Malam sangat dingin menembus tulang. Sedikit rintik air halus mengenai kulit, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Langit memang sedikit menampakkan cahaya kilat di balik awan gelap itu.
Selene merapatkan mantelnya. Semakin lama berada di luar, tubuhnya semakin menggigil. Ia baru saja kembali dari Rumah Sakit saat ini, cukup larut karena lemburan. Jalanan sudah sangat sepi. Mungkin hanya beberapa yang masih berada di sana, sama-sama merapatkan mantel dan melangkah secepat mungkin menuju tempat tinggal. Atau karena orang-orang enggan keluar, sebab kilat yang cukup menakutkan.
Sebenarnya, Selene merasakan hal aneh saat berjalan sendiri sejak meninggalkan rumah sakit. Ia merasa seseorang mengikutinya. Tidak sekali dua kali Selene mendapati lelaki dengan topi baret itu bersembunyi kala Selene menoleh ke belakang. Hal itu membuat Selene sedikit panik dan takut, perjalanan rumahnya masih cukup jauh. Dan kondisi jalanan yang semakin sepi. Pun, lampu sudah sejak tadi di padamkan. Hanya lampu jalan yang berjarak berjauhan itu yang menemani Selene.
Wanita itu melangkahkan kaki sedikit cepat, tetapi tidak terkesan tergesa-gesa. Ia menuju toko Bagel's yang masih buka. Menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Selene memesan sekantung Bagel's untuk bekalnya nanti malam, serta secangkir cokelat panas. Pipinya memerah kala uap hangat itu menerpa wajah.
"Oh? Kapten Cadfael?" kaget Selene ketika tak sengaja menoleh ke samping saat seorang pemuda mendekat dan memesan minuman.
Pria yang di panggil Kapten Cadfael itu menoleh dengan sedikit menunduk, mendapati kehadiran Selene yang memegang gelas kertas dengan dua tangan. Tenggelam dalam mantelnya sendiri.
Beberapa saat, Kane masih terdiam di tempatnya. Hanya menatap wajah Selene yang memerah di bagian pipi dan hidung. Sepertinya wanita itu cukup kedinginan.
"Dokter Sapphire?" kata Kane setelah berpikir beberapa saat.
"Anda melupakan saya secepat itu, Kapten? Rasanya saya sedikit kecewa mendengarnya," gurau Selene dengan nada sedih.
"Tidak, aku tentu mengingatmu, Dokter. Hanya saja, aku khawatir jika salah orang," balas Kane berusaha sopan.
Selene tertawa, menunduk kecil. "Anda baru pulang, Kapten?"
"Aku akan kembali ke Barak."
"Aah, ini satu minggu setelah pertemuan pertama kita," Selene menatap penampilan Kane malam ini. Lelaki itu menggunakan Seragam yang berbeda. "Anda baru saja pulang dari Dinas Luar, Kapten Cadfael?"
Kane mengangguk sebagai jawaban. Dia menatap sekitar, lalu kembali lagi pada Selene yang berusaha meniup cokelat di tangannya, lantas meminum sedikit demi sedikit. "Rasanya, ini terlalu larut untuk seorang wanita berjalan sendirian, Dokter."
"Yha, seperti yang anda lihat, tak ada taksi yang melintas malam ini," senyum Selene.
Kane menerima gelas kopinya, bersamaan dengan Selene yang menerima bungkusan Bagel's yang tadi ia pesan.
"Sepertinya hujan akan segera turun. Saya harus bergegas pulang," ucap Selene sambil menatap langit. "Barak tak jauh dari sini, anda juga harus segera kembali, Kapten. Hujan malam terasa sangat menusuk, dan tidak baik untuk kesehatan."
Kane mengambil koper tangannya yang tadi ia taruh di jalanan, dan menggenggamnya erat. Lelaki itu sudah tidak memakai topi militernya, sehingga rambut tebal itu sedikit berantakan.
"Di mana rumah mu berada, Dokter Sapphire?" tanya Kane beberapa saat.
"Selene, tolong panggil saja saya Selene," jawab Selene lebih dulu. "22-1 D, Begel Street. Dua blok lagi dari sini," sambungnya.
Kane ikut menatap ke arah jari Selene tertuju. Lantas kembali menatap wanita yang masih menampilkan wajah super ramah itu.
"Aku akan berkunjung ke rumah Sersan Steve, arah yang sama denganmu. Keberatan jika berjalan bersama?" tanya Kane dengan wajah sedikit ramah yang mampu ia tunjukan.
Wajah Selene terlihat senang. Tentu ia tidak keberatan. Bahkan, matanya sempat menatap ke arah belakang Kane. Mencari sosok yang sejak tadi mengikutinya. Selene mengangguk tanpa beban.
"Saya akan sangat senang jika memiliki teman berjalan," kata Selene riang.
Kane mengangguk dan mengulurkan sebelah tangannya, "Setelah anda, Nona."
"Hei.. ayolah, cukup Selene. Tanpa ada tambahan lain," ujar Selene mengoreksi panggilan dari Kane tadi. "Selama bukan di pangkalan, Saya rasa Selene lebih dari cukup."
