Share

86. Sebuah Tekat

Author: Ayu Sekti
last update Last Updated: 2025-02-04 04:29:19
Siang itu, ketika langit tampah cerah dengan balutan awan berwarna biru laut, Aisyah ingin memastikan ruang dapur di mana rumah tua yang ia singgahi saat ini. Rumah peninggalan mendiang neneknya yang telah tiada.

Sebelum Aisyah membersihkan ruangan dapur, terdengar suara seperti tangisan wanita. Wanita itu adalah Nilam.

Aisyah penasaran kemudian kembali ke ruang tamu untuk memastikan. Benar saja, ia melihat Nilam sedang menangis di kursi kayu. Sementara Devan berjalan menuju ke arahnya.

"Nilam, kenapa kamu menangis?" tanya Aisyah dengan heran.

"Itu loh, Syah, Mas Devan kasar sama aku. Padahal Nilam hanya ingin ikut ke dapur bersama kami, tetapi tidak diperbolehkan oleh Mas Devan," jawab Nilam sambil cemberut.

"Bohong, Syah. Dia lancang memegang tanganku hingga aku tidak bisa berdiri. Jangan percaya dengan omongannya," tegas Devan sambil melirik sinis ke arah Nilam yang menampakkan wajah polos.

Aisyah mendengus pelan. "Ternyata Nilam licik juga. Dia berusaha berbohong da
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   87. Kejadian Ganjil

    Pagi hari, Aisyah dan Devan masih tinggal di kampung halamannya. Mereka ingin ke pasar tradisional untuk mengisi kulkas yang kosong. Alhamdulilah, rumah peninggalan neneknya ada kulkas yang masih dipakai."Mas Devan, antar aku ke pasar yuk? Sekalian kita melihat panaroma pemandangan alam sekitar," ujar Aisyah sesudah mandi dan tercium aroma sabun dan shampo yang wangi. Membuat Devan meneguk ludah. "Ayo. Kita naik mobil ya? Aku belum tahu arah ke pasar jauh apa tidak." Devan tersenyum ketika mendengar bahwa Aisyah ingin mengajaknya keluar. Ia sangat ingin melihat pemandangan desa yang terlihat masih asri tersebut."Jangan Mas. Kita jalan saja. Pasarnya dekat kok. Naik mobil entar kita jadi bahan gosip tetangga dan nanti banyak warga sebelah yang ke sini. Di kampung ini jarang yang mempunyai mobil. Mereka sudah terbiasa jalan kaki," jawab Aisyah yang melarang Devan untuk mengendarai mobil agar aman. Ia tidak mau menjadi bahan gosip tetangganya. "Ayo kita berangkat sekarang, Sayang, s

    Last Updated : 2025-02-05
  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   88. Pinjam Uang

    Tepat pukul 10.00 pagi, Aisyah sudah membeli stok bahan masakan di Pasar. Ia meminta kepada Devan untuk pulang kembali dari pasar. Aisyah sengaja tidak membeli pupuk sesuai permintaan Bu Menik. Ia dan Devan sudah merasa dibohongi oleh Bu Menik sehingga mereka akan mencari pekerja lain yang lebih amanah.Tetiba di rumah, Aisyah meletakkan belanjaan ke kulkas barang yang sekiranya ditaruh dalam kulkas. Dan bumbu-bumbu kering ia letakkan di lemari kecil. "Aisyah, kita istirahat bentar yuk, kita nikmati jajan cilok ini di ruang makan," kata Devan mengajak sang istri ke ruang makan setelah mereka selesai meletakkan belanjaannya di tempat yang sesuai. Mereka duduk saling berdampingan sambil menikmati cilok yang sudah mereka taruh di mangkok berukuran mini. "Sayang, cilok yang beli kamu enak banget, bikin nagih. Kukira rasanya tidak seenak ini," ujar Devan yang sangat menikmati cilok tersebut. Aisyah tersenyum. "Habiskan Mas, jika ciloknya enak. Habis ini aku mau masak ikan patin asam ma

