Accueil / Romansa / Melahirkan Anak Presdir Posesif / Chapitre 141 - Chapitre 150

Tous les chapitres de : Chapitre 141 - Chapitre 150

180

Bab 141.

Clara mengerjap beberapa kali. Hembusan napas pelan kembali terdengar untuk yang ke sekian kalinya. Rasa mual dan pusing yang mendera memang telah mereda. Namun, kejadian beberapa jam yang lalu masih terekam jelas di kepala Clara.Setelah mengalami muntah-muntah hebat, Sebastian membawa Clara ke rumah sakit terdekat. Saat ini Clara sedang berada di salah satu ruang rawat inap ekslusif.Dia kembali menghela napas panjang. Dia menatap ke luar jendela. Pemandangan kota hari itu cukup membuatnya sedikit tenang. Namun, ketika teringat kembali dengan kejadian tadi, Clara kembali memejamkan mata.“Bodoh sekali aku!”“Memalukan!” Clara terus merutuki dirinya sendiri.Suara handle pintu diputar terdengar. Clara menoleh, tak lama kemudian pintu terbuka. Menampilkan sosok jangkung dengan wajah tampan. Sebastian melangkah mendekat dengan raut wajah penuh kekhawatiran.Clara menggingit bibir bawahnya. Dia seketika memalingkan wajahnya."Bagaimana keadaanmu, apa kamu masih merasa mual?" tanya Sebas
last updateDernière mise à jour : 2025-02-26
Read More

Bab 142.

Clara menjalani perawatan di rumah sakit selama dua hari setelah mengalami kondisi kesehatan yang cukup mengkhawatirkan. Selama periode tersebut, Sebastian tidak pernah meninggalkannya. Dengan penuh kesabaran dan perhatian, dia menjaga Clara siang dan malam.Setiap saat, Sebastian memastikan Clara merasa nyaman dan aman, meskipun dia tahu bahwa perawatan yang dijalani Clara memerlukan waktu dan kesabaran. Tak peduli seberapa lelah tubuhnya, dia tetap setia mendampingi Clara, memberikan dukungan emosional yang sangat dibutuhkan oleh Clara yang kini tengah mengandung buah hatinya. Sebagai pasangan yang penuh kasih sayang, Sebastian bertekad untuk selalu berada di sisi Clara, menunjukkan bahwa dia akan selalu ada di dalam setiap langkah hidup Clara, terutama dalam masa-masa yang sulit seperti itu. Setelah dinyatakan pulih, Clara diperbolehkan untuk pulang. Sebastian menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan wanita hamil termasuk vitamin yang harus dionsumsinya. Tidak hanya itu, Sebasti
last updateDernière mise à jour : 2025-02-27
Read More

Bab 143.

William terdiam untuk beberapa saat. Dia mematung di tempat, mecoba mencerna sesuatu yang kini ada di hadapannya. Bolat matanya memindai cepat surat yang ada di tangan pria itu. Dan William tidak pernah salah dengan penglihatannya.“Apa Anda Tuan William Barnes?” tanya pria itu.William segera tersadar dari lamunanya. Dia menatap pria di hadapannya.“Ya?”“Saya harus memberikan surat ini pada orang yang bernama William Barnes.” Pria itu mengulangi ucapannya.“Ya, aku orangnya.”“Ah baiklah kalau begitu, tolong terima ini dan tanda tangani surat tanda terimanya,” pinta pria itu.William melakukan apa yang diminta oleh pria dengan pakaian kurir itu, meraih bolpoin lalu membubuhkan tanda tangan di atas kertas putih yang disodorkan oleh pria itu. Selesai melakukannya, William segera mengembalikannya.Setelah kurir itu menghilang dari pandangannya, William segera masuk dengan amplop cokelat yang sudah berpindah di tangannya. William berdiri di ruang tamu, menatap amplop tersebut sejenak ke
last updateDernière mise à jour : 2025-02-28
Read More

Bab 144.

