Siang itu, ketika langit tampah cerah dengan balutan awan berwarna biru laut, Aisyah ingin memastikan ruang dapur di mana rumah tua yang ia singgahi saat ini. Rumah peninggalan mendiang neneknya yang telah tiada. Sebelum Aisyah membersihkan ruangan dapur, terdengar suara seperti tangisan wanita. Wanita itu adalah Nilam. Aisyah penasaran kemudian kembali ke ruang tamu untuk memastikan. Benar saja, ia melihat Nilam sedang menangis di kursi kayu. Sementara Devan berjalan menuju ke arahnya. "Nilam, kenapa kamu menangis?" tanya Aisyah dengan heran. "Itu loh, Syah, Mas Devan kasar sama aku. Padahal Nilam hanya ingin ikut ke dapur bersama kami, tetapi tidak diperbolehkan oleh Mas Devan," jawab Nilam sambil cemberut. "Bohong, Syah. Dia lancang memegang tanganku hingga aku tidak bisa berdiri. Jangan percaya dengan omongannya," tegas Devan sambil melirik sinis ke arah Nilam yang menampakkan wajah polos. Aisyah mendengus pelan. "Ternyata Nilam licik juga. Dia berusaha berbohong da
Terakhir Diperbarui : 2025-02-04 Baca selengkapnya