Kane tidak membalas ucapan Selene dan hanya mengangguk. Ia berjalan satu langkah di belakang gadis itu. Hingga akhirnya, Selene yang menyetarakan langkah mereka. Perbandingan tubuh yang sangat signifikan.
Selene adalah tipe wanita yang tidak membiarkan suasana sunyi menyerang mereka sepanjang jalan pulang. Ia akan bertanya sesuatu hal pada Kane, tanpa membuat lelaki itu risih. Sesekali ia bercerita tentang anak-anak kecil yang berada di lorong rumah sakit. Bagi Kane, itu hal yang cukup menyenangkan. Bukan, bukan karena Selene yang bercerita. Tapi karena wanita itu pintar memainkan intonasi suaranya.
Cukup jauh berjalan, Kane mengadahkan tangannya ke atas. Rintik hujan terjatuh di telapak tangannya. Lelaki itu menoleh pada Selene yang tersenyum sambil meminum cokelat yang tersisa setengah. Kopi milik Kane sudah habis sejak tadi.
"Apa rumahmu masih jauh, Dok— Selene," Kane bertanya dan sedikit salah memanggil nama gadis itu tadi.
"Tidak. Tepat setelah belokan di depan sana adalah rumahku," Selene menujuk gang di antara dua gedung di depan mereka.
Kane melepaskan jas seragamnya dan menyisakan kemeja putih dengan dasi sedikit longgar itu. Ia kemudian merentangkan jasnya di atas kepala Selene yang terkejut dengan perlakuan Kane. Tak sempat bertanya lebih banyak, hujan mulai turun membasahi keduanya. Tak terlalu deras, tapi cukup membuat mereka basah hingga tiba di rumah Selene.
"Berjalanlah sedikit lebih cepat. Jas ini bisa melindungimu, tapi tetap akan basah nantinya," ucap Kane.
Selene mempercepat langkahnya dan mendekap tasnya di dada agar tidak basah. Kane di sampingnya terus memastikan agar Jas tersebut bisa melindungi tubuh mungil Selene. Sekalipun bagian punggung dan pundaknya sudah basah karena tidak tertutupi dengan baik.
Beberapa saat berjalan, tepat saat keduanya tiba di rumah mungil dengan halaman yang di tumbuhi bunga itu, hujan seketika turun dengan derasnya menghantam bumi. Kane refleks sedikit memajukan badan, karena atap yang berada di atas pintu tidak terlalu besar. Selene sempat tertegun dan segera menggeserkan tubuhnya, agar memberikan jarak pada mereka. Ia bergegas membuka kunci pintu rumah.
Kane menepuk-nepuk lengannya yang masih menyisakan anak hujan. Sebagian tubuhnya sedikit basah saat ini.
"Hujan masih cukup deras, Kapten Cadfael. Di mana rumah milik Sersan Idris?" tanya Selene sedikit mendongak.
Kane menurunkan pandangannya. "Tak jauh dari sini. Satu blok lagi. Mungkin sedikit basah jika berjalan ke sana."
Selene menatap rumahnya dengan menggigit kecil bibir dalamnya. Kemudian melihat kemeja Kane yang cukup basah itu. Lelaki itu bisa demam jika di biarkan memakai pakaian basah dan nekat hujan-hujanan saat malam dingin seperti ini.
"Saya tahu ini sedikit aneh," ucap Selene tak enak. "Tapi.. apakah anda ingin berteduh sembari menunggu hujan reda, Kapten?" Selene terlihat sedikit salah tingkah. "Rumah ini cukup kecil, karena saya hanya tinggal sendiri. Tapi.. mungkin saya bisa menyajikan teh untuk menghangatkan badan. Maaf jika saya terdengar lancang."
Kane melihat wajah memerah Selene yang menunduk. "Masuklah terlebih dulu, Selene. Aku akan menyusul setelah mengeringkan badan," ujarnya membuat Selene terlihat sedikit lega.
"Saya akan mengambilkan handuk kalau begitu. Cepatlah masuk, udara semakin dingin," kata Selene dan bergegas memasuki rumahnya untuk mengambilkan handuk kering.
Tak menunggu lama, Selene kembali ke luar dan mendapati Kane yang baru saja masuk dan menutup pintu. Lelaki itu bahkan melepaskan sepatu yang sedikit becek di samping pintu. Ia juga berdiri di atas karpet, agar tidak membuat basah lantai lebih banyak lagi. Selene sempat tersentuh dengan yang di lakukan Kane. Tapi, ia dengan cepat menepis pikiran-pikiran aneh dan mendekat kearah Kane.
"Ini adalah sweater milik Ayah. Sepertinya muat untuk anda," Selene menyerahkan handuk beserta sweater abu-abu tersebut pada Kane.
"Aku bisa menerima handuknya saja, Sel— hatchii.." Kane segera berbalik saat tiba-tiba bersin melanda dirinya. Beruntung tidak mengenai Selene di depan. Gadis itu tertawa kecil.
"Sebaiknya anda mengganti kemeja anda, Kapten Cadfael. Tubuh yang sakit tidak bisa di bohongi," goda Selene dengan cengiran khasnya. "Saya akan membuat secangkir teh. Jika anda memerlukan toilet, ada di sebelah sana," tunjuknya pada sebuah pintu kayu di sudut ruangan.
