Semua Bab Terlambat! Hatiku Tak Lagi untuk Kalian: Bab 31 - Bab 40

50 Bab

Bab 31

Wenny kira dia bisa menghadapi semuanya dengan tenang, tetapi melihat foto dan menyaksikan mereka secara langsung ternyata jauh berbeda.Dia tahu Berto sangat mencintai Yuna. Dia berusaha menerima itu, tetapi saat melihat Chiro memanggil Yuna "Mama", dia benar-benar merasa hancur.Kenangan lima tahun yang lalu muncul kembali. Meski Chiro hanya pulang seminggu sekali, dia tetap berusaha melakukan yang terbaik.Memasak makanan kesukaan Chiro, membeli mainan yang dia suka, berusaha meninggalkan jejak keberadaan dirinya dalam hidup anak itu.Namun, dia gagal.Gagal total."Brak!"Wenny yang masih linglung mendadak tersentak ketika mobilnya menabrak kendaraan di depannya. Guncangan keras membuat tubuhnya terlempar ke depan sebelum sabuk pengaman menariknya kembali.Dia terkejut.Dia menabrak mobil orang.Tadi sudah dibilang, tidak boleh menangis, tidak boleh kehilangan kendali.Lampu mobil berkedip, terdengar suara ketukan di kaca mobil. Wenny akhirnya sadar dan menurunkan kaca mobil, langs
Baca selengkapnya

Bab 32

Tangan Yuna dilepaskan tiba-tiba. Dia menundukkan kepalanya sedikit, ada kilatan dingin di matanya, tetapi wajahnya tetap menunjukkan ekspresi lembut dan penuh perhatian. Lalu dia bertanya, "Chiro, gimana perasaanmu sekarang?"Suara Chiro terdengar serak dan pelan, "Tante Yuna, aku sudah nggak apa-apa."Berto masuk, dan anak kecil itu langsung melihat ke arahnya. "Papa, aku mau pulang."Berto menjawab, "Setelah infusnya selesai, kita pulang."Anak kecil yang terbaring di ranjang rumah sakit itu mengatupkan bibir mungilnya, lalu berkata pelan, "Aku mau pulang ke Griya Rosentia."Begitu mengatakan itu, suaranya mulai bergetar, air mata menggenang di matanya.Melihat itu, sorot mata Berto meredup, dan terselip kemarahan di dalamnya. Dia makin kesal dengan tindakan Wenny. Kalau saja dia tetap tinggal, mana mungkin anaknya akan merasa sesedih ini?Seperti dibuang begitu saja.Dia menahan emosinya, lalu berkata dengan suara rendah, "Tidur saja dulu, setelah bangun nanti, kita langsung pulang
Baca selengkapnya

Bab 33

Kenapa dia menangis?Padahal saat dia pergi, dia jelas terlihat tidak peduli.Berto memicingkan mata, tatapannya penuh kecurigaan. Hanya ada satu kemungkinan, dia mengkhawatirkan Chiro, atau mungkin ... dia memang sedang sedih dan kecewa.Kenapa dia bisa sedih dan kecewa?Apakah karena dia melihat Chiro memanggil orang lain "Mama"?Waktu itu, dia memang melihat kejadian itu di depan pintu.Namun, bukankah dia ... kehilangan ingatannya?Hah!Bibir Berto yang pucat tiba-tiba melengkung menjadi senyum dingin dan mengejek.Hilang ingatan, ya?'Wenny, nyalimu benar-benar makin besar. Berani sekali kamu mempermainkanku seperti ini.'"Papa?"Melihat wajah Berto makin dingin, Chiro yang sudah sangat lemah, langsung memanggilnya dengan lirih.Berto menatapnya sejenak, lalu berkata, "Istirahatlah yang baik."Dia akan menangkap wanita nekat itu dan bertanya langsung, apa yang sebenarnya dia inginkan!....Wenny belum tahu bahwa identitasnya akan segera terungkap. Dia pulang ke rumah dan langsung
Baca selengkapnya

