Semua Bab Belenggu Hasrat CEO : Bab 61 - Bab 70

80 Bab

61. Balasan Kesetiaan

Sonu dan satu lelaki menghindar dengan mundur ke belakang saat melihat satu temannya tumbang. Malam gelap tanpa cahaya semakin mencekam dengan angin yang bertiup bak malaikat maut yang siap menjemput pulang.Sonu berdiri dengan goyah, nyalinya mulai ciut, tapi orang bayarannya masih setia ingin menyelesaikan tugasnya menghabisi Hanan dan Maher."Matilah kalian!" teriak lelaki itu menyerang Maher dengan menggunakan senjata tajam.Maher pun bergeser lalu menendang tangan lelaki itu hingga senjatanya terjatuh. Namun, lelaki itu mengeluarkan pisau dari balik sepatunya dan menyabetkan ke arah perut Maher hingga dia mundur dengan satu kaki terangkat dan tangan terentang ke depan lalu tangan kanan mengayun indah melepaskan satu senjata yang tersimpan di bawah siku hingga menusuk perut lelaki itu."Aakhh!" teriaknya merasakan sesuatu mengalir dari balik bajunya.Hanan dan Maher saling menatap lalu mendekati Sonu dengan wajah dingin."Aku tetap tidak akan meminta maaf! Kamu menyebabkan aku dip
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-06
Baca selengkapnya

62. Yang Sopan Kalau Bicara!

"Aku salah dan aku khilaf saat itu." Gio menatap dengan menggeleng. "Aku sedang hamil Aryan saat itu," jelas Malini mengusap air matanya. Gio maju dan langsung memeluk perempuan yang selalu setia selama ini padanya. Mengerjakan kewajibannya meski dia sendiri sibuk sebagai dosen. Malini tidak pernah mempercayai pelayan untuk mengurus suaminya. Demi bakti sebagai seorang istri, Malini begitu menghormati suaminya. Aryan yang berdiri di balik tirai begitu terpukul mendengar kenyataan itu. Sedari kemarin dia menahan diri agar tidak bertanya lebih lanjut karena takut membuat ibunya sedih. Namun, kenyataannya Malini sudah tahu semua kebenaran itu. Aryan mundur dan duduk di atas ranjang dengan memegang jantungnya. Dua perempuan yang sangat dicintainya terluka oleh satu orang lelaki yang selalu dihormatinya. Aryan benar-benar kecewa yang sangat dalam untuk pertama kali dalam hidupnya. "Hafsah ... Mama!" bisik Aryan merebahkan diri diatas ranjang lalu menutup seluruh tubuhnya dengan seli
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-07
Baca selengkapnya

63. Fokus, Maher!

"Sudah, Hanan!" ujar Halimah tersenyum dan mengusap lengan Maher."Dia yang mulai, Oma!" adu Maher memasang wajah memelas.Hanan berdecih, "sekarang dia merayu Oma!""Istirahatlah, Maher, Hanan! Kalian pasti lelah dan masih banyak yang akan dikerjakan hari ini kan?" Halimah tersenyum menatap kedua lelaki seumuran itu."Aku akan kembali ke apartemenku. Pagi aku akan ke sini lagi. Please!" "Iya, sarapan di sini, ya. Hafsah akan memasak untukmu," jelas Halimah dan Hafsah menatap neneknya."Gak usah, Oma. Pesan aja nanti. Aku gak mau Hafsah masuk dapur. Kasihan dia harus bangun pagi hanya untuk hal yang tidak penting," jawab Maher tersenyum menatap pujaannya.Maher melangkah mendekati Hafsah dan Hanan langsung menghalangi dengan merentangkan tangan."Aku pulang, Beb!" ucap Maher menyikut perut Hanan yang langsung menangkisnya.Hafsah tertawa begitupun Halimah. Mereka pulang dengan kembali ke setelan awal. Padahal baru saja berkelahi dan saling melindungi dari serangan musuh. Tidak ada ya
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-08
Baca selengkapnya

