LOGIN'You're mine, Katrina. Whether you accept it or not, you were made for me.' He growled, stalking towards me like an animal will stalk its prey. 'I'm no one's. Not even yours.' I tried to say, but it came out weak and feeble. I hated how fragile I felt, I hated how my body betrayed me, needing to be near this man. A devious smile appeared on his lips, a glint in his eyes. 'That's not what the scent of your arousal is saying, love.' __________________ When Katrina comes home to find her husband and mate cheating on her with her best friend, Emery, she is shocked and heartbroken. As if that weren't enough, he rejects her on the spot when he finds out she's not pregnant with his child. Full of rage and hurt, Katrina leaves the pack house and seeks solace in a one-night stand with a stranger she meets at a pub. But the next day, she vanishes without a trace. The problem is, the man she spent the night with has no intention of letting her go that easily. And he will stop at nothing to find her... and claim her as his.
View MorePegunungan Yuan San di negara Chu Agung, benua Han.
Di tempat itu terdapat markas sekte luar dari sebuah sekte terkenal yang bernama sekte Alam Agung Di salah satu sudut sekte luar ini, tampaklah hiruk pikuk banyak orang yang sedang menonton suatu tontonan. Seorang pemuda berumur 18 tahun sedang dihajar oleh seorang pemuda berumur 19 tahun di bawah tontonan banyak pasang mata yang bersorak-sorai. Pemuda berumur 18 tahun itu yang memakai baju putih sudah babak belur karena sudah dihajar hampir sejam oleh lawannya "Hajar Xi Feng itu, Zhong Li! Buat dia tidak mampu lagi berjalan." "Ya. Hajar dia! Kalau perlu, buat dia sudah tidak mampu bangun lagi supaya dia tidak lagi menjadi rebutan cewek-cewek di sekte luar kita." Itulah kata-kata penyemangat dari orang-orang yang dari tadi menikmati pemukulan yang dilakukan oleh Zhong Li ini kepada pemuda belia bernama Xi Feng. Sudah ratusan pukulan yang dilakukan oleh seorang pemuda sombong yang terus memukuli pemuda berumur 17 tahun itu. Pemuda itu sudah kepayahan tapi setiap kali dipukul jatuh dia selalu bangun berdiri dengan mata menantang ke arah lawannya, seakan-akan ingin membunuh lawannya dengan tatapannya. Tetapi sayangnya di sini, dia tidak memiliki kemampuan untuk membunuh lawannya itu. Saat itulah seorang gadis datang dan langsung menendang Zhong Li sambil berteriak, "kamu pengecut, Zhong Li!" Zhong Li merengis kesakitan. Melihat siapa yang menendangnya dia langsung bertanya, "mengapa kamu menendangku, Zhang Linjun?" "Karena kamu pengecut! Kultivasi alam Qi Kong kamu berada di tahap ke- 5 tapi mengapa kamu memukuli orang yang tidak berdaya yang tidak mampu melawanmu? Xi Feng belum mampu berkultivasi. Kamu betul-betul menjijikkan!" Zhong Li menatap ke arah pemuda yang baru dipukulnya, dia berkata, "bukan salahku kalau Xi Feng, si lemah ini tidak mampu berkultivasi! Bukan salahku kalau dia terlalu goblok. Jangan salahkan hal itu kepadaku!" Dengan wajah mengeras, Zhang Linjun yang cantik itu berkata, "kamu sudah tahu dia tidak mampu berkutivasi, lalu mengapa kamu masih terus mengganggunya, hah! Harusnya kamu mencari lawan lain yang sepadan denganmu!" "Aku akan terus mengganggunya karena kamu mencintainya! Ya! Aku akui kalau aku iri padanya. Mengapa kamu bisa menyukai orang yang tidak mampu berkultivasi? Mengapa menyukai orang bodoh seperti itu? Harusnya kamu menyukaiku!" Zhang Linjun menghentakkan kakinya dan berkata, "aku akui kalau aku menyukainya tapi kamu tidak berhak mengatur ngatur apa yang aku sukai. Kalaupun dia tidak bisa berkutivasi aku tetap menyukainya dan bukan kamu! Sebaiknya kamu berkaca di cermin sebelum kamu iri kepada Xi Feng!" "Kamu...." Zhong Li terdiam. Wajahnya mengeras. Tetapi dia tahu dia tidak mampu mengalahkan Zhang Linjun karena sang Zhang Linjun sudah berada di tahap ke-9 dari alam Qi Kong dan dia tidak memiliki peluang untuk mengalahkan gadis ini. Zhang Linjun mengalihkan pandangannya ke arah Xi Feng, pemuda yang dipukuli Zhong Li tadi. "Xi Feng, apa kamu tidak apa-apa?" Xi Feng berusaha bangkit. Dia langsung berkata, "aku tidak apa-apa." Walaupun wajahnya babak belur tapi dia tidak mau mengakui kalau dia kesakitan. Dia berjalan dan mengabaikan Zhang Linjun yang hendak memapah dirinya. Perhatian Zhang Linjun, gadis yang sangat cantik itu membuat Zhong Li dan yang lainnya semakin iri kepada Xi Feng karena Xi Feng berhasil menaklukkan hati Zhang Linjun, sesuatu yang tidak mampu