Home / Rumah Tangga / AKU ISTRIMU MAS! / Chapter 61 - Chapter 70

All Chapters of AKU ISTRIMU MAS! : Chapter 61 - Chapter 70

83 Chapters

Pengkhianatan

Laksmi merasakan bulu kuduknya meremang. Dia menajamkan pendengarannya, mencoba menangkap suara lain di antara keheningan yang tiba-tiba terasa begitu mencekam.Dani juga tampak waspada, matanya menyipit ke arah pintu belakang yang kini sedikit terbuka. Angin malam menyusup masuk, menggoyangkan tirai lusuh yang tergantung di jendela."Ini rencanamu?" Dani bertanya pelan, tapi nada suaranya tajam.Laksmi mendengus. "Harusnya aku yang bertanya begitu."Mereka saling menatap, sama-sama curiga. Tapi siapa pun yang ada di luar sana, bukan bagian dari rencana mereka.Laksmi merogoh sesuatu dari balik mantelnya—sebuah pistol kecil dengan peredam suara. Ia menggenggamnya erat, bersiap menghadapi apa pun yang akan datang.Dani, sementara itu, melangkah perlahan ke arah pintu, tangannya sudah meraih belati kecil yang terselip di pinggangnya.Hening.Lalu—Braaak!Pintu belakang terbuka lebih lebar, dan sesosok pria bertubuh tegap menerobos masuk. Wajahnya tertutup separuh oleh masker hitam, mat
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more

Permainan Baru

Udara malam menusuk kulit saat Laksmi menerobos keluar dari bangunan tua itu. Napasnya berat, tetapi langkahnya tetap gesit. Dia tahu Dani dan anak buahnya tidak akan membiarkannya kabur begitu saja.Benar saja—Dor! Dor!Peluru menghantam tembok di dekatnya, memercikkan serpihan beton. Laksmi tidak berhenti. Dia berlari melintasi gang sempit, menyeberang jalan, lalu masuk ke gang kecil lain yang lebih gelap.Langkah kaki terdengar di belakangnya. Mereka mengejar.Laksmi menggertakkan giginya. Dia harus mencari cara untuk menghilang sebelum mereka mengepungnya.Di depan, sebuah pasar malam kecil masih beroperasi. Lampu-lampu neon berkedip, suara pedagang bercampur dengan musik jalanan. Tanpa ragu, Laksmi menyelinap masuk, melebur di antara kerumunan.Dia menurunkan tudung mantelnya, lalu mengambil syal dari salah satu kios dan melilitkannya ke kepalanya dengan cepat. Sekarang dia terlihat seperti warga biasa.
last updateLast Updated : 2025-03-10
Read more

Drama rumah tangga

Bara menoleh perlahan, matanya menyipit penuh selidik. "Apa maksudmu?"Nenek itu terkekeh, suara seraknya terdengar menggelitik. "Maksudku, istrimu... Liyana, dia ada di dekatmu."Bayu—atau lebih tepatnya, Liyana—merasa jantungnya hampir lompat dari tempatnya. Tangannya yang tersembunyi di balik saku mencengkeram kain celana itu erat. Sial. Dia tahu?Bara menatap nenek itu tajam, tapi alih-alih tegang, bibirnya justru berkedut seolah ingin tertawa. "Nenek, aku tak punya waktu untuk lelucon murahan.""Tapi ini bukan lelucon," nenek itu menyeringai. "Istri yang kau cari adalah ... aku."Hening.Bayu nyaris tersedak ludahnya sendiri. Bara menatap si nenek dengan ekspresi yang sulit dijelaskan—antara geram, bingung, dan nyaris tertawa."Kau? Liyana?" Bara mengulang dengan nada geli.Si nenek mengangguk anggun, seolah benar-benar percaya dengan ucapannya sendiri. "Tentu saja. Sudah berapa kali aku harus katakan! Bahw
last updateLast Updated : 2025-03-11
Read more

