Semua Bab JEJAK RINDU YANG TERLARANG: Bab 11 - Bab 20

40 Bab

Tak sengaja

"Tidak, aku tidak boleh seperti ini." tegas Luna pada dirinya sendiri. Tubuh yang merosot dia bawa untuk bangkit berdiri, menghapus jejak air mata yang membasahi kedua pipinya. Kemudian membawa langkah kembali ke depan ruang ICU dimana ibunya berada."Gimana, Lun?" tanya Bu Septi. Luna mengulas senyum."Hendri sudah tahu, Bu." sahutnya pelan."Dia tidak menyalahkan kamu 'kan, Nak?" tersirat kekhawatiran yang mendalam dalam tanya Bu Septi karena dia pun sedikit banyak sudah tahu tabiat menantunya itu."Tidak, Bu, jangan khawatir." Luna menggenggam erat telapak tangan ibunya. Dalam hati merutuki kebohongannya pada sang ibu."Andra naik apa katanya, Bu?" tanya Luna mengalihkan fokus Bu Septi padanya."Ibu belum lihat hp lagi, Lun. Cuma katanya semalam mau cari tiket kereta terakhir sudah gak dapat. Paling subuh mau berangkat dari sana tapi gak tahu naik apanya." jawab Bu Septi mengingat percakapan dengan adik Luna."Coba Luna telepon dulu," putus Luna lalu mencari kontak adiknya yang se
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-25
Baca selengkapnya

Bertemu Adrian

"Aluna?""Adrian?"Keduanya sama-sama terkejut bisa bertemu dalam ketidak sengajaan seperti ini."Kamu ngapain di sini?" tanya Adrian setelah menguasai diri dari keterkejutannya."Aku ... em, anak sama Ayahku dirawat di sini." jawab Luna terus terang. "Hah? Kok, bisa? Maksudku, kenapa?" Adrian kembali terkejut mendengarnya."Iya, mereka kecelakaan semalam." jelas Luna pelan."Oh, sorry ... semoga mereka lekas pulih, ya, Aluna. Kamu yang kuat buat mereka." hibur Adrian menepuk pelan bahu Luna. Membuat jantung Luna terasa riuh di dalam sana."Kamu sendiri ngapain di sini? Bukannya kamu sudah kembali ke Surabaya?" cecar Luna ikut penasaran."Belum ... rencananya aku balik besok lusa. Aku ada janji temu sama temanku, salah satu dokter di sini." jawab Adrian sembari memgulas senyum, tatapannya begitu teduh menusuk manik mata Luna."Em, sorry, Lun ... aku ketemu teman dulu, ya, katakan di mana ruangan anakmu, nanti aku datang ke sana kalau kamu tak keberatan." pinta Adrian yang memang suda
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-27
Baca selengkapnya

Semakin jauh

"Bukan suaminya yang lebih dulu dihubungi malah lelaki lain." sarkas Bu Yuni -mertua Luna- tatapannya sinis ke arah Adrian yang berdiri tak jauh darinya bersama Bu Septi.Adrian paham jika kalimat sarkas itu tertuju untuknya, akan tetapi dia memilih abai. "Saya pamit dulu, Bu, mari." pamit Adrian lagi pada Bu Septi kemudian melenggang pergi melewati Bu Yuni begitu saja.Tatapan sinis Bu Yuni tetap terpatri di wajahnya, Bu Septi hendak menyapa namun Aluna segera menyela."Tumben Ibu mau datang?" kata Luna tak kalah sarkas.Bu Yuni melotot tak percaya mendengar ucapan Luna."Rafi anak Hendri, cucu saya.""Oh, diakui jadi cucu sekarang? Selama ini ke mana saja?" sinis Luna."Jaga mulutmu, Luna! Kamu--""Loh, benar 'kan? Bukankah cucu Ibu cuma Arsya sama Sheril? Itu Ibu sendiri 'kan yang ngomong pas ada arisan keluarga lebaran kemarin. Lupa?"Balas Luna dengan berani, hatinya masih berkedut sakit setiap mengingat perlakuan dari mertuanya itu. Selama 7 tahun lamanya, Rafi tak dianggap cuc
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-28
Baca selengkapnya