"Jadi kamu melarang kami masuk?"Sania terlihat geram ketika kendaraannya dihadang oleh para penjaga saat hendak memasuki pagar ke rumah Sebastian–puteranya sendiri.Akhirnya, Leonard dan Sania turun untuk meminta kejelasan perihal penahanan ini. Dan Sania sempat merasa geram dengan aksi para penjaga yang tak beralasan sama sekali. Andrew tampak merasa bersalah hanya bisa menghindari tatapan Sania yang semakin tajam. Pria itu sesekali menunduk, kemudian kembali mengangkat kepalanya ketika memulai bicara."Maaf, Tuan, Nyonya Besar. Tuan Bastian sedang tidak ada di rumah," ucap Andrew dengan sopan. Tanpa mengurangi rasa hormat. Bagaimanapun juga, mereka adalah orang tua dari majikannya."Ke mana dia?" tanya Leonard menyahut.Andrew mengarahkan pandangannya ke arah Leonard yang tampak terlihat lebih tenang dibandingkan dengan Sania."Beliau sedang ada urusan pekerjaan, Tuan Besar," jawab Andrew."Kalau begitu biarkan kami menunggu di dalam!" seru Sania kembali menyela. Dia tidak terima
last updateDernière mise à jour : 2025-03-01
Read More

Bab 145.

“Ramon, kita pulang sekarang!”Mendengar ucapan Sebastian, Ramon segera melirik ke arah samping sekilas."Apa terjadi sesuatu?""Orang tuaku datang. Mereka memaksa masuk."Jawaban itu cukup membuat Ramon mengerti. Dia segera menambah kecepatan mobilnya. Beberapa kilometer kemudian, terdengar ledakan kecil yang membuat kendaraan yang ditumpangi oleh Sebastian oleh hingga menyebabkan keluar jalur."Apa yang terjadi?" tanya Sebastian setelah mobil berhenti."Sepertinya bannya meletus, Tuan."“Apa?”“Biar saya periksa.” Ramon segera keluar dari mobil.Tak lama kemudian, Sebastian menyusul keluar dan melihat Ramon berjongkok. Benar saja yang dikatakan oleh Ramon. Ban mobil dalam keadaan kempes.“Tuan, ini akan memakan waktu.” Ramon berkata sembari mendongak.“Kamu benar, kalau begitu aku akan naik taksi saja.”“Baik.”"Sayang, sebaiknya kita pulang. Kita temui Bastian besok lagi!" Leonard yang merasa istrinya sedikit keterlaluan segera menegur. Melihat wajah kekasih dari puteranya yang ta
last updateDernière mise à jour : 2025-03-01
Read More

Bab 146.

Clara memandang Sebastian. Setelah lama berpikir, akhirnya Clara memutuskan untuk mempercayai pria itu. Lagi pula, Clara tidak ada tempat tujuan jika dirinya pergi. Dirinya juga harus memikirkan bayi ini. Kedua orang tuanya bahkan tidak mau menerima dirinya. Hanya Sebastian yang setia di sisinya."Maafkan aku, ya?" Clara memeluk Sebastian. Dan segera mendapat balasan dari pria itu."Maafkan Ibuku," kata Sebastian yang merasa ibunya sudah keterlaluan. Kemudian dia mengikis jarak, memegangi kedua bahu wanitanya itu lalu berkata, "Jadilah wanita kuat. Demi bayi kita. Lawan siapa pun orang yang berani menghinamu sekalipun itu orang tuaku," tegur Sebastian. "Bukankah kamu pernah membuat Silvia takut?"Clara memandang Sebastian, dia mengerjap beberapa kali. Pikirannya mulai menggali sebuah maksud dari kata yang terlontar dari bibir Sebastian."Kamu menyuruh aku melawan orang tua?" Kemudian Clara mendesah. Sejak kecil dirinya memang telah dididik untuk bersikap hormat pada orang yang lebih t
last updateDernière mise à jour : 2025-03-02
Read More

Bab 147.

Maxime menatap asistennya itu penuh tanda tanya. Sejak Sebastian memutuskan untuk memutus hubungan keluarga dan memilih wanita itu. Maxime sama sekali tidak peduli dengan cucunya. Bagi Maxime, anak yang melanggar norma-norma dan adat keluarga adalah seorang pembangkang. Dan Maxime tidak mau memiliki cucu yang seorang pembangkang."Tuan Bastian telah mendirikan bisnisnya sendiri, dan menamainya dengan Diamond Company." Maxime merasa tercubit. Dengan kemampuan otak yang dimiliki cucunya itu. bukan tidak mungkin bila Sebastian mampu melakukan semuanya. Namun, tanpa dukungan materi, rasa-rasanya semuanya mustahil.Maxime yakin bahwa semua itu ada campur tangan Leonard di dalamnya. Puteranya itu, pasti akan selalu mendukung anaknya. Terlebih Sania sangat mencintai Sebastian."Jadi dia sudah mendirikan sebuah perusahaan?""Ya, Tuan. Dia menarik saham atas namanya di Abraham Group. Menjual villa mewahnya untuk dijadikan modal untuk mendirikan perusahaan baru. Dalam kurun waktu kurang da
last updateDernière mise à jour : 2025-03-02
Read More

Bab 148.

