Share

Persekongkolan

Author: Vinassa
last update Last Updated: 2025-03-05 00:00:21

Bara memandang ke arah Bayu dengan lebih teliti, mencoba untuk mengingat dari mana dia mengenal wajah itu. Namun, dia tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Dia hanya tahu bahwa dia telah melihat wajah itu sebelumnya, tetapi dia tidak tahu kapan dan di mana.

"Bayu, kamu... kamu sebenarnya dari kota mana? Apa asli orang sini? Saya lupa," tanya Bara dengan nada yang sedikit penasaran.

Bayu terkejut dengan pertanyaan Bara dan berusaha untuk tidak menunjukkan ketegangannya. "Aku dari ... dari kota lain, Pak Bara," jawab Bayu dengan nada yang santai.

Bara memandang ke arah Bayu dengan ekspresi yang masih penasaran, tetapi dia tidak bertanya lagi. Dia hanya mengangguk dan kembali kepada pekerjaannya.

Bayu merasa lega karena Bara tidak bertanya lebih lanjut tentang latar belakangnya. Dia tahu bahwa dia harus berhati-hati agar tidak mengungkapkan identitasnya yang sebenarnya.

Saat Bayu kembali kepada pekerjaannya, dia tidak bisa tidak memikirkan tentang reaksi Bara tadi. Dia merasa bahwa Bara
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • AKU ISTRIMU MAS!    Di sudut gelap sebuah gang

    Gustur menelan ludah. Tangannya mengepal di bawah meja, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Ruangan itu terasa semakin sempit, seakan dindingnya bergerak mendekat."Laksmi, kamu tidak mengerti situasinya," katanya dengan suara rendah, hampir berbisik. "Semua ini... tidak semudah yang kamu kira."Laksmi menyipitkan mata. "Tidak semudah yang saya kira?" Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, tatapannya menusuk. "Saya sudah mempertaruhkan segalanya untuk Anda, Pak Gustur. Saya kehilangan pekerjaan, reputasi, teman, keluarga bahkan hampir kehilangan akal sehat karena ini!"Gustur mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku tidak bisa memberimu bagianmu sekarang," katanya akhirnya. "Keadaan berubah. Ada... ada seseorang yang mulai mencium bau busuk dari semua ini."Laksmi mengerutkan dahi. "Seseorang?"Gustur mengangguk pelan. "Dani. Dia mulai bertanya-tanya soal hilangnya Liyana."Laksmi terdiam sejenak. Nama itu membuat bulu kuduknya meremang. Dani bukan orang yang mudah ditipu."Jadi, apa ren

    Last Updated : 2025-03-05
  • AKU ISTRIMU MAS!    Perhatian

    Saat Bayu beranjak ke tempat tidurnya, Bara tetap duduk di kursinya, memperhatikannya dengan ekor mata. Wajah Bayu terlihat pucat, keringat masih membasahi pelipisnya meski suhu ruangan cukup sejuk."Kamu yakin nggak mau minum obat dulu?" tanya Bara, suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya.Bayu menggeleng pelan sambil merebahkan diri. "Aku sudah minum tadi. Aku cuma butuh istirahat, Pak."Bara menghela napas. Ia tahu Bayu tipe orang yang nggak mau merepotkan orang lain, tapi melihatnya seperti ini tetap saja membuatnya merasa sedikit khawatir. Ia berdiri, berjalan menuju lemari kecil di sudut kamar, lalu mengambil sebotol air mineral."Kalau butuh apa-apa, bangunkan aku," katanya sambil meletakkan botol itu di meja samping ranjang Bayu.Bayu tersenyum tipis, matanya mulai mengantuk. "Terima kasih, Pak Bara."Bara hanya mengangguk sebelum kembali ke tempatnya. Hening menyelimuti ruangan, hanya terdengar suara napas Bayu yang sedikit berat. Bara bersandar, menatap langit-langit.

    Last Updated : 2025-03-06
  • AKU ISTRIMU MAS!    Kepergian Bara

    Liyana (Bayu) berhasil menghindari kunjungan ke dokter untuk sementara, tetapi ia tahu Bara bukan tipe orang yang mudah dibodohi dua kali. Dengan tubuh yang masih lemas, ia harus mencari cara agar tidak menimbulkan kecurigaan lagi.Saat ia sedang merenung, pintu kamar terbuka. Bara masuk sambil membawa sekantong makanan dan dua gelas kopi. Aroma roti panggang dan telur menguar, membuat perut Liyana yang belum terisi sejak kemarin langsung berontak."Saya beli bubur buat kamu," ujar Bara sambil meletakkan kantong makanan di meja. "Makan dulu sebelum aku berubah pikiran dan tetap nyeret kamu ke dokter."Liyana (Bayu) memaksakan senyum. "Makasih, Pak Bara."Ia berusaha mengambil bungkus bubur itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Bara sempat melirik, tapi tidak berkomentar. Mungkin mengira Bayu (Liyana) masih lemah akibat demam.Namun, begitu Bayu (Liyana) membuka bungkus bubur dan meniup sendoknya, ada sesuatu yang membuatnya terkejut.Buburnya... TANPA kecap manis.Ia menoleh pada Ba