Tekanan pekerjaan

Pagi datang terasa berat, karena hari ini Luna harus ke kantor dan itu artinya harus meninggalkan Rafi di rumah sakit hanya bersama dengan Andra. Beruntung, om dan keponakan itu bisa diajak kerja sama, sehingga meski berat, Luna tidak perlu merasa khawatir meninggalkan anaknya untuk bekerja.Sampai di kantor, tentu saja Luna lebih dulu mendapat sambutan omelan oleh atasannya sebab pekerjaan yang menumpuk dan tertunda penyelesaiannya karena Luna ijin kemarin."Luna saya minta laporan untuk PT Surya Jaya selesai pagi ini. Nanti jam sebelas siang jangan lupa ada meeting mingguan, pastikan tim kamu sudah siap dengan semua presentasinya." titah Pak Bagas tegas."Baik, Pak," sanggup Luna kemudian bergegas mengerjakan pekerjaannya setelah menginformasikan perintah atasannya kepada semua timnya.Luna menarik napas panjang, berusaha tetap tenang meski kepalanya mulai berdenyut menatap tumpukan pekerjaan di hadapannya.Pekerjaan memang tidak pernah ada habisnya di kantor, tapi hari ini rasanya
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-29
Baca selengkapnya

Masih sama

Luna men-silent ponselnya lalu memasukkan kembali ke dalam saku blazernya. Dia abaikan dulu pesan dari Ayu yang membuat dugaannya semakin menguat kalau kepergian Hendri ke luar kota memang bukan karena pekerjaan.Sepanjang meeting, Luna pusatkan pikirannya hanya pada pekerjaan. Dia tidak mau membuat kesalahan sedikit pun, termasuk ketika dia harus mempresentasikan proposal yang devisinya buat."God job, Luna." puji Pak Bagas usai dia melakukan presentasi dan menuai decak kagum dari jajaran direksi.Luna tersenyum samar, dalam dirinya bertekad untuk tidak boleh gagal dalam pekerjaan ini.Usai meeting, tak sempat lagi dia pergi ke kantin untuk makan siang karena dia sudah ditunggu timnya yang lain."Mbak Luna ini pesanannya," ucap OB devisinya yang membawakan nasi kotak yang dia pesan melalui go food."Terimakasih, Mbak Hany." balas Luna beralih fokus dari layar komputer."Bahkan makan aja kagak ada rasanya, ya, Lun." celetuk Alya yang juga sedang menikmati makan siang sambil bekerja.L
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-30
Baca selengkapnya

Pertengkaran

Sampai di rumah sakit, Luna segera menuju ruang rawat Rafi. Rasanya sudah rindu sekali meski baru beberapa jam tak bersua.Begitu membuka pintu ruang rawat, tatapannya tertuju pada keberadaan Hendri di sana. "Mama ...." seru Rafi begitu menyadari keberadaan Luna.Luna mengukir senyum, lalu melangkah mendekat ke arah ranjang Rafi."Gimana kondisi jagoan Mama hari ini?" tanya Luna usai meluk erat putranya."Kata dokter besok aku udah boleh pulang, Ma," lapor sang anak."Benarkah? Wah, anak hebat." puji Luna mengusap kepala Rafi dengan lembut.Tatapan Luna beralih ke arah Hendri yang sejak tadi tak bersuara sedikit pun."Kapan kamu datang?" tanya Luna datar."Belum lama," sahut Hendri terdengar dingin."Oh," tanggap Luna cuek."Siapa Adrian?" Luna tertegun. Pertanyaan Hendri datang begitu tiba-tiba, menusuk tanpa aba-aba. Seketika itu juga, udara di dalam ruangan terasa menegang.Hendri menegakkan tubuhnya, melipat tangan di dada. Sorot matanya tajam, penuh kecurigaan. "Aku bertanya, s
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-31
Baca selengkapnya

Semua terasa rumit

Luna menatap Rafi yang tertidur pulas dengan tatapan nanar, kata-kata yang dia ucapkan kepada Hendri kembali terngiang di telinganya.Benarkah keputusannya?Bahkan sekarang Hendri pun entah ke mana? Setelah mereka bertengkar Hendri tidak kembali lagi ke kamar Rafi.Menarik nafas berat lalu menghembuskannya dengan kasar, kemudian meraih ponsel yang masih berada dalam tasnya."Ndra, tolong ke sini, ya!" pintanya pada sang adik setelah panggilan tersambung.Luna kembali memasukkan ponsel ke dalam tas usai menghubungi Andra, tanpa berminat melihat tumpukan pesan lain yang sudah memenuhi ruang chat ponselnya."Mbak," Luna menoleh ketika pintu terbuka lalu muncul Andra di sana."Tolong temani Rafi sebentar, Mbak mau ketemu Ayah dulu." pintanya setelah Andra mendekat.Andra memgangguk sanggup, kemudian Luna beranjak menuju ruang rawat sang ayah."Gimana kondisi Ayah?" tanya Luna setelah sampai di samping brankar.Pak Pramono tersenyum, perhatian Luna bagaikan suntikan energi baru untuknya.
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-02
Baca selengkapnya

