"I just see everything in her."
-Daver Negarald***
Setelah menggunakan serangkaian skin care, Anara naik ke kasurnya, menarik selimut, dan menyalakan lagu galau.
Anara membenci perasaan di mana ia terus menyaksikan Daver mengagumi cewek lain, tetapi ia tidak berhak melakukan apa-apa.
Sudah beberapa kali Daver pindah ke lain hati di saat Anara justru bertahan di satu laki-laki.
Anara menangis lagi untuk alasan yang sama selama delapan tahun ini. Memang Anara sadar, semua ini adalah salahnya sendiri karena masih mengharapkan Daver.
***Dengan langkah yang lemas, Anara membuka pintu rumahnya. Objek yang pertama ia lihat adalah seragam kucel yang dikenakan Gema."Lo gak ke rumah buat ganti baju dulu?" tanya Anara seraya memberi ruang bagi Gema untuk masuk.Gema menggeleng. Kemudian, ia memandang Anara, terutama terfokus pada mata gadis itu. "Lo habis nangis? Mata lo berair."Anara mengangguk lemas. Ia lagi malas berbohong, pura-pura bahagia, dan sejenisnya. Selagi jujur pada orang yang kemungkinan besar tidak sukajulid, Anarasantuy."Gue kasih soal, lo kerjain. Kemarin, kan, gue udah kasih materi," ucap Anara membahas hal lain.
***Hari Rabu, hari di mana SMA Ravalis setiap paginya mengadakan upacara pramuka. Biasanya, Fara mengajak Anara untuk bolos ke UKS dengan alasan sakit. Namun, karena pernahterciduk, Anara kapok. Ia tidak mau lagi melakukan hal itu.Untungnya, satu setengah jam yang membuat seluruh murid SMA Ravalis itu telah selesai. Kini, semua murid masuk ke kelasnya masing-masing.Anara dan Fara berjalan ke kelas setelah bercermin untuk waktu yang lumayan lama di toilet. Jalan Anara lemas seperti orang yang tidak makan dari kemarin malam. Nyatanya, ia hanya sedang tidakmood.Anara memang se-moodswingitu."Sebenernya Daver pacaran sama siapa, sih, Far?" tanya Anara dengan suara ya
"Jika kita takkan mungkin bersama, buat apa dirimu muncul terus di hidupku?"-Anara Emiley***"Ra, tadi lo liat gak Letta sama Daver berduaan di ruang olahraga?"Begitu mendengar cara bicara Fara yang agaknya akan menggosip, Anara spontan menoleh. Tentu ada arahan mata terkejut yang tidak sengaja dilakukannya.Detik selanjutnya, Anara mengingat kembali fakta di mana Daver dan Letta berpacaran. Perlahan kejutnya digantikan oleh rasa wajar."Emang iya? Gue gak liat." Anara menjawab apa adanya. Tidak dihebohkan, tidak juga dipercuek.Timbul rasa penasaran dari Fara saat
..."Udah lama gak nongkrong, eh nongkrong lagi." Fara mendengus. Ia bernasihat selayaknya seorang ibu. "Gak usah, lah. Nanti lo minum-minum!""Lah, kan nongkrong doang, Ibu Negara. Gak ngapa-ngapain kok gue." Daver memberi jurus pembelaan.Memang pada nyatanya, bahaya nongkrong di zona tongkrongan Daver adalah rokok dan bir. Biasalah, zona anak-anak cowok yang hits dan pakainya barangbranded.Untungnya, sejauh ini Daver bisa menahan diri."Tapi gak bener gila temen-temen lo yang itu," lanjut Fara lagi."Gak apa-apa, yang penting seru.""Nakal, ya, Daver." Evanmengompori. "Emang gue doang yang paling bener."