    Last Updated : 2025-02-06
  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   89. Nafkah Batin

    Saat siang, ketika Devan sedang serius berbincang dengan Joni, Nilam datang dan meminjam uang untuk reuni. Devan mengernyit dan keheranan dengan keluarganya Bu Menik yang ternyata keluarga toxic."Memangnya Ibu dan Bapak kamu nggak punya uang kah? Bukannya kamu punya sawah berhektar-hektar?" tanya Devan yang tersentil hatinya karena permintaan Nilam membuatnya menggelengkan kepala."Ehm, kata Ibu, ternyata semua sawah yang digarap Ibu adalah sawah Kak Aisyah. Ternyata aku dulu nggak diberi tahu soal itu. Maafkan aku ya Kak. Kemarin aku pamer. Uangku dah habis buat nongkrong sama teman kemarin. Kalau aku jual emas yang ada di pergelangan tanganku rasanya nggak tega. Ini gelang emas kesukaanku Kak Devan!" Nilam mulai tahu dan jujur mengenai sawah yang dikelola ibunya. "Maaf, Nilam. Saya tidak bisa meminjamkan uang untuk acara reuni. Saya juga masih banyak mengeluarkan uang untuk kebutuhan yang lebih penting," jawab Devan dengan agak lirih. Dalam hati, Devan tidak akan meminjamkan ke

    Last Updated : 2025-02-07
  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   90. Tatapan Nilam

    Malam itu, cuaca cerah dan banyak bintang bertaburan di awan. Aisyah dan Devan sedang menikmati indahnya malam itu sambil menyelami hubungan suami istri yang nikmat. Mereka saling mencintai dan menikmati setiap sentuhan. Kelembutan Devan, mampu membuat Aisyah luluh dan pasrah dengan sentuhan Devan yang semakin lama semakin berani dan intens. Hingga satu jam mereka bertempur, mereka mencapai puncak kenikmatan. "Syah, terima kasih, kamu sudah menjadi istri yang sempurna bagiku. Kau sudah memenuhi kebutuhan biologisku, hingga aku merasa puas. Aku tambah mencintaimu. Sekarang, kita bobok yuk?" Setelah Devan mengeluarkan rasa nikmatnya, ia lemas namun merasakan kepuasan tersendiri saat bermalam dengan istri tercintanya. Hingga ia dan Aisyah terlelap dan terbuai mimpi. ***Setelah subuh, Devan mengantar Joni pergi ke sawah untuk melakukan pengintaian. Sementara Aisyah sibuk mempersiapkan makanan di dapur. Aisyah akan memasak soto ayam kampung. Lama tidak memasak soto. "Assalamu'alaiku

    Last Updated : 2025-02-08
  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   91. "Hanya apa, Bu?"

    Saat siang, Devan dan Juna hanya ingin bertemu dengan Bu Menik. Namun, mereka malah bertemu Nilam dengan tatapan tidak suka dan mengusir mereka. "Nilam, kami ingin bertemu Ibu kamu sebentar. Beliau ada di mana? Ini urusan penting. Setelah saya dan Mas Devan ini menyampaikan sesuatu, kami akan pergi secepatnya!" ujar Juna yang menyela pembicaraan Nilam. Ia berusaha berani melawan Nilam yang memang sikapnya ingin menang sendiri. Keluarga Bu Menik memang terkenal angkuh. "Eh, Mas Juna. Itu siapa ganteng banget? Suaminya Neng Aisyah ya? Keponakan kamu? Mereka memang pasangan sejoli. Bu Menik ada di dalam sedang sibuk memasak, namun sudah hampir selesai kok. Nilam tidak perlu dihiraukan, dia memang begitu. Ayo masuk ikut saya!" Seorang ibu-ibu berdaster biru yang rewang di rumah Bu Menik mempersilakan Juna dan Devan untuk masuk. Suasana ramai karena banyak teman Nilam yang datang untuk menyambut acara reuni. Akhirnya Juna dan Devan duduk di ruang tengah karena di ruang tamu s