    Last Updated : 2025-03-07
  • AKU ISTRIMU MAS!    Semuanya bisa berantakan

    ---Beberapa jam berlalu. Liyana tertidur cukup lama setelah Bara pergi, dan saat ia terbangun, tubuhnya terasa jauh lebih baik. Panasnya sudah benar-benar turun, dan kepalanya tidak lagi seberat tadi pagi.Ia duduk di tempat tidur, mengusap wajahnya, lalu melirik jam dinding. Sudah hampir pukul empat sore. Bara belum kembali.Rasa penasaran mulai menjalar di pikirannya.Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan pelan ke jendela. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat bagian depan rumah tempat mereka tinggal sementara. Tidak ada mobil Bara di sana.Kemana dia pergi?Liyana menggigit bibirnya. Ia tahu seharusnya ia tidak terlalu peduli. Tetapi semakin lama ia berpikir, semakin ia merasa ingin tahu.Apa mungkin ini ada hubungannya dengan penyelidikan yang sedang ia lakukan?Atau…Pikiran lain muncul di kepalanya.Jangan-jangan… Bara diam-diam mulai curiga padanya?Tidak. Tidak mungkin. Kalau Bara curiga, ia pasti sudah menunjukkan tanda-tandanya sejak tadi.Liyana menggelengkan kepala, me

    Last Updated : 2025-03-08
  • AKU ISTRIMU MAS!    Terperangkap

    Ketegangan di antara mereka semakin terasa. Bayu (Liyana) bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi tengkuknya. Jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya.Bara menarik tangannya pelan, ekspresinya sulit ditebak. Mata elangnya menelusuri wajah nenek itu, seolah mencari kepastian."Apa yang nenek maksud sebenarnya?" Suaranya rendah, nyaris berbisik, tapi mengandung ketegasan yang tak bisa diabaikan.Nenek itu justru tertawa kecil. "Ah, Mas… Apa harus kuingatkan lagi tentang malam itu?"Bayu (Liyana) mengepalkan tangannya di balik selimut. Ini buruk. Sangat buruk. Mana mungkin Bara melakukan itu dengan nenek lampir ini.Tidak mungkin! Dia tahu bahwa nenek itu hanya seorang pembohong.Dia harus cepat-cepat membongkar semuanya atau—jika perlu— segera menemukan bukti sebelum semuanya terlambat.Bara dengan cepat menarik tangannya, ekspresi jijik dan jengah bercampur jadi satu di wajahnya."Apa?!" katanya dengan nada setengah tertawa. "Mana mungkin aku melakukan semua itu? Nenek i

    Last Updated : 2025-03-09
  • AKU ISTRIMU MAS!    Pengkhianatan

    Laksmi merasakan bulu kuduknya meremang. Dia menajamkan pendengarannya, mencoba menangkap suara lain di antara keheningan yang tiba-tiba terasa begitu mencekam.Dani juga tampak waspada, matanya menyipit ke arah pintu belakang yang kini sedikit terbuka. Angin malam menyusup masuk, menggoyangkan tirai lusuh yang tergantung di jendela."Ini rencanamu?" Dani bertanya pelan, tapi nada suaranya tajam.Laksmi mendengus. "Harusnya aku yang bertanya begitu."Mereka saling menatap, sama-sama curiga. Tapi siapa pun yang ada di luar sana, bukan bagian dari rencana mereka.Laksmi merogoh sesuatu dari balik mantelnya—sebuah pistol kecil dengan peredam suara. Ia menggenggamnya erat, bersiap menghadapi apa pun yang akan datang.Dani, sementara itu, melangkah perlahan ke arah pintu, tangannya sudah meraih belati kecil yang terselip di pinggangnya.Hening.Lalu—Braaak!Pintu belakang terbuka lebih lebar, dan sesosok pria bertubuh tegap menerobos masuk. Wajahnya tertutup separuh oleh masker hitam, mat