"So, how do we start it all?"-Daver Negarald***Hembusan napas puas dikeluarkan oleh Gema. Ia merasa menang. "Tuh! Sahabat lo sendiri yang ngaku! Masih gak percaya juga?"Sayangnya, jawaban itu tidak akan membuat Daver langsung percaya. Bukannya terkejut, ia malah tertawa. "Ra, lo dijanjiin apa sama Gema buat ngangguk?"Anara menggeleng. Wajah yang ia pasang menunjukan bahwa ia santai dan tenang. "Gak dibayar, gak dijanjiin, emang Gema cowok gue."Jujur, karena Anara tampak serius, Daver jadi kembali bertanya-tanya pada dirinya sendiri.Kemudian, Anara meng
...Anarangedumel.Ia mengulang kata-kata Daver persis dengan gaya cowok itu."Karena gue sayang sama lo, Ra. Gue kan sahabat lo. Hilih, bacot sia. Bosen gue denger omongan lo."Bodo amat Anaragaspol."Lah, sayangnya gue udah lebih dari sahabat, dah," ucap Daver lirih, sudah bete."Apa lo bilang?" Anara mengarahkan tangannya ke belakang telinga sembari sedikit tertawa. "Ngelawak lo, Dav."Anara tangkap Daver cuma bergurau karena cowok itu ngomong tanpa ekspresi dan sangat santai seperti tidak ada beban.Daver mengacungkan dua jarinya membentuk tanda V. "Sumpah, gue beneran sayang sama lo. Makanya gue mau liat reaksi lo
"I want to see what happens if i don't give up."-Anara Emiley***Anara tidak tahu ke mana Daver membawanya pergi sampai cowok itu mendaratkan ninjanya ke suatu tempat yang tidak pernah ia kunjungi.Tempat ini hanya mendapat penerangan dari satu lentera besar. Sepi, namun dekat dari jalan raya sehingga terdengar suara kendaraan yang melewati Jakarta."Ayo, Ra."Sedikit orang di sini. Dapat dideskripsikan tempat ini adalah sebuah taman karena ada rumput cantik, bunga-bunga, serta bangku panjang. Tidak lupa ada deretan abang-abang yang menjual jajanan.
...Anara menunduk. Dari situ dapat terlihat bulu matanya yang basah. "Gak usah bangga-banggain gue kayak gitu. Gue hancur tanpa sepengetahuan lo. Gue gak sekuat itu."Daver menggeleng. "Enggak, Ra. Kalau lo hancur, lo udah hilang dari dunia ini. Tapi lo enggak. Yang gue liat,you're not broken, you grow."Anara ikut menggeleng. Ia menatap Daver begitu sendu sampai Daver melihat itu seperti memelas. "Enggak.." Anara menghela napas. "Gue gak sekuat lo."Anara mengerti betul banyaknya kesakitan lalu-lalu yang menimpa hidup Daver selama ini. Jadi, Anara mengerti betul banyaknya kekuatan yang Daver punya untuk bertahan.Anara kembali menunduk hingga D
...Saat Daver mengatakan itu, suasana semakin haru. Ada yang menyembunyikan air mata, ada yang berusaha untuk tetap senyum, ada yang cemberut karena sedih."Oh iya, gue titip Anara ke kalian ya. Dia suka mendem sendiri kalo ada apa-apa. Jadi tolong didengerin kalo dia emang butuh temen cerita, peluk dia kalo lagi sedih, bikin dia ketawa. Pokoknya tanyain terus dia kenapa," pinta Daver pelan.Zhenix mengangguki perkataan Daver. Evan dan Rino, mereka mengacungkan jempol.Daver mundur beberapa langkah, kembali lekat dengantrolley-nya. Setelah melambaikan tangan, ia mulai membawa pergi benda yang menampung segala kebutuhannya itu.Sesekali Daver menengok ke belakang. Barangkali ia melihat seseorang berlari menghampi
..."Aku salah banget ya?" tanya Daver kemudian menatap Giselle.Giselle tersenyum lembut, lalu mengacak rambut Daver selayaknya anak kecil. Ia tertawa sekejap."Kok malah diketawain sih," gerutu Daver. "Ini udah tinggal 40 menit lagi, Kak. Zhenix udah pada bilangotw, tapi mereka bilang Anara gak mau ikut.""Siapa tau Anara tiba-tiba dateng?""Dia aja gak angkat telepon atau bacachataku sama sekali. Nih, liat. Aku udah ada ratusan kali nelepon dia. Gak ada satupun yang diangkat."Giselle menatap Daver sebentar, lalu ia mengatakan sesuatu yang sedikit melegakan hati Daver. "Gini, Dav. Anggap aja untuk sekarang, Anara lagi marah sebentar. Sebe
"We start this story by together. It must be the same way when we end this."—Daver Negarald—***"Daver, bangun! Bisa-bisanya kamu gak pasang alarm. Ayo siap-siap!" oceh Natasya, membuka gorden kamar Daver. Wanita itu sengaja menginap di apartemen Daver, sekalian membantu anaknya membereskan barang-barang.Daver memicingkan mata begitu sinar mentari menerobos kaca kamarnya. Ia terkejut dengan dirinya sendiri sampai langsung mengubah posisi menjadi duduk.Jadi tadi gue cuma mimpi?!"Kenapa?" Natasya bingung melihat gerak-gerik Daver
***17.38 WIB.Shit!Rasanya Daver mau mengumpat berkali-kali. Kenapa Anara tidak kunjung membalas pesannya? Membaca pun tidak!Apakah Daver harus pergi dengan perasaan ganjalnya ini? Juga dengan ketidakjelasan hubungannya dengan Anara?"Kamu nungguin apa sih? Dari tadi bolak-balik liat hp terus." Giselle ternyata memperhatikan kegelisahan Daver."Calm down." Gantara menepuk bahu Daver dengan gagah, lalu tersenyum. Aura keayahan laki-laki paruh baya itu sangat kental. "Calon penerus Negarald Group harusstay cool, oke?"Daver tersenyum berat, lalu menganggukkan kepalanya.