64. Tentang Lavina

"Aku selalu fokus dengan urusan dan perkataanku. Tapi kamu mengacaukannya!" balas Maher kesal dan langsung mematikan telepon.Seketika tawa Hanan meledak melihat layar ponsel Hafsah langsung redup. Dia duduk di sisi adiknya sambil menatap dan terus tertawa. Padahal dia hanya iseng saja dan merasa senang mengerjai Maher, tapi lelaki itu langsung menanggapinya dengan serius."Hanan, jangan terus mengerjai Maher. Belajarlah untuk menghormati dia dan merelakan Hafsah menikah dengannya. Dia lelaki yang baik. Oma tahu kecemasan kamu," ujar Halimah menatap cucu lelakinya.Hanan menarik napas lalu menatap Hafsah. Gadis itu pun menatap kakaknya dengan lembut dan tersenyum. Lelaki itu menarik tangan Hafsah, memeluknya erat. Hanan memejamkan mata dengan berdoa agar dia bahagia di pernikahannya."Aku sangat menyayangimu, Hafsah. Maaf sejak kecil tidak bisa membelamu. Maafkan aku," bisik Hanan penuh penyesalan.Hafsah mengangguk sambil mengusap punggung kakaknya."Aku tidak pernah menyalahkan, A
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-09
Baca selengkapnya

65. Harga Diri Seorang Ayah

"Lavina?" Maher menatap tajam seolah dia sangat membenci bahasan itu."Iya," jawab Lukman tetap menatap lawan bicaranya."Jangan seperti perempuan, Pak. Aku rasa pernikahanku tidak ada maslahah dengan Lavina. Datanglah esok jika anda sudah menerima undangan pernikahanku," ujar Maher."Lavina sangat mencintaimu, Maher. Dia rela menceraikan suaminya hanya demi kamu!" ungkap Lukman.Maher menarik napas panjang dan dalam. Keheningan menyergap ruangan full AC itu. Sementara Lukman tetap berdiri menunggu jawaban dari Maher yang seolah tak punya jawaban dari pertanyaannya. Lelaki itu menatap penuh harap bahwa jawaban Maher sesuai keinginannya."Saya sudah jelaskan pada putri, Anda. Saya harap Anda paham dan Saya tak harus mengulanginya. Keputusan saya tepat dan bulat tak bisa diganggu gugat. Saya dan Lavina teman dari masa SMA sampai kuliah. Tidak ada cinta antara kami. Hanya teman! Jelaskan padanya bahwa saya akan menikah dengan gadis pilihan yang sangat saya cintai." Maher menatap sekilas
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-10
Baca selengkapnya

66. Omong Kosong

"Aku menuruti keinginannya karena ini wajar. Dia mencintaimu dan pantas bersanding denganmu, Maher! Lavina dan kamu telah lama seling kenal maka sudah seharusnya kalian menikah!" jelas Lukman menatap Maher dan Hanan hanya menyimak saja."Panggil satpam!" titahnya pada Reo yang langsung bergerak."Jangan sampai sisiku yang lain bangkit karena kecerobohanmu, Lukman. Pergilah!" bisik Maher dengan tatapan seperti kilat membuat Lukman terpaksa mundur dan memilih pergi."Siapa dia?" tanya Hanan menatap kepergian Lukman yang disambut oleh dua satpam di pintu ruangan Maher."Papa Lavina!" jawab Maher menuju mejanya.Hanan menarik bibir ke samping sambil mengangkat kedua bahunya. Dia tahu ada sisi lain dalam diri Maher yang selalu dia redam saat emosi. Hanan pun tak berkata lagi selain duduk di hadapan Maher. "Apa kita bisa bicara sekarang?" tanya Hanan duduk lebih tegap lagi.Maher mengangguk."Maher, aku ingin berbicara denganmu tentang sesuatu yang sangat penting," kata Hanan dengan suara
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-11
Baca selengkapnya

67. Perdebatan Aryan

Mobil terus melaju menuju sebuah salon milik temannya Maher. Dia fokus ke layar ponselnya menanyai Hafsah yang sedang perawatan di rumah. Sementara Hanan asik berkirim pesan dengan teman wanitanya. Aku pikir dia tidak normal! Ternyata dia kelewat normal.Maher melirik Hanan sesekali sambil menatap foto Hafsah. Setelah itu mobil berhenti dan Adnan membukakan pintu untuk keduanya. Hanan menatap bangunan dengan tatapan biasa. Dia penasaran salon seperti apa yang dipilih oleh calon adik iparnya.Maher mendorong pintu dan langsung disambut oleh lelaki dengan syal di lehernya. Tangannya terangkat lembut dengan sorot mata manja menatap kedatangan Maher."Akhirnya yey datang juga kemari! Aaa senengnya eyke!" teriaknya merentangkan tangan menyambut Maher."Bersikap normal, Aldi!" titah Maher menatap tajam, "atau kututup salonmu!""Ih garang pisan kamu mah!" balasnya berusaha menormalkan sikapnya."Aku ingin segala macam perawatan yang ada di sini, aku mau nikah! Besok!" jelas Maher membuat
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-12
Baca selengkapnya

