Home / Romansa / Damian&Kimberly / Chapter 61 - Chapter 70

All Chapters of Damian&Kimberly: Chapter 61 - Chapter 70

78 Chapters

Bab 61. S2. Kindness and Positivity Will Always Win the Game

“Mommy, kapan adikku muncul? Kenapa dia lama sekali?” Diego bertanya seraya menikmati soup yang disuapi oleh Kimberly. Bocah laki-laki itu tampaknya sudah tak sabar ingin bertemu dengan adiknya. “Adikmu masih sangat kecil, Sayang. Jadi, tunggu beberapa bulan lagi baru kau bisa melihat adikmu.” Kimberly mencium gemas hidung Diego. “Lama sekali, Mom.” Diego melipat tangannya di depan dada. “Aku sudah tidak sabar.” “Hm, dulu Daddy bilang kan seekor kuda saja harus butuh waktu lama untuk melahirkan. Ingat tidak?” Kimberly menggali ingatan Diego, tentang ucapan Damian yang menyamakannya seperti kuda. Sungguh, raut wajah Kimberly sempat jengkel, akibat mengingat ucapan Damian dulu. Bayangkan saja dirinya disamakan oleh kuda. Kalau saja tidak demi Diego paham, Kimberly mana mungkin akan mengatakan hal itu. “Iya, Mom. Aku ingat. Kuda butuh waktu untuk melahirkan anaknya. Tidak bisa langsung. Tapi, aku sangat tidak sabar ingin melihat adikku, Mom.” Bibir Diego tertekuk kala mengatakan itu.
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

Bab 62. S2. Romantic Dinner

Carol menatap jam dinding, waktu menunjukkan pukul tujuh malam, tapi Fargo belum juga pulang. Tadi dia tak bertanya jam berapa Fargo akan pulang. Dia pikir kalau Fargo tak akan lama menemui Brant Zeno. Namun ternyata sampai detik ini, Fargo belum juga kembali. Sungguh, ingin sekali dia menghubungi Fargo menanyakan kapan kekasihnya itu pulang, tapi dia merasa tak enak. Dia takut mengganggu Fargo. Carol menghela napas dalam. Detik selanjutnya, dia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas, menatap ke layar sebentar. Dia sedikit merasa bosan akhirnya memilih untuk menghubungi Kimberly. Selain ingin menghilangkan kebosanan, dia juga ingin menanyakan kabar teman baiknya itu. “Halo, Kim,” sapa Carol saat panggilan terhubung. “Ya, Carol. Kau di mana?” jawab Kimberly dari seberang sana. “Aku masih di hotel Kim.” “Oh, apa kau belum tahu sampai kapan kau dan Fargo tinggal di hotel?” “Belum, Kim. Aku belum tahu. Fargo belum membicarakan kapan kami check-out.” “Menurutku kalian tinggal sa
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

Bab 63. S2. Meet Gilda Olaf

Tubuh Carol bergeming menatap sosok wanita di hadapannya itu. Wanita yang sudah lama sekali tidak pernah Carol lihat. Carol tak pernah mengira kalau akan kembali melihat wanita itu lagi. Terlebih dalam kondisi dirinya dan Fargo tengah makan malam romantis. “Carol? Fargo?” Gilda menyapa Carol dan Fargo bersamaan. Raut wajah Gilda pun tampak terkejut melihat Carol dan Fargo. Ya, di hadapan Carol dan Fargo saat ini adalah Gilda bersama dengan sosok pria. Tentu Carol dan Fargo tak mengenal siapa pria itu. Pun yang Carol dan Fargo pusatkan padangan adalah pada Gilda. Fargo berdeham sebentar. Ada rasa tak menyangka akan kembali melihat Gilda. Pria itu sama sekali belum mengetahui kalau Gilda berada di Los Angeles. “Hai, lama tidak bertemu. Aku tidak tahu kalau kau sudah di Los Angeles.” Fargo membalas sapaan Gilda, mencairkan suasana. Gilda tersenyum hangat. “Hai, Fargo. Lama tidak berjumpa denganmu. Kebetulan aku memang datang ke sini, jauh lebih awal dari jadwal yang sudah aku tentuka
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