    Last Updated : 2025-03-09
  • AKU ISTRIMU MAS!    Permainan Baru

    Udara malam menusuk kulit saat Laksmi menerobos keluar dari bangunan tua itu. Napasnya berat, tetapi langkahnya tetap gesit. Dia tahu Dani dan anak buahnya tidak akan membiarkannya kabur begitu saja.Benar saja—Dor! Dor!Peluru menghantam tembok di dekatnya, memercikkan serpihan beton. Laksmi tidak berhenti. Dia berlari melintasi gang sempit, menyeberang jalan, lalu masuk ke gang kecil lain yang lebih gelap.Langkah kaki terdengar di belakangnya. Mereka mengejar.Laksmi menggertakkan giginya. Dia harus mencari cara untuk menghilang sebelum mereka mengepungnya.Di depan, sebuah pasar malam kecil masih beroperasi. Lampu-lampu neon berkedip, suara pedagang bercampur dengan musik jalanan. Tanpa ragu, Laksmi menyelinap masuk, melebur di antara kerumunan.Dia menurunkan tudung mantelnya, lalu mengambil syal dari salah satu kios dan melilitkannya ke kepalanya dengan cepat. Sekarang dia terlihat seperti warga biasa.

    Last Updated : 2025-03-10
  • AKU ISTRIMU MAS!    Drama rumah tangga

    Bara menoleh perlahan, matanya menyipit penuh selidik. "Apa maksudmu?"Nenek itu terkekeh, suara seraknya terdengar menggelitik. "Maksudku, istrimu... Liyana, dia ada di dekatmu."Bayu—atau lebih tepatnya, Liyana—merasa jantungnya hampir lompat dari tempatnya. Tangannya yang tersembunyi di balik saku mencengkeram kain celana itu erat. Sial. Dia tahu?Bara menatap nenek itu tajam, tapi alih-alih tegang, bibirnya justru berkedut seolah ingin tertawa. "Nenek, aku tak punya waktu untuk lelucon murahan.""Tapi ini bukan lelucon," nenek itu menyeringai. "Istri yang kau cari adalah ... aku."Hening.Bayu nyaris tersedak ludahnya sendiri. Bara menatap si nenek dengan ekspresi yang sulit dijelaskan—antara geram, bingung, dan nyaris tertawa."Kau? Liyana?" Bara mengulang dengan nada geli.Si nenek mengangguk anggun, seolah benar-benar percaya dengan ucapannya sendiri. "Tentu saja. Sudah berapa kali aku harus katakan! Bahw

    Last Updated : 2025-03-11

Latest chapter

  • AKU ISTRIMU MAS!    Diburu Waktu

    Bayu menatap orang di hadapannya dengan napas memburu. Sosok itu—seseorang yang seharusnya tidak ada lagi di dunia ini—tersenyum miring, seolah menikmati keterkejutannya.“Kau... siapa sebenarnya?” suara Bayu bergetar. Ia berusaha mempertahankan ketenangannya, tapi dadanya terasa sesak.Orang itu melangkah maju, cahaya redup lampu jalan menyinari wajahnya yang familiar, tapi ada sesuatu yang berbeda. Sorot matanya lebih gelap, lebih tajam.“Kau masih tidak mengenaliku, Liyana?” suaranya rendah, penuh sindiran.Bayu mengepalkan tangannya. Nama itu. Sudah lama ia tidak mendengarnya dari orang lain selain Ryven.“Kau salah orang,” jawabnya dingin. “Aku Bayu.”Orang itu terkekeh. “Oh, tentu saja. Bayu yang selalu berada di sisi Bara, kan?”Bayu merasakan hawa dingin menjalari tengkuknya. Orang ini tahu terlalu banyak.“Sudahlah, aku tidak punya banyak waktu.” Orang itu mendekat, mencondongkan tubuhnya sedikit. “Aku

  • AKU ISTRIMU MAS!    Kebenaran yang mengguncang

    Bayu menarik napas dalam-dalam, matanya menyipit saat menatap layar ponsel. Ia menggigit bibirnya, jemarinya sedikit gemetar. Pesan itu seperti pisau bermata dua. Jika ia menemui orang itu, bisa saja ini jebakan. Tapi jika tidak, nyawanya dan orang-orang yang ia lindungi bisa berada dalam bahaya.Dengan hati-hati, ia mengetik balasan.“Aku akan datang.”Setelah mengirim pesan itu, Bayu merasakan debar jantungnya semakin kencang. Ia harus mempersiapkan diri. Tidak ada jaminan bahwa pertemuan ini akan berjalan aman. Ia tidak tahu siapa yang mengiriminya pesan, tapi satu hal pasti—orang itu mengetahui identitasnya.Bayu berdiri, berjalan menuju jendela dan mengintip ke luar. Jalanan tampak lengang, hanya lampu jalan yang redup menerangi trotoar. Dalam keheningan itu, ia merasa ada sepasang mata yang mengawasinya dari kejauhan.Ia menoleh ke belakang, memastikan pintu kamar terkunci. Bara masih di atas, mungkin sudah terlelap. Ia tidak bisa membiarkan siapapun, terutama Bara, mengetahui p

