Bayu dengan cepat meminta Bara untuk pulang, meninggalkan Sapphire yang masih berdiri di tempat. Bara masih terlihat terkejut dan sebenarnya penasaran setelah mendengar kabar tentang Liyana dari Sapphire."Aku tidak bisa percaya ini," kata Bara, dengan suara yang keras. "Aku harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Liyana."Bayu memandang Bara dengan ekspresi yang khawatir. "Kita harus berhati-hati, Bara. Kita tidak tahu apa yang kita hadapi, apalagi terhadap wanita ini," kata Bayu, dengan suara yang berbisik.Bara mengangguk pelan, tapi masih terlihat terobsesi dengan apa yang dikatakan oleh Sapphire terhadap Liyana. Bayu tahu bahwa dia harus menjaga Bara agar tidak melakukan sesuatu yang berbahaya.Sebelum mereka pulang, Sapphire memanggil Bara dan Bayu untuk berhenti sejenak. "Tunggu, Bara," kata Sapphire, dengan suara yang serius. "Aku ingin membantu kamu menemukan Liyana, Tapi, kamu malah begini," terang lagi Sapphire "Jangan sok peduli Sapphire, kamu aja tidak tahu bagaiman
Setelah diketuk tiba-tiba saja pintu di buka dari luar, bara lupa untuk mengunci pintu kamarnya.Abara pikir yang masuk ke dalam kamarnya itu Bayu, ternyata bukan!Bara terkejut ketika Nenek Liyana yang memasuki kamarnya. "Nenek, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Bara, dengan suara yang pelan dan terkejut.Nenek Liyana tersenyum dan berjalan menuju tempat tidur Bara. "Aku ingin tidur di sini, mas," kata Nenek Liyana, dengan suara yang lembut dan santai.Bara merasa tidak nyaman dengan kehadiran Nenek Liyana di kamarnya. "Tapi, Nenek, ini kamar pribadiku," kata Bara, masih dengan suara yang pelan dan tidak nyaman.Nenek Liyana tersenyum lagi dan duduk di atas tempat tidur Bara. "Berarti ini juga kamarku, Kitakan suami-istri. Lagi pula aku tidak akan mengganggumu, mas," kata Nenek Liyana, dengan suara yang lembut dan santai.Bara merasa tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia tidak ingin membuat Mak Lampir itu marah, tapi dia juga tidak ingin Nenek Liyana tidur di kamarnya.Bara me
Sapphire tersenyum dan memandang Bara dengan ekspresi yang aneh. "Kamu tidak tahu apa yang terjadi dengan istrimu, kan?" kata Sapphire dengan suara yang pelan.Bara memandang Sapphire dengan ekspresi yang tidak pasti. "Apa yang kamu maksud?" tanya Bara dengan suara yang pelan.Sapphire tidak menjawab pertanyaan Bara. Dia hanya tersenyum dan berjalan keluar dari rumah.Nenek Liyana memandang Bara dengan ekspresi yang khawatir. "Bara, kamu harus berhati-hati dengan Sapphire," kata Nenek Liyana dengan suara yang serius.Bayu juga memandang Bara dengan ekspresi yang khawatir. "Ya, Bara, kamu tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya antara kamu dan Sapphire," kata Bayu dengan suara yang serius.Bara memandang Nenek Liyana dan Bayu dengan ekspresi yang tidak pasti. Dia tidak tahu apa yang memang terjadi sebenarnya dengan istrinya, tapi ia akan berusaha untuk menemukan di mana sebetulnya Liaya? Hidup atau mati. Tapi sekarang, dia merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres.Sapphire berdir
Nenek Liyana memasuki kantor Bara dengan percaya diri, meskipun penampilannya sedikit tidak biasa. Dia mengenakan pakaian yang nyentrik, dengan warna-warna cerah dan motif yang unik. Dia juga memakai kacamata hitam yang membuatnya terlihat seperti seorang bintang film.Orang-orang di kantor tidak bisa tidak memandang Nenek Liyana dengan heran. Mereka tidak terbiasa melihat seseorang yang berpakaian seperti itu, apalagi seorang nenek yang sudah berusia lanjut.Beberapa orang memandang Nenek Liyana dengan ekspresi yang bingung, sementara yang lain memandangnya dengan ekspresi yang terhibur. Tapi Nenek Liyana tidak peduli dengan pandangan mereka. Dia terus berjalan dengan percaya diri, menuju ke arah meja resepsionis.Bara sendiri tidak menyadari bahwa Nenek Liyana datang ke kantornya. Dia masih sibuk bekerja dan tidak melihat Nenek Liyana yang sedang berjalan menuju ke ruangannya.Nenek Liyana berjalan menuju meja resepsionis yang terletak di dekat pintu masuk kantor. Dia tersenyum dan