Bab 64. S2. Pure Love

Lampu penerang jalan membantu menyinari para pelaju mobil. Malam yang sunyi dan gelap. Pepohonan bergerak-gerak menandakan bahwa angin di luar cukup kencang. Bintang dan bulan yang bersinar begitu terang dan indah. Sayangnya tak seperti wajah Carol yang tampak sedikit muram. Sorot pandang Carol lurus ke depan, menyimpan jutaan hal yang telah mengusik pikirannya. Hanya saja pikirannya, tak bisa dirinya ungkapkan. Kini Fargo sedang melajukan mobilnya, menuju kembali ke hotel yang dirinya dan Carol tempati. Namun, tanpa sengaja tatapan Fargo menatap Carol yang muram. Kening pria tampan itu mengerut dalam, terlihat bingung. Dia merasa bahwa tadi Carol baik-baik saja. “Carol, apa yang kau pikirkan?” tanya Fargo seraya melirik Carol. Namun, sayangnya Carol tak menyadari kalau Fargo mengajaknya bicara. Kekasihnya itu tetap diam melamun. “Sayang, hey?” Fargo membelai pipi Carol. Refleks, Carol sedikit terkejut kala mendapatkan sentuhan di pipinya. Detik itu juga, wanita cantik itu mengalih
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

Bab 65. S2. Brant Zeno's News

Fargo tak pernah mengira kalau Carol cemburu pada Gilda. Pria tampan itu berpikir, Carol tak akan mungkin cemburu pada Gilda. Terlebih dirinya dan Gilda sudah berpisah lama. Well, tapi apa yang dia pikirkan salah. Fakta yang ada adalah Carol tetap memiliki kecemburan. Akan tetapi, dia sangat mengerti. Sebab, tidak mudah bagi Carol untuk percaya dengan mudah. Dia memiliki masa lalu yang kurang baik. Pengkhianatan yang dulu pernah dilakukan pada mantan istrinya, pasti membuat Carol cemas.“Morning.” Fargo menyapa kala Carol yang ada di pelukannya, sudah membuka mata. “Morning, Sayang.” Carol membenamkan wajahnya di dalam dekapan sang kekasih. Fargo memeluk Carol erat. Tubuhnya dan tubuh sang kekasih masih polos tak memakai sehelai benang pun. Hanya selimut tebal yang menutupi tubuhnya dan tubuh sang kekasih. Setelah pergulatan panas yang mereka lakukan tadi malam, kini mereka bangun di pagi hari dengan keintiman bak pengantin baru. “Carol,” panggil Fargo seraya membeli punggung Car
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

Bab 66. S2. A Decision

Taburan bunga beriringan dengan isak tangis pilu. Tampak semua orang di sana turut bersedih di kala peti Brant Zeno sudah di tutup. Berkali-kali istri dari Brant Zeno sampai pingsan melihat suaminya telah tiada. Cuaca siang itu menyelimuti tangis air mata kehilangan.Damian, Kimberly, Fargo, dan Carol ikut berduka atas kepergian Brant Zeno. Keluarga Damian dan Kimberly, serta keluarga Fargo dan Carol hadir di pemakaman Brant Zeno. Tentu tak ada yang menyangka kalau Brant Zeno pergi secepat ini. Apa yang telah Brant Zeno lakukan, demi agar bisa melihat Adrik kembali. Walau tindakan Brant Zeno salah, tapi hati seorang ayah yang mendorongnya melakukan tindak kelicikan. Yang Brant inginkan adalah bisa kembali melihat Adrik Zeno, tapi takdir berkata lain. Pun Adrik tak bisa menghadiri makam ayahnya, karena kondisi mental Adrik tidak baik. Kimberly menangis dalam pelukan Damian. Wanita itu tak tega melihat istri Brant Zeno yang terus berteriak-teriak. Sebagai seorang istri, Kimberly pun m
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more

Bab 67. 2. Fargo and Carol's Wedding

Hari berganti hari. Tanpa terasa pernikahan Fargo dan Carol hanya tinggal menunggu esok. Masalah telah selesai satu persatu. Fargo telah menyetujui keringanan hukuman Adrik, tapi tentuharus dengan syarat-syarat yang telah dirinya tetapkan. Pria itu tak ingin sampai kebodohannya kembali terulang. Dia telah berjanji untuk selalu menjaga Carol. Kini Carol sedang berdiri di balkon kamar hotel, menatap keindahan bulan dan bintang yang selalu memukau indah. Cahaya bulan dan bintang seakan memberikan energy ketenangan diri. Dia menikmati suasana malam, sambil menunggu Fargo kembali. Ya, kekasihnya itu ke bawah sebentar karena staff-nya datang. Sesaat, Carol menarik napas dalam-dalam dan mengembuskan perlahan. Wanita itu menikmati suasana malam yang indah. Well, tepatnya malam ini adalah malam terakhirnya berstatus single. Dia tak pernah menyangka akan berada di titik sekarang ini. Dulu, dia pernah putus asa karena tak kunjung mendapatkan sosok pria tepat, tapi ternyata buah kesabaran akan
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more

