Home / Rumah Tangga / Mendadak Talak / Chapter 41 - Chapter 50

All Chapters of Mendadak Talak : Chapter 41 - Chapter 50

57 Chapters

Manja

“Wahda, lihat di luar!” seru Teratai ketika melihat sebuah mobil memasuki halaman kafe. Wahda meluruskan badannya ketika mengenali mobil itu. Ia terus menatap mobil itu hingga pemiliknya keluar dari mobil, masuk kafe dan tak lama sudah ada di ruang mereka. “Wahda, bisa bicara sebentar?” Wahda terdiam. Enggan menjawab. Melihat dari matanya saja, sudah dapat ditebak maksud kedatangan Bagus.“Kita bicara di sana saja!” tunjuk Wahda pada meja yang biasa diduduki Angga dan Rania setelah kedua sahabatnya itu pergi.Bagus mengangkat alisnya. “Aku tidak boleh duduk di situ?” Wahda berdiri. “Aku tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman.”Bagus mengerutkan keningnya, tetapi ia mengikuti saja di mana Wahda duduk. Ia mengeluarkan sebuah kotak cincin lalu meletakkannya di atas meja dan langsung membukanya.Wahda sedikit terkejut. Ia sudah curiga dengan kedatangan Bagus. Kenyataannya tetap saja membuatnya kaget ketika melihat cincin itu. “Aku sudah menemukan rumah. Lebih besar dari yang kita lih
last updateLast Updated : 2025-01-28
Read more

Kangen

Arsa berdiri. "Ayo!" Arsa menarik kedua tangan Wahda, sehingga gadis itu terdiri, dan membimbingnya hingga keluar kafe dan memasuki mobil.Bagus terdiam tanpa berkedip. Mata memerah saga. Jantungnya berdenyut nyeri, menyaksikan Wahda merengek manja kepada laki-laki lain. *** “Kok, tiba-tiba nongol di kafe?” tanya Wahda.Arsa menoleh sesaat, lalu kembali fokus ke jalan. “Biasanya sesudah pulang dari kantor,” tambah Wahda. “Ada masalah di kantor. Mungkin beberapa hari ini aku akan lembur.”“Lalu?” “Aku pikir istirahat dulu sebentar ke kafe. Ternyata ….”Seketika Wahda diserang panik “Kami tidak janjian. Sumpah!” Wahda mengacungkan dua jempolnya. Arsa tertawa. “Iya, aku percaya kok.”Wahda merengut. “Jadi setelah ini mau ke mana? Ke kafe atau pulang dulu?” Arsa terdiam. Terlihat sedang memikirkan sesuatu. “Bagaimana kalau aku istirahat di rumahmu saja?! Sekalian
last updateLast Updated : 2025-01-29
Read more

Ulat Bulu

“Kenapa?”Wahda mengedikkan bahunya. “Moodku lagi kurang bagus. Jadi pingin cepat istirahat.”Teratai mengalihkan perhatiannya. “Sudah kangen ya?” goda Teratai. Wahda duduk. “Entahlah. Rasa kurang aja. Tiap hari selalu ada dia, tiba-tiba nggak ada jadi berasa banget. Kamu sendiri kenapa belum pulang? Biasanya cepat! Pak macan nggak jemput?"“Kasihan Yanti kalau ditinggal sendiri. Biasanya ada Rania. Di mana ada Rania, ada Angga Jadi nggak masalah meninggalkan kafe. Mana Arsa nggak ada lagi. Meski dia ke sini sekadar istirahat, keberadaan dia tetap lumayan membantu.”Wahda kembali menyandarkan punggungnya. Kali ini sedikit berbaring. "Tambah karyawan napa?"“Kalau rindu tengoklah!” Wahda mengernyit. Begitulah Teratai. Sampai sekarang ia belum berhasil mengorek keterangan siapa gadis penjual kembang misterius itu dari mulut Teratai.“Dia akan besar kepala, kalau aku menjenguknya sekarang!”Teratai meng
last updateLast Updated : 2025-01-29
Read more