Nenek Liyana tersenyum dan memandang Bara dengan ekspresi yang puas. "Saya senang Anda mau memanggil saya dengan sebutan yang lebih intim, Sayang," kata Nenek Liyana dengan suara yang lembut.Bara memandang Nenek Liyana dengan ekspresi yang sedikit tidak nyaman. Dia merasa bahwa Nenek Liyana sedang mencoba untuk membuatnya merasa lebih dekat dengannya, tapi dia tidak yakin apakah dia siap untuk itu.Nenek Liyana kemudian berdiri dan berjalan menuju Bara. "Saya ingin Anda tahu bahwa saya sangat senang memiliki Anda sebagai suami saya, Sayang," kata Nenek Liyana dengan suara yang lembut.Bara memandang Nenek Liyana dengan ekspresi yang sedikit terkejut. Dia tidak terbiasa dengan perilaku Nenek Liyana yang begitu intim dan dia tidak yakin bagaimana harus bereaksi. Tapi, ia lakukan demi kelangsungan hidupnya dan berharap misinya untuk jauh dari si wanita penggoda (sapphire ) akan berjalan lancar. Nenek Liyana kemudian memeluk Bara dengan erat, membuat Bara merasa begitu tidak nyaman. "Sa
Bara memandang Nenek Liyana dengan ekspresi yang penasaran. "Apa itu, Nenek Liyana, maksudnya is ... triku?" tanya Bara dengan suara yang sedikit ragu.Nenek Liyana memandang Bara dengan ekspresi yang hangat. "Saya ingin berbicara dengan kamu tentang masa depan kita," kata Nenek Liyana dengan suara yang lembut.Bara merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan ini. Dia tidak tahu apa yang Nenek Liyana ingin bicarakan, tapi dia merasa bahwa itu tidak akan baik."Apa yang kamu maksud, Nenek Liyana?" tanya Bara dengan suara yang sedikit ragu.Nenek Liyana memandang Bara dengan ekspresi yang hangat. "Saya ingin kamu menjadi bagian dari keluarga saya, Sayang," kata Nenek Liyana dengan suara yang lembut.Bara merasa terkejut dengan kata-kata Nenek Liyana. Dia tidak pernah membayangkan bahwa Nenek Liyana akan mengatakan sesuatu seperti itu. Dia merasa syok dan tidak tahu bagaimana harus bereaksi."Apa yang kamu maksud, Nenek Liyana?" tanya Bara dengan suara yang sedikit ragu, berusaha untuk m
Bara memandang Nenek Liyana dengan ekspresi yang sedih. "Liyana, saya tidak tahu apa yang terjadi pada kamu," kata Bara dengan suara yang lembut. "Tapi saya akan membantu kamu, tidak peduli apa pun yang terjadi."Nenek Liyana memandang Bara dengan ekspresi yang lega. "Terima kasih, Bara," kata Nenek Liyana dengan suara yang lembut. "Saya tahu bahwa saya bisa mengandalkan kamu."Bayu memandang Nenek Liyana dan Bara dengan ekspresi yang serius. Kenapa tiba-tiba Bara mendadak luluh dan percaya pada wanita tua itu? Apakah ia sedang merencanakan sesuatu? Bayu pikir lebih baik ia mengikuti alur cerita yang dibuat oleh Bara. "Kita harus mencari tahu apa yang terjadi pada Liyana," kata Bayu dengan suara yang pelan. "Kita harus mencari jawaban dan mengembalikan Liyana ke bentuk aslimu."Nenek Liyana memandang Bayu dengan ekspresi yang sedih. "Tapi bagaimana kita bisa melakukannya?" tanya Nenek Liyana dengan suara yang ragu.Bayu memandang Liyana dengan ekspresi yang tenang. "Kita akan mencari