    Last Updated : 2025-02-09
  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   92. Gegara Pak Karjo

    "Bapak udah pulang. Bapak minum lagi ya? Sudah Ibu bilang, berhentilah minum minuman keras! Selain pemborosan, itu minuman sangat merugikan. Apa Bapak tidak malu sama tamu kita ini?" Bu Menik terkejut ketika suaminya tiba-tiba datang dan melihat Pak Karjo berjalan sempoyongan dan diduga telah banyak meminum minuman terlarang. "Buat apa malu sih, Buk? Bapak ya begini, sukanya bersenang-senang. Ibu 'kan sawahnya banyak, jadi Bapak nggak usah kerja toh? Biarkan sawah Neng Aisyah itu digarap sama kita selamanya. Kita akan kaya terus!" Karena terlalu banyak minum, omongan Pak Karjo ngelantur. Yang seharusnya menjadi rahasia, semua ia ceritakan dan terdengar oleh Juna dan Devan. "Pak, jangan bicarakan aib di depan orang banyak. Cepetan Bapak ke kamar saja. Bikin malu Ibu saja! Nak Devan, Nak Juna, bentar ya, Ibu mau antar Pak Karjo ke kamarnya!" Bu Menik berdiri untuk mengarahkan Pak Karjo agar ke kamar untuk tidur. Beliau sangat malu dengan kelakuan hina Pak Karjo yang membuat

    Last Updated : 2025-02-11
  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   93. Hadiah

    "Sebentar, aku panggil Aisyah dulu!" ujar Devan sambil berbalik setelah ia membukakan pintu untuk Nilam. Waktu itu, tepat pukul delapan malam. Tiba-tiba Nilam datang dan ingin meminjam uang untuk biaya ibunya ke rumah sakit. "Ada apa Mas Devan? Nilam, mari duduk di bangku sini. Bicarakan masalahmu!" Sebelum Devan sempat memanggil Aisyah, Aisyah sudah duluan tiba di ruang tamu dan menyuruh Nilam untuk santai dan duduk di ruang tamu. "Bu Menik sekarang ada di mana? Apa dia masih baik-baik saja kok beliau kamu tinggal sendirian?" tanya Aisyah yang memastikan. Ia tidak mau begitu saja percaya dengan omongan Nilam. "Ehm, Ibu sedang berbaring di kamar. Sengaja ibu aku tinggal sebentar. Kalau Kak Aisyah berkenan, saya boleh pinjam uang untuk biaya periksa Ibu saya?" Nilam menunduk dan menampakkan ekspresi sedih di depan Aisyah dan Devan yang duduk saling bersebelahan. "Mas Devan, kita tengok Bu Menik yuk? Apakah beliau benar-bemar sakit. Jika memang beliau benar-benar sakit, mau

    Last Updated : 2025-02-11
  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   94. Lingerie

    Tepatnya pukul delapan malam, Devan dan Aisyah masih di ruang makan. Devan baru saja mengerjai Aisyah karena ia melihat istrinya tersebut sangat menggemaskan. "Aku akan memberi hadiah berupa 'kiss' spesial untukmu!" kata Devan sambil tersenyum kepada Aisyah dan melirik manis. "Apaan sih? Kirain hadiah bunga atau apa?" Aisyah tersipu dan salah menduga dengan hadiah yang akan diberikan oleh Devan. "Kena kamu, Sayang. Emangnya hadiah itu harus barang ya? Kamu ingin bunga? Atau yang lain? Besok kita bisa ke toko bunga. Tapi aku nggak hafal toko Bungan di kampung ini!" jawab Devan sambil mencubit lembut pipi Aisyah yang merah merona. "Sementara ini aku nggak mau keluar ke mana-mana. Mau ngurusin sawah agar cepat kelar masalahnya. Yuk, kita bobok. Aku dah ngantuk nih." Wajah Aisyah terlihat lelah. Sudah malam juga sehingga ia mengajak Devan untuk ke kamar. Sebelum ke kamar, Aisyah membereskan peralatan makan terlebih dahulu. Sementara Devan juga ikut membereskan peralatan ma

    Last Updated : 2025-02-12

Latest chapter

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   Kenapa Den?