Rayuan

“Sudah berapa minggu?” tanya Teratai pada Kembang yang perutnya sudah kelihatan membesar. “12 minggu, Kak,” jawab Kembang sambil duduk di samping kaki ibunya. Tangannya langsung saja memijat kaki itu. Tak jauh dari situ, di samping Sanad, Arbain khusyu menyimak berita di layar televisi sambil ngemil kacang goreng. “Sebentar lagi Evan akan punya adik. Senang nggak?” tanya Teratai pada Evan yang duduk di sampingnya, asik melipat kertas origami bersama Sanad. Evan mengangguk. Tiba-tiba Sanad mengocok rambut ikal Evan dengan gemas. Serta merta Evan merapikan rambutnya dengan wajah kesal. Kembang tertawa melihat pemandangan itu. “Benar Evan senang punya adik?” tanya Kembang. Evan menjawab dengan anggukan. “Minta sama Mama Papa!” Seketika senyum Teratai memudar. "Biar Evan bisa melihat adik setiap hari." Teratai tidak lagi mendengar
last updateLast Updated : 2025-01-30
Read more

Kebersamaan

“Gimana?” tanya Cintia dengan mata berbinar. Arsa yang menggigit kue keringnya terlihat begitu memesona di matanya. “Enak," ucap Arsa setelah menggigitnya.“Benar ‘kan? Benar kata teman saya Silakan dimakan, biar Bapak tidak ngantuk. Lumayan juga pengganjal lapar. Bukankah Bapak belum makan dari sore tadi?”Arsa mengangguk dengan wajah keheranan. Cintia berdiri, lalu kembali duduk ke kursinya. Sesaat hening. Arsa kembali menaruh perhatiannya ke dokumen. Ia mengangkat wajahnya ketika mendengar suatu bunyi asing. Terlihat Cintia sedang mengusap-ngusap kedua lengannya. Dari raut wajah, gadis tengah itu kedinginan. Arsa berdiri, mengambil jas di kursinya, lalu mendekati Cintia. Sebuah ketukan berbunyi ketika ia hendak menyampirkan jas itu ke bahu Cintia. “Wahda?!” Arsa melempar jas itu ke sofa bekas duduknya. “Kamu ke sini?”Wahda mengangkat lunch boxnya. “Aku membawa ini. Kamu belum makan kan? Kita makan bareng ya.”
last updateLast Updated : 2025-01-30
Read more

Diuji dengan Masa Lalu

Setengah berlari Wahda menuju ruang operasi. Arsa mengikutinya dari belakang. Berkali-kali ia berusaha untuk menangkap tangan Wahda, tetapi perempuan itu terlalu lincah. Arsa terengah-engah ketika sampai ke tujuan. Bertolak belakang dengan Wahda. “Bagaimana keadaannya?” tanya Wahda kepada seorang laki-laki seumuran dengannya telah memakai kasa di pelipisnya. “Dia … dia sedang dalam penyelamatan,” sahut laki-laki dipanggil Nur itu setengah menangis, Nurul Hadi. “Apa yang terjadi?” tanya Wahda semakin dicekam panik. Arsa memegang bahunya. “Karena ada jadwal operasi pagi ini, jadi kamu pulang tengah malam dari Banjar. Siapa sangka, saat sudah masuk Kandangan, di jalan tiba-tiba ada mobil yang mengarah ke kami. Sepertinya pengemudinya mengantuk.” Nurul Hadi kini menangis. “Aku selamat, tapi Bagus terjepit mobil. Bagus membanting setir, demi melindungiku. Seharusnya aku yang kena.” Nurul Hadi berpaling ke dinding. Menangis sesenggukan.
last updateLast Updated : 2025-01-31
Read more

