Semua Bab One Night Stand With A Billionaire: Bab 61 - Bab 70

82 Bab

Bab 61. Membuntuti 

Hati Amber tidak tenang, kegelisahan merayap dalam dirinya, karena memikirkan Jessie. Dia ingin melihat sendiri teman baiknya itu. Meski Mark sudah melaporkan Jessie baik-baik saja, tapi tetap Amber ingin mengunjungi teman baiknya itu. “Aku harus menemui Jessie. Aku akan meminta izin pada Julian,” ucap Amber penuh tekad kuat. Amber merasa kondisinya sudah cukup membaik. Trauma yang dialami memang cukup membekas, tapi sudah jauh lebih baik, karena Julian juga telah memanggil psikiater untuk membantunya pulih. Psikiater membantu Amber mengenali emosinya dan memberikan teknik untuk mengelola rasa takutnya. Tentu proses ini tidak instan, tetapi dengan dukungan Julian yang selalu ada di sisinya, Amber perlahan mulai merasa lebih percaya diri dan aman. Tak menampik bahwa kejadian ini membuatnya selalu merasa tidak aman, tetapi dia meyakinkan bahwa Julian selalu ada di sisinya. Sejak kejadian di gudang tua, Julian masih mengerjakan pekerjaan di rumah. Hanya sesekali dia datang ke kantor,
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-10
Baca selengkapnya

Bab 62. Gracey yang Mulai Marah

James duduk di meja kerjanya, dikelilingi oleh tumpukan berkas dan laporan yang harus diselesaikannya. Pria paruh baya itu tampak sangat fokus, matanya menyapu layar MacBook, dengan sangat serius. Meski tak lagi muda, tapi nyatanya dia tetap fokus pada Kingston Corp. “Sayang,” panggil Gracey lembut, sambil menempatkan cangkir kopi di samping meja kerja James. “Aku buatkanmu kopi.” James mengambil kopi itu, dan menyesap perlahan. “Di mana kembar?” tanyanya pada sang istri. “Kembar masih di ruang bermain. Julian dan Amber masih memiliki urusan belum bisa menjemput kembar,” jawab Gracey memberi tahu. James mengangguk singkat. “Julian meninggalkan pekerjaan, demi menyelamatkan wanita itu. Padahal harusnya Julian berpikir, jika wanita itu memiliki masalah, maka artinya wanita itu bukan wanita baik!” Seketika raut wajah Gracey berubah mendengar apa yang dikatakan oleh James. Ya, wanita paruh baya itu sudah menceritakan pada sang suami terntang kejadian di mana Amber hampir diculik bers
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-10
Baca selengkapnya

Bab 63. Kembali Dibuntuti 

Langit kelabu menggantung rendah, seolah mencerminkan suasana hatinya. Julian menjemput anak kembarnya di rumah orang tuanya. Dia hanya sendirian tanpa kehadiran Amber. Dia tidak ingin menambah ketegangan dengan membawa Amber—yang sering kali membuat dirinya dan ayahnya berdebat. Tentu ini bukan salah Amber, tapi ini karena ayahnya yang selalu skeptis terhadap pilihan hidupnya, terutama ketika menyangkut hubungan pribadinya. Saat Julian di rumah orang tuanya, dia merasakan campuran rasa cemas dan rindu. Pria tampan itu tahu Victor dan Violet sudah menunggu, dan senyum mereka selalu bisa mencerahkan harinya, bahkan di hari yang mendung sekalipun. Tepat di kala pintu terbuka—wajah-wajah ceria anak-anaknya menyambutnya, dan seketika suasana hatinya berubah.“Daddy!” teriak Victor, berlari menghampiri Julian dan memeluknya erat. Violet mengikuti dengan senyuman lebar, tangan mungil gadis kecil itu terangkat untuk meminta pelukan juga. Sementara Julian langsung membungkuk dan memeluk anak
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-11
Baca selengkapnya

