Home / Romansa / Godaan sang tante / Chapter 41 - Chapter 50

All Chapters of Godaan sang tante: Chapter 41 - Chapter 50

51 Chapters

Bab 41

Nyonya Ambar kembali ke ruang tamu setelah mendengar percakapan Aditya dengan seseorang di telepon.Jantungnya masih berdebar kencang karena tidak menyangka kalau Aditya adalah pria kasar. Jauh dari bayangannya selama ini. Dan yang lebih mengerikan lagi ia bahkan mengatakan akan melenyapkan selingkuhannya itu."Astaga, aku tidak menyangka kalau Aditya sekejam itu. Bagaimana kalau ia juga menyakiti anakku?" Nyonya Ambar mengelus dadanya. Ia merasa cemas dengan keadaan Elma.Tak berapa lama, Aditya keluar dari ruangan dan menghampiri Nyonya Ambar yang masih duduk terpaku.Nyonya Ambar berusaha keras untuk tetap terlihat tenang di hadapan Aditya. Seulas senyum tersemat di bibirnya untuk menyamar rasa gugup dan takut yang kini ia rasakan."Nak, kita makan dulu ya, makanan sudah siap," ajak Nyonya Ambar.Namun Aditya sepertinya tengah terburu-buru. Ia menggeleng dengan cepat."Maaf Ma, sepertinya aku harus buru-buru pergi. Ada urusan pekerjaan yang harus aku selesaikan sekarang. Aku pergi
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

Bab 42

Keesokan paginya, Aditya tiba di apartemen Arumi dengan wajah tegang. Tujuannya jelas, membawa Arumi ke rumah sakit untuk menggugurkan bayi yang dianggapnya sebagai beban. Ia memasuki apartemen itu dengan langkah cepat, tapi sesampainya di sana, ia terhenti.Apartemen itu kosong. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Arumi. Beberapa pakaian yang sebelumnya menggantung di lemari kini sudah lenyap, hanya menyisakan beberapa barang kecil yang tidak penting. Tempat tidur yang biasanya berantakan kini sudah dirapikan, seolah ditinggalkan untuk waktu yang lama.Aditya menggeram, memukul meja kecil di ruang tamu hingga gelas yang ada di atasnya jatuh dan pecah."Arumi!" teriaknya dengan nada marah.Ia memeriksa setiap sudut apartemen, berharap menemukan petunjuk, tapi sia-sia. Arumi sudah pergi, dan tidak ada yang tahu ke mana dia sekarang. Semua barang penting termasuk dokumen pribadi Arumi juga lenyap.Aditya mengambil ponselnya dengan geram dan men
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Bab 43

Aditya berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya dengan wajah memerah, suaranya memenuhi ruangan saat ia memarahi anak buahnya yang berjejer di hadapannya."Sudah dua hari! Apa susahnya mencari seorang perempuan? Arumi tidak mungkin pergi jauh tanpa meninggalkan jejak! Kalian semua ini becus bekerja atau tidak?!" bentaknya, wajahnya semakin gelap oleh kemarahan.Seorang anak buahnya dengan suara gemetar mencoba menjelaskan, "Kami sudah memeriksa apartemennya dan mencari di beberapa tempat yang sering dia kunjungi, Pak. Tapi sejauh ini belum ada petunjuk."Aditya menggebrak meja, membuat pena dan kertas di atasnya bergetar."Aku tidak peduli alasan kalian! Aku mau dia ditemukan! Cari ke mana pun dia pergi, hubungi orang-orang terdekatnya, apa pun caranya! Jangan kembali padaku sampai kalian mendapat hasil!" teriak Aditya penuh emosi. Tatapannya nyalang tertuju pada setiap wajah anak buahnya yang tertunduk ketakutan."Baik Pak, kami akan ber
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Bab 44