Diuji Dengan Masa Lalu 2

“Kalau begitu, aku titip dulu Bagus padamu. Aku terlanjur mau menyadap. Nanti kalau sudah selesai, aku akan ke sana.”“Tapi, Kak, kondisi Bagus ….”“Kakak percaya dokter yang menanganinya. Lagi pula, perjalanan dari sini memakan waktu sekitar tujuh jam. Tidak bisa sim salabim. Jadi aku menyadap dulu, lumayan untuk sangu ke sana.”“Iya, Kak,” sahut Wahda pasrah.“Oh iya, satu lagi. Kamu sudah beritahu Ibu?”“Belum.”“Jangan beritahu dulu. Nanti aku yang kasih tahu. Salah sedikit nanti bisa jantungan dia.”“Iya, Kak. aku ngerti. Kalau begitu, aku tutup ya. Aku tunggu Kakak."Wahda menutup panggilannya dengan wajah lesu.“Terlanjur mau,” eja Arsa. “Itu maksudnya bagaimana? Terlanjur, tapi mau. Mau, tapi terlanjur.”“Dia sudah keluar dari rumah, dan sepertinya sedang di warung. Kebiasaanya mereka begitu, mampir dulu sarapan di warung, baru bekerja ke kebun karet.”"Kalau mendengar saudara
last updateLast Updated : 2025-01-31
Read more

Masalah Server

“Tidak bisa dipastikan. Ia terluka parah. Jadi kondisinya cukup buruk.”Wahda merasakan tungkainya terasa lepas satu persatu. Ia perlu mengumpulkan sisa-sisa tenaga untuk tetap berdiri tegak. Setelah memberitahu keadaan Bagus, perawat itu kembali masuk ke dalam. Wahda hanya bisa menatapnya di balik kaca. Ia bertanya-tanya dalam hati, apa yang dirasakannya saat ini apakah murni karena panggilan nurani? Atau jangan-jangan ia masih memiliki perasaan terhadap Bagus? Ia segera menggelengkan kepala guna menepisnya. Saat berbalik, dari kejauhan terlihat Arsa melangkah ke arahnya. Senyum segera mengembang dari bibirnya. "Bagaimana keadaannya?" Wahda hanya menjawab dengan gelengan. "Kamu ke sini …?"Arsa sambil mengangkat plastik di tangannya. "Aku khawatir kamu belum makan. Jadi aku antar ini.""Wah, perhatian sekali," jawab Wahda sambil membuka plastik yang dipegang Arsa. Arsa berdecak. "Kalau bukan aku yang merhatiin, siapa lagi? Belum makan kan?""Iya. Habis jam kerja, aku langsung
last updateLast Updated : 2025-02-03
Read more

Rendah Diri

“Hubungi perusahaan server, kita sewa dua unit server,” perintah Arsa. “Bapak tau betapa mahalnya sewa server?!” “Yang terpenting sekarang kepercayaan. Kalau sudah stabil baru kita pecahkan masalahnya.”“Baiklah!” *** Arsa menghenyakkan tubuhnya ke sofa. Hari yang sangat melelahkan. Jam promosi telah berakhir. Masalah sedikit teratasi, hanya saja perusahaan mengalami banyak kerugian. Ia memejamkan mata sambil meletakkan tangan ke dahi.Tok tok. Arsa membuka matanya.“Belum pulang?”Cintia menggeleng. “Semua orang kelelahan hari ini. Bapak pasti paling lelah. Bapak juga belum sejak siang tadi.”Cintia meletakkan dua bungkus nasi kotak ke atas meja. “Saya ambilkan kopi ya.”Arsa duduk. Ia menggeleng. “Air putih saja.*** “Nur, kapan kamu ke sini? Aku dari siang tadi belum pulang.” “Maaf. Malam ini kamu yang jaga ya. Aku capek sekali. Hari ini aku melakukan dua operasi. Aku harus istirahat, besok juga ada jadwal operasi pagi hari. Aku usahakan besok aku yang jaga Bagus, ya."W
last updateLast Updated : 2025-02-03
Read more

Amnesia

“Bagaimana keadaannya?” bisik Wahda pada Nurul Hadi. Nurul Hadi menggeleng. Bagus yang mendengar itu menatap Wahda. Tatapan Bagus seketika membuat mata Wahda membesar. “Kamu siapa?” tanya Bagus. Wahda menoleh ke Nurul Hadi. Nurul Hadi mengangguk. Wahda kembali bertanya ke dokter yang merawatnya. “Ingatanya masih berantakan.”“Cincin? Cincin mana?” ucap Bagus sambil menyentuh saku kemeja, lalu menoleh ke kiri dan ke kanan. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada jari Wahda. “Wahda?”Sontak mereka saling berpandangan satu sama lain. 
last updateLast Updated : 2025-02-04
Read more
PREV
123456
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status