    "Itu ada yang ingin melamar pekerjaan menjadi asisten pribadi di kantor," jawab Devan sambil menekan keyboard ponsel untuk menjawab karyawannya yang bernama Joni. "Jadi, Ayah Aslam besok mau bekerja hari ini kah?" Aisyah sedikit penasaran dengan info yang baru saja ia dengar dari suaminya. Devan menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Tidak. Biarkan Joni yang mewawancarai. Besok aku ingin memesan dua ekor kambing di salah satu peternak di Kota ini. Nanti ada ART yang ke sini. Bisa saya tinggalkan, Sayang? Ini demi keberkahan rumah tangga kita!"Devan ingin segera pergi untuk memesan dua kambing di salah satu peternak pada keesokan hari. Hari itu sudah larut Devan dan Aisyah mulai beristirahat. **Pagi pun tiba. Aisyah sudah bangun dari tidur. Namun, ia belum sempat menyiapkan sarapan karena Aslam rewel. Sementara Devan baru saja selesai mandi untuk persiapan menuju ke penjual kambing. "Sayang, aku biru-biru berangkat ya? Biar nanti cepat pulng."Devan berpamitan dengan Aisyah u

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   Habiskan

    "Maaf kalau saya punya salah dengan kalian. Jangan diperpanjang masalah ini," pinta Dokter Spesialis Anak tersebut. Dokter itu merasa malu ketika Devan tiba-tiba masuk ke ruangan periksa."Oke, saya maklumi. Terima kasih sudah memeriksa anak saya. Aisyah, ayo kita pulang. Harusnya tadi aku ikut masuk ke dalam ruangan ini!" ujar Devan sambil menarik pelan tangan Aisyah. Ia tidak mau Aisyah mengenal dokter tampan yang bernama Weldan tersebut. Aisyah menuruti perkataan Devan sambil menggendong Aslam yang mulai berhenti menangis. Entah mengapa sesudah diperiksa oleh Dokter Weldan, tiba-tiba tangisan Aslam berhenti. Melihat keajaiban itu, Aiayah menoleh ke arah Dokter Weldan. Dokter itu tersenyum hangat ke arah Aisyah. Aisyah langsung ke posisi semula. Ia takut dosa dengan pandangan yang tidak seharusnya ia berikan. Hatinya berdebar-debar melihat tatapan Dokter Weldan yang tidak biasa. "Kenapa dengan Dokter Weldan ya? Tatapannya aneh?" batin Aisyah. Ia takut akan terjadi apa-apa antar

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   116

    Pagi itu, Aslam menangis sangat keras. Kebetulan Aiayah sedang di kamar mau memberikan ASI pada Aslam. Namun, Aslam tidak mau minum. Ia malah menangis terus. "Bagaimana ini Mas, Aslam nangis terus?" Aisyah kemudian menggendong Aslam karena tangis sang bayi tak kunjung berhenti juga. "Coba aku cek apa Aslam badannya panas?" Devan mengambil alat pendeteksi demam bayi yang berada di dalam nakas. Setelah dicek hasilnya membuat terkejut. "Sayang, cepet tidur ya. Anak mama jangan nangis lagi," tutur Aisyah sambil menimang-nimang Aslam yang masih menangis. Tidak lama, Devan datang dan memeriksa suhu badan bayi mungil tersebut. "Sayang, suhu badan Aslam tinggi. Ayo kita bawa dia ke Dokter sebelum terlambat," ujar Devan yang cepat-cepat ingin ke dokter karena badan anaknya demam tinggi. "Baiklah. Ayo kita ke dokter! Ini tinggal bawa tas penting dan popok bayi! Bawa susu formula nggak Mas?" tanya Aisyah takut terjadi apa-apa saat berada di dokter nanti. Devan tersenyum sambil mempersiap