Tipu Muslihat

Bara mengerjapkan mata, mencoba mencerna kata-kata nenek itu. "Apa maksudmu?"Si nenek tersenyum semakin lebar, langkahnya maju mendekati Bara. "Mas Bara, aku istrimu. Benar-benar istrimu."Bayu hampir menjatuhkan gelas dari tangannya. Tangannya buru-buru meraih kain lap untuk mengeringkan sisa air di jemarinya, tapi tubuhnya sedikit gemetar. Sial, nenek ini makin gila atau justru makin berbahaya?Bara, yang biasanya sulit dibuat kehilangan kesabaran, kini tampak benar-benar frustrasi. Ia menghela napas panjang, lalu menatap si nenek dengan tatapan setengah ingin tertawa, setengah ingin meneriakinya."Nek..." Bara berusaha tetap tenang. "Aku tidak tahu siapa yang menyuruhmu melakukan ini, tapi yang jelas—""Mas Bara," si nenek memotong dengan suara lebih lembut. "Lihat aku baik-baik. Aku ini Liyana. Istrimu."Bara mengatupkan rahangnya, otaknya mencoba memahami situasi ini. Nenek ini jelas tidak waras... atau dia tahu sesuatu yan
last updateLast Updated : 2025-03-12
Read more

Pembuktian

Bara menatap cincin itu tanpa berkedip. Napasnya tertahan di tenggorokan. Itu… cincinnya.Bukan cincin pernikahan yang ia simpan di laci, tetapi cincin kecil dengan ukiran di dalamnya. Cincin yang dulu ia berikan diam-diam pada Liyana, jauh sebelum mereka menikah. Cincin yang hanya mereka berdua yang tahu.Darah Bayu seperti berhenti mengalir. SIAL. Ini tidak masuk akal!Bara menegakkan tubuhnya, matanya menatap si nenek lebih tajam. "Dari mana kau mendapatkan ini?"Si nenek hanya tersenyum, menggulirkan cincin itu di antara jari-jarinya. "Kau sendiri yang memberikannya padaku, Mas."Bara terdiam. Ini sudah melewati batas kebetulan.Bayu harus berpikir cepat. Ini bisa berbahaya. Sangat berbahaya."Saya pikir cincin itu ada di laci meja Pak Bara," Bayu akhirnya buka suara, mencoba menetralkan situasi. "Mungkin nenek ini mengambilnya?"Si nenek menoleh ke arah Bayu, senyumnya melebar. "Kau gugup, Nak?"Ba
last updateLast Updated : 2025-03-13
Read more

Buruk

Bayu meremas sudut meja tanpa sadar. Apa lagi yang mau dia tunjukkan?!Bara menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap si nenek dengan ekspresi waspada. "Baik, tunjukkan."Si nenek mengangguk, lalu perlahan merogoh sesuatu dari balik selendangnya. Bayu menahan napas, merasa deja vu setelah kejadian cincin kemarin.Tapi kali ini, yang dikeluarkan nenek itu bukanlah cincin.Melainkan… sebuah surat.Bayu langsung merasa darahnya membeku.Bara menyipitkan mata, tangannya terulur mengambil surat itu. Kertasnya sudah agak menguning, tapi lipatannya masih rapi. Seolah seseorang telah menyimpannya dengan sangat hati-hati.Bara membuka lipatan kertas itu dan mulai membaca.Bayu menahan diri agar tidak gemetar di tempat. Sial. Dari mana dia dapat itu?!Mata Bara membelalak. Sorot matanya berubah, dari penuh kewaspadaan menjadi keterkejutan.Ia membaca ulang tulisan di surat itu, seolah tidak percaya. "Ini…"
last updateLast Updated : 2025-03-14
Read more

