Semua Bab PLAYBOY KENA BATUNYA: Bab 131 - Bab 140

244 Bab

Bab 131

“Mau atau enggak?!” “Ya maulah! Gila kalo menolak, kita bisa menghemat biaya perjalanan. Eh? Grand-mère Evita yang bayar tagihannya, ‘kan?” tanya Stuart khawatir. Katon tidak menjawab dan sibuk mengetik dalam ponselnya untuk mengirimkan pesan ke Ratih. Empat puluh lima menit kemudian Lorna dan Cia sudah kembali ke ruang kemudi dan lima belas menit berikutnya, ponsel Katon bergetar. “Mister Tenan, ini Ebo El Sharawiy. Kami dengar Anda bersama rombongan berada di Laut Mediterrania?” tanya sebuah suara berat dengan aksen Arab. “Benar Tuan Sharawiy. Saya yakin kami sedang menunggu giliran untuk masuk ke Terusan Suez?” “Saya pikir juga begitu. Satu jam dari sekarang, sebuah kapal tanker dari Eropa akan melewati kapal Anda. Ikutilah. Kapal Anda akan dikenali sebagai penjaga kapal tanker tersebut dan mengiringinya melalui Terusan Suez. Sebentar lagi kolega saya, Akil Ahmose akan mendatangi kapal Anda dan memberikan bendera untuk Anda pasang di atas kapal.” Sesuai dengan waktu yang diba
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-24
Baca selengkapnya

Bab 132

“Brengsek!” Katon memaki tanpa sadar. “Kucrut! Baron sialan ini menyeret kita ke dalam apa?!” Morgan melotot ke arah Stuart. “Kau, tolol! Temenmu mati kena kutukan perkamen sialan ini? Dan kau sekarang menyeret kami ke dalam pusaran kutukan itu? Kalau sampe Lorna kenapa-kenapa, kukuliti kau hidup-hidup, Stu!” Cia ikutan marah dan ngomel ke arah Stuart. “Beneran dia mati kena kutukan? Waah seru! Ceritain gimana matinya?” tanya Lorna ceria dan penasaran ke arah Stuart. “Mengolok Morgan kebanyakan nonton film, kalian sama saja. Masih percaya dengan kutukan mumi ribuan tahun lalu. Itu tahayul, tolol! Umur aja tua, kelakuan kayak bocah!” omel Stuart dan bersandar santai di sandaran kursinya. “Jadi dia mati kenapa, dong? Terpeleset di kamar mandi, kena stroke dan modar?” tanya Lorna. “Kan sudah aku bilang dibunuh gara-gara peta ini. Tolong, kupingnya dikorek sampe bersih, Nona!” seru Stuart sambil menggoyangkan jari di depan daun telinganya. “Laiya, dibunuh. Sama orang apa sama kutuk
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-24
Baca selengkapnya

Bab 133

Stuart dan sahabat-sahabatnya, melihat dua piramida kuno yang terbengkalai dan tak terawat di depan mereka. Satu sisi bagian piramida pertama yang bisa mereka lihat, tidaklah sempurna. Di beberapa dindingnya tergerus dan meninggalkan bekas seperti lubang. Sementara sisi yang lain, masih terkubur pasir gurun yang juga menutupi hampir seluruh piramida kedua. Sebuah persegi panjang agak menjorok ke dalam membentuk pintu yang terbenam, terlihat dari luar. Meski tidak jelas, pintu ini terletak di tingkat berapa dari piramida mengingat sebagian besar bangunan terbenam dalam pasir. Mereka berdiri di depan pintu masuk piramida yang tertutup rapat oleh bebatuan kuno yang terasa dingin dan berdebu. Di sekitar mereka, angin gurun Mesir berbisik pelan menyusup melalui celah-celah batu, menciptakan suasana misterius yang menggugah rasa penasaran dan ketegangan di antara para petualang itu. “Kalau di film-film, banyak jebakan ketika kita masuk ke dalam makam yang belum pernah dibuka ini. Kamu ya
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-24
Baca selengkapnya