  • AKU ISTRIMU MAS!    Penyamaran yang terancam

    Langkah mereka semakin cepat, menyelinap dalam bayang-bayang malam yang kian pekat. Bayu merasakan detak jantungnya menghentak di dadanya, seakan memberinya peringatan. Setiap langkah terasa berat, bukan karena kelelahan, melainkan karena beban keputusan yang harus ia hadapi.Di persimpangan jalan yang remang, Ryven tiba-tiba menarik lengannya, membuat Bayu nyaris kehilangan keseimbangan.“Tunggu,” bisik Ryven, matanya menyipit ke arah sudut jalan. “Ada yang mengawasi.”Bayu menahan napas, otaknya langsung bekerja cepat. Pandangannya mengikuti arah tatapan Ryven—dan benar saja. Di kejauhan, di balik tembok tua yang hampir tertutup bayangan, ada seseorang berdiri. Siluetnya samar, tapi jelas orang itu memperhatikan mereka.“Siapa dia?” bisik Bayu, tangannya refleks meraba sesuatu di sakunya—bukan senjata, tapi sekadar memastikan dirinya siap menghadapi apa pun.Ryven tak langsung menjawab. Ia merogoh ponselnya, berpura-pura mengecek sesuatu, lalu berbisik pelan, “Jangan bereaksi berleb

  • AKU ISTRIMU MAS!    Jejak di balik bayangan

    Bayu berlari menyusul Bara, napasnya tersengal. Jantungnya berpacu bukan hanya karena langkahnya yang cepat, tapi juga karena ketakutan yang menyesakkan dada. “Pak Bara!” serunya, tapi pria itu terus berjalan tanpa menoleh. Langkah Bayu terhenti di depan pintu rumah yang sudah terbuka lebar. Ia menatap punggung Bara yang berdiri di tengah ruangan, tubuhnya tegang, seolah menahan amarah yang siap meledak kapan saja. “Pak Bara…” suara Bayu melemah, tapi Bara tiba-tiba berbalik, membuat Bayu terkejut. “Kau tahu sesuatu, kan?” Suara Bara terdengar parau, matanya menyala. “Tentang nenek itu. Tentang hasil tes. Apa yang kau sembunyikan dariku?” Bayu menggigit bibir. “Saya… saya tidak tahu apa yang Bapak maksud.” “Jangan bohong!” Bara membanting meja di depannya, membuat Bayu tersentak. “Sejak awal kau selalu mencurigakan! Kenapa kau begitu peduli dengan hasil tes itu? Siapa kau sebenarnya, Bayu?”

  • AKU ISTRIMU MAS!    Diambang Kebenaran

    Bayu duduk memeluk lutut di lantai kamar yang dingin. Nafasnya bergetar, dada terasa sesak, dan pikiran berkecamuk. Suara langkah Bara yang menjauh terdengar begitu menyakitkan. Ia ingin mengejar, ingin memohon agar Bara mendengarkannya, tapi tubuhnya terasa berat.Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa diam saja.Bayu menghapus air mata yang menggenang di pipinya. Ia merogoh ponsel dari saku, menatap layar yang buram karena tangannya gemetar. Jarinya mengetik pesan cepat untuk Ryven.“Aku butuh bantuanmu. Cari tahu siapa yang memanipulasi hasil tes DNA itu.”Pesan terkirim. Bayu menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Matanya terpaku pada bayangan dirinya di kaca jendela kamar. Wajah pucat itu terasa asing. Mata sembab dan bibir yang gemetar membuatnya terlihat begitu lemah.Tiba-tiba, suara dering ponsel memecah keheningan. Bayu buru-buru mengangkatnya. “Ryven?”“Aku sudah menduga kau akan bilang begitu.” Suara Ry