Nenek Lampir dan Rahasia

Bayu merasakan kepanikan merayap di dadanya. Ia harus menghentikan ini sebelum Bara benar-benar percaya pada nenek gila ini. Tapi sebelum ia sempat berkata apa pun, Bara berdiri dengan ekspresi yang sulit ditebak. Ada kebingungan, keterkejutan, dan sesuatu yang lebih dalam… sesuatu yang membuat Bayu semakin cemas. “Jawaban itu…” Bara bergumam, suaranya hampir tak terdengar. Ia menatap si nenek lama, seolah mencari kebohongan di matanya. Si nenek tersenyum penuh kemenangan. “Sekarang kau percaya, Mas?” Bayu buru-buru memotong, “Pak Bara, ini bisa saja trik! Dia bisa saja mendengar kalimat itu dari seseorang!” Bara menoleh padanya, tatapannya tajam. “Dari siapa?” Bayu terdiam. Sial. Ia terlalu gegabah. Si nenek terkekeh. “Bayu, kau selalu mencoba mengalihkan pembicaraan. Kenapa? Apa kau takut sesuatu?” Bayu menggertakkan giginya. “Saya hanya tidak ingi
last updateLast Updated : 2025-03-15
Read more

Tes DNA

Hening sejenak di ujung telepon.Lalu suara itu tertawa pelan. “Kau sedang dalam masalah besar, ya?”Bayu tidak punya waktu untuk bercanda. “Kau bisa atau tidak?”Suara di seberang menghela napas. “Mengubah hasil tes DNA bukan perkara mudah, apalagi kalau tes dilakukan di rumah sakit besar.”Bayu mengepalkan tangan. “Aku tahu. Tapi aku tidak punya pilihan lain.”Ada jeda beberapa detik sebelum suara itu menjawab, “Siapa yang akan dites?”Bayu menggigit bibir. “Aku dan… satu orang lagi.”“Aku butuh nama.”Bayu ragu sejenak sebelum akhirnya berbisik, “Bara Danendra.”Suara di telepon langsung berubah serius. “Bara Danendra? Pengusaha itu?”Bayu tidak menjawab.Lalu suara di seberang kembali berbicara, lebih pelan dari sebelumnya. “Kau benar-benar bermain dengan api.”“Aku tahu,” Bayu menutup mata, “tapi aku tidak punya pilihan.”Suara itu terdiam sejenak, lalu akhirnya
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

Permainan belum berakhir

Bayu menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Tangannya masih gemetar saat ia memasukkan ponsel ke dalam saku. Ia harus kembali ke meja sebelum Bara curiga. Ketika ia melangkah masuk ke dalam kafe, Bara sudah bersandar di kursi dengan tangan terlipat di dada. Matanya menyipit, menatap Bayu dengan tatapan yang sulit dibaca. “Lama sekali teleponnya.” Bayu memaksakan senyum. “Maaf, Pak Bara. Ada urusan mendadak.” Bara tidak berkata apa-apa, hanya menatapnya lebih lama sebelum akhirnya mengalihkan perhatian ke ponselnya. Si nenek, yang sedari tadi duduk dengan senyum penuh arti, menyesap tehnya sebelum berkata, “Hasil tesnya pasti sudah keluar.” Bayu merasakan dadanya mencelos. “Baiklah,” Bara bangkit dari kursinya. “Ayo kita lihat hasilnya.” --- Mereka kembali ke
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

Pertemuan yang aneh

Setelah meninggalkan ruangan, Bara berjalan dengan langkah cepat, ekspresinya sulit ditebak. Bayu mengikuti di belakangnya, berusaha tetap tenang meski pikirannya penuh dengan kemungkinan buruk.Begitu mereka sampai di parkiran, Bara tiba-tiba berhenti dan menoleh."Bayu," panggilnya.Bayu hampir tersentak, tapi segera mengendalikan diri. “Iya, Pak Bara?”Bara menatapnya lama. Ada sesuatu dalam sorot mata pria itu yang membuat Bayu merasakan hawa tekanan yang tak kasat mata.“Kau percaya dengan hasil tes tadi?” tanya Bara tiba-tiba.Bayu menelan ludah, berpikir cepat. “Tentu saja. Hasil tes DNA itu kan bukti ilmiah, Pak.”Bara mengangguk pelan, tapi ekspresinya tetap tidak berubah. “Lalu, menurutmu… nenek itu benar-benar Liyana?”Pertanyaan itu membuat Bayu merasa dadanya sesak. Kenapa Bara masih mempertanyakan ini?Dengan hati-hati, Bayu menjawab, “Kalau Pak Bara masih ragu, bukankah ada tes DNA beriku
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more
PREV
1
...
456789
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status