Bab 34

Napas Wenny terhenti sejenak, ada firasat buruk yang melintas di pikirannya.Semua ini penuh dengan stroberi, apakah Berto sedang mengujinya?Apakah dia curiga kalau dia hanya berpura-pura?Di mana letak kesalahannya?Wenny terkejut dalam hati, tetapi wajahnya tetap tenang.Setelah meletakkan barang-barangnya, Yudha langsung pergi, dan sekarang dia sendirian di ruang tamu.Tanpa sengaja, dia menatap ke atas dan melihat kamera pengawas di sudut dinding.Hah!Pria jahat ini, sedang mengujinya!Memang, dia kehilangan ingatan, tetapi dia hanya lupa tentang mereka, dan dia sengaja membangun karakter seperti ini supaya dia tidak mudah diuji atau diserang.Wenny tidak menyentuh buah dan kue itu, dia hanya bermain gim di ponselnya.Tak lama kemudian, pintu ruang tamu terbuka lagi, dan Yudha masuk dengan membawa segelas jus stroberi. "Nyonya, ini untuk Anda."Wenny menoleh dan berkata, "Aku alergi stroberi, apa kamu nggak tahu?"Yudha terdiam sejenak. "Maaf, saya lupa. Saya akan segera menggant
Baca selengkapnya

Bab 35

Dasar pria berengsek ini, dia pasti sengaja begitu!Tangan Wenny mengepal, lalu berbalik dan pergi dengan marah.Diam-diam Yudha mengeluarkan ponselnya, lalu mengirim pesan pada Berto.Yudha: [Pak Berto, Nyonya sangat marah dan pergi begitu saja.]Griya Rosentia.Chiro sudah mulai sembuh, tetapi wajahnya masih terlihat agak pucat. Anak-anak memang paling mudah kehilangan berat badan setelah sakit. Hanya satu kali demam, pipinya yang dulu berisi kini jauh lebih tirus.Dia duduk tegak di meja makan, melihat makanan di meja sambil mengernyitkan keningnya.Selera makannya hilang, dia tidak ingin makan.Dulu, kalau dia sakit, Wenny selalu masak makanan favoritnya. Dia sudah terbiasa makan makanan yang dimasak oleh Wenny.Berto masuk, melihatnya tidak menyentuh makanannya, lalu bertanya dengan suara rendah, "Kenapa? Nggak enak?"Chiro mengerjapkan matanya yang hitam, memandangnya penuh harap. "Papa, kenapa Mama nggak ada di sini?"Chiro ingin pulang ke Griya Rosentia karena dia ingin ada Wen
Baca selengkapnya

Bab 36

Berto mengangkat pandangannya. Begitu matanya sampai ke Wenny, dia langsung terdiam.Setelah Wenny pergi dari Griya Rosentia, suasana di sini terasa sunyi. Para pelayan masih tetap ada, tatanan rumah pun tak berubah. Hanya saja, wanita itu tak lagi di sini. Tetapi, itu bukan sesuatu yang seharusnya mengganggunya, bukan?Namun, dia tetap tidak ingin kembali ke sini.Kali ini dia kembali demi Chiro. Awalnya dia berpikir dengan membawa anak itu pulang, vila ini akan terasa seperti dulu, nyaman dan hangat. Tapi ternyata tidak begitu.Saat ini, ketika Wenny akhirnya muncul, hanya duduk di sofa dan memainkan ponselnya, tiba-tiba saja vila ini terasa berbeda.Kehadiran wanita itu seperti mengusir kesunyian itu.Bibir tipis Berto terkatup rapat, matanya menelusuri Wenny dari atas ke bawah. Perasaan aneh bergejolak di dalam hatinya.Rambut panjang bergelombangnya masih sama, riasannya tetap rapi dan menawan. Alisnya terukir indah, matanya menggoda, bibir merahnya membuatnya terlihat makin memik
Baca selengkapnya

Bab 37

"Oke, satu kali makan 2 miliar."Mendengar kata-katanya, alis Berto berkerut. "Kamu mata duitan banget, ya? Chiro itu anakmu!"Wenny mengedipkan mata. "Tapi, aku nggak ingat, 'kan? Bagiku, kalian cuma orang asing, jadi kalau masak untuk orang asing, ya wajar dong harus bayar. Aku nggak mau kerja gratis."Berto begitu marah sampai pembuluh darah di dahinya terlihat. Dia ingin sekali langsung mencekik wanita itu!Dulu kenapa dia tidak pernah menyadari, kalau Wenny begitu pandai berbicara?Satu kalimatnya saja bisa bikin orang naik darah!Bibir kecil Chiro terkatup rapat, sementara matanya yang besar berkaca-kaca menahan air mata. Dia merasa asing saat melihat Wenny."Kamu bukan mamaku."Tiba-tiba dia berbicara dengan suara serak, namun matanya terus menatap Wenny.Wenny terdiam sejenak, lalu bertanya, "Kenapa? Hanya karena aku nggak mau memberikan apa yang kalian mau tanpa syarat, kalian jadi nggak senang? Sepertinya kamu juga lebih suka kalau aku nggak menjadi mamamu. Kebetulan, aku jug
Baca selengkapnya