mereka lakukan. Xi Feng memilih untuk berjalan menuju ke arah rumahnya tanpa memperdulikan Zhang Linjun yang beberapa kali berusaha menawarkan diri untuk membantunya berjalan. Karena terus mendapatkan penolakan, akhirnya Zhang Linjun menghentikan langkahnya. Dia cuma bisa menetap ke arah remaja yang pergi tertatih-tatih meninggalkan dirinya itu. "Maafkan aku, Xi Feng. Aku tahu karena aku lah yang membuat kamu menjadi sasaran kemarahan banyak orang." Zhang Linjun menghela nafas lirih. "Seharusnya aku tidak datang ke sini, ke sekte ini, karena aku akhirnya membuat hidup Xi Feng menjadi sangat tidak nyaman. Ugh... " *** Xi Feng kembali ke rumah gubuk yang ditempatinya yang berada di bagian belakang dari markas sekte luar Sekte Alam Agung. Sebenarnya hal dipukuli ini, sudah berada dalam rutinitasnya sejak 3 tahun yang lalu. Sejak dia berusaha menuntut ilmu di sekte Alam Agung ini, dia selalu menjadi bulan-bulanan murid yang lain karena dia dianggap memalukan, karena sejak berada di sekte luar ini, dia tidak mampu berkutivasi. Ada tetua yang mengatakan kalau Xi Feng ini mengalami kesulitan berkutivasi karena meridiannya tidak terbentuk dan dantian-nya kacau sehingga akan sangat sulit bagi dirinya untuk bisa berkultivasi. Tetua itu menganggap kalau Xi Feng ini adalah salah satu contoh orang yang baru bisa bermotivasi kalau bisa menemukan kultivasi yang cocok baginya dan dia tidak mendapatkan itu di Sekte Luar Sekte Alam Agung ini. Ada juga yang menganggap Xi Feng terlalu bodoh. Dianggap murid yang sangat tidak berbakat. Sehingga selama ini Xi Feng cuma diserahi tugas menjadi tukang bersih-bersih di sekte ini. Dia menjadi bulan-bulanan penindasan saudara-saudara seperguruannya bahkan kedatangan Zhang Linjun pada 3 bulan lalu di sekte ini menambah penderitaan Xi Feng karena sejak awal Zhang Linjun di sekte ini, gadis itu selalu ingin mendekati Xi Feng karena ketampanan Xi Feng. Awalnya Xi Feng menanggapi pendekatan gadis itu, tapi belakangan Xi Feng mulai menolak pendekatan yang dilakukan oleh Zhang Linjun itu. Tapi walaupun sudah menjauhi Zhang Linjun, tetap saja Xi Feng masih jadi sasaran penindasan dari saudara-saudara seperguruannya khususnya yang sangat kesengsem dengan kecantikan Zhang Linjun. *** Besoknya, Xi Feng kembali beraktivitas seperti biasa. Dia kembali menyapu di lingkungan markas sekte ini. Baru 2 jam dia menyapu, seorang murid menyuruhnya untuk menyapu di bagian belakang dapur. Tanpa banyak tanya, dia pun mengikuti arahan dari murid itu dan mulai menyapu di belakang dapur umum. Dapur umum terletak di atas tebing yang di belakangnya ada jurang yang sangat dalam yang biasanya dasarnya tidak terlihat karena ada awan Abadi yang terus menyelimuti jurang itu sehingga dasarnya tidak pernah terlihat. Saat Xi Feng sementara menyapu, saat itulah seseorang mulai mendekatinya dari samping kiri. Orang itu mengendap-endap di pepohonan. Orang itu adalah Zhong Li. Dia sudah melihat posisi Xi Feng saat ini yang berada cukup dekat dengan jurang yang disebut Jurang Tanpa Dasar. Zhong Li mulai celingukan. Dia mulai memperhatikan keadaan dengan baik. Dan lega karena tidak ada siapa pun di sekitar sini. Zhong Li mulai memantapkan rencananya. "Ini saatnya aku melenyapkan Xi Feng! Dengan tidak adanya dia, maka kesempatanku untuk mendekati Zhang Linjun akan besar. Kalau dia masih ada, Zhang Linjun tidak akan mau berpaling kepadaku." Setelah berpikir seperti itu, Zhong Li tiba-tiba keluar dari persembunyiannya dan langsung berlari dengan cepat ke arah Xi Feng. Mendengar suara langkah kaki cepat ke arahnya, Xi Feng mengangkat kepalanya. Tapi saat itu sudah terlambat. Langkah kaki cepat itu sudah menabraknya hingga dia terlempar ke belakang. Setelah itu, yang terdengar hanya suara teriakannya saat dia jatuh ke dalam Jurang Tanpa Dasar. Suara teriakan itu memancing beberapa orang datang. "Ada apa? Apa yang terjadi?" Zhong Li dengan entengnya menggelengkan kepalanya dan berkata, "aku juga tidak tahu persis. Tadi, aku sedang berkutivasi di jarak 200 meter di sebelah sana, kemudian aku melihat Xi Feng yang sedang menyapu di sini kehilangan keseimbangan dan jatuh ke dalam jurang dan yang tadi itu adalah teriakannya." "Hah? Dia pasti mati. Ada cerita beberapa orang yang jatuh di jurang ini tidak pernah kembali lagi." "Kasihan juga nasibnya." Kerumunan mulai melihat ke arah Jurang Tanpa Dasar itu. Ada beberapa yang kasihan dengan nasib Xi Feng. Ada beberapa yang mencurigai keberadaan Zhong Li di tempat