Bab 134

Katon kehilangan keseimbangan seiring lantai yang ia injak luruh. Tidak adanya kepastian akan selamat membuatnya berteriak keras melawan rasa ngeri yang mencengkeram perutnya. Ia bersama keempat sahabatnya masuk ke dalam lubang kosong dan menanti saat menghempas sesuatu yang menghancurkan tubuh mereka. Katon mendarat di sesuatu yang kasar, keras tetapi tidak menyakitkan. Reflek ia menangkap sesuatu yang menahan tubuhnya agar tidak jatuh lebih jauh. Akar tanaman yang sangat besar tetapi kering. Katon keheranan dan dengan cepat melihat ke sekitarnya. Akar-akar kering itu terjalin satu sama lain. Membentuk sebuah jaring raksasa. Tentu saja bentuknya tidak sempurna dengan lubang besar di sana sini akibat ketiadaan jalinan akar di sana. Lantai yang luruh bersama mereka, terus melewati “jaring” akar-akar tersebut. Sementara para manusianya “tersaring” dan sekarang bergelimpangan di atas “jaring” akar-akar dan berpegangan demi keselamatan diri sendiri. “Kampret! Apa ini?” seru Morgan.
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-25
Baca selengkapnya

Bab 135

Bunyi ledakan dan rekahan berurutan menghasilkan batu-batu ceper bermunculan sepanjang dinding. Antara satu dengan yang lain semakin meninggi dan bam ledakan terakhir mengeluarkan batu terakhir hanya selangkah dari tepian lantai. Sebuah tangga baru muncul sepanjang dinding. Kuat, kokoh, terdiri atas batu ceper berwarna hitam legam. “I know it! Hah!” Stuart mengacungkan tinjunya ke udara dan wajahnya luar biasa bahagia. Lorna dan Cia yang semula panik sekarang melongo sejurus kemudian tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk ke arah Katon dan Morgan yang melongo menatap tangga baru itu. “Sialan!” maki Katon pelan dan mengacungkan tinju ke arah kepala Morgan yang buru-buru menghindar. “Aku mana tahu, woi! Kan kamu sama Stuart yang expert masalah piramida!” kelitnya. “Kalau gak tahu kenapa sok tahu!” Katon memarahinya. “Lah kamu, ngapain percaya?!” ejek Morgan kembali. Dan Katon hanya bisa diam. Morgan benar juga. Tadi dia sedang memikirkan akhir hidupnya dan tidak bisa memikirkan ha
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-25
Baca selengkapnya

Bab 136

Cia terjatuh dalam tangis yang dalam hingga tidak sanggup berdiri dan merangkak di lantai meratapi kekasihnya. Katon, Stuart dan Morgan termangu menatap ngeri ke sahabat wanita mereka yang menempel di atap dan tertahan tonggak. Tangisan Cia yang meraung-raung tak sanggup menggerakkan mereka. “Tolongin, woi! Malah diem aja! Cia, jangan nangis! Aku masih hidup!” jerit Lorna tetapi teredam atap. Cia tersedak tangis dan berhenti mendadak. Kepalanya mendongak sedangkan tubuhnya masih mode merangkak. Matanya yang merah dan basah menatap ke arah tubuh Lorna yang sekarang bergerak-gerak berusaha membebaskan diri. Cia tergeragap untuk bangun dan ditahan Stuart. “Awas! Hati-hati! Bisa saja muncul tonggak baru!” seru Stuart panik. Tangannya menyambar bahu Cia yang akan melesat lari untuk menolong Lorna. Cia menggeram marah dan menggerakkan bahu sekaligus mendaratkan siku ke ulu hati Stuart. “Ugh!” Stuart melenguh kesakitan dan pegangannya terlepas. Cia melesat tanpa takut mendekati Lorna. “
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-25
Baca selengkapnya

Bab 137

Ruangan ini berbentuk kotak sempurna, berbeda dengan ruang sebelumnya yang bulat. Ruangan ini juga menampilkan aula persembahan dengan altar granit, dihiasi dengan penggambaran perwakilan dari berbagai provinsi yang membawa persembahan kepada firaun. Stuart terpana menatap salah satu dinding ruangan utama ini. Ada sebuah patung manusia sangat besar. Patung laki-laki yang mengenakan pakaian kebesaran khas Mesir. Kepalanya yang memiliki wajah berwarna hijau, menoleh ke kanan. Kedua tangan patung itu bersilangan di depan dada, masing-masing membawa alat yang sudah tidak jelas lagi bentuknya. “Ruang persembahan Dewa Osiris. Kita ada di jalur yang benar,” bisik Stuart sambil menatap ke patung itu dengan wajah terpesona. “Bagus! Jangan sampai pengorbanan kemejaku sia-sia,” Lorna tiba-tiba sudah ada di sisi Stuart dan ikut berdesis di sebelahnya. Pria Inggris itu seperti ditampar sesuatu dan menoleh ke arah Lorna. “Eh, kampret! Tadi kenapa pake diem pas nancep ke langit-langit?! Teriak
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-26
Baca selengkapnya