Bab 38

"Brak!"Pintu kamar utama ditutup dengan keras, dan Wenny terlempar ke atas tempat tidur.Tempat tidurnya cukup empuk, hingga tubuhnya agak terpantul. Mata Berto terlihat dipenuhi dengan niat jahat. Wenny langsung berbalik dan mencoba merangkak pergi.Berto sangat menakutkan!Wenny merasa seperti menginjak ekor harimau!Namun, pergelangan kakinya tiba-tiba menegang dan dia ditarik ke belakang. Lalu, tubuh Berto yang besar dan berat langsung menindihnya."Kamu cari mati."Suara Berto yang dalam sama sekali tidak hangat. Namun, hawa panasnya mengembus di telinga Wenny, membuat tubuhnya agak gemetar.Dia benar-benar terperangkap di bawah tubuh Berto, tidak bisa bergerak."Berto, lepaskan aku ...."Dengan suara dingin, Berto berkata, "Kamu kehilangan ingatan dan terus-menerus menantangku. Aku nggak akan mempermasalahkannya, karena cepat atau lambat kamu akan ingat segalanya. Tapi, Wenny, kamu kok tega memperlakukan Chiro seperti itu? Dia itu anak yang kamu lahirkan sendiri. Dulu kamu sanga
Baca selengkapnya

Bab 39

Dalam pandangan yang samar, Wenny menatap pria itu dengan alis dan mata yang tajam. Sepasang mata lonjong yang diliputi hasrat kelam menatapnya tanpa sedikit pun kehangatan, sementara kata-kata yang diucapkannya terasa seperti pisau yang menusuk jantungnya.Dulu, Wenny sangat menyukai matanya.Setiap kali Wenny menatapnya, dia selalu mengira pria itu mencintainya dengan sepenuh hati.Namun sekarang, semua itu hanyalah lelucon.Wenny mengangkat tangannya dan menampar wajah pria itu!Namun, Berto dengan mudah menangkap pergelangan tangannya, lalu menekannya ke samping. Tubuhnya ikut terhuyung, dan dada seputih salju pun bergetar.Hasrat yang ada di mata Berto makin kuat. Dia membungkuk dan mendaratkan ciumannya.Pandangan Wenny agak kosong saat dia menatap langit-langit yang sudah dikenalnya. Ini kamar tidur utama mereka. Di atas ranjang ini, mereka telah menghabiskan banyak hari dan malam dalam cinta.Namun, saat ini dia hanya ingin melarikan diri."Nggak, aku nggak mau kamu ...."Dia b
Baca selengkapnya

Bab 40

Melihatnya seperti itu, Wenny justru merasa geli.Dulu, dia sudah memberikan segalanya dengan tulus, tetapi mereka sama sekali tidak menghargainya.Sekarang, ketika dia tidak memberikan apa pun, justru mereka menginginkannya?Di dunia ini, tidak ada hal yang semurah itu, 'kan?Wenny mengalihkan pandangannya dengan dingin, lalu berbalik dan pergi begitu saja.Air mata Chiro tiba-tiba jatuh. Dia mengambil dua langkah maju, "Mama ...."Dia sudah begitu menyedihkan, kenapa ibunya tetap tidak mau menghiburnya?Nenek bilang ibunya hanya pura-pura kehilangan ingatan. Jadi, apa ibunya sengaja mengabaikannya?Apa ibunya benar-benar sudah tidak menginginkannya?Chiro kecil merasa sangat sedih dan kecewa. Dia tidak melakukan kesalahan apa pun, tetapi kenapa ibunya memperlakukannya seperti ini?Wenny menahan sakit di hatinya, lalu langsung naik ke mobil dan pergi.Dia menelepon Cindy."Sayang, aku mau minum."Cindy berkata, "Ayo, ayo, di sini mungkin nggak ada yang lain, tapi stok alkohol pasti ba
Baca selengkapnya
Sebelumnya
12345
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status