***"Ra? Kok manyun sih? Seneng dong harusnya karena tau Mama demen sama kamu."Daver dan Anara baru saja sampai di danau yang pernah mereka kunjungi waktu lalu. Memang gelap jadinya karena ini sudah malam. Akan tetapi, ada banyak lampu yang menyala dan beberapa pedagang yang masih menggelar lapak.Anara tidak menanggapi. Pikirannya sedang tidak fokus. Ia juga tadi lagi sibuk mengetik sesuatu di ponselnya."Are you okay?""Ya?" sahut Anara asal."Kamu gak apa-apa?" ulang Daver sabar. Ia menatap Anara. "Dari kemarin, kamu agak beda. Aku mau nunggu kamu cerita sebelum aku duluan yang tanya. Eh, kamu gak cerita-cerita." Ia terkekeh bercanda.
"So, it does end like this, doesn't it?"-Davenara***Sesuatu yang sangatrareakan terjadi malam ini di rumah Giselle. Bayangkan saja, Gantara dan Natasya mau menghadiri makan malam bersama. Padahal sejak bertahun-tahun lalu diajak, mereka tidak pernah mau.Mungkin bisa jadi karena hari ini adalah hari ulang tahun Grace, anak Giselle. Jadi Gantara dan Natasya selaku opa-oma anak empat tahun itu mau turut serta.Tentu di kesempatan berharga ini Daver mengajak Anara. Bahkan cowok itu membelikan Anaradressformal supaya mereka semua bisa berseragam."Happy birthday to Grac
***Anara selesai dengan aktivitas bersih-bersihnya. Dari yang bau keringat karena habisworkout,kini gadis itu sudah kembali wangi semerbak.Anara menyisir rambut, setelah itu mengambil vitamin rambutnya. Namun, ketika mengambil benda tersebut, ia melihat ada ransel Daver."Dav, kok tas kamu nyasar di sini?" teriak Anara dari dalam kamar."Iya, Ra! Tadi aku minjem kamar mandi kalian buat mandi, terus sekalian aku pindahin tasnya biar gampang cari baju, parfum, dll," jawab Daver dengan suara yang besar.Anara mengangguk paham. Lalu, ia memakai vitamin rambutnya dan kembali menyisir."Itu apaan dah?" gumam Anara kecil, salah fokus ke amplop berisi surat yang
"We called it family."-ZHENIX***Sudah pukul 3 subuh, tapi Rino belum bisa tidur. Padahal yang lain udah tepar dari jam 12 malam. Karena lapar, ia pun akhirnya keluar kamar untuk mencari cemilan.Ceklek!Rino menyalakan lampu. Ia berjalan ke dapur. Agak sedikit heran karena ada suara air mendidih."Oy!" panggil Letta, ternyata lagi masak mie instan. "Ngapain lo?""Kaget, kirain siapa." Rino mengelus dada, lalu tertawa. "Bikin apaan, Ta?""Mie. Mau?"
***"Na, jadian yuk!""HA?" Elena kaget dengan ucapan Evan yang tiba-tiba. Ia mengambil es kelapa dan memberikannya. "Mabok lo!""Ih, serius, Na. Emangnya lo gak mau punya cowok cakep plus humoris kayak gue?" Evan mengedikkan alisnya sambil mengelus-elus dagu.Elena tertawa melihat kepedean yang Evan tampilkan. "Udah-udah, gak usah ngaco deh, ayo balik. Yang lain juga pada mau minum es-nya.""Lo mah gitu, Na. Digantung mulu gue." Evan ngambek."Emang lo mau nerima kekurangan gue?" tanya Elena, sebenarnya hanya bergurau.Namun, Evan menanggapinya dengan serius. "Lo pikir gue sesempurna itu untuk gak milih lo dengan alesan yang