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   115. Nama

    Terima kasih, Mas. Kau sangat mencintaiku. Aku juga mencintaimu Mas. Semoga kita diselamatkan dari mara bahaya apa pun. Kita tidur yuk?" ajak Aisyah kepada sang suami denga lembut. Aisyah lelah sekali akibat kejadian yang tidak diinginkan kemarin terjadi. "Iya, Sayang. Kita tidur sekarang juga. Sini aku temenin, biar kamu hangat dan cepat tidur."Malam itu, keluarka kecil mulai tertidur. Alhamdulillah, dedek bayi juga tertidur dan tidak terlalu rewel. ***Pagi pun tiba. Aisyah sudah bangun pada pagi itu. Ia sudah menyiapkan sarapan pagi dan dibantu oleh wanita seumuran Mbok Ghinah. Devan berusaha mencari ART di rumahnya agar pekerjaan Aisyah terasa ringan. Sementara Devan sedang menimang bayi di pagi itu, ketika Aiayah dan ART baru sedang sibuk dengan pekerjaan rumah. "Sayang, kamu tampan sekali seperti ayah. Semoga menjadi anak Sholeh ya? Satu lagi. Kamu harus nurut sama Mama. Mama itu dah berkorban besar mengurus kamu. Sekarang dedek udah mandi, tidur yah?" Devan mengajak berbi

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   114. Gila

    Kalau kamu tidak mau menikah dengan aku, terpaksa aku akan membuang bayi imut kamu ke hutan. Kamu akan merasakan kesedihan yang teramat sangat!"Jiho sudah tidak waras. Cinta buta melupakan segalanya. Yang dulunya dia pria pendiam dan baik, kini berubah jahat dan tidak mempunyai belas kasihan. "Memangnya menikah dengan wanita beristri itu mudah? Malah nanti kamu yang akan masuk penjara karena memaksa menikah denganku? Mana mungkin aku bercerai dengan Mas Devan? Gila kau!" Aisyah geram dengan sikap Jiho yang semakin memaksa. Aisyah diikat di kursi dan tidak bisa gerak sama sekali. Sementara bayi yang masih merah terbaring di bok kecil. Bayi mungil tersebut menangis mencari sang ibu. Jika menangis, Jiho akan melepas Aisyah dan menyuruh untuk memberikan ASI secara eksklusif. "Mudah saja. Asalkan kamu mau bercerai dengan Devan. Atau kalau kamu tidak mau dedek mungil menjadi sasaran! Nih dah aku masukin ke keranjang, tinggal aku buang!" Devan mengancam serius jika Aisyah masih saja

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   113. Vila

    Dua jam kemudian, Devan dan kedua anak buahnya sampai di alamat tujuan. Di mana villa yang diduga milik Jiho. "Bos, mobil kita parkir agak jauh dari vila itu agar kita tidak diketahui bahwa kita sedang ke sana. Tunggu jam delapan malam lalu kita beraksi!" usul Johni sambil memarkir mobil agak jauh di Vila tepatnya di bawah pohon mangga di pelataran luas yang di depannya ada rumah kosong. "Iya. Ini sudah jam 8 malam. Ayo kita beraksi!" ujar Devan sambil turun dari mobil. Diikuti dengan kedua anak buahnya menuju vila. Ketika sampai di villa yang dimaksud, Devan dan kedua anak buahnya berjalan mengendap-endap. Saat di depan pintu gerbang, tiga orang pria berdiri di depan gerbang. "Jon, ternyata rumah ini banyak yang menjaganya. Saya semakin yakin jika Aisyah berada dalam vila asing tersebut." Sebuah bangunan di dekat hutan yang mempunyai gerbang hitam dan dijaga oleh beberapa pengawal. Devan dan teman-temannya berdiri di balik pohon mangga untuk menyusun siasat agar mereka