Tak ada orang yang mengetahui bahwa Liyana yang menyamar sebagai Bayu terus mengawasi Sapphire dari jauh, mencoba untuk memahami apa yang sedang terjadi. Dia tidak bisa membiarkan Sapphire melaksanakan segala rencananya dan mengambil alih hati Bara.Sapphire, yang tidak menyadari bahwa dia sedang diawasi, terus melanjutkan rencananya. Dia memanggil salah satu bawahannya dan memberikan perintah untuk melaksanakan langkah berikutnya dalam rencananya.Liyana yang menyamar sebagai Bayu memutuskan untuk terus bertindak dalam diamnya. Dia tidak bisa membiarkan Sapphire melaksanakan rencananya dan mengambil alih hati Bara. Dia mulai merencanakan cara untuk menghentikan Sapphire dan menyelamatkan Bara.Tapi, Sapphire tidak akan mudah dikalahkan. Dia memiliki rencana cadangan yang siap untuk dilaksanakan jika rencana awalnya gagal. Dan, rencana cadangan itu akan membuat Liyana yang menyamar sebagai Bayu dan Bara dalam bahaya yang lebih besar.Liyana yang menyamar sebagai Bayu memutuskan untuk
Bayu menarik napas dalam-dalam, matanya menyipit saat menatap layar ponsel. Ia menggigit bibirnya, jemarinya sedikit gemetar. Pesan itu seperti pisau bermata dua. Jika ia menemui orang itu, bisa saja ini jebakan. Tapi jika tidak, nyawanya dan orang-orang yang ia lindungi bisa berada dalam bahaya.Dengan hati-hati, ia mengetik balasan.“Aku akan datang.”Setelah mengirim pesan itu, Bayu merasakan debar jantungnya semakin kencang. Ia harus mempersiapkan diri. Tidak ada jaminan bahwa pertemuan ini akan berjalan aman. Ia tidak tahu siapa yang mengiriminya pesan, tapi satu hal pasti—orang itu mengetahui identitasnya.Bayu berdiri, berjalan menuju jendela dan mengintip ke luar. Jalanan tampak lengang, hanya lampu jalan yang redup menerangi trotoar. Dalam keheningan itu, ia merasa ada sepasang mata yang mengawasinya dari kejauhan.Ia menoleh ke belakang, memastikan pintu kamar terkunci. Bara masih di atas, mungkin sudah terlelap. Ia tidak bisa membiarkan siapapun, terutama Bara, mengetahui p
Langkah mereka semakin cepat, menyelinap dalam bayang-bayang malam yang kian pekat. Bayu merasakan detak jantungnya menghentak di dadanya, seakan memberinya peringatan. Setiap langkah terasa berat, bukan karena kelelahan, melainkan karena beban keputusan yang harus ia hadapi.Di persimpangan jalan yang remang, Ryven tiba-tiba menarik lengannya, membuat Bayu nyaris kehilangan keseimbangan.“Tunggu,” bisik Ryven, matanya menyipit ke arah sudut jalan. “Ada yang mengawasi.”Bayu menahan napas, otaknya langsung bekerja cepat. Pandangannya mengikuti arah tatapan Ryven—dan benar saja. Di kejauhan, di balik tembok tua yang hampir tertutup bayangan, ada seseorang berdiri. Siluetnya samar, tapi jelas orang itu memperhatikan mereka.“Siapa dia?” bisik Bayu, tangannya refleks meraba sesuatu di sakunya—bukan senjata, tapi sekadar memastikan dirinya siap menghadapi apa pun.Ryven tak langsung menjawab. Ia merogoh ponselnya, berpura-pura mengecek sesuatu, lalu berbisik pelan, “Jangan bereaksi berleb
Bayu berlari menyusul Bara, napasnya tersengal. Jantungnya berpacu bukan hanya karena langkahnya yang cepat, tapi juga karena ketakutan yang menyesakkan dada. “Pak Bara!” serunya, tapi pria itu terus berjalan tanpa menoleh. Langkah Bayu terhenti di depan pintu rumah yang sudah terbuka lebar. Ia menatap punggung Bara yang berdiri di tengah ruangan, tubuhnya tegang, seolah menahan amarah yang siap meledak kapan saja. “Pak Bara…” suara Bayu melemah, tapi Bara tiba-tiba berbalik, membuat Bayu terkejut. “Kau tahu sesuatu, kan?” Suara Bara terdengar parau, matanya menyala. “Tentang nenek itu. Tentang hasil tes. Apa yang kau sembunyikan dariku?” Bayu menggigit bibir. “Saya… saya tidak tahu apa yang Bapak maksud.” “Jangan bohong!” Bara membanting meja di depannya, membuat Bayu tersentak. “Sejak awal kau selalu mencurigakan! Kenapa kau begitu peduli dengan hasil tes itu? Siapa kau sebenarnya, Bayu?”