68. Pencarian Aryan.

"Gio!" teriak Malini dengan suara bergetar dan langsung berdiri di hadapan Aryan.Gio tercekat menatap Malini yang untuk pertama kali menyebut namanya selama pernikahan. Malini menatap dengan mata memerah dan langsung mendorong Gio dengan kedua tangannya."Jangan paksa aku keluar dari diriku sendiri! Aku cukup sabar telah kamu khianati dan bohongi selama bertahun-tahun!" katanya mengacungkan jari telunjuk ke wajah Gio."Malini?" ujar Gio terkejut dengan sikap Malini yang tiba-tiba berubah jauh dari biasanya."Jangan pernah mengangkat tanganmu yang ternoda itu pada anakku. Dia anakku yang aku lahirkan penuh perjuangan. Aku hamil suamiku selingkuh. Aku mabuk, gak mau makan, diinfus di rumah sakit tapi suamiku malah bercinta dengan perempuan lain! Itu sangat menyakitkan!" ungkap Malini dengan air mata yang membanjiri pipinya."Hentikan, Malini! Lupakan kejadian yang sudah berlalu, aku bahkan sudah tidak ingat lagi tapi kamu selalu mengungkitnya. Tidak bisakah kamu memaafkan aku?" tanyany
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-13
Baca selengkapnya

69. Serangan Pacar Maher

"Aku sering memantau nomor Bu Hafsah. Diwaktu tertentu nomornya aktif meski tidak lama. Di cari aja gimana, Pak," ujar Widya yang mengikuti Aryan memasuki ruangan Hafsah."Itu terlalu lama, Wid. Aku butuh kepastian yang cepat. Hafsah harus kutemukan secepatnya!" jelas Aryan mengusap wajahnya."Semoga cepat bertemu dengan Bu Hafsah. Kasihan karyawan kalau dipecat mereka bakal kerja di mana." Widya menatap sedih.Aryan mengangguk lalu keluar dari butik Hafsah. Tujuannya adalah temannya seorang tim siber di kepolisian. Aryan menuju ke sana dan ingin memastikan sendiri meski tubuhnya terasa lemah dan kehilangan tenaga.Di Jakarta, Maher dan Hanan selesai melakukan perawatan yang membuat keduanya tampak lebih segar dan santai. Hafsah pun telah selesai dan tengah bersiap pergi ke hotel tempat diadakannya pesta pernikahannya. Vass yang akan mengantarnya."Apartemen akan kosong. Oma gak papa kan kita di hotel?" tanya Hafsah melangkah menuju basement dengan membimbing Halimah."Gak papa, ada
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-14
Baca selengkapnya

70. ketakutan Hafsah

Hanan menatap Maher yang bersandar di bangku mobil pakai kaca mata dan memejamkan matanya, tangannya terlipat di dada. Reflek Hanan menarik kerah baju Maher hingga lelaki itu terkejut."Ada apa? Hah!" Maher melepaskan cekraman Hanan yang begitu kuat."Pacarmu menyerang adikku!""Boss, Nona tidak apa-apa hanya shock berat! Nona kayak manekin, gak gerak, gak ngomong!" jelas Vass terus melaju menuju hotel."Hafsah!" teriak dua lelaki itu serentak."Bawa ke hotel!" titah Hanan tetap menatap Maher penuh emosi."Iya, Boss! Saya sedang diperjalanan menuju hotel!" jelas Vass melirik Hafsah melalui kaca depan "Gas, Adnan!" titah Hanan menatap tajam."Kalau sampai sesuatu terjadi pada Hafsah aku akan menghancurkan gadis itu dan dirimu!" ancam Hanan penuh emosi."Aku gak punya pacar!" protes Maher cemas. Cemas akan keadaan Hafsah. Maghrib tiba dengan seruan terindah memanggil umat manusia untuk ingat kepada kewajiban bahwa dunia bukanlah segalanya. Ayat demi ayat dilantunkan muadzin dengan ind
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-15
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
345678
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status