Bab 138

“Apa saranmu. Lorna?” tanya Katon dengan nada malas. Makin lama pembicaraan ini menjengkelkan karena hasilnya membawa mereka pada kesulitan lain atau resiko kematian. “Apa lagi? Lakukan sesuai yang diharapkan pembuat lorong ini. Nyalakan Asphaltnya.” “Yeah, dan kita akan merasakan neraka lebih awal,” kata Cia terdengar super sebal. Lorna tertawa kecil dan membungkuk ke arah kekasihnya, untuk menggoda dan menaikkan mood Cia lagi. “Apakah ada kemungkinan Asphalt itu mengering dan tidak berguna lagi. Kalian lihat dua jebakan sebelumnya kan sudah kurang efektif. Iya, ‘kan Ton? Jebakan pertama, seharusnya ada sungai bawah tanah. Tetapi tidak, ‘kan?” kata Morgan. “Yang membuatnya makin berbahaya. Tanpa ada sungai, kita malah menghempas ke dasar tak terhitung dalamnya, Morg. Jika ada air mungkin kita hanya hanyut. Tanpa air, kita remuk,” jelas Katon makin membuat Morgan merasa ngeri. “Lagipula, Asphalt murni itu tahan lama. Apalagi ketika diletakkan di tempat nyaris tertutup seperti ini
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-26
Baca selengkapnya

Bab 139

“Malik Albani,” desis Stuart penuh kebencian. Ia menatap wajah yang meringis geli tetapi juga menunjukkan kekejaman yang mengerikan. Seketika Katon paham, tidak ada gunanya Stuart memilih lewat laut ke Kairo karena pada akhirnya, Malik Albani tetap bisa mengejarnya hingga kemari. “Yeah, bagus sekali Stu,” geram Katon perlahan. “Wah, lihat harta-harta ini, Malik!” “Kita kaya! Hahahahaha ....” “Dan biarkan bangsat-bangsat putih ini jadi anjing pelacak kita. Puas sekali aku, hahahahaha ....” “Kau luar biasa, Malik!” Seruan teman-teman Malik Albani hanya membuat Stuart, Katon, Morgan dan Cia merah padam. Hanya Lorna yang menatap dengan tertarik ke arah Malik Albani. “Bagaimana caranya kalian melewati lubang besar di lorong pertama?” tanya Lorna tertarik. “Dengan cara yang tidak perlu kau ketahui, perempuan. Kau tidak akan membutuhkannya!” jawab salah seorang kawan Malik dengan nada kejam. “Di situkah tempatnya?” tanya Malik, berjalan mendekati Stuart dan Katon sambil menggoyang-g
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-26
Baca selengkapnya

Bab 140

Terdengar suara seperti semprotan saat sarkofagus terangkat. Mirip suara minuman berkarbonasi baru dibuka. Bedanya, yang ini suaranya lebih keras dan sekaligus menyemburkan debu-debu, saking banyaknya sampai mirip asap. Sedetik kemudian terdengar lolong kesakitan dari empat orang yang berada di sekitar sarkofagus. “Sekarang!” teriak Stuart dan Katon melompati peti didepannya lalu melesat untuk menyerang Hachim. Pria tambun itu yang semula terkejut melihat kawan-kawannnya sontak menoleh ke arah Katon dan siap melayangkan rungu. Katon merendah dan meluncur di lantai, menyapu kaki Hachim hingga pria tambun itu terjatuh . Hachim tergagap dan berusaha berdiri ketika Loran datang dan menendang kepalanya. Hachim terbatuk dan berguling. Lorna yang belum puas, mengejar. Ia rebut satu rungu Hachim dan memakai ujung yang bulat untuk menghajar kepala Hachim sampai dia pingsan. Di sekitar sarkofagus, empat orang berkelojotan dan berteriak kesakitan. Jamal dan Malik Albani adalah yang paling pa
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-01-28
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
1213141516
...
25
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status