Home / Rumah Tangga / Istri Pesanan CEO / Chapter 151 - Chapter 160

All Chapters of Istri Pesanan CEO: Chapter 151 - Chapter 160

191 Chapters

Kerusuhan Di Sekolah

Pagi itu saat terbangun Davva tidak menemukan Kanya berada di sebelahnya. Ya, seperti hari-hari sebelumnya Kanya bangun jauh lebih awal dari Davva lalu menyibukkan diri di ruang belakang.Meskipun sudah ada asisten rumah tangga akan tetapi bagi Kanya urusan perut dan memberi makan anak serta suami sebisa mungkin harus melibatkan tangannya. Kecuali jika ia benar-benar tidak bisa.Bangkit dari tempat tidur, hal pertama yang Davva lakukan adalah mencari keberadaan sang istri.Melangkahkan kakinya ke ruang belakang, dugaan Davva seketika menjadi nyata. Sosok mungil itu terlihat sedang sibuk di depan oven. Davva mendekat dan berdiri tepat di belakang Kanya.“Lagi bikin apa, Nya?” tanyanya pelan tapi ternyata cukup mengagetkan Kanya.Kanya terperanjat dan sontak menoleh ke belakang. “Astaga, Dav, aku pikir siapa.” Kanya memegang dadanya sebagai bentuk bahwa dirinya benar-benar terkejut oleh tindakan suaminya.Davva tersenyum. Mungkin Kanya benar-benar sedang berkonsentrasi sehingga tidak me
last updateLast Updated : 2025-01-29
Read more

Tamu Tak Diundang

Setelah penyerangan Aline pada Kanya di sekolah anak-anak, Kanya dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan pertama.Tadi Aline tidak hanya mencakar muka Kanya dan mencoba mencelakai dengan mencekik Kanya. Tapi perempuan itu juga menampar Kanya berkali-kali hingga Kanya tidak sadarkan diri.Kanya sudah mencoba melawan, tapi usahanya percuma lantaran tubuh Kanya yang begitu mungil sedangkan Aline begitu menjulang. Pertengkaran keduanya mengundang perhatian orang-orang dan sukses membuat kehebohan di tempat itu. Aline langsung diamankan saat itu juga.Raven datang tidak lama setelah pihak sekolah meneleponnya. Sedangkan hingga saat ini Davva masih belum tiba.“Aku minta maaf, Nya. Aku nggak tahu kalau Aline datang ke sini,” kata Raven sambil memandang sedih pada Kanya. Keadaan mantan istrinya itu begitu memprihatinkan. Wajah mulus Kanya penuh dengan gurat-gurat cakaran Aline. Sedangkan lehernya merah oleh bekas cekikan perempuan itu. Jika saja tadi pihak sekolah terlambat
last updateLast Updated : 2025-01-29
Read more

Mereka Jangan Sampai Tahu

“Kondisi Kanya sudah membaik. Dia sekarang sedang istirahat. Kamu mau ketemu Kanya?” tanya Davva pada Raven yang datang berkunjung pagi itu.Raven tahu akan terkesan tidak etis jika ia mengatakan iya dengan terang-terangan pada suami Kanya, sedangkan sang suami sudah mengatakan keadaan istrinya. Tadinya Raven berharap Kanyalah yang menyambutnya, bukan Davva, jadi ia bisa berjumpa langsung dengan Kanya.“Nggak usah, kalau Kanya sedang istirahat biar dia istirahat dulu. Aku hanya ingin tahu keadaannya.”“Siapa yang datang, Dav?” Kanya tiba-tiba muncul karena merasa penasaran siapa tamu yang ingin bertemu dengannya, sementara Davva masih berada di ruang tamu sejak tadi.Davva dan Raven serentak memandang ke arah Kanya. Raven melempar senyum mengandung kerinduan yang dibalas Kanya dengan anggukan kepala dan lengkungan bibir sekenanya.“Nya, Raven datang karena ingin tahu keadaan kamu.” Davva mewakili Raven bicara.Kanya mengangguk pelan tanpa sepatah kata mampu terlontar dari bibirnya. En
last updateLast Updated : 2025-01-30
Read more