Revan kembali ke apartemen setelah selesai bertemu dengan beberapa rekan bisnisnya. Untuk sementara, Elma menunjuk Revan sebagai wakilnya selama dia dalam masa berkabung.Ini juga dimanfaatkan oleh Elma untuk mengasah kemampuan Revan dalam menjalankan bisnis milik keluarganya. Dan tanpa disangka kalau pemuda yang belum selesai kuliah itu mempunyai insting bisnis yang kuat."Cape ya Sayang?" tanya Elma setelah Revan duduk beristirahat di sofa."Lumayan, ternyata lebih enak jadi sopir pribadimu Sayang. Nggak perlu mikir selera ini." Revan memijat pelipisnya yang terasa pusing.Elma tersenyum dan memijat pelan tengkuk Revan."Wajar, nanti juga kalau sudah terbiasa nggak akan terasa terlalu berat. Rileks Sayang, jangan terlalu serius," ucap Elma.Dia pergi ke dapur untuk membuatkan teh untuk Revan. Tak berapa lama kemudian wanita itu kembali dengan membawa secangkir teh hangat manis untuk pria itu.perusahaan itu padaku? Kamu yakin aku mampu"Elma, apa kamu yakin akan mempercayakan menjal
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

Bab 45

Dinda berjalan melewati koridor kampus dengan langkah gontai. Wajahnya yang biasanya ceria kini dipenuhi kesedihan. Beberapa teman menyapanya, tapi ia hanya membalas dengan senyum tipis, untuk menutupi kesedihannya.Dari atas balkon kampus, mata Badru mengawasi tajam gadis itu."Ini pasti gara-gara Revan." Badru membuang napas kasar ke udara. Melihat wajah sedih Dinda entah kenapa hatinya juga jadi ikutan sedih.Dan biasanya kalau Dinda datang ke kampus ini adalah untuk mencari Revan. Tapi entahlah maksud Dinda datang hari ini setelah hubungannya dengan Revan kandas. Mungkin gadis itu hanya ingin mengenang Revan saja.Pria berkulit sawo matang itu berjalan turun untuk menyapa Dinda. Sekedar ingin menemani wanita cantik itu agar tidak terlalu kesepian. Mudah-mudahan saja Dinda masih mau menerimanya."Dinda?" panggilnya dari arah belakang saat ia sudah dekat dengan posisi Dinda sekarang.Dinda menoleh, menemukan Badru berdiri di sana. Untuk sesaat Dinda memandang Badru yang berjalan me
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

Bab 46

"Surat apa ini, Aditya?" suara Tuan Wirya menggema, dingin namun penuh amarah. "Apa Elma akan menceraikanmu?"Aditya tertegun. Kata-kata itu seperti petir yang menghantam dadanya. Dia menatap amplop di tangan ayahnya dengan perasaan bercampur aduk, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.Namun sebelum dia sempat menjawab, Tuan Wirya melempar surat itu ke meja di depannya. "Lihat sendiri apa yang telah kamu lakukan, Aditya!" bentak Tuan Wirya dengan suara yang semakin meninggi.Aditya, dengan tangan sedikit gemetar, meraih surat itu. Matanya mulai membaca, dan wajahnya perlahan berubah pucat. Isi surat itu adalah surat pengajuan gugatan perceraian yang dilakukan oleh Elma terhadapnya. Berikut jadwal sidang perdana yang harus ia hadiri.Aditya menatap nanar kertas di tangannya dengan tangan gemetar. Ia tidak menyangka kalau Elma akan secepat ini mengajukan gugatan perceraian terhadapnya."Kamu lihat hasil perbuatanmu itu Aditya? Kamu sudah merusak
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

Bab 47

Agus, anak buah terpercaya Aditya, menjalankan perintah majikannya dengan penuh kehati-hatian.Setelah memastikan suasana di sekitar apartemen Karina sepi, dia segera bergerak. Dengan keahliannya dalam membuka kunci otomatis, pintu apartemen itu terbuka tanpa menimbulkan suara sedikit pun.Namun, saat Agus menyelinap masuk, ia mendapati apartemen itu dalam keadaan kosong. Tak ada tanda-tanda aktivitas, tak ada suara, dan tak ada siapa pun di dalam.Lampu di ruang tamu menyala redup, dan aroma ruangan terasa netral, seperti baru saja dibersihkan. Agus memperhatikan sekeliling dengan cermat. Rak buku rapi, sofa tampak tidak tersentuh, dan meja makan kosong tanpa peralatan apa pun. Dia mengerutkan kening, merasa ada yang aneh."Ke mana mereka?" pikir Agus.Agus mulai memeriksa ruangan satu per satu. Ia masuk ke kamar utama, membuka lemari, bahkan memeriksa bawah tempat tidur. Namun, tak ada satu pun barang yang memberi petunjuk tentang keberadaan Karina atau Arumi.Di dapur, Agus menemuk
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