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   112. Nyonya Lin Lin

    "Yang benar, Mas Devan? Jika Neng Aisyah sudah pulang? Saya tadi juga ikut mengantar dia ke rumah sakit dengan Mas Jiho. Dia yang menanggung biaya persalinan Neng Aisyah. Saya tadi buru-buru pulang, karena anak saya nangis yang masih kecil," tutur ibu paruh baya yang bernama Bi Munah. Bi Munah terpaksa pulang awal karena kondisi mendesak. Walau sebenarnya beliau ingin menemani Aisyah sampai bisa pulang dengan selamat. "Berarti ini pasti pelakunya Jiho. Dia tega menculik istriku. Terima kasih infonya Bi. Kami akan ke rumah Jiho sekarang. Bi, Devan nitip rumah ini, jika ada orang yang mencurigakan datang ke rumah ini, saya ditelepon atau chat saja. Terima kasih, Ibu sudah berusaha menyelamatkan istri saya. Saya sangat teledor menjadi suami hingga payah seperti ini!" ujar Devan kepada Bi Minah dengan serius. "Siap Mas Devan. Kami tetangga akan menjaga rumah Mas Devan. Nanti saya akan lapor Pak Hansip untuk menjaga rumah ini karena terbukti Neng Aisyah dibawa pergi sama seseorang. Semo

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   111. Panas Tak Karuan

    Devan sangat panas hati ketika yang mengangkat telepon adalah suara pria di saat istrinya sedang melahirkan. Ia merasa sangat bersalah saat itu. Ia memutuskan sambungan telepon kemudian ia mulai menuju ke Rumah Sakit Medika bersama dua orang anak buahnya yang selalu setia. Setengah jam kemudian, mereka sampai di rumah sakit Medika. Devan menanyakan di mana istrinya berada kepada salah satu perawat. "Kak, maaf, di sini ada yang bernama pasien Aisyah Humairah? Dikabarkan dia sedang melahirkan!" tanya Devan dengan penuh kecemasan. Perawat tersebut terkejut. "Oh, yang penanggung jawabnya atas nama Jiho?" tanya Suster tersebut memastikan. Devan mengangguk cepat. "Benar, Sus. Sekarang dia ada di ruang apa?" tanya Devan kembali. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu istri dan anak tercintanya. "Maaf, Pasien Nona Aisyah Humairah sudah pulang bersama Tuan Jiho. Kandungan Nona tersebut sangat sehat beserta sang Ibu. Jadi, mereka sudah diperbolehkan pulang. Kalau mau menengok merek

  • Ketika Suamiku Menikah Lagi   110. Siapa Kamu?

    Malam itu, Mbok Ginah merasakan kesedihan karena anak semata wayangnya dikabarkan akan pergi ke kota. Aisyah dan Devan menenangkan hati beliau agar tidak ngedrop. "Terima kasih Neng Aisyah dan Den Devan. Kalian itu baik, dan sudah Simbok anggap menjadi keluarga sendiri. Anak simbok malah bandel dan tidak pernah pengertian." Mbok Ginah masih berada di ruang tamu bersama Aisyah dan Devan. Mereka masih hanyut dalam kesedihan karena Neli nekat pergi. "Simbok istirahat dulu saja ya? Ini juga sudah petang. Mari kita sholat dan berdoa agar Neli baik-baik saja. Saya yakin, jika Neli niatnya tulus ingin mencari nafkah, pasti dia akan sukses. Mbok, jangan bersedih lagi ya?" tutur Aisyah sambil memegangi pundak Mbok Ginah yang merasa nelangsa. "Baik, Neng. Kepala saya memang dari tadi sakit. Jika Neng Aisyah dan Devan butuh makan, sudah tersedia di dapur. Saya pamit dulu." Mbok Ginah izin istirahat untuk mendinginkan pikiran dan menjaga kewarasannya karena hatinya kini tengah bersedi

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status