ini. Mereka mencurigai Zhong Li yang telah mendorong Xi Feng jatuh ke bawah sana. Tapi tidak ada satupun yang berani bersuara. Mereka hanya memendam kecurigaan mereka di dalam pikiran mereka. Jatuhnya Xi Feng langsung menjadi berita heboh di Sekte Luar Sekte Alam Agung. *** Sementara itu, tubuh Xi Feng terus meluncur jauh ke bawah sana melewati awan-awan untuk terus meluncur ke arah bawah dengan derasnya.The next morning, after tossing and turning all night on the bed, trying to figure my way out of the hell hole, I woke up exhausted and in a fouler mood. The dark circles under my eyes seemed to throb in sync with my pounding headache. I decided to stay in all day, hoping to escape the chaos that had become my life. But a knock on the door prevented that from happening. At first, it was a gentle tap, but when I ignored it, the knocking grew louder and more insistent. I threw the covers over my head, hoping that whoever was knocking would quit it and leave, but that never happened. If anything, it grew more persistent, like a drumbeat in my brain.Frustrated, I sat up, my movements jerky, and climbed out of the bed. My feet stomped towards the door, my bare feet making soft slapping sounds on the cold floor. I flung the door open, ready to snap at whoever was behind it, but Arthur's jovial voice broke through my anger."Great morning to you, Katrina! How was your night?" His cheerful t
"Who are you and what are you doing in my room?" I asked, my voice calm yet laced with anger due to the invasion of privacy. I sat up straight, my eyes fixed on the woman, my hands clenched into fists.The woman scoffed, her eyes narrowing as she glared back at me. "I should be asking you that question instead," She retorted, her voice just as haughty as her expression. "Who are you and what are you doing in our territory?" She asked, her voice laced with venom, her words dripping with malice.I pressed my lips together, regarding her for a moment, my anger simmering beneath the surface. The woman before me was a very beautiful woman, no doubt, yet she had an uncanny air around her. The deep plunge red gown she had on revealed intricate markings, reminding me of the ones I saw on Adonis' skin that night. Her long jet black hair had red highlights, her cat eyes glaring at me disapprovingly."I don't know," I responded, matching her glare with one of my own, squaring my shoulders and st
I woke up the next day, my mind groggy and my head blank, as if a thick fog had settled over my thoughts. Looking around, I wondered why I wasn't waking up to the warm sun shining brightly in my face, or the soothing scent of lavender wafting through my nose, calming my senses. But then, like a slap in the face, reality hit me - I had been kidnapped, and I was currently trapped in a secret room, confined to a small, enclosed space.Seating up, I rubbed my neck, trying to massage away the stiffness. A low groan escaped my lips as I stretched my sore body. The hard bed had been unforgiving, and I couldn't believe I had fallen asleep on it. Either I was that exhausted, or it was the lingering effects of the sedatives I had inhaled earlier, still coursing through my veins.As I looked up, my gaze met the cold, unblinking stare of the camera, its lens trained directly on me. I felt a shiver run down my spine. I began to wonder if I was going to start this morning by going on a tirade, dema
The second I walked out of the room, the smile on my face dropped, revealing a deep scowl. My footfalls heavy, I walked out of the underground section where I placed Katrina in, into the main section of the mansion. The opulent decorations and lavish furnishings seemed to mock me, a stark contrast to the darkness brewing inside me.There, I found Arthur already waiting for me, an half smile on his face. He was always eager to know the details of my dealings, especially when it came to women. "So... How did your conversation go?" He asked as he fell into step with me, his eyes gleaming with curiosity.The bad feeling in my body intensified, but I knew Arthur wouldn't leave me alone if I didn't give him a satisfactory answer to his question. I poured myself a glass of whiskey from the mini bar in the parlor, the amber liquid glowing in the dim light. "Well, she's denying me," I said, my voice low and even, as I handed Arthur a glass.When I glanced at Arthur, his eyes were widened in su
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.