Bayu duduk memeluk lutut di lantai kamar yang dingin. Nafasnya bergetar, dada terasa sesak, dan pikiran berkecamuk. Suara langkah Bara yang menjauh terdengar begitu menyakitkan. Ia ingin mengejar, ingin memohon agar Bara mendengarkannya, tapi tubuhnya terasa berat.Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa diam saja.Bayu menghapus air mata yang menggenang di pipinya. Ia merogoh ponsel dari saku, menatap layar yang buram karena tangannya gemetar. Jarinya mengetik pesan cepat untuk Ryven.“Aku butuh bantuanmu. Cari tahu siapa yang memanipulasi hasil tes DNA itu.”Pesan terkirim. Bayu menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Matanya terpaku pada bayangan dirinya di kaca jendela kamar. Wajah pucat itu terasa asing. Mata sembab dan bibir yang gemetar membuatnya terlihat begitu lemah.Tiba-tiba, suara dering ponsel memecah keheningan. Bayu buru-buru mengangkatnya. “Ryven?”“Aku sudah menduga kau akan bilang begitu.” Suara Ry
Bayu tertegun. Peluh dingin mengalir di pelipisnya. “Apa maksud Bapak?” Bara mencondongkan tubuhnya, berbisik pelan. “Siapa kamu sebenarnya?” Bayu membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Bara tahu? Tidak… tidak mungkin. “Saya Bayu, Pak,” jawabnya dengan suara bergetar. Bara tertawa kecil, tapi tidak ada kehangatan dalam tawanya. “Benarkah?” Ia menatap Bayu lekat-lekat, lalu berbisik, “Atau kamu… Liyana?” Dunia seakan berhenti berputar. Bayu terpaku di tempat, darahnya berdesir dingin. Mata Bara menatapnya tajam, menunggu reaksi. Bayu mencoba menyangkal, tapi bibirnya terasa kaku. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Jika Bara benar-benar tahu, maka segalanya sudah berakhir. “Bapak… kenapa bicara seperti itu?” suaranya terdengar serak. Bara tidak menjawab. Ia hanya menatap Bayu dalam diam, seolah menunggu lawannya membuat kesalahan. Detik demi detik berlalu, terasa
Malam itu, Bayu hampir tidak tidur. Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang diselimuti embun. Pikiran tentang tes DNA yang akan keluar besok membuatnya gelisah. Ancaman dari pria misterius di gudang menambah beban yang menghimpit dadanya.Aku harus melindungi Bara. Bagaimanapun caranya.Bayu meraih ponselnya dan mengetik pesan untuk Ryven. Namun, jari-jarinya berhenti di atas layar. Tidak… Ryven tidak boleh terlibat. Ini urusannya sendiri. Ia menutup layar ponsel, lalu beranjak keluar kamar.Rumah terasa begitu sunyi di tengah malam. Bayu berjalan pelan menuju ruang kerja Bara. Pintu kayu itu sedikit terbuka, dan ia mendorongnya perlahan. Cahaya temaram dari lampu meja membuat ruangan terasa hangat, tapi hawa tegang di hatinya tidak berkurang.Matanya langsung tertuju pada laci di sudut meja — tempat Bara menyimpan dokumen-dokumen penting. Bayu menelan ludah, lalu berjalan mendekat. Dengan tangan gemetar, ia menarik laci itu perlahan. Koson
