Home / Romansa / Melahirkan Anak Presdir Posesif / Chapter 181 - Chapter 185

All Chapters of Melahirkan Anak Presdir Posesif: Chapter 181 - Chapter 185

185 Chapters

Bab 181.

Pagi itu, Sebastian tiba di kantornya lebih awal dari biasanya. Pikirannya masih dipenuhi pertanyaan tentang pesan misterius yang ia terima. Ia berjalan melewati lorong-lorong dengan ekspresi serius, nyaris tak menyadari sapaan para karyawan yang lewat. Sesampainya di ruangannya, ia melemparkan jasnya ke kursi dan duduk di balik meja.Ia membuka laptop dan mulai memeriksa email. Namun, sebelum sempat berkonsentrasi, ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sama seperti sebelumnya."Kau pasti sudah melihatnya. Kita akan bertemu segera. Bersiaplah."Sebastian mengepalkan tangannya. Ia tidak suka permainan seperti ini. Jika seseorang ingin menemuinya, kenapa tidak datang secara langsung? Namun, ia tahu lebih baik untuk tetap tenang dan menunggu langkah selanjutnya dari si pengirim pesan.Sementara itu, di mansion, Clara merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan suaminya. Sebastian memang tidak banyak bicara pagi ini, dan cara ia menghindari pertanyaan hanya menamba
last updateLast Updated : 2025-03-31
Read more

Bab 182

Sebastian merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tak bisa membiarkan ini berlarut-larut. Malam itu, setelah memastikan Clara dan Kaisar sudah tidur, ia duduk di ruang kerjanya, menatap foto-foto yang bertebaran di mejanya. Pikirannya berputar, mencoba menghubungkan titik-titik yang belum tersambung. Ia mengambil ponselnya dan mengetik pesan: "Siapa kau dan apa yang kau inginkan?" Pesan terkirim. Namun, tak ada balasan. Sebastian mendengus kesal. Ia tahu orang ini tidak akan memberi jawaban dengan mudah. Ia perlu mencari cara lain. Di sisi lain kota, pria berjas hitam kembali menerima pesan. Ia menyeringai. "Sebastian mulai gelisah," katanya kepada pria di seberangnya. "Itu berarti rencana kita berjalan sesuai harapan," jawab pria itu tenang. "Tapi jangan gegabah. Kita harus membuatnya semakin terpojok." "Aku punya sesuatu yang akan membuatnya tak bisa menghindar lagi," kata pria berjas hitam sambil mengeluarkan sebuah amplop lain dari dalam tasnya. Pagi harin
last updateLast Updated : 2025-04-01
Read more

Bab 183.

Di mansion, kehidupan terus berjalan dengan suasana yang semakin hangat. Hari-hari Sania dihabiskan bersama Kaisar dan Clara, menciptakan ikatan yang semakin erat di antara mereka. Sebastian, yang dahulu kaku dan menjaga jarak, mulai menunjukkan sisi lembutnya. Ia tak lagi canggung menyaksikan interaksi ibunya dengan Clara dan putranya.Suatu sore, Sania membawa Kaisar ke taman kecil di belakang mansion. Clara menemaninya, membawa selimut kecil untuk alas duduk mereka. Kaisar yang mulai aktif menggerakkan tangan dan kakinya tampak begitu ceria dalam dekapan neneknya."Dia semakin aktif setiap hari," kata Clara sambil tersenyum.Sania mengusap kepala cucunya dengan lembut. "Ya, dia tumbuh dengan sangat baik. Aku bahagia bisa melihatnya berkembang seperti ini."Clara menatap Sania dengan penuh penghargaan. "Mom, aku ingin berterima kasih. Kehadiran Mom benar-benar membuat keluarga ini lebih lengkap. Aku bisa melihat Sebastian juga mulai menerima Mom sepenuhnya."Sania menatap Clara deng
last updateLast Updated : 2025-04-02
Read more

Bab 184.

Sebastian menatap pria di hadapannya dengan ekspresi penuh keterkejutan. Ia mencoba mencari kepastian bahwa sosok yang kini berdiri di depan pintunya bukanlah bayangan masa lalu yang kembali menghantuinya."Kau… Apa yang kau lakukan di sini?" suara Sebastian terdengar lebih tajam dari yang ia maksudkan. Matanya meneliti sosok pria itu, mengingat kembali semua hal yang dulu pernah terjadi.Pria itu tersenyum tipis, seolah menikmati keterkejutan Sebastian. "Aku hanya ingin berbicara, Sebastian. Kita punya urusan yang belum selesai."Sebastian mengepalkan tangannya di bawah meja, berusaha mengendalikan emosi yang mulai bergolak di dalam dadanya. Ia memberi isyarat agar pria itu duduk, meski dalam hatinya ia enggan."Aku tidak tahu urusan apa yang kau maksud. Masa lalu sudah berlalu, dan aku tidak berniat mengungkitnya kembali," ujar Sebastian, mencoba mempertahankan nada tenangnya.Pria itu menggeleng pelan. "Sebastian, kau dan aku sama-sama tahu bahwa ada hal-hal yang tidak bisa begitu
last updateLast Updated : 2025-04-03
Read more

Bab 185.

Sebastian bangkit dari tempat tidurnya dini hari itu. Cahaya lampu meja menerangi sebagian wajahnya yang tampak lelah namun penuh tekad. Ia melangkah pelan keluar kamar, menyusuri lorong sunyi mansion menuju ruang kerjanya. Di tangannya, ia masih menggenggam foto yang diberikan pria itu siang tadi.Ia duduk di kursi kerjanya, meletakkan foto di atas meja, dan membuka laci kecil di sisi kanan. Dari sana, ia mengeluarkan sebuah kotak logam kecil yang sudah lama tidak disentuh. Kotak itu berisi berkas-berkas lama—rekaman transaksi, nama-nama, dan catatan yang ia pikir sudah tidak akan pernah dibuka kembali.Namun malam ini, masa lalu memaksa untuk dihadapi.Sebastian mulai memeriksa satu per satu dokumen itu. Ia mencari nama pria tadi—Daniel Prasetya, mantan rekan bisnis yang dulu pernah terlibat dalam operasi investasi gelap di luar negeri. Operasi itu bubar karena pengkhianatan dari dalam, dan Sebastian memilih keluar tepat sebelum semuanya runtuh. Tapi Daniel, tampaknya, tidak pernah
last updateLast Updated : 2025-04-04
Read more
PREV
1
...
141516171819
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status