Kane mengangguk. Melepaskan kaus kaki yang sedikit basah, dan berjalan menuju sofa di dekat perapian. Ia tadi meletakkan tasnya di dekat pintu, tepat di atas sepatu pantofelnya. Jasnya sudah lebih dulu di minta oleh Selene untuk wanita muda itu keringkan.
Selene meninggalkan Kane yang berada di ruang tamu rumahnya. Lebih tepatnya, ruang serbaguna. Sebab Selene melakukan banyak hal di sana. Beberapa saat kemudian, Selene kembali dengan maksud bertanya, apakah Kane menyukai manis atau tidak. Namun, pemandangan yang di dapatkan Selene cukup menakjubkan.
Di depannya, Kane baru saja melepaskan kemeja dan menyisakan punggung tanpa sehelai kain apapun. Beruntung pria itu membelakangi Selene. Jika tidak, ia bisa melihat pipi semerah tomat yang baru saja bersemu itu. Selene hendak kembali ke dapur, ketika matanya menangkap sesuatu di bagian kanan pundak Kane.
"Oh, Ya Tuhan!" seru Selene tertahan. Kane yang terkejut itu membalikkan badan dan mendapati mata Selene yang membesar. "Anda terluka, Kapt?"
Kane memegang pundaknya dan menoleh. Benar saja, perban yang menutupi luka tersebut sedikit rembes oleh darah. Mungkin karena Kane terlalu banyak menggerakkan bahunya sejak tadi. Sehingga, luka itu kembali terbuka. Kane melihat Selene yang bergegas menuju lemari di dekatnya.
"Tidak apa-apa, Selene. Ini mungkin basah karena terkena air hujan. Sehingga nodanya menyebar ke mana-mana," Kane berusaha menenangkan Selene.
Seperti angin lalu, ucapan Kane hanya di biarkan oleh Selene. Ia lebih dulu membawa kotak P3K itu mendekat ke arah Kane dan duduk di sofa.
"Saya adalah seorang dokter, Kapt. Dan tidak ada satupun dokter yang membiarkan seseorang terluka di hadapannya," ujar Selene dengan wajah serius. "Luka itu bisa infeksi, jika di biarkan tertutup oleh perban yang basah. Biar saya obati lebih dulu. Lagi pula, beruntung bagi anda, karena ini adalah pengobatan gratis."
Kane mendengus kecil mendengar gurauan Selene yang terucap dengan nada tegas itu. Ia akhirnya mengalah dan duduk di samping Selene yang dengan sigap membongkar peralatan tempurnya.
Dengan jarak yang dekat, Selene membuka perban yang berada di pundak Kane. Sementara, Kane hanya duduk diam. Berusaha untuk tidak menoleh. Karena jika itu terjadi, wajah mereka mungkin saja akan berbenturan.
Suara napas yang tertahan terdengar dari arah Selene berada. Wanita itu sudah melihat luka jenis apa yang ada di balik perban tersebut.
"Luka tembak?" tanya Selene kembali sigap membersihkan darah di sisi luka itu.
"Hanya tergores saja."
"Hanyaa?" ulang Selene tak percaya. "Setidaknya luka ini berusia tiga hari, apa saya salah?"
"Kau benar."
"Apa.. anda baru saja pulang dari perang, Kapten Cadfael?" tanya Selene pelan.
Kane mengangguk kecil. "Ada sekelompok pemberontak di perbatasan. Tapi semua sudah selesai."
"Bukankah anda seorang pilot? Bagaimana anda bisa terluka seperti ini?"
"Aku tetap seorang Tentara, Selene. Darat, langit ataupun laut, aku bisa berperang di mana saja, selama aku bisa melakukannya."
Selene terdiam mendengarkan jawaban Kane. Kini ia lebih fokus membersihkan luka tersebut. Kane juga tidak bereaksi apapun, sekalipun alkohol mengenai lukanya.
"Tidak sakit, Kapt?" tanya Selene penasaran.
"Cukup sakit."
"Anda tidak bereaksi apapun?"
"Karena aku terbiasa menahannya?" jawab Kane setengah bertanya.
"Itu artinya, anda sering mendapatkan luka?"
Kane mengangguk. Selene sudah selesai menutup kembali luka tersebut dengan perban. Kane lalu menunjukkan beberapa bekas luka yang masih tersisa. Bekas perang yang lalu, atau terluka saat berlatih. Beberapa karena luka masa lalu.
Selene menatap takjub luka yang nyaris pudar itu. Ia lalu menatap mata abu-abu Kane yang tajam, sekaligus teduh. "Anda benar-benar tentara sejati, Kapten," kekehnya lagi.
Kane mendengus kecil. Mengalihkan pandangan, dan meraih sweater yang di berikan Selene tadi. Segera memakainya. Selene juga mengalihkan pandangan karena merasa terlalu lama menatap wajah itu. Tatapannya tertuju pada perapian yang mulai padam.
"Aah, saya akan mengambil beberapa kayu untuk perapian. Juga, tadi saya ingin bertanya, apa anda suka minuman manis, Kapten?"
"Dua balok gula sepertinya cukup," balas Kane. Tatapannya ikut terarah pada perapian. "Biar aku yang mengambilkan kayu bakar, Selene. Kau buatlah teh yang kau sebut-sebut sejak tadi."