Bab 64. Jebakan Dimulai 

Julian masih terjaga di samping Amber, merasakan ketenangan yang menyelimuti mereka. Namun, suasana damai itu segera terganggu ketika ponselnya bergetar di meja samping tempat tidur. Terpaksa, pria itu meraih ponsel dan melihat nomor yang muncul di layar adalah nomor ayahnya. Julian mengembuskan napas panjang, malas menjawab telepon dari ayahnya itu. Namun, jika dia mengabaikan, maka pasti ayahnya itu akan mencari-cari masalah. Hal tersebut yang membuatnya terpaksa menjawab panggilan itu. “Ada apa, Dad?” jawab Julian, berusaha terdengar santai meskipun ada rasa cemas yang mulai menggelayuti pikirannya.“Julian, kita punya masalah besar,” suara James terdengar tegas dan penuh kekhawatiran. “Perusahaan cabang kita di Dallas mengalami kebakaran besar. Orang-orangku sedang berusaha mengendalikan situasi, tapi aku butuh kau untuk berangkat ke Dallas sekarang!” Julian tertegun sejenak, berita itu menghantamnya seperti petir di siang bolong. “Kebakaran? Bagaimana bisa terjadi, Dad? Lalu,
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-11
Baca selengkapnya

Bab 65. Kembar Menghilang 

“Amber, aku harus ke kantor dulu. Ada pekerjaan penting yang ingin aku periksa. Kembar nanti ke sekolah diantar sopir, ya?” Julian berkata seraya memakai arloji ke pergelangan tangannya. Pria tampan itu tampak terburu-buru di kala pagi menyapa. Amber melangkah mendekat, menghampiri Julian. “Tidak apa-apa, Sayang. Kau fokus saja mengurus pekerjaanmu. Kembar sudah biasa diantar sopir. Kembar kan anak-anak yang pintar.” Julian menarik dagu Amber, mencium dan melumat bibir wanita itu. “Terima kasih sudah mengertiku. Setelah masalah selesai, aku akan mengajakmu dan kembar berlibur.” Amber tersenyum, dan mengangguk merespon ucapan Julian. “Kita keluar sekarang. Kembar pasti sudah bersiap-siap ke sekolah.” Julian mengangguk, lalu dia melangkah keluar kamar—dan benar saja di depan kembar sudah sangat antusias untuk berangkat sekolah. Dua bocah itu sudah siap dengan seragam sekolah yang tampak tampan dan cantik di tubuh kembar. “Kembar, kalian diantar sopir dulu, ya? Daddy hari ini ada u
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-12
Baca selengkapnya

Bab 66. Dua Iblis Bersatu 

Julian melonggarkan dasi yang mengikat lehernya. Pria tampan itu tampak menunjukkan rasa kesal, di kala asistennya melaporkan belum ada informasi lanjutan tentang dalang di balik kebakaran perusahaannya yang di Dallas. Hal itu membuatnya menjadi beban pikiran, dan ayahnya terus menerus menyudutkannya. Julian menyambar wine di atas meja, dan menenggak wine-nya hingga tandas. Otaknya benar-benar penuh dengan masalah di perusahaan. Pun tekanan dari sang ayah—membuatnya semakin sakit kepala. Dia paling membenci masalah berlarut-larut seperti sekarang ini. “Tuan Julian!” Tiba-tiba Mark menerobos ruang kerja Julian, dan sontak membuat Julian langsung menatap dingin dirinya. “Ada apa kau belari seperti itu, Mark?” seru Julian kesal, menatap asisten pribadinya yang berlari tak jelas. Mark tampak gelisah dan panik. “Tuan, terjadi sesuatu.” Kening Julian mengerut dalam. “Terjadi sesuatu? Sesuatu apa yang kau maksud, Mark?” tanyanya menuntut asisten pribadinya itu untuk menjawab. Mark mem
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-12
Baca selengkapnya

Bab 67. Jessie Mengetahui 

Julian menatap layar ponselnya di kala rasa ragu membentang dalam diri. Rasa ragu timbul karena kebingungan harus menghubungi Amber atau tidak. Dia khawatir jika memberikan kabar pada Amber tentang kembar hilang, akan membuat Amber dilanda kecemasan hebat. Namun, jika dia tak memberi tahu pastinya Amber akan khawatir—apalagi sampai jam segini kembar masih belum pulang. “Lebih baik aku menghubungi pelayan.” Julian memutuskan menghubungi nomor pelayan di penthouse-nya. Tujuannya tentu karena dia ingin memastikan Amber sedang apa, dan dalam keadaan khawatir atau bagaimana. Hal yang pasti dia tak ingin Amber mengalami stress. “Selamat siang, Tuan Julian,” jawab sang pelayan dari seberang sana, kala panggilan terhubung. “Siang. Aku ingin tahu apa yang dilakukan Amber?” ujar Julian dengan nada dingin, dan datar. Sang pelayan terdiam sebentar. “Tuan, tadi Nona Hayes khawatir karena kembar belum pulang, dan yang saya tahu sekarang beliau menyusul ke sekolah kembar.” Raut wajah Julian ber
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-13
Baca selengkapnya