Terlalu cepat berubah

Hari berganti begitu cepat, pagi ini Rafi diperbolehkan pulang sementara Pak Pramono belum. Luna memutuskan membawa Rafi pulang ke rumahnya sendiri, meski anaknya itu sempat menolak dan ingin pulang ke rumah kakek neneknya.Sejak pertengkaran semalam, Hendri tak datang sama sekali. Bahkan tak menjemput anaknya padahal dia tahu kalau hari ini Rafi sudah boleh pulang.Luna mengajak Andra dan meminta adik lelakinya itu tetap menemani Rafi karena Luna tetap harus ke kantor sementara pengasuh Rafi masih belum datang dari kampungnya.Sampai di rumah, kondisi rumahnya sepi tetapi mobil Hendri masih ada di halaman. Itu artinya Hendri masih di rumah.Mereka turun dari mobil dengan Rafi dalam gendongan Andra. Memeluk erat leher pamannya itu dengan erat seolah ada ketakutan untuk masuk ke dalam rumahnya sendiri."Ndra, nanti kalau Mbak Jum datang kamu boleh pulang." pesannya pada sang adik saat kakinya melangkah ke teras rumah."Jam berapa dia datang, Mbak?""Katanya jam tiga udah sampai." Kedu
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-03
Baca selengkapnya

Tidak terjadi

Luna berjalan mondar-mandir di teras runah sambil terus menghubungi nomor Hendri. Perasaannya sudah kacau, saat matanya melihat petunjuk waktu di layar ponselnya.Sudah jam sembilan lewat tetapi Hendri belum ada tanda-tanda pulang membawa Rafi. Luna sudah sangat frustasi. Panik, khawatir, dan marah bercampur manjadi satu.Luna bangkit berdiri ketika sebuah mobil berhenti di depan pagar rumahnya. Berharap itu adalah Rafi. Namun harapannya kembali pupus saat yang dilihatnya adalah Mbak Jum bukan Hendri."Loh, Ibu, kok di luar?" tanya pengasuh Rafi itu sedikit terkejut saat melihat majikannya berada di luar rumah."Iya, Mbak, lagi nunggu Rafi pulang." jawab Luna tak bisa menutupi rasa khawatirnya."Loh, Den Rafi ke mana, Bu? Sama siapa?" "Sama Papanya, mungkin jalan-jalan. Mbak Jum masuk saja dulu, istirahat dulu pasti capek perjalanan jauh." Luna berusaha tersenyum meski hatinya menjerit saat ini."Iya, Bu. Maaf, ya, Bu, saya lama di kampung.""Iya, Mbak, gak apa-apa. Sudah, Mbak Jum i
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-04
Baca selengkapnya

Tawaran memperbaiki hubungan

Luna berdiri di dekat jendela, tatapannya lurus ke depan menatap Hendri yang duduk di tepi ranjang. "Luna, aku minta maaf." Luna bergeming, tak tahu harus bereaksi seperti apa atas ucapan Hendri. Perubahan Hendri yang begitu drastis membuat hatinya curiga."Aku tahu hubungan kita tidak cukup baik akhir-akhir ini, tapi aku harap kita bisa memperbaikinya dan memulai semuanya dari awal ... seperti dulu." Luna masih terpaku di tempatnya. Hendri terdengar tulus, tapi terlalu banyak luka yang telah ia ciptakan dalam rumah tangga mereka. Kata "maaf" bukan sesuatu yang cukup untuk menyembuhkan semua itu.Hendri menghela napas panjang saat melihat Luna tetap diam. "Aku tahu aku telah menyakitimu. Aku sadar selama ini aku terlalu egois."Luna berbalik, akhirnya menatap wajah suaminya. Ada rasa lelah yang tergambar jelas di sana, tapi Luna tak ingin terjebak dalam rasa iba. Sudah terlalu banyak kesempatan yang ia berikan."Kau tahu, Hendri?" suaranya lirih, nyaris seperti gumaman. "Kata maafm
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-06
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1234
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status