"Eh? Bagaimana mungkin seorang tamu mengangkat kayu bakar?"
"Mungkin saja. Beritahu saja aku di mana kau menyimpan kayunya," sahut Kane tak ingin mendebatkan hal itu.
Selene mengalah. "Ada di gudang kecil, tepat di samping toilet. Aku pikir masih ada beberapa ikat kayu bakar di sana."
Kane bangkit dan segera menuju tempat yang di katakan Selene. Tapi baru beberapa langkah, lelaki itu membalikkan badannya.
"Ada apa?" tanya Selene yang juga baru saja berdiri untuk menuju dapur.
"Kane," ucap Kane pelan. "Panggil saja aku Kane. Dan berhentilah bersikap formal. Aku bukan atasanmu." Setelah mengatakan hal itu, Kane melanjutkan langkahnya kembali.
Selene menahan senyumnya. "Kane.." gumamnya pelan dan segera berlalu. Sebelum Kane kembali dan melihat buah tomat pada wajahnya.
Tanpa Selene sadari. Pria tua yang sejak tadi mengikutinya dari Rumah sakit hingga toko Bagel's, sudah lebih dulu terkapar lemah di antara gedung tak jauh dari Selene berada. Saat itu, Kane baru saja pulang dari dinas luar, dan berniat untuk mengobati lukanya di rumah sakit, ketika ia melihat Selene keluar dan di ikuti oleh pria yang cukup berumur. Seperti dugaan Kane, pria tersebut sedang mabuk berat.
Karena merasa hari sudah mulai malam, dan tingkat kejahatan yang cukup tinggi saat ini, Kane memutuskan untuk menghampiri Selene, dan memesan secangkir kopi untuknya. Tanpa alasan jelas, Kane hanya ingin mengantarkan dokter klinik mereka itu pulang dengan selamat. Balasan karena ia sudah memperhatikan kesehatan tentara negara mereka.
Kane menjatuhkan beberapa kayu bakar ke dalam perapian dan merapikan agar sisanya tak berhamburan keluar. Tak lama setelah itu, Selene akhirnya datang dengan nampan berisikan teko teh hangat. Asap mengepul halus dari teko tersebut. Selene juga agaknya sudah mengganti pakaiannya menjadi baju rumahan.
Sepiring Bagel's terlihat menemani teh tersebut. Selene duduk di dekat Kane berada. Hanya ada satu sofa panjang di sana, mengarah ke perapian, dengan meja kayu kecil.
"Mari hangatkan tubuh!" seru Selene ceria dan menuangkan teh pada cangkir putih itu.
Kane menerimanya. Tidak mengeluarkan basa-basi atau apapun. Saat ini ia hanya berusaha sopan di hadapan Selene, sebagai tuan rumah. Keduanya lalu terlibat banyak pembicaraan. Lebih tepatnya, Selene yang berbicara. Tapi, wanita itu mampu menggiring Kane untuk membuka suara dan bercerita beberapa hal. Atau sekedar menjawab pertanyaan dengan cukup panjang.
Denting jam berbunyi dan menyela pembicaraan seru itu. Tawa keduanya mereda. Selene menatap jam dinding yang masih berbunyi tersebut.
"Sudah tengah malam?" Selene menatap jendela di dekatnya. "Hujan tak kunjung berhenti, dan semakin deras. Waktu berlalu tanpa terasa."
Kane yang ikut menatap jendela tanpa tirai itu hanya diam. Kilat tampak saling menyambar di atas sana. "Bisa pinjamkan aku teleponmu, Selene? Aku mungkin bisa meminta anggotaku untuk menjemput dengan mobil," ujar Kane berpikir.
Selene menujukkan letak telepon rumah yang berada tak jauh dari mereka. Kane segera menghampiri telepon tersebut dan memutar beberapa angka. Menunggu beberapa saat, kemudian melakukan hal yang sama. Setelahnya, barulah Kane menutup telepon tersebut.
"Ada jawaban?" tanya Selene.
"Sepertinya mereka sudah tidur. Atau barak sedang kosong saat ini," jawab Kane. "Aku akan pergi ke rumah Sersan Idris, Selene. Kau tidurlah dengan nyaman."
Kini keraguan kembali menghampiri Selene. Rasanya tak mungkin membiarkan Kane berjalan sendirian menembus hujan deras itu tengah malah seperti ini. Kane adalah aset negara, bagaimana jika lelaki itu jatuh sakit ketika negara membutuhkannya kelak?
"Kane.." panggil Selene dengan nada kecilnya. Tangan gadis itu saling bertaut di balik lengan piyama yang terlihat besar. "Hanya ada satu kamar di rumah ini, dan sebuah gudang. Jika kau tak keberatan, menginaplah. Aku hanya bisa memberikan sofa ini sebagai tempat tidurmu. Dan mungkin beberapa bantal serta selimut."
Kane dapat melihat wajah ragu Selene. Wanita itu tidak pernah menginap bersama pria? Atau membawa pria ke rumahnya?
"Kau terlihat tidak yakin dengan ucapanmu, Selene," ujar Kane tepat sasaran.