Bab 68. Dalang Utama 

Julian menatap Jessie yang baru saja tiba. Pria itu tampak menunjukkan jelas kebingungan di kala Jessie menghampirinya dengan langkah kaki yang terburu-buru. Meski belum berkata, tetapi dia merasa ada sesuatu yang tidak beres—dan raut wajah Jessie menunjukkan demikian. “Julian,” panggil Jessie panik. “Ada apa, Jessie?” tanya Julian dingin, dengan sorot mata tegas. Jessie gelisah tak menentu. “Julian, A-Amber dalam bahaya. T-tadi aku—” Julian meraih kedua bahu Jessie. “Amber dalam bahaya? Apa maksud ucapanmu, Jessie?” tanyanya mendesak wanita itu untuk menjawab. Jessie menatap Julian dengan tatapan panik. “A-aku baru saja kembali dari rumah sakit, dan di sana aku tidak sengaja mendengar percakapan dua pria asing. Aku mendengar mereka orang suruhan Mike, dan ternyata Mike berhasil menjebak Amber, dan menyandera kembar. J-Julian, lakukan sesuatu. A-aku takut hal buruk menimpa sahabatku.” Raut wajah Julian berubah mendengar apa yang dikatakan oleh Jessie. Kilat matanya menunjukkan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-13
Baca selengkapnya

Bab 69. Memisahkan Amber dan Kembar 

“Kapan kau bergerak?” tanya Clara tak sabar seraya menatap Mike yang berdiri di hadapannya. Wanita itu mendesak agar Mike segera bertindak. Sebab, dia khawatir Julian akan datang lebih dulu menyelamatkan Amber. Mike tersenyum samar melihat Clara yang tak sabar. “Tenang, Clara. Kau terlalu terburu-buru. Tiga puluh menit lagi, helikopter akan datang, dan aku akan langsung menjalankan rencanaku.” Anette duduk dengan anggun sambil tersenyum. “Aku suka dengan situasi seperti ini. Situasi di mana Amber akan hancur.” “Jangan senang dulu. Semua tetap harus menunggu sampai rencana berjalan sempurna,” ucap Clara dengan sorot mata dingin. Anette mengambil wine yang ada di atas meja, dan menyesap wine itu perlahan. “Tidak usah khawatir, aku akan pastikan semua berjalan dengan baik. Aku sudah meminta orangku untuk membantu Mike.” Clara mengangguk, menanggapi ucapan Anette. Detik selanjutnya, dia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Aura wajahnya menunjukkan jelas rasa tak s
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-15
Baca selengkapnya

Bab 70. Menyelamatkan Amber

Violet tak henti menangis dalam pelukan Victor. Gadis kecil itu tampak jelas menunjukkan kesedihannya. Pintu telah dikunci rapat, dia dan saudara kembarnya terkunci rapat di dalam sebuah ruangan gudang. Mereka sama-sama takut, tapi Victor sebagai kakak berusaha lebih berani dari Violet. “Violet, kau jangan sedih. Kita pasti akan diselamatkan Daddy,” ucap Victor berusaha menenangkan saudara kembarnya itu. Violet terisak sesenggukan. “Aku takut, Victor. Mommy sekarang dibawa pergi penjahat. Aku takut.” Victor mengurai pelukannya, dan menangkup kedua pipi saudara kembarnya itu. “Jangan takut. Aku di sini. Aku akan menjagamu dengan baik. Kita harus menunggu sampai Daddy datang. Kau percaya Daddy akan menyelamatkan kita, kan?” Violet mengangguk, dan masih terisak. Saat Victor dan Violet saling menguatkan, mereka tiba-tiba mendengar suara berisik. Tampak mereka bertatapan satu sama lain menunjukkan rasa penasaran. Violet yang menangis segera menyeka air matanya.“Victor, suara apa di
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-15
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
456789
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status