Home / Romansa / Tawanan Hasrat sang Penguasa / Chapter 91 - Chapter 100

All Chapters of Tawanan Hasrat sang Penguasa: Chapter 91 - Chapter 100

224 Chapters

91. Gelap dan Terang

Sementara itu, Poppy tak sadar jika seorang pria yang hanya mengenakan handuk di pinggangnya sedang mengamati dirinya dari belakang. Robin awalnya akan menegur Poppy yang berani membangkang perintahnya. Namun, Robin malah membeku di tempat ketika mendengar isakan lirih dan tertahan Poppy. “Apa yang terjadi? Apakah dia teringat pengkhianatan ibu tirinya? Atau mungkin menangisi orang itu?” gumamnya.Bayangan menyesakkan tiba-tiba muncul dalam benak Robin, seolah-olah Poppy sedang mengatakan, ‘Jangan sakiti Tuan Jerome. Jangan bunuh dia, Tuan. Mengapa kau menyakiti orang yang kuinginkan?’Poppy mungkin sedang bersedih untuk Jerome, pria yang membuat istrinya jatuh cinta pada pandangan pertama. Poppy sampai menyebut namanya berulang kali dalam perjalanan, sudah jelas jika Poppy jatuh cinta pada Jerome, pikir Robin.“Sialan,” geram Robin, mencoba menyingkirkan imajinasi mengerikan itu. “Aku tidak seharusnya terlalu dekat dengan perempuan itu. Dia benar-benar merusak pikiranku. Otakku akan
last updateLast Updated : 2025-01-15
Read more

92. Pria yang Tidak Membutuhkan Cinta

Robin merasakan kenikmatan yang membuat otaknya berhenti bekerja. Dia mengayunkan pinggulnya dengan pelan untuk menikmati setiap cengkeraman dan gesekan yang menghanyutkan.Melihat mata Poppy basah, yang dipikirnya karena kenikmatan yang diberikan olehnya, Robin menyembunyikan wajahnya di samping kepala Poppy. Matanya terpejam dan mulutnya sedikit terbuka, dengan keras berusaha agar tak mengerang nikmat.Namun, kesenangan dan kenikmatan yang dirasakan Robin itu, mendadak berhenti ketika Poppy menanyakan sesuatu yang langsung mengacaukan segalanya.“Apa katamu?”“T-tidak, Tuan.” Poppy pun terkejut oleh pertanyaan yang seharusnya hanya disimpan dalam hati.Robin berhenti bergerak, namun tak melepas penyatuan mereka. Dia menatap Poppy setelah berhasil mengatur ekspresi datar.“Gadis-gadis mana yang sedang kau bicarakan?”“Lupakan saja, Tuan. Saya hanya salah bicara.” Poppy memalingkan wajahnya, masih belum terbiasa ditatap Robin terlalu lama.Namun, Robin segera menyentak pelan dagu Popp
last updateLast Updated : 2025-01-16
Read more

93. Pelan dan Kejam

Robin melepaskan penyatuan tubuh mereka. Dia berputar ke samping Poppy selagi menghela napas panjang. Dadanya yang berkeringat masih naik turun dengan cepat, semakin terlihat ketika dia berbaring terlentang. Mereka berbaring lurus seperti dua kapur sejajar. Tak ada yang mengatakan apa pun. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing sambil menatap langit-langit kamar. Hingga suara lirih Poppy memecah keheningan, “Mengapa Anda mengatakan itu?” Poppy sudah mengulang pertanyaan yang sama dalam benaknya yang terasa kalut. Dia sungguh tak bisa membendung rasa ingin tahunya, apakah Robin sungguh tak mengizinkannya memiliki perasaan padanya? “Supaya kau ingat perjanjian kita. Kau tidak boleh memiliki perasaan padaku.” Poppy tak menyangka penilaian Robin sungguh tajam. Walaupun bicara pelan, kata-kata Robin terdengar begitu kejam. Poppy berpaling ke arah Robin, bersamaan dengan Robin yang melakukan hal sama. Kali ini, Poppy tak menghindari tatapan Robin, kemudian tersenyum untuk menyembun
last updateLast Updated : 2025-01-16
Read more