"Bukan seperti itu, Kane. Di luar sana terlihat seperti badai, dengan kilat yang terus menyambar. Rumah Sersan Idris berada cukup jauh dari sini. Dengan suhu yang semakin dingin, itu sama saja menguji nyawamu sendiri."
Kane tersenyum kecil. "Apa terlibat perang antar negara, juga termasuk menguji nyawa, Selene? Jika iya, aku sudah jelas lolos uji coba tersebut."
"Aku tak bercanda, Kapten. Tapi jawaban anda sangat lucu," kekeh Selene sopan.
Selene tanpa sengaja menahan kantuk di hadapan Kane. Gadis itu buru-buru memperbaiki dirinya.
"Aku akan menerima tawaranmu, Selene. Mungkin sofa ini masih bisa di gunakan. Lagi pula, aku tidak akan tidur malam ini."
Selene mengangkat wajahnya dengan bola mata sayu itu. Ia memang sangat mengantuk sekarang. "Apa karena sofa ini terlalu kecil, Kane? Kau.. bisa memakai kamarku kalau begitu," ucapnya setengah tak enak.
Kane akhirnya tertawa melihat wajah lucu Selene. "Tidak, Selene. Aku bisa tidur meski harus berada di dahan pohon. Malam ini ada berkas yang harus aku selesaikan. Di manapun aku berada, jika berkas itu belum selesai, rasanya tak mungkin aku bisa tidur tenang. Masuklah ke kamarmu, Sel. Wajah kantukmu tak bisa di bohongi."
Selene terkekeh kecil dan mengangguk. Ia segera bangkit. "Aku tetap akan membawakanmu selimut dan bantal," ucapnya dan segera mengambil dua benda tersebut. Meletakkannya rapi di atas sofa. "Selamat malam, Kane. Ketuk saja pintuku jika memerlukan sesuatu. Bekerja sebagai dokter, membuat refleks ku bekerja dengan baik."
"Tentu, Selene. Terima kasih," balas Kane ramah.
Selene hanya mengibaskan tangannya kecil dan berjalan menuju kamar. Terlihat jika gadis itu kembali menguap dan menutup bibirnya.
Beberapa saat, Kane memperhatikan rumah yang tak cukup besar itu. Tidak banyak perabotan yang tersusun. Pun juga semua terlihat rapi pada tempatnya. Ada beberapa frame foto di sana. Rumah yang nyaman untuk menghabiskan akhir pekan. Kane menghela napasnya pelan. Mengusap rambutnya, dan kemudian bangkit untuk mengambil berkas yang berada di koper. Malam ini akan sangat panjang.
☀️☀️☀️
Selene menguap kecil sembari membuka pintu kamarnya. Matanya mengernyit kecil, kala cahaya matahari sudah menerangi rumah. Ia menatap sekitar. Jendela sudah terbuka, begitu juga tirainya. Selene mendekat ke arah sofa, tapi di sanapun sudah rapi. Tanda seseorang membersihkannya.'Apa Kane membereskan semuanya?' batin Selene sembari menatap sekitar. Ini masih pukul enam pagi, dan Kane sudah meninggalkan rumahnya.Wanita itu bergumam takjub saat menemui beberapa hal. Selain jendela yang sudah terbuka, serta ruang tamu yang rapi. Kane juga sudah mencuci sweater yang ia gunakan, serta menjemurnya di halaman belakang. Bahkan, lelaki itu juga memperbaiki pintu belakang, keran air yang tersumbat, serta lampu dapur yang hampir mati. Selene terpaku melihat semua hal yang bermasalah itu nyaris di benarkan. Apa Kane sempat melakukannya semalam? Bukankah pria itu berkata akan mengerjakan berkasnya? Kapan ia melakukannya?Selene terse
"Nah, sudah selesai. Sama sekali tidak sakit, bukan?"Gadis kecil bernama Natt itu tersenyum lebar hingga deretan gigi putih yang renggang itu terlihat. Dia menatap dokter cantik itu dengan mata berbinar dan mengangguk senang."Terima kasih, Dokter Selene.""Tentu saja, Natt," balas Selene ramah."Dokter Selene, tadi aku belajar tentang orang yang kita sayangi," cerita Natt sembari memainkan tangan yang baru saja di tutupi oleh perekat luka itu. "Dokter Metta bertanya, siapa orang yang kami sayangi."Selene duduk di kursi dan menatap Natt yang bercerita dengan antusias. "Benarkah? Lalu, Natt menjawab siapa?""Papa dan Kakak," seru Natt semangat. Gadis kecil itu memang tidak memiliki sosok ibu lagi. "Lalu, ada Kepala Koki Jeff, Perawat Suzan, daaaaan Dokter Selene!!""Jadi, Dokter Selene yang terakhir?" Selene berkata dengan nada sedih yan
Pukul tujuh lewat lima belas menit.Selene menatap pantulan tubuhnya di cermin. Dress berwarna putih dengan motif bunga dan panjang tiga perempat itu terlihat manis sekaligus anggun ketika Selene menggunakannya. Rasanya, Selene tak perlu membawa Coats untuk malam ini. Meskipun ia sendiri tidak tahu ke mana Kane akan membawanya.Ketukan pada pintu membuat Selene mengalihkan pandangan dari cermin dan bergegas mengambil tas tangan mini yang sudah ia siapkan di atas meja."Tunggu sebentar!" seru Selene ketika ketukan terdengar lagi.Setelah memastikan sekali lagi barang bawaan dan hal di sekitar, akhirnya Selene menuju pintu dan membukanya. Tampak, Kane sudah berdiri di sana dengan wajah tampan yang kini tersenyum kecil. Kane baru saja terpaku di tempatnya."Anda sangat cantik malam ini, Nona Sapphire," puji Kane dengan wajah