Bab 68. S2. Fargo and Carol's Wedding II 

Resepsi pernikahan Fargo dan Carol begitu megah. Dekorasi ballroom hotel itu berhiaskan lampu kristal di langit-langit—yang membuat kesan mewah dari resepsi pernikahan Fargo dan Carol. Tak hanya itu saja, mawar sebagai pemanis keindahan resepsi pernikahan megah Fargo dan Carol. Pun puluhan wartawan berada di ballroom hotel itu mengabadikan moment pernikahan nmereka. Di altar, Fargo dan Carol menyambut para tamu undangan yang memberikan selamat pada mereka. Tepat ketika para tamu undangan sudah selesai mengucapkan selamat, kini bergilir keluarga besar Darrel, Jerald, Davies, dan Hanson. Mereka semua turut bahagia atas pernikahan Fargo dan Carol. Deston, Rula, Olsen, Fidelya, Ernest, Maisie, Bobby, dan Cadey. Para orang tua tentu sangat bahagia. Hanya saja, tatapan mereka tak menampik akan tak percaya. Takdir memang selalu menjadi misteri yang tak pernah bisa dibongkar sebelum waktunya. Dulu, Fargo dijodohkan dengan Kimberly. Hubungan baik Olsen dan Ernest membuat perjodohan antara
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more

Bab 69. S2. Stupid Prediction

Saat pagi menyapa, object yang pertama kali Fargo lihat adalah Carol tertidur pulas dalam dekapannya. Tidur dengan seorang wanita, bukanlah hal baru bagi Fargo. Pria itu memiliki jejak masa lalu yang tak bagus. Akan tetapi, entah kenapa mendapati dirinya tidur dengan Carol, sangatlah berbeda. Carol adalah sosok wanita yang berhasil memorak porandakan hatinya. Hanya Carol yang mampu membuat Fargo jatuh sejatuhnya. Fargo kini membawa tangannya membelai pipi Carol. Pria itu mengecupi bibir, hidung, dan mata Carol dengan lembut. Sungguh hatinya sangat bahagia kala membuka mata sudah ada Carol berada di dalam dekapannya. Kali ini Carol tertidur dalam dekapannya, sebagai status istri, bukan lagi status kekasih. Siapa yang mengira kalau pria bajingan seperti Fargo, akan memiliki seorang istri yang bahkan memiliki sifat sangat baik. Jika mengingat masa lalu, maka Fargo merasa tidak pantas untuk Carol. Akan tetapi, rasa cinta Fargo pada Carol tak pernah bisa teratasi. Pria tampan itu ingin m
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more

Bab 70. S2.Gavin and Gilda's Wedding

The Ritz-Carlton tempat di mana yang dipilih Gavin dan Gilda melangsungkan pernikahan mereka. Gilda melangkah dengan pelan dan anggun—mamasuki ballroom hotel dengan tangan yang terus memeluk lengan Ernest. Ya, yang menemani Gilda adalah Ernest—tentu ini semua karena permintaan Ernest sendiri. Hal itu yang membuat Gilda merasakan syukur tanpa henti. Meski dia pernah jahat, tapi ternyata kesalahannya mampu dimaafkan oleh keluarga. Gilda tersenyum hagat, dan kini kilat kamera yang terus tersorot padanya. Tampak jelas dia sedikit gugup, tapi wanita itu berusaha mengatasi rasa gugupnya. Ribuan tamu undangan yang datang, menatap hangat dan kagum pada penampilannya. Di ujung sana, tepat di kursi paling depan ada Maisie yang tak henti menangis. Pun Kimberly yang duduk di belakang Maisie ikut menangis kala Gilda mulai mendekat. Bukan tangis kesedihan, melainkan tangis haru bahagia. Dari altar, Gavin begitu tampan dengan tuxedo berwarna putih menatap kagum penampilan Gilda yang sangat cantik
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more
PREV
1
...
345678
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status