Arsa tersentak. Tiba-tiba tangannya mengibas dokumen di atas meja sehingga berserakan di lantai. Napasnya memburu. “Maaf, Pak. Maafkan saya,” ucap Cintia dengan wajah menunduk.“Rapikan dokumen itu!” perintah Arsa dingin. Cintia segera memunguti dokumen-dokumen itu, lalu meletakkan di atas meja. “Taruh di sana,” tunjuk Arsa pada meja kerjanya. “Lalu keluarlah.”Cintia meletakkan dokumen ke atas meja, lalu melangkah keluar. Tiba-tiba di tengah pintu Arsa memanggilnya. “Cintia!”“Iya, Pak.”“Jam berapa rapat?”“Jam 19, Pak.”Arsa mengangguk. Lalu menyuruh keluar dengan isyarat. Sepeninggalan Cintia, Arsa menyandarkan punggung ke sofa dan menengadahkan kepala. Dari sini ia mengerti mengapa Sanad tidak mau bergabung dengan ibunya atau ke ayahnya. Ibunya juga tidak memaksa, meski sebagai seorang ibu tentu berharap dibantu oleh anaknya. Dirinya benar-benar pengecualian. Hubungan darah atau emosional dalam pekerjaan kadang membuat bertindak tidak profesional lagi.Mendadak ia juga ter
Last Updated : 2025-02-05 Read more