Mas Nadhif mengendarai mobil ugal ugalan. Mendengar ibunya pingsan, perasaan sudah gak karuan. Aku pun berdebar-debar ingin rasanya segera sampai dirumah."Mas, tenang Mas. Kalau kamu kayak gini, bukannya sampai dirumah kita malah bisa pindah alam."Mas Nadhif mengusap wajah sembari beristighfar. Mobil kembali melaju dengan kecepatan normal. "Jika Ibu kenapa-kenapa, Mas pasti akan sangat sedih." Lirihnya. "Iya, aku tahu. Tapi, kehidupan tetap berjalan, Mas. Roda terus berputar. Yang pergi dan yang datang akan silih berganti. Tidak boleh kita menyesali apa yang sudah Allah gariskan untuk kita. Kehadiran dan kepergian orang orang yang kita sayang adalah sebuah keniscayaan. Apapun itu, aku harap kamu kuat."Mas Nadhif meraih sebelah tanganku dan meremasnya kencang. Aku tau dia sedang menahan perasaan. Jangankan dia, aku yang hanya menantu ibu saja merasa khawatir. Tapi, harus tetap kuat. Prinsipku, menangis hanya akan melemahkan. Cukup keluarkan air mata tapi tidak sampai meruntuhkan k
Last Updated : 2025-03-08 Read more