesuatu yang berbeda. Sorot matanya lebih gelap, lebih tajam.“Kau masih tidak mengenaliku, Liyana?” suaranya rendah, penuh sindiran.Bayu mengepalkan tangannya. Nama itu. Sudah lama ia tidak mendengarnya dari orang lain selain Ryven.“Kau salah orang,” jawabnya dingin. “Aku Bayu.”Orang itu terkekeh. “Oh, tentu saja. Bayu yang selalu berada di sisi Bara, kan?”Bayu merasakan hawa dingin menjalari tengkuknya. Orang ini tahu terlalu banyak.“Sudahlah, aku tidak punya banyak waktu.” Orang itu mendekat, mencondongkan tubuhnya sedikit. “Aku
Bayu menarik napas dalam-dalam, matanya menyipit saat menatap layar ponsel. Ia menggigit bibirnya, jemarinya sedikit gemetar. Pesan itu seperti pisau bermata dua. Jika ia menemui orang itu, bisa saja ini jebakan. Tapi jika tidak, nyawanya dan orang-orang yang ia lindungi bisa berada dalam bahaya.Dengan hati-hati, ia mengetik balasan.“Aku akan datang.”Setelah mengirim pesan itu, Bayu merasakan debar jantungnya semakin kencang. Ia harus mempersiapkan diri. Tidak ada jaminan bahwa pertemuan ini akan berjalan aman. Ia tidak tahu siapa yang mengiriminya pesan, tapi satu hal pasti—orang itu mengetahui identitasnya.Bayu berdiri, berjalan menuju jendela dan mengintip ke luar. Jalanan tampak lengang, hanya lampu jalan yang redup menerangi trotoar. Dalam keheningan itu, ia merasa ada sepasang mata yang mengawasinya dari kejauhan.Ia menoleh ke belakang, memastikan pintu kamar terkunci. Bara masih di atas, mungkin sudah terlelap. Ia tidak bisa membiarkan siapapun, terutama Bara, mengetahui p
Langkah mereka semakin cepat, menyelinap dalam bayang-bayang malam yang kian pekat. Bayu merasakan detak jantungnya menghentak di dadanya, seakan memberinya peringatan. Setiap langkah terasa berat, bukan karena kelelahan, melainkan karena beban keputusan yang harus ia hadapi.Di persimpangan jalan yang remang, Ryven tiba-tiba menarik lengannya, membuat Bayu nyaris kehilangan keseimbangan.“Tunggu,” bisik Ryven, matanya menyipit ke arah sudut jalan. “Ada yang mengawasi.”Bayu menahan napas, otaknya langsung bekerja cepat. Pandangannya mengikuti arah tatapan Ryven—dan benar saja. Di kejauhan, di balik tembok tua yang hampir tertutup bayangan, ada seseorang berdiri. Siluetnya samar, tapi jelas orang itu memperhatikan mereka.“Siapa dia?” bisik Bayu, tangannya refleks meraba sesuatu di sakunya—bukan senjata, tapi sekadar memastikan dirinya siap menghadapi apa pun.Ryven tak langsung menjawab. Ia merogoh ponselnya, berpura-pura mengecek sesuatu, lalu berbisik pelan, “Jangan bereaksi berleb
Bayu berlari menyusul Bara, napasnya tersengal. Jantungnya berpacu bukan hanya karena langkahnya yang cepat, tapi juga karena ketakutan yang menyesakkan dada. “Pak Bara!” serunya, tapi pria itu terus berjalan tanpa menoleh. Langkah Bayu terhenti di depan pintu rumah yang sudah terbuka lebar. Ia menatap punggung Bara yang berdiri di tengah ruangan, tubuhnya tegang, seolah menahan amarah yang siap meledak kapan saja. “Pak Bara…” suara Bayu melemah, tapi Bara tiba-tiba berbalik, membuat Bayu terkejut. “Kau tahu sesuatu, kan?” Suara Bara terdengar parau, matanya menyala. “Tentang nenek itu. Tentang hasil tes. Apa yang kau sembunyikan dariku?” Bayu menggigit bibir. “Saya… saya tidak tahu apa yang Bapak maksud.” “Jangan bohong!” Bara membanting meja di depannya, membuat Bayu tersentak. “Sejak awal kau selalu mencurigakan! Kenapa kau begitu peduli dengan hasil tes itu? Siapa kau sebenarnya, Bayu?”