Bayu berdiri mematung di tengah jalan, napasnya masih tersengal setelah adegan menegangkan barusan. Angin malam yang dingin menusuk tulang, tapi pikirannya jauh lebih berkecamuk dibandingkan udara yang menusuk kulitnya. Bara mungkin sudah pergi, tapi bahaya belum benar-benar lenyap.Ia melirik ponsel di saku jaketnya, tangan gemetar saat meraihnya. Sebuah pesan baru masuk dari nomor tak dikenal — nomor yang sebelumnya mengancamnya.“Kau membuat gerakan yang berani. Tapi ingat, satu langkah salah, semua berakhir.”Bayu meremas ponselnya, rahangnya mengeras. Siapa pun orang ini, dia mengawasi. Dan itu berarti waktu Bayu semakin menipis.Ia menyalakan motor lagi, melaju kencang kembali ke rumah Bara. Jantungnya terus berdetak tak menentu, pikirannya berkelindan antara rahasia yang ia sembunyikan dan ancaman yang kini mengintainya.Saat tiba di rumah, suasana sudah sunyi. Lampu ruang tengah masih menyala, tapi tak ada tanda-tanda Bara di mana
Bayu duduk diam di tepi ranjang, menatap kosong ke arah lantai. Udara malam terasa begitu berat, seakan menindih dadanya. Pikirannya penuh dengan bayangan masa lalu, ancaman Gustur, serta permintaan pria misterius tadi.Ia meremas ujung selimut. Bagaimana kalau ini jebakan? Bagaimana kalau pria itu sebenarnya anak buah Gustur?Bayu menggeleng pelan. Tidak. Kalau pria itu benar-benar bekerja untuk Gustur, ia tak mungkin memberikan foto-foto itu. Tapi…Tiba-tiba pintu kamar diketuk pelan. Bayu tersentak, buru-buru menyeka wajahnya dan mencoba menenangkan napasnya.“Masuk,” ujarnya.Pintu terbuka perlahan, dan Bara masuk dengan ekspresi serius. “Kau belum tidur?”Bayu menggeleng. “Belum ngantuk, Pak.”Bara menatapnya lekat. “Aku juga nggak bisa tidur.” Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi dekat jendela. “Bayu… ada yang ingin kutanyakan padamu.”Jantung Bayu berdegup kencang. Ia berusaha menjaga ekspresinya tetap
Keesokan harinya, Bayu terbangun lebih awal dari biasanya. Matanya terasa berat karena kurang tidur, tapi pikirannya sudah berputar sejak fajar menyingsing. Ia duduk di tepi ranjang, menatap ponsel yang tergeletak di sampingnya. Tidak ada pesan baru.Bayu meremas ujung selimut, mencoba meredakan kegelisahan yang merayap di dadanya. Ia harus menemui orang itu malam ini. Tapi sebelum itu, ada satu hal yang harus ia lakukan.Setelah mandi dan berganti pakaian, Bayu keluar dari kamar. Lorong rumah masih sepi. Ia berjalan menuju dapur untuk membuat kopi, namun langkahnya terhenti ketika melihat sosok Bara sudah duduk di ruang makan, menatap secangkir kopi yang mulai dingin di hadapannya.“Pagi, Pak Bara,” sapa Bayu pelan.Bara menoleh sekilas, lalu mengangguk kecil. “Pagi.”Bayu menahan napas. Wajah Bara tampak lelah, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya. Mungkin pria itu juga tidak tidur nyenyak semalam.Bayu berjalan ke dapur, membuat secangkir kopi untuk dirinya sendiri, lalu d