Semenjak malam penuh cerita itu, hubungan Kane dan Selene sangat membaik. Bahkan melebihi dari yang keduanya bayangkan. Selene bahkan tidak bisa melupakan kala bibir Kane tanpa sadar menyentuh bibirnya. Hingga saat ini, Selene selalu memegang bibirnya dan tersipu malu.Malam itu juga mereka saling bercerita tentang kehidupan mereka. Termasuk alasan mereka mengambil pekerjaan yang keduanya jalani saat ini. Kane tidak terlalu banyak bercerita. Tetapi, setiap hal yang dikatakan lelaki itu adalah point utama kisahnya.Saat inipun, Selene dan Kane masih sering bertemu. Diluar maupun di dalam Markas militer. Saling menyapa satu sama lain, sebagai rekan. Tetapi di luar, keduanya seperti sepasang kekasih. Kane selalu bisa membuat Selene merasakan kupu-kupu beterbangan di perutnya.Seperti sore ini, Kane sedang berada di ruangan besar pada Markas mereka. Berdiri dengan tangan bertumpu di atas meja, memperhatikan peta besar yang t
Sepuluh hari sejak telepon dini hari itu, dan kini Kane masih tidak memiliki kabar apapun. Brooklyn juga dalam masa yang menegangkan. Peperangan kembali terjadi, tepat di batas laut mereka. Setiap jamnya, selalu terdengar gemuruh yang sangat mendebarkan jantung.Tidak banyak aktifitas yang terjadi. Warga memilih berlindung di dalam rumah. Jalanan sepi senggang. Toko-toko menutup etalase dan hanya membuka pintu jika ada yang datang, membeli keperluan penting. Semua orang takut, jika pesawat tempur yang melewati atap mereka, tiba-tiba menjatuhkan meriam dan meluluh lantahkan kota.Setiap hari seperti mimpi buruk. Anak-anak menjerit setiap kalinya. Para orang dewasa berjaga setiap jam. Getaran-getaran selalu terasa pada tanah yang mereka pijak. Dentuman-dentuman kuat, serta langit yang memerah.Selene merapatkan jasnya, rambut panjang itu ia ikat setinggi mungkin. Sepanjang hari, Selene sibuk kesana-kemari. Siap siaga pada
Langit berubah menjadi gelap. Bintang bertebaran terang dan bulan purnama menghiasi langit malam kota Brooklyn.Selene menatap keluar jendela dan menatap jalanan sepanjang yang ia lewati. Sejak jam tujuh lewat lima belas menit tadi, sebuah mobil klasik khas bangsawan tiba-tiba berhenti di depan halamannya, dengan seseorang berpakaian rapi yang mengetuk pintu rumah. Pria muda itu menunduk santun, berkata bahwa Tuan Muda Cadfael mengutusnya kemari untuk menjemput sang puan jelita tersebut. Pria itu juga menunjukan sebuah undangan berwarna ungu lavender, berbahankan beledu, dengan cap lilin merah, khas milik keluarga Cadfael. Pria itu juga mengatakan, bahwa Kane tak bisa menjemput Selene secara langsung, karena ia adalah tuan rumah pada pesta malam ini.Selene di jemput lebih awal, sebab perjalanan menuju Mansion cukup jauh. Mansion Cadfael terletak di pinggiran kota, berdekatan dengan garis pant
Selene menatap Kane waswas apalagi ketika lelaki itu menutup pintu di belakangnya dengan tatapan terkunci pada Selene."Kanee..." ujar Selene waspada.Kane hanya tersenyum tipis. Bukan karena hal apa, tapi pandangan Kane saat ini benar-benar membuat Selene berpikiran yang aneh-aneh sekaligus takut. Pesta belum selesai, ketika Kane tiba-tiba menariknya menuju lantai dua rumah besar tersebut.Sebelumnya, mereka berada di ruang makan besar dengan meja yang cukup panjang. Makan malam jamuan pada tamu penting, dan Selene berada di tengah-tengahnya. Di sana, Selene hanya di kenalkan sebagai seorang dokter dan kekasih Kane saja. Arthur dan Marine tidak benar-benar memperkenalkan Selene sebagai calon menantu Cadfael, sebab Kane melarangnya. Bukan karena Kane bercanda dengan status tersebut, melainkan, Kane belum memastikannya, jika Selene tidak keberatan dengan status tersebut.Bahkan, saat berada di lorong