  • AKU ISTRIMU MAS!    Kecewa

    Bayu tertegun. Peluh dingin mengalir di pelipisnya. “Apa maksud Bapak?” Bara mencondongkan tubuhnya, berbisik pelan. “Siapa kamu sebenarnya?” Bayu membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Bara tahu? Tidak… tidak mungkin. “Saya Bayu, Pak,” jawabnya dengan suara bergetar. Bara tertawa kecil, tapi tidak ada kehangatan dalam tawanya. “Benarkah?” Ia menatap Bayu lekat-lekat, lalu berbisik, “Atau kamu… Liyana?” Dunia seakan berhenti berputar. Bayu terpaku di tempat, darahnya berdesir dingin. Mata Bara menatapnya tajam, menunggu reaksi. Bayu mencoba menyangkal, tapi bibirnya terasa kaku. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Jika Bara benar-benar tahu, maka segalanya sudah berakhir. “Bapak… kenapa bicara seperti itu?” suaranya terdengar serak. Bara tidak menjawab. Ia hanya menatap Bayu dalam diam, seolah menunggu lawannya membuat kesalahan. Detik demi detik berlalu, terasa

  • AKU ISTRIMU MAS!    Hampir ketahuan

    Malam itu, Bayu hampir tidak tidur. Ia duduk di tepi ranjang, menatap jendela yang diselimuti embun. Pikiran tentang tes DNA yang akan keluar besok membuatnya gelisah. Ancaman dari pria misterius di gudang menambah beban yang menghimpit dadanya.Aku harus melindungi Bara. Bagaimanapun caranya.Bayu meraih ponselnya dan mengetik pesan untuk Ryven. Namun, jari-jarinya berhenti di atas layar. Tidak… Ryven tidak boleh terlibat. Ini urusannya sendiri. Ia menutup layar ponsel, lalu beranjak keluar kamar.Rumah terasa begitu sunyi di tengah malam. Bayu berjalan pelan menuju ruang kerja Bara. Pintu kayu itu sedikit terbuka, dan ia mendorongnya perlahan. Cahaya temaram dari lampu meja membuat ruangan terasa hangat, tapi hawa tegang di hatinya tidak berkurang.Matanya langsung tertuju pada laci di sudut meja — tempat Bara menyimpan dokumen-dokumen penting. Bayu menelan ludah, lalu berjalan mendekat. Dengan tangan gemetar, ia menarik laci itu perlahan. Koson

  • AKU ISTRIMU MAS!    Sesuai Rencana

    Bayu berdiri mematung di tengah jalan, napasnya masih tersengal setelah adegan menegangkan barusan. Angin malam yang dingin menusuk tulang, tapi pikirannya jauh lebih berkecamuk dibandingkan udara yang menusuk kulitnya. Bara mungkin sudah pergi, tapi bahaya belum benar-benar lenyap.Ia melirik ponsel di saku jaketnya, tangan gemetar saat meraihnya. Sebuah pesan baru masuk dari nomor tak dikenal — nomor yang sebelumnya mengancamnya.“Kau membuat gerakan yang berani. Tapi ingat, satu langkah salah, semua berakhir.”Bayu meremas ponselnya, rahangnya mengeras. Siapa pun orang ini, dia mengawasi. Dan itu berarti waktu Bayu semakin menipis.Ia menyalakan motor lagi, melaju kencang kembali ke rumah Bara. Jantungnya terus berdetak tak menentu, pikirannya berkelindan antara rahasia yang ia sembunyikan dan ancaman yang kini mengintainya.Saat tiba di rumah, suasana sudah sunyi. Lampu ruang tengah masih menyala, tapi tak ada tanda-tanda Bara di mana

  • AKU ISTRIMU MAS!    Menyembunyikan kebenaran

    Bayu duduk diam di tepi ranjang, menatap kosong ke arah lantai. Udara malam terasa begitu berat, seakan menindih dadanya. Pikirannya penuh dengan bayangan masa lalu, ancaman Gustur, serta permintaan pria misterius tadi.Ia meremas ujung selimut. Bagaimana kalau ini jebakan? Bagaimana kalau pria itu sebenarnya anak buah Gustur?Bayu menggeleng pelan. Tidak. Kalau pria itu benar-benar bekerja untuk Gustur, ia tak mungkin memberikan foto-foto itu. Tapi…Tiba-tiba pintu kamar diketuk pelan. Bayu tersentak, buru-buru menyeka wajahnya dan mencoba menenangkan napasnya.“Masuk,” ujarnya.Pintu terbuka perlahan, dan Bara masuk dengan ekspresi serius. “Kau belum tidur?”Bayu menggeleng. “Belum ngantuk, Pak.”Bara menatapnya lekat. “Aku juga nggak bisa tidur.” Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi dekat jendela. “Bayu… ada yang ingin kutanyakan padamu.”Jantung Bayu berdegup kencang. Ia berusaha menjaga ekspresinya tetap

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status