94. Bak Malaikat Penyelamat

Robin Luciano menatap gagang pintu yang dipegangnya. Dia sudah sampai di depan kamar Poppy, sangat ingin bercinta dengannya. Akan tetapi, kejadian malam kemarin di apartemennya kembali membuatnya muak.Dia lantas ke lantai tiga untuk kembali ke kamarnya. Kemudian melemparkan tubuhnya ke atas ranjang, menutup kening dengan lengannya.Robin berkedip-kedip dengan pikiran rumit. Hingga tanpa disadari, matahari mulai terbit.“Malaikat katanya? Cih!” Robin tersenyum sinis, entah ditunjukkan pada siapa karena tidak ada seorang pun di sisinya.***Antonio Russo sedang gelisah menunggu antrean di depan ruangan dokter. Dia sebenarnya bisa langsung membuat janji dengan dokter Capri, namun tak dapat melakukannya karena tak ingin ketahuan Robin.“Saya ingin berkonsultasi dengan dokter, Tuan. Semalam saya menggigil dan kelihatannya akan sakit,” ujar Antonio beberapa saat lalu, meminta izin kepada Robin untuk meninggalkan pekerjaannya.Baru kali ini dia berbohong kepada Robin. Dia sangat gelisah mes
last updateLast Updated : 2025-01-16
Read more

95. Perhatian Istri

“Begitu ceritanya, Tuan Capri. Saya tidak tahu mengapa Tuan Robin jadi sering marah pada semua orang yang memujinya, padahal Anda tahu sendiri jika Tuan Robin orang yang cukup tenang setiap kali menghadapi apa pun, juga tidak pernah menolak pujian meski tidak terlalu menyukainya,” ungkap Antonio.“Mungkin orang-orang itu sudah membuat Robin marah.”“Tidak, dan hanya itu. Terkadang, Tuan Robin sedikit tersenyum sambil melamun, dan itu sungguh mengerikan.”Capri tampak berpikir keras. Dia mengetuk-ngetuk pena di atas map selagi memikirkan beberapa kemungkinan yang mendasari perubahan Robin.Robin memang tidak biasa tersenyum, apalagi sambil melamun. Pasti ada hal besar yang menimpa hidupnya.“Saya takut jika perubahan Tuan Robin akan berakibat buruk pada rencana kita,” imbuh Antonio, akhirnya berhasil mengungkap semua kegelisahannya.“Apa sebelumnya Tuan Robin bertemu dengan … seseorang dari masa lalunya?”Antonio mengingat sejenak. Dia selalu bersama Robin sepanjang hari. Seluruh waktun
last updateLast Updated : 2025-01-17
Read more

96. Acara Rahasia

“Bersihkan lantai ini dengan benar!” bentak Robin.Antonio yang melihat kejadian itu semakin resah. Perilaku Robin menjadi lebih aneh dan berbeda. Robin memang terlihat galak bagi sebagian orang, namun di mata Antonio, Robin adalah pria baik hati yang berjasa besar di hidupnya. Robin tak pernah marah tanpa alasan yang jelas, seperti yang baru saja disaksikan Antonio.“Maaf, Tuan. Saya akan segera mengepel ulang,” balas si pelayan, diabaikan Robin yang terus berjalan.“Antonio, istirahatlah. Kau sedang sakit, bukan?” titah Robin ketika Antonio berhasil menyusulnya.Antonio sangat menghargai perhatian Robin. Akan tetapi, mengapa Robin bicara dengan nada sinis seakan sedang menyindir dirinya?‘Apakah Tuan Robin tahu jika aku telah menipunya?’ batin Antonio cemas.“Baik, Tuan.”Antonio tak tahu jika Robin sinis padanya hanya karena iri. Poppy bahkan tak pernah mencemaskan dirinya, justru selalu takut padanya.***Pada saat makan malam tiba, Robin Luciano sudah duduk tenang di ruang makan,
last updateLast Updated : 2025-01-17
Read more

97. Pesta Tanpa Robin

“Antonio Russo … beraninya kau mengkhianatiku …,” geram Robin. Dia mengepalkan tangan dengan sepenuh kekuatannya sampai membuat badannya sedikit gemetar.Manik amber Robin berkilat penuh amarah. Tatapannya lurus ke arah luar pintu kaca yang tertutup.Antonio, orang kepercayaan nomor satu Robin Luciano, mengatakan bahwa dirinya sedang sakit. Namun, dia malah marayu Poppy selagi duduk mesra di satu bangku yang sama. Bahkan, Antonio terlihat sedang tersenyum pada istri Robin!“Dia tidak pernah tertawa waktu menonton film komedi,” gumam Robin.Robin membuka pintu dengan tegas. Dia kemudian melangkah mendekati kedua orang yang sedang berselingkuh dan akan memergoki mereka. Akan tetapi, mendadak langkahnya terhenti.Dia berkedip singkat ketika mendengar suara orang-orang lain bicara. Rupanya, Poppy dan Antonio tidak hanya berdua. Ada Donna yang duduk di antara mereka.Lucia dan empat pengawal duduk di bangku yang berhadapan-hadapan di antara meja kayu panjang. Mere
last updateLast Updated : 2025-01-18
Read more