"Mom, aku ingin menjadi seperti Papa!"Mataku mengerjap beberapa kali ketika mendengar suara yang penuh semangat itu. Apa aku baru saja melamun, lagi?"Lihat, Mom! Papa terlihat sangat gagah," Kale menyender manja pada pangkuanku. Tersenyum mengusap wajah Pria yang berada dalam Frame tua dengan ibu jari kecilnya.Bibirku tersenyum. Mengusap rambut pirang Kale di sela-sela jemari. "Kau merindukan Papa, Kale?""Sangat."Perlahan aku sadar, senyuman itu berubah menjadi masam. Kale, kalimat itu selalu terucap dari bibir putra kecilku ketika ia melihat Seragam berpangkat Mayor yang tergantung di lemari kaca. Selalu bertanya, bagaimana sosok Papanya. Aku hanya bisa mengatakan, bahwa ia adalah Pria yang luar biasa. Menyelamtkan Negara, demi membuat Kale kami hidup dengan nyaman hingga saat ini.Kale kembali tersenyum ceria, sedikit tertawa. Entah apa yang membuatnya
Selene menatap Kane waswas apalagi ketika lelaki itu menutup pintu di belakangnya dengan tatapan terkunci pada Selene."Kanee..." ujar Selene waspada.Kane hanya tersenyum tipis. Bukan karena hal apa, tapi pandangan Kane saat ini benar-benar membuat Selene berpikiran yang aneh-aneh sekaligus takut. Pesta belum selesai, ketika Kane tiba-tiba menariknya menuju lantai dua rumah besar tersebut.Sebelumnya, mereka berada di ruang makan besar dengan meja yang cukup panjang. Makan malam jamuan pada tamu penting, dan Selene berada di tengah-tengahnya. Di sana, Selene hanya di kenalkan sebagai seorang dokter dan kekasih Kane saja. Arthur dan Marine tidak benar-benar memperkenalkan Selene sebagai calon menantu Cadfael, sebab Kane melarangnya. Bukan karena Kane bercanda dengan status tersebut, melainkan, Kane belum memastikannya, jika Selene tidak keberatan dengan status tersebut.Bahkan, saat berada di lorong
Langit berubah menjadi gelap. Bintang bertebaran terang dan bulan purnama menghiasi langit malam kota Brooklyn.Selene menatap keluar jendela dan menatap jalanan sepanjang yang ia lewati. Sejak jam tujuh lewat lima belas menit tadi, sebuah mobil klasik khas bangsawan tiba-tiba berhenti di depan halamannya, dengan seseorang berpakaian rapi yang mengetuk pintu rumah. Pria muda itu menunduk santun, berkata bahwa Tuan Muda Cadfael mengutusnya kemari untuk menjemput sang puan jelita tersebut. Pria itu juga menunjukan sebuah undangan berwarna ungu lavender, berbahankan beledu, dengan cap lilin merah, khas milik keluarga Cadfael. Pria itu juga mengatakan, bahwa Kane tak bisa menjemput Selene secara langsung, karena ia adalah tuan rumah pada pesta malam ini.Selene di jemput lebih awal, sebab perjalanan menuju Mansion cukup jauh. Mansion Cadfael terletak di pinggiran kota, berdekatan dengan garis pant
Sepuluh hari sejak telepon dini hari itu, dan kini Kane masih tidak memiliki kabar apapun. Brooklyn juga dalam masa yang menegangkan. Peperangan kembali terjadi, tepat di batas laut mereka. Setiap jamnya, selalu terdengar gemuruh yang sangat mendebarkan jantung.Tidak banyak aktifitas yang terjadi. Warga memilih berlindung di dalam rumah. Jalanan sepi senggang. Toko-toko menutup etalase dan hanya membuka pintu jika ada yang datang, membeli keperluan penting. Semua orang takut, jika pesawat tempur yang melewati atap mereka, tiba-tiba menjatuhkan meriam dan meluluh lantahkan kota.Setiap hari seperti mimpi buruk. Anak-anak menjerit setiap kalinya. Para orang dewasa berjaga setiap jam. Getaran-getaran selalu terasa pada tanah yang mereka pijak. Dentuman-dentuman kuat, serta langit yang memerah.Selene merapatkan jasnya, rambut panjang itu ia ikat setinggi mungkin. Sepanjang hari, Selene sibuk kesana-kemari. Siap siaga pada
Semenjak malam penuh cerita itu, hubungan Kane dan Selene sangat membaik. Bahkan melebihi dari yang keduanya bayangkan. Selene bahkan tidak bisa melupakan kala bibir Kane tanpa sadar menyentuh bibirnya. Hingga saat ini, Selene selalu memegang bibirnya dan tersipu malu.Malam itu juga mereka saling bercerita tentang kehidupan mereka. Termasuk alasan mereka mengambil pekerjaan yang keduanya jalani saat ini. Kane tidak terlalu banyak bercerita. Tetapi, setiap hal yang dikatakan lelaki itu adalah point utama kisahnya.Saat inipun, Selene dan Kane masih sering bertemu. Diluar maupun di dalam Markas militer. Saling menyapa satu sama lain, sebagai rekan. Tetapi di luar, keduanya seperti sepasang kekasih. Kane selalu bisa membuat Selene merasakan kupu-kupu beterbangan di perutnya.Seperti sore ini, Kane sedang berada di ruangan besar pada Markas mereka. Berdiri dengan tangan bertumpu di atas meja, memperhatikan peta besar yang t