Dan Mereka Pun Bercerai

Ini adalah hari ketiga Davva dirawat di rumah sakit. Selama itu pula Raven menawarkan bantuan mengantar jemput Monica ke sekolah karena Kanya harus menemani Davva. Para pegawai Davva bergantian mengunjungi Davva. Namun yang paling rajin dan berulang-ulang adalah Kiki, sekretarisnya. Bahkan tadi Kiki menawarkan diri untuk menyuapi Davva makan yang segera ditolak oleh lelaki itu. Davva hanya mau dilayani oleh istrinya, bukan wanita lain. Lagi pula Davva masih bisa suap sendiri.“Kata dokter, Pak Davva kapan boleh pulang, Bu?” tanya Kiki saat Kanya sedang bersiap-siap membereskan barang-barang Davva.“Katanya sih sore ini sudah boleh pulang.”Kanya bersyukur akhirnya ada pendonor yang sesuai dengan Davva. Saat Kanya bertanya pihak rumah sakit tidak bersedia memberitahunya dengan alibi bahwa identitas pendonor tersebut adalah rahasia yang tidak boleh diketahui pasien maupun keluarganya. Andai saja Kanya tahu ia ingin berterima kasih dan memberi sesuatu.“Bapak sih kerjanya terlalu difors
last updateLast Updated : 2025-01-30
Read more

Peristiwa Yang Menimpa Ray

“Kamu jangan main-main dengan ucapanmu, Rav! Cerai itu bukan mainan!” jerit Aline tidak hilang akal. Ia harus bisa membuat Raven mengurungkan niatnya setidaknya sampai warisan Ray cair.“Aku nggak pernah main-main dengan ucapanku, Lin. Sekarang kemasi barang-barang kamu, pergi dari sini!” usir Raven dengan intonasi suara yang tidak berubah.Aline beku di tempat. Raven tidak tergoyahkan dan tampak begitu marah. Aline memutar otak dalam waktu singkat agar Raven mengubah keputusannya. Belum sempat Aline menemukan ide Raven kembali lagi menghardiknya.“Aku bilang ke luar! Pergi dari sini! Apa kamu nggak dengar juga? Atau otakmu bebal sampai nggak ngerti apa maksudku? Itu pintu keluarnya kalau kamu nggak tau!” Raven arahkan telunjuknya ke arah pintu agar Aline angkat kaki.“Rav, kamu jangan emosi dulu. Semua ini bisa kita bicarakan baik-baik,” ujar Aline mencoba lagi peruntungannya.Raven menggeleng tegas. Dibukanya lemari baju lalu mengambil pakaian Aline dari sana dan melempar ke muka p
last updateLast Updated : 2025-01-30
Read more

Ada Yang Belum Selesai

Semua terjadi begitu saja. Setelah Kanya menemukan Ray tergolek di jalan, mereka membawa anak itu ke rumah sakit. Menurut dugaan sementara Ray menjadi korban tabrak lari. Dan sayangnya tidak seorang pun menyaksikan peristiwa naas tersebut. Terkutuklah pelakunya yang tidak berperasaan dan tidak bertanggung jawab. Apalagi yang menjadi korban adalah anak yang masih kecil.Kanya tidak dapat membendung air matanya melihat kedaan Ray saat ini. Anak itu mendapat jahitan di mana-mana. Hingga beberapa jam kemudian Ray masih belum sadarkan diri."Pulanglah, Nya, biar aku yang menjaga Ray di sini," kata Raven yang pikirannya sama kalutnya dengan Kanya.Kanya jawab perkataan Raven tersebut dengan gelengan kepala. Bagaimana mungkin ia bisa pulang sedangkan putranya saat ini berada dalam keadaan kritis. "Izinin aku menjaga Ray di sini, Rav," pinta Kanya penuh harap. Kanya jamin dirinya tidak akan bisa tenang sebelum Ray sadarkan diri."Aku bisa sendiri, Nya. Monic gimana kalau kamu di sini?" "A
last updateLast Updated : 2025-01-31
Read more

Apa Sebaiknya Pergi Saja?

Kanya mengusap muka, mengeringkan sisa-sisa air matanya akibat menangis tadi.Ia baru saja selesai menelepon Davva mengadukan kerisauan hatinya. Lantas jawaban Davva adalah,“Malam ini sebaiknya kamu tetap di sana dulu ya. Semua kata-kata Ray jangan kamu ambil hati. Namanya juga anak-anak, nggak tahu apa-apa.”Kanya menghela nafasnya. Ia mematuhi kata-kata Davva untuk tetap berada di rumah sakit. Ia melamun sendiri.“Nya, dingin di sini, masuk ke dalam yuk.” Raven muncul dari ruang rawat lalu memanggil Kanya agar beranjak.Kanya menolehkan kepala lantas menengadah menatap Raven. Laki-laki itu terkejut melihat jejak-jejak panjang air mata di pipi Kanya. Ternyata Kanya menangis.“Aku di sini dulu, Rav.” Kanya menolak untuk masuk. Ia tidak ingin mendapat pengusiran lagi yang membuat perasaannya yang sedang sensitif bertambah sedih.Raven ikut duduk menempatkan diri di sebelah Kanya. Mereka sama-sama menyatukan mata dalam gelapnya kabut malam.“Ray udah tidur. Tadi manggil-manggil mamanya
last updateLast Updated : 2025-01-31
Read more