"Ada apa?" tanya Sebastian ketika mendengar suara pria di seberang sana terdengar panik. "Tuan, Nona Clara..." Tut! Tiba-tiba mati. Sebastian menatap layar ponselnya yang sudah kembali ke halaman utama. Ketika dia mencoba menghubungi nomor mansion. Justru tidak aktif. Hal itu membuat Sebastian seketika panik. Dia menyambar jasnya yang tersampir di punggung kursi kemudian melangkah cepat. "Kita pulang sekarang, terjadi sesuatu di mansion." Ramon mengikuti langkah Sebastian yang begitu cepat. Dan ketika mencapai mobil, Sebastian melesat cepat memasuki kendaraan. Ramon segera memposisikan diri di bangku depan. Ramon memang ahli dalam segala termasuk mengemudi secara kilat. Dalam waktu singkat, keduanya tiba di tempat tujuan. Ketika tiba di depan pintu gerbang. Tidak ada yang membukakannya. Meski pintu terbuka otomatis, tetap harus ada yang menekan tombol. Menunggu beberapa menit, Sebastian jadi tidak sabar. "Ke mana para penjagaku?" Sebastian terlihat sangat geram. "Entahlah. Tap
last updateDernière mise à jour : 2025-03-03
Read More

Bab 149.

Meski dirayakan secara sederhana, namun hari itu menjadi hari yang sangat membahagiakan bagi Clara dan juga Sebastian. Di depan para pelayan, penjaga, Andrew dan juga Ramon. Sebastian resmi melamar Clara. Sebastian yang sudah lama menyiapkan cincin berlian khusus memberikannya kepada Clara. Pria itu berjongkok di bawah kaki Clara sembari menyodorkan kotak beludru berwarna merah. "Maukah kamu menikah dengan aku?" Melihat hal itu, Clara menutup mulutnya karena kaget. Tidak ada angin tidak ada hujan, Sebastian tiba-tiba melamarnya. "Bastian...aku..." Jujur saja, Clara sampai tidak bisa berkata-kata. "Katakan saja. Sesuai yang aku katakan sebelumnya. Jika kamu bersedia menikah denganku, maka perjanjian kontrak di antara kita akan aku anggap tidak ada. Aku juga akan melupakan masalah uang yang kamu pinjam. Dan kamu akan menjadi satu-satunya ratu di hidupku, Clara," ucap Sebastian. Clara berkaca-kaca. Haru bahagia menjadi satu. Perasaan yang tidak bisa dia gambarkan saat ini.
last updateDernière mise à jour : 2025-03-04
Read More

Bab 150.

Bukan hanya Bianca yang telah mendengar kabar tentang pernikahan Sebastian dan Clara, tetapi juga sesepuh keluarga Abraham, Maxime Abraham yang akhir-akhir ini mengalami penurunan kesehatan. Saat ini Maxime Abraham terbaring lemah di atas ranjang tempat tidur, tubuhnya diselimuti oleh kain putih yang tampak rapi tetapi tidak mampu menghangatkan dinginnya kulitnya. Nafasnya terdengar pelan, teratur tetapi berat, seakan setiap helaan membutuhkan usaha yang besar. Gangguan pada jantungnya telah menguras begitu banyak energinya, membuat tubuhnya terasa begitu rapuh.Wajahnya sedikit pucat, kontras dengan rambut hitamnya dan terdapat semburat putih yang tertata acak di atas bantal. Matanya yang biasanya tajam kini tampak sayu, seperti kehilangan cahaya yang biasa memancar darinya. Tatapannya kosong, mengarah ke langit-langit kamar, seolah sedang mengamati sesuatu yang tak bisa dilihat oleh orang lain.Maxime menghela napas pelan, kelopak matanya sedikit bergerak, tetapi tubuhnya tetap di
last updateDernière mise à jour : 2025-03-05
Read More
Dernier
1
...
131415161718
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status