Pukul tujuh lewat lima belas menit.Selene menatap pantulan tubuhnya di cermin. Dress berwarna putih dengan motif bunga dan panjang tiga perempat itu terlihat manis sekaligus anggun ketika Selene menggunakannya. Rasanya, Selene tak perlu membawa Coats untuk malam ini. Meskipun ia sendiri tidak tahu ke mana Kane akan membawanya.Ketukan pada pintu membuat Selene mengalihkan pandangan dari cermin dan bergegas mengambil tas tangan mini yang sudah ia siapkan di atas meja."Tunggu sebentar!" seru Selene ketika ketukan terdengar lagi.Setelah memastikan sekali lagi barang bawaan dan hal di sekitar, akhirnya Selene menuju pintu dan membukanya. Tampak, Kane sudah berdiri di sana dengan wajah tampan yang kini tersenyum kecil. Kane baru saja terpaku di tempatnya."Anda sangat cantik malam ini, Nona Sapphire," puji Kane dengan wajah
"Nah, sudah selesai. Sama sekali tidak sakit, bukan?"Gadis kecil bernama Natt itu tersenyum lebar hingga deretan gigi putih yang renggang itu terlihat. Dia menatap dokter cantik itu dengan mata berbinar dan mengangguk senang."Terima kasih, Dokter Selene.""Tentu saja, Natt," balas Selene ramah."Dokter Selene, tadi aku belajar tentang orang yang kita sayangi," cerita Natt sembari memainkan tangan yang baru saja di tutupi oleh perekat luka itu. "Dokter Metta bertanya, siapa orang yang kami sayangi."Selene duduk di kursi dan menatap Natt yang bercerita dengan antusias. "Benarkah? Lalu, Natt menjawab siapa?""Papa dan Kakak," seru Natt semangat. Gadis kecil itu memang tidak memiliki sosok ibu lagi. "Lalu, ada Kepala Koki Jeff, Perawat Suzan, daaaaan Dokter Selene!!""Jadi, Dokter Selene yang terakhir?" Selene berkata dengan nada sedih yan
Selene menguap kecil sembari membuka pintu kamarnya. Matanya mengernyit kecil, kala cahaya matahari sudah menerangi rumah. Ia menatap sekitar. Jendela sudah terbuka, begitu juga tirainya. Selene mendekat ke arah sofa, tapi di sanapun sudah rapi. Tanda seseorang membersihkannya.'Apa Kane membereskan semuanya?' batin Selene sembari menatap sekitar. Ini masih pukul enam pagi, dan Kane sudah meninggalkan rumahnya.Wanita itu bergumam takjub saat menemui beberapa hal. Selain jendela yang sudah terbuka, serta ruang tamu yang rapi. Kane juga sudah mencuci sweater yang ia gunakan, serta menjemurnya di halaman belakang. Bahkan, lelaki itu juga memperbaiki pintu belakang, keran air yang tersumbat, serta lampu dapur yang hampir mati. Selene terpaku melihat semua hal yang bermasalah itu nyaris di benarkan. Apa Kane sempat melakukannya semalam? Bukankah pria itu berkata akan mengerjakan berkasnya? Kapan ia melakukannya?Selene terse
Malam sangat dingin menembus tulang. Sedikit rintik air halus mengenai kulit, mungkin sebentar lagi akan turun hujan. Langit memang sedikit menampakkan cahaya kilat di balik awan gelap itu.Selene merapatkan mantelnya. Semakin lama berada di luar, tubuhnya semakin menggigil. Ia baru saja kembali dari Rumah Sakit saat ini, cukup larut karena lemburan. Jalanan sudah sangat sepi. Mungkin hanya beberapa yang masih berada di sana, sama-sama merapatkan mantel dan melangkah secepat mungkin menuju tempat tinggal. Atau karena orang-orang enggan keluar, sebab kilat yang cukup menakutkan.Sebenarnya, Selene merasakan hal aneh saat berjalan sendiri sejak meninggalkan rumah sakit. Ia merasa seseorang mengikutinya. Tidak sekali dua kali Selene mendapati lelaki dengan topi baret itu bersembunyi kala Selene menoleh ke belakang. Hal itu membuat Selene sedikit panik dan takut, perjalanan rumahnya masih cukup jauh. Dan kondisi jalanan yang semakin sepi. Pun, l
Brooklyn, New York City, 1942.Past.Gemuruh suara cukup keras terdengar di langit-langit kota Brooklyn. Belasan pesawat tempur milik Militer baru saja melakukan pendaratan setelah melakukan Patroli sejak pagi tadi.Salah satunya pesawat tempur dengan ukiran KC-17 berwarna abu tua yang mendarat dengan mulus kesekian kalinya. Kaca penutup itu terbuka dan menurunkan satu pilot bertubuh gagah, lengkap dengan seragam patrolinya.Kane mengusap rambut tebal itu dan menatap langit. Seakan ingin kembali menghabiskan waktu lebih lama lagi di atas sana. Dia selalu menyukai lautan awan itu, dan sanggup terbang seberapapun lamanya. Kane baru ingin memperbaiki seragam, ketika seseorang menarik tangan lelaki itu tergesa.Kening Kane mengerut melihat Steve Idris, sahabatnya, yang menarik lengan lelaki itu. "Ada apa denganmu, Idris?