Bayu duduk memeluk lutut di lantai kamar yang dingin. Nafasnya bergetar, dada terasa sesak, dan pikiran berkecamuk. Suara langkah Bara yang menjauh terdengar begitu menyakitkan. Ia ingin mengejar, ingin memohon agar Bara mendengarkannya, tapi tubuhnya terasa berat.Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa diam saja.Bayu menghapus air mata yang menggenang di pipinya. Ia merogoh ponsel dari saku, menatap layar yang buram karena tangannya gemetar. Jarinya mengetik pesan cepat untuk Ryven.“Aku butuh bantuanmu. Cari tahu siapa yang memanipulasi hasil tes DNA itu.”Pesan terkirim. Bayu menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Matanya terpaku pada bayangan dirinya di kaca jendela kamar. Wajah pucat itu terasa asing. Mata sembab dan bibir yang gemetar membuatnya terlihat begitu lemah.Tiba-tiba, suara dering ponsel memecah keheningan. Bayu buru-buru mengangkatnya. “Ryven?”“Aku sudah menduga kau akan bilang begitu.” Suara Ry
Bayu tertegun. Peluh dingin mengalir di pelipisnya. “Apa maksud Bapak?” Bara mencondongkan tubuhnya, berbisik pelan. “Siapa kamu sebenarnya?” Bayu membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Bara tahu? Tidak… tidak mungkin. “Saya Bayu, Pak,” jawabnya dengan suara bergetar. Bara tertawa kecil, tapi tidak ada kehangatan dalam tawanya. “Benarkah?” Ia menatap Bayu lekat-lekat, lalu berbisik, “Atau kamu… Liyana?” Dunia seakan berhenti berputar. Bayu terpaku di tempat, darahnya berdesir dingin. Mata Bara menatapnya tajam, menunggu reaksi. Bayu mencoba menyangkal, tapi bibirnya terasa kaku. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Jika Bara benar-benar tahu, maka segalanya sudah berakhir. “Bapak… kenapa bicara seperti itu?” suaranya terdengar serak. Bara tidak menjawab. Ia hanya menatap Bayu dalam diam, seolah menunggu lawannya membuat kesalahan. Detik demi detik berlalu, terasa
Malam itu, Bayu hampir tidak tidur. Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang diselimuti embun. Pikiran tentang tes DNA yang akan keluar besok membuatnya gelisah. Ancaman dari pria misterius di gudang menambah beban yang menghimpit dadanya.Aku harus melindungi Bara. Bagaimanapun caranya.Bayu meraih ponselnya dan mengetik pesan untuk Ryven. Namun, jari-jarinya berhenti di atas layar. Tidak… Ryven tidak boleh terlibat. Ini urusannya sendiri. Ia menutup layar ponsel, lalu beranjak keluar kamar.Rumah terasa begitu sunyi di tengah malam. Bayu berjalan pelan menuju ruang kerja Bara. Pintu kayu itu sedikit terbuka, dan ia mendorongnya perlahan. Cahaya temaram dari lampu meja membuat ruangan terasa hangat, tapi hawa tegang di hatinya tidak berkurang.Matanya langsung tertuju pada laci di sudut meja — tempat Bara menyimpan dokumen-dokumen penting. Bayu menelan ludah, lalu berjalan mendekat. Dengan tangan gemetar, ia menarik laci itu perlahan. Koson
Bayu berdiri mematung di tengah jalan, napasnya masih tersengal setelah adegan menegangkan barusan. Angin malam yang dingin menusuk tulang, tapi pikirannya jauh lebih berkecamuk dibandingkan udara yang menusuk kulitnya. Bara mungkin sudah pergi, tapi bahaya belum benar-benar lenyap.Ia melirik ponsel di saku jaketnya, tangan gemetar saat meraihnya. Sebuah pesan baru masuk dari nomor tak dikenal — nomor yang sebelumnya mengancamnya.“Kau membuat gerakan yang berani. Tapi ingat, satu langkah salah, semua berakhir.”Bayu meremas ponselnya, rahangnya mengeras. Siapa pun orang ini, dia mengawasi. Dan itu berarti waktu Bayu semakin menipis.Ia menyalakan motor lagi, melaju kencang kembali ke rumah Bara. Jantungnya terus berdetak tak menentu, pikirannya berkelindan antara rahasia yang ia sembunyikan dan ancaman yang kini mengintainya.Saat tiba di rumah, suasana sudah sunyi. Lampu ruang tengah masih menyala, tapi tak ada tanda-tanda Bara di mana
Bayu duduk diam di tepi ranjang, menatap kosong ke arah lantai. Udara malam terasa begitu berat, seakan menindih dadanya. Pikirannya penuh dengan bayangan masa lalu, ancaman Gustur, serta permintaan pria misterius tadi.Ia meremas ujung selimut. Bagaimana kalau ini jebakan? Bagaimana kalau pria itu sebenarnya anak buah Gustur?Bayu menggeleng pelan. Tidak. Kalau pria itu benar-benar bekerja untuk Gustur, ia tak mungkin memberikan foto-foto itu. Tapi…Tiba-tiba pintu kamar diketuk pelan. Bayu tersentak, buru-buru menyeka wajahnya dan mencoba menenangkan napasnya.“Masuk,” ujarnya.Pintu terbuka perlahan, dan Bara masuk dengan ekspresi serius. “Kau belum tidur?”Bayu menggeleng. “Belum ngantuk, Pak.”Bara menatapnya lekat. “Aku juga nggak bisa tidur.” Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi dekat jendela. “Bayu… ada yang ingin kutanyakan padamu.”Jantung Bayu berdegup kencang. Ia berusaha menjaga ekspresinya tetap