Pengakuan Kanya Yang Paling Dalam

Kanya dan Raven sama-sama terkejut mengetahui ada Davva di dekat mereka. Entah sudah berapa lama lelaki itu berada di sana.“Dav, kamu kok di sini? Aku baru aja mau pulang.” Itu satu-satunya kalimat yang berhasil terlontar dari bibir Kanya.“Hp kamu nggak aktif makanya aku ke sini. Aku pikir kamu butuh sesuatu.” Davva menjelaskan alasannya.“Hpku low bat dari kemarin terus mati.”Davva mengangguk pelan. Ia mencoba untuk memahami alasan Kanya. Kemudian Davva memindahkan pandangannya pada Raven. Lalu disapanya lelaki itu.“Gimana keadaan Ray, Rav?”“Udah sedikit membaik walau masih suka teriak-teriak. Tapi untung ada Kanya. Makasih ya udah ngizinin Kanya di sini.” Davva melengkungkan bibirnya yang begitu berat untuk tersenyum. “Aku bawa Kanya pulang dulu.”Raven mengangguk mengizinkan walaupun merasa berat di dalam hatinya.Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, Davva membungkam mulut. Ia tidak mengajak Kanya berbicara agak sepotong kata pun. Sikap Davva tersebut menumbuhkan tanda tanya
last updateLast Updated : 2025-01-31
Read more

Saat-Saat Terakhir?

“Nya, udah, Nya. Air mata nggak akan menyelesaikan apa-apa.” Dita menarik selembar tisu dari kotak di meja lalu memberikannya pada Kanya.Menerimanya, Kanya mengeringkan air mata. Rasanya lega. Dadanya yang sesak sedikit lebih lapang setelah mengungkapkan perasaannya yang paling dalam.“Sekarang begini. Kalau pun Raven masih mencintai kamu, kamu mau apa? Mau meninggalkan Davva?” kata Dita melanjutkan perbincangan yang belum selesai.“Walaupun seandainya aku dan Raven masih saling mencintai tapi aku nggak mungkin meninggalkan Davva. Aku nggak mau menyakiti dia. Mungkin memang pada dasarnya aku dan Raven nggak berjodoh, tapi perasaan aku tetap nggak akan berubah,” jawab Kanya lirih.Davva menarik langkah dari beranda dengan begitu perlahan. Ia meninggalkan pilar tempatnya bersembunyi sejak tadi sambil mendengar percakapan Kanya dan sahabatnya. Ia membawa pergi pengakuan Kanya.Davva mengurungkan niatnya untuk mengambil vitamin seperti rencana semula. Persetan dengan vitamin itu. Apa yan
last updateLast Updated : 2025-02-01
Read more

Yang Terbaik Untuk Kita

Kanya lebih dulu membuka pintu lalu memasuki kamar pribadi mereka, diikuti Davva di belakangnya. Kanya tidak tahu apa yang akan dibicarakan Davva. Tapi melihat seriusnya raut sang suami, secara tidak langsung memberitahu pada Kanya bahwa apa yang akan disampaikan Davva merupakan sesuatu yang penting.Davva menempatkan diri duduk di sebelah Kanya. Namun ia tidak langsung berbicara. Davva terpekur sekian lama. Ia juga tidak tahu harus memulai dari mana. Terlalu banyak yang ingin diungkapkannya.“Dav …” Kanya menyentuh lengan Davva agar suaminya itu lekas menyampaikan maksudnya. “Katanya tadi ada yang mau dibicarakan. Ada apa, Dav?”Davva mengangkat wajah, memindahkan mata pada Kanya yang berada di sebelahnya. Wajah Kanya begitu polos tanpa riasan apa-apa. Tidak ada polesan bedak di pipi atau pun pewarna di bibirnya. Namun kecantikan naturalnya itulah yang sejak awal membuat Davva terpikat.Davva tidak tahu entah berapa lama lagi waktu yang dimilikinya untuk sekadar memandangi paras Kan
last updateLast Updated : 2025-02-01
Read more
PREV
1
...
1415161718
...
20
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status