98. Harus Bicara dengan Robin

Poppy duduk di ruang tamu lantai dua yang berlokasi di depan kamarnya, menantikan kedatangan Capri yang sudah membuat janji dengannya. Manik hitamnya menatap ke arah luar jendela pada langit sore yang cerah, menunjukkan matahari akan tenggelam.‘Semalam sangat menyenangkan. Ini pertama kalinya aku berpesta dengan orang lain,’ batin Poppy, bersemangat memikirkan acara yang akan disiapkan Donna selanjutnya.Suara langkah kaki mengalihkan perhatian Poppy ke arah pintu. Capri muncul tak lama kemudian. Dokter itu menyapa Poppy dengan senyuman khas. Poppy lantas berdiri untuk menyambutnya.“Anda terlihat lebih baik dari sebelumnya, Nyonya,” tutur Capri sopan. Meski tahu latar belakang Poppy yang hanya dibeli Robin, Capri tak pernah meremehkannya.“Ya. Akhir-akhir ini saya banyak istirahat dan bersenang-senang.” Poppy ingin sedikit pamer dengan pengalaman barunya.Poppy mengira jika Capri sedang membicarakan masalah kesehatannya yang lalu, ketika dia jatuh pingsan. Namun, Capri sebenarnya s
last updateLast Updated : 2025-01-18
Read more

99. Telepon Mengganggu

Poppy mendadak ragu. Dia ingin punya banyak teman, tetapi enggan bicara dengan Robin terlebih dulu atau mengganggu kesibukan suaminya itu. “Anda sepertinya tidak senang,” ujar Capri membuyarkan lamunan Poppy. “Bukan begitu, Tuan, tetapi Anda bisa langsung mengajak putri Anda ke sini.” Robin tak melarang Poppy berteman dengan siapa pun. Asalkan Poppy tak dekat dengan pria lain yang akan merusak reputasinya. “Tidak bisa, Nyonya. Saya pernah mendengar dari Tuan Antonio jika Tuan Robin sekarang tidak mengizinkan orang datang ke sini tanpa izin darinya secara langsung.” ‘Mungkinkah karena ada aku? Tuan Robin pasti takut jika orang-orang luar tak sengaja mengetahui identitasku yang sebenarnya,’ tebak Poppy dalam hati. “Saya tidak akan memaksa jika memang Anda keberatan berteman dengan putri saya.” Meskipun diucapkan dengan tenang, namun ucapan Capri membuat Poppy kembali merasa bersalah. Capri berdiri sambil tersenyum sendu. Menunjukkan kekecewaan samar karena sudah dua kali Poppy tak
last updateLast Updated : 2025-01-19
Read more

100. Pujian para Pria

Robin tidak terlihat terburu-buru, tetapi langkahnya sangat lebar dan cepat. Mulutnya menggerutu karena panggilan yang mengganggu, namun dia sampai tak memedulikan air dari badannya yang menetes hingga membasahi karpet di setiap langkahnya.Selain tak memakai handuk karena ingin segera mengangkat telepon istrinya, Robin juga lupa jika shampo di rambutnya belum dibilas air, serta tak memperhatikan busa yang hampir menutup mata kirinya.Tangan basah Robin segera meraih ponsel. Namun, karena tangannya licin, dia menjatuhkan ponsel di lantai.“Ah!! Sial!” teriak Robin murka. Busa dari rambutnya jatuh ke mata hingga terasa pedih. Deringan telepon pun berakhir, sebelum akhirnya menyala lagi. Kali ini, Robin langsung menjawab telepon sambil menyeka busa shampo yang turun di wajahnya.Mata Robin berkedip-kedip untuk menyingkirkan rasa perih. Hingga dia tak begitu memperhatikan nama si penelepon.“Apa kau mencoba membuatku marah?!” bentak Robin tanpa basa-basi. Dia sudah pura-pura tak terburu-
last updateLast Updated : 2025-01-19
Read more
PREV
1
...
89101112
...
23
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status