Bab 48

Elma duduk di ruang praktik Karina, kedua tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuannya. Wajahnya menunjukkan kecemasan yang tidak biasa, sementara Karina memandang sahabatnya itu dengan penuh perhatian. "Elma, apa saja yang kamu rasakan sekarang?" tanya Karina lembut sambil menyentuh tangan Elma. Elma menghela napas panjang sebelum menjawab. Aku tidak tahu, Karin. Akhir-akhir ini aku merasa aneh. Kadang aku mual tanpa alasan, aku jadi terlalu sensitif terhadap bau, dan... rasanya tubuhku jadi mudah lelah." Karina tersenyum tipis, tetapi sorot matanya menunjukkan keyakinan. "Elma, aku bukan mau menakutimu, tapi dari apa yang kamu ceritakan, aku rasa . kamu sedang hamil." "Benarkah?" Elma membelalakan matanya. Karina tersenyum merekah. "Aku memang belum pernah merasakan rasanya hamil tapi setiap pasienku yang hamil keluhannya rata-rata seperti itu. Kenapa tidak coba kita periksa aja?" Karina tampak antusias. "Apa mungkin aku hamil?" Elma masih tidak percaya.
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

Bab 49

lanjutan dari bab sebelumnya ** tender dari berbagai klien. Ia mengacak-acak rambutnya dengan frustrasi, pandangannya kosong menatap layar laptop yang menampilkan email-email penolakan dari mitra bisnis. "Arumi, di mana kamu sebenarnya?" gumam Aditya dengan nada penuh keputusasaan. Sudah berminggu-minggu ia mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Arumi, namun hasilnya nihil. Tidak ada petunjuk, tidak ada jejak, bahkan kabar samar sekalipun. Satu per satu anak buahnya yang tidak mampu memberikan hasil langsung dipecat tanpa ampun. Kini ia merasa sendirian, tenggelam dalam masalah yang semakin menumpuk. Tidak hanya Arumi yang menjadi beban pikirannya. Sidang perdananya semakin dekat, dan itu membuatnya tertekan. Kasus gugatan perceraian Elma membuat reputasi bisnisnya memburuk. Para klien mulai kehilangan kepercayaan, proyek besar yang seharusnya menjadi tulang punggung perusahaan kini terancam batal. "Aku bisa gila kalau terus begini," desisnya sambil menenda
last updateLast Updated : 2025-03-20
Read more

Bab 50

Pagi itu, dunia Aditya hancur berantakan. Berita tentang dirinya viral di media sosial, memperlihatkan rekaman video asusilanya dengan Clara. Berita tersebut menyebar seperti api, menghiasi tajuk utama di berbagai portal berita dan menjadi topik pembicaraan di mana-mana. Aditya duduk di ruang kerjanya dengan wajah tegang. Ponselnya terus berdering, pesan masuk dari klien, mitra bisnis, hingga keluarganya. Ia tidak berani membuka satu pun pesan itu. "Bagaimana ini bisa terjadi?" geramnya sambil membanting ponsel ke meja. Beberapa anak buahnya berdiri dengan wajah cemas. Mereka telah menerima perintah dari Aditya untuk menghapus video tersebut secara permanen. Namun, upaya mereka gagal karena video itu sudah terlanjur diunduh oleh banyak orang. "Maaf, Pak Aditya. Kami sudah mencoba segalanya, tapi video itu terlalu cepat menyebar," ucap salah satu anak buahnya dengan suara gemetar. Aditya memejamkan mata, menahan amarah yang membara di dadanya. Aditya terdiam, tidak mampu menjawa
last updateLast Updated : 2025-03-20
Read more
PREV
123456
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status